
Waktu terus berlalu. Tak terasa kini tiba pada hari pelaksanaan pernikakan antara Aqila dan Morgan.
Setelah melakukan serangkaian proses wajib dalam tradisi pernikahan, kini saatnya resepsi pernikahan diberlangsungkan.
Semua yang berada di pernikahan Aqila dan Morgan tampak asik mengobrol sambil makan bersama. Para tamu dan kedua pengantin bahkan orangtua serta keluarga kedua mempelai pun sama-sama makan. Bedanya adalah hanya kedua pengantin yang tetap berada di atas pelaminan.
"Sanari dan Yolanda bahkan sudah datang. Sepertinya semua tamu sudah hadir. Pernikahan kita jadi meriah," ucap Morgan
"Raisa masih belum datang. Padahal dia janji akan datang," ujar Aqila
"Mungkin Raisa masih sibuk dengan pekerjaannya, jadi tidak bisa datang," kata Morgan
"Tapi, Raisa bukan tipe orang yang ingkar janji," yakin Aqila
Di sisi lain.
Gadis dengan balutan gaun panjang berwarna hijau muda terlihat melangkah dengan anggun setelah muncul begitu saja dari sebuah lingkaran misterius. Di tangannya, gadis cantik itu membawa paper bag yang berisi kotak hadiah berukuran sedang yang entah apa isinya dan sebuah amplop.
Gadis cantik itu berjalan menuju suatu tempat yang telah diberi plang bertuliskan PERNIKAHAN dan di bawahnya terdapat nama AQILA & MORGAN.
Di sana, ia mendekati meja dan panitia penyelenggara menyambut kedatangannya. Di meja tersebut, gadis cantik itu menyerahkan paper bag yang berisi hadiah pernikahan untuk kedua pengantin yang sedang berbahagia.
"Maaf, apa saya terlambat?" tanyanya
"Tidak. Pesta pernikahannya masih berlangsung."
"Hadiah ini atas nama siapa? Nama Nona?"
"Tuliskan saja dari Raisa Putri," jawabnya
Ya. Gadis cantik itu adalah Raisa yang datang pada pernikahan antara Aqila dan Morgan meski kedatangannya tidak tepat waktu.
"Oh, Nona Raisa! Pengantin sudah menunggu kedatangan Nona. Silakan masuk."
"Baik. Terima kasih." Raisa pun melangkah masuk ke dalam pekarangan yang telah dihias sedemikian rupa untuk acara pernikahan yang terlihat meriah.
Raisa terus berjalan sambil tersenyum mengingat ia juga turut andil dalam pemilihan dekorasi tempat tersebut.
Ada seorang lelaki yang sedari tadi tampak muram dan lesu sambil terus melihat ke arah pintu masuk. Namun, ekspresinya tampak berubah nenjadi tersenyum dengan cerah dan semangat saat kedua matanya menangkap sosok gadis cantik yang ia cintai dan rindukan.
Lelaki tampan berbalut kemeja biru muda dan jas putih yang senada dengan dasi dan celananya itu pun berjalan mendekati gadis cantik yang dilihatnya sambil mengembangkan senyum gembira yang bermaksud untuk menyambut kedatangannya.
"Raisa, akhirnya kau datang juga. Aku sudah menunggumu dari tadi," sambutnya dengan riang.
Lelaki tampan itu langsung mengecup singkat pipi kanan gadis yang dengan nama panggilan Raisa itu.
Gadis bernama Raisa itu tersenyum mendapat perlakuan manis dari lelaki tampan yang namanya telah terpatri dalam hatinya. Rumi Ryan. Bagi Raisa, lelaki yang ada di hadapannya kini terlihat berbeda meski biasanya pun selalu terlihat tampan.
Meski merasa malu karena dikecup di tengah orang banyak, Raisa mengerti bahwa itu tanda kerinduan dari lelaki yang ia cintai itu.
"Rumi, kau terlihat tampan. Seperti biasa, tapi sedikit berbeda. Mempesona," puji Raisa
"Kau juga sangat cantik. Begitu memukau dan terlihat anggun," balas lelaki bernama Rumi dalam memuji kecantikan dan keanggunan Raisa.
"Aku tidak terbiasa memakai gaun saat berada di sini. Aku jadi gugup," ungkap Raisa
"Tidak perlu gugup. Cukup jadi dirimu sendiri saja," kata Rumi
Raisa pun tersenyum setelah mendengar perkataan Rumi yang seolah menghibur dan menenangkan perasaan gugupnya.
