Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
126 - Pengintaian Ke Desa Awan.


__ADS_3

Hari ini pun tiba saatnya keberangkatan misi. Setelah semuanya bersiap-siap dan berkumpul, semua pun langsung berangkat menuju ke lokasi asli misi berlangsung, yaitu Desa Awan, Negara Petir.


Setelah memakan waktu selama perjalanan, akhirnya mereka sampai di wilayah Desa Awan, Negera Petir. Aqila, Morgan, Rumi, Raisa, Chilla, Devan, dan juga Ian masih harus menempuh perjalanan untuk mencari informasi untuk kebutuhan misi.


"Jadi, ini Negara Petir? Yang kutahu tentang tempat ini hanya sedikit, tak kusangka dapat kesempatan datang secara langsung ke sini." Ujar Raisa


"Ini bukan misi pengawalan, tapi kita harus pergi ke Negara lain. Apa tidak ada orang di Negara Petir yang bisa melakukan misi ini?" Tanya Chilla


"Bukannya tidak ada, tapi mungkin malah pihak dari Negara Petir yang meminta bantuan Negara Api kita untuk melakukan misi tingkat atas ini karena merasa curiga adanya pengkhianat yang tidak bisa dipercaya." Jawab Devan


Raisa berjalan di paling belakang dan Rumi menghentikannya untuk bicara sebentar...


"Hmm, ada apa?" Tanya Raisa yang merasa Rumi sangat ada perlu berbicara dengannya.


"Raisa, kau juga mendengar saat Pemimpin Desa mengatakan misi kali ini berbahaya kan? Aku harap kau lebih berhati-hati. Aku memang sangat ingin ditempatkan dalam misi yang sama denganmu, tapi tak menyangka misinya akan berbahaya seperti ini." Ujar Rumi


"Aku mengerti jika kau merasa khawatir, tapi kau juga harus percaya kemampuanku dong. Lagi pula, kita menjalani misi bersama-sama, kita semua akan baik-baik saja jika saling percaya dan saling melindungi. Jika ada bahaya, kita juga pasti menghadapinya bersama-sama, itu sebabnya kita digabungkan bersama dalam misi ini... Kau jangan hanya khawatirkan aku, pikirkan juga yang lain, terutama Matahari-mu itu!" Ucap Raisa yang mulai kembali berjalan mengikuti yang lain di depannya.


"Aku begini juga karena khawatir, tapi kau malah berkata begitu... Apa kau cemburu?" Kata Rumi yang ikut berjalan di belakang Raisa.


Yang awalnya khawatir, sekarang Rumi malah merasa senang saat menyadari kemungkinan Raisa merasa cemburu. Rumi masih ingat saat Raisa mengatakan lebih cemburu dengan Morgan yang Rumi anggap sebagai Matahari-nya.


"Kau merasa senang saat aku bilang begitu karena kau merasa aku cemburu ya? Aku malah merasa agak lucu... Dulu kau hanya benar-benar mengkhawatirkan Morgan, tapi sekarang padaku juga begitu. Apa aku benar-benar telah masuk dan mengambil andil dalam hidupmu?" Ujar Raisa


"Benar! Kau sudah berhasil masuk dan berperan andil dalam hidupku sampai ke hatiku yang paling dalam." Ucap Rumi


"Kalau begitu, kau harus percaya padaku. Ya, Rumi?" Kata Raisa


"Tentu saja, baiklah..." Kata Rumi


Raisa tersenyum dan meraih tangan Rumi untuk digenggamnya.


"Terima kasih sudah mau percaya padaku, kutahu kau selalu begitu. Aku sangat senang! Kalau begini, kita baru bisa menjalani misi dengan tenang. Kita harus tetap semangat!" Ucap Raisa sambil senyum yang merekah dengan indah.


Setelah berucap seperti itu, Raisa kembali melepaskan tangan Rumi lalu fokus menghadap ke jalan... Namun, Rumi tak tinggal diam dan kembali menggenggam tangan Raisa sambil terus berjalan. Rumi merasa senang saat Raisa tidak menolak perlakuannya.


Mereka semua pun terus berjalan dengan Raisa dan Rumi yang berjalan paling belakang...


Setelah mencari informasi keberadaan target dalam misi kali ini, mereka semua pun akhirnya sampai pada sebuah penginapan yang diduga disinggahi oleh si target.


