
Setelah membuktikan keberadaan Burung Api Legenda yang ada di dalam diri Raisa, Amon terus terdiam. Amon memang jarang bicara kalau tidak penting. Namun, kali ini diamnya tidak biasa.
Amon seperti masih tidak menyangka bisa berjumpa langsung hewan roh sihir suci yang agung itu. Mungkin setelah peristiwa itu, Amon sudah bisa percaya pada Raisa, meski ia sendiri tidak mengungkapkannya.
Setelah peristiwa pembuktian itu, semua beranjak bubar satu per satu. Kecuali sepasang insan.
Saat ini, Raisa terus bersama Rumi yang menemaninya di suatu tempat di Desa Daun.
Raisa dan Rumi berjalan bersama tak tentu arah mencari tempat yang sesuai untuk mengobrol dan menghabiskan waktu berdua. Bagi keduanya tempat tidak terlalu penting. Di mana pun mereka berdua berada, yang penting adalah waktu yang bisa mereka berdua habiskan bersama.
Namun, setelah hujan dua hari yang lalu, cuaca di sana jadi lebih dingin dari biasanya. Meski sudah berpakaian tebal, Raisa tetap merasa kedinginan. Raisa pun mengosok-gosok telapak tangannya dan menempelkannya pada kedua sisi lengan atasnya. Rumi yang menyadari Raisa sedang merasa kedinginan pun membantu memberi kehangatan pada gadis itu dengan cara yang sama. Namun, telapak tangannya yang sudah digosok-gosok itu, Rumi tempelkan pada kedua pipi Raisa, bukan lengannya.
"Rumi, apa kau tidak merasa kedinginan?" tanya Raisa
Rumi menggeleng pelan.
"Seperti apa pun suhu di sekitar, tidak akan mengganggu bagiku," jawab Rumi
"Sudah kubilang, cuaca di sini sedang dingin dan semakin dingin. Tapi, tadi kau malah makan es krim tanpa peduli yang kukatakan atau apa pun," sambung Rumi
"Aku hanya sedang sangat ingin makan es krim. Jika, di duniaku mungkin akan sulit. Setelah menjadi artis semua sangat diperhatikan, termasuk menu yang kumakan. Tidak boleh makan ini itu, apa lagi yang manis-manis. Setidaknya saat aku ada di sini aku ingin bebas," ucap Raisa
"Kau tidak sedang bohong padaku seperti tentang serangga sebelumnya, kan?" tanya Rumi penuh selidik.
Raisa jadi agak terkejut.
"Sebenarnya untuk saat ini aku belum terlalu terkenal untuk sangat diperhatikan atau memperhatikan hal seperti itu. Tapi, apa kau tidak berharap aku bisa jadi artis yang terkenal?" tanya balik Raisa.
Kini berbalik, Rumi yang menjadi agak terkejut dan sedikit terlihat bingung.
"Sebenarnya ... di satu sisi, aku berharap hanya aku saja satu-satunya orang yang bisa mengenal dirimu dengan sangat dekat secara menyeluruh. Tapi, di sisi lain ... aku juga ingin kau sukses dengan apa pun yang kau inginkan, termasuk dengan profesimu yang sekarang. Aku sendiri tidak mengerti kalau aku bisa menjadi begitu egois seperti ini jika sudah menyangkut tentang dirimu," ungkap Rumi
Kedua tangan Rumi beralih memeluk tubuh Raisa dengan erat untuk membantu gadis itu menghangatkan diri. Membuat Raisa merasa tetap hangat hanyalah alasan. Sebenarnya, Rumi takut Raisa merasa kecewa dengan dirinya yang egois dan berakhir menjauh dari dirinya lagi. Rumi sungguh takut kehilangan Raisa.
