Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
127 - Menyamar Menjadi Penari Cantik.


__ADS_3

Setelah berhasil dengan mudah meminta izin pada pihak panitia acara untuk menggunakan panggung, Raisa dan Morgan pun melangkah naik ke atas panggung. Setelah benar-benar berdiri di atas panggung... Semua yang melihat mereka berdua terperanjat dengan kedua mata yang terbelalak dan mulut yang menganga lebar!


"Tes... Tes-tes! Halo, selamat malam, semuanya... Ini dari pihak panitia memberi tahukan! Karena pertunjukan panggung yang telah dijanjikan mengalami pengunduran, kami akan menyediakan lebih dulu pembuka untuk kalian semua yang tentunya sangat menarik dan sayang jika dilewatkan. Langsung saja, ini adalah tarian asing yang langka... Belly Dance!" Ucap panitia acara dari belakang panggung dengan pengeras suara.


Setelah memberikan contoh musik untuk mengiringi tarian, pihak panitia pun memutarkan musik tersebut dari belakang panggung. Raisa dan Morgan pun mulai beraksi dengan tarian mereka. Penampilan meraka sungguh aduhai dengan gerak yang meliak-liukan tubuh ditambah pakaian yang menambah kesan seksi.


"Jika melakukan sihir penyamaran perubah wujud, Morgan selalu menggunakan warna rambut yang sama. Berarti di atas sana yang rambutnya berwarna pirang adalah Morgan dan Raisa juga tetap yang berambut hitam. Namun, sosok mereka benar-benar sangat berbeda!" Ucap Chilla


Mereka yang menyaksikan pertunjukan dua gadis cantik yang berada di atas panggung melihat sampai terkagum-kagum. Kecuali mereka yang mengenal sosok asli dua gadis penari cantik itu. Walau Chilla terkesan biasa saja saat menonton pertunjukan kedua temannya. Devan, Ian, dan Aqila sampai menutup mata, hidung, dan mulut mereka secara bergantian. Mereka menutupi mata agar tidak ternodai oleh gerakan yang terlihat sangat sensual, menutup hidung mereka untuk menahan cairan merah alias darah yang terus saja hampir ke luar, dan menutup mulut agar tidak sampai menganga seperti kebanyakan penonton lainnya. Bahkan Aqila sampai menepuk dahinya dan menggelengkan kepalanya saat melihat aksi panggung ysng begitu menggairahkan dari kedua temannya.


"Ya ampun, aku tidak menyangka penampilan mereka akan jadi seperti ini panasnya. Terlalu merepotkan untuk menonton yang seperti ini!" Ucap Devan yang langsung membuang pandangan dengan wajah yang sudah memerah.


"Bikin orang sakit kepala saja!" Kata Ian yang sudah tidak kuat menghadap ke depan lagi dan langsung menundukkan kepalanya.


"Mau bagaimana lagi, ini untuk kepentingan misi dan mengalihkan perhatian si target... Cara ini harus berhasil!" Sahut Aqila sambil membuang nafas berat.


Beebeda dengan reaksi yang lain, Rumi malah terlihat geram. Di balik wajahnya yang tenang dan terkesan dingin, ia seperti sedang menahan amarah yang bisa meledak kapan saja. Sikapnya yang seperti itu karena dari awal sudah tidak setuju dengan Raisa yang akan mempertunjukan tarian yang seperti itu. Walau sosok yang berada di atas panggung sana bukanlah sosok asli Raisa melainkan hanya sihir ilusi diri perubah wujud, tetap saja Rumi merasa tidak rela dengan banyak orang yang menonton pertunjukan yang memperlihatkan lekuk tubuh indah kekasihnya walau hanya dengan sosok yang palsu sekali pun.


Di dunia dengan banyak bakat sihir, pastinya mereka yang hidup di sana merasa asing dengan tarian dengan jenis seperti ini. Walau di dunia mereka sudah mengarah pada zaman yang sudah modern pun, jenis tontonan mereka hanya mencapai film aksi dengan sedikit bumbu romantis saja.


