Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 150 - Pintu Masuk Rahasia.


__ADS_3

Saat ini Rumi dan yang lain sudah berada di gungung suci. Mereka semua sedang mencari mata air tempat pintu masuk ke dunia ilusi Sang Dewa. Untuk itu mereka harus menemukan pantulan cahaya bulan dan karena itu Morgan mulai mengaktifkan kemampuan mata suci miliknya untuk menemukan pantulan cahaya bulan saat hari masih terang seperti saat ini.


Kemampuan mata suci adalah kemampuan seperti mata tembus pandang atau penglihatan infra-merah.


Morgan menatap ke langit untuk menemukan bulan yang tersembunyi di langit terang itu. Setelah menemukan bulan, pria itu hanya perlu menemukan jalur pantulan cahaya benda langit malam itu di permukaan bumi.


"Aku sudah melihat bulannya. Sekarang hanya perlu menemukan mata air yang terdapat pantulan cahaya bulan di atasnya. Kalian semua, ikuti aku!" seru Morgan


Morgan berjalan lebih dulu dan yang lain pun mengikutinya dari belakang. Hingga akhirnya mereka tiba di suatu mata air.


"Karena saat di bawah air pun kita harus mengikuti jalur pantulan cahaya bulan, satu per satu dari kalian harus ikut berenang di belakangku secara lurus dan sejajar. Kita menyelam sambil berbaris lurus ke belakang," ucap Morgan


"Apa kau yakin kalau ini mata airnya, Morgan?" tanya Devan


"Sepertinya benar. Sihir pelacak dari hewan 2 dimensi milikku juga mengarah ke dalam mata air ini," ungkap Ian


"Padahal aku malas sekali berenang atau menyelam. Biasanya setelah itu aku langsung merasa lapar. Namun, rasanya aku ingin segera menghabisi pelaku yang menculik Raisa. Aku jadi bersemangat," ujar Chilla


Rumi memandangi mata air di sana. Pria itu sudah sangat mempersiapkan diri.


"Kupikir entah kenapa belakangan ini aku selalu merasa gelisah tak menentu. Ternyata, Raisa berada dalam bahaya karena telah diculik. Tunggulah aku di mana pun kau berada, istriku. Aku akan segera datang menyelamatkanmu!" batin Rumi


Selain mempersiapkan diri, tekad Rumi pun sangat besar.


"Ayo, kita mulai menyelam masuk. Morgan, kau yang pertama," kata Aqila


"Baik. Ayo!" seru Morgan


Morgan adalah orang yang pertama masuk menyelami mata air gunung suci tersebut dan yang lainnya menyusul mengikutinya dari belakang satu per satu.


Morgan yang menentukan arah paling depan. Dengan kemampuan mata sucinya, pria itu mengikuti pantulan cahaya bulan dan yang lain hanya mengikutinya.


Saat pantulan cahaya bulan yang tetlihat oleh mata suci milik Morgan telah hilang, tiba-tiba saja mereka tiba di suatu tempat lain. Bukan lagi berada di dalam air, bahkan setelah tadi sempat menyelam, mereka semua sama sekali tidak kebasahan. Namun, tetap terasa dingin karena saat itu memang sedang turun salju di musim dingin.


Saat itu tiba-tiba saja mereka semua merasakan sesuatu, terutama Rumi yang merasa tidak enak. Mereka semua langsung melihat pada salah satu telapak tangan masing-masing. Lambang bunga teratai muncul dengan warna jingga kekuningan. Untung saja bukan warna merah yang muncul dengan arti seseorang telah berada dalam bahaya besar atau terluka parah. Hanya saja mungkin seseorang itu sedang mengalami luka ringan.


Firasat mereka semua tertuju pada Raisa. Mereka semua yakin itu adalah tanda bahaya yang Raisa alami. Melalui lambang sihir inti bunga teratai putih yang diberikan oleh Raisa mereka bisa langsung mengetahui bahaya yang dialami oleh sasama teman dan bahkan langsung menyadari siapa yang berada dalam kondisi bahaya itu. Dan kini yang berada dalam bahaya itu adalah pemberi dari tanda itu sendiri, yaitu Raisa.


"Ini sinyal bahaya dari Raisa, aku bisa merasakannya. Sihirku bisa sedikit lebih jelas melacak keberadaannya," kata Ian yang langsung kembali menciptakan lukisan 2 dimensi yang hidup berupa 2 ekor burung raksasa.


"Ayo, cepat naik!" seru Ian


Setelah menaiki burung raksasa 2 dimensi ciptaan Ian, mereka langsung terbang cepat seolah memburu mangsa dengan cara melakukan pelacakan.


