
Usai makan siang, seperti yang direncanakan, Raisa pun beranjak ke dalam kamarnya untuk tidur siang. Awalnya Rumi menemani sang istri hingga terlelap. Namun, saat Raisa tertidur, Rumi pun kembali beranjak ke luar dari dalam kamar.
"Kak Rumi, kak Raisa mana?" tanya Raihan
"Raisa sedang tidur siang di dalam kamar," jawab Rumi
"Kak Rumi gak ikut tidur siang juga?" tanya Raihan
"Tidak," jawab Rumi dengan singkat.
Raihan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Apa yang sedang kau lakukan, Raihan?" tanya Rumi yang melihat Raihan sedang memangku sebuah laptop.
"Hanya mencari kegiatan dengan bermain laptop," jawab Raihan
"Terima kasih karena sebelumnya juga udah kasih aku pinjam laptop Kak Rumi," sambung Raihan
"Tidak masalah," kata Rumi
Rumi pun duduk di samping sang adik ipar lelaki. Raihan melirik ke arah sang kakak ipar yang duduk di sampingnya.
"Kak Rumi udah pernah jalan-jalan di sini sama kak Raisa, kan? Udah pernah jalan-jalan sampai mana? Udah tahu tempat apa aja?" tanya Raihan
"Entahlah. Kami berdua memang pernah jalan-jalan, tapi yang kutahu saat itu kami singgah ke pusat perbelanjaan untuk berbelanja dan menonton film di bioskop. Di sini pusat perbelanjaan itu disebut dengan mall," jelas Rumi
"Pasti Kak Rumi hanya terima ajakan kak Raisa aja. Emang khas kak Raisa banget. Pantas aja pas di Desa Daun Kak Raisa hanya terpikir untuk ajak kami belanja dan nonton film di bioskop, ternyata itu pengalaman kencan kalian berdua," ucap Raihan
"Dalam hal ini kalian berdua emang cocok dan serasi banget," sambung Raihan
Merasa tidak enang mengabaikan kakak iparnya yang duduk bersebelahan dengannya, Raihan pun mendapat ide.
"Kan, kalau kak Raisa punya mata uang dunia sana karena ikut kerja menjalankan misi. Kalau Kak Rumi punya mata uang dunia sini juga gak?" tanya Raihan
"Ada, aku pernah ikut pemotretan bersama Raisa dan dapat upah, tapi upah itu kuberikan pada Raisa. Itu pun sepertinya hanya sedikit," jelas Rumi
"Aku ingat, Kak Rumi juga punya HP, kan? Udah tahu cara cari lokasi atau pergi ke suatu lokasi pakai aplikasi pemesanan kendaraan gak?" tanya Raihan
"Maksudnya ponsel, ya? Ada kok. Raisa juga sudah mengajariku cara menggunakan berbagai macam aplikasi online," jawab Rumi
"Oke, bagus. Kalau begitu, coba lihat sini, Kak. Aku bantu carikan lokasi yang bagus dan romantis untuk kencan dengan biaya yang hemat dan terjangkau di sekitar sini. Terus, mungkin Kak Rumi bisa jadiin tempat yang aku carikan ini sebagai referensi untuk cari tempat yang serupa di dunia sana juga. Jadi, kalau kalian berdua mau kencan gak akan bosan sama tempat yang itu-itu doang," ujar Raihan
"Benar juga, itu ide bagus. Bagaimana bisa kau punya pemikiran seperti ini, Raihan? Apa kau juga sudah punya pacar?" tanya Rumi
"Sebenarnya, aku belum punya pacar, sih, Kak ... tapi, kalau soal cari-cari hal seperti ini gak harus punya pacar kali, kan, bisa aja buat liburan bareng keluarga. Lagi pula, untuk hal seperti ini hanya butuh keterampilan dan pengalaman menggunakan teknologi sumber informasi. Kak Raisa dan Kak Rumi aja yang terlalu lurus sampai pikirannya cuma ada kerja doang," jawab Raihan
"Kalau kata orang, kehidupan pekerjaan dan asmara itu harus seimbang ... supaya gak stress," sambung Raihan
