
"Aku tetap tidak percaya! Kau penipu," kata Amon
"Aku memiliki kemampuan untuk melihat dan memastikan bahwa orang lain berkata jujur atau bohong. Dan aku pastikan bahwa Raisa berkata jujur," ucap Paman Elvano
"Kami para tetua desa sendiri yang memastikannya. Apa kau meragukan kemampuan yang kami miliki, Amon?" tanya Tuan Nathan
Amon terdiam seribu bahasa. Ia tak dapat lagi menampik atau mengelak dari kenyataan yang telah dibenarkan di hadapannya.
Raisa ikut terdiam dengan senyum simpul.
"Pertama kali Raisa datang di dunia ini, kami pun telah melakukan introgasi menyeluruh padanya. Ada tetua lainnya yang menyaksikan dan memastikan kebenaran dari hasil introgasi. Aku, Elvano, Rafka, Aiden, Sierra, Nyonya Tanaya, dan Tuan Keanu adalah saksi atas kejujuran bahwa Raisa itu sosok yang bersih, bukan penipu, dan berada di pihak kita. Kalau pun pada akhirnya dia mungkin akan berkhianat, biarkan saja kami ... para tetua desa yang menangani dan menghukumnya sendiri. Kau tidak perlu ikut campur atau meragukan cara kerja kami, Amon," ujar Tuan Nathan
"Ck! Aku mengerti. Terserah kalian," pasrah Amon tidak bisa lagi melawan.
"Raisa, kau bilang ... berbuat jahat dengan menggunakan kemampuan sihir suci milikmu ini akan mendapat konsekuensi. Apa konsekuensi yang kau katakan sebelumnya sedang mempengaruhimu saat ini juga?" tanya Tuan Nathan
"Konsekuensi itu tidak berpengaruh padaku saat ini. Berbeda dengan Sang Dewa yang berbuat jahat dengan menimbulkan kekacauan di mana-mana dan ingin membunuh orang untuk menjadi tumbalnya, aku yang membunuhnya adalah demi kebaikan banyak orang. Ini termasuk niat baik. Aku baik-baik saja saat ini," jawab Raisa sambil tersenyum kecil.
"Jangan berbohong, Raisa. Katakanlah yang sejujurnya," pinta Rumi sambil menggenggam tangan Raisa dengan maksud memohon padanya.
Raisa menghela nafas singkat.
"Sebenarnya saat ini, sekarang juga aku sedang merasakan konsekuensi itu. Tubuhku terasa sakit dan lemas, tenagaku melemah. Membunuh tetaplah pembunuhan. Sengaja atau tidak, dengan niat apa pun ... meski pun bukan niat jahat atau demi kebaikan, itu tetap perbuatan yang salah. Algojo pun tetaplah seorang pendosa," ungkap Raisa
"Itulah sebabnya setiap kali telah terjadi peristiwa besar dan aku melibatkan diri di dalamnya, setelah itu pasti kondisiku melemah. Ini memang hal yang tetap dan harus kutanggung sendiri," sambung Raisa
Rumi sudah menduga saat melihat Raisa tersenyum pasti ada sesuatu yang disembunyikan di baliknya. Namun, Rumi tidak menyangka bahwa selama ini Raisa menanggung beban yang sulit.
"Baiklah. Semua sudah dilaporkan dengan jelas. Aku dan Elvano akan pergi," ucap Tuan Nathan
"Semua telah terjadi, pulihkanlah dirimu baik-baik, Raisa," kata Paman Elvano
"Baik. Terima kasih sudah mau mengunjungi rumahku yang kecil dan sederhana ini," ucap Raisa
Tuan Nathan dan Paman Elvano pun beranjak pergi meninggalkan rumah Raisa.
Selain, Rumi, Amon, dan Aqila yang sempat ikut bicara sebelumnya ... Morgan, Devan, Ian, dan Chilla hanya diam mendengarkan. Mereka masih setia berada di sana, kecuali Amon yang sudah merasa suntuk.
"Kalian semua sudah mendengarnya tadi. Aku mohon kalian saja yang menjelaskan pada teman lainnya. Aku lelah jika harus terus menjelaskannya lagi," ujar Raisa
"Ya. Kau harus istirahat baik-baik setelah ini, Raisa," pesan Morgan
"Aku mengerti dan aku baik-baik saja. Kalian memang sudah tahu beban yang kutanggung dari memiliki kemampuan suci ini, tapi jangan sesekali kalian mengasihaniku. Aku tidak suka," ucap Raisa
"Aku hanya pernah mengatakan ini sekali pada Rumi sebelumnya ... lebih baik aku mendengar orang lain berkata buruk dan menjelek-jelekkan aku, dari pada orang lain bersikap mengasihaniku. Itu jauh lebih menyakitkan bagiku," sambung Raisa mengungkapkan.
__ADS_1
"Kau hebat, meski kau merepotkan dirimu sendiri," kata Devan
"Kalau begitu, kami tidak akan mengganggumu lagi," ujar Chilla
"Istirahat dan ingat pesan papaku," kata Aqila
"Sampai jumpa lagi," pamit Ian
Amon tidak berkata apa-apa lagi dan hanya mengikuti yang lain ke luar dari rumah Raisa. Menyisakan Rumi yang tetap menemani Raisa di sana.
Raisa tersenyum menatap Rumi. Raisa meminta Rumi untuk duduk di sampingnya. Namun, Rumi tetap bergeming menatap lurus ke arah Raisa.