"Kurasa tanda bahaya tadi memang milik Raisa dan mungkin dia sedang terluka. Sayang sekali, Raisa malah terluka dan bukan sedang menggunakan kemampuan sihirnya. Jika saja dia menggunakan kemampuan sihirnya, aku pasti bisa langsung merasakan penggunaan tenaga sihir milik Raisa dan menemukan koordinasi yang tepat untuk membuka portal teleportasi menuju ke lokasi dia berada sekarang. Sinyal yang diterima tidak terlalu besar dan mungkin dia hanya mengalami luka kecil. Jadi, kau tidak perlu terlalu khawatir Rumi," ujar Aqila


Rumi hanya mengangguk kecil.


"Bagaimana bisa aku sebagai suami Raisa tidak merasa khawatir dengannya di saat seperti ini? Namun, aku tetap percaya bahwa istriku adalah orang yang kuat," batin Rumi


Namun, setelah berhasil melacak sinyal tanda bahaya dari Raisa tiba-tiba saja sinyal itu semakin melemah hingga jadi semakin sulit untuk melakukan pelacakan. Bahkan saat ini hari sudah malam. Sejak pagi mereka terus terbang hingga hari gelap tanpa henti hanya demi melacak keberadaan dan ingin menyelamatkan Raisa.


"Sinyal tadi semakin melemah hingga akhirnya hilang. Aku tidak bisa melacak Raisa lagi. Maafkan aku," ucap Ian


"Kau beruntung masih bisa melacak meski samar-samar, tapi aku bahkan tidak bisa merasakan tenaga sihir Raisa. Kami berdua jadi merasa bersalah," ujar Aqila


"Aku bahkan tidak bisa menggunakan kemampuan mata suci milikku untuk menemukan keberadaan Raisa saat seperti ini," kata Morgan


"Kalau kalian bertiga saja merasa bersalah hanya karena tidak bisa menggunakan kemampuan yang lebih spesial milik kalian untuk menemukan Raisa secara langsung, lalu bagaimana dengan kami yang tersisa? Jangan terlalu pesimis karena kita semua pun sedang berusaha," ujar Devan


"Rumi, kenapa kau diam saja seperti ini lagi? Katakanlah sesuatu. Kau tidak marah atau merasa kesal dengan kami semua, kan?" tanya Chilla


"Tidak. Aku hanya ... merindukan Raisa," ungkap Rumi

__ADS_1


Sebenarnya, bohong jika Rumi tidak merasa marah. Namun, ia merasa marah dengan Sang Dewa yang menculik Raisa. Bohong jika ia tidak merasa kesal, tapi ia merasa kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa menemani Raisa jalan-jalan dan melindungi di sisi istrinya itu. Dan lebih berbohong lagi jika ia tidak merasa cemas atau panik.


Namun, pria itu ingin memilih kata yang tepat untuk memberi jawaban tanpa membuat temannya merasa ikut bersalah atau jadi ikut merasa terbebani. Jadi, kata yang tepat adalah rindu. Karena memang saat ini Rumi sedang merindukan Raisa. Sangat rindu.


"Kalau aku sedang menahan rasa lapar sejak tadi. Apa kita tidak bisa mendarat dulu untuk istirahat sejenak dan makan?" tanya Chilla


"Benar juga. Dari tadi kita hanya terus terbang tanpa istirahat. Kalau begitu, kita mendarat saja dulu," ujar Devan


"Jangan hanya terus diam, Rumi. Bagaimana menurutmu?" tanya Morgan


"Baik, aku setuju. Kita turun saja dulu," jawab Rumi


Setelah memutuskan untuk istirahat, Ian pun membuat 2 ekor burung raksasa 2 dimensi yang ditumpangi oleh mereka semua untuk mendarat turun.


Semua pun mencari tempat yang nyaman untuk seolah berkemah untuk istirahat sejenak sambil makan dan minum demi mengisi ulang tenaga.


Mereka semua pun mengeluarkan makanan yang dibawa untuk disantap. Entah itu makanan ringan atau yang berat. Semuanya makan, kecuali Rumi. Pria itu hanya sibuk memandangi setangkai bunga mawar merah pemberian dari sang istri yang dibawanya dan kini berada di dalam genggaman tangannya.


"Leganya ... setidaknya, jika mengisi ulang tenaga dengan makan seperti ini, aku bisa bertarung tanpa ampun nanti," ujar Chilla


"Rumi, kenapa kau tidak makan juga?" tanya Devan


"Aku bukan tidak mau makan, tapi aku tidak sempat membawa makanan karena terlalu terburu-buru saat bersiap tadi," ungkap Rumi


"Kenapa tidak bilang dari awal? Ini, makanlah. Karena disiapkan untuk 2 orang, makanan yang kubawa untukku dan Morgan jadi agak terlalu banyak. Kau bisa memakannya juga," ujar Aqila


"Terima kasih," ucap Rumi


Aqila memberikan roti tawar selai pada Rumi dan pria itu langsung memakannya.


