
6 bulan kemudian.
Seorang wanita sedang berada di halaman rumah, terduduk di atas sebuah kursi sambil membaca majalah seputar bayi mungil. Ia adalah Raisa. Wanita yang sedang hamil besar itu tersenyum saat melihat foto bayi yang lucu di halaman majalah yang sedang dibaca olehnya.
Setelah selesai membaca halaman terakhir, Raisa pun menutup dan meletakkan majalah itu di atas meja di samping kursi yang ditempati olehnya.
Kini Raisa sedang berada di rumah kedua orangtuanya. Dengan alasan tidak mau sendiri di rumah saat sang suami sedang bekerja di kampung halaman yang berada di dimensi dunia yang berbeda itu, Raisa mengikuti saran kedua orangtuanya untuk tinggal bersama selama sang suami pergi supaya ada yang menemani dan menjaganya yang sedang hamil 9 bulan saat ini. Disetujui oleh sang suami, Raisa pun ikut untuk tinggal bersama di rumah kedua orangtuanya.
Raisa POV: ON.
Sepertinya sudah cukup berjemurnya pagi ini. Kita masuk ke dalam rumah, yuk, Sayang-Sayangku. Batinku, sambil mengusap perutku yang sudah sangat besar ini.
Aku pun bangkit dari kursi dan berjalan perlahan untuk masuk ke dalam rumah sambil memeluk perut besarku sendiri. Begitu masuk ke dalam, aku langsung duduk lagi di sofa. Aku teringat dengan Rumi dan merindukan suami tampanku itu. Biasanya Rumi selalu menemaniku berjemur di pagi hari, membantuku berjalan masuk ke dalam rumah, lalu sambil aku duduk di atas sofa, suamiku itu berlutut di atas lantai untuk memijati kedua kakiku yang membengkak seiring kehamilanku yang membesar. Tak lupa, Rumi juga memberiku segelas air putih untuk menghilangkan dahaga.
Mengingat itu semua membuatku semakin merindukannya. Uh, aku jadi merasa haus. Biasanya Rumi sudah lebih dulu menyiapkan segelas air.
Lalu, kulihat adikku ke luar dari kamarnya dan menghampiriku.
"Udah selesai berjemurnya, Kak? Apa butuh sesuatu?" tanya Raihan
"Tolong ambil air minum untuk Kakak dong," jawabku selagi adik lelakiku menawarkan.
"Oke, tunggu sebentar," kata Raihan
Lalu, Raihan pun beralih menuju ke dapur untuk mengambilkan segelas air minum untukku. Begitu kembali lelaki SMA itu langsung menyodorkan segelas air putih itu padaku.
"Terima kasih," ucapku sambil tersenyum.
"Hmm ... sama-sama," balasnya
Aku pun menenggak air di dalam gelas pemberian dari adik lelakiku hingga hampir setengahnya. Seiring kehamilanku yang membesar, aku jadi lebih mudah merasa lelah dan haus, makanya juga lebih sering minum air dan bolak-balik ke kamar mandi.
Adikku itu pun yang biasanya acuh tak acuh karena asik dengan dunianya sendiri, sejak aku menginap jadi lebih sering perhatian. Sama seperti saat kehamilan pertama kak Raina yang saat itu masih tinggal bersama kami di rumah ini.
Lalu, tiba-tiba saja aku teringat sesuatu yang membuatku secara perlahan bangkit dari duduk meski sulit.
"Kak Raisa, mau ke mana? Apa baru minum udah mau ke kanar mandi lagi?" tanya adikku yang bahkan sudah sangat hafal kebiasaanku. Sayangnya, tebakan lelaki itu salah.
"Bukan. Kakak lupa belum minum susu ibu hamil, jadi mau bikin dan minum susu di dapur," jawabku yang kini sudah berhasil berdiri.
"Kalau itu, aku gak bisa bantu, tapi apa mau aku antar dan temani?" tanya Raihan
"Gak usah. Kakak bisa sendiri," jawabku
"Ya udah, kalau begitu ... " katanya
Sudah kuduga, bentuk perhatian dari adikku itu hanya sebatas sikap formalitasnya karena aku yang sedang hamil ini. Namun, tetap saja itu adalah sebuah perhatian yang baik dan aku pun merasa berterima kasih pada adikku itu.
