Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
159 - Penyelidikan Ke Dalam Hutan Bambu.


__ADS_3

Raisa dan Ian sama-sama bergegas menghampiri lokasi Devan~


"Segeralah cari lokasi Devan! Kalian juga bisa tahu, kan? Devan dalam bahaya!" pesan Raisa yang dikirim melalui sihir transmisi suara pada Morgan dan Rumi.


Bersama Raisa, Ian lebih mudah menemukan keberadaan Devan.


Saat ditemui, Devan sedang bersiap di posisi siaga untuk menjaga dirinya dari serangan roh kegelapan.


"Devan, kau baik-baik saja?" tanya Raisa


"Setidaknya masih begitu," jawab Devan


"Bagaimana bisa roh kegelapan menyerangmu?" tanya Ian


"Jangan bertanya padaku, sku juga tidak tahu! Mereka memang selalu muncul secara misterius! Aku sudah mencoba menangani mereka, tapi sihir elemen anginku tidak mempan, apa lagi sihir pengendali bayangan," ungkap Devan


"Ini hanya tebakanku saja. Sepertinya mereka bisa menemukanmu karena bisa merasakan kemampuan sihir dalam dirimu, Devan. Kau bisa mengendalikan bayangan yang berarti kegelapan," ucap Raisa


"Cih! Ini merepotkan," kata Devan dan Ian secara serempak.


Tidak tanggung-tanggung, yang datang menyerang Devan berjumlah tiga roh kegelapan sekaligus!


Ketiga roh tersebut menyerang secara sembarangan ingin menghancurkan semuanya.


Raisa pun bergerak maju~


Tangannya terulur untuk menghadang serangan dan dari kedua tangannya itu muncul seberkas cahaya sihir terang yang menyilaukan. Cahaya yang dikeluarkan juga mampu membuat ketiga roh tersebut diam tak berkutik.


Dari cahaya yang Raisa pancarkan membuat Morgan dan Rumi lebih mudah dan cepat menemukan lokasi mereka~


"Kalian baik-baik saja?" tanya Rumi


Ian mengangguk kecil.


"Ada tiga toh kegelapan!" pekik Morgan


"Tapi, mereka terlihat lebih tenang," lanjut Morgan


"Kau hanya tidak tahu apa yang sudah mereka lakukan dan Raisa sudah menenangkan mereka," ucap Ian


"Ini belum selesai! Untung di dekat sini ada sungai kecil," kata Raisa


Raisa pun mengendalikan air dari sungai dengan sihirnya. Menyelimuti ketiga roh kegelapan di hadapannya hingga berubah menjadi roh transparan dan seketika menghilang begitu saja~


"Di sini sudah selesai, tapi kita masih harus melanjutkan patroli. Terima kasih untuk bantuanmu tadi, Raisa! Untung kau datang dengan cepat," ucap Devan


"Ya, sama-sama. Ayo, kita lanjut berpatroli lagi," ujar Raisa


Mereka pun lanjut berkeliling untuk memastikan Desa Bambu aman dari serangan para roh atau monster.


Setelah berkeliling dan memastikan semua aman, mereka berlima berhenti di suatu tempat di Desa Bambu. Tempat itu adalah titik tengah desa tersebut.


"Untuk lebih berjaga-jaga ... adakah yang bisa membantuku mendirikan pelindung? Morgan?" ujar Raisa bertanya.


"Pelindung untuk seisi desa? Yang benar saja?! Walau ini hanya desa kecil yang terpencil, semua wilayah di sini juga termasuk besar. Sepertinya aku tidak akan sanggup," ucap Morgan


Raisa menatap Morgan, lalu mengedarkan pandangannya pada yang lain juga.


Semuanya tampak ragu jika harus mendirikan pelindung untuk seisi desa.


