Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 106 - Bobok Siang.


__ADS_3

Saat Raisa membuka pintu kamar, ternyata yang datang adalah adik lelaki dan keponakan perempuannya. Raihan dan Farah.


"Lho, kirain kalian udah lagi istirahat. Ada apa? Kenapa malah datang ke sini?" tanya Raisa sedikit membungkuk untuk menyamai tinggi dengan keponakannya.


"Kami cuma mau bilang sesuatu," jawab Raihan


"Apa itu?" tanya Raisa sambil tersenyum.


"Onty Icha, terima kasih, ya. Selain aku emang senang bisa ketemu sama Onty Icha dan Uncle Rumi, aku senang bisa liburan ke tempat baru," ungkap Farah


"Kalau begitu, Farah gak seharusnya bilang terima kasih sama Onty karena Onty Icha juga gak tahu kalau ada rencana yang bikin kalian bisa liburan di sini. Ini semua rencananya Uncle Rumi. Farah harusnya bilang terima kasihnya ke Uncle Rumi, Sayang," jelas Raisa


"Kalau begitu, Uncle Rumi di mana, Onty? Aku mau bilang terima kasih," ujar Farah


Raisa pun menggeser sedikit tubuhnya ke samping agar Farah dan Raihan bisa melihat keberadaan Rumi di dalam kamar tersebut.


"Itu dia, Uncle Rumi. Ada di dalam kamar," kata Raisa


Begitu Raisa mengungkapkan keberadaannya di dalam kamar tersebut, Rumi pun melambaikan satu tangannya sambil tersenyum tipis.


"Halo, Uncle Rumi. Terima kasih karena udah bikin rencana supaya Farah dan yang lain bisa liburan di sini. Farah senang banget," ucap Farah


Raisa tersenyum senang sekaligus bangga memiliki kepinakan yang sudah pintar bicara mengungkapkan perasaannya dengan sopan saat usianya masih kecil.


"Terima kasih karena Kakak ipar udah menepati janji bawa kami semua untuk ikut liburan di sini," ucap Raihan


"Sama-sama, Farah, Raihan ... " balas Rumi


"Uncle Rumi, kenapa diam di situ terus? Udah siap-siap mau bobok siang, ya?" tanya Farah dengan sifat polosnya.


"Kayaknya aku sama Farah udah ganggu, ya?" tanya Raihan


Telah memasuki pendidikan Sekolah M enengah Atas, tentu saja Raihan sudah tidak sepolos Farah dan sedikit mengerti urusan orang dewasa meski juga tidak sepenuhnya mengerti.


Raisa dan Rumi pun hanya bisa tertawa ringan karena merasa canggung.


"Farah, kita balik ke kamar aja, yuk. Kasihan Onty Icha sama Uncle Rumi mau istirahat," ujar Raihan


"Oke, deh. Lain kali kita main bareng, ya, Onty, Uncle. Dadah ... " kata Farah yang melambaikan tangannya untuk berpamitan.


"Oke, Sayang. Dadah ... " balas Raisa


"Raihan, kamu antar Farah baik-baik," sambung Raisa mengingatkan sang adik.


Raihan hanya mengangguk mengerti.


"Dadah, Farah ... " Rumi ikut melambaikan tangannya dari dalam kamar masih dalam posisi sebelumnya.


Setelah Farah dan Raihan beranjak pergi dari sana, barulah Raisa menutup dan mengunci kembali pintu kamar tersebut.


Di sana tampak Raina yang celingukan mencari keberadaan putri kesayangannya. Begitu melihat Farah bersama Raihan, ibu satu anak itu langsung menyerukan nama sang buah hati.


"Farah, dari mana aja kamu? Katanya mau main di kamar Om Ehan. Pas Mami cari kok gak ada?" tanya Raina


"Aku sama Om Ehan abis dari kamar Onty Icha sama Uncle Rumi, Mih," jujur Farah


"Kok malah ke sana? Habis ngapain?" tanya Raina


"Raihan, kok kamu malah ajak Farah ke kamar kak Raisa dan kak Rumi? Kalian gak boleh ganggu mereka berdua, dong," sambung Raina mengomeli adik lelakinya.