"Aku harus menemui Aqila dan Morgan. Mereka pasti sudah menungguku," ucap Raisa
"Aku akan mengantarmu ke pelaminan pengantin," kata Rumi
Rumi pun membawa Raisa dan menunjukkan jalan padanya menuju pelaminan Aqila dan Morgan sambil merengkuh pinggang gadis cantik itu dengan mesra. Seolah mendeklarasikan kepemilikannya pada gadis cantik di sampingnya itu.
Di hari yang bahagia itu, Raisa tidak mempermasalahkan perlakuan Rumi padanya. Karena ia tidak ingin merusak suasana dengan pertengkaran meski hanya perdebatan kecil sekali pun.
Setelah Rumi membawanya sambil terus menunjukkan jalan, Raisa pun akhirnya melihat pelaminan yang Aqila dan Morgan berada di atasnya.
Raisa melambaikan tangannya saat pandangan matanya bertemu dengan Aqila. Raisa bermaksud menyapa pengantin cantik itu.
"Itu Raisa!" seru Aqila
Morgan pun mengikuti arah pandangan Aqila.
__ADS_1
"Yo ... Raisa, Rumi," sapa Morgan
"Kukira kenapa Rumi sedari tadi terlihat murung ... ternyata dia sedang menunggu sang pujaan hatinya," sambung Morgan
Raisa pun menghampiri Aqila dan Morgan di atas pelaminan dengan Rumi yang terus mengikutinya dari belakang.
Raisa langsung berhambur nemeluk Aqila, lalu menjabat tangan Morgan.
"Maaf, ya, aku datang terlambat. Selamat atas pernikahan kalian berdua. Semoga selalu harmonis sepanjang usia," ucap Raisa
"Terima kasih sudah datang dan juga atas doanya," serempak Aqila dan Morgan dengan kompak.
"Kukira kau tidak bisa datang karena berhalangan, Raisa," kata Morgan
"Sudah kubilang, Raisa pasti datang," ujar Aqila
"Tentu saja. Aku pasti datang karena sudah berjanji dan akan menepatinya," ucap Raisa
"Oh, ya, kuharap kalian suka dengan hadiah pernikahan dariku. Jangan lihat dari nilai barangnya," sambung Raisa
"Orang sibuk sampai mengirim hadiah segala. Harusnya tidak perlu sampai merepotkanmu, kau bisa datang saja sudah lebih dari cukup. Apa aku harus mengembalikan hadiah darimu?" tanya Aqila
"Jangan, dong. Kalau kau tahu aku ini orang sibuk, setidaknya kau hargailah hadiah dariku dengan menerimanya," ujar Raisa
"Baiklah. Aku menerima dan menghargai niat baik dan ketulusanmu," ucap Aqila
"Bagus. Aku senang mendengarnya," kata Raisa sambil tersenyum.
"Raisa, teman-teman lain yang ada di sini ingin bicara denganmu juga," ucap Rumi menginterupsi.
"Benar juga. Teman yang lain juga pasti ingin saling mengobrol. Raisa, kau bisa meninggalkan kami. Nikmatilah pestanya," ujar Morgan
"Baiklah. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi yang sedang sangat berbahagia," kata Raisa
"Oh, iya ... aku belum mengatakan ini dan merasa harus mengatakannya. Kalian berdua terlihat serasi. Aqila ... kau cantik dan Morgan kau juga tampan hari ini," sambung Raisa
"Hei, apa artinya hari biasanya aku tidak terlihat tampan?" tanya Morgan
"Tentu saja begitu. Karena di matamu yang tampan hanyalah Rumi seorang," sambung Morgan
"Raisa, berbincanglah dengan yang lain. Kau tidak boleh terburu-buru pergi lagi. Setelah acara hari ini berakhir jangan larang aku untuk ikut bergabung dengan kalian juga nanti," ujar Aqila
"Tentu saja," kata Raisa
Raisa pun turun dari atas pelaminan, lalu menghampiri Rumi dan teman-teman lainnya.
"Kau datang juga, ya, Raisa. Kukira kau tidak bisa datang," kata Chilla
"Sebelum pergi memang ada hal yang perlu kuurus, jadi aku datang terlambat. Tapi, tentu saja aku harus datang," ujar Raisa
"Aku juga baru datang hari ini. Berbeda dengan kalian yang bisa menemani Aqila saat dia menanti-nanti hari pernikahannya," ucap Sanari
"Semua juga tahu kau harus bekerja, tidak perlu merasa tidak enak hati. Belakangan ini aku juga sibuk dan hanya bisa menemani Aqila sebentar," kata Raisa
"Kami semua tidak menyangka kalau Aqila dan Morgan yang pertama akan menikah seperti ini," ujar Ian
"Ya. Karena kami mengira yang pertama menikah adalah yang pertama berpacaran. Yaitu, kau dan Rumi," sahut Billy
"Tapi, kami malah tidak mengetahui kalau kalian sudah putus sejak lama," kata Marcel
Raisa pun menatap ke arah Rumi karena tahu pasti Rumi yang memberi tahu tentang putusnya hubungan mereka berdua pada semua teman. Karena tidak mungkin mereka semua tiba-tiba jadi tahu setelah selama ini tidak ada yang tahu.
