
Keesokan harinya.
Seperti rutinitas kesehariannya, Raisa terbangun di pagi hari. Gadis yang semalam telah menjadi seorang wanita usai menyerahkan mahkota berharganya pada sang suaminya itu pun perlahan membuka matanya sambil sesekali mengerjapkannya.
Begitu penglihatannya menjadi jelas, dilihatnya wajah tampan milik suaminya yang masih tertidur dan memejamkan matanya seperti seorang anak kecil. Raisa pun tersenyum. Wajahnya langsung merona merah begitu mengingat pengalaman pertama yang menggairahkan semalam. Namun, ia merasa senang setelah bisa menyerahkan kesuciannya pada orang yang tepat dan melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.
Namun, karena pergempuran panas semalam kini tubuh Raisa seakan terasa remuk, terlebih lagi ia juga merasakan perih yang menyakitkan pada area inti di bagian bawahnya. Seluruh tubuhnya terasa ngilu dan sulit untuk digerakkan. Meski begitu, wanita itu menggerakkan tubuhnya untuk berbalik membelakangi suakminya untuk mencari posisi nyaman lain sebelum harus bangkit untuk menghilangkan rasa pegal pada tubuhnya yang sepertinya akan terasa berlarut-larut dan sulit hilang secepatnya.
Raisa bergerak dengan sangat lambat dan perlahan sambil meringis menahan sakit. Ia pun menghela nafas panjang saat berhasil menemukan posisi nyaman baginya. Namun, ia langsung mengeluarkan suara jeritan keras saat pria di belakangnya menarik pinggangnya untuk dipeluk.
Pria yang tak lain adalah suaminya yang telah berhasil menyita pengalaman pertama dan kegadisannya itu memeluk tubuh Raisa sambil menyusupkan wajahnya pada leher di antara helaian rambut istrinya itu.
"Aarrghh! Ssh~ Rumi, pelan sedikit!" jerit Raisa
"Kenapa kau berteriak dan mend*sah seperti itu? Jangan menggodaku, Sayang. Sudah kubilang aku akan menahan diri di pagi hari. Aku takkan melakukan apa pun denganmu," ujar Rumi
"Aku tidak bermaksud menggodamu, tapi aku sedikit kesakitan setelah semalam. Tolong jangan melakukan gerakan yang terlalu besar di dekatku," ucap Raisa
"Baiklah, maaf. Bisakah kau berbalik perlahan agar aku bisa melihatmu?" Rumi pun langsung membantu Raisa membalikkan tubuhnya secara perlahan.
Raisa pun menuruti permintaan sang suami untuk segera berbalik badan untuk menatap suaminya meski harus sambil menahan rasa sakit pada seluruh tubuhnya.
"Maaf, aku tidak bermakdud membelakangimu. Aku hanya ingin mencari posisi yang lebih nyaman sebelum akhirnya bangun dari tidur," ujar Raisa
Rumi membelai lembut wajah Raisa dan menyibak rambut istrinya yang menghalangi wajah cantiknya.
"Terima kasih untuk yang semalam, Sayang," ucap Rumi sambil tersenyum cerah.
"Tidak perlu bilang terima kasih. Itu sudah jadi tugasku," kata Raisa sambil membalas senyuman sang suami.
"Katakan padaku ... apa sangat sakit?" tanya Rumi sambil tersenyum getir seolah merasakan sakit yang dirasakan istri cantiknya itu.
Raisa pun tersenyum kecil sambil menggeleng pelan.
"Hanya sedikit lebih sakit dari pada semalam. Tidak apa kok," jawab Raisa yang tidak ingin suaminya merasa tidak enak hati dengannya.
"Kenapa tidak tidur lebih lama? Bukankah kau masih lelah?" tanya Rumi
"Rasanya kalau terus dibiarkan, rasa sakitnya akan semakin menjadi-jadi," jawab Raisa
"Sini ... biar kupeluk sebentar agar bisa menambah kekuatan untukmu," kata Rumi
Raisa tersenyum manis dan mengangguk kecil. Ia mendekatkan dirinya ke arah Rumi untuk masuk ke dalam pelukan suaminya itu. Berada di dekat Rumi memang selalu bisa menjadikannya lebih kuat. Rumi pun merengkuh tubuh sang istri yang meringkuk masuk ke dalam pelukannya.
"Sebenarnya aku ingin memeluk lehermu, tapi rasanya tak sanggup," ungkap Raisa
"Apa kau mau kupijat agar rasa sakitnya bisa sedikit hilang?" tanya Rumi
"Tidak perlu," jawab Raisa dengan cepat.
Jika Raisa berkata mau, ia khawatir tindakan dengan kemungkinan Rumi yang tidak akan sesederhana memijat tubuhnya saja.