Aku pun berjalan perlahan menuju ke dapur. Lalu, aku menyiapkan segala sesuatu untuk membuat susu. Mulai dari mengambil gelas, sendok, dan susu formula ibu hamil, menuang susu bubuk formula ke dalam gelas sesuai takaran, menambahkan air sesuai takaran, dan mengaduknya hingga merata.
Saat ini aku merasa kedua bayi di dalam kandunganku menendang dengan kuat hingga perutku terasa sakit. Mungkin kedua bayiku sedang merasa tidak sabar untuk merasakan nutrisi dari susu yang hendak kuminum.
Memang sudah lumayan lama aku juga merasakan kontraksi palsu dan itu terjadi dan terasa semakin sering seiring kehamilanku yang sudah menginjak usia melahirkan ini hingga terkadang aku membuat suami atau aggota keluargaku merasa panik dengan suara teriakanku meski aku sudah mencoba menahan rasa sakitnya dan berusaha untuk tenang.
Aku pun mulai meminum susu hamil yang sudah kubuat. Namun, baru beberapa teguk, hal yang baru saja kubahas tadi terjadi padaku. Untuk ke sekian kalinya aku merasakan kontraksi itu. Aku pun kembali meletakkan gelas di atas meja dan mencoba mengatur nafasku untuk menahan rasa sakit dari kontraksi palsu ini.
"Sayang-Sayangnya Mama, tolong tenang, ya. Mama udah merasa kesakitan, nih ... " gumamku yang mencoba mengajak kedua bayi di dalam kandunganku untuk bicara.
Meski masih terasa sakit, aku yang merasa harus menghabiskan susu yang sudah kubuat pun kembali mengangkat gelas susu untuk kuminum susunya. Namun, baru kutempelkan lingkaran gelas pada bibirku, gelas itu terjatuh dan pecah karena terlepas dari genggaman tanganku yang tidak tahan dengan rasa sakit yang kurasakan.
PRAAANGG~
ARGGH!
Aku langsung memegangi perutku yang terasa sakit dan sesekali mengusapnya agar rasa sakitnya mereda.
Saat itu, adikku berlarian datang dan muncul di dapur dengan wajah paniknya.
"Ada apa, Kak? Ya ampun, gelasnya jatuh?" tanya Raihan
"Raihan, tolong ...perut Kakak sakit," pintaku
Adikku itu pun berjalan mendekat dengan hati-hati agar tidak menginjak pecahan gelas di lantai.
__ADS_1
"Kali ini Kakak gak lagi pura-pura, kan?" tanya adik lelakiku itu.
"Ya anpun, Dek ... kalau Kakak cuma becanda juga gak perlu sampai pecahin gelas dan buang-buang susu kali. Sini, cepat tolong Kakak," ujarku
Raihan pun mendekat dan langsung memapah tubuhku yang beratnya telah berlipat ganda ini.
Saat itu, Ibuku juga ikut muncul dari halaman belakang. Tebakanku Ibu mungkin habis menyirami tanaman dan mendengar suara teriakanku dan sesuatu yang pecah hingga terburu-buru masuk ke dalam lewat pintu belakang.
"Ada apa ini?" tanya Ibuku
"Ini, Bu. Kak Raisa bilang, perutnya sakit," jawab Raihan
"Ibu tiba-tiba masuk seperti ini, kran airnya udah ditutup belum habis siram tanaman?" tanyaku berbasa-basi dan berusaha untuk tetap tenang.
"Kamu lagi merasa sakit seperti ini masih sempat-sempatnya mikirin kran air," kata Ibuku
"Biasa, Bu. Mungkin cuma kontraksi palsu," sahutku
"Kali ini sepertinya asli. Baju kamu basah. Kamu udah pecah ketuban, Nak," ucap Ibuku yang langsung bertambah panik.
Namun, aku berusaha untuk tetap tenang dan mengatur nafas.
"Ray, maaf kalau baju atau celana kaku ikutan basah, ya," kataku
"Gak usah mikirin yang lain-lain dulu, deh. Kita duduk dulu," sahutnya
"Hati-hati menginjak pecahan gelasnya." Ibuku pun menepikan pecahan gelas agar tidak terinjak.
Dengan susah payah, akhirnya aku dan Raihan bisa sampai dan duduk di sofa.
