
Saat mereka sedang sarapan bersama, Yasha datang dan muncul begitu saja di sana. Yasha pun ikut duduk pada kursi yang kosong dan bergabung di sana.
"Halo, semuanya. Kalian sedang sarapan di sini, rupanya," sapa Yasha sambil tersenyum kecil.
"Kenapa? Kau juga mau sarapan? Pesan dan bayar sendiri makananmu sana," ujar Chilla
"Sebenarnya sarapan kalian kali ini pun sudah kulunasi sekalian dengan pembayaran waktu menginap kalian semalam," ungkap Yasha
"Oh, kau orang kaya, rupanya. Kalau begitu silakan saja pesan makan sesukamu, toh ... kau sendiri juga yang membayarnya," ucap Chilla
"Tidak bisa dibilang sebagai orang kaya juga," kata Yasha
"Yasha, kenapa kau baik sekali seperti ini? Niatmu bukan ingin melakukan penebusan, kan?" tanya Devan yang terdengar seolah penuh dengan sindiran.
"Apanya yang penebusan? Aku hanya melayani pasukan misi yang dipanggil ke sini kok," ujar Yasha
"Tapi, harusnya kau tidak perlu sampai banyak menraktir kami, kan? Toh, bukan kau juga yang memanggil kami ke sini. Bukankah kau hanya petugas yang ditugaskan untuk memberi petunjuk yang ada yang berkaitan dengan misi kami di sini?" tanya Raisa
"Ya, memang, tapi aku juga tidak ada maksud lain. Ini hanya bagian dari niat baikku saja," jawab Yasha
"Sudahlah, kalau kau memang tidak ingin memberi tahu pada kami tentang niatmu itu. Sekarang untuk apa kau datang menemui kami di sini?" tanya Ian
"Ini tentang orang-orang yang ditemukan semalam, pagi ini mereka semua sudah sadar. Seperti yang disepakati semalam, mereka harus diberi hukuman. Karena kalian ada kaitannya dengan hal ini, kalian diharapkan untuk menemui mereka setelah ini," jelas Yasha
"Rupanya, seperti dugaan Raisa ... mereka semua akan sadar di keesokan harinya. Yaitu, hari ini," ujar Rumi
"Ya. Nona Raisa memang sangat hebat," puji Yasha
"Kami semua akan pergi menemui mereka setelah ini seperti yang kau inginkan," ujar Sanari
"Dan tugasku adalah mengantar kalian semua ke tempat mereka berada saat ini," kata Yasha
"Tujuanmu hanya ini, tapi kau bicara berbelit-belit sekali," cibir Amon
Yasha hanya menanggapi cibiran yang dilontarkan oleh Amon dengan tersenyum tipis.
Setelah sarapan selesai, mereka pun mengikuti Yasha menuju ke balai pengobatan untuk bertemu dengan orang-orang yang ditemukan semalam.
Setibanya di balai pengobatan, ternyata sudah ada Pemimpin Desa Es yang menunggu mereka di sana.
"Tuan Pemimpin Desa, aku sudah memenuhi perintah Anda untuk membawa pasukan misi dari Desa Daun ke sini," ucap Yasha
"Jadi, kalian semua adalah pasukan misi yang datang dari Desa Daun? Perkenalkan ... saya adalah Pemimpin Desa Es. Nama saya, River," ujar Tuan Pemimpin Desa Es, Tuan River.
Mereka membenarkan pertanyaan dari Tuan River dan memberi salam pada Tuan Pemimpin Desa Es tersebut.
"Saya ucapkan terima kasih pada kalian semua karena sudah membantu pihak kami untuk menangani masalah monster misterius serta upaya pencarian orang-orang hilang di desa kami ini. Berkat kalian masalah dapat teratasi dengan baik," ucap Tuan River
"Setelah orang-orang yang hilang berhasil ditemukan semalam, pihak kami telah memeriksa kondisi mereka semua. Telah dilaporkan bahwa mereka hanya mengeluh merasa kelelahan dan sedikit pusing. Kalian bisa ikut memastikannya jika ingin," sambung Tuan River
"Tidak perlu. Kami percaya jika mereka semua sudah diperiksa dengan baik," kata Devan
"Lalu, soal hukuman-" Tuan River melirik ke arah Yasha sambil menganggukkan kepalanya seolah memberi isyarat agar Yasha mengambil alih penjelasan darinya.
Yasha pun menerima isyarat tersebut dengan baik sambil membalas menganggukkan kepalanya juga.