"Ada apa? Kan, sudah kubilang jangan mengasihaniku," ujar Raisa
"Aku hanya merasa sangat berterima kasih. Lagi-lagi kau menyelamatkan dan melindungiku dengan terus berkorban," ucap Rumi
"Meski bukan aku orangnya pun, pasti akan ada orang lain yang melindungimu. Aku hanya melakukan yang sudah seharusnya dilakukan," kata Raisa
"Sudah kuduga, harusnya aku membawamu ke rumah sakit saja untuk melakukan pemeriksaan dan perawatan," ujar Rumi
"Sudah kubilang, aku baik-baik saja. Aku akan membaik dengan cepat, ini akan pulih tidak lebih dari sehari," ucap Raisa
"Meski begitu, kau harus lebih banyak istirahat," kata Rumi
"Rumi, turunkan aku! Aku bisa berjalan sendiri! Kau ini kenapa senang dan suka sekali menggendongku, sih? Bukankah aku ini berat?" tanya Raisa
Rumi pun mendudukkan Raisa di tepi ranjang.
"Kau tidak berat sama sekali," jawab Rumi
"Kalau begitu, aku akan makan yang banyak untuk menambah berat tubuhku supaya kau tidak suka atau ingin menggendongku lagi," ujar Raisa
"Aku malah senang," kata Rumi
"Lalu, menggendongmu hanya kesenanganku yang kedua," sambung Rumi
"Kalau begitu, apa kesenanganmu yang pertama?" tanya Raisa
"Mendapat ciuman, menciummu, dan berciuman denganmu. Itu kesenanganku yang pertama," ungkap Rumi sambil tersenyum menggoda.
"Sejak kapan kau jadi pandai dan suka menggoda?" tanya Raisa karena heran sambil memalingkan wajah karena malu.
Rumi terkekeh pelan. Ia pun berlutut di hadapan Raisa yang duduk di tepi ranjang.
"Kenapa kau berlutut begitu? Kau bisa duduk di sebelahku," ujar Raisa
__ADS_1
"Raisa, lain kali jangan melakukan perbuatan seperti membunuh lagi. Untuk menghukum atau membunuh orang jahat, biar aku atau orang lain yang melakukannya. Kau cukup menyelamatkan dan melindungi orang-orang dari orang jahat saja. Agar kau tidak merasakan sakit atau menjadi lemah lagi. Kau cukup perhatikan dan melakukan hal baik saja. Selebihnya biar aku atau orang lain yang bertindak," ucap Rumi
Raisa tersenyum melihat dan mengerti kekhawatiran Rumi padanya.
"Aku tidak bisa berjanji untuk itu, tapi mungkin aku masih bisa dan akan mengusahakannya," kata Raisa
"Pokoknya, sudah kubilang tidak ingin jadi terbiasa melihat kondisimu yang menurun seperti ini. Teruslah sehat dan baik-baik saja," ujar Rumi
"Terima kasih karena sudah mau mengkhawatirkan dan peduli padaku. Aku akan selalu berusaha agar dapat selalu bersamamu," ucap Raisa
Rumi membantu Raisa untuk berbaring di ranjang.
"Istirahatlah dengan baik dan jangan turun dari ranjang dulu untuk sementara waktu," kata Rumi
"Lalu, bagaimana kalau aku harus ke kamar mandi atau ingin makan?" tanya Raisa
"Kau bebas pergi ke kamar mandi. Kalau makanan, aku akan menyiapkan untukmu. Akan kubeli dua porsi makanan untukmu makan sekarang dan disimpan untuk nanti. Kau bisa menghangatkannya sebelum kau makan nanti. Aku akan segera kembali," ujar Rumi menjawab.
Rumi pun beranjak pergi meninggalkan Raisa di rumahnya dan membelikannya makanan.
Saat kembali, Rumi dengan cekatan menaruh satu porsi di lemari pendingin untuk dihangatkan dan dimakan nanti. Juga menyiapkan satu porsi lagi di atas piring untuk Raisa makan sekarang. Setelah menghidangkan makanan, Rumi kembali masuk ke dalam kamar Raisa untuk menyuruhnya makan.
Rumi pun membantu Raisa untuk duduk bersandar di dipan ranjang kasurnya agar bisa makan dengan leluasa. Lalu, Rumi duduk di tepi ranjang.
"Aku sudah membelikan makanan untukmu. Yang satu, kutaruh di dalam lemari pendingin supaya kau bisa makan nanti setelah dihangatkan terlebih dulu. Yang satu ini ... makanlah," ujar Rumi
"Sebenarnya, sekarang aku belum lapar," kata Raisa
"Setidaknya makanlah sedikit agar kau bisa pulih dengan cepat. Akan kusuapi," ucap Rumi yang langsung menyendokkan makanan dan menyodorkannya pada Raisa.
"Bagaimana kalau kita makan ini bersama? Aku tidak mungkin bisa menghabiskan makanan ini karena sekarang masih tidak lapar," ujar Raisa
"Baiklah," kata Rumi agar Raisa tetap mau makan.
Raisa pun menerima suapan dari Rumi. Lalu, Rumi ikut makan dari sendok yang sama yang dipakai untuk menyuapi Raisa.
..."Makan berdua dengan sendok yang sama, disuapi pula ... seperti pasangan suami istri saja," batin Raisa yang berusaha keras menahan rasa malunya di hadapan Rumi....
Setelah makanan habis, Rumi membiarkan Raisa kembali beristirahat. Lalu, Rumi pun ke luar dari kamar dan pergi dari rumah Raisa supaya tidak mengganggu gadis itu beristirahat.
.
•
Bersambung ...
__ADS_1