
Mata Raihan masih terpejam ketakutan...
Tubuhnya masih bergetar~
Raisa merasa kasihan dan merasa bersalah pada adik lelakinya. Raisa pun memikirkan suatu cara. Cara yang masih dianggap agak ekstream!~
"Duh, Maaf ya... Kamu sampe gemetar ketakutan begitu." Gumam Raisa
Raisa pun kembali melakukan sihirnya...
"Kalo gitu, duduk dulu deh...!" Kata Raisa
Raisa menghentakkan kakinya dan menggerakkan tangannya dengan cepat~
Satu hentakkan kakinya, memunculkan sihir...
Raisa memberi pukulan tepat pada perut Raihan menggunakan sihir pengendali elemen tanah. Saat Raihan merintih kesakitan dan terhuyung ke belakang... Dengan satu gerakan tangan Raisa, ia dapat memunculkan sebuah kursi (terbuat dari) tanah. Dan membuat Raihan duduk di kursi tanah buatannya itu~
UGH!
"Kak Raisa, sakit tau!" Protes Raihan, mengeluh sambil meringis.
"Kakak, apa-apaan sih!? Masa aku dipukul... Pake apa itu tadi- tanah atau batu apalah itu! Kakak mau bully aku ya!?" Marah Raihan
Raisa pun mendekati Raihan, adiknya...
"Maafin, Kak Raisa... Kakak cuma mau nunjukin sihir kakak yang lain. Tadi itu, sihir pengendali elemen tanah." Ujar Raisa
"Mau nunjukin kemampuan juga ga segitunya kali! Tega banget sih... Untung aku lelaki!" Kesal Raihan
Raisa mendekati Raihan dan berjongkok di hadapannya...
"Kak Raina, juga duduk aja dulu." Kata Raisa yang memunculkan kursi (terbuat dari) tanah dengan sihirnya hanya dengan hentakkan kakinya.
Raina pun duduk di atas kursi tanah tersebut.
Lalu, Raisa beralih kembali dan fokus pada Raihan.
"Bagian mana yang sakit? Perut...? Ayo, tunjuk!" Tanya Raisa meminta Raihan menunjukkan bagian tubuhnya yang terasa sakit akibat ulahnya.
"Sakitnya tuh di sini...!" Jawab Raihan menunjuk bagian tengah perutnya yang terasa sakit.
"Di sini?" Tanya Raisa lagi, meyakinkan. Raisa pun menyentuh bagian tengah perut Raihan dengan pelan. Dan melakukan sesuatu padanya...
"Kamu lagi ngapain, Raisa?" Tanya Raina
"Iya, Kak. Ngapain sih? Rasanya... Aneh!" Ujar Raihan
"Nyembuhin kamu... Ngobatin, ngilangin rasa sakitnya." Jawab Raisa
Masih pasa posisi jongkoknya di hadapan Sang Adik yang terduduk, Raisa mengobati Raihan dengan sihir medis penyembuhnya. Hanya butuh waktu yang tak lama, Raisa menyembuhkan adiknya.
"Gimana? Masih sakit ga?" Tanya Raisa
"Engga, Kak... Ajaib!" Jawab Raihan dengan girangnya.
"Kamu bisa nyembuhin orang, Sa?" Tanya Raina
Raisa pun tersenyum menandakan jawaban 'iya'.
"Aku bisa sihir medis penyembuh. Tapi, sekedar nyembuhin luka atau sakit ringan, mungkin. Kalo untuk sakit parah yang butuh operasi itu masih butuh dokter. Penanganan medis yang butuh operasi tetap butuh alat dan operasi asli. Sihir yang aku bisa mungkin cuma bisa ngurangin atau ngilangin rasa sakit dan nyembuhin luka. Itu yang aku kuasain sementara ini. Tapi, di dimensi sana ada loh yang ahli di bidang ini. Sihir medis! Aku rasa aku perlu belajar sama beliau memperdalam kemampuan sihir medis ini. Supaya bisa lebih memudahkan ke depannya..." Jelas Raisa
Kedua saudaranya pun menanyakan lebih banyak pada Raisa. Dan Raisa pun menjelaskan lebih banyak tentang kemampuan sihirnya juga menceritakan pengalamannya pada saat di dunia yang berbeda di demensi lain. Kali ini, tidak ada yang ia tutup-tutupi dari kedua saudaranya...