"Selain saat menjalankan misi, aku dan Raisa juga sering meluangkan waktu berdua kok. Hanya saja kami berdua beranggapan, di mana pun kami berada asalkan bisa bersama, itu adalah tempat yang indah dan kami tidak peduli dengan hal lain lagi selain fokus pada satu sama lain," ucap Rumi
"Namun, terima kasih karena sudah mau membantuku mencari lokasi yang bagus untuk kami berkencan nantinya," sambung Rumi
"Sama-sama. Anggap aja ini balasan aku yang udah pernah dikasih pinjam laptop sebelumnya," sahut Raihan
"Kalau dipikir-pikir, kayaknya aku lumayan sering dengar kata-kata manis dari Kak Rumi. Padahal kayaknya dari yang terlihat Kak Rumi itu bukan tipe orang yang suka atau bisa gombal. Apa kak Raisa yang ajari Kak Rumi menggombal seperti itu?" tanya Raihan
"Entahlah, sepertinya tidak juga. Namun, karena kami berdua sama-sama berusaha ingin menjadi pasangan yang baik untuk satu sama lain, jadi tak sangka yang ke luar selalu kata-kata yang manis guna menyenangkan hati pasangan antara satu sama lain," jawab Rumi
"Begitu, ya. Tapi, sepertinya orang pertama yang mengeluarkan kata-kata manis itu kak Raisa, deh ... " ujar Raihan
"Ya ... dan aku merasa senang begitu mendengar kata-kata manis dari mulutnya saat itu. Bahkan aku masih mengingat saat-saat itu hingga saat ini," gumam Rumi
Rumi pun kembali fokus menatap layar laptop bersama Raihan. Melihat destinasi lokasi yang bagus untuk pasangan. Namun, tiba-tiba saja pria itu terpikirkan sesuatu di dalam benaknya.
"Aku merasa sangat senang saat mendengar kata-kata manis dari Raisa, tapi apa aku adalah orang pertama yang mendengar kata-kata manis dari Raisa?" batin Rumi
__ADS_1
"Raihan, apa Raisa memang sering mengucapkan kata-kata manis? Maksudku dengan lelaki lain selain dengan keluarga?" tanya Rumi
"Huh, selama ini aku cuma sering mendengar celaan dari kak Raisa. Kak Raisa jarang kasih aku pujian kecuali lebih dulu mencela atau meledek, itu dulu. Sekarang gak lagi, meski jadinya jarang dengar pujian atau celaan dari kak Raisa karena sibuk kerja. Kami itu gak akur untuk jadi akur. Kami saling meledek karena merasa gengsi kalau mengungkap rasa sayang persaudaraan kami. Kak Raisa itu orang yang tipe punya gengsi yang tinggi, tapi aku gak tahu gimana kalau sama orang lain, apa lagi sama lelaki lain. Karena kak Raisa jarang punya teman lelaki," ungkap Raihan
"Sepertinya aku pernah dengar kalau Raisa punya bekas pacar. Apa kau tahu siapa atau seperti apa orangnya?" tanya Rumi
"Maksudnya mantan pacar, ya ... aku gak tahu kalau kak Raisa pernah pacaran sebelumnya selain sama Kak Rumi. Yang aku tahu cuma kak Raisa pernah suka sama anak kedua tetangga persis sebelah kanan rumah ini. Namanya Arga, umurnya satu tahun lebih tua dari pada kak Raisa," jawab Raihan
"Begitu, rupanya ... " kata Rumi
...
Sore harinya, Raisa dan Farah terbangun di saat yang bersamaan. Namun, bedanya jika Farah langsung mencari keberadaan Sang Mami, sedangkan Raisa lebih dulu mengurus dan membersihkan diri hingga berganti pakaian sebelum menemui sang suami.
"Mami, onty Icha mana?" tanya Farah
"Jadi, sebenarnya kamu cari onty Icha atau Mami, sih?" tanya balik Raina
"Dua-duanya," jawab Farah disertai dengan kekehan imutnya.