"Diketahui bahwa orang-orang hilang yang berhasil ditemukan semalam adalah pasukan buronan. Mereka semua akan diberi hukuman penahanan. Dan juga karena mereka semua telah melakukan pelanggaran memasuki wilayah terlarang ... masa penahanan mereka ditambah hingga waktu penahanan yang telah ditentukan adalah selama 30 tahun di penjara!" seru Yasha dengan suara tegas dan lantang.
"APA!? Bagaimana bisa kami langsung dijatuhi hukuman setelah baru ditemukan usai menghilang?"
__ADS_1
Orang-orang yang dikatakan sebagai pasukan buronan merasa tidak terima dengan hukuman yang diberikan saat baru ditemukan usai menghilang.
"Jangan membantah! Kalian bisa menghilang juga karena berusaha bersembunyi dari kejaran pihak berwajib. Jadi, terima saja hukuman kalian ini!" tegas Tuan River
Satu per satu dari pasukan buronan itu pun dipasangkan borgol pada kedua tangan mereka yang menandakan mereka sebagai tahanan.
"Ini tidak adil! Yasha, harusnya kau juga ikut masuk penjara bersama kami, bukannya malah memasukkan kami ke dalam penjara. Dulu kau juga anggota pasukan kami!"
"Itu sudah cerita lama. Yasha sudah menyerahkan dirinya dulu dan menjalani masa penahanan di dalam penjara," kata Tuan River
"Tetap saja, tidak adil! Yasha yang dikurung dalam penjara selama tiga tahun, sedangkan masa penahanan kami 10 kali lipat lebih lama dari pada dirinya!"
"Itu karena saat itu Yasha baru bergabung dengan pasukan kejahatan kalian selama setahun dan kala itu usianya masih di bawah umur, yaitu 10 tahun. Di usianya saat itu serta dia yang mengakui kesalahan dan menyerahkan diri ... tentu saja itu adalah masa penahanan yang wajar bagjnya. Kalau tidak ingin ditahan selama 30 tahun di penjara harusnya kalian semua juga ikut menyerahkan diri sepertinya. Mungkin masa penahanan yang diberikan pada kalian paling lama hanya 10 tahun. Kalianlah yang melakukan kesalahan besar, jadi tidak perlu protes!" seru Tuan River
Saat itu Yasha hanya bisa terdiam.
Ya, memang benar. Saat dulu Yasha pernah menjadi anggota penjahat setelah kedua orangtuanya meninggal. Hidup sebatang kara, Yasha pernah dirawat oleh seorang pria yang ternyata adalah seorang ketua penjahat dan akhirnya ia ikut serta dalam kelompok penjahat itu dengan kemampuan sihir salju miliknya yang bisa dikatakan hebat meski umurnya masih belia.
Kelompok penjahat itu sendiri bernama Pasukan Burung Hantu. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan setelah Yasha menyerahkan diri ke pihak berwajib serta menjalani masa penahanan pada masa itu, kini Pasukan Burung Hantu telah menjadi pasukan dari pihak berwajib yang sering berpatroli malam di Desa Es, Negara Salju. Bahkan kini Yasha adalah seorang ketua dari pasukan patroli pihak berwajib itu. Lelaki yang telah menjadi dewasa itu telah berubah menjadi orang baik.
Semua cukup terkejut saat mendengar fakta tentang Yasha saat itu. Kecuali, Devan dan Raisa yang memang sudah mengetahui dan menduga semua itu.
Devan bisa mengetahuinya karena memang pernah berteman dengan Yasha di masa lalu, sedangkan Raisa bisa mengetahuinya dari, ya ... you know-lah. Wanita itu bisa mengetahui banyak hal dari mimpi ajaibnya karena kemampuan miliknya.
"Jadi, kami semua datang ke sini untuk apa? Hanya untuk menyaksikan ini semua?" tanya Amon dengan raut wajah kesalnya.
"Ya. Kupikir pun setidaknya aku harus mengobati orang-orang yang ditemukan semalam itu sebelum mereka diberikan hukuman. Karena bagaimana pun mereka habis ditahan oleh makhluk sihir, tapi bukan hanya tidak mengobati mereka ... aku juga tidak melakukan apa-apa," ujar Ian
"Percuma saja kita semua datang ke sini," kata Chilla
"Ya. Memang merepotkan," dumel Devan
"Aku hanya merasa kalian berhak mengetahuinya karena kalian jugalah yang membantu kami menemukan mereka semua," jawab Yasha
"Mengetahui apa? Mengetahui tentang mereka yang dijatuhi hukuman atau fakta tentang masa lalu dirimu?" tanya Devan yang penuh dengan sindiran.
