
Raisa baru saja menyelesaikan adegan syuting dirinya untuk beberapa scene. Gadis cantik itu pun beralih untuk duduk dan beristirahat.
Begitu duduk di kursi yang ada di sana, Raisa langsung mengambil botol mineral miliknya dan meneguknya untuk menghilangkan dahaga setelah melakukan dialog panjang, lalu ia mengambil kipas berukuran mini yang dapat digenggam di dalam tangannya. Ia menyalakan kipas portable tersebut dan mengarahkan ke bagian tubuhnya yang merasa gerah seperti wajah, dada, dan lain-lain.
Raisa juga sibuk mengatur nafasnya karena merasa lelah.
Saat itu ada orang yang memanggil namanya dan Raisa pun menoleh ke arah orang tersebut. Dan Raisa pun langsung tersenyum.
"Rumi!"
"Raisa, ini teman kamu udah datang. Rumi, itu dia Raisa."
Raisa pun langsung menghentakkan kedua kakinya ke tanah untuk bangkit berdiri dengan tegak, lalu ia menghampiri Rumi yang datang bersama kru syutingnya.
"Terima kasih, ya, Kak, udah antar Rumi ke sini," ucap Raisa
"Ya, sama-sama. Kalau gitu, aku lanjut kerja dulu."
"Ya. Semangat, Kak!" seru Raisa tak lupa memberikan semangat.
Kru tersebut pun tersenyum dan berlalu meninggalkan Raisa dan Rumi.
"Hai, Rumi!"
"Hai, Sayang!"
Raisa tidak lagi menolak atau pun melarang Rumi untuk memanggilnya dengan sebutan sayang. Karena bagaimana pun juga keduanya telah memiliki status baru, yaitu calon istri dan calon suami. Sungguh sangat serasi.
Hanya saja, Raisa masih malu-malu untuk membiasakan dirinya dengan panggilan sayang itu. Namun, Raisa tersenyum senang. Karena gadis cantik itu tidak perlu lagi menyembunyikan statusnya dengan Rumi mulai saat itu.
"Kau kelihatan kelelahan sekali, sampai berpeluh keringat seperti ini ... " kata Rumi
Rumi langsung mengeluarkan selembar sapu tangan dari saku pakaiannya. Lalu, ia menyapu peluh pada wajah Raisa membuat gadis cantik itu tersenyum dan tersipu.
"Aku baru saja menyelesaikan adeganku tadi," jelas Raisa sbil kembali mengarahkan kipas portable-nya pada wajahnya yang memanas akibat dapat perlakuan manis dari Rumi.
"Tak biasanya kau bawa sapu tangan," sambung Raisa yang mengarahkan kipas portable miliknya ke arah wajah Rumi membuat lelaki tampan itu semakin terlihat mempesona.
"Karena itu adalah sapu tangan pemberian darimu di hari ulang tahunku sebelumnya. Lagi pula, aku baru tahu belakangan ini bahwa lelaki sejati itu harus membawa sapu tangan setiap saat," ujar Rumi yang menggenggam tangan Raisa untuk kembali mengarahkan kipas portable ke arah wajah cantiknya yang berkeringat.
"Kau gunakan kipas itu untukmu saja," sambung Rumi
Raisa terkekeh pelan.
"Kalau begitu, jadilah lelaki sejati dan calon suami yang baik," bisik Raisa
"Dinengerti, Tuan Putri ... " sahut Rumi
Raisa tersenyum manis.
"Tidak kusangka kau sungguh datang ke sini," kata Raisa
"Tentu saja. Karena aku sangat ingin bertemu denganmu," ungkap Rumi
"Padahal kemarin kita juga sudah bertemu. Apa kau mengalami kesulitan saat menuju ke sini?" tanya Raisa
"Tidak, kecuali saat di depan tadi. Ada banyak penggemar hingga aku cukup kesulitan untuk masuk ke dalam," jawab Rumi
"Ya. Di setiap lokasi syuting juga pasti seperti itu," kata Raisa
Rumi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Karena saat ini sudah waktunya istirahat bergilir. Bagaimana kalau kita makan siang dulu bersama-sama?" tanya Raisa
"Baiklah. Kau pasti lapar. Aku akan menemanimu makan siang," jawab Rumi
"Ya. Ayo, temani aku makan di dekat sini saja," kata Raisa sambil menggerakkan tangannya untuk mengambil tas miliknya.
