Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 53 - Menjaga Rahasia.


__ADS_3

Lina jatuh bersimpuh di tanah. Ia menangis sejadi-jadinya. Sepertinya ia telah merenungi semuanya dan menyadari apa yang salah pada dirinya.


Melihat Lina yang terjatuh, Luna langsung menghampirinya.


"Lina, kamu kenapa?" tanya Luna yang merasa khawatir dan panik.


"Kak Raisa, ada apa ini? Apa yang terjadi sama Lina? Tolong lepaskan Lina." Luna bicara dengan nada memohon.


Lina yang jatuh terduduk masih saja tidak melepaskan tangan Raisa. Raisa pun berjongkok di hadapan Lina dan mendekatinya.


"Kamu tenang dulu. Lina baik-baik aja dan aku gak apa-apakan dia kok. Tapi, apa kamu kenal aku?" tanya Raisa


"Kak Raisa, kan, udah jadi terkenal," jawab Luna


"Maksud aku selain karena aku seorang artis," kata Raisa


"Kita pernah bertemu," ungkap Luna


"Oh, kamu yang tenggelam di pantai waktu itu. Pantas aja waktu itu aku merasa pernah ketemu kamu atau merasa kamu mirip seseorang. Ternyata, kamu saudari kembar Lina. Nama kamu, Luna, kan?" tanya Raisa begitu telah mengingat pertemuannya dengan Luna


"Iya, Kak Raisa yang menyelamatkan aku waktu aku tenggelam di pantai. Kak Raisa, sekarang bagaimana sama Lina?" tanya balik Luna usai menjawab.


"Lina baik-baik aja. Ini hanya proses dia mengintropeksi diri. Dia butuh meluapkan dan melampiaskan emosinya dari sakit hati yang dia rasakan selama ini. Dia akan segera tenang," jawab Raisa


Luna melihat satu tangan Lina menggenggam tangan Raisa, Luna pun ikut menggenggam tangan Lina yang lainnya. Melihat itu, Raisa tersenyum.


Dengan satu tangannya, Raisa merangkul dan memeluk tubuh Lina. Raisa menempelkan keningnya pada kening Lina.


"Lina, lihatlah jauh ke dalam memorimu dan rasakan dengan hatimu. Ada banyak kenangan indah yang kamu abaikan hanya karena rasa emosi akibat kecemburuanmu. Sejak saat itu kamu mulai berbuat sesukamu, tapi kamu tidak juga merasa bahagia. Maka dari itu, mulai sekarang singkirkan dan lupakanlah rasa sakit hati karena kecemburuanmu, maka hanya akan ada kebahagian yang mengelilingimu." Raisa bicara sambil memberikan semacam sugesti pada Lina.


Lewat kedua tangan Lina dan Luna yang saling menggenggam, Raisa pun mentransfer momen kebahagiaan yang ada dalam menori Luna kepada Lina. Raisa membuat Lina melihat semua kebahagiaan itu, bahkan juga melihat rasa kasih sayang orangtuanya padanya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Lina melihat itu semua dan mulai sadar akan kenyataan yang selalu ia abaikan.


"Bahkan aku pun bisa melihat dan merasakannya, aku tahu kamu pasti bisa melihat dan merasakannya dengan lebih jelas. Semua orang pun peduli padamu, Lina. Kamu bukanlah orang buangan yang diabaikan atau tersingkirkan. Sadarilah semua itu sekarang," ucap Raisa


Raisa yang berjongkok mulai melangkah mundur dan ia berhasil melepaskan genggaman tangannya dari tangan Lina. Raisa mulai menjauh dan bangkit berdiri untuk memberi ruang bagi kedua saudari kembar itu. Luna pun beralih memeluk Lina.


"Aku ada di sini, Lina," kata Luna


"Apa benar Mama Papa juga sayang sama aku seperti mereka berdua sayang sama kamu?" tanya Lina yang mulai tersadar.


