Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
119 - Makan-Makan Sambil Bermain.


__ADS_3

Setelah memesan makanan dan selama menunggu pesanan datang diantarkan, Raisa pun mulai menyiapkan beberapa permainan yang dimaksud sebelumnya. Karena acara kumpul kali ini adalah makan-makan sambil bermain.


"Kali ini kau tidak boleh hanya makan, Chilla! Kau juga harus bermain! Tidak ikut bermain, maka tidak boleh dan tidak dapat jatah makanan!" Tegas Raisa


"Baiklah, aku mengerti! Tidak seharusnya kau menyiksaku seperti ini, Raisa..." Ucap Chilla


"Ini bukan penyiksaan, tapi peraturan! Jika, semuanya bermain baru akan terasa seru dan menyenangkan!" Kata Raisa


"Jika, ada peraturan, maka yang melanggar dan yang kalah harus ada hukuman yang didapat dong! Itu baru seru!" Usul Ian


"Tentu saja, aku juga sudah memikirkan hal itu! Tenang saja, aku juga sedang berusaha menyiapkan hukumannya." Ucap Raisa


"Menunggu adalah hal yang merepotkan! Kita mulai saja lebih dulu permainannya sambil menunggu pesanan makanannya sampai!" Ujar Devan


"Benar! Raisa, ayo! Jelaskan pada kami cara dan aturan bermainnya!" Kata Marcel


"Di mulai dari permainan mana dulu?" Tanya Billy


"Baiklah! Kita mulai dari permainan yang ini saja!" Kata Raisa


Beberapa permainan sudah dipersiapkan oleh Raisa. Dari beberapa permainan itu adalah yang pertama kali akan dimainkan, yaitu Jenga! Atau yang juga bisa disebut, Uno Stacko! Cara bermainnya, yaitu menyusun balok kecil ke atas menjadi menara balok yang tinggi yang satuan baloknya harus mengambil dari susunan yang berada di bawah... Permainan ini membutuhkan serta melatih fokus dan keseimbangan, juga membuat suasana permainan menjadi seru sekaligus menegangkan! Hukuman bagi yang gagal atau yang neruntuhkan susunan menara balok adalah coretan bedak bubuk di wajah!


"Permainan ini disebut Jenga atau Uno Stacko! Cara bermainnya menyusun menara balok ke atas dengan mengambil balok yang berada di bawah. Tidak boleh sampai meruntuhkan menara, jika runtuh maka gagal dan kalah. Hukumannya adalah coretan bedak di wajah!" Jelas Raisa


Awalnya beberapa dari mereka yang bermain menganggap remeh permainan yang dimainkan, tapi ternyata semakin lama durasi bermain... Mereka semua mendapati banyak coretan bedak di wajah pertanda mereka sudah salah menganggap remeh permainan tersebut.


"Hati-hati, Raisa! Jika kau gagal, maka menara yang sudah disusun tinggi ini akan runtuh!" Ucap Morgan


"Aku mengerti!" Kata Raisa


Kali ini Raisa mendapat giliran untuk menyusun balok ke atas. Setelah berhasil mengambil balok dari yang ada di bawah, dengan sangat hati-hati dan penuh fokus, Raisa mencoba meletakkan balok menjadi susunan teratas. Namun, ternyata usahanya di putaran kali ini gagal! Membuat susunan balok tersebut runtuh dan berjatuhan~


"Ah, aku gagal! Permainan ini benar-benar tidak bisa dianggap remeh... Morgan, aku gagal karena kau mengacau fokusku dengan ucapanmu tadi!" Ujar Raisa


"Kau tidak bisa menyalahkan orang lain saat kau sendiri yang gagal! Sekarang, waktunya hukuman!" Seru Morgan


"Biarkan aku yang mencoret wajah Raisa dengan bedak kali ini..." Pinta Rumi


"Baiklah, silakan saja." Kata Morgan


Rumi pun mencolek bubuk bedak yang sudah disiapkan~


"Di mana lagi aku akan mendaoat coretan bedak? Aduh, wajahku sudah seperti mendapat riasan badut!" Keluh Raisa


"Jangan mengeluh, Raisa, karena aku tidak akan membebaskanmu dari hukuman. Hukukan ini adalah peraturanmu sendiri, maka jangan harap bisa melanggarnya." Ucap Rumi


Rumi pun mencubit hidung Raisa menggunakan jari tangannya yang mencolek bubuk bedak tadi untuk menjatuhkan hukuman...