"Jadi, kamu ngalamin semua itu? Dan kamu masih ingin ke sana lagi?" Tanya Raina
__ADS_1
"Iya. Walaupun begitu, aku senang saat berada di sana. Kalo ada kesempatan dan dibolehin, aku mau ke sana lagi. Karena, biarpun terluka, aku sangat yakin bisa ngelewatin semua rintangan dan tantangan di mana pun itu. Di sini ataupun di sana... Aku percaya dan yakin sama kekuatanku sendiri!" Ungkap Raisa
"Kakak sih dukung aja... Pergi ke lain tempat untuk nambah pengalaman dan pelajaran itu boleh. Tapi, kamu harus inget masih punya keluarga di sini dan kehidupan asli kamu tuh di sini. Dan yang terpenting, kamu harus tetep baik-baik aja." Ucap Raina
"Iya, makannya setelah beberapa waktu lalu aku tetep pulang kan... Karena aku masih punya keluarga dan kegiatan di sini. Aku juga masih sekolah... Di sana juga, itung-itung liburan aja. Kalo aku di sana, aku merasa bisa memperdalam dan memperkuat kemampuan sihirku. Karena di sana banyak ahlinya... Walaupun jenis sihir aku sedikit berbeda dengan mereka di sana, tapi setidaknya aku masih bisa mempelajari cara mereka dan menerapkannya ke kemampuan sihirku, untuk melindungi orang-orang sekitarku. Kalo di sini, ini kasus langka. Aku ga bisa dapet perubahan atau kemajuan di sini. Makanya, aku mau cari pengalaman di sana, pergi ke sana lagi di lain waktu." Jelas Raisa
"Ya, kalo Kak Raisa udah punya keinginan dan bertekad, apa boleh buat... Kita di sini cuma bisa mendukung dan mendoakan." Ujar Raihan
"Eh, ternyata adikku bijaksana juga." Kata Raisa
"Iya dong!" Bangga Raihan dengan diri sendiri.
"Jadi, besok waktunya kamu sekolah lagi ya. Kamu mau pergi kapan lagi ke sana?" Ujar Raina
"Iya, besok aku bakal sekolah lagi. Udah kelas 12, aku harus tuntas sekolah. Aku ga mau sampe ngulang lagi. Aku kan pernah berhenti sekolah selama setahun karena sakit setelah lulus SMP. Aku juga ga nyangka, ternyata selama periode sakit, itu adalah waktu aku nerima dan diberkahi kekuatan spesial dari Tuhan. Awalnya, aku juga heran bisa begini. Tau gini, kenapa juga ga dari lahir aku punya kespesialan ini. Tapi, inilah takdir! Tuhan udah nentuin kapan waktu aku nerima anugerah ini dan aku hanya bisa terima dan ngejalaninnya aja. Aku bakal pergi ke dimensi sana itu lagi, nungkin kalo udah senggang. Kalo sekolah udah ga sibuk sama penilaian, praktek, atau semacamnya lagi. Ini masih semester 1, aku masih bisa pergi ke sana kalo aku mau kalo lagi senggang. Kalo udah semester 2 nanti, pasti bakal susah kalo aku mau pergi ke sana." Panjang Raisa
"Berarti kamu ngejalanin kehidupan di dua dunia ya... Kalo gitu, semangat terus ya!" Ujar Raina
"Iya... Selalu semangat, Kak!" Kata Raihan
"Terima kadih, Adik-Kakakku... By the way, soal aku yang sempet terluka di dunia sana, tolong rahasiain ini dari Ibu Bapak ya. Soal ini, aku ga ceritain yang sesungguhnya dengan lengkap, aku takut mereka khawatir. Untuk saat ini aku ga bisa cerita tentang itu, tapi nanti aku bakal jujur ke mereka kok..." Ucap Raisa
"Oke, aku ga bakal cerita!" Setuju Raihan
"Setuju aja deh... Pokoknya soal itu urusan kamu, Kakak ga ikut-ikutan ya." Kata Raina
•••
Keesokan harinya...
Di pagi hari, usai sarapan, Raisa telah bersiap mengenakan seragam putih abu-abunya. Setelah berpamitan dengan anggota keluarga lainnya, Raisa pun berangkat menuju sekolahnya...
.
.
.