"Kalau begitu, biar aku saja," kata Raisa


"Apa kau mampu, Raisa? Kalau di Desa Daun, yang seperti ini akan dilakukan oleh satu pasukan khusus," ujar Ian


"Aku akan mencobanya," kata Raisa


Raisa berjongkok dan mengulurkan kedua tangannya untuk menyentuh tanah. Di atas tanah muncul lambang Bunga Teratai Putih yang sangat besar! Lambang itu bersinar~


Perlahan, Raisa bangkit berdiri sambil merentangkan kedua tangannya. Terakhir, Raisa menyatukan dan menggenggam kedua tangannya di atas kepala. Saat gerakannya berakhir, dinding pelindung telah berdiri mengelilingi dan menutup seisi desasupaya terlindungi dari serangan yang datang dari hutan bambu sebagai bagian terluar dari desa.


Peluh bercucuran pada wajah Raisa setelah mengeluarkan banyak tenaga untuk menggunakan sihir tingkat tinggi. Wajah Raisa langsung pucat, bahkan ia terbatuk dan mengeluarkan darah.


Raisa mengelap darah yang ke luar dari mulutnya sambil menghela nafas lega~


"Jika ingin berusaha mencoba, maka mungkin saja bisa menerobos tingkatan kemampuan yang tidak terduga. Aku selalu jadikan hal itu sebagai pacuan pada setiap latihanku, makanya aku bisa jadi seperti sekarang," ucap Raisa


"Tapi, sekarang kau terlihat parah! Setidaknya kau bisa meminta bantuan kami untuk berbagi tenaga sihir denganmu. Kau terlalu memaksakan dirimu sampai banyak tenagamu yang terkuras," ujar Rumi


"Sudahlah, kita langsung kembali ke panti asuhan saja. Biar Raisa bisa langsung beristirahat. Kau sudah bekerja keras, Raisa," ucap Devan


Rumi pun mendekat dan langsung menggendong (ala bride style) Raisa ke dalam pelukannya.


"Tidak perlu seperti ini, Rumi. Aku hanya jadi sedikit lemah, tapi ini akan membaik dengan sendirinya. Jadi, turunkan saja aku," ucap Raisa


"Namun, untuk itu kau harus beristirahat. Aku akan cepat membawamu kembali ke panti asuhan. Ayo, kita kembali," ujar Rumi


Rumi pun berjalan lebih dulu dengan cepat kembali menuju ke panti asuhan. Diikuti yang lain di belakangnya.


"Sudah cukup, kita sudah sampai. Kau bisa turunkan aku! Tidak baik jika ada anak-anak yang melihat," kata Raisa sesampainya di panti asuhan.


"Yang tidak baik itu, terus memaksakan diri sampai jadi kelelahan sepertimu ini " elak Rumi


Yang dikhawatirkan Raisa, benar terjadi! Aqila dan Chilla bersama beberapa anak ke luar untuk menyambut kembalinya mereka dan melihat jelas Rumi sedang menggendong Raisa.


"Kakak-kakak sudah kembali!"


"Ada apa dengan Raisa?" tanya Aqila


"Dia kehabisan tenaga setelah membangun dinding pelindung untuk seisi desa," jawab Morgan


"Kalau begitu, cepat bawa Raisa untuk istirahat di dalam! Kami baru saja selesai mempersiapkan tempat untuk tidur," ujar Chilla


"Bisa tunjukkan ruangannya? Aku akan membawa Raisa ke sana," pinta Rumi


"Ikuti aku saja, akan kutunjukkan kamarnya," kata Aqila


Mereka pun masuk.


Rumi membawa Raisa langsung menuju kamar untuk beristirahat bersama Aqila yang menunjukkan jalan.


Begitu masuk ke dalam kamar, Rumi langsung membaringkan Raisa di kasur yang telah disiapkan yang ditunjuk oleh Aqila.


Kamar tersebut adalah kamar gabungan khusus semua anak perempuan di panti asuhan. Ada banyak ranjang tingkat yang mengisi kamar tersebut, Raisa berbaring di salah satu tingkat bawah ranjang di kamar tersebut.

