Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
31 - Kekacauan Yang Timbul.


__ADS_3

Raisa pun memilih menuju ke sumber suara terlebih dulu...


Raisa menemukan gedung utama sekolahnya hampir saja runtuh! Dan itu ulah seseorang~


Benar saja! Di sana ada seseorang berjubah hitam yang sedang mencoba mengendalikan unsur tanah dari sebuah bangunan sekolah. Ia menggunakan sihir pengendali tanah untuk merubuhkan suatu bangunan.


"SIAPA KAMU!?!" Pekik Raisa bertanya dengan menyembunyikan identitas dengan penyamarannya sekarang.


Seseorang itu menoleh ke atas, tempat Raisa datang dengan terbang menggunakan sayap sihirnya. Seseorang itu benar seorang pria!


Pria misterius itu nampak gelagapan saat mengetahui seseorang yang mempunyai keahlian sihir sepertinya menangkap basah dirinya sedang berbuat kekacauan.


Pria misterius itu pun berbalik pergi berlarian dengan cepat menggunakan sihirnya...


Raisa hendak mengejar pria tersebut namun ia lihat gedung utama sekolahnya benar-benar akan runtuh dalam hitungan waktu dan masih ada orang di dalamnya. Raisa pun memilih menyelamatkan orang yang kemungkinan adalah gurunya yang berada di dalam gedung itu dulu...


Raisa pun terbang mendekati gedung yang terus menyebar retakannya di bagian dindingnya itu.


Raisa nampak berpikir...


Jika ia menggunakan sihir pengendali tanah untuk membenahi kerusakan unsur tanah pada dinding yang retak dan terus bergerak ke bawah dan hampir runtuh itu, kemungkinan akan menyebabkan guncangan dan membahayakan orang dalam gedung itu. Jadi, ia harus mengeluarkan orang dari dalam gedung terlebih dulu...


Sudah tak sempat mencari pintu masuk gedung, ia harus nenerobos nasuk dari luar!


Tolooonngg!


KRATAK TAK...


KREKK~


KRATAAKK!


Raisa harus cepat!


Raisa pun menyemburkan air dengan sihirnya ke bagian kaca jendela besar gedung tersebut dan membekukannya menjadi es. Lalu, ia memberi pukulan kuat pada kaca jendela yang telah beku menjadi es itu hingga hancur lebur berkeping-keping. Sehingga membuat lubang besar hingga dapat menerobos masuk dari sana.


Raisa pun masuk dan mendarat ke dalam gedung dari lubang yang ia ciptakan~


"Tolong, jangan sakiti kami!"


"Saya datang untuk membantu kalian ke luar dari sini. Cepat, bangunan ini akan segera runtuh!" Ujar Raisa dengan penyamarannya.


"Apa kami bisa mempercayaimu? Kami hampir saja terluka..." Ucapnya. Di dalam sana terdapat 2 orang di lantai 3 yang Raisa masuki itu.


"Saya menciptakan lubang itu supaya kalian bisa ke luar dengan cepat dari sini. Yang ingin merubuhkan bagunan ini orang berjubah hitam tadi. Saya datang untuk menghalaunya dan menyelamatkan kalian. Saya akan mencarinya setelah ini... Ayo, cepat! Kita ke luar dari sini..." Bujuk Raisa menyakinkan 2 orang yang sebebarnya adalah guru sekolahnya.


Kedua guru sekolah itu pun mendekati Raisa di ambang lubang besar itu...


"Apa ada yang terluka?" Tanya Raisa


Keduanya menggeleng pelan.


"Sekarang, bagaimana cara kami ke luar dari sini dengan cepat?" Tanyanya nampak khawatir.


"Apa ada orang lain di sini? Atau hanya kalian berdua?" Alih-alih menjawab, Raisa justru balik bertanya.


"Tidak ada lagi, hanya kami berdua di atas sini." Jawabnya


"Masing-masing kalian genggam erat tanganku. Jangat takut! Saya akan membawa kalian turun. Percayalah... Kalian pasti selamat!" Ucap Raisa


Rausa menambah sihir ke dalam ucapannya agar keduanya dapat yakin akan dirinya. Walau dengan tangan bergetar ragu pun, kedua guru itu menggenggam kuat masing-masing satu tangan Raisa yang mereka tak tau siapa identitasnya karena penyamarannya.


"Saya akan mendarat perlahan. Jika kalian takut, pejamkan mata kalian..." Ujar Raisa


"Bersiap~ Mulai!" Aba-aba Raisa memulai penyelamatannya.


Raisa pun membawa terbang kedua guru sekolahnya dan perlahan terbang ke bawah dan mendarat dengan halus...


