Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 151 - Seolah Menjadi Boneka.


__ADS_3

Dengan dan melalui kesempatan dan alasan yang agak aneh dan tak biasa ini, Raisa ingin mempermainkan dan menipu Sang Dewa.


..."Rupanya, kau juga bisa punya raut wajah bingung seperti itu. Meski begitu, aku tidak akan terlena hanya dengan cara seperti ini. Kau bahkan merasa bingung karena ingin segera memaksa kehendakmu padaku. Kaulah yang akan tertipu, tapi aku tidak!" batin Raisa...


Melihat Sang Dewa yang saat ini tampak merasa bingung, Raisa tidak merasa kasihan dengannya. Bahkan rasanya ingin sekali wanita itu semakin mempermaikan Sang Dewa untuk menipunya agar semakin terpedaya dalam jebakan dan akhirnya membuat Sang Dewa tak bisa melakukan apa pun lagi yang bersifat memaksa.


"Mungkin pernikahan bisa ditunda hingga 10 hari ke depan," gumam Sang Dewa


"Kau tidak berniat menipuku dengan alasan ini, kan?" tanya Sang Dewa dengan tatapan prnuh selidik.


"Hei, untuk apa aku menipumu?! Di saat seperti ini pihak wanitalah yang paling kesulitan, tahu! Kau tidak akan pernah mengerti rasa sakit itu!" seru Raisa


"Aku cukup mengerti saat kau mengatakan kata sakit. Sudahlah, kita bahas hal lain saja. Jangan bahas hal ini atau soal pernikahan lagi," ucap Sang Dewa


"Tapi, ada gunanya juga pernikahan kita ditunda. Kita jadi bisa saling mengenal satu sama lain lebih dulu. Terutama kau harus lebih mendekatkan dirimu dengan calon suami Dewa-mu ini," sambung Sang Dewa


"Berharap dalam mimpimu saja sana! Katamu, jangan bahas soal pernikahan lagi?! Dewa macam apa yang plin-plan sepertimu ini?" olok Raisa


"Jangan menghinaku!" seru Sang Dewa


"Kau bahkan mudah marah dan tidak mampu berlapang dada. Yang kutahu sifat Dewa dan Dewi itu baik dan murah hati," ujar Raisa


"Aku akan bermurah hati memaafkanmu jika kau berhenti menghinaku," kata Sang Dewa


"Lupakan saja. Apa ada yang ingin kau lakukan saat ini?" tanya Sang Dewa yang mengalihkan topik pembicaraan.


"Lupakan saja. Kau tidak mungkin mau mengabulkannya. Yang ingin kulakukan hanya bebas dari sini dan kembali pada suamiku untuk bermain bola salju bersamanya," ungkap Raisa


"Jangan buat aku marah. Hanya aku yang akan menjadi suamimu. Ya, lebih baik kau melupakan keinginanmu itu," ujar Sang Dewa


"Kata pelayan, kau juga belum makan sama sekali dan hanya minum air saat sarapan tadi. Apa ada yang ingin kau makan saat ini?" tanya Sang Dewa yang kembali mengubah topik pembicaraan.


"Apa aku boleh meminta apa pun makanannya?" tanya balik Raisa


"Kecuali hal lain, makanan apa pun boleh," jawab Sang Dewa


"Baiklah. Biar aku pikirkan dulu makanan yang benar-benar kuinginkan," kata Raisa yang lalu langsung tampak sedang berpikir.


Raisa sedang berpikir ingin mempersulit Sang Dewa dengan cara meminta makanan yang sulit dibuat atau ditemukan pula.


Sang Dewa dan pelayan setianya hanya tahu kalau Raisa hanya menghabiskan segelas air putih mineral, itu tidak sepenuhnya benar. Karena setelah masuk dan mengurung diri di dalam kamar, Raisa memakan coklat secara diam-diam tanpa diketahui orang lain karena terus berada di dalam kamar seorang diri.


Sebelum datang ke Desa Daun, Raisa sudah lebih dulu menyimpan sebatang coklat pemperian dari sang suami ke dalam ruang penyimpanan sihir miliknya. Di dalam ruang penyimpanan sihir miliknya itu, coklat tersimpan baik dengan tambahan sihir elemen es agar bentuknya tetap utuh dan tidak meleleh.


