Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
84 - Penyelesaian Misi.


__ADS_3

Raisa pun akhirnya kembali mengikuti berjalan di belakang bersama Sandra...


Mereka semua terus berjalan melangkahkan kakinya. Negeri Angin adalah negeri gurun pasir. Akan sangat panas sepanjang hari hingga sore hari dan akan berubah menjadi drastis saat malam hari yang akan terasa sangat dingin. Maka dari itu jarang sekali ada orang yang berkeliaran kecuali ada keperluan penting dan semua orang berlindung di dalam rumah mereka. Dan sejauh memasuki wilayah Negeri Angin masih belum nampak satu rumah pun. Semua hanya pasir dan sepi, sunyi senyap. Masih jauh ke depan akan menemukan pos penjagaan wilayah Negeri Angin, saat sampai di sanalah sudah benar-benar aman. Sementara kini suasana sekitar hanya terlihat mencurigakan, mulai saat memasuki Negeri Angin ini. Raisa pun terus meningkatkan kewaspadaannya dan terus menatap ke sekeliling...


Semakin berjalan semakin merasa lelah karena berada di tengah gurun pasir. Jalan yang sepei terus membuat waspada. Terutama Raisa!


Raisa terus celingak-celinguk menoleh ke arah kanan dan kiri, tak jarang pandangannya menerawang jauh ke depan atau menoleh ke belakang...


"Kau kenapa Raisa? Seperti ketakutan? Apa karena ini misi pertamamu? Atau kau merasa asing di sini atau kelelahan?" Tanya Sandra


"Tidak juga, bukan begitu. Ini bukan rasa takut tapi bersikap waspada. Apa kau tidak merasakannya? Seperti ada sesuatu?" Ujar Raisa


"Entahlah. Perlu hati-hati apanya, mungkin sebentar lagi kita akan sampai dan bisa segera pulang." Kata Sandra


"Bukankah itulah anehnya? Kita akan segera sampai! Bukankah misi ini berjalan terlalu mudah? Seolah kita diharapkan merasa begitu dan kita dijadikan lengah begitu saja." Ujar Raisa


"Apa maksudmu? Bukankah bagus jika semua berlalu dengan mudah? Memang apa sih yang kau rasakan atau yang kau lihat?" Tanya Sandra


"Semua memang terasa mudah dan seolah ada yang tidak beres. Aku merasa ada yang mengawasi kita sejak kita turun di stasiun kereta bawah tanah wilayah Negara Angin." Ucap Raisa menjawab


"Kau sungguh tidak merasakan sesuatu?" Imbuh Raisa


"Sepertinya aku harus meningkatkan kewaspadaanku." Kata Sandra


Langkah Raisa pun terhenti. Matanya menyipit menatap ke segala arah...


"Berhenti!" Seru Wanda memberi komando. Dialah ketua tim saat tidak ada guru pembimbing.


Semua orang pun menghentikan langkah kakinya dan menunggu aba-aba selanjutnya. Beberapa dari mereka mulai merasa cemas dan takut.


"Ada apa, Wanda?" Tanya Amy


Wanda terdiam menajamkan indera pendengaran dan penglihatannya. Sama halnya, Rumi, yang memiliki jiwa sihir berciri khas sihir ular, Wanda pun sama memiliki jiwa sihir dengan ciri khas hewan. Hanya saja jiwa sihir Wanda berciri khas dengan sihir kucing. Itulah yang menyebabkannya lebih waspada dari pada orang biasa, karena sebagian dari dirinya memiliki insting hewani. Inilah sebab dia memberhentikan rombongan, yaitu karena dia merasakan sesuatu seperti tanda bahaya.


Para rombongan dari kelompok pengantar barang itu langsung berbisik-bisik. Mereka seperti tidak terima diberhentikan begitu saja saat perjalanan mereka hampir selesai dan tiba di tujuan mereka. Mereka pun mulai bertanya-tanya...