"Onty Icha ada di dalam kamarnya. Sepertinya sedang mandi," ungkap Rumi
"Emangnya kenapa? Kok baru bangun langsung nyari onty Icha?" tanya Raina
"Aku mau ajak jalan-jalan di sekitar sini, terus beli es krim," jawab Farah
"Mandi aja belum, tapi udah mau jalan-jalan aja. Kamu gak boleh makan es krim sebelum makan nasi. Apa lagi, tadi siang kamu belum makan karena keburu tidur duluan," ucap Raina
"Ya udah, aku langsung mandi dulu, makan, terus jalan-jalan, dan beli es krim ... " ujar Farah
"Begitu baru boleh. Ya udah, kamu mandi dulu sana," kata Raina
Farah mengangguk dan langsung beranjak untuk mandi. Raina pun ikut beralih untuk mengerjakan urusan yang lain.
"Sayang, kau sudah bangun?" tanya Rumi menyambut sang istri.
"Sudah, kukira kau tidur bersama di sampingku. Kenapa kau tidak bangunkan aku?" tanya balik Raisa usai menjawab pertanyaan dari sang suami.
"Aku baru saja ingin menghampirimu di dalam kamar setelah mengobrol bersama Bapak, Raihan, dan kak Arka di teras. Ternyata, kau sudah bangun lebih dulu dan bahkan sudah terlihat sangat segar sehabis mandi," jawab Rumi
Rumi mendekat ke arah Raisa dan merangkul pinggang istrinya dengan mesra. Saat itu kondisi rumah sedang legang karena yang lain sibuk dengan urusan masing-masing.
Rumi bahkan tak segan-segan mendunduk untuk menghirup aroma wangi pada wajah hingga turun ke leher Raisa.
"Rumi, jangan seperti ini. Bagaimana kalau ada yang melihat? Akan tidak sopan jadinya. Ingat ini bukan di rumah kita sendiri," tegur Raisa
"Sepertinya yang lain sedang sibuk," kata Rumi
"Tidak bisa seperti ini. Kau belum mandi, kan? Mandilah dulu, akan aku siapkan air hangat untukmu," ujar Raisa
"Baiklah," patuh Rumi
Pasangan suami istri itu pun masuk ke dalam kamar. Raisa menyiapkan air hangat untuk sang suami mandi, sedangkan Rumi bergerak patuh untuk mandi setelah sang istri menyiapkan air mandi untuknya.
Rumi meminta Raisa menunggunya hingga usai mandi dan wanita itu pun patuh menunggu sambil duduk di tepi ranjang setelah menyiapkan pakaian ganti untuk Rumi sehabis mandi.
Setelah ke luar dari kamar mandi, Rumi pun mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh Raisa sambil dibantu sang istri hingga berpakaian dengan rapi.
Begitu selesai berpakaian, Rumi langsung menarik tengkuk Raisa untuk mengajak istrinya berciuman panas.
Inilah alasan Rumi dengan patuhnya menuruti perkataan Raisa untuk segera mandi. Karena untuk bisa mandi pria itu akan masuk ke dalam kamar sang istri yang sudah terdapat kamar mandi di dalamnya. Lalu, dengan Raisa yang ikut masuk ke dalam kamar bersamanya bahkan hingga menunggunya selesai mandi, maka Rumi bebas berbuat apa saja dengan sang istri tanpa harus khawatir dipergoki orang lain atau merasa tidak enak atau tidak sopan karena sikap mesra antara dirinya dan Raisa.
Beralih dari bibir manis sang istri, Rumi menjelajah turun ke leher Raisa, terus bergerak turun hingga membuka kancing kemeja rumahan istrinya itu untuk mengeksplor lebih.
Rumi mengecupi dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri yang sangat disukainya itu. Hingga akhirnya Raisa mengeluarkan suara lenguhan yang sedari tadi ditahan olehnya.
__ADS_1
"R-rumi ... hen-tikan! Aku dan kau baru saja mandi," pinta Raisa
Kali ini, Rumi tidak mengindahkan perkataan Raisa dan tetap asik pada kegiatannya sendiri.