Rumi tidak menolak karena dirinya pun butuh mengisi tenaga agar bisa menyelamatkan Raisa dengan baik. Lagi pula pria itu tidak mau diomeli dan membuat sang istri merasa khawatir saat bertemu nanti jika dirinya terlihat jadi lebih kurus.


Karena belum terlalu larut, usai istirahat sejenak mereka langsung bersiap untuk lanjut mencari keberadaan Raisa.


"Aku harap kita bisa cepat menemukan Raisa agar kita tidak perlu bermalam di dunia ilusi yang aneh ini," gumam Chilla


Saat itu tiba-tiba saja mereka semua merasakan sesuatu.


"Ini ... aku bisa merasakan tenaga sihir Raisa! Kalian pun pasti sama!" seru Aqila


Morgan langsung mengaktifkan kemampuan mata suci miliknya.


"Ya, kau benar. Aku juga melihat ada pintu masuk tersembunyi di langit," kata Morgan


"Meski aku tidak memiliki kemampuan mata suci, aku juga dapat melihat pintu masuk rahasia itu karena itu adalah portal sihir teleportasi tersembunyi dan aku rasa aku bisa membukanya," ujar Aqila


Dengan kemampuan sihir miliknya, Aqila pun bisa melihat pintu masuk rahasia yang tersembunyi di balik langit malam dan berhasil membuka pintu tersebut dengan kemampuan membuka portal sihir teleportasi.


"Cepat masuk! Portal sihir teleportasi itu ditekan oleh kekuatan Sang Dewa. Aku rasa aku hanya bisa membukanya sebentar," ucap Aqila


Ian pun langsung mengontrol 2 ekor burung raksasa 2 dimensi ciptaannya untuk terbang mengarah dan masuk ke portal sihir teleportasi yang telah berhasil dibuka oleh Aqila. Untung saja mereka bergerak cepat, sesaat setelah mereka memasukinya, portal sihir teleportasi tersebut langsung kembali tertutup dalam waktu sekejap mata.


"Nyaris saja. Beruntung kita sudah berhasil masuk!" seru Devan


Namun, mereka tidak lolos begitu saja semudah itu. Karena setelah menerobos masuk portal sihir teleportasi rahasia dan berada di dunia ilusi Sang Dewa, mereka semua langsung dihadapkan oleh pasukan penjaga Sang Dewa yang mengepung di segala sisi.


"Kurang lebih aku sudah mengira akan jadi seperti ini. Untunglah tadi aku sudah mengisi tenaga dan sekarang aku sangat semangat dalam kondisi prima," ucap Chilla


"Ayo, maju!" seru Morgan


Mereka semua pun mulai bertarung melawan pasukan penjaga Sang Dewa.


 

__ADS_1


Raisa yang terus berada di dalam suatu kamar istana kini sedang berdiri memandang ke arah luar jendela. Pandangan sendu kedua matanya merenawang jauh tampak sedang merindukan seseorang yang istimewa di hati.


..."Aku merindukanmu, Rumi. Maaf, aku tidak sama sekali berniat untuk mengkhianati dirimu, suamiku. Aku hanya terpaksa melakukan pilihan ini. Aku berjanji, meski harus memilih untuk mati, aku akan selalu menjaga setia hatiku untukmu," batin Raisa...


Raisa bergumam dalam hati sambil menyentuh cincin pernikahan yang melingkar indah di jari manisnya. Sedangkan pandangannya tetap menerawang ke depan seolah mampu menemukan sosok yang paling dicintainya.


Meski pintu kamar tersebut dibuka dari luar, wanita cantik itu tetap bergeming dalam keheningan.


"Apa yang sedang kau lakukan di sana, Dewi-ku?" tanya Sang Dewa


Sunyi, seolah membisu. Raisa tak menjawab.


"Kata pelayanku, kau terluka dan tidak mau diobati? Coba perlihatkan lukamu. Biarkan aku, calon suami Dewa-mu yang mengobatimu," ujar Sang Dewa


"Jangan menggangguku. Aku sedang asik melihat salju berjatuhan di luar sana," kata Raisa yang mendengar suara derap kaki Sang Dewa yang melangkah mendekat ke arahnya.