"Kau yakin di sini tempatnya, Devan?" Tanya Aqila


"Sangat yakin! Tadi juga sudah meminta Ian memeriksa dengan sihirnya, di sinilah si target menginap." Jawab Devan


"Lalu, apa tujuan kita ke sini juga? Apa kita juga akan menginap di sini? Apa kita punya uang untuk itu?" Tanya Chilla


"Sebenarnya aku diberi modal untuk misi ini karena atasan tahu peran kita adalah sebagai pengintai mungkin memerlukan biaya. Kita bisa menggunakannya dengan sebaik mungkin, tapi kita harus berhemat. Uang ini hanya boleh digunakan untuk kebutuhan misi." Ungkap Devan


"Apa uang itu akan cukup jika kita pakai untuk menginap di sini?" Tanya Morgan


"Kita tanya saja dulu, mana tahu harganya bisa dicocokkan. Lagi pula jika kita di sini, kita bisa semakin mudah mengetahui informasi si target." Jawab Devan


Setelah bertanya di meja pembayaran, akhirnya mereka semua bisa menempati di satu ruangan bersama dengan nuansa tradisional yang hanya beralaskan tikar lipat.


"Hanya tempat ini yang bisa kita pakai yang sesuai dengan uang yang ada. Kita masih harus berhemat, jadi terima saja." Ucap Devan


"Kami juga mengerti, kau tidak perlu terus mengatakannya." Sahut Ian


"Ini juga cukup." Kata Rumi


"Bagaimana denganmu, Raisa? Kenapa kau diam saja?" Tanya Devan


"Aku juga tidak apa. Aku hanya perlu mengikuti kalian karena yang seperti ini baru pertama kali untukku." Jawab Raisa


"Aku kira kau mungkin akan protes. Yang kutahu, perempuan itu bisa saja jadi merepotkan." Ujar Devan


"Aku bukan tipe yang seperti itu. Kau bisa merasa tenang." Kata Raisa


Mereka semua sudah mencari informasi tentang keberadaan si target sampai sore hari. Malam hari pun mereka beristirahat dengan tetap bersiaga.


"Malam ini kita harus bergilir untuk berjaga. Sebagian bisa tidur dan sebagian lain tetap terjaga. Siapa yang akan ikut terjaga bersamaku?" Ujar Devan


Setelah menunjuk siapa yang akan berjaga, Rumi akan melepaskan ular sihirnya untuk memata-matai target. Namun, sebelum itu...


"Tunggu! Rumi, coba ke sini sebentar..." Kata Raisa


Rumi yang diminta Raisa, tentu saja akan menuruti dan langsung menghampirinya.


"Ada apa, Raisa? Rumi harus segera melepas ularnya." Ujar Ian


"Aku akan menambahkan sihirku pada ular Rumi agar tudak ada yang menyadari keberadaannya." Ungkap Raisa


"Apa ada kegunaan seperti itu pada sihirmu, Raisa?" Tanya Morgan

__ADS_1


"Aku akan menggunakan sihir lambang Bunga Teratai Putih dan aku bisa saja meningkatkan sihirku pada lambang bunga ini." Jawab Raisa


"Aku ingat! Kau pernah bilang, lambang sihir Bunga Teratai Putih kilikmu memiliki tingkatan. Apa itu juga termasuk fungsi yang kau bilang tadi?" Ujar Aqila


"Benar. Bagiku si pemilik asli sihir ini, aku bisa menggunakannya yntuk fungsi apa pun yang aku mau. Si target yang merupakan anggota organisasi Mata Dewa ini bisa saja sangat hebat sampai bisa menyadari keberadaan ular sihir Rumi, jadi akan lebih aman jika aku menambahkan sihirku juga." Ungkap Raisa


Raisa pun memberikan lambang Bunga Teratai Putih pada masing-masing kepala ular Rumi yang akan disebar untuk mencari dan memata-natai target. Setelah lambang sihir Bunga Teratai Putih milik Raisa terpasang, ular-ular sihir itu pun mulai menyebar untuk melakukan tugasnya.


"Target ditemukan!" Kata Rumi yang memiliki koneksi dengan ular sihir miliknya.