Raisa sengaja membawa coklat itu bersamanya di dalam ruang penyimpanan sihir miluknya ke mana pun agar jadi lebih mudah saat ingin memakannya dan saat ia merasa rindu dengan sang suami. Meski begitu, wanita cantik itu hanya makan sedikit demi sedikit dan sepotong demi sepotong coklat tersebut agar bisa bertahan lama karena Raisa juga ingin merasakan makan coklat itu bersama dengan sang suami tercinta.


Mengingat itu, Raisa jadi kembali merasakan rindu yang mendalam pada Rumi.


Belum sempat Raisa mengatakan ingin makan apa, pintu kamar tersebut diketuk dari luar dan pelayan setia Sang Dewa muncul dari balik pintu saat berjalan masuk ke dalam kamar tersebut.


"Ada apa? Bukankah sudah kubilang padamu bahwa jangan mengganggu waktu berduaku dengan Dewi-ku kecuali ada hal yang sangat penting?" tanya Sang Dewa


"Maafkan atas kelancangan saya, Tuan Dewa. Ada sesuatu terjadi yang harus kulaporkan pada Anda."


"Langsung katakan saja di sini. Apa itu?" tanya Sang Dewa


"Itu ... ada beberapa manusia yang berhasil menerobos pintu masuk rahasia ke sini."


"Apa kau bilang?!" teriak Sang Dewa yang marah.


Bukan hanya Sang Dewa yang merasa terkejut, Raisa juga sama.


"Namun, para penjaga sedang mengatasi untuk mengusir mereka."


Saat mendengar kabar mengejutkan sekaligus gembira itu, seketika saja air mata menetes pada pipi Raisa. Saat Sang Dewa menoleh dan melihat ke arahnya, Raisa sedang tersenyum senang dengan air mata bahagia seolah penantiannya telah terwujud.

__ADS_1


..."Mereka datang. Sudah kuduga, Rumi dan yang lainnya pasti menyelamatkan aku dari sini," batin Raisa...


Kedua tangan Raisa bersatu dan saling menggenggam dengan erat seolah sedang berharap semua akan berjalan lancar dan baik-baik saja.


Saat itu, dengan gerak cepat salah satu tangan Sang Dewa langsung mencekal satu tangan Raisa dengan erat. Sedangkan satu tangan lain Sang Dewa mengeluarkan sihir berupa bola berwarna keemasan. Raisa tahu betul bola sihir apa itu dan kedua matanya langsung mendelik tajam ke arah Dewa Naga itu.


"Kau hanya boleh bersamaku dan menuruti perkataanku, Dewi-ku," kata Sang Dewa dengan tatapan mata marah dan frustasi.


"Kau tidak akan pernah bisa memaksaku, Arion!" seru Raisa


Sang Dewa pun langsung memasukkan bola berwarna keemasan yang berada di salah satu tangannya ke dalam jantung hati Raisa secara ajaib dengan kemampuan sihir miliknya. Bola berwarna keemasan itu adalah sihir ilusi pengendali.


Seketika saja tatapan kedua mata Raisa yang sangat tajam langsung berubah menjadi pandangan mata yang kosong. Kini Raisa telah berada di dalam kendali sihir milik Sang Dewa.


Sang Dewa pun langsung tersenyum senang.


"Dewi-ku, kau adalah milikku. Kita berdua adalah calon suami istri yang paling sempurna di dunia yang paling sempurna. Kau akan mendengarkan semua perkataanku. Benar, kan?" tanya Sang Dewa


"Ya. Benar," jawab Raisa dengan wajah dan nada suara yang sangat datar dan tatapan mata yang kosong.


"Kalau begitu, ayo kita temui mantan suami manusiamu itu," ujar Sang Dewa


"Baik," kata Raisa dengan patuh.


Sang Dewa pun merengkuh pinggang ramping milik Raisa seolah sedang merangkul boneka kesayangan ke dalam pelukannya. Sang Dewa langsung mengajak Raisa pergi bersama untuk melihat situasi terbaru di dunia ilusi itu saat ini.


 


Pada langit malam di dunia ilusi Sang Dewa sedang menjadi medan pertempuran antara makhluk ciptaan Sang Dewa dengan para manusia yang datang dari dunia bumi.


Kedua pihak itu saling bertarung habis-habisan tanpa ampun.


"Tolong kalian urus mereka semua. Aku akan langsung pergi mencari keberadaan Raisa!" seru Rumi


"Kami yang akan menghadapi mereka semua. Kau tidak perlu khawatir dan kau fokus saja untuk menemukan Raisa!" teriak Morgan


Rumi yamg terjun dari ketinggian langit di udara tidak mungkin membiarkan dirinya sendiri terjatuh, maka pria itu langsung merapalkan kalimat pemanggil.