"Aku tidak mengeluh! Aduh, sudah cukup mencubitnya... Bukannya menjadi putih, hidungku bisa menjadi merah nantinya!" Ucap Raisa


Rumi pun menarik kembali tangannya. Dan benar saja, selain berwarna putih karena bedak, hidung Raisa menjadi agak kemerahan karena dicubit oleh Rumi...


"Wah, karena ucapanmu sendiri, kau benar-benar jadi seperti badut!" Kata Ian


"Benarkah? Ini gara-gara dirimu, Rumi!" Sebal Raisa


Sebenarnya, Rumi memilih menghukum Raisa dengan cara mencubit hidungnya untuk menunjukkan kasih sayang yang tersirat dengan perbuatannya itu. Raisa pun mampu merasakan niat dari Rumi sampai pipinya memerah karena malu, namun karena sudah seperti ini sekalian saja ia memanfaatkan pipinya yang memerah menjadi kemarahan supaya tidak mendapat ledekan dari yang lain.


"Sepertinya Raisa benar-benar marah padamu, Rumi! Lihatlah, wajahnya yang sampai memerah!" Celetuk Ian


"Aku juga tidak mencubit hidungmu sekuat tenaga dengan kencang. Jangan marah padaku ya, Raisa..." Ucap Rumi yang benar-benar takut Raisa menjadi marah padanya.


..."Aku jadi malu seperti ini juga karenamu, tapi kau masih takut aku marah padamu! Kau ini lucu sekali sih, Rumi!" Batin Raisa...


"Sudahlah, kita lanjutkan saja mainnya." Kata Raisa


"Kau tidak marah padaku kan, Raisa?" Tanya Rumi


"Tidak kok." Jawab Raisa dengan singkat.


"Kau lucu sekali, Rumi! Apa kau mengira Raisa akan benar-benar marah padamu? Ayolah, dia hanya bercanda!" Ujar Marcel


"Rumi lebih terkesan khawatir kekasihnya marah padanya..." Celetuk Chilla


Lagi-lagi ucapan asal seperti dugaan yang tepat dari seorang Chilla!


"Aku ini tidak marah padamu, tapi kau suka salah paham mengira aku marah. Memangnya bagimu aku ini tipe orang yang mudah marah? Aku malah akan marah jika kau salah paham denganku lagi seperti ini! Kau bahkan sampai ketakutan... Seolah aku pernah memarahimu habis-habisan. Menyebalkan!" Ujar Raisa


"Baiklah, aku tidak akan begitu lagi. Maafkan aku, Raisa..." Kata Rumi


"Ah, kapan pesanan makanannya akan sampai? Aku sudah sangat menantikannya!" Racau Chilla


Saat seperti itu terdengar suara kendaraan yang menghampiri vila tersebut...


"Itu mungkin pesanan makanannya sudah sampai! Sebentar, akan kuambilkan ke luar dulu..." Ucap Raisa


"Aku akan membantumu mengambilnya juga!" Inisiatif Rumi langsung bangkit mengikuti langkah kaki Raisa.


"Rumi, benar-benar seperti ingin menghibur Raisa supaya tidak marah padanya." Kata Dennis


"Menurutku, itu lebih seperti menghibur kekasih supaya hubungan mereka tetap terjalin erat... Sudah kubilang, mereka berdua itu sudah seperti sepasang kekasih, tahu!" Ucap Chilla


Saat beranjak ke luar vila pun, Raisa masih mampu mendengar ucapan Chilla~

__ADS_1


Benar saja, Raisa dan Rumi kembali dengan box makanan yang dipesan sebelumnya...


"Makanan sudah datang!" Seru Rumi


"Bagaimana kalau bermainnya dijeda dan kita makan dulu?" Tanya Raisa


"Sangat setuju! Raisa, kaulah penyelamat hidupku!" Kata Chilla yang sudah tidak sabar ingin segera makan.


Satu persatu pesanan makanan pun telah sampai diantar mulai dari donat, pizza, fried chicken, sampai burger... Juga dengan minuman pelengkap! Permainan pun sementara dihentikan untuk makan-makan bersama sejenak sebelum memulai kembali permainan...