"Benar!" Sahut Raisa yang juga memiliki koneksi dengan ular sihir milik Rumi karena telah memasangkan lambang sihirnya pada ular-ular tersebut.


"Apa ada informasi yang berguna?" Tanya Devan


Sebelum Rumi menjawab, Raisa terlebih dulu mengatakan sesuatu...


"Aku yang akan menyambungkan pada kalian percakapan target yang ditemukan." Ucap Raisa


Raisa pun menggunakan sihirnya. Mengoneksikan mereka semua dengan percakapan atau sesuatu yang mungkin penting yang dilakukan oleh si target. Mereka semua pun bisa langsung mengetahui apa yang dilakukan si target karena ada koneksi yang juga diberikan oleh Raisa.


"Sebenarnya seberapa hebat sihirmu, Raisa? Sampai kau juga memiliki kemampuan dari beberapa keluarga besar yang ada di dunia ini." Heran Chilla


Diberi pertanyaan seperti itu, Raisa hanya tersenyum sebagai balasan karena dirinya pun tidak tahu seberapa besar kemampuan yang dimilikinya.


"Jadi, begitu... Besok malam si target akan menghadiri sebuah acara. Acara yang dimaksud pasti penting, kita harus bisa menyusup masuk ke acara tersebut." Ucap Devan


Dari koneksi yang Raisa berikan, telah diketahui si target akan menghadiri sebuah acara perkumpulan yang diselenggarakan besok malam. Mereka pun akan berusaha menyusup ke dalam acara tersebut untuk menemukan informasi penting mengenai organisasi Mata Dewa.


Karena ada koneksi dari sihir Raisa... Bisa diketahui jika si target sedang tertidur lelap di dalam kamar penginapannya. Hal itu pun digunakan yang lain untuk ikut beristirahat kecuali sebagian yang akan berjaga malam itu. Raisa yang tidak ikut berjaga, tapi tidak kunjung tidur di sana. Rumi yang mendapat giliran berjaga pun akhirnya menghampiri Raisa...


"Apa yang sedang kau pikirkan, Raisa? Kenapa kau tidak tidur? Kau tidak mendapat giliran jaga malam ini, kau bisa tidur sekarang. Target sudah tertidur... Lagi pula, koneksinya tidak akan terputus hanya karena kau tertidur kan?" Tanya Rumi


"Sebenarnya, aku tidak bisa diam dan tenang saja. Aku merasa sulit untuk tidur saat misi penting seperti ini, jadi biarkan aku ikut berjaga juga. Lagi pula, aku tidak mengantuk." Jawab Raisa


"Baiklah. Tapi jika kau mulai menganyuk, kau bisa langsung tidur saja. Biar aku yang berjaga dan juga menjagamu di sini." Ucap Rumi


Raisa pun hanya mengangguk dan tersenyum...


..."Sebenarnya, alasanku yang paling utama tidak bisa tidur karena sedang merasakan sakit perut, tapi aku tidak mungkin mengatakan hal yang seperti ini. Semoga juga rasa sakit ini tidak sampai menghambatku dalam misi." Batin Raisa...


•••


Keesokan harinya...


Selama tidak ada gerak-gerik mencurigakan yang terlalu penting dari si target yang terlihat, mereka tetap diam di dalam ruang penginapan agar tidak menimbulkan kecurigaan. Namun, ular sihir milik Rumi tetap digerakkan untuk menjadi mata-mata yang melihat pergerakan langsung dari si target.


Sampai malam kembali tiba, tidak ada pergerakan yang berarti. Padahal acara perkumpulang yang dimaksud sebelumnya sudah hampir tiba waktunya.


"Apa si target akan diam saja di penginapan ini sebelum pergi ke acara yang dia maksud itu?" Tanya Ian


"Mungkin saja begitu. Mungkin dia juga sangat berhati-hati pada nata-mata yang mungkin ada di sekitarnya seperti kita walau dia tidak mengetahuinya." Jawab Devan


"Bosan sekali dan juga lapar!" Kata Chilla


"Ah, sepertinya dia mulai bersiap-siap! Dia juga akan membawa sebuah tas ke luar!" Ucap Morgan


"Kalau begitu, Ayo! Kita juga bersiap-siap untuk mengikutinya!" Kata Aqila


Setelah si target ke luar dari penginapan, mereka semua baru mulai mencari keberadaannya lagi. Mereka tidak langsung mengikutinya saat ke luar dari kamar agar menghindari rasa curiga karena asalkan ada ular sihir milik Rumi yang terus mengikuti di sisinya, mereka semua bisa langsung mememukan keberadaannya.