Luna pun melonggarkan pelukannya untuk menatap Lina.


"Tentu, mereka juga sayang sama kamu. Karena kita berdua adalah anak kesayangan mereka," jawab Luna


Lina pun membalas pelukan Luna. Lina menghapus air matanya, lalu melepaskan pelukannya dengan Luna.


"Aku udah sangat sadar sekarang. Karena itu ... Kak Raisa, tolong maafkan aku yang udah berbuat salah," ucap Lina


"Kamu benar, Luna. Aku udah buat masalah di sini. Aku punya banyak salah sama Kak Raisa. Aku menyesali semuanya sekarang," sambung Lina


"Kalau begitu, aku juga minta naaf mewakili Lina. Tolong maafkan Lina, Kak Raisa," ujar Lina


Raisa hanya mengangguk kecil sambil tersenyum lembut.


Lina beranjak bangkit berdiri dan Luna pun membantunya.


"Aku minta maaf sama semuanya. Aku salah dan udah bersikap menyebalkan, terutama sama Kak Raisa dan Rumi. Aku gak akan ganggu kalian berdua atau semuanya juga. Aku juga akan menjaga rahasia kalian semua," ucap Lina


Kini Lina dan Luna saling bergandengan tangan.


"Lina, sebenarnya ini tempat apa, sih?" tanya Luna


"Tempat ini Kak Raisa yang ciptakan," jawab Lina


"Oh. Aku juga akan jaga rahasia. Kita berdua janji gak akan pernah bocorkan ini," ucap Luna sambil mengangguk kecil dengan mantap.


"Ya. Aku percaya sama kalian berdua," kata Raisa


"Kalau begitu, kami berdua pamit pergi. Aku akan bawa Lina pulang ke rumah," ujar Luna


"Tunggu dulu. Ini HP kamu, Lina. Aku kembalikan." Raisa pun memberikan sebuah ponsel pada Lina.

__ADS_1


Ponsel Lina sebelumnya hanya Raisa simpan ke dalam dimensi penyimpanan sihirnya.


"Kami berdua pamit. Maaf, udah sangat merepotkan kalian semua," kata Lina


Raisa pun menggunakan kemampuan sihirnya untuk mengembalikan mereka semua ke tempat semula. Suasana telah kembali pulih seperti sedia kala. Mereka semua kembali berada di halaman belakang vila.


"Kalau begitu, maaf ... aku gak bisa antar kalian berdua pergi karena masih ada urusan lain. Hati-hati," ujar Raisa berpesan.


Lina dan Luna mengangguk, lalu mereka berdua pun beranjak pergi dari sana.


"Jadi, bagaimana? Masih ingin pergi sekarang?" tanya Raisa pada semua temannya yang sedari tadi hanya diam menyaksikan.


"Sebaiknya, kita tunda dulu perginya," jawab Amy


"Kau berhutang penjelasan pada kami semua Raisa," kata Sandra


"Ya. Kau harus menjelaskan semuanya," sahut Wanda


"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita madsuk dulu ke dalam vila," ujar Raisa sambil tersenyum dan tetap tenang.


Akhirnya, teman-teman Raisa menunda kepergian mereka untuk kembali ke dunia asal di dimensi lain. Mereka semua pun kembali masuk ke dalam vila lewat pintu belakang.


Begitu masuk ke dalam vila, semua pun berkumpul di ruang tengah dan duduk bersama.


Begitu pun juga dengan Raisa, ia langsung menghempaskan tubuhnya untuk duduk di atas sofa. Seperti biasa, Rumi pun duduk di samping Raisa.


