Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
99 - Makan Bersama Keluarga Raisa.


__ADS_3

Setelah Raihan memberi tahu bahwa kakaknya, Raina telah tiba datang di rumah, Raisa langsung terburu untuk menjemput kedatangan di luar rumah.


Setelah menemui keluarga kecil kakaknya yang telah datang, Raisa pun beralih menggendong keponakan kecilnya...


"Oh, ya, Ibu di mana?" Tanya Raina


"Ada di dapur lagi siapkan makanan, soalnya ada tamu juga yang datang." Jawab Raisa


"Oh, ya udah. Kakak bantu Ibu dulu deh di dapur." Kata Raina yang langsung beranjak masuk ke dalam rumah dan menuju ke dapur.


"Farah, ikut Aunty ya. Ketemu sama teman-teman Aunty. Ramai loh, ada banyak teman Aunty yang datang. Kita bisa main sama-sama." Ujar Raisa


"Iya, Onty! Falah suka main lame-lame, banyak olang makin asik mainnya." Girang Farah


"Kak Arka ikut kamu ya, Sa. Pada ngumpul di mana tamunya?" Ujar Kakak ipar Raisa, Arka.


"Di halaman belakang, Kak. Ayo, ikut aja." Kata Raisa


Raisa bersama Farah di dalam gendongannya dan Arka pun beralih menuju ke halaman belakang tempat semuanya berkumpul.


"Halo, semua! Perkenalkan, namanya Farah." Ujar Raisa


"Farah, sapa semuanya dong." Pinta Raisa


"Halo, semuanya... Nama aku Falah!" Sapa Farah memperkenalkan diri.


"Siapa anak kecil ini, Raisa?" Tanya Aqila


"Bagaimana kalau kubilang ini anakku?" Ujar Raisa


"Farah... Ayo, panggil Aunty Mama." Pinta Raisa


"Mama, aku sayang Mama!" Panggil Farah yang langsung memeluk leher Raisa di dalam gendongannya.


"Enak aja, itu anakku!" Kata Arka yang mengikuti Raisa dari belakang.


Rumi yang melihatnya langsung mengerutkan dahinya.


"Anak?! Siapa lelaki itu? Jika, itu anak Raisa dan juga anak lelaki itu, berarti dia anak mereka berdua? Tapi, Raisa mana mungkun sudah punya anak?!" Batin Rumi yang mulai salah paham lagi.


Seperti Rumi yang kebingungan, semua temannya yang lain pun merasa heran dan bertanya-tanya di dalam benak mereka.


"Haha, bercanda! Ini keponakanku, anak dari kakak perempuanku. Lelaki di belakangku itu Ayahnya, namanya Arka, kakak iparku, suami kakak perempuanku. Farah biasanya memanggilku dengan sebutan Aunty, sebutan ini memiliki arti yang sama seperti Tante atau Bibi." Jelas Raisa


"Oh..."


"Keponakanmu lucu sekali, Raisa!" Sanjung Amy


"Gadis kecil yang menggemaskan!" Kata Chilla


"Farah, bisa panggil teman-teman Aunty Bibi untuk yang cewek, dan Paman untuk yang cowok. Mengerti kan?" Ujar Raisa


"Ngelti, Onty!" Kata Farah


"Kita duduk bareng-bareng ya, Farah? Mau Aunty pangku atau duduk sendiri? Kak Arka, juga duduk aja sini." Ujar Raisa yang mengajak Farah dan Arka duduk bersama yang lain.


"Aku duduk sendili aja, Onty. Aku kan udah besal, tapi aku mau duduk dekat Onty." Kata Farah


Raisa pun duduk dan menduduki Farah di dekatnya. Arka pun ikut duduk bersama...


