Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 80 - Jawaban Atas Lamaran.


__ADS_3

Setelah mandi, barulah Raisa merasa segar dan percaya diri menghadapi tamu pentingnya. Namun, ia tetap merasa gugup. Karena tidak biasanya Rumi datang berkunjung tanpa memberi tahunya lebih dulu dan datang ke rumah bersama Paman Elvano. Bahkan ini pertama kali Paman Elvano datang ke rumahnya.


Kini Raisa telah berganti pakaian yang lebih santai, tapi tetap terlihat sopan.


Raisa yang melihat kakak perempuannya langsung mencegah langkah kakinya dan malah menanyai keberadaan keponakannya karena merasa gugup.


"Kak Raina, Farah mana?" tanya Raisa


"Udah ... kamu gak usah cari Farah, dia masih anteng main sama Raihan. Lebih baik kamu temui tamu yang datang buat kamu. Kayaknya ada urusan penting," jawab Raina


"Tapi, jarang banget seperti ini. Rumi sampai ajak Paman Elvano yang belum pernah datang ke sini. Kira-kira ada hal apa, ya?" tanya Raisa


Raina pun menggeleng pelan sambil mengangkat kedua bahunya pertanda tidak tahu. Meski hanya berpura-pura.


"Kamu gugup, ya?" tanya balik Raina


Raisa mengangguk kecil.


"Masalahnya Paman Elvano itu salah satu orang yang dihormati di dunianya. Aku aja gugup berhadapan dengannya di dunia sana, ini malah harus berhadapan di rumah. Paman Elvano itu bisa dibilang seperti seorang guru besar. Aku juga suka berlatih dengannya," jelas Raisa


"Iya-iya, penjelasannya nanti aja. Sekarang kamu temui mereka dulu. Santai aja ... jadi diri kamu seperti biasanya," kata Raina


Raina pun mendorong Raisa untuk melangkah maju. Dengan perasaan gugup, Raisa pun melangkah menuju ruang tamu.


Rumi pun langsung tersenyum begitu melihat sosok Raisa yang muncul di sana.


"Raisa, sini duduk di dekat Ibu dan Bapak, Nak ... " pinta Bu Vani


Raisa mengangguk kecil. Ia pun berjalan mendekati kedua orangtua dan beranjak duduk di tengah-tengah antara Bu Vani dan Pak Hilman, di hadapan Rumi dan Paman Elvano.


"Maaf sudah membuat semua menunggu lama," kata Raisa


"Tapi, sebenarnya ada apa, ya ... sampai Rumi datang bersama Paman Elvano?" tanya Raisa melanjutkan.


"Kenapa? Memangnya aku tidak boleh datang berkunjung ke rumahmu, Raisa?" tanya balik Paman Elvano


"Tidak, maksudku bukan seperti itu. Ini pertama kali Paman berkunjung ke rumah, aku jadi merasa tidak enak karena saat kalian datang aku malah sedang tidak ada di rumah dan jadi membuat kalian harus menunggu," jelas Raisa


"Aku yang datang bertamu ke rumahmu, tapi malah kau yang merasa tegang. Santailah dan tenangkan dirimu," kata Paman Elvano


Meski percakapan antara Raisa dan Paman Elvano terdengar agak canggung, Bu Vani dan Pak Hilman bisa tahu kalau keduanya cukup akrab dan putrinya diperlakukan dengan baik. Mungkin terdengar seperti canggung, tapi sebenarnya itu adalah percakapan yang santai. Hanya saja memang bahasa yang digunakan lebih baku dari pada yang sering terdengar.


Raisa tersenyum tipis berusaha menenangkan dirinya. Namun, dengan suasana yang terasa canggung di ruang tamu itu membuatnya tidak bisa lepas dari perasaan gugup.


Rambut Raisa tergerai bebas dan terlihat baru saja dikeringkan. Bu Vani membelai rambut panjangnya itu yang bahkan menutupi punggungnya dengan satu tangannya. Bu Vani juga menggenggam tangan Raisa yang berada di pangkuan putrinya itu dengan satu tangan lainnya.


Melihat itu, kalau saja hanya sedang berdua dengan Raisa, Rumi ingin menggantikan Bu Vani melakukan apa yang dilakukan wanita paruh baya itu pada putrinya yang sejatinya adalah gadis pujaan hatinya. Namun, Rumi berusaha menahan dirinya atas keinginannya itu.


Mengetahui sang ibu akan angkat bicara, Raisa langsung menatap Bu Vani dengan seksama untuk mendengarkan ucapannya.