"Sudah kuduga, kau menyembunyikan sesuatu dari kami. Ternyata, kau sudah menyadari keberadaan Lina sejak awal, ya, Raisa?" tanya Devan


"Ya, memang. Saat aku menoleh ke jendela samping tadi, sebenarnya aku sudah sadar keberadaan Lina yang sedang mengintip kita," jawab Raisa


"Sebenarnya sudah cukup lama aku menyadari ada orang yang memata-matai vila ini sejak kita kembali dari tempat pelatihan berkuda tiga hari yang lalu. Namun, saat itu aku aku tidak tahu jika itu adalah Lina," sambung Raisa


"Berarti sudah tiga hari dia memata-matai kita di sini. Benar-benar seperti penguntit. Bisa-bisanya di antara kita semua hanya kau yang menyadarinya," kata Chilla


"Jadi, bagaimana caramu menyadari ada penguntit yang memata-matai kita itu?" tanya Ian


"Aku hanya menyadarinya begitu saja. Awalnya, aku selalu mengabaikannya dan tidak memedulikannya, tapi akhirnya Lina mengungkap dirinya sendiri," jawab Raisa


"Ya. Bukankah ini akan jadi bahaya, Kak Raisa?" tanya Monica


"Benar, Raisa. Bagaimana kalau Lina menggunakan rahasiamu sebagai senjata untuk melawanmu dan mengungkap rahasiamu pada publik? Ini bukan tentang atau jadi masalah bagi kami, tapi akan jadi masalah besar bagimu. Karena kau adalah figur publik. Apa lagi saudari kembarnya juga tahu," ujar Morgan


"Aku yakin mereka berdua akan menyimpan fakta ini sebagai rahasia seperti janjinya. Mereka berdua tidak akan mengungkap rahasiaku," ucap Raisa


"Kau sangat percaya pada mereka berdua padahal Lina sudah berbuat sampai seperti itu tadi? Bukankan kau terlalu naif?" tanya Amon


"Kalau begitu, biarkan aku dianggap sebagai orang yang naif. Tapi, selama ini aku selalu bertindak sesuai dengan keyakinan dan firasatku sendiri. Aku yakin Lina sudah benar-benar menyadari kesalahannya dan berubah menjadi baik. Dia tidak akan mengungkap rahasiaku. Begitu juga dengan Luna, kulihat dia orang yang baik," ujar Raisa


"Kenapa kau bisa sangat yakin? Apa yang telah mendasari keyakinanmu itu?" tanya Dennis


"Sebenarnya aku tidak yakin, ini ada kaitannya atau tidak. Banyak dari kalian tahu, kan, di keluargaku hanya aku yang punya bakat sihir ke luar yang artinya aku bisa menggunakan dan mengeksplor kemampuan sihir, tapi banyak juga dalam anggota keluargaku yang punya bakat sihir terpendam yang artinya mereka tidak bisa menggunakan kemampuan sihir atau sekadar menyadari orang yang bisa menggunakan sihir atau meramal rangkaian kejadian kecil secara langaung atau saat dalam mimpi," ungkap Raisa


"Nah, duo kembar tadi juga begitu. Saat pertama kali bertemu Lina, dia itu sedang terkena pengaruh sihir ilusi dari orang jahat dari dunia kalian yang tersasar di ruang dimensi hampa sampai ke dimensi ini. Tapi, dia tidak terpengaruh sepenuhnya. Meski saat itu aku membantunya terbebas dari pengaruh sihir ilusi itu, sebenarnya dia telah membebaskan diri dari sebagian besar sihir ilusi yang memengaruhinya dan aku hanya membantunya sedikit saja untuk mempercepat lepasnya pengaruh sihir ilusi itu pada dirinya. Entah mengapa firasatku mengatakan meski berbeda, kami yang sama-sama memiliki bakat sihir tidak akan mengungkap rahasia tentang sesama pemilik bakat sihir dengan dia sadar atau tidak bahwa dia punya bakat sihir terpendam," sambung Raisa


"Katamu, Luna juga punya bakat sihir terpendam? Dia ... yang terlihat lemah seperti itu?" tanya Marcel