Belly Dance adalah tarian yang mengandalkan gerakan perut dan pinggul. Tarian seperti ini tentu saja dapat memukau para penonton yang menyaksikannya.


Seperti dugaan, si target mulai menunjukan ketertarikannya saat menonton pertunjukan tari. Terbukti dengan pandangannya yang tak lepas dan terus mengarah ke atas panggung.


"Wah, lihat! Sesuai dugaan, si target mulai tertarik dan bahkan terpikat sampai tatapannya tak lepas dari atas panggung! Morgan menariknya ke atas panggung! Ini gila!" Ucap Chilla


"Bukankah ini saat yang tepat untuk kita melihat isi tas si target?" Tanya Ian


"Benar! Morgan juga pasti sudah bersusah payah untuk menariknya ke atas dan meninggalkan tas pentingnya." Jawab Aqila


"Bukan hal yang sulit juga untuk menarik perhatian dan minat pria mata ker*njang. Ayo, kita geledah isi tasnya!" Kata Devan


Dengan bantuan Rumi yang mengeluarkan ular sihirnya untuk mengambil tas milik si target saat orang-orang lengah dan berkerubung di depan panggung untuk melihat pertunjukan tari yang memukau, mereka pun mulai menggeledah isi tas dan mengambil dokumen atau benda penting yang memiliki simbol dengan logo Mata Dewa.


Morgan menarik si target naik ke atas panggung agar mempermudah rekannya mengeksekusi tas milik target tersebut. Morgan membuat si target menari bersamanya di atas panggung. Namun, karena melihat satu penari memiliki pasangan dan yang satunya lagi tidak, orang-orang yang menonton mulai berdebat untuk memperebutkan posisi kosong pasangan penari yang satu lagi tersebut. Para penonton lelaki mulai ribut karena ingin ikut naik ke atas panggung untuk menemani penari yang sendirian dan saling berebut kesempatan emas itu.


"Kalian lakukanlah apa yang harus dilakukan, aku ingin melakukan sesuatu dulu." Ucap Rumi yang kemudian berlalu pergi.


"Rumi, kau mau ke mana!?" Tanya Aqila


"Hei, kita tidak boleh berpencar! Agar identitas kita tetap tidak diketahui dan misi berjalan lancar..." Kata Ian


"Ini semakin merepotkan saja!" Dumel Devan


"Sepertinya, Rumi ingin menangani para penonton yang gila itu!" Kata Chilla


Dengan gerakan cepat, Rumi ikut menggunakan sihir penyamaran perubah wujud, namun tetap berpenampilan seperti pria tampan. Ini agar identitas aslinya sebagai orang Desa Daun yang sedang menjalani misi tidak terungkap ke luar. Rumi dengan penampilan barunya dengan tenang dan berani menerobos barisan penonton yang ribut untuk segera naik ke atas panggung. Ributnya penonton yang memperebutkan posisi kosong di samping penari berambut hitam dijadikan peluang bagi Rumi untuk langsung naik ke atas panggung tanpa ba-bi-bu untuk merebut kesempatan emas untuk menjadi pasangan penari berambut hitam yang tak lain adalah Raisa! Dengan geram Rumi mengalahkan impian para penonton lelaki yang ingin menari berpasangan dengan sang penari cantik.


"Oho! Benar, yang kukatakan! Rumi mau menangani para penonton lelaki itu agar tidak punya kesempatan untuk naik ke atas panggung dan mengganggu Raisa." Sambung Chilla


"Mereka memang benar-benar sangat merepotkan!" Gerutu Devan


"Halo, cantik! Aku akan menari bersama menjadi pasanganmu..." Kata Rumi yang sudah berada di atas panggung.


"Kau ini... Rumi!? Kenapa kau naik ke sini?!" Tanya Raisa sambil berbisik.


"Lalu, aku harus membiarkan penonton lainnya yang naik untuk melihatnya menari bersamamu, begitu? Tidak akan aku biarkan itu terjadi!" Kesal Rumi tertahan karena harus sambil berbisik.


Tanpa berhenti menari, Raisa pun tersenyum...


