
Rumi tak habis pikir dan tidak menyangka jika sang istri akan berpikir bahwa dirinya akan membenci dan menganggap wanita cantik yang nyatanya sangat dicintai olehnya itu menjijikan dan kotor hanya karena wanita cantik itu pernah dibawa secara paksa oleh Sang Dewa.
Tentu saja, Rumi akan percaya sepenuhnya pada sang istri. Terlepas apa yang terjadi yang dilakukan sang istri saat diculik, pria itu yakin jika istri cantiknya mampu menjaga diri dengan baik dalam segala hal, termasuk soal kehormatan sebagai seorang wanita yang berstatus sebagai seorang istri.
Namun, meski nyatanya seperti itu, Raisa menjadi merasa pesimis dan tidak percaya akan dirinya di mata sang suami. Hal ini membuat wanita cantik itu merasa khawatir berlebih.
"Baiklah. Kalau begitu, biarkan aku bertanya padamu. Raisa, apa saja yang kau lakukan saat kau diculik oleh Arion? Apa sudah terjadi sesustu antara kau dan Arion?" tanya Rumi
Raisa yang menunduk dengan cemas langsung mengangkat kepalanya dengan kedua mata yang melotot sempurna.
"Tidak. Aku tidak melakukan apa pun selain hanya banyak diam dan tidak terjadi apa pun antara aku dan Arion," jawab Raisa yang ingin berusaha meyakinkan sang suami.
"Katakan saja dengan jujur dan jelaskan semuanya padaku. Jadi, seberapa banyak kau diam selama di sana?" tanya Rumi
"Aku ... entahlah. Aku juga cukup banyak bicara dengan Arion, tapi hanya untuk menolak rencananya padaku secara tegas dan berusaha menyadarkan bahwa pilihannya salah. Lalu, Arion juga sempat merangkul dan memelukku, tapi hanya itu. Selain itu saat disuruh untuk makan, aku hanya minum. Namun, saat sendiri aku pun makan cokelat pemberian darimu dan aku berbaring tanpa bisa tertidur," ungkap Raisa
"Aku juga pernah memandang ke arah luar jendela dan yang terakhir adalah Arion menanamkan bola sihir ilusi tepat pada jantungku, lalu Arion membawaku untuk menemuimu. Niat awalnya adalah ingin mempergunakan aku untuk membunuhmu, tapi aku malah berlari untuk memelukmu karena aku berhasil membebaskan diri dari sihir ilusi yang ditanamkan pada jantungku. Sungguh, hanya itu yang terjadi dan aku sudah mengatakan semuanya padamu. Aku ... tidak berbohong dan tidak ada yang kusembunyikan darimu," sambung Raisa
"Kalau begitu, aku percaya padamu. Kau bahkan tidak bisa makan dan tidur dengan baik pasti karena kau berusaha menjaga dirimu dan kehormatanmu sebagai wanita yang memiliki suami," ujar Rumi
"Apa perlu harus aku yang mengintrogasimu lebih dulu, baru kau akan menceritakan masalah yang kau alami padaku? Apa kau tipe orang yang seperti itu? Kupikir tidak. Kau pasti juga tidak ingin diintrogasi dan kali ini kau hanya merasa khawatir berlebihan. Aku bukan hanya cinta, tapi juga menaruh rasa kepercayaan yang besar padamu. Akulah yang tidak bisa menjadi suami yang baik karena tidak bisa menjaga dirimu dan malah membiarkanmu merasa trauma karena telah mengalami penculikan," sambung Rumi
Rumi pun langsung memeluk Raisa yang berada tepat di sisinya. Pria itu mendekap sang istri dengan sangat erat.
"Tidak. Kau menjalankan misi karena itu adalah pekerjaanmu yang kau lakukan demi diriku juga. Akulah yang sudah bertindak secara gegabah," kata Raisa
"Tidak ada yang salah di sini. Yang salah sebenarnya adalah pilihan Arion yang gila. Untunglah sekarang dia sudah berubah menjadi baik berkat dirimu," ucap Rumi
"Padahal aku tidak ingin kita membahas tentang dirinya lagi. Lalu, kalau soal Arion yang sempat dan pernah merangkul dan memelukmu, sepertinya aku tidak perlu terlalu peduli. Bukan aku tidak peduli sama sekali juga, tapi anggap saja itu seperti Amy yang juga sering memelukmu. Aku akan berusaha untuk tidak cemburu. Karena lebih dari siapa pun, aku bisa memelukmu sepuasku seperti saat ini," sambung Rumi
Rupanya, Rumi bukannya tidak peduli sama sekali, tapi selain percaya dengan sang istri, pria itu juga berusaha mengabaikannya karena tidak ingin merasa cemburu pada hal seperti itu. Karena bagaimana pun Rumi juga hanya manusia biasa.
