Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 18 - Kembali Seperti Dulu!


__ADS_3

Raisa memasuki alam bawah sadarnya yang seperti mimpi di dalam ruang hampa yang gelap dan sepi.


Di sana Raisa bertemu cahaya api besar yang ternyata adalah Phoenix!


"Raisa, ada yang ingin kusampaikan padamu."


"Apa itu adalah kata-kata terakhirmu?"


"Bukan. Aku akan tetap ada bersamamu, Raisa. Seperti saat aku baru merasuk ke dalam dirimu, aku akan selalu menemanimu dan melindungimu, serta membantumu apa pun kesulitanmu."


"Bagaimana mungkin? Kau sudah tiada bersama saat hilangnya seluruh kemampuan sihirku. Bahkan ini pun hanyalah mimpi."


"Sudah kubilang, ini bukanlah mimpi. Ketahuilah ... kemampuan sihirmu tidaklah hilang atau pun lenyap sama sekali."


"Jangan bercanda atau berusaha menghiburku. Aku bahkan sudah tidak bisa menggunakan sihir lagi selama 4 tahun yang kulalui ini."


"Itu terjadi karena alam bawah sadarmu dan kesadaran roh milikmu terputus saat Sang Dewa kejam itu merampas inti sihir milikmu."


"Kau bahkan tahu Sang Dewa telah merampas inti sihirku. Bukankah inti sihir adalah inti dari kemampuan sihir yang kumiliki?"


"Bukan. Kau sudah salah paham selama ini. Inti sihir yang berhasil dirampas hanyalah cangkang kosong, artinya Sang Dewa kejam hanya mengambil cadangan tenaga sihir milikmu. Kau masih memiliki kemampuan sihirmu selama ini."


"Apa maksudmu? Cobalah buat aku lebih mengerti!"


"Seluruh kemampuan sihir yang ada di dalam inti sihir sudah terserap sepenuhnya ke dalam tubuhmu. Semua itu mengalir dalam darah di tubuhmu. Kecuali mengalami kematian yang sesungguhnya, kau masih tetap memiliki kekuatan suci berlambang Bunga Teratai Putih."


Raisa terdiam merenungkan kata-kata yang disampaikan Helio Sang Phoenix.


"Tidak sadarkah kau ... bahwa kemampuan sihirmu beraneka warna seperti pelangi? Kau bahkan bertemu dengan salah satu kemampuan sihir milikmu di dalam mimpi. Sihir api biru!"


"Api biru itu adalah sihir milikku? Apa itu peningkatan di alam bawah sadarku? Tapi, jelas dalam mimpi itu dikatakan aku telah kehilangan semua kemampuan sihirku dan aku telah jadi orang yang tidak berdaya ... "


"Kau sudah mengerti, tapi masih belum menyadarinya. Mimpi itu terjadi karena alam bawah sadarmu menolak kenyataan bahwa kemampuan sihir yang kau miliki masih ada. Alam bawah sadarmu memblokir semua itu karena kesedihanmu mengingat inti sihirmu telah dirampas. Padahal inti sihir itu hanyalah cangkang kosong yang merupakan cadangan tenaga sihirmu saja, sedangkan kemampuan sihir milikmu masih terus mengalir dalam darah di seluruh tubuhmu."


"Aku mengerti ... ini mirip seperti sistem mekanisme pertahanan diri. Aku ingin memblokir ingatan tentang kemampuan sihir yang kumilili karena trauma setelah inti sihirku dirampas, ini sama seperti saat aku pernah mengalami amnesia sementara sebelumnya."


"Tepat sekali! Akhirnya, kau sadar dan mengerti dengan semua yang telah terjadi."


"Lalu, bagaimana cara aku bisa menggunakan kemampuan sihir milikku lagi?"


"Selama 4 tahun ini aku telah membantumu menjaga kemampuan sihir milikmu dengan baik. Kali ini aku akan membantumu agar bisa kembali sadar dan menggunakan kemampuan sihir milikmu lagi. Setelah ini kau hanya perlu ingat ... selamanya kau tetap adalah Raisa yang memiliki kemampuan sihir suci berlambangkan Bunga Teratai Putih. Kemampuan ini tidak alan pernah hilang atau lenyap kecuali kau mengalami takdir kematianmu yang sesungguhnya."

__ADS_1


"Terima kasih sudah mau menemuiku dan memberitahu padaku tentang semua ini, Helio!"


"Jangan sungkan. Kau adalah Tuanku ... Raisa. Fokuslah, sebentar lagi kau akan sadar sepenuhnya."


•••


"Terima kasih, Helio ... " Raisa bergumam pelan saat kembali membuka matanya.


Rumi yang melihat Raisa yang kembali sadar langsung tersenyum dan berhambur memeluk tubuh gadis yang dicintainya itu.


"Syukurlah ... akhirnya kau sadar juga," ujar Rumi merasa lega.


"Tenanglah, Rumi. Aku baik-baik saja," kata Raisa sambil mengusap punggung yang memeluknya Rumi untuk menenangkan lelaki itu.


Setelah itu, Raisa pun melepaskan pelukan Rumi dari tubuhnya.


"Kalau kau baik-baik saja, kenapa kau malah tak sadarkan diri? Padahal kau hanya terkena satu pukulan dan terluka sedikit?" tanya Ian


"Itu karena aku ditarik paksa oleh alam bawah sadarku untuk masuk ke dalamnya," jawab Raisa


"Apa maksudnya itu?" tanya Ian yang bingung.