"Farah juga mau ke sana kok, Kak, bukan cuma aku yang ajak dia ke sana," jelas Raihan


"Emangnya ganggu kenapa, sih, Mih? Kan, aku sama Om Ehan cuma habis bilang terima kasih karena Uncle Rumi udah bikin rencana buat kita liburan di sini?" tanya Farah dengan wajah polosnya.


"Bukan apa-apa. Itu urusan orang dewasa. Kamu masih kecil ... masih belum mengerti. Kamu juga sama, Raihan," ujar Raina


"Enak aja. Aku mengerti kok," kata Raihan


"Mengerti soal apa kamu?" tanya Raisa sembari mendelik ke arah adik lelakinya itu.


Raihan pun menjadi kikuk dan tidak tahu harus menjawab apa.


"Apa karena Onty Icha dan Uncle Rumi mau siap-siap bobok siang, ya, Mih?" tanya Farah


"Iya, tuh, Farah tahu. Anak Mami emang pintar," jawab Raina dengan asal seraya memberi pujian supaya putri kesayangannya tidak lagi bertanya yang tidak-tidak.

__ADS_1


Raihan merasa kesal. Ia kalah telak. Berbeda dengan sifat polos keponakan kecilnya, ia tidak mungkin berkata semudah anak berusia 8 tahun itu tentang perkara orang dewasa yang rumit. Lelaki SMA itu hanya bisa membisu.


"Ya udah, Farah juga bobok siang sama Mami Papi, yuk. Lain kali main lagi sama Om Ehan," ujar Raina


"Nanti bisa main bareng sama Onty Icha dan Uncle Rumi juga. Yeay!" seru Farah


"Iya, tapi sekarang waktunya bobok siang dulu," kata Raina


"Oke, Mih ... " patuh Farah


"Kamu juga, Raihan. Jangan berkeliaran terus nanti bisa hilang kamu di tempat orang. Balik ke kamar kamu sana," ucap Raina


"Iya, Kak ... " sahut Raihan


Raina pun meraih tangan kecil putri kesayangannya untuk beranjak bersama menuju kamar yang dipilihkan untuk mereka. Sedangkan Raihan kembali menuju kamar yang dipilihkan untuknya.


"Balik ke kamar juga mau ngapain? Tidur siang ... enggak banget, main HP juga gak bisa karena gak ada internet. Kayaknya salah deh aku minta ikut ke sini buat liburan," gumam Raihan mengoceh sendiri.


"Kata siapa di sini gak ada internet? Di sini memang tidak ada HP seperti yang kau punya, tapi di sini juga bisa mengakses internet. Tapi, mungkin kau hanya bisa mengakses data dari dunia ini saja dan tidak bisa pakai hp milikmu," ujar Logan yang kebetulan sedang lewat sana.


"Oh ... Kak-" Raihan menggantungkan sapaannya sendiri karena memang belum hafal nama keluarga Rumi.


"Logan," ungkapnya


"Oh, ya ... Kak Logan. Maaf, aku lupa," kata Raihan


"Apa kau mau kupinjamkan laptop?" tanya Logan


"Mau dong, Kak," jawab Raihan dengan cepat.


"Ayo, ikut ke kamarku. Kita ambil dulu laptop di sana," ujar Logan


"Oke, Kak Logan," kata Raihan


Keduanya pun beralih menuju ke kamar Logan.


"Heran, deh. Di sini gak ada HP, tapi ada laptop," gumam Raihan


"Memang tidak ada hp, tapi selain laptop di sini juga ada telepin rumah dan komputer bahkan alat komunikasi (earpod) nirkabel. Memangnya Raisa tidak pernah cerita?" tanya Logan


"HP yang kau maksud itu sama dengan ponsel yang dikatakan oleh Raisa, kan? Kami merasa tidak membutuhkannya dengan adanya teknologi yang kami miliki sekarang," ujar Logan


"Ya, selain teknologi yang udah canggih, di sini juga ada penggunaan sihir yang mempermudah kalian. Tidak heran kalau kalian merasa tidak butuh HP atau ponsel itu," kata Raihan


"Raihan, kau tunggu di sini dulu. Akan kuambilkan laptopnya di dalam kamarku," ucap Logan


Raihan hanya mengangguk tanda mengerti. Ia pun menunggu di luar kamar Logan, sedangkan Logan berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil laptop yang akan dipinjamkan pada Raihan.


