Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 138 - Sikap dan Suasana Hati.


__ADS_3

Usai semua wartawan pergi membubarkan rombongan, Daffa pun ke luar dari studio pemotretan untuk menghampiri Raisa dan Rumi.


"Kerja bagus, semuanya!" seru Daffa pada para penjaga yang berjaga di dekat Raisa dan Rumi saat ada kerumunan wartawan tadi.


"Terima kasih karena sudah mau berjaga di dekat kami berdua," ucap Raisa


"Sama-sama. Kami semua permisi dulu."


Para penjaga itu pun ikut membubarkan diri untuk kembali ke posisi semula masing-masing.


"Apa rencana kalian setelah ini? Katanya, masih ada urusan lain?" tanya Daffa


"Itu cuma alasan aja biar wawancaranya bisa cepat selesai," jawab Raisa


"Kamu emang baik hati terima sesi wawancara para wartawan tadi, tapi kamu punya batasan juga, ya, Raisa. Wanita berprinsip," ujar Daffa


"Ya, seperti itulah ... " sahut Raisa


"Oh, ya ... pemotretan tadi udah selesai. Upahnya aku kirim ke rekening biasa aja, ya?" tanya Daffa


"Rumi sekarang punya rekening sendiri yang beda dari punyaku. Nanti kukirim nomor rekeningnya lewat pesan chat," jelas Raisa


"Berarti aku kirim upah secara terpisah, ya. Raisa juga dapat karena ini pemotretan lain selain hari kerja," ujar Daffa


"Oke. Terima kasih, Daff," ucap Raisa


"Terbalik kali. Aku yang harus bilang terima kasih karena kalian berdua udah mau ikut pemotretan padahal bukan hari kerja," sahut Daffa


"Kami berdua minta dipotret bebas selain urusan kerja pun belum kasih biaya pemotretannya, tapi kamu udah kasih upah duluan," ucap Raisa


"Cuma sesekali doang kok, asal jangan sering-sering aja. Pemotretan bebas itu gratis. Khusus untuk pasangan model terhits kayak kalian berdua," ujar Daffa


"Bisa aja, Daff!" seru Raisa


"Apa kalian berdua mau langsung pergi?" tanya Daffa


Raisa menoleh ke arah Rumi seolah meminta jawaban dari suaminya. Rumi hanya mengangguk kecil seolah mengatakan ingin pergi.


"Iya, kami berdua mau langsung pulang aja," jawab Raisa


"Paham, deh. Yang pengantin baru mah maunya berduaan aja di rumah terus," sindir Daffa


"Jangan menyindir atau meledek Raisa!" tegur Rumi


"Oke. Santai, Tuan. Si Nyonya dibela terus," kata Daffa


"Kalian berdua yang akur dong. Jangan ribut terus," pinta Raisa


"Suami kamu, Raisa ... orangnya suka sewot. Kesannya jadi over protektif," bisik Daffa


Rumi mendelikkan sepasang matanya ke arah Daffa untuk memberi peringatan pada lelaki yang berprofesi sebagai juru foto atau fotografer itu.


Raisa terkekeh pelan saat melihat Daffa yang seolah merasa terintimidasi dan ketakutan dengan tatapan mata Rumi.


"Sudahlah. Kami berdua pergi dulu. Terima kasih untuk hari ini, Daffa," ucap Raisa


"Gak. Terima kasih, Raisa, Rumi ... " timpal Daffa yang lebih ingin mengucapkan terima kasih dari pada diberi ucapan terima kasih.


"Jangan kapok-kapok datang ke sini untuk pemotretan, ya," sambung Daffa


"Kamu juga ... jangan kapok-kapok untuk mencoba akrab sama suamiku, ya," sahut Raisa


"Masih dalam usaha dan proses," kata Daffa


"Ya udah, kami berdua permisi dulu," pamit Raisa


"Ya. Kalau kalian berdua udah pergi, aku juga mau balik masuk ke dalam," ujar Daffa


Raisa pun mengangguk dan akhirnya beranjak pergi berjalan menjauh dari studio pemotretan bersama Rumi. Setelah itu, Daffa pun kembali melangkah masuk ke dalam studio pemotretannya.


Sambil berjalan, Raisa sambil memesan mobil dari aplikasi online dengan ponselnya.