..."Aku sangat mengerti perasaanmu, Rumi. Karena aku pun tidak jauh berbeda denganmu, malah lebih egois darimu. Aku tahu sebenarnya kau saat ini sedang merasa takut kehilangan. Padahal akulah yang sudah lebih mengecewakan dirimu. Kekhawatiranmu saat ini bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan yang aku rasakan. Tidak ... mungkin memang aku merasa seperti itu, tapi semua kekhawatiran yang ada pasti terasa sangat menyakitkan bagi orang yang merasakannya. Apa lagi jika kekhawatiran itu benar-benar terjadi," batin Raisa...
Raisa membalas lelukan Rumi dengan mengusap pungunggungnya untuk ikut memberinya rasa hangat sekaligus berusaha menenangkan hatinya yang penuh dengan rasa khawatir.
"Tidak apa. Menjadi egois juga salah satu sifat manusia. Itu hal yang wajar. Aku mengerti itu," kata Raisa dengan sangat lembut berharap Rumi menjadi tenang setelah mendengar perkataan dan suaranya.
Rumi pun lebih mengeratkan pelukannya pada tubuh Raisa. Namun, setelah beberapa saat Rumi malah melepaskan pelukannya dan menatap Raisa dengan serius. Tatapan Rumi terlihat sendu. Raisa yang ikut menatap Rumi pun tersenyum agar perasaan di dalam hati lelaki itu menjadi lebih baik.
__ADS_1
"Raisa, kini kemampuan sihirmu sudah kembali. Apa kita tidak bisa kembali seperti dulu juga?" tanya Rumi
Raisa sudah tidak merasa heran lagi dengan Rumi yang bertanya seperti itu.
Senyuman di bibir Raisa tidak pudar atau menghilang. Namun, tatapan mata Raisa berubah menjadi sama seperti tatapan mata Rumi. Sendu.
"Maaf, Rumi. Aku ... tetap tidak bisa," jawab Raisa
Rumi merasa sangat sedih setelah berulang kali ditolak seperti ini.
"Kau tahu tidak? Kini kemampuan sihirku bisa tiba-tiba menurun sampai akhirnya munghilang ... meski mungkin hanya untuk sementara waktu," ujar Raisa
"Kenapa bisa jadi seperti itu?" tanya Rumi yang tidak pernah tahu dan lebih merasa tidak mengerti.
"Alasannya karena tidak boleh ada keraguan sedikit pun di dalam hati dan diriku," jawab Raisa
Rumi menjadi merasa bingung. Meski begitu, ia tetap menatap Raisa dengan serius.
"Sebenarnya ini tidak penting dan kutahu, kau pasti merasa bingung dan merasa ini tidak ada kaitannya dengan hubungan kita. Tapi, jika aku merasa ragu atau bingunng dengan hubungan kita sekarang ini ... bisa saja kemampuan sihirku jadi menurun dan tiba-tiba menghilang. Meski itu akan pulih kembali dengan sendirinya, tapi jika seperti itu kemampuan sihirku akan jadi tidak stabil. Yang ingin kukatakan adalah ... aku tidak ingin lagi merasa ragu dan bingung dengan hubungan kita. Aku lebih nyaman jika kita terus seperti ini saja. Aku harap kau mengerti dan bisa menerimanya ... meski ini adalah keegoisanku yang menyakitkan bagimu," jelas Raisa
"Menjadi ragu dan merasa bingung dengan hubungan kita juga menyakitkan bagiku. Tapi, jujur saja ... aku membutuhkan kemampuan sihir ini untuk agar aku bisa melindungimu. Jika begitu, aku bisa lebih percaya diri berada di sampingmu dan terus mencintaimu. Terlepas dengan akan jadi seperti apa hubungan kita, aku hanya ingin bisa jadi percaya diri dan terus mencintaimu tanpa keraguan apa pun atau sedikit pun di dalam hatiku. Kalau seperti ini, aku tidak lagi merasa cemas seperti dulu dan meski pun dunia kita berbeda," sambung Raisa yang di akhir ucapannya suaranya berubah jadi bergetar. Karena bagaimana pun juga sulit bagi Raisa mengucapkan semuanya dengan mudah.