"Apa yang terjadi?"


"Kenapa perjalanan kita diberhentikan saat sudah hampir sampai?"


"Padahal sedikit lagi akan sampai, kenapa malah berhenti? Bagaimana kalau ada penjahat yang datang mengejar atau mengepung tiba-tiba?!"


Rombongan pengantar barang itu jadi merasa tidak sabaran karena merasa khawatir dengan keselamatan barang bawaan dan diri mereka sendiri. Mereka tidak tau memang yang mereka khawatirkanlah yang sebenarnya sudah sedang terjadi. Itulah sebabnya Raisa terus merasa waspada dan juga Wanda yang tiba-tiba menghentikan perjalanan.


"Semuanya, harap hati-hati!" Seru Raisa memekik memberi ava-aba peringatan.


Saat Raisa berteriak, ia dan ketiga gadis pengawal yang lainnya pun langsung memasang posisi siap bertarung, seperti halnya memasang kuda-kuda.


"Raisa, kau juga merasakannya?" Tanya Wanda yang terus dalam posisi siaga.


"Ya, aku merasakannya. Sesutu sedang menunggu kita!" Jawab Raisa


WUSH~


SWOOOSSHH!!~~


Angin berhembus kencang! Sekelompok orang asing pun muncul menghadang perjalanan rombongan pengantar barang tersebut. Saat apa yang sudah diduga muncul, keempat pengawal pun langsung membuat formasi untuk melindungi semua anggota para pengantar barang.


HAHAHAHAHAHA!~~


"Meski pun hanya gadis-gadis kecil, kalian cukup waspada juga!" Ucapnya dengan sombong.


Wanda, Amy, Raisa, dan Sandra bersama rombongan pengantar barang pun dihadapkan dengan penjahat perampok yang bertubuh tegap dan kekar. Jumlah penjahat yang menghadang setelah dihitung-hitung ada 5 sampai 8 orang pria dewasa!


"Semuanya, berhati-hatilah dan tetap tenang di tempat. Kami akan melindungi kalian!" Ucap Raisa


"Kalian hanya empat gadis cilik! Bisa apa kalian untuk menghentikan kami!?"


"Apa mau kalian!?" Pekik Wanda


"Mau kami, kalian harus berikan! Yang kami mau adalah barang-barang yang kalian bawa!"


"Sembarangan! Kami tidak akan memberikan apa yang kalian mau! Pergilah, jangan ganggu kami!" Pekik Amy walau berusaha menahan ketakutannya.


"Kami akan pergi setelah mendapat apa yang kami mau...!!"


"Kalau begitu, hadapi dulu kami!" Pekik Sandra


"Bocah teng*k! Bagaimana pun kami yang akan menang!"

__ADS_1


"Jangan harap! Pemenang selalu ditentukan saat akhir. Jangan banyak bicara dan berhenti menyombongkan diri!" Kesal Raisa


Para penjahat itu memulai aksinya untuk menyerang! Takkan tinggal diam, keempat gadis pengawal pun bergerak menahan dan menghadang serangan lawan.


4 orang melawan 8. Masing-masing melawan 2 orang pria! Gadis remaja melawan pria dewasa... Dilihat dari segala sisi keempat gadis akan kalah, tapi hasil masih belum bisa ditentukan.


Pertarungan fisik terus berlangsung. Sampai salah seorang penjahat berhasil lolos mendekati rombongan pengantar barang...


"Amy, mundur! Lindungi rombongan pengantar barang!" Tutur Wanda


"Baik!" Patuh Amy


Sesuai kata ketua tim, Amy berhenti bertarung melawan para penjahat dan segera mundur untuk melindungi rombongan pengantar barang dari penjahat yang terus mencoba mengincar barang yang dibawa oleh para pengantar barang. Saat salah seorang mendekati rombongan pengantar barang, Amy langsung mengerahkan kemampuannya agar bisa menghalau penjahat itu.