"Raisa, Ibu dan Bapak udah bicara sama Rumi dan Elvano. Maksud tujuan kedatangan mereka berdua ke sini hari ini adalah karena Rumi ingin mempersunting kamu sebagai istrinya," ungkap Bu Vani


Mendengarnya, Raisa pun merasa terkejut dan langsung membulatkan kedua matanya. Merasa tak percaya dengan apa yang baru saja didengar olehnya, Raisa bahkan mengulang poin penting dari kalimat yang diungkapkan sang ibu tadi.


"Mempersunting-"


"APA!? Tunggu dulu ... jadi, maksudnya Rumi ingin-" Lagi-lagi Raisa menggantungkan kalimatnya.


Tatapan Raisa pun beralih pada dua tamu penting hari ini seolah menunggu penjelasan lebih. Namun, Rumi hanya terus tersenyum menatapnya dan Paman Elvano pun hanya menunjukkan ekspresi wajah datarnya yang santai.


"Ya, Raisa. Hari ini Rumi datang untuk melamar kamu untuk jadi istrinya dan ingin menikah sama kamu," jelas Pak Hilman


Raisa sudah menduga maksud kedatangan Rumi bersama Paman Elvano tidaklah sederhana, tapi ia juga tidak menyangka jika yang dimaksud adalah untuk melamar dirinya.


Raisa mengerjapkan kedua matanya, bingung harus bagaimana merespon atau bicara menanggapi topik pembicaraan yang sangat penting itu.


"Terus?" Seolah merasa linglung, Raisa malah bertanya dengan perasaannya yang sedang bingung.

__ADS_1


Melihat Raisa yang jelas tampak kebingungan membuat Paman Elvano tersenyum kecil. Baru kali ini, pria itu melihat Raisa merasa bingung. Karena biasanya ia hanya melihat ekspresi Raisa yang ceria dan bersikap berani tanpa merasa gentar. Meski pernah sekali, ia melihat Raisa yang sedang tidak merasa percaya diri dan sedih.


"Lho, kenapa kamu malah nanya? Kita semua di ruang tamu ini menunggu jawaban kamu atas lamaran dari Rumi," ujar Pak Hilman


"Jadi, gimana, Nak? Apa jawaban kamu atas lamaran yang datang dari Rumi hari ini? Kamu terima atau enggak?" tanya Bu Vani


Raisa baru benar-benar tersadar saat berulang kali mendengar kata lamaran yang diucapkan oleh Ibu dan Bapak-nya. Mendadak gadis cantik itu merasa terharu. Namun, ia merasa dilema karena tidak tahu tanggapan kedua orangtuanya tentang hubungan yang dijalaninya dengan Rumi. Terlebih lagi, Raisa merasa khawatir kedua orangtuanya itu tidak setuju dengan hubungan asmara mereka berdua.


Merasa terharu mengetahui dirinya dilamar oleh lelaki yang sangat dicintainya sekaligus merasa khawatir mengenai restu kedua orangtuanya yang seolah tak pasti, Raisa jadi ingin menangis. Namun, sebisa mungkin ia mengendalikan emosinya dan menahan tangisnya.


Dilihatnya, semua yang ada di sana menantikan jawaban langsung dari mulut Raisa. Terutama Rumi yang tampak menatapnya dengan penuh harap sekaligus cemas.


"Apa Ibu dan Bapak akan memberi restu kalau Raisa terima lamaran dari Rumi?" tanya balik Raisa


"Ditanya jawaban tentang lamaran, kamu malah tanya balik tentang restu. Emangnya kalau Bapak dan Ibu gak kasih restu, kamu bakal tolak lamaran dari Rumi dan gak akan nikah sama dia? Rumi sangat yakin kamu mencintai dia. Bukannya kamu cinta sama lelaki yang ada di depan kamu ini?" tanya balik Pak Hilman


"Entahlah. Ini bukan soal perasaanku, tapi bagiku restu dari orangtua juga penting," jawab Raisa


"Tapi, kalau aku gak menikah dengan Rumi, mungkin aku juga gak akan menikah dengan lelaki mana pun," sambung Raisa


Semua merasa terkejut dengan jawaban yang ke luar dari mulut Raisa. Mungkin sudah jelas tentang jawaban Raisa atas lamaran dari Rumi, tapi kini semua menjadi berpusat pada kedua orangtua Raisa dan menunggu restu dari keduanya.


Pertahanan Raisa runtuh seketika. Air matanya menetes ke luar dari pelupuk matanya. Kali ini bukan lagi masalah rasa haru atas lamaran yang datang dari lelaki yang sangat dicintainya atau rasa cemas menanti restu dari kedua orangtuanya. Melainkan rasa sedih dan sakit hati saat dirinya harus mengatakan kemungkinan yang sangat tidak diinginkannya untuk terjadi.