"Sayang, kalau mau main ponsel berhenti saja dulu," ucap Rumi

__ADS_1


"Baiklah. Kita sambil menunggu mobil pesanan online datang menjemput. Aku sedang ingin memesan mobil dari aplikasi online," kata Raisa


Raisa dan Rumi pun berhenti di depan sebuah minimarket. Raisa langsung mengatur lokasi penjemputan tepat pada lokasi minimarket tersebut.


"Selagi kita berhenti di depan minimarket, apa kau tidak mau mampir masuk lebih dulu? Katanya, kau mau belikan coklat untukku di hari Valentine?" tanya Raisa


"Kubelikan nanti saja. Meski pun memang sudah direncanakan, aku tetap ingin membuatnya seolah terkesan menjadi kejutan untukmu," jawab Rumi


"Seperti itu, ya. Ternyata kau memang tidak ada niat ingin memberi coklat untukku," ujar Raisa


"Bukan seperti itu, Sayang-"


"Terserah kau saja," kata Raisa


"Jangan merajuk seperti ini dong. Ya sudah ... apa kubelikan sekarang saja coklatnya?" tanya Rumi seolah sedang membujuk sang istri.


"Tidak perlu. Nanti saja juga bisa," jawab Raisa dengan nada ketus.


Saat itu, Raisa melihat mobil pesanan online sudah hampir mendekat. Terlihat dari nomor plat mobil tersebut yang sama seperti yang tertera di aplikasi pemesanan online.


"Baiklah. Kau tunggu aku di sini, aku masuk dulu untuk membeli coklat yang kau mau," ucap Rumi


"Tidak perlu. Mobil yang kupesan sudah sangat dekat. Kita pulang saja," kata Raisa


"Tapi-"


"Sudahlah. Aku tidak merajuk kok, hanya bercanda untuk menjahilimu. Aku hanya ingin pulang sekarang," ujar Raisa


"Baiklah," kata Rumi


Saat mobil yang telah dipesan berhenti, Raisa pun menarik tangan sang suami untuk masuk ke dalam mobil.


Saat berada di dalam mobil, Raisa terus menyandarkan kepalanya pada bahu milik sang suami dan hanya terus diam. Bahkan wanita itu juga memejamkan kedua matanya.


Rumi langsung merasa ada yang aneh dengan sikap dan suasana hati sang istri. Namun, tadi sudah dikatakan bahwa istri cantiknya itu tidak sedang merajuk dan hanya bercanda kerena ingin menjahilinya. Jadi, sebenarnya apa yang mempengaruhi perubahan sikap dan suasana hati sang istri? Padahal sedari pagi Raisa terlihat biasa saja. Baru beberapa saat tadi sikap istri cantik itu seolah berubah.


Mobil telah berhenti di lokasi tujuan. Mereka telah sampai di rumah.


Karena tak kunjung buka mata, Rumi pun membangunkan Raisa.


"Hmm ... sudah sampai, ya? Kau bawa uangmu, kan? Bayarlah ongkos mobilnya. Aku ingin masuk lebih dulu," ujar Raisa


Setelah membuka kedua matanya, Raisa langsung menegakkan tubuh dari posisi duduknya yang bersandar pada bahu suaminya dan berlalu ke luar dari dalam mobil begitu saja meninggalkan sang suami yang masih berada di dalam mobil untuk membayar tarif penggunaan mobil online tersebut.


Raisa bahkan langsung masuk ke dalam rumah dan seolah tidak peduli dengan suami tampannya itu.


Usai membayar tarif mobil, Rumi langsung mengatakan terima kasih dan beranjak ke luar dari dalam mobil. Dengan langkah cepat pria itu berjalan masuk ke dalam rumah dan langsung mencari keberadaan sang istri.


Rumi lebih dulu mencari keberadaan Raisa di lantai bawah rumah. Beralih ke belakang, mencari ke dapur atau pun toilet.


Rumi benar-benar seolah tidak bisa jika tanpa istri cantiknya itu. Namun, kali ini pria itu lebih merasa penasaran dengan sang istri.


Saat tiba di dapur, Rumi melihat sendiri ternyata Raisa yang baru saja meletakkan sebuah gelas setelah menggunakannya untuk meneguk air di sana.