Rumi sendiri yang ingin merahasiakannya, tapi seperti katanya, ia sendiri yang akan mengungkapkannya. Dan itu sudah terjadi.
Namun, Rumi hanya terus diam begitu Raisa menatapnya saat teman-teman membicarakan putusnya hubungan mereka berdua.
"Ternyata, kalian semua sudah tahu, ya. Maaf karena tidak memberi tahu pada kalian selama ini, tapi itu terjadi sudah lama sekali dan hubungan kami tetap terjalin dengan baik kok," ujar Raisa
"Ya. 4 tahun lamanya kalian berdua merahasiakan tentang ini. Tentu saja tidak ada yang tahu," kata Devan
"Saat kami kira kalian berdua akan segera menyusul Aqila dan Morgan ke jenjang pernikahan, kami malah baru tahu kalau kalian sudah lama putus," ujar Amy
"Maaf. Aku tahu kalian merasa kesal, tapi, kalian jangan merasa sedih seperti ini juga dong. Aku dan Rumi saja baik-baik saja. Jangan sampai kita merusak suasana bahagia pernikahan dua teman kita dengan masalah pribadiku dan Rumi," ucap Raisa
Raisa berusaha tersenyum meski sebenarnya perasaannyalah yang paling sedih di antara yang lainnya. Sama seperti Rumi, ia juga menginginkan kebahagiaan dari sebuah pernikahan. Namun, itu terdengar seperti suatu hal yang tidak mungkin.
__ADS_1
..."Bohong kalau kubilang baik-baik saja. Aku pun ingin merasa bahagia karena bisa menikah dengan lelaki yang kucinta dan aku merasa sedih saat itu belum bisa terwujud, apa lagi aku merasa itu tidak mungkin bisa terjadi. Rumi juga pasti merasa sedih atau bahkan ia yang lebih sedih dari pada aku," batin Raisa...
"Karena kalian yang selalu terlihat mersa, tidak ada dari kami semua yang tahu jika kalian berdua sudah putus sejak lama. Sebenarnya bagaimana bisa kalian berdua menyembunyikannya selama ini?" tanya Amon
"Entahlah. Putus dengan Rumi, kuakui itu adalah keputusanku yang egois. Aku bersyukur saat Rumi bisa mengerti dan masih menerimaku apa adanya. Aku hanya lebih nyaman menjalin hubungan tanpa status seperti ini karena lebih terasa bebas meski hatiku telah memilih untuk dimiliki oleh seseorang. Meski begitu, aku dan Rumi tetap saling mencintai," ungkap Raisa
"Pasti akan ada jalan dan takdir baik bagi kalian berdua," kata Dennis
"Ya. Kalian berdua sudah terlalu bersabar selama ini, pasti yang terbaik masih menunggu kalian," sahut Monica
"Semoga saja. Terima kasih," ucap Raisa
"Lewati topik tentang pernikahan ... bagaimana dengan pekerjaanmu, Raisa? Sepertinya kau semakin sibuk sampai hari ini kau datang terlambat?" tanya Sandra
"Memang. Setelah memainkan drama hingga sukses dikenali dan terkenal di kalangan semua orang, tawaran pekerjaan lainnya terus berdatangan. Bahkan sebelum pergi ke sini aku masih harus mencocokkan jadwalku yang akan datang nanti. Sepertinya setelah ini aku akan semakin sibuk lagi," jelas Raisa
"Meski sibuk, kau harus ingat untuk istirahat, makan dengan teratur, dan juga tetap jaga diri dan kesehatanmu," pesan Rumi
"Baiklah. Aku mengerti," kata Raisa
Rumi yamg memilih bungkam saat membicarakan soal putus hubungan dan pernikahan kini ikut angkat bicara saat mendengar Raisa akan semakin sibuk dalam bekerja.
"Raisa, ada teman-teman dari desa negara lain yang ingin bertemu denganmu pada kesempatan kali ini," ucap Devan
Saat Devan bicara seperti itu, langsung ada tiga orang yang datang menghampiri. Seorang gadis dan dua orang lelaki.
Raisa melihat ketiga orang itu dan langsung mengenali mereka bertiga meski itu adalah kali pertemuan pertama.