"Maaf sudah membuat kalian semua menyaksikan hal yang sia-sia," kata Yasha yang disertai dengan senyum pahitnya.
Saat itu, pihak berwajib lainnya berdatangan untuk membawa pasukan buronan yang telah ditemukan semalam dan menjadi tahanan menuju dan masuk ke dalam penjara.
"Baiklah. Karena sudah seperti ini, aku ingin mengatakan suatu hal padamu. Yasha, kuharap kau bisa merundingkan masalah keamanan wilayah terlarang dari sungai suci. Perlu kembali ditegaskan bahwa itu adalah wilayah terlarang atau bahkan pihak kalian bisa menjaga keamanan dari tempat itu secara langsung. Itu pun kalau kalian memang sanggup. Pokoknya kuharap tidak terjadi lagi masalah seperti tercemarnya tempat suci itu seperti sebelumnya," ujar Raisa
"Aku mengerti. Aku juga telah merundingkan masalah ini dengan Tuan Pemimpin Desa Es dan masalah ini masih dalam proses," ucap Yasha
"Kalau begitu, kami bisa percayakan masalah ini padamu saja, kan?" tanya Raisa untuk lebih memastikan.
"Ya. Serahkan saja masalah ini padaku," jawab Yasha
Raisa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan untuk menanggapi pernyataan dari Yasha.
"Jadi, misi di Desa Es, Negara Salju telah sepenuhnya terselesaikan," kata Sanari
"Kalau begitu, kami semua sudah bisa pergi meninggalkan Desa Es hari ini, kan?" tanya Rumi
"Kenapa kau ingin sekali cepat-cepat meninggalkan Desa Es ini? Apa karena kau dan istrimu adalah pengantin baru? Semua orang yang melihat juga pasti tahu bahwa kalian berdua adalah pengantin baru, kan?" tanya balik Yasha
"Itu karena istriku yang sangat cantik ini tidak bisa berlama-lama berada dalam wilayah bersuhu rendah. Ini karena aku sangat peduli pada istriku," jawab Rumi yang selalu memberi penekanan pada kata 'istri' sambil memperlihatkan tangannya yang bergenggaman dengan tangan Raisa dengan sangat erat pada Yasha.
"Begitu, rupanya. Nona Raisa tidak tahan dingin, ya? Pantas saja pakaian Nona cantik tebal sekali. Padahal selain memang harus berpakaian tebal di sini, Nona Raisa terlihat seperti orang yang kuat," ujar Yasha
__ADS_1
"Ya, hari ini kalian sudah bisa pulang. Meski begitu, kami berharap kalian semua bisa menikmati waktu sedikit lebih lama di Desa Es kami," sanbung Yasha
"Hei ... istriku ini memang sangat kuat. Asal kau tahu," kata Rumi
"Sudah cukup, Rumi. Kau sudah mulai berlebihan," bisik Raisa yang sebenarnya mulai merasa malu karena suaminya berlebihan menegaskan kepemilikan atas dirinya.
"Yasha, kau tidak perlu memedulikan ... apa kami ingin lebih lama menatap di sini atau secepatnya kembali ke Desa Daun kami. Kau tidak bisa menahan kepergian kami dan apa pun yang kami putuskan tidak perlu izin darimu," ujar Devan dengan sangat ketus.
Setelah menyelesaikan segala urusan di sana serta berpamitan pada Tuan River, Pemimpin Desa Es, mereka bertujuh pun pergi meninggalkan wilayah Negara Salju dengan menaiki kereta listrik untuk kembali menuju ke Desa Daun, Negara Api.
Meninggalkan wilayah dengan suhu rendah itu, Raisa pergi dari sana dengan membawa Sang Penguasa Sungai Suci yang telah bersatu ke dalam dirinya.
Berada dalam perjalanan panjang di dalam kereta, mereka bertujuh pun menghabiskan waktu sambil berbincang hangat.
"Kalau tahu akan seperti ini jadinya, harusnya kalian berempat saja yang dikirim ke Desa Es. Toh, kami bertiga juga tidak melakukan apa-apa," ujar Devan
"Ya ... tapi, anggap saja kita habis berwisata," kata Chilla
"Sepertinya kau sangat kesal, Devan. Apa sebegitunya kau tidak suka bertemu dengan Yasha? Katanya, dulu kalian sempat berteman? Apa ini karena kau tahu kalau dia bekas penjahat?" tanya Ian
"Ya, seperti itulah ... " jawab Devan seolah terdengar ambigu.