"Keponakanmu masih belum bisa bicara 'R' ya, Raisa? Berapa usianya?" Tanya Wanda


"Umul ya, Bibi? Aku udah 3 tahun lebih! Aku cantik kan?" Ujar Farah


"Iya, cantik sama seperti Onty-nya." Kata Rumi


"Kenapa aku selalu salah paham dengan Raisa dan orang di sekitarnya? Ada apa denganku? Aku kan tidak boleh dengan mudahnya merasa cemburu!" Batin Rumi


"Wah, Makasih! Paman juga ganteng!" Ucap Farah


"Terima kasih kembali! Kau sudah menjadi seorang Bibi di usiamu ini ya, Raisa? Berarti kau seorang Bibi Kecil. Lucu sekali!" Ujar Rumi


"Hei, Farah itu cantik karena gennya menurun dari kakak yang ganteng. Gak ada pengaruh dari Aunty-nya!" Elak Arka


"Farah cantik karena Mami-nya yang cantik! Mami-nya cantik sama seperti aku karena kami kakak beradik. Kak Arka, baru yang gak berpengaruh sama cantiknya Farah. Bwleh!" Ucap Raisa


"Memangnya kenapa kalau aku sudah jadi seorang Bibi di usia ini? Adikku saja sudah jadi seorang Paman di usianya yang masih 11 tahun..." Ujar Raisa


"Sebenarnya berapa usiamu, Raisa? Karena katanya gosip yang muncul di sekolahmu karena kau masuk sekolah itu di usiamu yang lebih tua setahun dari yang lain kan?" Tanya Morgan


"Usiaku 19 tahun, lebih tua dari kalian dua tahun. Biasanya kelas akhir di tingkat sekolahku berusia 18 tahun, ini karena aku telat daftar sekolah disebabkan sakit yang kuderita demi menerima tadirku yang memperoleh dan memiliki kemampuan sihir. Apa kalian terkejut saat mengetahui usia asliku?" Ungkap Raisa


"Tidak juga. Aku juga berusia 19 tahun, berbeda dari yang lain." Kata Billy

__ADS_1


Ya, Billy memang sedikit berbeda. Ia pernah tidak lulus ujian tertulis di akademi walau ujian prakteknya selalu lulus, itu tidak bisa dihitung sebagai kelulusan dan menyebabkan ia mengulang masa akademinya selama dua tahun...


"Hal yang kau alami ini juga masih umum terjadi kok, Raisa. Kami tidak terkejut, kami bisa memakluminya." Ujar Dennis


"Kukira kalian jadi tak ingin berteman denganku lagi setelah mengetahui usiaku." Ucap Raisa


"Tidak perlu sampai seperti itu kan? Pemikiran kami ini tidak dangkal hanya karena hal seperti itu! Usiaku sih masih 16 tahun dan lebih muda dari pada kalian semua." Ujar Sandra


"Raisa, kamu kok... Mereka tahu kamu bisa sihir? Apa mereka ini...-"


"Iya, Kak. Mereka semua teman-temanku yang datang dari dimensi dunia lain." Ungkap Raisa yang memotong ucapan kakak iparnya yang menggantung karena bertanya-tanya.


"Pantas aja bahasa yang kamu pake dari dari terlalu baku." Kata Arka


"Iya, aku harus menyeimbangi cara bicara teman-temanku. Takutnya mereka malah tidak mengerti omonganku. Tapi, lain kali mungkin aku akan memberi tahu mereka cara bicara yang sudah umum dilakukan di sini..." Ujar Raisa


"Onty, sihil itu apa?" Tanya Farah dengan polosnya.


"Kakak iparmu sudah tahu, tapi keponakanmu masih belum ya, Raisa?" Tanya Devan


Raisa mengangguk.


"Begini, Farah... Sihir itu seperti sulap! Ya, begitu!" Ucap Raisa


"Onty bisa sulap? Temen-temen Onty juga bisa?" Tanya Farah


"Iya, Aunty sama semua teman Aunty bisa sulap." Jawab Raisa


"Aku mau lihat sulap!" Pinta Farah


"Boleh, tapi nanti ya karena sebentar lagi kita mau makan. Tapi, Farah harus janji dulu! Soal Aunty dan teman-teman Aunty yang bisa sulap ini harus jadi rahasia dan gak boleh cerita ke orang lain. Kalau ke Mami, Papi, Nenek, Kakek, Om Raihan, boleh, selain itu gak boleh ada yang tahu." Ujar Raisa


"Kata Mami, lahasia itu gak boleh kasih tahu orang lain. Aku janji gak kasih tahu siapa-siapa!" Ucap Farah


"Pintar!" Kata Raisa


Setelah asik mengobrol, makanan pun mulai diantarkan satu persatu oleh Bu Vani, Pak Hilman, Raihan, dan Raina.