"Kau memesan makanan sebegini banyak, tidak sampai menghabiskan sisa uang tabunganmu kan, Raisa?" Tanya Aqila


"Tidak kok. Bagi yang sudah berlangganan dengan aplikasi pemesanan sepertiku ini akan dapat banyak potongan harga, apa lagi untuk pembelian dan pemesanan dalam jumlah banyak. Di waktu ini pun ada promo bebas ongkos kirim... Jadi tenanglah dan makan saja! Nikmati waktu kebersamaan kita!" Ungkap Raisa


"Sebelumnya kau memiliki kupon promo Supermarket, sekarang bahkan juga dapat banyak potongan harga..." Ujar Sandra


"Kau benar-benar orang yang sangat beruntung, Raisa!" Kata Amy


"Benar! Di mana pun saat kami semua bersamamu, kami selalu mendapat berkah potongan harga seperti ini. Beruntung sekali!" Ucap Wanda


"Terserah kalian saja ingin menganggapnya bagaimana, menurutku ini biasa dan bisa saja terjadi. Ayo, sekarang kita lanjut main lagi! Makannya berhenti dulu dan lanjut lagi nanti ya, Chilla..." Ujar Raisa


"Ah, Raisa... Aku masih mau lagi!" Keluh Chilla


Berhenti makan, permainan pun dilanjutkan~


"Masih mau lanjut permainan sebelumnya tadi atau ganti permainan yang lain?" Tanya Raisa


"Kita lanjut ganti permainan saja!" Jawab Devan


"Baiklah... Permainan selanjutnya disebut dengan Heads up! Ini berkaitan dengan tebak menebak. Orang yang mendapat giliran bermain harus menebak kata yang tertera pada secarik kertas yang ditaruhkan di atas kepalanya dengan petunjuk yang diberikan oleh timnya. Hukuman bagi yang gagal menebak adalah mendapat jepitan di anggota tubuhnya dengan jepit pakaian (jemuran) ini! Karena ini kerja sama tim, kita bagi dua tim yaitu tim gadis dan tim lelaki saja. Tapi, yang diberi hukuman hanya yang mendapat giliran dan gagal menebak saja. Bagaimana, setuju tidak?" Jelas Raisa


"Baik, setuju!" Kata Morgan serempak dengan yang lainnya.


Permainan pun dimulai!


"Aduh, sakit! Di telingaku sudah banyak terdapat jepitan, carilah anggota tubuhku yang lain untuk dijepit!" Protes Billy


"Ya, baiklah... Baiklah!" Kata Wanda


"Iya, juga. Padahal menurutku kata yang dituliskan di secarik kertas sudah termasuk mudah. Kenapa masih bisa membuat kalian mendapat banyak hukuman ya?" Ujar Raisa


"Semua kata yang tertulis di semua carik kertas itu kau yang menulis, Raisa? Pantas saja kau baru mendapat satu kali hukuman saat bermain, kau pasti sudah banyak hafal kata yang kau tulis! Ini tidak adil! Jangan-jangan kau memilih semua kata yang ditulis dengan para gadis lainnnya ya? Makanya, para gadis baru dapat sedikit hukuman jepit saat bermain!?" Tanya Ian yang merasa kesal.


"Enak saja! Kami tidak ikut memilih dan menulis kata itu semua dengan Raisa!" Kata Amy


"Iya, hanya aku yang menulisnya sendiri kok. Gadis lain tidak ada yang tahu." Sahut Raisa


"Tetap saja ini tidak adil, curang! Kami juga ingin menulis kata untuk ditebak tim para gadis!" Protes Morgan


"Boleh saja sih. Ini kertas dan pulpennya." Raisa pun memberikan kertas dan pulpen untuk dituliskan kata dalam permainan menebak kali ini.


"Hei, jangan karena kekalahan kalian yang bodoh... Kalian ingin membalas dendam dengan menuliskan kata yang sulit untuk kami tebak dong! Padahal yang sudah Raisa tulis adalah kata yang mudah, kalian saja yang tidak mampu menebaknya dengan benar!" Ucap Sandra


"Biar sulit sekali pun, kami pasti bisa menebaknya karena kami tidak bodoh seperti kalian!" Kata Chilla


"Benar! Karena mungkin masalahnya bukan pada orang yang menebak, tapi orang yang memberi petunjuk sesuai kata yang harus ditebaklah yang kurang memberi arahan pada jawaban kata yang tepat." Ucap Raisa


"Siapa yang tahu bahwa kami harus memberi petunjuk dengan menggunakan gerakan peraga tubuh. Ini merepotkan sekali!" Kesal Devan


"Kami para gadis saja bisa memperagakan kata yang sesuai sampai yang mendapat giliran menebak itu menebaknya dengan benar, kenapa para lelaki tidak bisa? Sudah terbukti, kalian para lelaki-lah yang bermasalah!" Ujar Wanda


"Jangan terlalu senang dulu! Kita lihat, apa setelah ini kalian para gadis masih bisa menebak kata yang kami pilih dan tuliskan di atas kertas!" Ucap Morgan


"Sudah sangat jelas niat balas dendam kalian terlihat. Kalian pasti membuatkan kata-kata yang sangat sulit!" Kata Sandra


"Apa pun itu, kami pasti bisa menebak katanya dengan benar!" Kata Chilla


Setelah pihak dari tim lelaki menuliskan kata tebakan buat tim gadis, giliran para gadislah yang menebak kata rahasia... Namun, hasilnya tetaplah sama. Hasil akhir permainan nilai para gadis mengungguli para lelaki!