Masih terus dalam keadaan memeluk tubuh sang istri, Rumi mulai beraksi dengan bibirnya yang menjelajah kulit leher sang istri. Raisa langsung meleng*h tertahan saat merasakan sentuhan sensual dari sang suami.
"Ugh~ Rumi ... " racau Raisa sambil memanggil nama sang suami.
Rumi langsung melepaskan pelukannya dari sang istri agar bisa menatap wajah sang istri tercinta dengan bebas semaunya. Pria itu merasa ada sesuatu yang bangkit dari dalam dirinya karena mendengar suara indah dari racauan pelan sang istri yang menyerukan namanya dengan merdu.
"Sayang, apa kita sudah bisa melakukannya lagi?" tanya Rumi yang menyiratkan sesuatu.
Raisa yang mengerti dengan maksud dari pertanyaan sang suami pun langsung mengangguk pelan.
"Ya. Kau tidak perlu menahan diri lagi," jawab Raisa
Mungkin maksud Rumi adalah menanyakan tentang periode siklus tamu bulanan sang istri. Karena karena periode tersebut masih berlangsung, maka keduanya masih belum bisa melakukan hubungan yang intim. Dan nyatanya, memang periode siklus tamu bulanan Raisa sudah berakhir.
Mendapat akses lampu hijau dari Raisa, Rumi pun langsung bergerak merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang.
"Kalau begitu ... karena kau telah memberi izin, maka aku akan menunjukkan rasa cintaku sepenuhnya padamu. Aku percaya bahwa kau hanya milikku. Tidak, kau adalah milik dirimu sendiri. Dan aku hanya pendamping hidupmu yang setia mencintaimu," ujar Rumi
"Aku akan selalu setia mencintaimu, Raisa, Sayangku. Aku tidak peduli dengan hal lain, kau hanya perlu selalu berada di sisiku dan menemaniku," sambung Rumi
"Aku juga sangat mencintaimu, Suamiku sayang... dan hanya akan setia dan selalu menemanimu, Rumi," balas Raisa
Rumi pun mulai kembali beraksi dengan mendaratkan ciuman pada bibir sang istri. Kedua tangan Raisa langsung memeluk leher sang suami. Keduanya mulai bercumbu mesra seakan haus akan aksi asmara yang menggelora.
Rumi bergerak melepas jubah mandinya dan melucuti pakaian sang istri yang masih membungkus dan menghalangi tubuh masing-masing.
Rumi dan Raisa melakukan morning **** hingga lebih dari 3 jam lamanya. Keduanya pun berhenti karena merasa kelelahan dan terlebih lagi karena pasangan suami istri itu masih belum sempat mengisi perut sejak bangun tidur di pagi hari. Dan kini waktu sudah menunjukkan jam 11 siang.
Keduanya saling melepas lelah sambil berpelukan di bawah selimut yang menutupi tubuh polos pasangan suami istri itu.
"Kau pasti merasa lelah, tapi kau sudah tidak merasa khawatir lagi, kan?" tanya Rumi
Raisa tersenyum kecil.
"Terima kasih karena kau selalu bersedia menerima diriku apa adanya. Aku sangat beruntung karena berjodoh denganmu yang menjadi suamiku dan bersyukur bisa menjadi istrimu," ungkap Raisa
"Bagiku kau sangat istimewa, Sayang. Jangan pernah merasa rendah dan tidak percaya diri lagi. Akulah yang beruntung karena bisa bertemu denganmu dan bersyukur karena bisa menikahi dirimu," ucap Rumi
__ADS_1
Lagi-lagi, Raisa dan Rumi bisa melewati musibah dan cobaan hingga keduanya bisa kembali berbahagia bersama.