Semua pun beralih menatap ke arah Raisa dengan tatapan penasaran dan ingin tahu. Bahkan hingga Amon pun seolah menuntut penjelasan darinya.
"Ada apa, ya? Kenapa kalian jadi menatapku seperti itu?" tanya Raisa yang merasa bingung karena ditatap dengan aneh oleh teman-temannya.
"Karena Devan tidak ingin menjelaskan, kau saja yang bercerita tentang Yasha, Raisa. Kau pasti tahu sesuatu atau bahkan segalanya," pinta Amon
"Tidak kusangka bahkan sampai kau juga penasaran soal ini, Amon. Baiklah, akan aku ceritakan," kata Raisa
Yang awalnya juga merasa penasaran seperti yang lain, kini Rumi jadi merasa tidak suka karena Raisa akan menceritakan kisah tentang lelaki lain yang asing. Namun, ia juga ingin tahu sejauh apa Raisa mengetahui tentang Yasha, jadi ia pun hanya bisa diam menunggu Raisa bercerita sambil menahan rasa tidak suka di hatinya.
"Ini sudah berlalu lama sekali. Saat itu Pasukan Burung Hantu adalah sebuah kelompok kejahatan yang dipimpin oleh seorang pria yang menjadi wali asuh Yasha yang seorang yatim piatu. Kelompok kejahatan itu datang ke Desa Daun untuk rencananya merampok hasil penelitian terbesar Profesor Tono saat itu. Mereka membaur dan menyamar sebagai pendatang yang berlibur di Desa Daun. Di suatu hari Devan bertemu Yasha dan keduanya jadi dekat dan berteman saat itu. Lalu, pada suatu hari Devan mulai nencurigai Yasha terlibat dalam kassus perampokan karena selama mereka berteman, Yasha selalu membawa barang hasil curian yang diketahui sebagai barang hilang di Desa Daun. Mulai saat itulah pertemanan keduanya menjadi renggang," cerita Raisa
"Setelah pasukan burung hantu berhasil mencuri benda penelitian Profesor Tono, mereka kabur menghilang begitu saja. Namun, Devan dan Morgan berhasil mengejar mereka yang berusaha kabur. Sepertinya di saat itu mereka berdua berhasil menyadarkan Yasha bahwa jalan pilihannya saat itu adalah suatu yang salah. Meski pada akhirnya Yasha dan kelompok penjahat itu tetap berhasil kabur. Namun, ketua penjahatnya berhasil tertangkap oleh Tuan Nathan dan benda penelitian yang dicuri pun berhasil didapatkan kembali. Mungkin saat itu Yasha dan kelompok penjahat itu kembi ke Desa Es dan saat itu Yasha menyerahkan diri dan mengakui kesalahannya pada pihak berwajib dan menjalani masa penahanan seperti yang kita ketahui hari ini," sambung Raisa
"Jadi, seperti itu ... " kata Sanari
"Kecuali Amon yang belum datang ke Desa Daun pada masa itu, apa kalian ingat kelompok penjahat yang selalu memakai topeng burung hantu di Desa Daun dulu? Itu adalah kelompok kejahatan itu ... Pasukan Burung Hantu," ungkap Raisa
"Oh, kelompok kejahatan itu ... aku ingat sekarang," ujar Rumi
"Ya. Sepertinya sekarang pasukan burung hantu itu telah menjadi pasukan patroli yang dipimpin oleh Yasha di Desa Es, Negara Salju," ucap Raisa
"Jadi, seperti itu. Devan, kenapa kau sangat tidak ingin menceritakan kisah ini pada kami?" tanya Ian
"Sudahlah ... toh, Raisa sudah menceritakan semuanya pada kalian," ujar Devan
"Melakukan perjalanan panjang tanpa melakukan apa-apa utu melelahkan, aku ingin tidur lebih dulu," sambung Devan yang langsung menyadarkan tubuhnya pada dinding gerbong kereta dan memejamkan kedua matanya.
"Sepertinya Devan sangat tidak ingin membahas hal ini hingga dia memilih untuk tidur," kata Chilla
"Sepertinya Devan merasa dikhianati. Dulu dia dikhianati temannya yang ternyata adalah anggota penjahat dan sekarang dia merasa dikhianati karena temannya yang telah berubah menjadi baik itu tidak memberi kabar setelah sekian lama dan malah dipertemukan seperti ini. Devan hanya merasa bingung harus bersikap seperti apa," ujar Raisa
Perjalanan menuju Desa Daun pun terus berlanjut dan semuanya memilih untuk beristirahat dengan tenang di dalam gerbong kereta tersebut.
.
•
__ADS_1
Bersambung.