"Aku hanya ingin menghirup aroma tubuhmu, aku sangat suka hingga sepertinya membuatku candu," ungkap Rumi di sela keasyikannya.
Posisi keduanya saling berpelukan mesra dengan punggung Raisa yang menempel pada lemari pakaian dan sepertinya wanita itu bahkan sudah mulai tak sanggup untuk berdiri lebih lama.
"Cukup, Sayang ... pakaian kita bahkan sudah berantakan," ujar Raisa
"Sebentar, Sayang ... " kata Rumi
"Tapi, AHH ...."
Namun, sepertinya Raisa merasa kecewa saat Rumi menarik diri dan mengakhiri kegiatan asik pada tubuhnya tanpa berniat melanjutkannya ke tahap selanjutnya.
Bukan tidak ingin berbuat lebih, tapi sepertinya pasangan suami istri itu sudah terlalu sering melakukannya pada minggu ini. Rumi ingat jika tidak boleh sering melakukannya karena memang tidak baik. Pria itu tidak ingin sesuatu terjadi pada istri tercintanya.
"Baiklah, tapi setidaknya aku ingin meminta ciuman darimu lagi," pinta Rumi
Raisa tersenyum. Ia memang membutuhkan pengalihan dari rasa kecewanya karena aksi Rumi yang dihentikan. Rumi pun tetap butuh asupan meski bukan hubungan intim. Ciuman adalah win-win solution untuk keduanya. Solusi terbaik bagi pasangan suami istri yang sudah dimabuk oleh cinta.
Saat Rumi mengajaknya untuk kembali berciuman, Raisa pun tak segan-segan mengalungkan kedua tangannya pada leher Rumi dan membalas ciuman yang dimulai oleh sang suami dengan tak kalah panas dari ciuman yang sebelumnya.
Ciuman pun berakhir dengan keduanya saling tersenyum puas penuh cinta.
"Aku tak pernah bosan mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu," ucap Rumi
"Aku pun tak pernah bosan untuk memberi, menerima, dan membalas cinta denganmu," balas Raisa
Raisa dan Rumi pun saling merapikan pakaian masing-masing hingga akhirnya beranjak ke luar dari kamar bersama.
Begitu ke luar dari kamar, Farah langsung menghampiri Raisa dan Rumi.
"Onty Icha, Uncle Rumi!" seru Farah menyapa dengan mulut penuh berisi makanan.
"Ada apa, Sayang?" tanya Raisa
"Aku lupa memberi tahu padamu. Katanya, Farah ingin mengajakmu jalan-jalan di sekitar sini dan pergi beli es es krim bersama," ungkap Rumi membantu menjawab karena sepertinya Farah kesulitan untuk bicara dengan mulutnya yang penuh dengan makanan itu. Farah pun mengangguk untuk membenarkan perkataan Rumi.
"Emang Farah udah selesai makan? Tadi siang Farah udah gak makan, kalau mau makan es krim harus makan dulu," ujar Raisa sambil bertanya.
"Belum selesai, aku masih lagi makan tinggal sedikit lagi," kata Farah menjawab.
"Ya udah, habiskan dulu makannya. Jangan terburu-buru nanti bisa tersedak. Tenang aja Onty Icha dan Uncle Rumi tunggu kok, gak akan ditinggal," ucap Raisa
Farah mengangguk pelan. Gadis kecil itu pun berlarian kecil kembali ke tempat ia meninggalkan makanan miliknya dan melanjutkan makan dengan tenang di sana.
Raisa dan Rumi pun menunggu hingga Farah selesai makan.
Usai makan, Farah langsung mengajak Raisa dan Rumi untuk ke luar dari rumah.
"Farah, gak mau istirahat dulu? Bukannya baru selesai makan? Emang perutnya gak merasa begah?" tanya Raisa
"Gak kok. Katanya, jalan-jalan habis makan itu juga baik untuk pencernaan, lho ... " jawab Farah
"Farah, pintar ... tapi, jangan lari-lari, ya. Nanti perutnya malah sakit," kata Raisa
Farah pun mengangguk tanda mengerti dengan patuh.
.
•
Bersambung.
__ADS_1