Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
81 - Yang Sudah Dijanjikan.


__ADS_3

Hari yang Raisa lewati saat berlibur di Desa Daun yang berasa di dunia lain di dimensi yang berbeda itu sangat menyenangkan! Hari-harinya selalu bertemu dan ditemani dengan teman-teman spesialnya di sana, walau terkadang jumlah mereka tidak lengkap karena sebagian ada yang pergi menjalankan tugas misi. Raisa pun sudah diterima penuh kehadirannya di sana, bahkan ia diperbolehkan ikut menjalankan tugas misi. Meski pun sampai saat ini, ia masih belum mendapat giliran panggilan tugas misi. Ia tetap menantinya dengan hati yang gembira. Tak jarang ia pun ikut bergabung dalam latihan teman-temannya.


Hari ini adalah hari untuk Raisa melunasi hutang janjinya dengan salah seorang temannya di sana. Raisa pun terbangun di pagi hari yang cerah dengan penuh semangat! Saat terbangun, ia langsung bersiap diri untuk mengawali harinya yang menyenangkannya lagi. Dengan senyuman yang terus nerekah di bibir indahnya, Raisa mempersiapkan segala suatunya di pagi hari ini dengan perasaan riang gembira~


Mandi, membersihkan diri... Berpakaian rapi, menata diri. Membuat makanan, sarapan mandiri... Dan saat merasa dirinya sudah siap, Raisa bersiap memakai sepatunya hendak ke luar dari rumah. Saat semua persiapannya lengkap, Raisa pun membuka pintu utama rumahnya. Dan ia dikagetkan oleh sosok lelaki yang berdiri tegap tepat di depan pintu masuk rumahnya.


"Oh, ya ampun, Rumi! Lagi-lagi, kau begini... Kemarin juga, untungnya aku tidak sampai melompat mundur saking kagetnya. Apa kau mau terus mengagetkanku setiap pagi seperti ini?" Oceh Raisa


"Namun, setiap aku baru ingin mengetuk pintu rumahmu, kau sudah terlanjur membukanya. Maafkan aku jika membuatmu terkejut. Ini akan terus kulakukan untuk menjemputmu di setiap pagi hari." Ujar Rumi


Siapa lagi seseorang yang akan bersikap hangat padanya, lelaki dingin yang akan selalu menemuinya. Rumi! Sejak Raisa memiliki rumah baru yang berada di dekat rumahnya, Rumi akan datang menemui Raisa di pagi untuk menjemputnya memulai aktivitasnya...


"Selamat pagi, Raisa! Apa malammu menyenangkan?" Sapa Rumi seraya tersenyum lembut.


"Hahaha. Pagi, Rumi... Semalam tidurku nyenyak kok. Bagaimana pagimu? Apa lebih baik dari hari sebelumnya?" Balas Raisa


Raisa tertawa kecil saat mendengar Rumi menyapanya untuk menyenangkannya. Walau sebenarnya sedikit aneh dan canggung karena Rumi tidak mahir melakukannya, Raisa tetap merasa senang, ia bahkan membalas sapaan Rumi dengan sapaan yang lebih baik. Berharap Rumi dapat belajar dari dirinya agar tidak lagi canggung ke depannya... Raisa pun sudah bisa lebih mengontrol diri saat berhadapan dengan Rumi. Walau detak jantungnya tetap tak bisa diajak kompromi, namun setidaknya ia tak lagi selalu salah tingkah berlebihan dan dapat bersikap layaknya berteman biasa dengan Rumi...


"Ya, itu lebih baik sejak kau datang berkunjung ke sini. Di setiap malam, aku selalu berharap dan menantikan datangnya esok dan pagi hari dengan cepat. Dan saat bangun di pagi hari, aku selalu langsung teringat semua tentang dirimu dan anehnya itu mampu membuatku tersenyum senang juga merasa bahagia. Aku selalu langsung ingin pergi untuk bertemu denganmu. Aku selalu tidak sabar untuk melewati semua waktu itu demi dirimu." Jujur Rumi


Itu adalah serangan!


Serangan itu langsung tepat mengenai hati Raisa! Detak jantungnya berpacu dan berdebar dengan cepat! Semburan rona kemerahan muncul di kedua pipinya~ Namun, dengan cepat Raisa mengontrol dirinya... Mengabaikan semua perasaannya dan kembali menguasai dirinya sendiri!