"Kalian lihat?! Hasil akhirnya tetap kami yang menang!" Bangga Aqila


"Sesulit apa pun itu, tetap para gadis yang unggul!" Kata Chilla


"Cih! Dasar, sombong!" Maki Devan


"Sebenarnya, ini hanya masalah kalian para lelaki yang tidak kreatif atau kurang bisa mengekspresikan sesuatu termasuk lewat gerakan peraga. Lalu, juga dengan kalian yang kurang peka dalam memahami sesuatu yang maknanya tersembunyi seperti saat harus menebak suatu kata sari sebuah gerakan." Jelas Raisa


"Raisa, kenapa kau malah terkesan memihak para lelaki?!" Sebal Sandra


"Ini bukan keberpihakan! Tapi, aku berusaha untuk jadi pihak penegah menenangkan kalian semua. Ingat, jangan sampai di duniaku yang damai dan tentram ini kalian malah bertengkar dengan mengerikan!" Ungkap Raisa yang memberikan penekanan seolah sedang memberi peringatan pada kalimat terakhirnya dengan wajah yang cukup menyeramkan.


"Bertengkar dengan mengerikan, apanya? Tidak sadarkah kau bahwa ekspresi wajahmu itulah yang mengerikan, tahu!" Ujar Marcel


"Kata Raisa, soal kurang pengekspresian dan ketidak-pekaan kitalah yang jadi masalah. Jadi, terima saja hasil akhir ini." Kata Dennis


"Sebenarnya dari kalian semua para lelaki yang mendapat jepitan di tubuh, Dennis dan Rumi-lah yang paling sedikit hukuman itu. Itu berarti mereka berdua masih mampu menebak kata yang kalian peragakan. Mereka berdua saja bisa, lalu kenapa yang lain tidak?" Ujar Amy keheranan.


"Itu artinya di antara yang lainnya, Dennis dan Rumi-lah yang lebih baik!" Kata Wanda


Di akhir permainan itu, Rumi malah tersenyum penuh arti sambil menatap Raisa...


Beralih ke permainan berikutnya~

__ADS_1


Setelah permainan menebak kata berakhir, semua yang mendapat jepitan pada tubuh mereka sebagai hukuman pun boleh melepaskan jepitan itu. Semua merasa lega walau bekas jepitan terasa agak perih. Sambil menikmati makanan yang ada, lanjut permainan selanjutnya...


"Permainan berikutnya kali ini disebut Spin Of Truth Or Dare! Permaiman ini menggunakan pulpen yang diputar untuk memilih target. Target yang terpilih yang ditunjuk ujung pena pulpen ini akan mendapat pilihan dan harus memilih antara jujur atau tantangan. Jika memilih jujur, maka harus menjawab pertanyaan yang diajukan dengan sejujurnya tanpa dusta. Jika memilih tantangan, maka harus melalukan sesuatu yang ditantangkan padanya. Jika sudah memilih, tapi tidak bisa menjawab jujur atau melakukan tantangan, maka hukumannya harus memakan potongan buah lemon dengan catatan harus tanpa ekspresi. Sesulit atau bahkan sememalukan apa pun pertanyaan atau tantangannya tetap harus dilakukan! Jika tidak, maka seasam apa pun rasa lemonnya harus memakannya dengan tetap berwajah datar! Kalau tidak begitu, berarti harus tambah memakan lemon lagi terus hingga berhasil!" Jelas Raisa


Pulpen pun diputar untuk mencari mangsa target~ Siapa pun yang ditunjuk ujung pena pulpen tersebut akan bermain! Siapa pun yang tidak sanggup bermain akan memilih nengatasinya dengan makan potongan buah lemon. Semua tertawa saat salah satu di antara mereka mendapat hukuman memakan lemon dengan ekspresi lucu karena rasa asam yang khas dari buah tersebut.


"Raisa, sekarang giliran kau! Kau pilih jujur atau tantangan?!" Tanya Morgan


Ujung pena meniluh Raisa sebagai target selanjutnya saat pulpen telah berhenti berputar~


"Apa ya? Kalau pilih jujur..." Bingung Raisa


"Kau sudah mengatakannya! Di saat seperti ini kau tidak boleh ragu... Jadi, pertanyaannya! Siapa pria yang paling kau kau sayang?" Ujar Chilla


"Pria yang paling disayang... Tentu saja, Ayahku!" Celetuk Raisa menjawab tanpa ragu.