"Masaknya sudah selesai ya? Raisa bantu ambilin sisanya deh." Ujar Raisa


"Gak usah, kamu temani aja yang lain. Sudah banyak yang bantu Ibu bawakan makanannya." Ucap Bu Vani


"Gapapa, Bu. Aku sekalian mau ganti baju yang lebih santai sedikit. Farah sama Papi dulu ya, cantik." Kata Raisa


"Kenapa harus ganti pakaian? Kau sudah cantik dengan memakai pakaian itu..." Ujar Rumi


"Aku tidak biasa memakai pakaian seperti ini jika di rumah, yang seperti ini hanya biasa dipakai saat ada acara seperti di sekolah tadi. Aku kurang leluasa jika memakai pakaian seperti ini, aku ingin menggantinya saja." Jelas Raisa


Raisa pun menyerahkan Farah untuk duduk di dekat Arka lalu bangkit berdiri...


"Tunggu sebentar, aku akan segera kembali." Kata Raisa


Raisa pun pergi berlalu dari sana. Tak lama kemudian, Raisa pun kembali dengan mengenakan pakaian santai rumahannya. Raisa juga membawa sisa makanan yang masih berada di dapur...


"Sepertinya hanya ini yang tersisa yang belum dibawakan dari dapur. Semua sudah lengkap ya?" Ujar Raisa


"Udah lengkap semua. Sini, kamu duduk. Makan-makan ini kan untuk merayakan kelulusan kamu. Makanya, Ibu sampai masak banyak dan kebanyakan juga makanan kesukaan kamu." Ucap Raina


Raisa pun ikut duduk bersama yang lain dan meletakkan makanan yang dibawanya dari dapur di tengah-tengah mereka semua.


"Merayakan apanya sih? Lulus sekolah kan hal yang biasa. Ibu sampai repot-repot masak banyak seperti ini segala." Ujar Raisa


"Gapapa kan sekali-sekali. Cuma ini yang bisa Ibu buat sebagai hadiah untuk kamu." Ucap Bu Vani


"Ya ampun, Ibu pakai segala berpikir kasih aku hadiah segala. Perlakuan setiap Ibu kan memang selalu spesial untuk semua anaknya. Apa pun itu, terima kasih, Ibu." Ucap Raisa


"Kamu kayak sama siapa aja. Sudah-sudah, ayo! Semuanya, makan!" Kata Bu Vani


Di halaman belakang rumah, semua sudah lengkap. Semua orang sudah hadir dengan lengkap. Ada, Bu Vani, Pak Hilman, Raina, Arka, Farah, Raisa, Raihan, dan semua teman spesial yang datang dari dunia dimensi lain...


Mereka semua akan melangsungkan makan bersama saat ini juga. Masing-masing dari mereka pun mulai mengambil apa saja yang akan mereka makan.


"Oh, ya! Kak Raina, masih belum tahu teman-temanku yang datang ini ya." Ujar Raisa


"Bukan cuma Kak Raina, Kak Arka juga belum tahu nama semua teman kamu yang datang ini kan..." Ucap Arka


"Hmm, Falah juga belum tahu, Onty." Kata Farah


"Yang kakak tahu, mereka semua ini datang dari jauh kan? Bahkan bukan dari dunia ini. Udah, kenalannya nanti aja. Kita makan dulu, kasihan juga teman kamu udah nunggu buat makan dari tadi." Ujar Raina


"Kalau aku sih udah kenal, dong!" Kata Raihan


"Udah dulu ngobrolnya, makan dulu!" Ucap Pak Hilman

__ADS_1


"Baik, selamat makan!" Serempak semua teman Raisa.


"Ya, mari makan, semuanya!" Kata Bu Vani


"Kak Raina, udah tahu sedikit ternyata." Gumam Raisa. Maksudnya bahwa teman-teman Raisa yang datang adalah orang-orang yang dadang dari dimensi dunia lain.


"Yeay, waktunya makan! Semuanya terlihat sangat enak!" Pelan Chilla


"Kamu tetap cantik apa pun pakajan yang kamu kenakan." Bisik Rumi pada Raisa yang memang posisi mereka duduk adalah bersebelahan.


"Terima kasih! Farah bilang tadi kamu ganteng, itu artinya kamu tampan. Dan itu memang benar!" Bisik Raisa membalas.


Mereka semua pun mulai makan bersama...