Mata Raisa menyapu seluruh penjuru tempat di sana. Banyak siswa/i lainnya yang juga berlalu-lalang memasuki tempat pendidikan tersebut. Mencari teman-temannya ataupun masuk ke dalam kelasnya.
Tak disangka, ternyata Raisa merindukan sekolahnya itu.
Raisa memang suka belajar, tapi ia juga tak menyangka akan rindu akan tempat yang cukup menguras otak dan tenaganya.
Raisa pun melangkah pelan menyusuri halaman sekolahnya yang luas, menuju kelasnya.
Saat Raisa berjalan menuju kelasnya, dua gadis berseragam sama seperti Raisa memincingkan matanya saat melihat sosok yang mereka kenal. Keduanya berjalan bergandengan tangan berjalan beriringan mendekati sosok yang mereka kenal yang sudah sangat mereka rindukan itu.
"Raisa!?~" Serunya
"Ini beneran Raisa, kan?" Ujar lainnya, tak menyangka.
Kedua gadis itu menghampiri seseorang yang dikenal sebagai temannya, yang ternyata adalah Raisa.
"Maura, Nilam... Iya, ini aku, Raisa. Masa kalian lupa sama rupa dan wajah teman sendiri, jahat deh!" Ucap Raisa seraya menyunggingkan senyuman yang lebih lebar lagi~
Mereka berdua menghampiri Raisa. Satu menggenggam erat tangan Raisa, yang lainnya memeluk ringan pinggang Raisa. Merekalah sahabat Raisa, Maura dan Nilam.
"Kamu yang jahat, tau ga!? Udah pulang tapi ga ngabarin, selama pergi juga ga ada kabar sama sekali. Tempo hari, udah janji pas pulang langsung ngabarin... Udah kita tungguin, ga ada kabar masuk dari kamu sama sekali! Kita ini masih temenan ga sih?!" Ungkapnya, Nilam meluapkan emosinya dalam kata-kata.
"Iya... Kangen banget sama kamu!" Katanya, Maura yang melepaskan pelukannya dari pinggang Raisa.
Raisa terkekeh geli setelah mendapat perlakuan dan mendengar penuturan kedua sahabatnya...
"Hmm... Maaf deh. Aku kan nginep di rumah Uwa-ku, di sana ga ada sinyal. Dan begitu pulang, baterai HPku malah habis. Aku jadi lupa ngasih kabar ke kalian." Jelas Raisa yang jelas-jelas bohong adanya.
__ADS_1
"Kalo gitu, kenapa ga pinjam HP Uwa kamu untuk ngabarin kita? Atau minta dikasih Wi-Fi gitu..." Ujar Maura
"Kamu gimana sih, Ra? Raisa kan pergi untuk berobat karena sakitnya kambuh, dia harus fokus sama pemulihan kesehatannya, mana ada waktu pinjam HP sama Uwa-nya..." Ucap Nilam
Raisa melenguh dalam hati.
Menghadapi kedua sahabatnya dalam situasi ini, kembali mengharuskannya yang sebenarnya tak mau berbohong membuatnya terpaksa demikian, mau tak mau berdusta lagi.
"Iya juga ya... Kalo gitu kamu cerita sama kita dong, gimana kamu selama di sana? Pengobatannya lancar kan?" Kata Maura
"Lancar semua kok. Buktinya, aku udah masuk sekolah lagi." Ujar Raisa
"Pokoknya tetep harus cerita, titik!" Pinta Nilam
"Iya-iya... Kita ke kelas dulu yuk. Ga enak kalo cerita sambil jalan gini..." Tutur Raisa mengajak kedua sahabatnya berjalan berdampingan bersama menuju ruang kelasnya.
-
-
-
Raisa, Maura, dan Nilam pun memasuki kelasnya. Sedari tadi telah banyak teman sekelasnya yang sekedar menyapa mereka terutama Raisa ataupun menanyakan kabar Raisa yang notabennya izin tidak masuk sekolah selama dua minggu karena sakit dan pergi berobat ke luar kota.
Maura dan Nilam pun berkumpul di meja bangku duduk Raisa. Menunggu sang pemilik tempat untuk bercerita...