"Aku jadi merasa gak enak. Kak Logan tahu namaku, sedangkan aku sendiri gak ingat namanya," gumam Raihan


"Aku harus mulai lagi menghafal nama keluarga Kak Rumi. Ada Kak Logan, Ayah Rommy, Bibi Rina, sama dua orang yang belum ketemu lagi. Namanya ... paman Garry dan paman Johan. Hafal, tuh. Kok tadi aku bisa gak ingat nama Kak Logan, ya?" Sambil menunggu, Raihan mengoceh sendiri.


"Ini laptopnya. Kalau kau mau, kau juga bisa memilikinya," ujar Logan yang ke luar dari kamarnya sambil langsung memberikan laptop miliknya pada Raihan.


"Aku pinjam aja, gak perlu sampai Kakak kasih laptop ini buat aku," kata Raihan sambil memperhatikan bentuk laptop milik Logan yang kini berada di dalam dekapannya.


"Raihan, aku ingin tanya sesuatu padamu," ucap Logan


"Tanya aja. Silakan," sahut Raihan


"Di dalam keluargamu, selain Raisa ... apa tidak ada orang lain lagi yang punya kemampuan sihir?" tanya Logan


"Selain kak Raisa, lelaki di keluarga kami gak ada yang bisa menggunakan sihir," jawab Raihan


"Hanya lelaki? Lalu, yang perempuan?" tanya Logan


"Aku masih belum selesai ngomong. Aku gak tahu di keluarga besar kami, tapi Ibu bisa menebak sesuatu meski hanya hal kecil dan perkataannya yang remeh bisa jadi nyata seolah doa ibu pasti terkabul ... seperti itu. Kak Raina juga, ucapan sumpahnya selalu jadi nyata. Kemampuan ini sudah pasti kak Raisa juga punya. Makanya, di keluargaku, selain Bapak memang jarang marah, para perempuanlah yang paling menakutkan," ungkap Raihan


"Itu, sih ... di mana pun juga sama," gumam Logan


"Padahal yang mewarisi bakat sihir dari leluhur kami itu adalah Kakek yang notabennya adalah lelaki, tapi yang memiliki kemampuan hanya para perempuan. Kakekku dulu katanya bisa menyembuhkan penyakit orang. Memang, sih, katanya leluhur kami itu seorang Dewi yang katanya juga kekuatannya berenkarnasi ke dalam diri kak Raisa. Emangnya kak Raisa gak pernah cerita?" tanya Raihan


"Pernah, jadi kau hanya menyampaikan ulang perkataan kak Raisa-mu itu, ya? Aku hanya ingin lebih memastikannya darimu saja," ujar Logan


"Tapi, soal Ibu dan kak Raina itu benar kok. Aku udah pernah mengalaminya langsung," kata Raihan

__ADS_1


"Jadi, seperti itu ... menarik sekali," gumam Logan


Raihan mendelik begitu saja saat mendengar apa yang digumamkan oleh Logan.


"Kak Logan jangan macam-macam sama dua kakak perempuanku, ya. Kak Raina dan kak Raisa sama-sama udah punya suami. Apa lagi Ibuku," ucap Raihan


"Kak Logan bukan ingin meminjami aku laptop demi ketertarikan dengan informasi atau kakak bahkan Ibuku, kan?" tanya Raihan melanjutkan.


"Yang menarik itu informasi yang kau sampaikan padaku, bukan aku tertarik dengan kakak-kakakmu. Apa lagi Bu Vani," jelas Logan sambil terkekeh pelan.


"Bagus sekali kau tahu cara mengintimidasi orang demi melindungi keluargamu," sambung Logan


"Ya udah, aku minta maaf. Kalau begitu, aku balik ke kamar dulu dan terima kasih untuk pinjaman laptopnya. Kalau udah selesai kupakai nanti akan aku kembalikan," ujar Raihan


Raihan pun berbalik untuk beranjak menuju ke kamarnya sambil mendekap laptop milik Logan dan meninggalkan Logan begitu saja.