"Niran, aku memanggilmu!" seru Rumi memanggil Sang Naga Suci.


"Baik," patuh Niran Sang Naga Suci saat tuan memanggilnya.


Niran, Sang Naga Suci yang muncul ke luar dari dalam diri Rumi langsung terbang dan membiarkan tuannya itu mendarat di punggung pada tubuh panjangnya.


"Niran, apa kau tidak bisa merasakan di mana keberadaan Raisa? Bukankah kau bisa langsung terhubung dengan Helio Sang Phoenix?" tanya Rumi


"Maaf, Rumi. Sambungan ikatan hubungan antar makhluk suci legendaris milikku dengan Helio mau pun dengan Veron terputus. Seolah ada sesuatu yang menghalangi kami untuk saling terhubung. Aku tidak tahu di mana keberadaan Raisa saat ini," jawab Niran


"Baik, aku mengerti. Itu mungkin ulah Sang Dewa. Tidak masalah. Sekarang bisakah kau membantuku menghadapi para bawahan Sang Dewa itu? Sementara kau menghadapi mereka, aku akan langsung mencari keberadaan Raisa," ujar Rumi meminta


"Apa tidak masalah kau bergerak seorang diri di sarang musuh?" tanya Niran


"Ada kau yang membantu di belakangku, tidak masalah. Aku pasti bisa menemukan Raisa secepatnya," jawab Rumi


"Baiklah," kata Niran


Niran, Sang Naga Suci pun terbang agak merendah agar memudahkan Rumi untuk turun dari atas tubuhnya tanpa terluka.


Setelah melompat turun dari atas tubuh Sang Naga Suci, Rumi langsung berlarian untuk mencari dan menemukan keberadaan Raisa di sana. Sedangkan para penjaga Sang Dewa yang berusaha menghalanginya langsung beralih berhadapan dengan Sang Naga Suci yang menyerang dengan membabi buta.


Rumi pun bisa lolos dengan mudah dan bisa dengan bebas mencari keberadaan Raisa untuk menemukan istrinya itu.


Saat Rumi fokus berlari untuk mencari keberadaan Raisa, pria itu melihat sosok Sang Dewa yang sedang bersama sang istri tercinta. Terlihat keduanya berdiri seolah menanti kedatangan pria itu. Rumi pun menghentikan langkahnya yang sedang berlari saat melihat raut wajah sang istri yang tampak berbeda dan aneh.


Rumi mendelik tajam saat melihat Sang Dewa yang merangkul mesra pinggang sang istri.

__ADS_1


"Selamat datang ke duniaku yang sempurna, wahai manusia rendahan!" seru Sang Dewa sambil tersenyum miring ke arah Rumi.


"Tak perlu banyak basa-basi! Cepat, lepaskan istriku! Apa yang kau lakukan pada Raisa, hah?!" teriak Rumi sambil berusaha menahan amarahnya.


"Istri? Atau mungkin maksudmu adalah mantan? Sekarang mantan istrimu adalah calon istriku. Kami adalah calon pasangan suami istri yang sempurna. Kami berdua akan menikah dan hidup bahagia bersama. Segera," ujar Sang Dewa


"Jangan harap! Aku dan Raisa tak akan pernah berpisah! Itu tak akan mungkin pernah terjadi!" seru Rumi


Sang Dewa tertawa terbahak-bahak. Sebenarnya pria dewa itu merasa miris dan lucu saat mendengar pasangan suami istri yang mengatakan hal yang sama. Saat masih mrmiliki kesadaran sendiri, Raisa juga mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Rumi barusan. Sebenarnya, Sang Dewa merasa telah diremehkan.


"Lucu sekali, sampai kau membuatku tertawa. Namun, bukankah aku mengatakan hal yang sebenarnya, Dewi-ku?" tanya Sang Dewa


Raisa pun mengangguk kecil dengan gerakan pelan.