"Sayang, aku mencarimu. Rupanya, kau sedang ada di sini," ujar Rumi


"Ya, aku merasa haus, makanya aku langsung ke sini untuk minum. Aku jadi ingat ibu yang selalu membawa sebotol air mineral ke mana pun saat pergi. Beliau hanya ingat selalu berjaga-jaga untuk kondisi seperti ini," ungkap Raisa


"Begitu, rupanya ... " kata Rumi


"Aku ingin berganti pakaian dulu. Aku tinggal sebentar," ucap Raisa


"Kenapa harus meninggalkan aku? Aku ikut denganmu saja. Aku juga ingin mengganti pakaianku," ujar Rumi


"Baiklah, terserah kau saja. Ayo," kata Raisa


Pasangan suami istri itu pun beralih menuju ke kamar tidur mereka di lantai atas.


Namun, di dalam kamar keduanya hanya diam dan tak saling bersahut kata-kata.


Raisa memilih untuk berganti pakaian di dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut, sedangkan Rumi langsung mengganti pakaiannya di sana.


Rumi memilih untuk ikut diam hingga akhirnya sang istri ke luar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Aku ingin menonton televisi di bawah. Kau ingin ikut atau tidak?" tanya Raisa


"Tentu saja, aku ikut denganmu," jawab Rumi


Keduanya pun ke luar dari dalam kamar dan beranjak turun ke lantai bawah bersama. Namun, saat kaki menapaki lantai bawah rumah, Raisa langsung berlarian ke arah sofa untuk mencari posisi ternyaman duduk di atasnya.


Lalu, Raisa meraih remot TV dan mengaktifkan barang elektronik di hadapannya. Rumi pun segera duduk di samping istrinya.


Raisa aaik menggonta-ganti channel TV. Namun, karena merasa sinetron dan ftv pertengahan sore itu tidak ada yang bagus, akhirnya wanita itu berakhir pada tontonan kartun sebagai pilihannya.


Berganti channel antara kartun Upin & Ipin dan Spongebob. Jika tayangan salah satu kartun sedang iklan, maka Raisa akan menukar dengan tayangan kartun yang satunya lagi. Terus seperti itu. Sedangkan Rumi hanya terus diam menemani sang istri sambil menggenggam tangan istri cantiknya itu.


"Bosan sekali rasanya," gumam Raisa


"Kenapa merasa bosan? Bukankah kita sedang menonton televisi?" tanya Rumi


"Tayangannya. Aku ingin menonton ftv atau sinetron, tapi tidak ada yang bagus. Jika itu kartun, tayangan setiap harinya banyak yang hanya diulang. Semuanya sudah pernah kutonton. Aku jadi bosan," jelas Raisa


Akhirnya Raisa mengabaikan televisi yang menyala di depannya dan beralih memegang ponsel. Wanita itu sangat asik. Awalnya bungkam sambil menonton TV, kini malah asik bermain ponsel. Sedari tadi sikapnya jadi cuek dan terkesan mengabaikan Rumi, meski genggaman tangan sang suami tidak dilepaskan.


Raisa menatap layar ponsel sambil terus tersenyum hingga membuat Rumi penasaran karena seolah sedang asik berhubungan dengan pria lain lewat ponselnya hingga lupa dengan suami sendiri.


"Apa yang sedang kau lihat di ponselmu?" tanya Rumi


"Aku sedang berkirim pesan via e-mail dengan Daffa," ungkap Raisa


"Dia mengirim hasil foto kita tadi. Banyak hasil foto yang terlihat bagus dan hampir semua aku menyukainya. Lalu, karena aku masih belum mengirimkan nomor rekeningmu karena lupa, sekalian saja aku kirim sekarang. Mungkin juga Daffa sengaja mengirim hasil foto kuta tadi agar aku jadi ingat untuk mengirim nomor rekeningmu padanya," sambung Raisa menjelaskan.


"Begitu, rupanya ... " kata Rumi


Hampir saja Rumi berpikiran negatif. Namun, untung saja Raisa langsung menjelaskan riwayat pesan e-mailnya bersama Daffa.


"Apa hubunganmu dengan Daffa sangat dekat?" tanya Rumi


"Aku berteman dengannya saat kelas akhir di sekolah menengah pertama dan baru bertemu lagi saat aku bekerja dengannya sebagai model. Sebenarnya saat sekolah aku tidak begitu dekat dengannya dan kami baru menjadi dekat saat mulai bekerja," jelas Raisa


"Apa aku tidak pernah mengatakan ini padamu sebelumnya? Atau aku menceritakannya dengan teman perempuanku? Atau tidak sama sekali dan hanya perasaanku saja? Sebenarnya saat sekolah dulu, aku sempat menyukai Daffa. Dia orang yang supel, ramah, dan tidak pilih-pilih teman, juga baik hati. Makanya aku menyukainya, tapi dulu aku masih terlalu malu untuk mengungkap perasaan, jadi kami hanya terus berteman," sambung Raisa bercerita.


