
Saat ini, Rumi, Raisa dan keluarga sedang bersantai di sebuah taman sambil duduk di atas tikar. Mereka menunggu hingga bisa melihat pemandangan matahari terbenam.
"Di sini sepi, ya ... tapi udaranya sejuk banget," kata Pak Hilman
"Taman ini biasanya ramai sampai sore karena banyak anak-anak yang main di sini, tapi mungkin mereka udah pada pulang semua," jelas Raisa
"Di sini udaranya sejuk dan bersih karena gak ada kendaraan yang lalu lalang, makanya gak ada polusi atau pencemaran udara. Kereta di sini pun pakai tenaga listrik," sambung Raisa
"Omong-omong, sihirnya Raisa praktis banget, ya, sampai bisa bawa tikar seperti ini. Sebenarnya apa aja, sih, yang selalu Raisa bawa?" tanya Arka
"Gak banyak, sih ... paling cuma kebutuhan yang harus dibawa untuk pergi misi karena terkadang ada misi dadakan," jawab Raisa
"Apa tikar seperti ini juga buat kebutuhan misi?" tanya Raina
"Misi yang didapat itu sangat beragam. Terkadang harus berkemah di alam terbuka, jadi aku selalu bawa tikar. Kan, lumayan aja untuk alas duduk dari pada duduk di atas tanah," ungkap Raisa
"Gak pernah dapat misi yang berbahaya, kan, Raisa?" tanya Bu Vani
"Semua pekerjaan pasti ada resikonya, apa lagi pekerjaan yang mengharuskan pergi ke tempat lain, tapi semua itu bisa dilewati kok, Bu," jawab Raisa
"Syukurlah. Bagus, deh, kalau begitu ... " ujar Bu Vani
"Istirahat, sih, istirahat ... sanrai, sih, santai. Tapi, apa kita cuma diam aja seperti ini? Membosankan banget gak, sih?" tanya Raihan
"Mataharinya masih belum juga terbenam. Apa lagi, cuma ada kita dan di sini sepi. Lakuin apa kek gitu ... suatu pertunjukan, misalnya?" Raihan menambahkan.
"Pertunjukan ... " gumam Rumi
Raisa dan Rumi pun saling menatap satu sama lain seolah saling bertukar pikiran.
"Baiklah," kata Rumi
"Rumi, apa kau yakin?" tanya Raisa
Rumi tersenyum dan mengangguk kecil, lalu pria itu membantu wanita cantik yang merupakan istrinya itu untuk bangkit berdiri.
Rumi dan Raisa melangkah me depan untuk memberi jarak antara keduanya dengan keluarga yang tengah duduk di taman tersebut.
"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Raisa
"Pertunjukan kecil yang sederhana. Kau hanya perlu mengikuti aku," jawab Rumi
Entah apa yang sebenarnya dimaksud oleh Rumi, Raisa hanya mengangguk mengerti. Wanita itu hanya akan percaya dan mengikuti sang suami.
"Kalau begitu, anggap saja kalian sedang menonton televisi atau berada dalam bioskop. Lalu, ingatlah dengan adanya peringatan ini ... Adegan berbahaya, tidak layak untuk ditiru!," ujar Raisa
Raisa dan Rumi pun saling membuat jarak, lalu berdiri saling berhadapan satu sama lain. Pertunjukan aksi pun dimulai!
Rumi mengeluarkan gulungan kertas sihir dari tas pinggang yang dibawa olehnya dan setelah merapal mantra tiba-tiba saja sebuah pedang muncul ke luar dari gulungan kertas sihir tersebut. Melihat itu, Raisa langsung ikut beraksi dengan menghadirkan pedang begitu saja dari ruang penyimpanan sihirnya.
Dengan kedua pedang milik maaing-masing, keduanya pun saling melangkah maju dan bertarung. Pertarungan yang sengit, menegangkan, dan mendebarkan. Meski pun bukan pertarungan asli, aksi keduanya didukung oleh gerakan yang lihai dan lincah serta pengekspresian yang tampak seperti asli.
Gerakan Raisa dan Rumi sama-sama cepat. Membuat yang lain melihatnya dengan kagum sekaligus bergidik ngeri. Pertarungan rekayasa itu sukses membuat yang menonton hanyut dalam perasaan tegang seolah berada di medan perang.
Saat aksi pedang keduanya saling berbenturan, Rumi dan Raisa sama-sama menggunakan sihir elemen petir yang dialiri pada permukaan pedang masing-masing seolah menambah efek fantasi yang nyata berupa kilatan kuning yang mengerikan. Saat itu juga sebuah ledakan kecil yang telah diatur oleh sihir pun tercipta dan keduanya terpental mundur beberapa langkah dan pedang milik masing-masing dari mereka berdua pun menghilang begitu saja dengan kemampuan sihir.