"Hush ... dilarang bicara seperti itu, Bapak juga. Kenapa malah nanya seperti itu, sih? Dengar, ya, Raisa ... bagi kami berdua sebagai orangtua, kebahagiaan kami adalah melihat anaknya bahagia. Itu yang paling penting," ujar Bu Vani


"Kalau Ibu dan Bapak tidak merestui hubungan ini, maka kalian hanya akan melihat aku tidak bahagia. Karena kebahagiaanku adalah saat bersama Rumi dan saat memberi dan menerima cinta satu sama lain dengannya. Aku akan merasa bahagia jika bisa menikah dengannya," ungkap Raisa


"Kata-katamu dipenuhi dengan ancaman bagi orangtuamu. Raisa, kau tidak boleh seperti itu," tegur Paman Elvano


"Aku juga tidak ingin bicara seperti tadi, Paman. Dengan mengatakannya saja hatiku terasa sangat sakit. Namun, aku sungguh hanya ingin berkata jujur dari dalam hatiku," kata Raisa yang memaksakan untuk tersenyum di tengah tangisannya.


"Jangan menangis, Raisa. Hatiku sakit saat melihatmu bersedih," pelan Rumi


Raisa pun menghapus air matanya saat melihat Rumi ikut bersedih karena dirinya. Namun, tetap saja... air matanya terus mengalir membasahi kedua pipinya.


Raisa menghapus air matanya lagi sebelum menjawab lamaran dari Rumi untuknya. Karena gadis cantik itu tidak ingin menjawab lamaran itu dengan air mata.


"Ya. Aku terima lamaran Rumi untuk menjadi istrinya. Aku ingin menikah dengannya," ucap Raisa sambil tersenyum bahagia.


Bu Vani dan Pak Hilman ikut tersenyum senang saat melihat putrinya tersenyum dengan bahagia.


Rumi pun ikut merasa senang. Itu sudah sangat jelas karena lamarannya diterima oleh gadis yang sangat dicintainya.


"Kamu udah terima lamarannya bahkan bilang ingin menikah dengannya, kami berdua sebagai orangtua mau gimana lagi selain bisa merestui? Seperti kata Ibu, kebahagiaan orangtua adalah melihat anaknya bahagia," ujar Pak Hilman


"Kami merestui kalian berdua," sambung Pak Hilman


Bu Vani pun mengangguk-anggukkan kepalanya untuk ikut membenarkan perkataan Pak Hilman.


Seketika saja, air mata Raisa kembali terjatuh lagi. Namun, kali ini adalah tangis haru bahagia yang sebenarnya.


"Jangan nangis, Nak. Kami merestui pernikahan kalian," kata Bu Vani sambil bergerak menghapus air mata Raisa dengan jari jemari tangannya.


Bu Vani pun memeluk anak gadisnya serta mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang.


"Aku bahagia, Bu. Harapanku dan kalian bisa terwujud. Aku bisa terus merasa bahagia," bisik Raisa


Raisa pun melepaskan pelukan sang ibu dan beralih memeluk sang ayah.


"Terima kasih, Pak ... " ucap Raisa


"Ya, Raisa. Teruslah berbahagia demi kami berdua juga," balas Pak Hilman sambil ikut membalas pelukan putrinya.


"Bapak, ngerjain aku, ya? Pakai acara bilang mau gak kasih restu segala?" tanya Raisa saat melepas pelukan pada Pak Hilman.


"Siapa yang suruh ... ditanya jawaban soal lamaran malah muter-muter jadi nanyain restu," kata Pak Hilman sembari mencolek pucuk hidung milik Raisa.

__ADS_1


Lagi-lagi Paman Elvano tersenyum tipis. Ia ikut merasa senang melihat hubungan antara kedua orangtua Raisa dan Raisa terlihat begitu baik dan akrab. Bahkan ia merasa agak iri karena hubungannya dan Aqila tidak bisa seakrab itu karena dirinya yang selalu sibuk bekerja jauh dari rumah.


Prosesi lamaran hari ini pun berlangsung dengan penuh drama. Namun, untungnya lamaran tersebut berjalan mulus dan berakhir sukses.


"Terlepas soal restu, apa Ibu dan Bapak bisa terima Rumi untuk jadi calon suami Raisa? Kan, kalian belum saling kenal?" tanya Raisa


"Pendapat Ibu dan Bapak soal Rumi, bagiku juga sama pebtingnya seperti restu kalian," sambung Raisa bermaksud meminta kedua orangtuanya untuk menjawab pertanyaan darinnya.