__ADS_1


"Kita semua harus berbagi ranjang karena ini kamar gabungan," ujar Chilla


"Maafkan kami. Di panti, tidak ada kamar yang kosong. Hanya ini yang bisa kami persiapkan," ucap ibu pengasuh, Nyonya Wita.


"Tidak apa," kata Raisa


"Terima kasih sudah membawaku sampai sini, Rumi. Tapi, kalian masih harus jaga malam untuk memastikan pelindung yang kubuat bertahan setidaknya sampai pagi," lanjut Raisa


"Aku mengerti. Aku akan membahas ini dengan yang lain. Kau bisa tenang dan istirahat saja," ucap Rumi


"Kalian harus segera beri tahu dan bangunkan aku begitu pelindungnya ada masalah! Lalu, sepertinya kau harus segera ke luar karena walau ini kamar anak-anak, tetap saja ini kamar perempuan," ujar Raisa


"Aku mengerti. Aku akan meminta dibuatkan makanan untukmu. Aku ke luar dulu," kata Rumi


"Kalau begitu, saya akan segera menyiapkan makanannya. Silakan istirahat. Saya permisi," ujar Nyonya Wita


"Kami akan membantu Nyonya Wita menyiapkan makanan. Kami tinggal, ya, Raisa. Ayo, Chilla," kata Aqila


Chilla pun mengangguk.


Rumi pun berlalu ke luar dari kamar dan diikuti oleh Ibu pengasuh beserta Aqila dan Chilla yang hendak menyiapkan makanan.


Sementara yang lain sibuk di luar, Raisa seorang diri berada di dalam kamar yang dipenuhi ranjang bertingkat. Karena semua orang menyuruhnya istirahat, Raisa pun mulai memejamkan matanya.


Selang beberapa lama, seseorang membangunkan Raisa dari tidurnya. Ia mengguncang pelan tubuh Raisa sambil bergumam memanggil namanya.


"Raisa, bangun! Kau masih harus makan," ujarnya


Raisa pun membuka matanya dan mengerjapkannya sesekali. Ia melihat Aqila yang membawa nampan berisi hidangan makanan.


"Oh, kau ... Aqila!" sadar Raisa, lalu bangkit dari tidurnya dan mengubah posisinya menjadi duduk bersandar.


"Maaf, aku membangunkanmu. Kau harus makan untuk mengisi ulang tenagamu. Rumi menegaskan padaku bahwa kau harus makan dan aku harus melihatmu menghabiskan makananmu," ucap Aqila


"Ya, tidak apa. Aku mengerti kalian mengkhawatirkanku," kata Raisa


Raisa pun menerima nampan berisi makanan untuknya dari tangan Aqila dan mulai memakannya perlahan.


"Aku akan menunggu di sini untuk memastikan kau makan sampai habis. Itu pesan Rumi," ucap Aqila


"Ya, baiklah. Kau juga sudah mengatakannya tadi," kata Raisa sambil terkekeh kecil.


Aqila duduk di tepi ranjang di hadapan Raisa.


"Oh, iya! Bagaimana dengan kondisimu, Aqila? Apa sudah lebih baik?" tanya Raisa


"Ya, berkat kau. Sekarang hanya tinggal pemulihannya saja, tapi sudah jauh lebih baik. Kau perlu khawatir dengan kondisimu sendiri," jawab Aqila


Salah satu tangan Raisa terulur untuk menggenggam tangan Aqila untuk memeriksa kondisinya dengan sihir medis. Raisa merasakan tubuh Aqila dalam masa pemulihan yang sangat baik.


"Itu bagus! Jangan khawatir, ini akan membaik dengan sendirinya. Setelah malam ini berlalu juga akan pulih, jadi bisakah kau mengatakan ini pada yang lain saat kau ke luar nanti? 'Jangan larang aku melakukan yang harus kulakukan besok!'. Pastikan mereka mendengarnya dan mengerti itu," ujar Raisa


"Ya. Kau memang yang paling kuat dan hebat dari kami semua," kata Aqila


"Itu berlebihan. Aku tidak hebat, aku hanya punya sesuatu yang harus kulindungi. Dan terkadang justru yang paling kuat itulah yang paling lemah. Semua hanya masalah waktu yang mengendalikannya," ucap Raisa


Raisa tersenyum dan Aqila terdiam. Aqila sedang berusaha memahami ucapan Raisa. Ia seperti mengerti, namun juga sulit untuk dimengerti.