Semua kembali menegang saat keduanya saling mendekat. Namun, ternyata Raisa dan Rumi tampak seperti memberi sikap hormat satu sama lain. Lalu, keduanya pun saling nenyerukan kalimat secara bersamaan.
"Helio // Niran, aku memanggilmu!"
Burung Api Sang Phoenix dan Sang Naga Suci pun ke luar dari dalam diri Raisa dan Rumi di saat yang sama setelah keduanya dipanggil oleh tuannya masing-masing.
Dan, yang terjadi selanjutnya adalah mereka berempat ... Raisa dan Rumi serta kedua makhluk sihir legendaris itu melakukan gerakan yang selaras nan indah seolah menyatu seperti tarian harmonisasi. Mereka berempat memadukan gerakan dengan nenggunakan dan mengeluarkan sihir elemen api. Seolah itu adalah sebuah pertunjukan api antara manusia dan makhluk sihir legendaris. Namun, sebenarnya itu adalah Tarian Harmonisasi Pengendalian Api Suci.
__ADS_1
Raisa dan Rumi melakukan gerak tari di darat, sedangkan Helio dan Niran melakukan gerakan menari sambil terbang di udara.
Sungguh mengagumkan.
Di akhir gerakan, Raisa dan Rumi kembali dengan memberi sikap hormat satu sama lain. Sedangkan, Helio dan Niran mendarat di atas rerumputan taman.
Sebagai penutup pertunjukan, Raisa dan Rumi saling mengangkat satu tangan dan dari tangan keduanya pun muncul sihir yang meluncur ke langit berupa letupan kembang api yang merekah dengan indah bersamaan saat matahari terbenam.
"Kau mempelajarinya dengan mudah dan baik, Rumi," kata Raisa yang bermaksud saat Rumi mengeluarkan sihir untuk membuat letupan kembang api karena memang pria itu baru pertama kali melakukannya setelah Raisa menjelaskan cara melakukannya dengan menggunakan kemampuan sihir.
"Lalu, aku tahu tidak seharusnya kami memanggil kalian berdua hanya untuk bergabung dalam aksi pertunjukan kami dan melakukan tarian harmonisasi pengendalian api suci hanya untuk melakukan pertunjukan. Maaf ... namun, kami juga mengucapkan terima kasih, Helio, Niran," sambung Raisa yang beralih bicara pada Sang Phoenix dan Sang Naga Suci.
Helio dan Niran sama-sama hanya terdiam. Namun, keduanya masih sama-sama menunjukkan sikap hormat di hadapan keluarga Raisa.
Yang lain pun bertepuk tangan setelah menonton pertunjukan aksi yang mengagumkan antara Raisa dan Rumi serta dua makhluk sihir legendaris itu.
"Keren banget!" seru Farah
"Wow ... gak bisa berkata-kata, sih. Mengagumkan!" seru Raihan
"Hebat banget, Raisa, Rumi!" seru Raina
"Jadi, ini dua makhluk sihir legendaris itu, ya?" tanya Pak Hilman
"Iya, Pak. Ini namanya Helio, Burung Api, Sang Phoenix ... dan yang di samping Rumi, itu namanya Niran, Sang Naga Suci," ungkap Raisa sambil menyentuh kepala Helio.
"Raisa, tubuh burung itu dipenuhi api di seluruh tubuhnya. Apa gak bahaya kamu sentuh seperti itu? Lalu, apa apinya gak akan membakar seluruh taman ini?" tanya Bu Vani
"Gak kok, tenang aja, Bu. Yang menyelimuti seluruh tubuhnya adalah api suci abadi yang gak akan membakar sesuatu atau makhluk hidup yang gak punya niat jahat dan gak berbahaya. Gak perlu takut karena api ini bersifat kehidupan," jelas Raisa
"Meski begitu, Helio ... tolong padamkan api pada tubuhmu," sambung Raisa yang beralih bicara pada Sang Phoenix.
Helio pun menuruti perkataan Raisa dengan memadamkan api suci abadi pada sekujur tubuhnya.
"Bisa kok, tapi sepertinya mereka berdua juga gak bisa berkata-kata setelah bertemu kalian," jawab Raisa yang tidak mungkin mengatakan bahwa dua makhluk suci legendaris itu malu-malu karena alasan keduanya tidak bicara sebenarnya adalah karena sifat angkuh yang dimiliki oleh keduanya.
"Kalau mau ikut pegang atau sentuh, boleh kok ... " sambung Raisa
"Aku mau coba pegang, tapi takut," kata Farah meski terus menatap ke arah Helio dan Niran.
Raisa tersenyum.
Bagaimana tidak merasa takut jika anak kecil seperti Farah harus berhadapan dengan makhluk raksasa untuk menyentuhnya?