Melihat Amy yang mungkin akan kesulitan, Raisa ikut mundur untuk membantu Amy.


"Aku akan membantu kalian dari jauh dan akan bantu Amy lindungi yang lain dari dekat!" Ucap Raisa


"Baik!" Serempak Wanda dan Sandra.


"Terima kasih, Raisa!" Kata Amy


Raisa pun hanya mengangguk membalas ucapan terima kasih dari Amy...


Raisa pun membantu Amy melindungi rombongan dengan kemampuan sihir pengendali elemennya, mencegah penjahat mendekat dan merampas barang. Namun, situasi terus berlanjut tak ada kemajuan. Mereka hanya bertahan dari serangan. Tak tau apa yang harus dilakukan, Raisa kebingungan saat melihat ketiga temannya terus bersusah payah dan rombongan pengantar barang yang sudah sangat ketakutan.


"Bagaimana cara menghentikan mereka? Apa harus membunuh mereka?" Gumam Raisa


"Tidak perlu sampai seperti itu juga kan, Raisa..." Kata Amy yang mendengar Raisa yang bergumam.


"Di tempatku, aku tidak pernah menghadapi situasi seperti ini, tapi kau sudah sering. Apa yang biasanya kau lakukan, Amy?" Tanya Raisa


"Membuat mereka jera dan pergi dengan sendirinya." Jawab Amy


"Ya, tapi bagaimana cara memukul mundur mereka semua?" Bingung Raisa


"Membunuh kami? Kau takkan pernah bisa!"


"Siapa bilang!? Aku hanya merasa kau bahkan tidak pantas mati di tanganku, aku tak mau mengotori tanganku dengan darah manusia seperti kalian, dan juga masih merasa sedikit kasihan dengan kalian..." Ujar Raisa menyombongkan diri saat dirinya sudah mulai terpancing emosinya dan merasa kesal.


Itulah, Raisa!


"Kaulah yang tidak pantas karena kau tidak mampu! Heh, dasar gadis cilik! Mau mencoba memancing emosiku ya!!?"


"Siapa yang memancing emosi siapa, hah!? Kalian takkan pernah bisa menyentuh kami! Dengan tangan kotor itu, kalianlah yang tidak pantas!" Geram Raisa


Benar-benar geram saat penjahat itu terus mendekatinya dan menerobos perlindungannya ke arah rombongan pengantar barang, Raisa langsung menghempaskan penjahat itu dengan menggunakan sihir pengendali angin. Penjahat itu terpental cukup jauh dan jatuh tersungkur!


"Cih! Ternyata kemampuan sihirmu cukup hebat juga. Mengesankan!"


"Kau terkesan, hah!? Jadi, sudah tau siapa yang kau singgung?!" Ujar Raisa


"Tapi, kau takkan berhasil mengalahkan kami!"


"Huh! Jaga bicaramu!" Marah Raisa


Melihat salah satu kawannya disingkirkan begitu saja membuat para penjahat marah dan kemudian melakukan siasat menyerang Raisa bersamaan. Satu orang yang terpental pun bangkit untuk ikut menyerang Raisa bersama rekannya yang lain.


"Raisa, hati-hati!" Pesan Wanda saat dirinya tak mampu menghalangi para penjahat untuk menyerang Raisa.


"Awas!" Kata Amy


"Bagaimana kalau begini?! Apa kau masih bisa bicara sombong?!"


"Masih belum mengerti juga, rupanya! Sudah kubilang, kalian semua adalah hal yang mudah untuk kutangani!" Ucap Raisa


8 orang penjahat pria dewasa itu menyerang Raisa di saat yang bersamaan. Raisa yang hanya seorang gadis remaja dengan mudah menumpas mundur mereka dengan berberapa sihir serangannya hanya dalam waktu kurang dari 5 detik! Ia mengeluarkan sebagain besar sihir pengendali elemennya. Angin, Api, Air, Petir! Para penjahat itu akhirnya terhempas jauh ke belakang~ Dan mereka terperangah melihat kemampuan sihir yang beraneka macam milik Raisa...