"Haah~ lelahnya ... " lirih Raisa
"Benar juga. Kau pasti merasa lelah karena belum makan dari pagi tadi. Kalau begitu, aku akan pergi membeli makanan untukmu," ujar Rumi
"Ya ampun, kukira apa ... ternyata, kau hanya mengingat itu soal itu. Tapi, tidakkah kau merasa lelah juga? Lebih baik istirahat saja dulu, pergi beli makanannya nanti saja," kata Raisa
"Tidak apa kok. Kalau soal ini aku lebih kuat darimu. Aku tidak merasa lelah, jadi aku akan pergi beli makanan sekarang. Kau harus mengisi perutmu dulu. Kau sendiri yang memberi tahu padaku bahwa yang utama adalah tidak boleh membiarkan perut kosong," ucap Rumi
Rumi pun beranjak bangkit dan turun dari ranjang. Pria itu langsung mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh sang istri namun belum disentuh olehnya sejak pagi karena langsung berolahraga ranjang dengan sang istri setelah mandi saat masih hanya mengenakan jubah mandi.
Raisa sedikit tersipu saat melihat tubuh polos sang suami yang bergerak untuk mengenakan pakaian.
..."Memang benar. Rumi, kau lenih kuat dari pada aku, sangat. Aku sampai dibuat lelah olehmu, tapi aku suka itu," batin Raisa...
"Diamlah di sini dan lanjutkan saja istirahatmu," kata Rumi
"Aku memang merasa lelah, tapi alu ingin mandi selama kau pergi," ujar Raisa
"Jangan. Kita akan mandi berdua setelah aku pulang dan kita makan bersama nanti. Jangan tinggalkan aku," ucap Rumi
"Baiklah. Aku tidak akan meninggalkan dirimu," patuh Raisa sambil tersenyum.
"Sekarang, katakanlah. Apa yang ingin kau makan?" tanya Rumi
"Aku belum pernah makan ini selama ada di sini, tapi aku ingin pizza. Kalau memang kau tidak menemukannya, belikan saja burger. Aku sedang tidak ingin makan nasi. Lalu, minumannya aku ingin air jeruk peras," jawab Raisa
"Baiklah, aku sudah ingat. Aku pergi dulu dan tunggu aku," kata Rumi
"Berhati-hatilah, Sayang ... " pesan Raisa
Rumi tersenyum dan mengangguk. Lalu, pria itu pun pergi ke luar dari rumah untuk membeli makan. Sedangkan, Raisa kembali memejamkan kedua mata sejenak selama menunggu hingga sang suami kembali. Toh, pasti Rumi akan membangunkannya jika sampai tertidur saat kembali nanti.
Saat kembali pulang ke rumah, Rumi mendapati sang istri sedang tertidur di atas ranjang sambil meringkuk di bawah selimut. Pria itu pun berjalan mendekat ke arah ranjang, ia mengusap sambil menepuk pipi sang istri dengan pelan untuk membangunkannya.
"Sebenarnya aku tidak tega membangunkan Raisa, tapi dia harus makan kalau tidak nanti bisa sakit," batin Rumi
"Heum ... Rumi, kau sudah pulang, ya," sadar Raisa terbangun dari tidurnya sambil sesekali mengerjapkan kedua matanya dan melenguh pelan.
Sambil menahan selimut dengan satu tangan di dadanya, Raisa pun berusaha bangkit duduk dari posisi tidurnya.
"Tunggu sebentar," kata Rumi
Pria itu beralih mengambilkan jubah tidur untuk diberikan pada sang istri.
"Pakailah dulu, Sayang," ujar Rumi
"Terima kasih," ucap Raisa
Raisa pun menerima jubah tersebut dari tangan sang suami dan beranjak bangkit untuk mengenakan jubah untuk menutupi tubuh polosnya.
"Kau membeli kentang goreng juga? Kau bahkan nembeli pizza dan burger sekaligus. Kenapa kau membeli banyak sekali?" tanya Raisa yang melihat ke arah makanan yang dibeli oleh sang suami.
"Tidak apa-apa. Kalau memang tidak dimakan semua sampai habis bisa dibuat persediaan untuk dimakan nanti," jawab Rumi
"Ya sudahlah, sudah terlanjur dibeli juga, tapi aku jadi bingung ingin makan yang mana. Semuanya terlihat enak," ujar Raisa
"Baguslah. Kau harus makan yang banyak. Makan semuanya juga tidak apa-apa," kata Rumi
"Inginnya juga seperti itu, tapi membayangkannya saja sepertinya aku tidak akan sanggup. Tiba-tiba aku jadi merasa kenyang duluan," sahut Raisa
"Jangan seperti itu dong. Ayo, kita makan bersama," ajak Rumi
"Tentu saja. Kita tetap harus makan," kata Raisa
Keduanya pun makan bersama di atas ranjang sambil duduk berhadapan. Rumi langsung sigap menyuapi sang istri.