"Helio, apa kau bisa menyesuaikan ukuranmu dengan kami?" tanya Raisa meminta.
"Kalau begitu, kau juga, Niran ... " ujar Rumi meminta
Dalam sekejap, Helio dan Niran pun berubah dari ukuran raksasa hingga menjadi seukuran burung dan ular biasa. Namun, kali ini Helio tidak berubah menjadi burung elang, melainkan burung merak kuning yang ekornya berwarna emas kemerahan. Sedangkan Niran, yang awalnya seekor ular naga emas raksasa kini berubah menjadi ular biasa berwarna kuning keemasan.
Raisa dan Rumi pun berjalan mendekat ke arah yang lain dengan Helio dan Niran yang mengikuti keduanya dari belakang.
Dengan perasaan riang, Farah langsung mengulurkan tangannya untuk menyentuh Helio dan Niran yang telah berubah wujud ukuran secara perlahan.
"Salam, wahai para manusia ... " sapa Helio
"Senang bertemu dengan kalian semua," sapa Niran
"Kalian bisa berubah wujud dan bicara!" seru Raihan
"Ya, bisa dibilang ini adalah kemampuan mereka untuk menyamar," jelas Rumi
"Bagaimana, Farah ... tidak menakutkan lagi, kan?" tanya Raisa
__ADS_1
"Ya. Warna mereka kelihatan cantik," jawab Farah
"Meski begitu, burung merak dan ular itu sama-sama hewan yang galak," ujar Arka
"Benar, tapi biasanya Helio berubah menjadi burung elang. Aku juga tidak tahu kenapa dia sekarang berubah menjadi burung merak," kata Raisa
"Karena aku merasa sosokku yang seperti ini jauh lebih cantik. Berbeda dengan Niran yang hanya bisa berubah menjadi seekor ular biasa," ucap Helio
"Kau hanya ingin bisa menyombongkan sosokmu di depan Raisa dan keluarganya, padahal kemampuan sihir milikku jauh lebih beragam dari pada milikmu," ujar Niran
"Kumohon jangan bertengkar," pinta Rumi
"Helio, Niran, kalian berdua ini benar-benar ... berteman, tapi selalu saja bertengkar. Mengherankan sekali. Meski begitu, tidak mengherankan jika kalian berubah menjadi sosok burung merak dan ular. Karena kedua hewan itu juga tidak pernah akur, sama juga seperti burung elang dan ular. Aneh sekali," ujar Raisa
"Tapi, Raisa, apa itu api suci abadi?" tanya Raina
"Bukankah sudah jelas dari namanya? Itu adalah api yang tak pernah padam yang bersifat hidup dan dalam perwujudan sihir, api abadi ini adalah sesuatu yang suci, jadi tidak akan melukai atau membahayakan kecuali dengan suatu yang mempunyai niat yang buruk," jelas Raisa
"Aku gak mengerti, tapi sepertinya bukan hal yang buruk," kata Farah
"Tentu, Sayang ... seperti ini, biasanya api selalu diingat dengan sisi buruknya yang berbahaya karena dapat membakar dan menghanguskan sesuatu. Sampai kita melupakan sisi baik dari api yang bisa menjadi cahaya yang berfungsi atau bersifat seperti kehidupan," jelas Raisa
"Contohnya hidup kita tidak bisa berjalan mulus tanpa adanya matahari yang merupakan sumber dari energi panas dan api yang menjadi satu. Lalu, juga di zaman dulu itu sebelum ada lampu, kita memakai cahaya dari api sebagai penerangan untuk kehidupan sehari-hari," sambung Raisa
"Tapi, kenapa Kak Raisa selalu menekan kalimat tidak akan melukai atau bahaya kecuali yang punya niat buruk. Apa maksudnya?" tanya Raihan
"Pertanyaan yang bagus. Bagaimana menjelaskannya, ya? Semua makhluk sihir suci legendaris itu punya suatu peraturan seperti hukum alam yang mutlak. Mereka tidak akan mengganggu jika tidak lebih dulu diganggu, tapi jika sudah terganggu ... dari sisi baiknya akan muncul sisi lain yang bukan berarti sisi itu buruk, melainkan mereka hanya akan memberi hukuman bagi yang bersalah agar tidak mengulangi kesalahan demi menjaga kedamaian dan keseimbangan dunia," jelas Raisa
"Dengan begitu, artinya api suci abadi tidak akan berbahaya bagi mereka yang berhati baik, tapi api suci abadi itu bisa melukai siapa saja yang memiliki niat buruk yang jahat. Itu pun demi kebaikan semuanya. Tidak hanya elemen api suci saja, tapi semua elemen sihir suci pun seperti itu," sambung Raisa
"Jadi, kalau orang baik gak akan terluka kalau kena api suci abadi itu, ya, Onty?" tanya Farah
"Benar, Sayang. Farah, mau coba sendiri gak? Onty Icha, bisa loh pakai sihir api suci abadi kayak sulap," ujar Raisa yang langsung menggunakan kemampuan sihir miliknya untuk mengeluarkan api suci abadi dari telapak tangannya.