Walau sulit karena pikirannya harus berperang dengan hatinya, logikanya harus melawan perasaannya... Sebisa mungkin Raisa tetap mengembangkan senyum manisnya~


"Ahaha, kau bisa saja! Aku juga sama kok. Aku selalu tidak sabar mengawali hari untuk bertemu denganmu dan juga teman-teman lainnya." Ucap Raisa


Lagi-lagi, Raisa menarik diri dan membatasi dirinya dari sosok lelaki di hadapannya. Raisa tak ingin membuat hati Rumi terluka, itu sebabnya ia selalu menjauhkan dirinya secara halus dan perlahan. Ia tak menyadari bahwa pembatas yang dibangunnya bukan sebuah dinding besar dan tebal yang sulit ditembus melainkan hanya sebuah kaca tipis yang transparan sehingga seseorang yang berusaha ia jauhi masih bisa memiliki dan menaruh harapan lebih pada dirinya. Usaha ini sebenarnya hanyalah sia-sia belaka! Bukan hanya menyakiti diri dan perasaannya sendiri, tapi juga perasaan seseorang yang berusaha ia jauhi~


Usaha ini hanya akan membuat keduanya saling tersakiti!


Rumi pun sudah mulai menyadari tingkah perilaku Raisa yang berusaha menjaga jarak bahkan menghindarinya. Walau ia tak tahu dan tak mengerti apa alasan di balik perbuatan Raisa ini, ia malah terus berusaha melangkah maju untuk mendekati sosok gadis di hadapannya kini dan menghapus batasan yang telah ada dan tercipta itu.


Rumi pun berusaha tersenyum lembut setulus mungkin...


"Oh, iya! Kau sudah sarapan belum sebelum ke luar rumah dan menuju ke sini?" Tanya Raisa yang mencari topik pembicaraan baru.


"Ehm, itu... Belum." Jawab Rumi dengan jujur.


"Sudah kuduga seperti itu! Kau ini, Rumi! Kan sudah kubilang, jaga pola makanmu. Sarapan sebelum memulai aktivitas, itu akan lebih baik. Kalau begitu, ayo! Masuk dulu..." Ujar Raisa


Raisa meraih dan menarik pergelangan tangan Rumi untuk masuk ke dalam rumahnya. Memaksa Rumi untuk duduk di sofa ruang tamunya.


"Kau duduk dan tunggu dulu di sini. Sebentar!" Kata Raisa


Setelah itu, Raisa beranjak ke lebih dalam rumahnya, menuju ke arah dapur. Ia menyiapkan dan mengambil sesuatu dari sana. Ia pun membawa apa yang diambilnya ke ruang tamu dan memberikannya pada Rumi.


Raisa meletakkan nampan berisi tiga macam menu sarapan ke atas meja di ruang tamu tersebut tepat dihadapan Rumi...


"Makanlah! Aku tak mau mendengar penolakan dari mulutmu!" Tuntut Raisa


Raisa pun duduk di samping Rumi setelah meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja.


Rumi menatap apa yang Raisa sajikan untuknya yang ada di atas meja di hadapannya.


Sepotong roti sandwich berisi telur mata sapi, irisan daging tipis, dan sayuran. Juga semangkuk sereal gandum dan segelas susu putih. Itulah tiga macam menu sarapan yang memang Raisa siapkan untuk berjaga-jaga.


"Baiklah." Patuh Rumi


Rumi pun mulai memakan sarapan yang telah Raisa sempat buatkan untuk dirinya. Ia memakannya dengan tenang dan lahap~


"Maaf, yang bisa kusiapkan untukmu hanya menu sarapan sederhana ini." Ujar Raisa

__ADS_1


"Terima kasih, Raisa. Ini pun cikup." Kata Rumi


Raisamengangguk kecil...


Raisa sudah menduga jika Rumi memang belum menyempatkan diri untuk sarapan, namun Raisa lupa untuk membawanya saat hendak ke luar dari rumahnya. Untunglah Raisa ingat untuk menanyakan pada Rumi perihal sarapan sebelum mereka berdua bergegas pergi.