"Kita sudah di bawah. Kalian hubungilah bantuan. Aku akan coba mengejar pelaku tadi." Tutur Raisa, keduanya mengangguk mengerti.


"Kalian tenanglah... Sudah tidak ada yang akan terjadi di sini yang membahayakan kalian. Kalian aman di sini." Raisa sedikit sibuk menenangkan kedua gurunya yang masih bergetar hebat karena kecemasan mereka.


"Awas~ Itu...!" Pekik salah satu dari keduanya yang menyaksikan bangunan utama sekolah akan tuntuh.


Lagi-lagi Raisa lalai...


Ia melupakan tentang bangunan yang nyaris runtuh itu.


Dan kini, dinding-dinding bangunan yang retak itu mulai berjatuhan. Dan runtuhan dinding berukuran besar terlihat akan menimpa orang-orang yang ke luar dari bangunan yang berada tepat bersebelahan dengan bangunan yang mulai runtuh itu.


Dengan sigap, Raisa merespon teriakan gurunya dengan cepat. Raisa menahan beban runtuhan dinding dengan unsur tanah itu dengan kedua tangannya yang mengunakan sihir. Kedua tangan Raisa menggepal erat menahan runtuhan dinding agar tetap melayang di udara dan tak menimpa orang-orang yang keluar dari gedung sebelah itu.


"Kalian... LARI!!" Teriak seorang guru yang telah Raisa selamatkan.


3 orang yang baru saja keluar dari gedung sebelah itu terkejut setengah mati dengan apa yang dialami dan hampir menimpa mereka itu. Ketiganya tetap terpaku di tempat. Tidak dapat bergerak saking takutnya...


"KALIAN CEPAT PERGI DARI SANA! CARI TEMPAT AMAN DAN BERLINDUNGLAH~..." Teriak Raisa dengan keras.


Mereka bertiga terperangah dengan apa yang dilihatnya. Hampir tertimpa dan melihat runtuhan bangunan itu melayang saja sudah sangat mengejutkan mereka. Dan sekarang mereka malah melihat seorang gadis muda bersayap dan bertopeng yang menyelamatkan mereka dengan kekuatan misterius yang ajaib!

__ADS_1


"CEPATT!!!" Pekik Raisa yang hampir tak bisa menahan beban runtuhan bangunan itu lagi.


Ketiganya pun tersadar dan langsung berlarian menghampiri kedua rekan mereka yang berada tak jauh dari gadis penyelamat itu.


Saat melihat situasi cukup aman, Raisa berangsur menurunkan runtuhan dinding besar itu ke tanah perlahan~


"Kalian semua baik-baik saja?" Tanya Raisa


"Kami selamat! Terima kasih banyak..." Jawab mereka bertiga..


"Kalian masih ada di sekolah? Apa ga sadar sama kejadian bangunan runtuh itu?" Tanya seorang guru yang diselamatkan lebih dulu pada ketiga rekannya yang baru ke luar itu.


"Kami hanya tau ada ribut-ribut di luar. Sewaktu ada guncangan kami baru ke luar. Dari dalam kami ga kepikiran untuk melihat ke luar dari jendela, langsung ke luar aja..." Jelasnya


"Pastikan rekan kalian yang lain sudah tidak ada di dalam bangunan dengan menghubungi mereka. Tapi, tetaplah panggil bantuan untuk datang. Saya tidak bisa berlama di sini. Saya akan pergi..." Ucap Raisa


"Eh, tapi!- TERIMA KASIH BANYAK!!~"


Mereka berlima hendak bicara lebih pada penyelamat mereka. Namun, Raisa telah pergi lebih dulu sebelum mereka sempat bicara.


Raisa pun terbang menuju tempat lain dengan sayap sihirnya...


•••


Kini, Raisa mendarat di tempat sepi dekat lokasi kantor suami Kakaknya, Kak Arka, suami Kak Raina...


Senenarnya, ingin sekali Raisa memburu pelaku sihir jahat itu. Tapi, ia teringat ucapannya yang seperti janji untuk membawa pulang Kak Arka terlebih dulu sebelum menuntaskan misi aksinya.


Entah apa yang dipikirkan Raisa saat memilih mendarat di tempat sepi padahal ia telah melakukan penyamaran dengan sihirnya. Saat ini, ia benar-benar kalut! Sangat-sangat kalut melebihi saat ia berada di dimensi asing dunia lain waktu lalu...