"Jangan takut, tenang aja karena ini aman dan gak bahaya. Apa lagi Farah itu masih kecil yang masih bersih alias gak punya niat jahat sedikit pun di dalam hati. Yang lain juga sentuh aja apinya, itupun kalau berani ... " sambung Raisa
Dengan keberaniannya, Farah menjadi orang yang pertama menyentuh api suci abadi yang dikeluarkan oleh Raisa. Lalu, Raihan ikut mencoba menyentuh api suci abadi itu dan yang lain pun ikut mencoba menyentuh api suci abadi itu satu per satu.
"Bagaimana perasaan kalian setelah menyentuh api suci abadi? Terasa hangat, kan?" tanya Raisa
"Ya, gak panas sama sekali. Malah rasanya nyaman karena hangat," jawab Farah
"Nah, kalau yang ini adalah api biru surgawi. Yang ini juga api suci abadi, lebih kuat dari api suci abadi biasa," ujar Raisa yang mengubah api suci abadinya menjadi berwarna biru.
Satu per satu dari mereka pun kembali mencoba menyentuh api biru surgawi seperti sebelumnya.
"Emangnya berapa elemen sihir yang ada?" tanya Raina
"Di dunia ini ada 5 eleman sihir dasar. Yaitu, api, udara, air, tanah, dan petir. Kalau di dunia asal kita hanya ada 4 elemen sihir dasar, sedangkan elemen petir adalah tahap lanjutan dari sihir elemen api," ungkap Raisa
"Gimana kamu tahu kalau di dunia asal kita cuma ada 4 elemen sihir dasar? Bukannya di sana cuma kamu yang punya kemampuan sihir? Apa kamu pernah mempelajari itu dan dari mana kamu tahu? Terus, kalau benar ada tahap lanjutan elemen sihir dasar ... apa aja itu?" tanya Arka
"Aku tahu ... sejak bisa menggunakan kemampuan sihir, semua informasi tentang sihir itu sendiri datang begitu saja ke dalam mimpi aku di setiap malamnya hingga aku mempelajari kemampuan sihir itu semua sendiri lewat apa yang kutahu dari semua mimpi di setiap malam dulu. Tapi, sejak aku mulai mahir menggunakan kemampuan sihir, ternyata ada buku informasi tentang sihir di dunia kita yang disimpan di vila puncak. Itu semua ada di dalam kotak rahasia di kamar utama vila yang selalu aku tempati jika menginap di sana," ungkap Raisa
"Aku gak tahu tahap lanjutan elemen sihir di dunia ini, tapi kalau di dunia kita, selain ada elemen petir yang merupakan elemen sihir lanjutan dari elemen api, ada juga ... es yang merupakan sihir lanjutan dari elemen air dan logam yang merupakan sihir lanjutan dari elemen tanah. Lalu, ada elemen sihir gabungan. Contohnya, lava gabungan dari elemen tanah dan api, juga tumbuhan gabungan dari elemen tanah dan air. Sampai ada juga sihir terlarang, yaitu sihir pengendalian darah. Sihir ini dianggap terlarang karena dulu pengguna sihir ini menggunakan kemampuan sihir ini untuk melukai orang atau mengendalikan orang seperti boneka, tapi di akhir era penggunaan sihir, kemampuan mengendalikan darah ini digunakan sebagai sihir pengobatan untuk menyembuhkan penyakit organ dalam," sambung Raisa
"Lalu, ada sihir lainnya yang sama dari dunia kita dan dunia ini ... yaitu, sihir pengobatan yang tadi disebutkan, ilusi, pelindung, pendeteksi, dan berbagai macam jenis lingkaran sihir. Yang benar-benar berbeda dan hanya ada di dunia ini, yang aku tahu hanya sihir yang bisa menghidupkan lukisan, mengubah ukuran tubuh, dan mengendalikan patung boneka. Yang berbeda dari jenis sihir dari dunia ini dan dunia kita adalah di sini mayoritas pengguna sihir bisa melalukan sihir dengan merapal mantra, sedangkan di dunia kita tidak perlu merapal mantra," tambah Raisa lagi.
Baru kali ini Raisa menjelaskan secara lengkap informasi tentang kemampuan sihir pada keluarganya. Meski begitu, ia pernah sepintas memberi tahu Raina dan Raihan tentang kemampuan sihir ysng dimiliki oleh dirinya.
.
•
__ADS_1
Bersambung.