"Aku heran sekali, kenapa kebiasaan seseorang sulit ubtuk diubah!? Sebelumnya pasti kau jarang atau bahkan tidak pernah sarapan di pagi hari sebelum memulai aktivitasmu. Tapi, aku senang! Kau masih jujur memberitahukannya padaku dan tidak menutupinya dariku. Jadi, aku bisa mengantisipasi kebiasaan burukmu ini dan mencegahmu tidak sarapan di pagi hari." Oceh Raisa


"Benar. Tapi, sepertinya setelah hari ini aku tidak perlu khawatir lagi saat ada kau yang menyiapkannya untukku. Aku akan selalu sehat berkat dirimu. Terima kasih, Raisa!" Ucap Rumi


"Kau tidak bisa selalu mengandalkan orang lain untuk kebaikan dan kesehatan dirimu sendiri. Kau harus bisa mengubah kebiasaanmu ini dan mulailah menyiapkan sarapan sendiri!" Pesan Raisa


"Akan aku usahakan dan ingat itu." Kata Rumi


"Aku curiga kau akan melupakan ucapanmu saat ini. Tapi, kurasa cukup mendengarmu berkata seperti barusan. Aku tak bisa selalu ada untuk menyiapkan yang seperti ini atau mengingatkanmu, aku juga harus pulang kembali ke duniaku nantinya. Kuharap kau bisa ingat baik-baik pesan dariku." Tutur Raisa sambil memandangi Rumi yang sedang sarapan di sampingnya.


"Makan dan habiskanlah..." Imbuh Raisa


"Ya. Setelah ini kita akan berkumpul bersama yang lain karena kau mempunyai hal besar yang harus kau lakukan." Ujar Rumi


"Kau benar!" Kata Raisa


Rumi pun terus memakan sarapan yang Raisa siapkan untuknya. Setelah Rumi menghabiskan semua sarapannya, ia dan Raisa langsung beranjak pergi setelah Raisa membereskan dan meletakkan bekas piring, mangkuk, gelas, dan nampan kembali ke dapur. Raisa hanya meletakkannya tanpa mencucinya karena diburu waktu, ia akan mencucinya setelah kembali pulang ke rumahnya di sana karena sudah ada yang menunggunya melakukan sesuatu.


Raisa dan Rumi berjalan bersama untuk berkumpul dengan teman-teman yang lain.


---


Raisa dan Rumi pun datang menemui dan menghampiri teman-teman yang sudah berkumpul lebih dulu dari mereka berdua.


"Kami datang!" Seru Rumi


"Maaf, kami terlambat." Kata Raisa


"Kalian tepat waktu. Aku juga baru sampai." Timpal Morgan


"Iyu berarti satu kebiasaan buruk telah berubah." Kata Raisa


"Ada Raisa yang berkunjung ke dunia sini. Aku harus lebih memperhatikan produktivitas keseharianku. Aku tidak boleh datang lebih telat dari tamu kita, kan?" Ujar Morgan


"Hei, ralat! Raisa adalah bagian dari kita sepenuhnya di desa ini." Timpal Chilla


"Ah, ya! Ralat, anggota baru kita!" Imbuh Morgan


"Bicara tentang kebiasaan... Apa kau sudah sarapan lebih dulu, Rumi?" Tanya Aqila


"Sudah. Raisa yang menyiapkan untukku saat aku menghampiri rumahnya." Jawab Rumi


"Rumi, kau sarapan di rumah Raisa?" Tanya Devan


"Itu kebiasaan buruknya meninggalkan sarapan. Aku hanya berjaga-jaga menyiapkannya, ternyata dugaanku benar dan memberikan yang telah kusiapkan padanya." Ungkap Raisa


"Aku yang hanya mengingatkan teman satu timku ternyata tidak lebih baik dari pada Raisa yang menyiapkan langsung sarapan." Ujar Aqila


"Aku memang merepotkan!" Kata Rumi


"Kau tidak pernah merepotkan. Kita kan teman!" Imbuh Raisa


"Sudahlah. Ayo, kita berangkat. Yang lain pasti sudah menunggu." Ucap Devan


"Baiklah, ayo! Berangkat!" Seru Morgan


Raisa, Aqila, Chilla, Morgan, Rumi, Ian, dan Devan pun berjalan beriringan menuju tempat lain. Tempat saat ini adalah temoat berkumpul persinggahan pertama. Sedangkan tempat tujuan sebenarnya adalah tempat lain. Teman yang lainnya pun sudah menunggu di sana.

__ADS_1


---


Raisa bersama yang lain pun tiba di tempat tujuan. Mereka memasuki sebuah gedung. Setelah itu, mereka langsung masuk ke dalam sebuah ruang tunggu.


Di dalam ruang tunggu itu, Raisa yang datang bersama Aqila, Morgan, Rumi, Chilla, Ian, dan Devan langsung bertemu Amy, Wanda, Sandra, Marcel, Billy, dan Dennis. Di sanalah tempat mereka berjanji untuk berkumpul sebelum diadakan sebuah pertarungan. Inilah hal yang mungkin sudah ditunggu-tunggu, yang sudah dijanjikan oleh Raisa...