Itu mbuat mereka semua bertanya-tanya, bahkan rombongan pengantar barang pun terheran.


"Siapa dia sebenarnya?!"


"Biasanya kemampuan sihir hanya mampu menguasai pengendalian 2 atau 3 elemen. Jika, lebih dari itu berarti dia sangat hebat! Siapa gadis satu itu?!"


Namun, itu masih belum cukup membuat para penjahat itu jera! Mereka terus bangkit dan kembali menyerang. Kini, Wanda, Sandra, dan Amy ikut menyerang para penjahat bersama Raisa...


Keempat gadis mengerahkan segala kemampuannya untuk menghalau para penjahat itu agar tak lagi mendekat ke arah rombongan pengantar barang yang berusaha mereka lindungi.


"Sandra, gunakan saja kemampuan pedangmu! Supaya ini cepat selesai." Ucap Raisa

__ADS_1


"Baik, aku mengerti!" Paham Sandra


"Raisa, apa kau yakin dengan itu?" Tanya Amy merasa khawatir.


"Tenang saja! Kalian semua, merunduklah! Wanda dan Amy, lindungi mereka yang berada di belakang. Aku yang akan melindungi kalian semua di sini." Tutur Raisa


"Baik!" Kata Wanda


Semua rombongan pengantar barang pun mengikuti perkataan Raisa untuk merunduk. Wanda san Amy pun ikut merunduk bersama mereka, namun tetap untuk melindungi yang lain. Sesangkan Raisa berdiri di depan mereka untuk menghalau serangan Sandra agar tidak mengenai mereka yang berada di belakangnya. Raisa merentangkan kedua tangannya ke depan untuk bersiap siaga!


Sandra mulai menarik pedangnya dari sarung pelindung. Mengaliri pedangnya dengan tenaga sihirnya dan menebaskan pedangnya ke arah depan tepat pada para penjahat itu berada. Ini adalah serangan pamungkasnya! Saat serangan itu menyebar, belum sampai sempat nengenai mereka, para penjahat itu langsung terhempas secara kasar jauh dan terkapar. Di saat bersamaan, Raisa menggunakan sihirnya agar serangan Sandra yang menyebar tidak sampai mengenai mereka yang ada di belakangnya. Serangan itu berhasil! Para penjahat langsung tak berdaya dan rombongan pengantar barang dan yang lain pun tidak ikut terluka...


"Mereka memang para gadis yang hebat!"


"Mereka sudah berhasil ditangani, para penjahat itu telah dikalahkan!" Seru Sandra yang lalu memasukkan kembali pedang ke dalam sarung pelindungnya.


"Ya, akhirnya... Kita selamat!" Girang Amy


"Ayo, ikat mereka dengan tali! Setidaknya itu bisa menahan mereka dalam beberapa waktu sebelum mereka pulih. Setelah itu, kita bisa melanjutkan perjalanan." Ucap Wanda


Wanda, Amy, dan Sandra sama-sama mengeluarkan tali yang mereka bawa di dalam tas pinggang dan mulai mengikat tubuh para penjahat. Sedangkan, Raisa hanya membantu yang lain mengikat para penjahat karena ia seorang yang hanya membawa dirinya sendiri dan kemampuan yang ada dalam dirinya tanpa membawa peralatan dan senjata.


"Selesai!" Kata Raisa


"Kita bisa melanjutkan perjalanan." Ujar Wanda


"Baik!" Kata Amy


"Ayo, semuanya!" Seru Sandra


Mereka pun kembali memulai melakukan perjalanan yang sempat terhenti itu dan menjnggalkan para penjahat yang terikat di tengah padang pasir tersebut.