"Cepat sekali kau menjawab dan menolakku," kata Rumi
Raisa pun hanya bisa terkekeh kecil untuk menyembunyikan rasa gugupnya. Bukan hanya khawatir masalah pijatan, namun wanita itu juga gugup karena saat masuk ke dalam pelukan suaminya, ia langsung berhadapan langsung dengan dada sang suami yang masih terekspos karena bertelanjang dada. Ia pun langsung tersadar mengingat dirinya yang masih dalam keadaan polos dan hanya berada di dalam selimut yang membalut tubuhnya.
"Aku akan mandi lebih dulu. Rumi, kau pakailah celanamu dulu," ujar Raisa
"Aku sudah memakainya sejak semalam," kata Rumi
"Bukan celana d*l@mmu, tapi celana tidur panjangmu," jelas Raisa
"Bukankah kau sudah melihat semuanya semalam? Kenapa masih harus malu ketika melihatku hanya dengan pakaian dalam?" tanya Rumi
"Bukan seperti itu. Aku akan menggunakan selimut ini untuk menutupi tubuhku. Setidaknya kau pakailah celanamu agar kau tidak masuk angin," jawab Raisa
__ADS_1
"Tenang saja. Daya tahan tubuhku kuat. Aku tidak mudah sakit," ujar Rumi
..."Ya, memang. Tenagamu juga sangat kuat hingga tubuhku serasa remuk dibuat olehmu," batin Raisa...
"Terserah kau saja," kata Raisa
Raisa pun bergerak ke luar dari pelukan Rumi dan beranjak turun dari ranjang secara perlahan sambil membalut dirinya dengan selimut.
"Aku juga sudah melihat tubuhmu secara keseluruhan semalam. Untuk apa lagi kau merasa malu dengan menutupi tubuhmu menggunakan selimut seperti itu?" tanya Rumi bermaksud sedikit menggoda Raisa.
"Kaulah yang jangan menggodaku. Jadi, diam saja ... " ujar Raisa dengan perasaan agak kesal.
Raisa pun berjalan menuju ke arah kamar mandi sambil menahan selimut sebagai pembungkus dirinya. Rumi pun bangkit duduk dari posisi tidurnya.
"Perlukah aku gendong kau sampai masuk ke dalam kamar mandi?" tanya Rumi yang merasa kasihan saat melihat Raisa yang kesulitan berjalan.
"Tidak perlu," jawab Raisa sambil meringis pelan.
Rasa nyeri pada bagian bagian pusat dan inti di bawahnya, membuat Raisa sulit berjalan. Wanita itu melangkah dengan sangat berhati-hati sambil terseok-seok dan sesekali terhuyung karena rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia ingin sekali cepat-cepat membasuh dirinya yang sudah terasa sangat lengket itu akibat banyaknya keringat karena perguluman dengan suaminya semalam, tapi apalah daya. Ia hanya bisa berjalan perlahan unyuk saat ini. Namun, saat Rumi berkata mau menggendongnya ia pun melesat secepat kilat menggunakan kemampuan sihirnya untuk bergerak cepat.
"Jangan menggunakan sihirmu di saat seperti ini, Sayang. Tenagamu bisa semakin terkuras," ucap Rumi
Raisa yang sudah sampai di dalam kamar mandi hanya mengabaikan ucapan dari sang suami dan mengunci pintu kamar mandi tersebut dari dalam.
Rumi menggeleng pelan saat melihat istrinya melarikan diri darinya lagi. Saat Raisa sudah berada di dalam kamar mandi, barulah pria itu memakai celana tidur panjangnya. Namun, hanya celananya saja. Ia merasa tidak perlu memakai atasannya karena merasa akan melepasnya juga saat mandi nanti.
Di dalam kamar mandi, Raisa mengguyur tubuhnya dengan air hangat di bawah shower setelah mengaktifkan mode warm. Membiarkan tubuhnya relaks selama proses mandi. Wanita itu membersihkan dirinya dengan santai.
Namun, saat dirinya bercermin di dalam kamar mandi itu setelah selesai mandi, pikirannya tak lagi santai begitu melihat adanya banyak jejak tanda kepemilikan yang Rumi tinggalkan semalam. Seketika saja, pikirannya menerawang pada kejadian akan aktivitas panas yang ia lakukan bersama suaminya semalam. Saat itu juga wajahnya ikut memanas dan menjadi merah hanya dengan mengingat semua reka adegan kejadian semalam.
..."Banyak sekali tanda merah yang ditinggalkan Rumi di tubuhku," batin Raisa...
Tak ingin terlalu banyak berpikiran kotor, Raisa melanjutkan gerakannya yang tengah memakai handuk kimono. Karena tidak membawa pakaian ganti, wanita itu pun melenggang ke luar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk kimono yang membalut tubuhnya.