Setelah menemukan keberadaan si target yang mengikuti sebuah acara, ternyata acara tersebut diadakan di tempat yang terbuka. Lebih mudah untuk mereka bisa masuk ke dalam acara terbuka seperti itu, namun mereka masih harus berhati-hati untuk tetap tidak ketahuan agar misi pengintaian ini tidak terbongkar.


"Dia sudah duduk, sepertinya dia sedang menunggu rekan anggota satu organisasinya. Ayo, kita juga cari tempat untuk mengamati dari jauh." Ucap Devan


Mereka pun mencari tempat untuk duduk dan menemukan tempat yang tepat yang dapat melihat aktivitas si target dari arah belakang samping.


"Benar-benar ada yang datang menemuinya! Sepertinya mereka sedang melakukan janji pertukaran!" Ucap Aqila


"Dua orang yang mendatanginya, sepertinya adalah target lain yang terdapat di data misi kali ini. Mereka berdua yang datang akan segera pergi! Haruskah sebagian kita mengikuti mereka juga?" Tanya Raisa


"Jangan mengambil keputusan terlalu cepat. Ingat Ayahku dan Pemimpin Desa mengatakan ini misi yang mungkin berbahaya dan kita harus bergerak secara terorganisir, berarti kita tidak boleh berpecah." Jawab Devan


"Tapi, bagaimana kalau mereka yang berdua itu mempunyai informasi penting lain yang tudak ada di si target?" Tanya Morgan


"Kita tetap tidak boleh gegabah! Yang dilakukan mereka adalah pertukaran dan yang menerima hanya target yang selama ini kita ikuti, dua orang lainnya hanya berperan sebagai pengantar. Berarti kita hanya perlu menargetkan sesuatu yang diterima si target." Jawab Devan


"Apa masih tidak perlu ularku untuk mengikuti dua orang yang tadi datang itu?" Tanya Rumi


"Kalau seperti kata Devan, tidak perlu lagi. Kita hanya harus fokus pada satu target itu saja." Jawab Aqila


"Berarti kita harus mencuri barang pertukaran yang ada di si target?" Tanya Chilla


"Tapi, bagaimana caranya?" Tanya Ian

__ADS_1


"Saat menerima data tentang target yang satu ini, aku membaca dia suka bermain dengan wanita cantik yang seksi. Dia pria hidung bel*ng! Bagaimana kalau menggunakan jurus penyamaran perubah wujud untuk merayunya? Seperti yang seting aku lakukan untuk mengerjai pria macam dia!" Ujar Morgan mengusulkan.


"Cara aneh itu lagi? Aku sebenarnya tidak mau sampai mengakui ini, tapi cara yang Morgan maksud cukup efektif juga!" Kata Aqila


"Benar! Tim kami juga pernah beberapa kali melakukan cara ini." Sahut Rumi


"Aku tahu apa yang kalian maksud! Dan aku punya rencana yang lebih terperinci untuk melakukannya!" Ucap Raisa


"Rencana apa yang kau maksud, Raisa?" Tanya Ian


Raisa megeluarkan ponsel yang dibawanya dari dalam tas pinggang miliknya.


"Kau membawa ponselmu saat misi seperti ini, Raisa? Bagaimana kalau sampai hilang nanti?" Tanya Chilla


"Awalnya aku iseng membawanya untuk menghilangkan bosan saat misi, tapi sepertinya ini akan lebih berguna dari pada itu!" Jawab Raisa


Raisa pun memperlihatkan suatu video yang diambilnya dari internet pada mereka yang lainnya...


"Kalian semua coba lihat rekaman ini! Kita akan menggunakan panggung di depan sana untuk melakukan pertunjukan untuk menarik perhatian si target dan yang lainnya carilah kesempatan untuk mengambil benda penting di dalam tas target." Saran Raisa


Raisa memanfaatkan panggung yang ada untuk melakukan pertunjukan yang bertujuan menarik perhatian si target agar terlupakan dari barang bawaannya.