Rumi pun langsung bergerak menggenggam tangan Raisa dengan cepat.
Keduanya pun beranjak menuju pedagang kaki lima di sekitar sana.
"Bagaimana kalau di depan nanti banyak penggemar yang menghalangi jalan seperti tadi?" tanya Rumi
"Tidak akan. Mereka juga butuh makan sama seperti kita, jadi pasti mereka pun sedang bepergian untuk mencari makan. Kalau ada pun, mereka pasti membiarkan kita pergi karena mengerti kalau kita akan pergi mencari makan juga," jelas Raisa
"Kalau begitu, kau ingin makan apa?" tanya Rumi
"Aku sedang ingin makan salah satu makanan khas daerah negara ini. Yaitu, sate padang. Kau harus mencobanya," jawab Raisa
"Apa pun yang kau suka aku juga pasti akan suka," kata Rumi
Saat melewati tempat kerumunan para penggemar tadi, benar saja di sana sudah lebih legang. Ada pun beberapa orang penggemar yang duduk di pinggir jalan untuk makan.
__ADS_1
"Kak Raisa, Kak Rumi ... mau pergi makan bareng, ya?"
"Hai. Iya, nih. Mau makan dulu. Kalian juga makan yang teratur, ya," jawab Raisa sambil melambaikan tangannya.
Rumi hanya tersenyum di samping Raisa.
"Siap, Kakak cantik!"
Keduanya pun melangkah pergi dari sana.
"Eh, cepat foto! Itu Kak Raisa sama Kak Rumi lagi pegangan tangan."
"Iya, jangan bawel. Ini juga dari tadi aku lagi foto mereka berdua, tahu!"
Raisa pun berhenti di depan gerobak makanan di sana. Di gerobak tersebut terdapat tulisan SATE PADANG.
"Kita makan di sini saja," kata Raisa
Rumi pun mengangguk.
"Pak, kali ini 2 porsi, ya," pesan Raisa
"Banyakin satenya, lontongnya sedikit aja, sama gak pakai bawang goreng, Neng?" tanya sang penjual yang sudah hafal pesanan Raisa yang sudah beberapa kali membeli makanan di sana.
"Iya, Pak. Seperti biasa," jawab Raisa
"Siap, Neng. Ditunggu, ya."
Pesanan dua porsi sate padang pun sedang dalam proses pembuatan. Raisa dan Rumi pun duduk di kursi yang disediakan di sana.
Saat mendengar bahwa pesanan tidak dipakaikan bawang, Rumi langsung mengerti jika Raisa tidak menyukai jenis tanaman umbi itu.
"Selain tidak suka dingin, minuman beralkohol, dan bawang, apa lagi yang tidak kau suka, Raisa?" tanya Rumi
"Tidak suka alkohol, rokok dan asapnya, narkoba ... untuk tiga ini sebenarnya selain tidak suka aku ingin memberi aturan pada diriku sendiri kalau aku sungguh tidak boleh mengonsumsinya. Selain rokok, alkohol akan sulit dibedakan dengan minuman lain dan narkoba akan sulit dibedakan dengan obat-obatan lain bagi yang tidak pernah tahu atau melihat langsung wujudnya sepertiku, aku harap tidak pernah bertemu dengan dua benda terlarang itu. Kalau kau tidak mau aku marah padamu, kau juga harus menjauhi tiga benda ini," jawab Raisa
"Kalau begitu, aku juga akan memberi diriku sendiri aturan untuk tidak boleh mengonsumsinya. Sama seperti dirimu," ujar Rumi
"Lalu, yang tidak kusuka lainnya adalah bawang, kentang rebus, tidak terlalu suka pisang, dan tidak terlalu suka dingin. Mungkin hanya itu," ungkap Raisa
"Lalu, hal yang kau suka apa saja?" tanya Rumi
"Banyak. Rumi, warna yang paling kusuka adalah hijau dan tidak terlalu suka warna merah, aku suka makanan yang sedikit terlebih asin karena rasanya akan tambah gurih dan tidak terlalu suka pedas. Hanya itu yang kusuka dengan sangat spesifik dan aku menambahkan sedikit hal yang tidak kusuka," jawab Raisa
Rumi merasa senang saat mendengar namanya yang pertama kali disebut sebagai hal yang disukai oleh Raisa.