Keduanya pun terdiam sampai akhirnya Raisa menghabiskan makanannya. Raisa pun neneguk air di dalam sebuah gelas sampai habis sebagai akhir sesi makannya.


"Ya, kau bisa kembali istirahat. Aku takkan mengganggumu lagi," ucap Aqila


Aqila pun mengambil kembali alat makan yang Raisa gunakan untuk makan sekaligus nampannya. Aqila pun beranjak ke luar meninggalkan Raisa yang kembali merebahkan tubuhnya untuk melanjutkan istirahat dan tidur.


"Apa Raisa menghabiskan makanannya?" tanya Rumi yang melihat Aqila ke luar dari kamar.


"Ya, dia menghabiskan semuanya. Dia juga mengatakan sesuatu dan ingin aku menyampaikannya pada kalian," jawab Aqila


"Apa yang Raisa katakan?" tanya Chilla


"Katanya, Jangan larang aku melakukan yang harus kulakukan besok," ungkap Aqila


"Itu pasti tentang penyelidikan ke hutan besok," kata Ian


"Dia pasti bersikeras ingin pergi besok. Memang gadis yang keras kepala," ucap Morgan


"Kau juga sama saja. Merepotkan," kata Devan


•••


Keesokan harinya.


Karena sudah lebih awal beristirahat di malam hari, Raisa juga bangun lebih awal di pagi hari. Bersama para pengurus panti asuhan, Raisa menyiapkan kebutuhan untuk seluruh panti di pagi hari.


"Sudah pagi, ya ... " gumam Chilla yang terbangun dari tidurnya.


"Raisa, kau sudah bangun?" tanya Aqila saat membuka matanya.


"Ya, aku hendak membangunkan anak-anak. Kalian berdua bersiaplah dulu sebelum aku membangunkan anak-anak di sini," ujar Raisa menjawab.


Aqila dan Chilla pun bangkit dan memulai persiapan mereka di pagi hari.


Raisa tersenyum dan mulai membangunkan anak-anak panti asuhan.


"Ini sudah pagi, anak-anak! Ayo, bangun, semuanya!" pekik Raisa


Karena sudah biasa dibangunkan para pengasuh, semua anak pun terbangun dan membuka matanya saat Raisa membangunkan mereka semua.


"Bukankah kakak yang pulang digendong kakak tampan semalam? Bukankah kakak cantik terluka?"


"Ya, nama kakak, Raisa. Kalian pasti ingat! Semalam kakak hanya kelelahan, tapi sekarang sudah tidak apa."


"Seharusnya kami tidak membiarkan kakak cantik bangun lebih pagi hari ini."


"Loh, memangnya kenapa?"


"Harusnya Kak Raisa istirahat saja terus dan tidak usah memaksakan diri hari ini. Kakak-kakak yang lain bilang begitu ...."


"Bagaimana, yav... hari ini ada urusan penting yang harus kakak lakukan bersama yang lain. Kalian tidak usah khawatirkan masalah ini. Bangun saja dan mulailah bersiap-siap sebelum makan bersama."


Anak-anak pun menuruti perkataan Raisa dan mulai bersiap-siap.


"Benar-benar tidak bisa mencegah Raisa hari ini. Ternyata, dia bangun lebih awal dari kami semua pagi ini."

__ADS_1


"Apa kalian sedang membicarakan aku? Bukankah sudah kupesankan pada Aqila semalam? Jangan larang aku! Apa yang harus dilakukan, maka harus dilakukan! Dan aku tetap akan pergi," ujar Raisa yang muncul dan kembali pergi begitu saja.


...