"Terima kasih atas makanannya, Bibi! Ini semua enak sekali! Ngomong-ngomong, tidak apa aku memanggil seperti ini kan? Kami semua benar-benar tidak biasa dengan cara bicara dunia ini..." Ujar Chilla


"Sama-sama. Tak apa, jangan hiraukan omongan Raihan sewaktu di sekolah tadi. Seperti yang Raisa bilang, Bibi memang sering dipanggil seperti ini juga oleh sanak saudara. Bibi sudah biasa." Ucap Bu Vani


Acara makan bersama telah usai...


"Hehe, aku kan cuma bercanda tadi. Maaf!" Kata Raihan


"Nah, Raisa! Katanya, kamu mau kenalin teman-teman kamu sama kakak." Ujar Raina


"Oh, ya! Kalau begitu, kenalin dulu, mereka teman-temanku. Ada, Morgan, Aqila, Rumi. Terus, Devan, Chilla, Ian. Di sana, Marcel, Billy, Dennis. Lalu, Amy, Wanda, dan Sandra." Ucap Raisa memperkenalkan semua teman dunia lainnya seraya menunjukinya satu persatu pada sang kakak.


"Dan semuanya, ini kakak perempuanku, Kak Raina. Yang di sana adalah suami dan anaknya yang sudah kukenalkan tadi." Ujar Raisa


"Kami semua senang bisa berkenalan dengan keluarga Raisa." Ucap Rumi


"Benar. Karena kalau Raisa, dia bisa kebih dulu tahu tentang semua keluarga kami dari mimpi-mimpi ajaibnya, itu sedikit curang." Ucap Marcel


"Hei, aku juga tidak ingin bermimpi seperti itu kalau bukan sudah ditakdirkan!" Kata Raisa


"Oh, ya! Raisa, Ibuku ada menitipkan sesuatu denganku untukmu. Karena dari dunia kami belum tahu kau sudah lulus atau belum, kata Ibuku hadiah ini sebagai ucapan semangat atau selamat untukmu." Ucap Ian


"Hadiah? Bibi Irene sampai repot begitu..." Ujar Raisa


"Boleh aku keluarkan sekarang?" Tanya Ian


"Silakan saja." Kata Raisa


Ian menguarkan gulungan kertas dari tas pinggang miliknya. Setelah membuka gulungan kertas itu, Ian seolah membaca sesuatu pada mulutnya. Dengan ajaibnya serangkaian bunga muncul dari gulungan kertas tersebut, karena itu bukanlah gulungan kertas biasa melainkan gulungan kertas sihir.


"Aku menaruhnya di dalam gulungan kertas sihir supaya lebih mudah dibawa-bawa. Ini untukmu!" Ujar Ian memberikan buket bunga pada Raisa.


"Sudah kuduga inilah yang kudapatkan dari Bibi Irene. Terima kasih banyak." Ucap Raisa menerima buket bunga dari Ian.


"Kamu udah tahu bakal dapet hadiah bunga, Sa?" Tanya Raina


"Kalau dari Bibi Irene, aku tahu, kak. Soalnya Ibu Ian ini punya toko bunga di dunia sana." Jawab Raisa


"Wah, bunganya kelual dali keltas! Tadi itu sulap ya, Onty?" Polos Farah


"Iya, ini sulap, Farah!" Kata Raisa


"Aku mau lihat lagi sulap yang lain!" Pinta Farah


"Sulapnya nanti lagi ya, Farah. Yang penting kan, Aunty udah janji!" Ucap Raisa


"Kapan, Onty?" Tanya Farah


"Yang sabar ya, Sayang." Kata Raisa


"Iya deh, Onty." Patuh Farah


"Hebat!" Gumam Arka


"Keren!" Gumam Raihan


Arka dan Raihan sama-sama terkagum saat melihat penggunaan sihir di depan mata mereka.


"Norak banget sih, kayak anak kecil! Kamu kan udah pernah dibawa terbang sama Raisa, Pih! Raihan, kamu juga kan udah pernah lihat gerbang portal teleportasi bahkan ikut masuk ke dalamnya." Ucap Raina


"Tetep aja dilihatnya juga beda!" Kata Arka dan Raihan secara serempak.


Di dunia yang sihir telah musnah pasti memang selalu mengejutkan bisa melihat sihir langsung dengan mata kepala sendiri. Seperti halnya Arka dan Raihan yang bereaksi sama seperti Farah...


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2