Setelah memberikan jawaban seperti itu, Raisa mencoba melirik ke arah Rumi. Takut dengan mendengar jawabannya tadi, lelaki itu kembali merasa cemburu yang berlebihan. Namun, saat dilihatnya, Rumi tetap tenang seperti biasa... Syukurlah! Karena tidak mungkin Raisa menjawab pertanyaan itu dengan menyebut nama Rumi. Karena ia masih malu untuk mengungkapkannya pada semua teman lainnya saat ini, apa lagi ia masih saja ragu untuk melakukannya.


"Itu jawaban yang sudah pasti! Sepertinya aku salah memberikan pertanyaan itu untukmu." Sesal Chilla


"Pertanyaan sudah dijawab. Ayo, kita putar lagi!" Kata Billy


"Hei, kenapa aku lagi sih?! Aku baru saja memilih tadi! Baiklah, kalau begitu kali ini aku pilih tantangan!" Ujar Raisa yang lagi-lagi menjadi sasaran yang terpilih oleh ujung pena dari pulpen yang telah berhenti berputar.


"Siapa yang ingin memberi tantangan untuk Raisa?" Tanya Amy


"Aku saja! Ingin sekali mendengar suaramu... Maka, bernyanyilah, Raisa!" Ucap Rumi memberi Raisa tantangan untuk bernyanyi.


"Bernyanyi? Lagu apa saja boleh?" Tanya Raisa


"Ya, silakan. Pilihan ada padamu." Jawab Rumi


Raisa pun mulai bernyanyi~


Dengan me-remake sedikit lirik lagunya...


Kini kita sahabat, teman begitu hangat


Mengalahkan sinar mentari


Kini kita sahabat, berteman bagai ulat


Berharap jadi kupu-kupu


Persahabatan bagai kepompong


Mengubah ulat menjadi kupu-kupu


Persahabatan bagai kepompong


Hal yang tak mudah berubah jadi indah


Persahabatan bagai kepompong


Maklumi teman hadapi perbedaan


Persahabatan bagai kepompong


Kepompong~~


"Suaramu bagus, Raisa! Aku suka dan senang saat mendengarnya." Puji Rumi


"Hmm, terima kasih!" Kata Raisa


"Chilla, jangan karena permainan ini mudah dan santai, kau malah terus asik makan! Sekarang giliranmu! Ujung pena pulpen itu menunjukmu! Apa yang kau pilih?" Ujar Ian


"Aku pilih jujur saja karena tantangan terlalu merepotkan untukku melakukannya." Kata Chilla


"Aku yang akan bertanya! Kau selalu tergila-gila dengan lelaki tampan karena menyukai kriteria yang satu ini... Menurutmu, dari semua teman lelaki yang ada di sini... Siapakah yang paling tampan yang kau sukai?" Ujar Raisa memberi pertanyaan.


"Tidak ada!" Jawab Chilla denhan cepat, singkat, padat, dan jelas.


"Bagaimana mungkin? Kenapa bisa begitu? Apa menurutmu mereka semua tidak ada yang tampan satu pun?" Bingung Raisa


"Mereka ini memang tampan, tapi masih di bawah rata-rata dari kriteriaku. Lagi pula, aku tidak mungkin menyukai teman lelakiku sendiri." Jelas Chilla


"Tidakkah menurutmu, Rumi itu tampan?" Tanya Raisa


"Rumi memang tampan, tapi aku tetap tidak akan menyukai temanku. Lagi pula, kau mengatakannya untuk aku mungkin dan bisa atau boleh saja memilihnya, atau kau ingin menunjukkan bahwa dia adalah kepemilikanmu?" Ujar Chilla


"Kau ini bicara apa?! Giliranku menjawab pertanyaan sudah lewat, tahu! Kenapa kau bertanya seperti itu?" Panik Raisa


"Pertanyaan darimu juga sudah kujawab tadi! Kau ini seolah sedang membalas dendam dengan memberiku pertanyaan seperti ini. Pertanyaan darimu untukku ini seharusnya pertanyaan yang kuberikan padamu tadi, tapi aku malah salah memberi pertanyaan!" Ucap Chilla


"Sudahlah, lanjutkan saja permainannya!" Kata Sandra


Permainan pun dilanjutkan. Tak hanya bermain permainan yang Raisa anjurkan, mereka semua juga memainkan permainan yang berasal dari dunia yang berbeda untuk diperkenalkan pada Raisa...


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2