"Alu jadi buat kacau di rumah. Gelas pecah, sekarang sofa juga ikut basah," ocehku
"Udah pecah ketuban masih juga bisa santai," kata adikku
Aku hanya tersenyum tipis. Meski tampak santai, itu pun hanya usaha kerasku untuk tetap tenang padahal aku merasa sangat kesakitan sekarang. Bahkan aku tidak tahu bagaimana rupa wajahku sekarang, mungkin sudah banyak dibasahi keringat dingin.
Raihan mengambil gelas yang airnya masih tersisa bekas kuminum setelah berjemur tadi padaku.
"Iini ... minum lagi dulu airnya biar bisa tambah tenang. Meski kelihatan santai dan tenang, Kakak pasti lagi merasa kesakitan. Bisa kutinggal gak? Aku mau ganti celana dulu, nih ... kena basah ketuban Kakak," ujar Raihan dan aku hanya mengangguk kecil karena tidak kuat bicara lagi karena merasa sakit yang teramat.
Kulihat, Ibuku sedang sibuk dengan ponselnya yang mungkin sedang berusaha menelepon bapakku yang sudah ke luar rumah setelah sarapan tadi pagi meski sedang libur bekerja. Namun, suara ponsel bapak terdengar di dalam rumah yang tandanya bapak tidak membawa ponsel saat ke luar rumah. Ibuku mulai mengoceh karena panik, tapi aku sudah tidak sanggup mendengar ocehannya karena ibu terus bergerak mempersiapkan barang pra-persalinan milikku. Ya, mungkin aku akan segera bersalin.
Saat itu barulah Bapakku muncul di ambang pintu sambil melihatku yang terduduk di atas sofa.
"Raisa, kamu kenapa? Kok wajah kamu pucat?" tanya bapakku
"Anaknya udah pecah ketuban, tuh ... makanya, kalau ke luar rumah itu bawa HP. Ini mau minta bantuan aja susah, ke luar rumah juga gak bilang mau ke mana. Ayo, cepat kita pergi ke rumah sakit sekarang!" Ibuku mengomel, tapi aku tidak sanggup lagi tertawa untuk meledek bapak.
"Dari kapan pecah ketubannya? Raihan mana?" tanya bapakku
"Gak usah tanya-tanya anaknya yang udah kesakitan begitu," kata ibuku
"Belum lama tadi pecah ketuban pas lagi minum susu ibu hamil di dapur. Aku ganti celana karena ikut kena basah ketuban Kakak pas aku bantu jalan dari dapur ke sini," sahut Raihan menjawab pertanyaan dari bapak.
Aku terus sibuk mengatur nafas sambil mengusap perut besarku. Bapak langsung mengambil kunci mobil dan kembali ke luar untuk memanaskan mobil.
Ibu menghampiriku dan membelai rambutku dengan lembut.
"Sabar, ya, Sayang ... sebentar lagi kita pergi ke rumah sakit," ujar ibuku dan aku hanya bisa mengangguk dengan lemah.
"Ayo, mobilnya udah siap!" seru Bapakku yang lalu masuk ke dalam rumah untuk membantuku berdiri dan berjalan.
"Ayo, aku bantu ... " kata Raihan yang ikut membantu Bapak untuk memapahku.
Ibu lebih dulu masuk ke dalam mobil dan menungguku di dalam mobil untuk membantuku masuk dan duduk di dalam mobil di bagian tengah. Bapak masuk dan duduk di kursi kemudi, sedangkan Raihan duduk di samping Bapak di kursi depan.
Mobil pun mulai melaju untuk menuju ke rumah sakit. Begitu sampai di rumah sakit, Raihan langsung turun dari mobil dan berteriak meminta bantuan.
"Suster, tolong Kakak saya! Cepat!"
Aku dibantu untuk turun dari dalam mobil oleh Ibu dan Bapakku dan langsung disambut oleh perawat yang membawakan kursi roda.
"Anak saya sudah pecah ketuban, Suster," kata Ibuku
__ADS_1
"Suami anak Ibu mana?"
"Suaminya lagi kerja di luar negeri, Sus," jawab Bapakku yang tentu dengan sedikit bumbu dusta.
Setelah susah payah mendudukkanku di atas kursi roda, Suster langsung mendorong kursi roda menuju ke ruang IGD. Sesampainya di ruang IGD, aku langsung dibantu untuk berbaring di pembaringan yang kosong.
"Berapa usia kandungannya, Bu?"
"Sudah 9 bulan, anak kembar, Sus," jawabku sambil terengah-engah.