Raisa sudah menjanjikan kepada Sandra untuk menerima tantangannya untuk bertarung dalam duel. Yup, hari inilah waktunya! Hari yang sudah disepakati dalam janji. Raisa akan melawan Sandra! Mereka berdua akan saling berhadapan dan menghadapi satu sama lain dalam pertarungan duel!


Di sanalah mereka semua berada. Di tempat sebelum menuju aula bertarung akademi, yaitu ruang tunggu aula di gedung akademi. Mereka semua berkumpul untuk saling bertemu sebelum Raisa dan Sandra masuk ke dalam arena untuk berduel, yaitu aula bertarung akademi.


"Akhirnya kalian datang!" Sambut Marcel


"Kukira kau tidak jadi datang dan mengingkari janjimu karena kau takut bertarung denganku, Raisa..." Ujar Sandra


"Mana mungkin! Aku kan sudah berjanji padamu untuk menerima tantangan darimu ini." Sahut Raisa


"Aku masih tidak menyangka kalian akan benar-benar berduel!" Ungkap Amy


"Bagaimana perasaanmu saat ini, Raisa? Apa kau gugup?" Tanya Dennis


"Hmm, sedikit." Jawab Raisa


"Kenapa kau merasa gugup? Apa kau tidak percaya diri?" Tanya Rumi


"Tak kusangka, kau juga bisa gugup, Raisa." Kata Billy


"Aku bukannya gugup untuk menghadapi Sandra nanti, tapi aku baru kali ini datang ke sini. Walau sudah pernah melihat akademi sihir di sini di dalam mimpiku, aku takut salah langkah saat berduel dan melukai orang." Jelas Raisa


"Makanya kau harus tenang dan santai saja." Kata Wanda


"Aku yakin, kau akan melakukannya dengan baik, Raisa. Percayalah pada kemampuan dirimu sendiri!" Ucap Rumi


"Ya. Aku hanya belum beradaptasi saja, kurasa." Ujar Raisa


"Kau bersikap biasa saja sedari tadi, kukira kau tidak akan merasa gugup sama sekali." Tutur Morgan


"Sudahlah. Tidak usah bersikap yang merepotkan! Yakin saja pada dirimu sendiri." Ucap Devan


"Kau pasti bisa, Raisa!" Kata Chilla


"Ya, semangat buat kalian berdua, Raisa, Sandra!" Kata Ian


"Jadi, bagaimana? Pengawas mungkin sudah menunggu peserta duel." Ujar Aqila


"Ah, aku tidak tau tata cara awal untuk berduel. Kau masuk ke dalam aula dulu saja, Sandra. Aku akan menyusul setelahmu." Ucap Raisa


"Baiklah. Jangan coba untuk kabur!" Kata Sandra


"Ya, aku mengerti maksudmu." Sahut Raisa


"Kalau begitu, kami juga akan masuk ke kursi penonton ya." Ujar Marcel


"Tunggu dulu! Dennis, bisakah aku minta bantuanmu? Tolong rekamkan saat aku berduel dengan Sandra nanti menggunakan ponselku." Pinta Raisa


Raisa pun menyerahkan ponsel miliknya pada Dennis dan menunjukkan cara merekam video menggunakan kamera ponselnya. Raisa juga menunjukkan cara memperbesar gambar jika memang dibutuhkan, yaitu dengan cara menarik-lebarkan dua jari yang diletakkan pada layar pinsel. Jika ingin memperkecil gambar hanya perlu menggunakan cara sebaliknya. Raisa menerangkan cara tersebut pada Dennis...


"Ya, baiklah. Aku mengerti! Akan kurekamkan pertarungannya." Kata Dennis


Raisa masih membawa ponselnya ke dunia laain berbeda dimensi itu. Padahal di sana tidak akan ada sinyal yang cocok seperti di dunia asal Raisa. Ternyata untuk hal seperti inilah Raisa menggunakannya, mengambil dan merekam gambar. Raisa masih sangat suka melakukan dua hal untuk mengabadikan menjadi kenangan menggunakan ponsel pribadinya.


Melihat itu, Rumi tidak suka! Kenapa Raisa harus meminta bantuan Dennis jika ada dirinya? Kenapa Raisa tidak meminta bantuan padanya saja? Rasa cemburu Rumi mulai muncul dan merabah ke luar lagi dari dalam dirinya!


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2