Setelah sarapan bersama, mereka pun bersiap untuk melakukan penyelidikan ke hutan bambu.


"Penyelidikan hari ini kita butuh membagi tiga tim! Satu tim terdidi dari dua orang tetap di sini untuk melindungi panti asuhan. Siapa dua orang itu?" ujar Raisa bertanya.


"Bukankah lebih baik kau saja yang tetap tinggal di sini, Raisa?" tanya balik Chilla


"Tidak bisa, aku harus ikut penyelidikan ke hutan," jawab Raisa


"Aku terpaksa mengatakan ini, memang hanya Raisa yang bisa mengatasi masalah roh, jadi dia harus ikut," ucap Devan


"Apa penyelidikannya tidak bisa ditunda ke lain hari saja?" tanya Morgan


"Kita ditugaskan ke sini untuk mengakhiri serangan para roh dan monster, jadi kita harus menyelesaikan misi ini dengan cepat dan tidak boleh menunda waktu lagi," jawab Raisa


"Kali ini aku ingin ikut! Begini saja, Chilla dan Ian tetap di sini melindungi panti asuhan. Setuju, tidak?" ujar Aqila bertanya.


"Aku, sih, ikut kata kalian saja," kata Chilla


"Baiklah, apa boleh buat?! Aku yang akan tetap berada di sini bersama Chilla," pasrah Ian


"Begitu saja! Kalian berdua tetap di sini dan yang lain pergi bersama ke hutan," kata Raisa


"Kalian berhati-hatilah!" pesan Ian


"Cepat kembali, ya ... " ucap Chilla


Setelah menetapkan, Ian dan Chilla akan tetap berada di panti asuhan untuk melindungi semua yang ada di sana.


Aqila, Morgan, Devan, Rumi, dan Raisa pun pergi meninggalkan panti asuhan untuk melakukan penyelidikan ke hutan bambu.


Begitu melihat jalan masuk hutan, mereka berlima menembus dinding pembatas yang dibangun Raisa untuk melindungi seisi desa. Pelindung tersebut memang hanya dibuat supaya roh dan monster dari luar desa atau hutan tidak masuk ke dalam permukiman desa, namun orang-orang mampu melewatinya dengan bebas dan mudah.


Saat hendak masuk ke dalam hutan, mereka berlima berhenti sejenak...


"Ada apa lagi?" tanya Morgan


"Kita harus membagi tim lagi. Dua orang tetap berjaga di luar sini, jika melihat ada roh atau monster yang ke luar dari hutan segeralah bantu amankan desa. Tiga lainnya masuk ke dalam hutan. Siapa dua orang yang ikut aku masuk ke dalam hutan dan dua orang lain yang berjaga di luar hutan?" ujar Raisa bertanya.


"Aku akan ikut masuk ke dalam hutan," jawab Aqila


"Aku juga akan masuk bersamamu dan Aqila," sahut Rumi


"Jadi, ini maksudmu untuk membagi tiga tim... Baiklah, aku dan Morgan akan menunggu dan berjaga di sini," ucap Devan


"Kenapa harus aku yang di luar sini?" tanya Morgan


"Karena kau orang yang suka mengacau, lebih baik kau tetap di sini! Lalu, kata Raisa semalam ... alasan para roh menyerangku semalam kemungkinan adalah mereka bisa merasakan kemampuan sihir pada diriku yang bisa mengendalikan bayangan yang berarti kegelapan. Jadi, mungkin akan beresiko jika aku masuk ke dalam hutan. Jadi, kau dan aku yang akan tetap berada di sini," jelas Devan


"Semua peranan sama pentingnya dalam misi, jadi mohon mengertilah, Morgan," ujar Raisa


"Baiklah, terserah kalian saja," pasrah Morgan


"Kalau begitu, kami akan masuk! Apa pun yang terjadi, kami akan menyelesaikannya di dalam. Jadi, jangan khawatir, tetap tunggu di dini dan jangan ikut kami masuk ke dalam hutan," ucap Raisa


Setelah menempatkan Devan dan Morgan di luar hutan untuk berjaga-jaga. Hanya tersisa Aqila, Rumi, dan Raisa yang akan masuk ke dalam hutan.