"Ini 2 porsi pesanannya sudah siap. Minumannya mau apa?"
"Air jeruk hangat aja 2, Pak," jawab Raisa
"Ditunggu, ya."
"Ayo, dimakan sate padangnya, Rumi. Kau cobalah rasanya," kata Raisa
Rumi mengangguk kecil.
"Selamat makan!"
"Rasanya enak," ungkap Rumi
"Ya. Kuharap kau menyukainya," kata Raisa
"Makanan khas daerah Padang itu selalu kaya akan bumbu rempah. Rasa bumbunya akan kuat dan gurih, seperti sate ini. Lalu, pendamping sate dalam piringmu itu namanya lontong, itu sebenarnya adalah nasi," sambung Raisa menjelaskan.
"Makanan khas daerah Padang itu ada yang mendunia, lho. Nama makanannya adalah rendang. Lain kali aku akan membawamu mencobanya juga. Aku suka masakan khas daerah Padang karena bapak berasal dari sana, sedangkan ibu berasal dari daerah Sunda. Makanan khas Sunda lebih pada rasa gurih, dengan sedikit pedas, dan manis. Aku juga suka," tambah Raisa mengungkapkan.
"Rupanya begitu," ujar Rumi yang sedari tadi mendengarkan.
Saat itu, Bapak penjual pun kembi dengan mengantar pesanan minuman ke atas meja. 2 gelas air jeruk hangat.
"Terima kasih," ucap Raisa
"Selamat menikmati." Bapak penjual pun kembali berlalu.
"Dari tadi hanya aku saja yang bicara. Kalau kau, apa saja yang kau suka dan tidak suka, Rumi?" tanya Raisa
"Aku suka dirimu dan semua tentangmu. Yang tidak kusuka adalah saat-saat sedang tidak bersamamu," ungkap Rumi
"Kau ini ... aku sudah menduga kau akan berkata seperti itu. Bagaimana aku bisa tahu hal yang kau suka dan yang tidak kau suka jika kau tidak memberi tahukannya padaku? Bagaimana jika suatu saat nanti aku akan berbuat kesalahan, tapi aku tidak tahu kalau sudah berbuat seperti itu?" tanya Raisa
"Kau akan mengetahuinya secara perlahan setelah kita menikah nanti. Tapi, jika aku benar-benar mengatakannya nanti kuharap kau tidak akan marah," jawab Rumi
"Aku tidak akan berpikiran sempit seperti itu. Jika nantinya aku menyuguhkan sesuatu yang tidak kau suka ke hadapanmu, kau bisa mengatakan yang sejujurnya atau bahkan mengkritikku, agar aku bisa intropeksi diri," ucap Raisa
__ADS_1
"Kau pun sama. Ini akan jadi kesepakatan kita berdua," kata Rumi
Raisa mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.
Keduanya pun terus melanjutkan makan bersama dengan tenang sambil sesekali mengobrol ringan.
Di sana adalah tempat yang berdekatan dengan lokasi syuting. Banyak pedagang yang memanfaatkan lokasi apik itu untuk berjualan. Di sana pun tidak sedikit pembeli yang datang yang bahkan merupakan penggemar dari Raisa yang dijuluki sebagai RaisaLovers.
Para penggemar yang berada di dekat sana pun mendengar perbincangan antara Raisa dan Rumi. Mereka langsung merasa mendapat gosip baru.
"Eh, denger gak tadi? Rumi bilang setelah menikah! Ada gosip baru, nih! Bakalan jadi gosip panas!"
"Iya. Ayo, ambil foto buat lampiran buktinya. Gas!"
Setelah makan selesai, Raisa pun hendak membayar. Namun, Rumi menghentikannya agar dirinya saja yang melakukan pembayaran.