Begitu ke luar dari kamar mandi, Raisa melihat Rumi yang sedang asik menatap layar ponselnya sambil duduk di tepi ranjang. Pria itu memang sudah semakin mahir menggunakan ponsel. Namun, saat menyadari dirinya ke luar dari kamar mandi, pandangan Rumi langsung beralih menatap ke arahnya sambil tersenyum.
"Ya. Kau juga segeralah mandi," jawab Raisa
Rumi pun mengangguk dan bangkit berdiri setelah meletakkan ponsel miliknya di atas meja kecil di samping ranjang. Lalu, ia pun beranjak menuju ke kamar mandi dan masuk ke dalamnya untuk membersihkan dirinya yang sudah terasa sangat lengket itu.
Raisa pun ikut beralih dan beranjak memunguti pakaian tidur miliknya dan suami yang tercampur dan berserakan di lantai. Begitu melihat ke arah ranjang, ia menemukan bercak darah di atas sprei. Lagi-lagi, ia pun kembali teringat akan momen panas semalam. Namun, wanita itu segera menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir ingatan mengg*irahkan itu dari pikirannya.
"Benar saja. Semalam akan menjadi malam yang tak terlupakan," batin Raisa
Raisa pun dengan cepat melepas sprei itu dengan sekali tarikan hingga terlepas dari ranjangnya dan ia memasukkan sprei tersebut bersama pakaian tidur semalam ke dalam keranjang pakaian kotor. Lalu, ia pun beranjak ke arah lemari pakaian untuk memilih pakaian yang akan ia kenakan dan langsung memakainya usai menemukan pilihan yang disukainya.
Setelah itu, Raisa pun beranjak ke luar dari kamar dan turun ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan untuknya dan Rumi. Usai menyiapkan sarapan sederhana, Raisa kembali menuju kamarnya di lantai atas untuk sekadar memeriksa apakah Rumi sudah selesai mandi atau hendak memanggil suaminya itu untuk sarapan bersama.
Saat masuk kembali ke dalam kamar dan melihat kamar masih dalam kondisi kosong serta masih terdengar suara gemericik air di kamar mandi, Raisa pun beralih menuju ke arah lemari pakaian untuk memilihkan setelan pakaian untuk suaminya gunakan setelah mandi. Setelah menemukan pilihan yang cocok, Raisa pun berbalik dan ia terkejut saat Rumi sudah berada di belakangnya dan langsung memeluknya dengan mesra.
"Rumi, kau sudah selesai mandi?" tanya Raisa dengan gelagapan.
Rumi hanya menganggukkan kepalanya masih dalam keadaan memeluk tubuh istrinya itu.
"Bagaimana kau bisa melangkah tanpa suara? Padahal tadi masih jelas aku mendengar suara air di kamar mandi," heran Raisa bertanya pada sang suami.
Rumi hanya diam karena asik menghirup aroma harum pada tubuh Raisa yang sangat disukainya itu. Saat merasakan hidung dan bibir Rumi sampai menyentuh kulit lehernya, Raisa langsung merasa geli sekaligus merinding.
"Rumi, kau sedang apa, sih?" tanya Raisa
"Aku sedang memeluk dan menghirup aroma tubuhmu yang harum. Aku sangat suka," jelas Rumi yang beralih memberikan kecupan-kecupan kecil pada ceruk leher Raisa membuat sang empunya menggerang tertahan.
"Hentikan, Rumi. Kau sudah berjanji untuk menahan dirimu di pagi hari," protes Raisa memperingati suaminya itu.
Rumi langsung tersadar dan segera menegakkan kembali tubuhnya. Sepertinya mulai sekarang, aroma tubuh Raisa menjadi candu baginya.
__ADS_1
"Ah, ya ... maaf, aku khilaf. Kau sedang apa, Sayang?" tanya Rumi berusaha mengalihkan dirinya sendiri.
"Tadi aku memilihkan pakaian untuk kau gunakan. Ini ... pakailah," ujar Raisa sambil menyerahkan setelan pakaian pria hasil dari pilihannya pada suaminya itu.
Rumi menerima pakaian yang dipilihkan Raisa dengan perasaan senang. Pria itu pun langsung memakai setelan tersebut setelah membuka handuk kimono yang membalut tubuhnya dan memakai pakaian dalam.
Raisa langsung membalikkan tubuhnya saat Rumi membuka handuk kimononya untuk bisa berpakaian. Wanita itu sibuk mengatur detak jantungnya dan menenangkan diri setelah melihat tubuh polos sang suami untuk kedua kalinya setelah pergumulan semalam. Merasa tidak lerlu berada di sana lebih lama untuk menungu, Raisa pun berpikir untuk meninggalkan kamar tersebut.
"Setelah selesai berpakaian, turunlah untuk sarapan bersamaku," kata Raisa yang hendak melangkah pergi.