"Kalau janin kembar, kenapa tidak janjian untuk melakukan persalinan secara ceasar dengan dokter, Bu?"
"Anak saya ingin melahirkan secara normal, Sus," jawab Ibuku
"Saya akan siapkan ruang bersalinnya dulu. Apa sudah punya dokter penanggung-jawab?"
"Saya selalu ditangani oleh Dokter Litta," jawabku
"Baik, saya akan langsung hubungi Dokter Litta."
Perawat langsung beralih dengan berlarian.
•••
Di sisi dimensi dunia lain.
Rumi POV: ON.
Aku baru saja menyelesaikan misi dengan Morgan dan Aqila. Istri Morgan itu kini sedang hamil besar 8 bulan dan masih saja ikut menjalankan misi. Melihat Aqila dengan perut besarnya membuatku teringat dengan Raisa yang juga sedang hamil 9 bulan. Tidak ada sedetik pun tanpa memikirkan istri cantikku itu.
Tiba-tiba saja, Naga Suci yang ada di dalam diriku bereaksi untuk mengajakku berkomunikasi. Tidak biasanya seperti ini.
"Rumi, aku mendapat pesan komunikasi dari Phoenix yang ada di dalam diri Raisa. Istrimu itu kini sedang berjuang antara hidup dan matinya ... anak-anakmu sudah hampir lahir," ungkap Niran, Sang Naga Suci yang ada di dalam diriku.
"Ayo, kita kembali untuk melaporkan misi yang telah usai ini," kata Morgan
"Tidak bisa. Aqila, apa kau bisa langsung membukakan portal sihir tekeportasi ke dunia Raisa? Naga Suci mendapat laporan dari Phoenix kalau sekarang Raisa sedang melahirkan anak kami. Aku harus segera menyusul ke tempatnya," ucapku
"Tapi, aku hanya bisa membuka portal sihir teleportasi ke halaman belakang rumah orangtua Raisa," ujar Aqila
"Tidak apa-apa. Aku akan langsung mencoba menghubungi keluarga sesampainya di sana," kataku
Mengerti dengan kondisiku, Aqila langsung membuka portal sihir teleportasi ke rumah orangtua istriku.
"Pergilah, Rumi. Kami akan beri tahu bahwa kau izin setelah menyelesaikan misi. Tetaplah tenang dan kami akan menjenguk istrimu nanti," ujar Morgan
Aku hanya mengangguk dan langsung memasuki portal sihir teleportasi yang dibuka oleh Aqila. Begitu aku tiba di halaman belakang rumah mertuaku, portal sihir teleportasi langsung tertutup kembali.
Aku pun langsung mengaktifkan ponsel yang selalu kubawa dan mencoba menelepon ibu dan bapak, awalnya tidak ada yang mengangkat teleponku. Namun, saat aku menelepon kakak ipar, teleponku langsung dijawab.
"Halo, Rumi? Kamu udah pulang? Katanya, Raisa lagi melahirkan di rumah sakit."
"Halo, iya, kak. Aku sudah dapat kabar dari komunikasi sihir. Apa kakak tahu di mana rumah sakitnya? Aku ingin langsung menyusul ke sana."
"Rumah sakit yang sama waktu Raisa periksa pertama kali itu. Kalau kamu mau ke sana, tunggu aja. Arka juga lagi pergi ke sana, nanti kakak suruh dia jemput kamu dulu."
"Ya, kak. Aku ada di rumah ibu bapak. Jemput aku di sini saja."
"Oke, tunggu aja. Tapi, kakak gak ikut ke rumah sakit."
"Tidak apa-apa, kak. Aku mengerti. Maaf sudah merepotkan dan terima kasih."
"Ya, sama-sama."
Tut!
Sambungan telepon terputus.
Ya, aku mengerti alasan kakak ipar tidak ikut ke rumah sakit. Dia harus merawat dan menemani anaknya yang masih bayi yang baru berusia 2 bulan di rumah. Saat hamil memang usia kandungan Raisa dan kakak ipar hanya berjarak sekitar dua bulan. Kakak ipar lebih dulu hamil dan melahirkan.
Tak harus menunggu lama, mobil suami kakak ipar datang menjemputku dan aku langsung masuk ke dalam mobil. Kami pun langsung menuju ke rumah sakit bersama.
.
__ADS_1
•