"Bagi Ibu dan Bapak, cukup dengan kamu saling mengenal dengan Rumi dan bahagia saat bersamanya. Kami gak perlu lagi mengenal Rumi dari awal karena kami percaya kalau kamu bisa memilih yang terbaik untuk diri kamu sendiri. Toh, tadi Rumi juga udah menjelaskan seperti apa dirinya," jawab Bu Vani


"Kalian berdua emang cocok, ya. Tadi Rumi juga sempat bicara tentang ini. Kami bicara tentang banyak hal tadi," kata Pak Hilman


"Apa saja yang kalian bicarakan saat aku tidak ada tadi?" tanya Raisa


"Akan jadi sangat panjang jika kami harus mengungkapkannya lagi padamu. Untuk hal ini dilewatkan saja dan kau tidak perlu tahu. Yang penting lamaran hari ini telah sukses," jawab Paman Elvano


"Terima kasih karena sudah mau merima lamaran dariku, Raisa. Terima kasih juga untuk Bibi dan Paman yang sudah berbesar hati menerima saya apa adanya dan memberi restu pada hubungan kami berdua," ucap Rumi


"Terima kasih juga karena sudah memberanikan diri untuk datang dan melamarku ke rumah hari ini," ucap Raisa


Raisa dan Rumi sama-sama tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Bu Vani dan Pak Hilman yang ikut merasa senang.


"Kau juga, Rumi. Kenapa datang tidak beri tahu aku dulu? Apa lagi kau datang bersama Paman Elvano. Kalau tahu kalian akan datang, kan, aku bisa minta izin pulang kerja lebih cepat dan kalian tidak perlu repot menunggu lama," protes Raisa


"Aku hanya ingin lamaranku ini jadi kejutan untukmu. Tidak masalah jika aku harus menunggu," kata Rumi


"Dasar, kau ini. Padahal aku sudah sering membuatmu menunggu. Selamat ... usahamu yang ingin membuatku terkejut telah berhasil," ujar Raisa


"Rasanya penantianku selama ini telah terbalas. Aku merasa sangat senang," ungkap Rumi


Jelas sekali terlihat bahwa dua sejoli itu terlihat bahagia.


"Lalu, gimana dengan rencana pernikahan kalian berdua?" tanya Pak Hilman


"Soal itu ... Rumi, sebagai permintaan dariku, aku ingin kita menikah di sini. Di duniaku," pinta Raisa


"Aku mengerti. Aku sudah menduga kau akan meminta hal ini dan aku setuju," ucap Rumi


"Untuk itu aku ada di sini untuk membantu Rumi sebagai walinya. Aku akan membantu setidaknya sedikit dalam hal persiapan pernikahan kalian berdua," kata Paman Elvano


"Kalau begitu, aku mohon bantuanmu, Paman Elvano ... " ujar Raisa


"Tidak perlu sungkan. Di dunia kami, kau sudah sangat berjasa karena telah membantu banyak hal. Sudah seharusnya aku membalas kebaikanmu," ucap Paman Elvano


"Padahal aku tidak ingin kau berbuat seperti ini, Paman. Seperti katamu, aku hanya sekadar membantu dan tidak lebih dari itu," kata Raisa


"Kalau begitu, anggap saja aku membantu karena kalian adalah teman Aqila yang juga ikut membantu persiapan pernikahannya. Bagiku, kau juga sudah kuanggap seperti anakku sendiri, Raisa ... " ujar Paman Elvano


"Terima kasih. Aku senang sekali mendengarnya," ucap Raisa


Paman Elvano hanya mengangguk kecil.


Bu Vani dan Pak Hilman merasa senang karena ternyata benar... di dunia sana Raisa telah dianggap seperti bagian dari keluarga. Artinya Raisa selalu mendapat perlakuan baik.


"Kapan rencananya kalian akan melangsungkan pernikahan? Rumi tadi bilang, sudah menunggu sampai bilang seperti penantian. Bukannya lebih cepat lebih baik?" tanya Pak Hilman


"Saya pun berpikir seperti itu. Tapi, banyak hal yang harus disiapkan dengan baik. Jadi, tidak apa jika harus menunggu sedikit lebih lama demi mewujudkan pernikahan yang membahagiakan," jawab Rumi


"Itu pemikiran yang bagus. Persiapkanlah pernikahan kalian dengan sebaik mungkin," kata Bu Vani


Rumi pun mengangguk patuh dengan perkataan sang calon ibu mertua


.



Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2