"Ini lebih kecil ukurannya dari laptop di sana, lebih seperti notebook," batin Raihan yang membawa laptop milik Logan pergi bersamanya.


 


Setelah menutup dan mengunci pintu kamar, Raisa kembali menghampiri Rumi yang kini telah duduk di tepi ranjang.


"Mereka berdua tadi sudah pergi. Sekarang mau bagaimana?" tanya Raisa


"Sepertinya lebih baik kita tidur siang biasa saja," jawab Rumi


"Hei ... kau tidak marah, kan, Sayang?" tanya Raisa yang memang merasa khawatir suaminya marah setelah melihat kekecewaan pada wajah sang suami saat aksi keduanya digagalkan tadi.


"Tidak kok," jawab Rumi sambil tersenyum.


Rumi pun menarik Raisa untuk merebahkan diri bersama di atas kasur.


"Aku tidak bisa marah padamu. Bisaku hanya mencintaimu," kata Rumi


Raisa terkekeh kecil.


"Kalau begitu, kau beri tahu saja padaku hal yang harus kulakukan dalan prosesi pernikahan kedua kita nantinya," ujar Raisa meminta.


"Baiklah. Akan kujelaskan padamu," kata Rumi


Rumi pun menjelaskan satu per satu tahapan yang harus dilakukannya bersama Raisa dalam prosesi pernikahan sesuai adat orang-orang di sana. Menceritakan perbedaan acara pernikahan orang biasa dengan orang yang menganut tradisi yang sangat ketat. Segala hal yang menyangkut tentang pernikahan telah Rumi beri tahukan pada Raisa.


"Aku jadi ingat saat aku harus menjelaskan tentang prosesi pernikahan di duniaku sebelum kita menikah saat itu," ucap Raisa


"Raisa, kau selalu mengetahui banyak hal tentang dunia ini, tapi kenapa kau tidak pernah tahu tentang prosesi pernikahan di sini?" tanya Rumi


"Tidak selalu dan tidak semua aku tahu. Entah kenapa yang kulihat di dalam mimpi ajaibku hanya saat pesta perayaan pernikahannya saja, kalau soal prosesi pernikahan di sini aku tidak tahu apa-apa," ungkap Raisa


Terlihat, Raisa sudah mulai mengantuk. Mungkin karena wanita itu habis mendengar penjelasan serta cerita panjang tentang pernikahan dari suaminya hingga membuatnya seolah mendengar dongeng sebelum tidur.


Kedua mata Raisa mulai sayup mengerjap perlahan. Bahkan ia juga menutupi mulut dengan telapak tangannya saat menguap karena rasa kantuk sudah menyerangnya dan mengalahkan kesadarannya yang mulai turun perlahan.


Rumi tersenyum kecil saat menyadari istri cantiknya itu sudah mulai mengantuk.


"Tidurlah, Sayang ... " kata Rumi


"Aku ingin dipeluk," pinta Raisa


"Tentu ... " patuh Rumi


Pria itu langsung menarik Raisa ke dalam pelukan hangatnya. Wanita itu menggeliat pelan mencari posisi ternyaman di dalam dekapan sang suami.


Raisa menyembunyikan dirinya dari sorotan cahaya lampu yang menerangi kamar tersebut ke dalam dekapan Rumi karena meski terganggu dengan cahaya lampu, ia adalah tipe orang yang tidak suka mematikan lampu saat tidur.


Rumi pun mengusap punggung Raisa serta sesekali membelai lembut rambut milik sang istri sambil bersenandung pelan untuk menina-bobokan istri cantiknya itu. Saat merasakan dan mendengar suara helaan nafas Raisa yang kian berhembus dengan teratur, Rumi baru menyadari bahwa sang istri telah menyelami dirinya ke dalam alam mimpi. Setelah memastikan istrinya terlelap, Rumi pun ikut memejamkan kedua matanya untuk menyusul Raisa ke dalam dunia mimpi yang indah.


Sekarang sepertinya Raisa akan sulit tidur jika tidak mendapat pelukan dari Rumi.


Keduanya pun bobok siang dengan nyenyak.


.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2