"Oh, aku tahu. Ini pacarmu, Yolanda, bersama 2 teman lelaki satu timnya. Arriya dan Samuel, sepupumu. Dari Desa Pasir, Negara Angin," ungkap Raisa
"Halo, salam kenal. Aku ... Raisa," sambung Raisa memperkenalkan diri.
"Salam kenal juga, Raisa. Kami juga sudah banyak mendengar tentangmu," ujar Yolanda, pacar Devan.
"Bagus kalau kau sudah tahu. Aku tidak perlu lagi repot-repot saling memperkenalkan kalian," kata Devan
"Ini pertemuan pertama kita, tapi kau sudah membuatku terkesan. Aku jadi tidak sabar ingin mengenal lebih banyak tentangmu," ucap Samuel
Rumi langsung melemparkan tatapan tajam seolah ingin melindungi Raisa dari Samuel dan mengatakan bahwa gadis cantik itu adalah miliknya.
Raisa pun tersenyum ramah.
"Maaf, tapi apa maksudmu? Kau mungkin sudah tahu bahwa aku sudah punya Rumi sebagai lelaki yang kucintai. Atau mungkin maksudmu ingin mengenal tentangku itu adalah ingin mengetahui sejauh mana kemampuanku? Sama seperti yang lain, apa kau ingin mengajakku bertarung bersama?" tanya Raisa yang tatapan matanya tidak seramah senyumannya.
"Aku sendiri juga jadi penasaran. Sebenarnya bagaimana rasanya jurus pasir besi andalanmu yang biasanya selalu kau jadikan jubah yang melindungi tubuhmu? Aku tidak menyangka saat ada di pernikahan seperti ini kau bahkan tetap membawa pasir besi itu. Hanya saja pasir besi yang kau jadikan jubah itu kini kau sembunyikan di balik jas panjangmu," sambung Raisa
Dengan menggunakan kemampuan sihirnya, Raisa merampas pasir besi yang disembunyikan di balik jas panjang milik Samuel. Dan dengan mudahnya, Raisa membentuk pasir besi itu menjadi syal berbulu yang ia sampirkan di pundak hingga menjuntai masuk ke bagian dalam kedua tangannya.
Semua tertegun saat melihat Raisa dengan mudahnya mengendalikan pasir besi yang merupakan jurus sihir yang langka.
"Ternyata rasanya cukup nyaman, kukira tidak akan terasa nyaman karena besi bisa menghantarkan rasa panas. Tidak seburuk yang kukira karena aku pun lebih nyaman dengan rasa panas dari pada rasa dingin," ungkap Raisa
Samuel pun tidak lagi meragukan kemampuan Raisa setelah menyaksikan langsung gadis itu mengendalikan jurus pasir besi andalannya. Karena artinya jika Raisa juga bisa menggunakan jurus pasir besi andalannya, gadis itu juga pasti bisa menandingi kemampuan miliknya.
Setelah menggunakan pasir besi milik Samuel, Raisa pun mengembalikan pasir besi yang ia rampas itu pada pemiliknya.
"Terima kasih sudah memperbolehkan aku meminjam dan merasakan sendiri jurus pasir besi milikmu. Kini kukembalikan lagi pasir besi ini pada pemiliknya," ucap Raisa
"Kini aku tidak akan lagi penasaran dengan kemampuanmu karena kau sudah menunjukkan sebagian kemampuanmu padaku," ujar Samuel
Raisa memang sengaja mengendalikan pasir besi milik Samuel agar lelaki itu tidak lagi merasa penasaran dan ingin bertarung melawannya hanya untuk mengetahui kemampuan miliknya.
"Pasir besi milik Samuel bahkan bisa dirampas dan dikuasai olehnya," kata Arriya yang merasa takjub.
"Ternyata kau mau bicara juga, Arriya. Kupikir kau akan bungkam dan terus jadi pendiam seperti dulu. Senang bisa mendengar suaramu secara langsung," ucap Raisa
"Jangan jadi senang karenanya, Raisa. Kau bisa sering mendengar suaraku kapan pun kau mau," kata Rumi yang sangat jelas menunjukkan rasa cemburunya.
"Kalau begitu, aku akan jadi sangat senang saat bisa mendengar suaramu yang bernyanyi untukku," ujar Raisa mengungkapkan keinginannya.
Raisa memang mengatakan keinginannya, tapi ia tidak bermaksud sungguh-sungguh meminta Rumi untuk bernyanyi untuknya. Namun, sepertinya Rumi menganggap serius permintaan Raisa dan bertekad untuk belajar cara bernyanyi mulai saat itu juga.
.
•
__ADS_1
Bersambung ...