"Apa kau menyukai pemandangan di luar sana? Bukankah kau tidak suka dingin?" tanya Sang Dewa


"Tidak tahan dengan hawa dingin bukan berarti aku tidak suka dan membenci dingin. Kukira kau mengenalku dengan baik hingga kau berniat ingin menikah menikah denganku meski kita baru pertama kali bertemu, ternyata kau tidak tahu apa-apa," ungkap Raisa


"Tidak ada yang istimewa dengan pemandangan bersalju di luar sana. Yang benar-benar istimewa dan tampak cantik adalah sosok dirimu sendiri, Dewi-ku," ucap Sang Dewa


"Jangan merayuku. Aku tidak akan termakan rayuan busukmu," kata Raisa


Kini Sang Dewa sudah berada tepat di belakang Raisa dan menyentuh tangan wanita cantik itu. Saat Sang Dewa dengan lancang menggenggam tangannya, Raisa hendak menepis atau menghempaskannya. Namun, genggaman tangan Sang Dewa lebih kuat dari pada tenaganya.


"Jangan sentuh aku! Lepaskan aku!" seru Raisa


"Rupanya lukamu sudah tidak ada dan telah sembuh dengan sempurna. Tidak diragukan lagi. Memang kaulah ... Dewi-ku," ujar Sang Dewa


"Tepatnya, kapan rencana pernikahan itu?" tanya Raisa sambil memaksa melepas tangannya dari genggaman tangan Sang Dewa.


Tiba-tiba bertanya tentang pernikahan, tentu saja membuat Sang Dewa terkejut saat mendengarnya dan membiarkan Raisa melepaskan genggaman tangannya. Sang Dewa pun tersenyum karena merasa senang mendapati Raisa yang mulai bisa menerimanya dan antusias menanyakan pernikahan dengan inisiatif sendiri. Seperti itulah pikir Sang Dewa.


"Aku tidak salah dengar, bukan? Kau menanyakan tentang pernikahan kita? Apa itu artinya kau setuju dan bersedia menikah denganku?" tanya Sang Dewa


"Pernikahan kita akan dilangsungkan besok atau lusa," ungkap Sang Dewa menambahkan.


"Aku bertanya bukan karena aku setuju atau bersedia, tapi aku tidak ingin dipaksa. Lebih tepatnya, aku menolak apa pun rencana pernikahan itu dan tidak akan sudi menikah denganmu," jelas Raisa


"Kau tidak ada dan pilihan selain bersedia melakukan pernikahan itu dan menikah denganku," kata Sang Dewa yang langsung kembali ke raut wajah menahan amarah.


"Arion, dengarkan aku baik-baik! Jika kau menginginkan pasangan yang sempurna untuk jadi calon istrimu, maka bukan akulah orangnya. Kau tahu sendiri bahwa aku memiliki kelemahan yang tidak tahan dengan hawa dingin. Lagi pula, kau tidak akan pernah bisa memaksaku!" seru Raisa sambil menyebut nama Sang Dewa tanpa merasa takut.


"Terlebih lagi, bukankah pernikahan yang dilakukan Dewa harus dilangsungkan dengan melakukan ritual suci dan menjaga kesucian? Aku bahkan sedang dalam masa datangnya tamu bulan merah," sambung Raisa


Raisa tidak punya pilihan lain untuk menggagalkan atau setidaknya menunda rencana pernikahan yang direncanakan oleh Sang Dewa. Wanita itu mau tak mau dan bahkan tidak malu dan tidak segan mengungkap bahwa dirinya sedang datang bulan. Karena setahunya, pernikahan Dewa dan Dewi mengharuskan kedua mempelai berada dalam kondisi yang paling suci dan bersih.


"Maksudmu, kau-"


"Ah, ya ... aku lupa bahwa kau adalah Dewa tertinggi. Kau pasti tidak mengerti urusan manusia biasa terutama seorang wanita sepertiku," ujar Raisa dengan nada suara yang jelas terdengar sedang mengejek.


"Tidak. Sepertinya aku tahu dan mengerti soal yang kau katakan itu. Tidak masalah. Kita bisa menunda pernikahannya," kata Sang Dewa


Jika tidak ingat dengan situasi sast ini dan dirinya yang sedang dalam amarah, mungkin Raisa sudah tertawa terbahak-bahak saat melihat raut wajah Sang Dewa yang kini tampak agak bingung.


"Tapi, sampai kapan?" gumam pelan Sang Dewa bertanya dalam kebingunannya sendiri.


"Tamu bulan merah itu bahkan baru mulai datang saat malam hari kau membawaku pergi ke sini. Ini baru masa permulaan," jelas Raisa dengan dusta.


Raisa memang sedang datang bulan. Namun, tamu bulan merahnya itu bukan baru datang dan bukan pada masa permulaan. Melainkan sudah pada masa akhir. Yang ke luar bahkan hanya tinggal bercak merah saja. Raisa memang berniat ingin menipu Sang Dewa dengan dan melalui kesempatan yang ada ini.


.

__ADS_1



Bersambung.


__ADS_2