Bahkan air mata Raisa pun ikut menetes setelah mengucapkan kalimat yang menyesakkan dadanya.
Rumi pun menghapus air yang berjatuhan dari mata Raisa. Setelah berhenti menangis, Raisa kembali tersenyum cerah. Raisa menggenggam tangan Rumi yang menghapus air mata di wajahnya.
"Manusia memang egois, termasuk kau dan aku. Bagiku menjalin hubungan tanpa status denganmu pun cukup. Aku sudah merasa sangat bahagia dengan bisa percaya diri berada di sampingmu, melindungimu, dan terus mencintaimu. Tidak tahu ... apa kau juga merasa hal yang sama denganku?" tanya Raisa
"Tentu saja. Aku pun sama ... bahagia seperti dirimu," jawab Rumi
"Kalau begitu, berjanjilah ... cintamu tidak akan pernah hilang dari dalam hatimu. Aku juga akan berjanji hal yang sama," sambung Rumi
"Ya. Aku berjanji," kata Raisa
"Aku berjanji ... cinta kita tidak akan pernah hilang sampai akhir waktu," ucap Raisa dan Rumi secara bersamaan dan dengan kompak.
Raisa dan Rumi saling menempelkan kening mereka berdua dan tersenyum bahagia, bahkan terkekeh bersama. Tak sangka mereka berdua memiliki isi hati yang sama, terbukti dengan kalimat yang sama yang keduanya ucapkan tanpa perjanjian apa pun sebelumnya.
Tak terasa, ternyata hari sudah sore saat mereka berdua bersama.
Saat itu juga, tiba-tiba saja butiran salju turun dari langit. Itu adalah salju pertama yang turun di musim dingin kala itu di Desa Daun dan merupakan salju pertama bagi Raisa selama semasa hidupnya.
__ADS_1
Menyadari turunnya salju, Raisa dan Rumi melihat ke arah langit. Raisa bahkan menadahkan tangannya pada salju yang berjatuhan dari langit.
"Pantas saja cuaca jadi semakin dingin. Ternyata, akan turun salju," kata Raisa
"Ini adalah salju pertama di musim dingin kali ini," ucap Rumi
"Ini adalah salju pertama yang pernah kualami semasa hidup. Negara tempat tinggalku di duniaku beriklim tropis, jadi tidak pernah ada salju yang turun," ungkap Raisa
"Aku pernah mendengar sesuatu saat di duniaku ... jika pasangan yang saling mencintai bertemu saat salju pertama turun, maka kebahagiaan akan terus menyertai pasangan itu," sambung Raisa
"Kalau begitu, mari kita buat kebahagiaan itu jadi semakin nyata," ujar Rumi
Rumi menangkup kedua sisi wajah Raisa membuat gadis itu menatap lurus ke arahnya. Kedua pasang mata mereka saling bertemu. Rumi pun mendekatkan wajahnya pada wajah Raisa. Raisa pun memejamkan matanya.
CUP!
Bibir Raisa dan Rumi pun saling bertemu, menempel, dan bersatu padu. Mereka berdua berciuman di bawah turunnya salju.
Itu adalah salju pertama bagi pasangan Raisa dan Rumi.
Raisa dan Rumi pun mengakhiri ciuman mereka. Nafas keduanya pun menjadi penghangat bagi satu sama lain setelah berciuman di bawah salju yang turun.
Untung saja tidak ada orang lain di sana selain mereka berdua karena cuaca yang dingin.
Raisa dan Rumi saling tersenyum bahagia.
"Aku bahagia sekali ... sungguh," jujur Raisa
"Aku juga," kata Rumi
Raisa dan Rumi pun saling berpelukan cukup lama.
"Kau harus pulang sebelum semakin kedinginan. Aku akan mengantarmu," ucap Rumi
Raisa mengangguk.
Rumi pun mengantar Raisa pulang ke rumahnya.
.
•
__ADS_1
Bersambung ...