"Aku sama Nilam pernah ke rumah kamu untuk jenguk kamu, tau! Tapi, kata Ibu kamu kamu ga di rumah dan lagi berobat. Aku kira ga bakal selama ini. Aku sama Nilam juga terus ngehubungin kamu, telpon, SMS, chat... Tapi, ga ada respon atau balesan." Ucap Maura
"Jadi, hayuk, tuh... Sok, carita! (Jadi, ayo, dong... Silahkan, cerita!)" Ujar Nilam menggunakan bahasa daerah Jawa Barat. Bahasa Sunda.
Raisa pun menenangkan dirinya. Menyiapkan dirinya untuk segala kebohongan yang akan ia ceritakan...
Dimulai dari senyum simpul, Raisa pun menarik napasnya perlahan~
Dan mulai menceritalan kebohongannya...
"Sepulang sekolah waktu itu, aku langsung ganti baju. Niatnya mau istirahat aja di rumah... Tapi, begitu Ibuku masuk kamar, Ibu panik! Dia langsung minta aku untuk berobat aja. Begitu Bapakku pulang, Ibu langsung minta Bapak antar aku berobat ke dekat rumah Uwa, karena di sana terkenal bagus tempat pengobatannya. Begitu sampe di rumah Uwa, istirahat sebentar, aku langsung berangkat berobat karena tempatnya ga jauh dari rumah Uwa, mumpung belum tutup juga. Sewaktu konsultasi, kata Dokternya perlu di rawat... Tapi, aku nolak. Aku udah muak di rawat dan harus nginap di tempat kayak gitu! Dokter ngasih izin karena rumah sama tempat pengobatan itu juga dekat. Tapi, selama itu aku di kasih obat banyak banget. Selain obat, aku juga dikasih ramuan herbal. Karena sebenarnya tempat itu lebih ke alternatif dengan ramuan herbal sebagai obatnya, cuma emang yang buka tempat itu Dokter yang bersertifikat asli. Tapi, Dokter itu emang lebih percaya dan nyaranin herbal dari pada obat kimia. Aku juga lebih milih herbal..." Cerita Raisa
Padahal hanya beberapa kalimat yang Raisa ucapkan. Namun, banyak sekali kebohongan yang disembunyikan di dalamnya.
Untuk menutupi rahasianya dengan sempurna, Raisa tak tanggung-tanggung untuk mengikut-sertakan kedua orangtua dan Uwa-nya dalam kebohongannya, bahkan ia juga melebih-lebihkan kebohongan yang ia lontarkan dari mulut dan lidahnya itu.
...'Duh... Sebenarnya, aku merasa bersalah banget! Hatiku juga serasa ciut dan takut... Aku sampe harus bawa-bawa Ibu-Bapak dan Uwa. Sebenarnya, aku takut banget kebohongan ini bakal bertimbal balik ke diriku sendiri, takut banget kebohonganku malah jadi kenyataan. Amit-amit deh, jangan sampe begitu! Ini satu-satunya cara untuk menjaga rahasia. Ya Tuhan... Tolong lindungi aku dari kebohongan yang kuucapkan. Ampunilah aku... Aku hanya ingin merahasiakan kenyataan yang besar resikonya ini. Semoga ke depannya berjalan mulus dan baik-baik aja.' Batin Raisa yang berdoa dalam hati....
"Terus gimana lagi? Gitu doang?" Tanya Maura
"Ya, emang begitu aja. Untungnya semua lancar. Kondisiku juga berangsur pulih selama minum obat. Di sana aku udah coba hubungin kalian kok, tapi sinyal nihil! Operator SIM Card aku emang ga cocok di sana. Aku juga ga enak mau pinjam HP, kan di sana tujuan aku mau berobat, udah gitu cuma numpang. Walaupun kalo minta pinjam pun pasti dikasih sih. Maaf ya..." Lanjut Raisa melanjutkan kebohongannya
"Gapapa kok. Yang penting kamu fokus ke kesehatan kamu dan udah sehat lagi sekarang." Ucap Nilam
"Iya... Kamu juga udah bisa sekolah lagi sekarang. Bisa ketemu lagi sama kamu, seneng banget tau! Kangeeenn~" Ujar Maura
"Iya, aku juga kangen sama kalian. Senang banget bisa sekolah dan ketemu kalian lagi." Kata Raisa
Raisa dan kedua sahabatnya itu pun saling berpelukan dengan erat untuk melepas rindu dan menyalurkan kebahagiaan setelah selama dua minggu tidak bertemu.
.
.
.
•
Bersambung...
__ADS_1