Raisa berpikir, informasi dari Kakak perempuannya tentang kehebohan di kantor suaminya sudah saat sebelum ia menyelamatkan para guru di sekolahnya. Jadi, ia kira masalah di kantor kakak iparnya mungkin sudah terselasaikan karena ia juga belum lama melihat pelaku sihir jahat di sekolahnya tadi. Dan peristiwa di kantor terjadi sebelum kejadian di sekolah, mungkin saja di kantor Arka sudah benar-benar dilewati kakak iparnya dan mungkin sudah pulang ke rumah. Jadi, Raisa ke sana hanya sekedar untuk melihat-lihat situasi.


Suara ribut benar-benar ramai terdengar. Hingga terdengar oleh Raisa...


Perasaan kalut yang sempat mereda karena pikiran sederhananya kini kembali menerjang dirinya. Ternyata kenyataan tak sesederhana yang dipikirkannya.


Raisa pun dengan cepat terbang menuju kantor Sang Kakak Ipar~


Dilihatnya sekumpulan karyawan terjebak di satu tempat tak bisa pergi atau pun bergerak dengan leluasa...


Tanah retak, bebatuan besar berserakan muncul dari tanah di mana-mana...


Setiap ada yang ingin pergi, tanah langsung berguncang hebat menyebabkan semua orang terus diam di tempat.


Dan, di tengah kumpulan karyawan itu terdapat kakak iparnya yang diam tak berdaya...


Saat itu juga, Raisa datang mendarat~


"Bagaimana semua ini bisa terjadi? Adakah yang bisa menjelaskannya padaku?" Tanya Raisa saat tiba di lokasi tanpa berbasa-basi lagi.


"Siapa kamu!?"


"Apa dia penolong kami?"


Semua orang yang terjebak terperangah melihat kedatangan sesuatu yang mendarat dari langit. Bukan lagi sesuatu, melainkan seseorang yang bersayap dan bertopeng. Semua orang itu mengharapkan pertolongan walau tetap waspada...


"Kami semua tak tau apa-apa. Kantor dibubarkan karena cuaca buruk, saat kami semua ke luar, tanah berguncang hebat dan tiba-tiba terjadi seperti ini...."Seseorang mencoba menjelaskan dengan ucapan yang sedikit terbata kareba kecemasannya.


"Aku akan menolong kalian. Kalian, perhatikanlah keseimbangan masing-masing..." Ujar Raisa


Raisa pun memulai aksinya...


Pertama, ia meratakan kembali tanah. Membenamkan kembali bebatuan besar yang berserakan ke dalam tanah...


Semua yang melihat merasa takjub dengan keajaiban tersebut~


Raisa pun melangkah mendejati kumpulan karyawan itu. Saat Raisa masuk ke dalam lingkaran mereka, tiba-tiba keanehan kembali terjadi.


Tanah kini sangat tak stabil. Bahkan bergerak naik dan turun dengan sendirinya. Melonjak ke atas dan melandai ke bawah dengan drastis seperti ombak lautan~


"AKKHHH~~" Semua memekik ketakutan


"Semuanya tenang!" Tegas Raisa


Raisa mendekati seorang di sana, berbisik dengan suara sepelan mungkin...


"Kak, ini aku..." Bisik Raisa di telinga seorang pria dewasa.


Mata pria itu membelalak seketika! Ia mengenal suara yang familiar ini... Suara yang tak jauh beda dengan seseorang yang sudah menjadi jantungnya.


Teringat dulu, saat sedang menelpon sang istri di tengah macetnya jalanan. Ia ingin mengabari pujaannya agar tak khawatir terhadapnya yang tak kunjung pulang ke rumah. Namun yang mengangkat adalah sang adik ipar dengan suara yang mirip...


Dan kini, ia teringat akan cerita sang istri bahwa adiknya memiliki kelebihan yang spesial~


"Itu, kamu! Ra-"


"Apa semua baik-baik saja??" Teriak Raisa dari balik topeng yang sengaja memotong ucapan sang kakak ipar.


Raisa melirik dan memberi kode...

__ADS_1


...'Oh iya, ini rahasia! Aku lupa, hampir aja aku keceplosan membeberkan identitas Raisa.' Batinnya, Arka yang hampir mengungkap identitas lain adik iparnya....


"Ya, kami tidak apa..."


"Adakah dari kalian yang melihat sosok berjubah hitam mencurigakan?" Tanya Raisa


Semua menggelengkan kepala


"Tidak, kami tidak lihat."


...'Tidak ada mereka yang melihat sosok mencurigakan. Setidaknya diantara mereka pasti ada yang tidak mengaku. Kejadian ini hampir sama seperti Lina!' Batin Raisa menduga....