"Raisa bukanlah Dewi-mu, tapi dia adalah istriku! Lepaskan Raisa! Jangan ganggu istriku!" seru Rumi


"Aku tidak pernah mengganggu. Dewi-ku ikut pergi denganku secara suka rela dan senang hati. Dewi-ku selalu mengikuti perkataanku. Kaulah yang datang mengganggu kami," ucap Sang Dewa


"Itu karena kau mengancamnya menggunakan nyawa orang yang tak bersalah!" teriak Rumi


Rumi tidak bisa menyerang Sang Dewa saat sang istri berada di dekatnya. Pria itu takut malah salah serang dan menyebabkan sang istri terluka. Namun, Rumi sudah tak bisa menahan amarahnya yang sudah memuncak hingga ubun-ubun.


Merasa geram, Rumi pun hendak maju untuk menyerang Sang Dewa. Namun, pria itu kembali bergeming dan langkahnya terhenti saat melihat Sang Dewa mengeluarkan mode sihir tangan cakar naga yang lalu diletakkan pada leher Raisa.


"Jangan coba mendekat. Seperti aku yang memuja Dewi-ku, kutahu kau tidak ingin Dewi-ku ini terluka, bukan?" tanya Sang Dewa


"Jangan macam-macam kau, dasar pecundang! Sudah kubilang, jangan ganggu atau sakiti Raisa! Lepaskan istriku!" teriak Rumi


"Manusia rendahan ini terus berteriak dan sangat berisik. Apa kau mau menolongku untuk membuatnya diam dan mati, Dewiku?" tanya Sang Dewa beralih bicara pada Raisa.


"Baiklah," jawab Raisa dengan patuh.


"Pergilah, habisi dia! Setelah itu kembalilah padaku, Dewi-ku!" seru Sang Dewa


Raisa pun kembali mengangguk kecil dengan patuh. Sang Dewa pun melepaskan tangannya yang merangkul Raisa dan wanita itu pun berlari cepat ke arah sang suami dengan niat melakukan serangan.


Rumi pun teringat dengan perkataan Tuan Nathan yang berkata Sang Dewa mungkin menanamkan sihir ilusi pengendali pada jantung hati Raisa seperti yang pernah dilakukan olehnya pada Nyonya Hani di masa lalu. Rumi langsung menyadari bahwa kini Raisa sedang berada dalam sihir ilusi Sang Dewa yang mengendalikan wanita itu.


Rumi pun hanya bisa berdiam diri. Pria itu rela diserang oleh istrinya sendiri dan terluka asalkan sang istri baik-baik saja. Namun, Rumi harap dirinya dapat menghilangkan sihir ilusi pengendali yang ditanamkan pada jantung hati sang istri agar dapat mengembalikan kesadaran sang istri tercinta.


"Apa yang telah kau lakukan pada Raisa hingga membuatnya jadi seperti ini, dasar Dewa bodoh?!" teriak Rumi yang marah besar.


Meski marah terhadap Sang Dewa yang membuat sang istri seolah menjadi boneka, Rumi tetap bergeming saat sang istri hendak menyerang ke arahnya. Rumi berharap sikap pasrahnya bisa menyadarkan sang istri dengan kekuatan cinta.


Namun, saat sudah sangat dekat, Raisa bukannya menyerang, tapi malah berakhir memeluk sang suami. Hingga Rumi pun terkejut. Bukan hanya Rumi, Sang Dewa pun merasa sangat terkejut karena rupanya sihir ilusi pengendali miliknya tidak bekerja terhadap Raisa.


"Raisa ... " panggil Rumi dengan suara lembut penuh cinta kasih.


"Kenapa kau tidak berusaha menyerangku balik? Kenapa kau tidak berusaha untuk menghentikan aku? Bagaimana jika aku benar-benar menyerang dan membuatmu terluka?" tanya Raisa dengan suara lirih seolah sedang berbisik sangat pelan.


"Raisa, kau sudah sadar?" tanya balik Rumi seolah tak menyangka.


"Peluk aku, Rumi. Aku sangat merindukanmu, Suamiku," kata Raisa


Rumi pun langsung membalas pelukan sang istri. Mendekapnya dengan sangat erat.


Sejak awal, Raisa memang tidak terpengaruh dengan sihir ilusi pengendali milik Sang Dewa. Wanita itu hanya berpura-pura untuk mengelabui dan mempermainkan Sang Dewa. Karena Raisa tahu Sang Dewa akan membuatnya menjadi boneka untuk menyerang suaminya sendiri, seperti yang pernah Sang Dewa lakukan pada Nyonya Hani di masa lalu.


Raisa bersedia bersandiwara demi bisa bertemu dengan sang suami tercinta serta memberi pukulan besar yang telak pada Sang Dewa.


.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2