Dengan berbekalkan peta yang dibuatkan Tuan Derril bergambarkan seisi hutan yang sudah dijelajahinya bersama para penduduk desa, Aqila, Rumi, dan Raisa pun mulai penyelidikan ke dalam hutan bambu.


Beberapa titik di hutan telah ditandai pada peta. Ketiganya masuk ke dalam hutan sesuai jalan yang pernah ditempuh Tuan Derril dan penduduk lainnya.


"Tetaplah waspada dan perhatikan kondisi sekitar," pesan Raisa selama perjalanan.


Ada sebuah titik merah besar yang menandakan tempat saat penyerangah roh kegelapan terjadi. Namun, belum sampai setengah jalan sampai titik tersebut hawa di dalam hutan sudah terasa aneh walau masih pagi hari.


"Di dekat sini diberi tanda simbol api. Katanya, di situ terdapan kobaran api abadi di dalam hutan ini. Tuan Derril pernah beristirahat di sekitar tempat ini untuk memperbanyak obor sebelum melanjutkan perjalanan masuk ke pedalaman hutan," ungkap Aqila yang memengang peta.


"Kita mungkin sudah dekat dengan tempat itu," kata Rumi


"Tetap lanjutkan perjalanan!" tegas Raisa


Mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan ada saja rintangan yang harus dilewati. Seperti tanah terjal, gundukan batu besar, batang pohon besar yang menghalangi jalan atau tanah hisap~


Dengan perjuangan bersama, ketiganya mampu melewati semua rintangan yang ditemui dan terus melanjutkan perjalanan. Belum lama melanjutkan perjalanan setelah beristirahat karena rintangan yang menghalangi, kali ini mereka sudah sangat dekat dengan titik api abadi yang tertera pada peta, dan mungkin malah sudah berada di sekitar wilayah tersebut. Namun, lagi-lagi ada yang menghalangi mereka!


Beberapa roh kegelapan dan monster misterius yang mengerikan menghadang jalan mereka bertiga~


Ketiganya pun berhenti dan mulai bersiaga.


Ketiganya memerhatikan tatapan para roh dan monster yang tajam dan sangat mengerikan!


"Tetap tenang dan jangan takut! Kalau tidak, kalian akan terpengaruh dan masuk dalam perangkap kegelapan ... " pelan Raisa


"MANUSIA! Berani sekali kalian masuk ke dalam wilayah kami yang damai ini! Untuk apa kalian ke sini?! Jangan pernah buat keributan dan kerusakan di dalam hutan kami yang suci lagi! Pergi dari sini!! Selama kami memperingati kalian!!!"


"Mereka bisa bicara?" heran Aqila bertanya.


"Bukan mereka! Aku merasakan sosok lain yang tidak terlihat di sini," ucap Raisa


Raisa kembali bersikap normal dan sedikit melangkah maju.


"Raisa, untuk apa kau maju ke sana?" tanya Rumi, cemas.


"Yang kami inginkan adalah kedamaian. Berdamailah dengan kami, wahai para penghuni hutan yang suci," ungkap Raisa


"LANCANG! Bisa-bisanya kalian bicara dengan begitu berani setelah apa yang telah kalian perbuat di dalam hutan suci kami!!"


"Apa maksudnya itu?"


"Tunggu apa lagi?!! SERANG!!!"


Para roh dan monster pun maju dengan cepat menyerang Aqila, Rumi, dan, Raisa~


"TIDAK!! Tunggu dulu!"


Para monster dan roh tidak ingin mendengarkan atau pun bisa diajak bicara. Mereka tetap maju dan menyerang. Pertarungan pun tidak dapat dihindari~


Aqila, Rumi, dan Raisa pun bertarung dan bertahan melawan para roh dan monster dengan sekuat tenaga dan semampu yang mereka bisa.


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2