Tak beberapa lama mereka semua berjalan, akhirnya mereka menemukan pos penjagaan sebelum memasuki wilayah Desa Pasir dan tiga orang ahli sihir Negara Angin yang berjaga di sana. Salah satu penjaga di sana menghampiri dan menyapa mereka.


"Selamat sore. Ada yang bisa kami bantu? Dari mana asal kalian semua?" Sapanya bertanya.


"Kami semua datang dari Negara Api." Jawab Wanda


"Oh, kaliankah rombongan pengantar barang dari Desa Daun yang dijadwalkan datang hari ini?" Tanyanya


"Benar, itu kami!" Jawab salah seorang pengantar barang.


"Kalau begitu, kami akan melakukan pemeriksaan barang bawaan terlebih dulu. Silakan, ikut kami ke dalam pos." Ujarnya


Mereka para pendatang dari negara lain pun masuk ke dalam pos penjagaan untuk diperiksa barang bawaannya.


"Tadi kami bertemu penjahat yang menghalangi perjalanan kami saat setelah memasuki wilayah Negara Angin. 8 orang pria dewasa. Kalian bisa memeriksa mereka, kami sudah mengikat mereka kini mereka sedang tidak berdaya." Jelas Sandra


"Oh, baik. Kami akan menghubungi pemerimtah pusat untuk mendatangkan beberapa orang lainnya untuk ikut memeriksa. Aku akan langsung pergi menemui mereka." Ucap seorang penjaga Negara Angin lainnya. Ia langsung pergi ke tempat yang disebutkan terdapat 8 orang penjahat itu.


Mereka yang datang dari Negara Api pun melakukan pemeriksaan dengan 2 orang penjaga lainnya. Setelah pemeriksaan selesai, mereka semua melanjutkan perjalanan untuk memasuki Desa Pasir bersama seorang penjaga sebagai pemandu jalan. Dan tersisalah seorang saja di pos penjagaan di sana.


Setelah memasuki wilayah Desa Pasir pun semua nampak sepi. Wilayah di sana memang sangat mengerikan karena sangat panas sepanjang hari dan akan sangat dingin saat malam tiba, itulah penyebab sepi sunyi senyapnya semua tempat di sana. Dan saat hampir tiba di pusat pemerintah Desa Pasir, terlihat 3 orang yang seperti menunggu rombongan itu datang.


"Siapa kalian bertiga? Aku tidak pernah melihat kalian sebelumnya?" Tanya seorang penjaga yang menjadi pemandu jalan saat melihat tiga orang di hadapannya memakai seragam staf Desa Pasir.


"Kami staf desa yang diperintahkan mengambil alih tugas memandu jalan rombongan dari Desa Daun." Jawab salah satu dari ketiga orang tersebut.


"Mari, kami yang antar kalian ke tempat selanjutnya. Kau bisa kembali ke pos penjagaan, serahkan sisanya di sini pada kami." Ucap salah seorang lain dari ketiga orang tersebut.


"Baik!" Gumam seorang penjaga pos seraya memegangi sesuatu di telinganya.


"Jangan percaya, mereka penyusup! Aku dikabari dari staf pusat tidak ada yang ditugaskan di tempat ini!" Ucap penjaga pos


Ternyata penjaga pos dikabari dari staf pusat desa melalui earphone yang saling menghubungkan para staf pekerja desa bahwa tidak ada yang di tempat-tugaskan di area tersebut. Ia, Wanda, Amy, Sandra, dan Raisa pun lamgsung memasang posisi berjaga. Rombongan pengantar barang pun mulai kembali waspada.


"Ah, kami ketahuan!" Kata seorang penyusup dengan seringai di wajahnya.


.



Bersambung...


NOTE:


"SELAMAT HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA KE-76! 🎉🎉


🇮🇩 DIRGAHAYU INDONESIA-KU 🇮🇩"

__ADS_1


__ADS_2