"Sudahlah. Yang penting Raisa sudah sadar dan baik-baik saja sekarang," kata Aqila


"Aku tidak apa, Rumi. Maaf, sudah membuatmu khawatir," kata Raisa


Raisa pun bergerak bangkit.


"Di mana Dewa Iblis itu!? Dia harus segera dihentikan," ujar Raisa


"Sudah banyak yang bertindak untuk menghadapinya. Kau tidak perlu lagi memedulikannya," ucap Rumi


Raisa melihat ke arah pertarungan Sang Dewa. Sudah banyak orang yang menghadapinya.


"Sepertinya Sang Dewa itu sudah semakin melemah dan mulai kewalahan untuk melawan," ucap Aqila


Terbukti dengan Sang Dewa yang berhasil disegel oleh teman-teman Raisa yang bersatu melawannya. Meski sempat kesulitan, akhirnya ... Morgan, Amon, Devan, dan Chilla berhasil menyegel Sang Dewa dengan bekerja sama. Dengan bekerja sama, maka segel yang menahan Sang Dewa akan semakin kuat. Mamun, tidak ada yang tahu berapa lama segel itu akan menahan Sang Dewa.


"Sebaiknya kita segera pergi dari sini untuk memanggil bantuan yang lebih ahli untuk menghentikan Sang Dewa!" teriak Devan


Dengan komando dari Devan, semuanya beranjak pergi dari sana.

__ADS_1


Rumi pun pergi bersama Raisa. Saat harus melewati tebing untuk memotong jalan, Rumi pun menggendong (ala bride style) Raisa dalam pelukannya dan menggunakan jurus peringan tubuh untuk melompat tinggi menaiki tebing di hadapannya.


Sedari tadi, Raisa sudah mencoba menggunakan kemampuan sihirnya kembali seperti dulu. Seperti yang dikatakan Helio Sang Phoenix, kemampuan sihir miliknya masih terus mengalir pada darah di dalam tubuhnya. Namun, usaha Raisa untuk menggunakan sihirnya kembali masih tidak menggunakan hasil.


"Helio, kenapa aku masih belum bisa menggunakan kemampuan sihirku lagi seperti dulu?" Raisa bicara dalam hati dengan maksud berkomunikasi dengan Phoenix yang bersemayam di dalam dirinya.


"Harusnya kau sudah bisa menggunakan kemampuan sihirmu lagi. Tapi, Raisa ... untuk bisa mengeluarkan kekuatan itu kau tidak bisa hanya fokus. Kau juga perlu menghilangkan segala keraguan dan ketakutanmu yang telah lalu. Jadilah sosok yang berani, disertai dengan fokus ... maka kau akan bisa menggunakan kemampuan sihirmu seperti dulu lagi. Hanya kau seorang saja yang bisa mengatasi ini."


"Terlalu banyak keraguan yang kupendam. Apa aku bisa?"


"Untuk itu kau harus bisa lebih percaya pada dirimu sendiri."


Raisa pun berusaha untuk lebih fokus untuk melupakan segala keraguan yang dirasakannya.


Walau dengan nekat melawan Sang Dewa, sebenarnya Raisa masih merasa trauma karena pernah mengalami pengalaman buruk saat berhadapan dengannya. Meski yang dirampas bukanlah inti kemampuan sihir miliknya, tapi karena kejadian saat itu Raisa memendam perasaan takut saat menghadapi Sang Dewa. Maka, Raisa harus mengatasi perasaan takut dalam benaknya itu.


"Aku harus bisa! Lupakan ketakutan itu! Sang Dewa bukanlah apa-apa! Lupakan keraguan pada hubunganku dengan Rumi. Aku senang menjalani hubungan pertemananku dengan Rumi. Jangan lagi ragu dan jalani saja yang ada. Asalkan aku bisa tetap berada di dekatnya ... seperti ini pun sudah cukup. Aku harus percaya dengan diriku sendiri! Aku harus lebih percaya diri lagi! Fokus ... " Raisa membatin dan memberi sugesti pada dirinya sendiri agar bisa melewati rintangan yang menghambat di dalam benaknya.


Belum berada jauh dari pinggir tebing setelah berhasil naik, Sang Dewa sudah berhasil melepaskan diri dari sihir penyegel yang menahan dirinya. Sang Dewa pun langsung menyerang ke arah tebing dan menargetkan Rumi dan Raisa dengan menggunakan kemampuan sihirnya.


Dinding tebing pun runtuh! Guncangan akibat serangan yang membuat tebing runtuh pun mampu menghilangkan keseimbangan Rumi yang ikut menanggung beban dari tubuh Raisa yang ikut dibawanya. Karena terkejut akan keseimbangannya yang hilang, genggaman dan pelukan Rumi pada tubuh Raisa pun terlepas. Raisa pun terjatuh dan terjun turun bebas dari atas tebing. Namun, Rumi berhasil selamat menginjakkan kaki di atas tebing.


Rumi yang melihat Raisa terlepas dan terjatuh karena dirinya pun ikut menerjunkan dirinya untuk menyelamatkan Raisa.


"RAISA!!" teriak Rumi


Dilihatnya, pandangan mata Raisa kosong.


"Aku pasti bisa!" batin Raisa


Di dalam benaknya, Raisa terus mencoba dan berusaha fokus untuk menggunakan kembali kemampuan sihir miliknya.


"RUMI ... RAISA !!"


Saat itulah, tiba-tiba saja sepasang sayap terbentang di balik punggung Raisa.


Raisa telah berhasil menggunakan kemampuan sihirnya kembali seperti dulu!


Semua pun terkejut ... terperangah saat melihat Raisa bisa kembali menggunakan kemampuan sihirnya seperti dulu.


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2