"Baik, Tuan! Kau bisa ikuti gerakan dan irama tarianku... Atau kau bisa diam saja, biar aku yang memukaumu dengan tarianku!" Ucap Raisa meniru nada dan gaya bicara gadis n*kal sambil mengerlingkan sebelah matanya.


Tanpa sadar dan tanpa disangka, Rumi benar-benar hanya diam terpaku di samping Raisa yang terus menari untuknya.

__ADS_1


Sebenarnya Rumi nekat naik ke atas panggung dengan menyamar sebagai sosok lain karena tak ingin penonton lain yang naik ke atas atau si target yang menjadi pasangan menari Morgan mengganggu Raisa. Karena selain penonton lain yang ingin naik ke stas panggung, si target yang ditarik Morgan ke atas sudah mulai mencuri pandang ke arah Raisa dan berniat mengambil kesempatan pada dua penari cantik yang di atas panggung itu sekaligus...


Dari arah bawah panggung, Devan memberi isyarat bahwa telah selasai menggeledah isi tas si target dan meminta Morgan, Raisa, dan Rumi menyudahi aksi gila mereka dengan segera turun dari atas panggung.


Mereka bertiga yang berada di atas panggung itu menerima isyarat dari Devan dan langsung mengerti. Isyarat diterima bersamaan musik pengiring berhenti, pertunjukan pun usai. Raisa dan Morgan pun mengakhiri gerakan tariannya serta melakukan gerakan salam penutup sebelum turun dari atas panggung.


Saat kedua penari cantik itu turun dan meninggalkan panggung, penonton kembali ramai karena merasa enggan ditinggalkan oleh mereka. Sama seperti si target yang masih berusaha mengejar Morgan yang menyamar itu. Saat si target berusaha menahan kepergian Morgan, Rumi tetap berjaga di dekat Raisa agar si target tidak sampai menyentuh kekasih tercintanya.


"Hoho... Tuan, kita sudah bersenang-senang di atas panggung tadi. Kenapa kau masih menghentikan aku di sini?" Ujar Morgan berperawakan cantik karena penyamarannya.


"Waktu sangat cepat berlalu, bukan? Bagaimana kalau kau menemaniku minum dulu sebentar sambil berbincang-bincang hangat?" Tanya si target dengan tatapan mes*mnya.


Sambil Morgan bercakap-cakap untuk menahan si target, ia memberikan isyarat agar Raisa dan Rumi pergi terlebih dulu. Raisa dan Rumi pun mengerti dan langsung meninggalkan Morgan di sana.


Saat Raisa berusaha pergi meninggalkan area panggung, peninton lainnya masih saja berusaha menahan Raisa untuk tetap berada di sana. Rumi pun langsung bergerak menjaga dan mencegah para penonton itu tidak bisa sedikit pun mendekati Raisa.


Setelah Raisa dan Rumi berhasil pergi, Morgan langsung ditarik untuk duduk bersama si target di tempatnya. Di sana tas milik si target pun sudah dikembalikan ke tempatnya semula. Morgan pun terus mencari cara agar bisa terbebas dari situasi sulit itu dan segera melarikan diri.


Sementara Morgan masih terjebak situasi yang meresahkan, Raisa dan Rumi terus melarikan diri dari keramaian dan berhenti di suatu tempat yang sepi.


Di tempat sepi itu, digunakan Raisa dan Rumi untuk memulihkan penyamaran mereka dan mengembalikan sosok wujud asli keduanya.


"Huh, akhirnya selesai juga! Terlalu risih bagiku untuk menjadi sosok yang bukan diriku sendiri." Lega Raisa saat selesai mengubah dirinya sendiri kembali seperti semula.