"Benar. Jangan lihat dari sosoknya yang terlihat lemah, sama seperti Lina, dia juga punya bakat sihir terpendam. Apa kalian tidak menyadari bahwa Luna tadi bisa masuk ke dalam ruang dimensi ciptaanku? Padahal dia tidak punya kemampuan sihir, itu artinya karena dia punya bakat sihir terpendam," jelas Raisa


"Aku tidak tahu bagaimana caranya masuk, tapi mungkin pandangan matanya agak berbeda dari orang lain hingga dia bisa menemukan celah dan masuk ke dalam ruang dimensi ciptaanku. Ini seperti kemampuan mata suci dari keturunan Bibi Hani, Ibu Morgan, yang juga dituruni pada Monica. Hanya saja ia melakukannya secara tidak sengaja dan kemampuannya tidak sempurna karena hanya bakat sihir terpendam," sambung Raisa


"Dimensi ciptaan yang kau maksud itu apa?" tanya Sanari


"Itu berbeda dari kita menggunakan portal sihir teleportasi untuk berpindah tempat. Aku yang menciptakan ruang itu tadi. Bisa dibilang itu bagian dari sihir ilusi karena sebenarnya kita tidak berpindah tempat dan tetap berada di halaman belakang vila. Aku hanya perlu menemukan titik hampa dari suatu tempat dan menyebarkan pemandangan yang sangat asing seolah telah menciptakan ruang dimensi lain," ungkap Raisa


"Pantas saja tadi aku tidak merasa kalau kita sudah berpindah tempat, tapi hanya merasa pemandangan serba putih tadi itu yang asing bukan tempatnya, ternyata itu ulah manipulasi darimu. Tapi, aku bahkan tidak tahu kalau kau menggunakan sihir ilusi," ucap Aqila yang sebenarnya adalah salah satu keturunan pengguna sihir ilusi terhebat.


"Lalu, bagaimana caramu mengembalikan ponsel milik Lina? Aku kira kau telah membakar ponselnya dengan sihirmu?" tanya Ian


"Aku hanya menyimpan ponselnya ke dalam dimensi penyimpanan sihirku. Aku tidak benar-benar membakarnya, api itu hanya sihir ilusi. Aku tidak mungkinsungguhan membakar ponselnya karena bisa menimbulkan ledakan," jelas Raisa


"Tapi, Raisa ... apa benar tidak masalah? Hanya karena Lina dan Luna punya bakat sihir terpendam, kau akan membiarkan menyimpan rahasiamu?" tanya Billy

__ADS_1


"Setidaknya itu yang kuyakini. Ini seperti sebuah tali simpul yang awalnya gagal, tapi tetap berakhir terluhat cantik. Saat gagal membuat simpul cantik, tidak harus membuat simpul dengan tali yang lain. Hanya perlu mengubah menjadi bentuk pola yang baru dari simpul yang gagal dengan tali yang sama. Meski hubungan kami terlihat rumit seperti simpul pertama yang gagal, tapi kami tetap satu tali alias sama seperti kami yang sesama pemilik bakat sihir, dan bahkan Lina sudah berubah menjadi baik seperti dia telah membuat pola bentuk baru dari simpul yang gagal sebelumnya," ungkap Raisa sambil memberi perumpamaan.


"Kau dari tadi diam saja, Rumi. Kalau menurutmu bagaimana?" tanya Morgan


"Sebenarnya, aku tidak suka dengan Lina, tapi aku percaya pada setiap pilihan dan tindakan Raisa," jawab Rumi


"Lagi pula, aku tidak bisa menghapus memori mereka menggunakan sihir ilusi karena mungkin saja mereka akan terlepas dari pengaruh sihir ilusi dan langsung mengingatnya kembali. Jika seperti itu, saat mereka sadar aku sudah berusaha menghapus memori mereka dengan sihir ilusi, itu malah akan timbul kebencian pada diri mereka dan resikonya lebih bahaya lagi," ucap Raisa