"Pak, semuanya jadi berapa?" tanya Raisa
"Raisa, biar aku saja yang bayar," ujar Rumi
"Baiklah," kata Raisa
Kemarin, Raisa memang memberikan sejumlah uang pada Rumi yang sebenarnya itu adalah upah dari pemotretan di studio foto milik Daffa yang Rumi titipkan pada Raisa sebelumnya. Namun, kali ini Raisa mengembalikan uang tersebut pada pemiliknya sambil berkata, "kau akan menetap di sini untuk mengurus soal pernikahan kita, jadi selama itu kau harus memegang uang. Untuk itu upah dari pemotretan yang pernah kau ikuti di studio foto milik Daffa bersamaku saat itu kukembalikan padamu. Gunakanlah uangmu dengan baik."
Rumi pun mengeluarkan dompet miliknya dari saku celananya dan membayar sejumlah tagihan makan siang bersama Raisa pada sang penjual.
"Oh, ya, Rumi ... kau menemuiku di sini sendiri, bagaimana dengan Paman Elvano? Bagaimana jika dia ingin makan siang?" tanya Raisa yang baru tiba-tiba teringat dengan Paman Elvano.
"Aku sudah mengajaknya untuk datang menemuimu ke sini bersamaku, tapi dia menolaknya dan lebih memilih di rumah saja. Makanan yang kupesan untuk sarapan masih ada yang tersisa dan dia bilang akan memakannya untuk makan siang," jelas Rumi
"Memangnya itu cukup?" tanya Raisa lagi.
"Semoga saja cukup," jawab Rumi
"Aku ingin bertanya satu hal lagi. Dari mana kau tahu kata-kata seperti lelaki sejati harus selalu membawa sapu tangan setiap saat ... itu?" tanya Raisa untuk yang ke sekian kalinya.
"Aku pernah menonton salah satu sinetron yang kau bintangi dan ada dialog seperti itu," ungkap Rumi
"Benarkah? Aku tidak ingat ada dialog seperti itu di salah satu sinetron yang kubintangi," ujar Raisa
"Mungkin karena bukan kau yang mengatakan dialog itu, jadi kau tidak mengingatnya," kata Rumi
"Ya. Dialog seperti itu pasti diucapkan oleh tokoh lelaki. Mungkin karena itulah aku jadi tidak ingat," ucap Raisa
Saat Raisa dan Rumi hendak kembali ke lokasi syuting, ada beberapa penggemar yang nenghampiri mereka berdua.
"Kak Raisa, Kak Rumi ... minta tanda tangan dan foto barengnya juga dong!"
"Aku juga?" tanya Rumi dengan bingung.
"Iya, Kak."
"Baiklah," kata Rumi
Raisa dan Rumi pun menuliskan tanda tangan pada beberapa lembar kertas yang sama. Tanda tangan milik Raisa ditulis di atas, sedangkan tanda tangan milik Rumi ditulis tepat di bawahnya.
Lalu, keduanya meladeni para penggemar itu untuk berfoto bersama. Keduanya tampak sabar menghadapi para penggemar itu.
"Terima kasih, ya, Kak Raisa, Kak Rumi ... "
"Kalian berdua baik, deh. Emang cocok dan serasi."
"Semoga pernikahannya nanti dilancarkan, langgeng, dan harmonis selalu sampai tua, ya!"
"Oh, kalian dengar, ya? Padahal kami berdua masih belum menikah, lho ... " ujar Raisa
Rumi baru ingat bahwa dirinya tadi sempat mengucapkan kata menikah. Lelaki itu langsung merasa khawatir Raisa akan marah padanya. Masalahnya rencana pernikahan mereka berdua sudah terbongkar semudah itu.
Namun, sepertinya Raisa menanggapi persoalan pernikahan dengan tenang dan santai. Artinya gadis cantik itu tidak marah.
"Gak apa, Kak. Doa itu, kan, berkah dan harapan, begitu juga sebaliknya."
"Kak Rumi, nantinya harus jaga dan lindungi Kak Raisa yang baik, ya. Jangan sampai Kak Raisa terluka hati dan tubuhnya, lho!"
"Akan kuingat pesan kalian baik-baik. Kalian bisa tenang karena Raisa adalah satu-satunya perempuan yang kucinta. Terus doakan yang terbaik untuk kami berdua, ya," ucap Rumi
"Itu udah pasti!"
"Kalau begitu, kami kembali ke lokasi syuting dulu, ya. Permisi," ujar Raisa
Raisa dan Rumi pun berlalu dan kembali menuju ke lokasi syuting.
.
__ADS_1
•
Bersambung.