"Menarik! Aku akan melakukannya! Tapi, aku tidak mungkin seorang diri melakukannya. Raisa, kau ikutlah dan temani aku beraksi di atas panggung!" Ucap Morgan


"Baiklah. Karena ini rencana dariku, aku akan menemanimu melakukannya." Kata Raisa


"Apa benar-benar harus melakulan yang seperti itu?" Tanya Rumi yang protes karena kurang setuju dengan rencana ini, apa lagi Raisa yang harus melakukannya.


"Ini juga untuk kepentingan misi. Kalau begitu, kalian berdua lakukanlah!" Ucap Devan


"Lakukanlah yang terbaik untuk misi." Kata Ian


"Kalau begitu, aku setuju saja." Kata Chilla


"Kalian berdua harus berhati-hati melakukannya, jangan sampai identitas asli kalian ketahuan." Ucap Aqila


Tangan Rumi terulur untuk mencekal tangan Raisa. Ia berniat untuk mencegah Raisa untuk melakukan hal yang menurutnya gila dan berlebihan.


Raisa tersenyum mengerti maksud Rumi yang ingin mencegahnya...


"Aku akan melakukan jurus ilusi diri. Ini sama seperti jurus penyamaran perubah wujud yang Morgan gunakan. Jadi, kau tenang saja." Ucap Raisa yang perlahan-lahan melepaskan cekalan tangan Rumi dari tangannya.


"Morgan, kau sudah benar-benar ingat apa yang harus kulakukan belum?" Tanya Raisa


"Tenang saja, yang tadi itu terlihat mudah. Kalau tidak, aku hanya perlu mengikutimu saja." Jawab Morgan


"Baiklah. Ayo, kita bersiap-siap senelum melakukan pertunjukannya di atas panggung itu, Morgan!" Ujar Raisa


"Baiklah, ayo! Aku sudah tidak sabar melihat tespon target kita kali ini." Kata Morgan


"Kalian berhati-hatilah!" Pesan Rumi yang lebih ditunjukkan untuk Raisa.


"Ya, kalian juga berhati-hatilah saat melakukan sesuatu pada tas si target!" Kata Raisa


Raisa dan Morgan pun beranjak ke suatu tempat untuk melakukan persiapan serta penyamaran sebelum melakukan pertunjukkan di atas panggung yang akan memukau semua orang di acara tersebut, terutama si target!


"Kau tahu penampilan seperti apa yang kau lakukan untuk penyamaran ini, Morgan?" Tanya Raisa


"Aku mengerti harus bagaimana, tapi agak kebingungan dengan penampilan jelas dari penyamarannya." Jawab Morgan


"Kalau begitu, aku yang akan lebih dulu melakukan sihir penyamarannya. Kau tinggal ikuti tampilan gaya pakaianku." Ucap Raisa


"Baik, aku mengerti!" Kata Morgan


Hanya dengan membayangkan suatu tampilan untuk menyamar, saat menggunakan sihir... Penyamaran pun berhasil Raisa lakukan!


"Kalau begini, kan jelas sudah!" Paham Morgan saat melihat tampilan penyamaran sosok baru dari Raisa


Morgan pun akan melakukan


hal yang sama seperti yang dilakukan Raisa...


Kini penampilan keduanya pun berubah dan tampak sangat berbeda. Raisa menyamarkan dirinya menjadi sosok lain yang berbeda dengan dirinya, sedangkan Morgan menyamar sebagai gadis seksi yang jelas sangat berbeda dengan dirinya pula. Untuk tampilan pakaian yang mereka gunakan... Aduhai! Mungkin semua yang akan melihat mereka berdua nanti akan merasa gerah sampai kepanasan sendiri. Sungguh menakjubkan dan menggiurkan~


Setelah melakukan sihir penyamaran, Raisa dan Morgan dengan sosok mereka yang baru pun bersiap menaiki panggung.


Setelah berhasil dengan mudah meminta izin pada pihak panitia acara untuk menggunakan panggung, Raisa dan Morgan pun melangkah naik ke atas panggung. Setelah benar-benar berdiri di atas panggung... Semua yang melihat mereka berdua terperanjat dengan kedua mata yang terbelalak dan mulut yang menganga lebar!


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2