Raisa menduga, salah seorang telah dirasuki sihir pikirannya oleh pelaku sihir jahat dari jarak jauh. Salah satu orang telah jadi boneka bunglon yang dikendalikan namun masih mampu berpura-pura jadi korban dan berbaur dengan yang lain...


"Kalian semua tenang dan lakukan seperti yang saya ucapkan. Jangan ada dari kalian yang pikirannya kosong!" Ucap Raisa


Raisa pun mendeteksi adanya sihir dengan kemampuannya~


Dan dengan langkah cepat teleportasinya, Raisa langsung berdiri tepat di hadapan seseorang yang dirasuki sihir pengendali pikiran itu.


"Ada apa denganmu? Kubilang, jangan sampai pikiranmu kosong..." Raisa terus menyelidikinya.


"PERGI!!!" Teriaknya mendorong Raisa dengan tenaga sihir yang merasukinya.


Sett~


Raisa terseret ke belakang namun ia langsung menghentikan dirinya sendiri...


Raisa ingin menyelesaikan ini dengan cepat. Ia pun langsung menjerat korban yang dirasuki dengan sihir tanah yang menahan tangan dan kakinya di bawah. Posisinya berjongkok dengan tangan dan kaki yang terjerat ke dalam tanah...


"Semuanya menjauh darinya!!" Titah Raisa


Raisa kembali mendekat...


"Ada apa dengannya?"


"Kenapa dia membuatnya seperti itu?"


-Bisik-bisik mereka yang menyaksikan Raisa seperti menghakimi seseorang di antata mereka.


"Tatap mataku, fokuslah... Kendalikan dirimu dan pikiranmu! Lalu, jawab pertanyaanku dengan jujur... Siapa kau? Apa yang sebelumnya kau lihat? Dan mengapa kau berbuat seperti ini?" Tanya Raisa dengan tatapan tajam menelisik korban yang dikendalikan pikirannya itu.


"AAHHHH~ AKU TAK KUAT LAGI! TOLONG..."


"Kenapa dia seperti itu?"


Yang menjadi korban itu perlahan tersadar karena tatapan Raisa yang meredakan pengaruh sihir pengendali pikoran padanya. Namun, yang mengendalikannya dari jauh tetap ingin mempertahankan kendalinya hingga korban mencoba memberontak dan berteriak mengamuk...


"Dialah korbannya... Ada pelaku sihir yang mengendalikan pikirannya. Makanya, kubilang kalian jangan sampai kosong pikirannya. Saya akan menyadarkannya sekarang." Ungkap Raisa


Raisa memfokuskan pikirannya~


Ia meletakkan satu telapak tangannya di dahi si korban pengaruh sihir... Lalu, menyalurkan sihir murni dari inti kekuatan sihirnya kepada orang tersebut.


Dari telapak tangannya terpancar sinar putih~


Siiiiinggg!~


Korban pengaruh sihir pikiran itu terkulai lemas~


Raisa melepas sihir tanah yang menjerat kedua tangan dan kakinya...


Bersamaan dengan lepasnya sihir pengendali pikiran pada korban, keadaan sekitar kembali tenang. Padahal sebelumnya tanah bergetar hehat akibat si pelaku sihir ingin mempertahankan kendali pada bonekanya, yaitu si korban.


Raisa menangkap tubuh orang yang menjadi korban itu dan memeganginya dengan erat.


"Sadarlah... Anda baik-baik saja sekarang. Tidak apa, Anda bisa tenang. Dan jangan sampai pikiran Anda kosong lagi." Ujar Raisa


"Terima kasih banyak..." Ucapnya


"Kalian bisa tenang dan pulang sekarang. Pengaruh sihir telah hilang dari sini. Jika merasa butuh bantuan, panggillah pihak yang berkewajiban untuk menangani. Saya tidak bisa berlama lagi. Saat saya berusaha menghapus pengaruh sihir tadi, saya dapat merasakan keberadaan pelakunya. Saya akan mengejarnya sekarang..." Ucap Raisa


"Anda siapa? Bagaimana cara kami berterima kasih?" Tanya mereka


"Ucapan terima kasih kalian sudah cukup, tak perlu tindakan lain. Saya... Kalian hanya perlu mengingat, saya adalah Putri Burung Teratai Putih. Apa sebutan itu terlalu panjang?" Raisa dengan senyuman mengembang di bibirnya... Ia baru saja memikirkan apa nama yang pantas untuknya. Saat itu sebuah pikiran terlintas...


Putri Burung Teratai Putih...?


Itu menandai dirinya yang dilengkapi sihir sepasang sayap burung dan topeng dengan gambar teratai putih kecil yang menyimbolkan kekuatan sihirnya...


.


.


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2