"Lalu, kenapa kau harus repot-repot melakukan hal yang seperti tadi jika itu membuatmu merasa risih?" Tanya Rumi


"Tadi itu kan demi keberhasilan misi kita kali ini. Kau terlalu mengkhawatirkan aku, Rumi. Lagi pula, ini barulah diriku yang sebenarnya. Sosok mau pun pakaian yang kugunakan tadi sungguh benar-benar hanya tipuan sihir ilusi. Dari diriku sendiri, mana mungkin ungin berpenampilan seperti itu. Tidak ada niat sedikit pun!" Jawab Raisa


"Tadi itu jantungku hampir saja meledak, tahu tidak?! Melihatmu seperti tadi membuat pikiranku jadi sangat kacau!" Ujar Rumi


"Kau benar-benar marah, rupanya. Jangan marah lagi ya. Maafkan aku. Sungguh deh, kalau bukan untuk kepentingan misi yang bisa dibilang mendesak ini aku juga tidak pernah terpikirkan cara seperti tadi. Aku tidak akan menggunakan cara yang seperti tadi lagi jika bukan karena sangat mendesak. Tadi itu juga niatku hanya ingin membantu Morgan di sampingnya." Ucap Raisa


Raisa meletakkan satu tangannya pada dada Rumi untuk menenangkan dan meredakan amarahnya.


"Lebih baik jika kau benar-benar tidak pernah melakukan hal seperti itu lagi." Kata Rumi


"Sudahlah, toh aku juga baik-baik saja. Jadi begini rasanya melihat seseorang yang kau sayang marah karena peduli, aku jadi mengerti saat kau malah merasa senang melihatku marah." Ujar Raisa


"Jadi, sekarang kau merasa senang ya... Padahal aku masih merasa kesal, tapi asalkan kau tetap tersenyum dan baik-baik saja, itu sudah cukup bagiku. Akhirnya ada hal lain lagi yang membuat kita saling mengerti." Ucap Rumi


"Aku memang merasa sedikit senang, tapi aku juga tahu salah dan mengerti rasa khawatirmu. Tidak sama sepertimu! Biasanya, jika sudah seperti ini, setelahnya kau pasti malah mencari kesempatan... Huh!" Kata Raisa sambil menggembungkan pipinya.


"Kau ini, Raisa... Aku tadi itu sungguh khawatir, tapi kau seolah menganggapnya hal bohong." Oceh Rumi


Raisa yang menggembungkan pipinya terlihat imut dan menggemaskan bagi Rumi. Itu seolah menarik hati dan gerakannya untuk mendekat ke arah Raisa... Rumi pun mulai menyentuh pipi Raisa dengan lembut~


"Tuh kan, kau mulai lagi! Rumi, aku menyentuh dadamu hanya untuk menenangkan hatimu yang diliputi rasa kesal, bukan untuk merayumu!" Oceh Raisa


Seakan tuli, Rumi tak mendengar ocehan yang terlontar dari mulut Raisa dan terus mendekati wajah cantik jelita di hadapannya.


Aww!


Tiba-tiba saja Raisa menjerit tertahan seperti merasa kesakitan.


"Kau kenapa, Raisa? Apa aku sudah menyakitimu?" Tanya Rumi yang tersadar saat mendengar jeritan kecil dari mulut Raisa dan melihat ekspresinya yang seperti kesakitan.


"Tidak apa. Sepertinya aku terlalu lama berdiri saat tadi menari, kakiku sedikit sakit." Jawab Raisa


"Maaf, aku melupakan itu. Di dini pasti juga dingin karena sudah malam. Ayo, kita kembali pada yang lain!" Ucap Rumi


"Ya, mereka juga pasti mencari kita." Kata Raisa


"Kalau masih sakit, kau bisa berjalan sambil berpegangan denganku. Atau perlukah aku menggendongmu?" Ujar Rumi

__ADS_1


"Tidak perlu, aku masih sanggup berjalan. Ini bukan masalah. Cukup pinjam tanganmu dan bergandengan saja." Ucap Raisa


Akhirnya, Raisa dan Rumi kemnali mencari teman lainnya. Berjalan sambil bergandeng tangan di bawah sinar rembulan...


..."Kukira sakitnya sudah sembuh, tapi perut ini masih saja terasa sakit. Sudah kubilang, jangan sampai rasa sakitnya menggangguku saatmusi. Sembuhlah!" Batin Raisa yang ternyata merasa sakit di perut bukan di kakinya....