"Aku pernah membayangkan kita makan bersama di atas ranjang seperti ini. Aku jadi merasa senang," ucap Raisa
__ADS_1
"Aku juga senang. Jadi, makanlah yang banyak," kata Rumi
"Hmm ... aku jadi ingin makan semuanya. Sayang, suapi aku dong," pinta Raisa
"Tentu saja. Dengan senang hati, Ratuku. Kau ingin makan apa?" tanya Rumi
"Suapi aku makan burger itu," jawab Raisa sambil menunjuk salah satu dari dua burger yang telah dibeli oleh sang suami.
"Baiklah," kata Rumi
Setelah maksn sepotong bagian pizza, Raisa meminta sang suami menyuapinya makan burger seperti yang suka dilakukan keduanya pada masa berpacaran dulu. Rumi pun makan satu burger berdua dengan dan sambil menyuapi sang istri supaya lebih romantis
Cukup dengan memakan sepotong pizza dan satu burger berdua dengan sang suami, Raisa pun beralih memakan kentang goreng. Rumi kembali menyuapi sang istri makan kentang goreng sambil beralih duduk tepat di samping sang istri tercinta. Kini Raisa sedang bersandar pada dada milik sang suami dengan nyamannya.
"Apa kau sudah cukup dengan makan sepotong pizza dan setengah burger saja?" tanya Rumi
"Kan, sekarang aku sedang makan kentang goreng yang disuapi olehmu," jawab Raisa
"Katanya, kau ingin makan semua makanan ini?" tanya Rumi
"Memang, sih, tapi aku hanya bisa makan masing-masing sedikit saja. Aku tidak akan sanggup menampung semuanya di dalam perutku," jelas Raisa
"Tidak bisa. Makanlah setidaknya sedikit lagi. Satu potong pizza lagi saja. Aku akan menyuapimu lagi. Ayo, buka mulutmu," ujar Rumi
"Baiklah. Setelah ini aku ingin langsung mandi," kata Raisa
"Ya. Setelah ini kita juga akan mandi bersama," sahut Rumi
Raisa pun makan satu potong pizza lagi yang disuapi oleh sang suami. Rumi benar-benar memanjakan sang istri dengan cara menyuapi makan.
Setelah makan dan minum selesai, Raisa dan Rumi pun beralih menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri bersama.
Di dalam kamar mandi, saat mengguyur tubuh di bawah kucuran air shower, Rumi mulai beraksi minta jatah sekali lagi. Raisa pun tidak bisa menolak dan hanya bisa melayani sang suami. Setelah bermain satu ronde di dalam bilik shower, barulah keduanya beralih berendam bersama di dalam bath tub. Posisi keduanya adalah Rumi berada di belakang Raisa.
"Kau ini benar-benar tidak kenal dengan rasa lelah, ya, Rumi?" tanya Rumi
"Tentu saja. Kan, sudah kubilang-" Perkataan Rumi langsung terhenti karena dipotong oleh sang istri.
"Ya, sudah cukup. Aku tahu dan masih ingat dengan apa yang sudah kau katakan tadi. Aku pun sudah merasakannya sendiri kekuatanmu itu. Kau memang sangat kuat," ujar Raisa yang memotong perkataan sang suami.
"Yang kupelajari selama ini hanya cara berusaha keras dan pantang menyerah," sahut Rumi
"Dasar, kau malah menghubungkan satu hal dengan hal lainnya ... " kata Raisa
Rumi malah menciumi pipi sang istri dari arah belakang.
"Cukup, Sayang. Aku sudah lelah. Maaf, ya ... " lirih Raisa
"Tidak apa. Kali ini biar aku yang melayanimu mandi," ujar Rumi
Rumi benar-benar membantu membersihkan diri sang istri tercinta, sedangkan Raisa hanya diam menikmati perlakuan sang suami yang memanjakan dirinya.
"Mulai saat ini jangan pernah mandi terlalu lama lagi," kata Rumi
"Baiklah," patuh Raisa
Usai membersihkan diri, keduanya pun ke luar dari kamar mandi.
"Kau pasti merasa sangat lelah. Setelah memakai baju, kau bisa istirahat lagi," ujar Rumi
"Sebenarnya kau ini ingin memanjakan aku atau membuatku jadi pemalas, sih?" tanya Raisa
"Satu-satunya alasan adalah hanya karena aku mencintaimu, Sayangku," ungkap Rumi
Raisa tersenyum. Jujur saja, hatinya merasa senang saat mendengar perkataan sang suami.
Keduanya pun mengenakan pakaian bersama.
.
__ADS_1
•
Bersambung.