"Aku tidak peduli, apa kau pernah mengatakannya padaku atau tidak. Karena yang kutahu hanya akulah yang kau cintai, tapi apa kau masih memendam perasaan sukamu dengannya? Atau perasaan suka itu muncul lagi setelah kalian bekerja sama?" tanya Rumi


"Pertanyaan macam apa itu? Kan, aku hanya menceritakan masa lalu saat aku sekolah dulu. Artinya itu sudah berlalu dan tidak penting lagi. Aku menceritakannya karena tidak ingin ada yang ditutupi darimu alias aku ingin terbuka denganmu, Sayang. Mulai saat aku mengenalmu melalui mimpi ajaibku ... hati, mata, dan pikiranku hanya tertuju padamu. Sungguh," jawab Raisa


"Lalu, bagaimana dengan tetangga sebelah rumah orangtuamu yang kau sukai dulu itu? Arga ... aku bahkan masih tidak bisa menanyakan langsung tentang dia padamu," batin Rumi


"Itu seperti yang kau jelaskan saat sesi wawancara di luar studio pemotretan tadi. Lalu, apakah benar kau akan membatasi waktu kerjamu mulai sekarang?" tanya Rumi


"Itu benar kok. Sebenarnya saat aku memperbolehkanmu untuk terus bekerja menjalan misi, di dalam benakku sendiri, aku ingin aku saja yang berhenti dari pekerjaanku sebagai artis. Malah sebenarnya dengan siapa pun aku menikah, aku ingin fokus berumah tangga saja setelah menikah. Makanya, aku sudah dari awal berencana membuka usaha sendiri dan akhirnya terwujud," ungkap Raisa


"Bukan hanya membuka usaha sendiri, orang yang menikah denganku juga adalah kau, orang yang sangat kucinta. Makanya saat kau bilang akan sepenuhnya mendukung apa pun keputusanku, aku merasa dangat senang. Selain akhirnya bisa menikah denganmu, aku juga tidak harus berhenti menjadi artis. Awalnya aku bahkan ragu untuk menjadi arris, tapi kini aku sangat bahagia karena bisa mempertahankan pekerjaanku dan juga dirimu yang saat ini menjadi suamiku," sambung Raisa


"Sayang, masih banyak yang ingin kutanyakan padamu. Bolehkah aku menanyakan semua itu sekarang?" tanya Rumi


"Boleh saja kok. Silakan bertanya," kata Raisa


Rumi mulai memantapkan diri untuk bertanya tentang banyak hal pada sang istri tercinta.


Raisa tersenyum saat menanti pertanyaan dari sang suami. Tak sabar ingin menjawabnya.


"Ini tentang lelaki tetangga sebelah orangtuamu, Arga. Apa benar dulu kau sempat menyukainya?" tanya Rumi


"Kau menanyakan tentang dia ... apa kau cemburu?" tanya balik Raisa sambil tersenyum.


"Sayang, aku ingin dengar jawaban darimu," kata Rumi


"Ya, dulu aku pernah merasa suka dengannya. Alasannya sama seperti salah satu alasan aku mencintaimu, yaitu dia adalah pecinta kucing sama sepertiku juga. Namun, perasaan itu hanya bertahan sebentar dan hilang begitu saja. Karena saat aku menyukainya dulu, dia sudah lebih dulu memiliki pacar," jelas Raisa


"Namun, bukan berarti aku menyukai semua atau sembarang lelaki pecinta kucing. Ya, itu memang menjadi salah satu penilaian tambah dariku, terutama jika lelaki itu berwajah tampan. Tapi, hatiku hanya dan sudah dipenuhi olehmu seorang. Suamiku tercinta," sambung Raisa


Akhirnya Rumi memberanikan diri untuk bertanya tentang Arga pada sang istri dan merasa senang setelah mendapatkan dan mendengar jawaban tersebut dari istrinya. Namun, pertanyaan darinya tak hanya sampai di situ saja.


.


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2