Raisa dan Rumi sudah mencari teman lainnya, sedangkan Morgan masih terjebak dengan pria menyebalkan itu.


"Ayolah, cantik! Jangan hanya menemaniku minum, kau juga minumlah sedikit saja." Ucap si target


"Kau sudah mabuk, Tuan. Tapi, maaf! Aku sungguh tidak bisa mimum yang seperti ini." Tolak Morgan yang berpenampilan seperti gadis cantik.


"Ayolah, coba minum ini sedikit saja. Biar aku yang tampan ini mengajarimu caranya minum. Temani aku lebih lama lagi." Bujuknya


Saat memaksanya untuk ikut minum, Morgan melakukan gerakan cantik menumpahkan minuman itu pada pakaian si target hidung bel*ng tersebut. Morgan melakukannya semulus mungkin agar tidak ketahuan bahwa sebenarnya itu adalah ulahnya.


"Ah, minumannya sudah tumpah di pakaianmu, Tuan! Aku tidak suka seseorang yang kotor walau hanya karena sedikit minuman. Kalau kau mau aku menemanimu lebih lama lagi, kau harus membersihkan dirimu dulu. Pergilah, aku akan setia menunggumu di sini." Ucap Morgan


"Uh, baiklah! Kau tunggu dan duduk manis di sini ya. Jangan pergi ke mana-mana, aku akan cepat kembali!" Katanya yang beranjak bangkit dan berlalu dengan cara berjalan yang sempoyongan.


"Baik. Pastikan dirimu bersih saat kembali. Kalau tidak aku tidak mau menemanimu lagi dan akan pergi!" Teriak manja Morina alias Morgan.


Melihat dan memastikan si target sudah pergi cukup jauh, Morgan pun menggunakan kesempatan itu untuk kabur.


"Pergilah, pergi saja yang lama dan jangan pernah kembali! Biar aku juga pergi dari sini! Dasar, tua bangk*! Sudah mabuk berat pun masih saja merayuku untuk ikut minum. Itu tidak akan terjadi!" Cerocos Morgan sambil melarikan diri secepat mungkin.


Setelah mencari dan kembali ke tempat semula berkumpul, akhirnya Raisa dan Rumi menemukan teman lainnya yang sedang menunggu mereka.


"Kami kembali!" Kata Rumi


"Apa semuanya berjalan lancar tadi?" Tanya Raisa


"Tentu saja. Kami hanya tinggal menunggu kalian saja." Jawab Ian


"Tunggu! Di mana Morgan?" Tanya Devan


"Aku kira dia sudah kembali menemui kalian." Jawab Rumi


"Ah, dia ditarik paksa oleh si target setelah turun dari panggung." Ungkap Raisa


"Itu, dia! Morgan!" Seru Aqila


"Bagaimana rasanya menemani target mes*um itu? Lalu, bagaimana kau bisa kabur dari jeratannya?" Tanya Chilla


"Tentu saja, aku mengusirnya. Sudahlah, jangan bahas hal itu!" Jawab Morgan yang sudah kembali menjadi sosok aslinya, si lelaki tengil.


"Jangan banyak bicara lagi. Ayo, kita pergi dari sini sebelum si target menyadari sesuatu yang membuatnya curiga." Ucap Devan


Mereka pun memutuskan untuk segera pergi dari tempat tersebut sesegera mungkin sebelum situasi berubah menjadi lebih gawat.


"Apa yang sudah didapat cukup untuk kita pergi dari sini?" Tanya Morgan


"Sepertinya sudah. Kami sudah memastikan telah mengambil apa yang diperlukan dari si target tadi." Jawab Aqila


"Siapa yang mengizinkan kalian pergi dari sini?"


Langkah kaki mereka mendadak berhenti karena kedatangan tamu yang tak diundang. Yang datang adalah dua target lain yang menemui target di acara sebelumnya!


"Sudah kuduga, pria mes*m seperti Dominic tidak dapat dipercaya untuk menjalankan misi pertukaran seperti ini. Dia itu sangat lalai!"


"Sepertinya mereka berdua sengaja menunggu di sini untuk menghentikan kita." Kata Ian


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2