Namun, pergerakannya tertahan saat Rumi mencekal tangannya.
"Apa kau tidak ingin membantuku berpakaian dan meninggalkan aku begitu saja?" tanya Rumi
"Apa kau tidak bisa berpakaian sendiri?" tanya balik Raisa masih dengan posisi membelakangi Rumi.
"Aku ingin kau membantuku, Sayang. Kumohon ... " pinta Rumi
"Baiklah," patuh Raisa yang langsung membalikkan tubuhnya secara perlahan.
Dilihatnya, ternyata Rumi hanya tinggal mengancingi pakaiannya saja. Namun, pria itu tersenyum pada Raisa dengan penuh harap untuk istrinya membantunya berpakaian. Raisa pun tersenyum dan bergerak mengulurkan kedua tangannya untuk mengancingi kaos kemeja yang sudah melekat pada tubuh suaminya itu. Jelas sekali terlihat ekspresi senang sekaligus puas di wajah suami tampannya itu.
"Sudah selesai," kata Raisa sambil menggerakkan tangannya untuk merapikan pakaian yang dikenakan suaminya itu dengan senyuman manis yang tak lepas dari bibirnya.
Saat itu Rumi pun menarik pinggang sebelah kiri Raisa dengan sedikit menekannya untuk lebih mendekatkan jarak sang istri ke arah tubuhnya. Membuat istrinya itu menjerit cukup keras karena ulahnya. Nsmun, pria itu malah tersenyum. Dari pergumulan semalam, Rumi langsung bisa mengetahui bahwa seluruh bagian tubuh sebelah kiri istrinya itu jauh lebih sensitif.
"KYAAAHH!! Rumi, apa yang kau lakukan!?" tanya Raisa setelah menjerit.
"Aku hanya belum dapat morning kiss darimu," jawab Rumi dengan santainya.
"Dasar ... sebenarnya apa saja yang kau pelajari dari duniaku dan ponselmu itu, sih?" tanya Raisa dengan heran.
"Ayolah ... aku tahu jika minta sebelum mandi, kau pasti menyuruhku mandi dulu. Sekarang aku sudah mandi dan lengkap dengan berpakaian rapi," ujar Rumi yang sangat memahami prinsip istrinya itu yang tidak akan memberikan ciuman sebelum mandi.
"Itu ... nanti saja. Kita sarapan dulu," elak Raisa
"Ya. Aku ingin sarapan sekarang. Jangan ditunda lagi," kata Rumi
Rumi pun bergerak menarik tengkuk Raisa untuk memagut bibir istrinya itu. Ciuman itu pun tidak sesederhana saling menempelkan bibir saja. Isi rongga mulut pun tidak luput dari sapuan lidah masing-masing. Dan ciuman itu berakhir saat keduanya telah merasa kehabisan oksigen untuk bernafas. Di akhir ciuman itu, Rumi pun mengelap bibir Raisa yang basah karena ulahnya.
Rumi menganggap morning kiss itu sebagai sarapan paginya.
"Memangnya kau sudah puas dengan sarapan yang seperti barusan itu saja?" tanya Raisa yang sesekali masih mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Rasanya manis dan itu sudah cukup bagiku," jawab Rumi
"Sudahlah. Ayo, kita ke bawah untuk sarapan," kata Raisa
"Kau sudah menyiapkan sarapannya? Artinya tadi kau sudah turun ke lantai bawah, lalu naik lagi ke sini?" tanya Rumi
"Ya memang harus seperti itu, kan ... " jawab Raisa
"Tidak bisa terus dibiarkan seperti itu," kata Rumi yang langsung mengangkat tubuh Raisa menggunakan kedua tangannya.
"Aku tidak bisa membiarkanmu naik-turun tangga dalam kondisi tubuhmu yang masih terasa sakit itu. Aku akan menggendongmu sampai ke bawah," ucap Rumi
Rumi langsung membawa Raisa ke luar dari kamar dan menuruni tangga menuju ke lantai bawah sambil menggendong istrinya itu ala bridal style.
Sebenarnya Raisa tidak mau terbiasa dimanjakan oleh perlakuan yang seperti ini oleh Rumi. Namun, ia juga merasa senang mendapat perlakuan manis dari suaminya itu. Ia pun berpikir untuk membiarkannya sekali ini saja.
Rumi menggendong tubuh Raisa sampai ke meja makan yang berada di lantai bawah dan menurunkan tubuh istrinya itu dan menarikkan kursi meja makan untuk istrinya duduk di sana. Lalu, pria itu pun duduk di kursi lain yang berhadapan dengan Raisa. Keduanya pun mulai sarapan bersama.
Menu sarapan pagi ini hanya sederhana. Yaitu, nasi goreng sosis dengan tambahan omelet dan jus jeruk.
.
__ADS_1
•
Bersambung.