"Firasatku mengatakan, Lina akan mengubur dalam-dalam ingatannya soal aku yang bisa menggunakan dan punya kemampuan sihir dan seolah melupakannya begitu saja. Dia akan memanipulasi ingatannya sendiri," sambung Raisa


"Itu hanya firasatmu atau kau yang memang memanipulasi ingatannya seperti itu?" tanya Amon


"Setelah membuatnya sadar dengan intropeksi diri dengan bantuan sihir, aku tidak melakukan apa-apa lagi padanya," jawab Raisa


"Semoga saja mereka berdua menepati janjinya yang akan menjaga rahasia Kak Raisa," ujar Monica


"Ya. Semoga saja," kata Rumi


Raisa pun tersenyum.


"Ternyata dari yang terlihat hari ini adalah Lina hanya kurang kasih sayang dan iri melihat perasaan kasih pada orang lain. Dia sampai ingin merebut kasih sayang Rumi dari Raisa. Merepotkan sekali," ucap Devan


"Benar. Lina merasa hatinya hampa dan mendambakan kasih sayang. Dia hanya tersesat sesaat dan aku yakin dia akan berubah menjadi baik setelah menyadari itu semua sekarang. Dia bahkan telah menemukan orang yang menyayanginya dengan tulus. Yaitu, Luna, saudari kembarnya," kata Raisa


Di tempat lain.


Akhirnya, Luna benar-benar membawa Lina pulang bersama ke rumah orangtua mereka.


"Luna, kamu udah pulang, sayang? Mama kira kamu masih ada di kantor."


"Lina yang datang ke kantor untuk ketemu Luna dan ajak dia jalan-jalan. Aku suruh Luna ambil cuti hari ini," ucap Lina berdusta karena ingin tahu respon kedua orangtuanya.


"Iya, terus aku ajak Lina pulang bareng," kata Luna


"Oh, Lina ... kamu pulang. Maaf, Mama terlambat sadar kamu datang." Karena Lina datang dari belakang Luna yang sosok keduanya hampir tidak terlihat perbedaannya.


"Mama gak marah sama aku yang udah ajak Luna absen dari kerjanya?" tanya Lina


"Enggak dong. Karena Luna emang butuh jalan-jalan sesekali dan yang terpenting Mama yakin kamu bisa jagain Luna dengan baik karena kamu kakak yang baik, Sayang."


Lina langsung merasa terharu. Baru kali ini ia kembali berinteraksi dengan Sang Mama setelah sekian lama. Ia bahkan mendengar kata-kata seoerti kata maaf, pujian, dan panggilan Sayang dari mulut Sang Mama. Ia tak pernah menyangka bahwa hal seperti hari ini akan terjadi dan ia alami langsung.


Lina yang terharu pun menitikkan air dari sudut matanya.


"Lho, kamu kenapa menangis, Nak?"


"Gak apa. Ma, Pa, aku rindu ... " kata Lina


Mama duo kembar pun langsung menarik Lina ke dalam pelukan.


"Mama juga rindu kamu, Sayang. Apa kabar kamu selama ini di luar sana?"


"Aku baik, Ma," jawab Lina yang membalas pelukan dari Sang Mama yang sangat ia rindu dan inginkan itu.


Namun, Sang Papa malah beranjak bangkit berdiri dari duduknya dan terlihat hendak pergi.


"Pa, Lina baru aja pulang. Papa mau pergi ke mana?" tanya Luna


"Ke luar. Ayo, kita makan bersama di luar. Sekalian merayakan Lina yang udah jadi model sukses."


"Papa, aku baru merintis jadi model baru, masih jauh dari kata sukses. Tapi, gak apa ... ayo, kita makan bersama di luar. Tapi, Mama Papa emangnya gak sibuk?" tanya Lina


"Papa santai kok. Kan, kita emang harus meluangkan waktu bersama sesekali."


"Benar. Tunggu, Mama ambil tas dulu, ya."


Benar-benar luar biasa. Lina merasa sangat bahagia tanpa bisa berkata-kata.


.


__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2