
Kini Raisa sudah kembali dengan rutinitasnya yang bekerja di bidang dunia hiburan.
Mulai dengan melakukan pemotretan seperti biasa.
Kembali dari liburan, wajah Raisa tampak lebih cerah dan berseri-seri. Pesona dirinya tampak lebih bersinar. Hal ini membuat Daffa tertarik melakukan lebih banyak sesi pemotretan untuk Raisa dari pada yang pernah dilakukan sebelumnya.
Sampai akhirnya jadwal pemotretan model lain harus diundur dan ditunda karena demi melakukan sesi pemotretan untuk Raisa.
"Lina, maaf, ya. Ternyata, pemotretan Raisa lebih lama dari yang diduga. Apa kamu bisa tunggu giliran kamu nanti?" tanya Daffa pada modelnya yang lain bernama Lina.
"Oh, iya, gak apa. Aku senggang dan gak sibuk kok. Jadi, bisa tunggu sampai pemotretan Kak Raisa selesai," jawab Lina, model baru.
"Kalau begitu, kamu bisa tunggu di ruang ganti," ujar Daffa
"Oke," singkat Lina
"Semangat, Kak Raisa," sambung Lina
"Iya. Terima kasih," ucap Raisa sambil tersenyum.
Lina pun beranjak masuk ke dalam ruang ganti.
"Kamu kenal sama model baru itu, Raisa?" tanya Nilam
"Aku gak tahu kalau kamu dekat sama model baru," kata Maura
"Lina itu adik kelas kita dulu, tahu. Dulu sempat kebetulan ketemu di sekolah, terus kenal gitu aja, dan ketemu lagi di sini," jelas Raisa
"Oh. Aku gak begitu akrab sama adik kelas, jadi gak tahu," kata Nilam
"Apa lagi aku. Emang kita udah pernah ketemu sama dia di sini sebelumnya?" tanya Maura
"Bukan kita, tapi hanya aku. Itu pemotretan sewaktu kalian ada acara keluarga," jawab Raisa
Maura dan Nilam pun mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Raisa ... ayo, lanjut lagi," kata Daffa
Sesi pemotretan pun dimulai kembali.
Usai pemotretan berakhir, Maura langsung mendekati Raisa untuk memberinya air minum.
"Oke. Udah selesai, ya. Terima kasih, Raisa," ucap Daffa sambil melihat hasil foto di kameranya.
"Sip. Sama-sama," balas Raisa
"Raisa, nih ... minum dulu," kata Maura memberikan sebotol air mineral pada Raisa
"Terima kasih." Raisa menerima botol mineral dari Maura dan langsung meneguk airnya.
"Tumben banget, sih, Daff ... pemotretannya kok bertubi-tubi banyak banget seperti ini?" tanya Nilam
"Lagi tambah minat aja. Mungkin karena Raisa habis dari liburan juga kali, ya. Auranya, tuh, makin terpancar dan berseri-seri. Ini hal yang gak boleh disia-siakan," ungkap Daffa
__ADS_1
"Tapi, emang benar, sih. Raisa, tuh, kelihatan beda banget. Lagi senang kayaknya. Seolah-olah habis dan bisa melakukan banyak hal," ujar Maura
"Raisa, habis dapat durian runtuh pas lagi liburan, ya?" tanya Nilam
"Enggak kok. Habis mengalami hal baik aja," jawab Raisa
"Merasa senang gitu, tapi apa gak sayang cuma bisa liburan gak lebih dari seminggu?" tanya Maura
"Aku berusaha profesional aja, sih. Kan, masih harus kerja," jawab Raisa
"Kalau aku sih, kalau kesenangan liburan ... jadi malas kerja," kata Maura
"Bagus, Raisa. Pertahankan. Jangan malas kayak Maura," ujar Nilam
"Oh, ya, Raisa ... hasil edit foto kamu yang berdua waktu itu udah selesai. Filenya masih ada, belum kukirim ke kamu. Mau lihat dulu di laptopku gak?" tanya Daffa
"Mau dong. Langsung ke ruangan kamu aja, ya?" balik tanya Raisa usai menjawab.
Daffa mengangguk. Ia pun berjalan lebih dulu menuju ke ruangannya dan Raisa mengikutinya dari belakang.
"Berdua?" Maura dan Nilam saling memandang satu sama lain.
Keduanya merasa heran karena yang mereka berdua tahu biasanya Raisa hanya melakukan pemotretan sendiri tanpa pendamping. Tak ingin merasa penasaran berkepanjangan, Maura dan Nilam pun langsung menyusul menuju ke ruangan Daffa.
"Semuanya bagus. Aku mau semuanya, ya. Tolong kirim ke aku," ucap Raisa
"Sip. Langsung kukirim sekarang juga," kata Daffa
"Mau lihat juga dong," heboh Maura
"Foto pasangan, toh. Sama Rumi," kata Nilam yang terkejut, tapi tidak merasa aneh.
Foto berdampingan berbeda dengan foto berpasangan. Jika, foto berdampingan adalah foto dengan pendamping. Biasanya pemotretan ini akan dilakukan oleh sesama perempuan atau sesama lelaki. Namun, jika foto berpasangan adalah foto dengan pasangan. Meski tidak selalu dengan pasangan sesungguhnya, biasanya pemotretan dilakukan oleh perempuan dan lelaki.
"Rumi mau juga ikut pemotretan kayak begini. Kukira dia tipe yang gak mau disorot kamera," ujar Maura
"Mungkin demi bisa tambah dekat sama Raisa. Kalian kenal sama Rumi?" tanya Daffa
"Iya. Rumi itu-"
"Hanya teman. Kami berteman baik." Raisa menjelaskannya seorang diri.
"Oke. Paham deh sekarang. Ada something yang gak bisa dijelaskan dan gak boleh diungkapkan antara kamu sama Rumi," ucap Daffa
"Terserah deh mau anggap seperti apa," pasrah Raisa
"Daffa aja bisa langsung sadar. Tapi, Daff ... kamu kok tumben bicara pakai bahasa aku-kamu? Gak kayak biasanya aja?" tanya Nilam
"Aku khilaf dan ada seseorang yang buat aku sadar. Gitu aja sih," jawab Daffa
Raisa hanya bisa terkekeh ringan.
"Oh, ya. Sekarang ruang ganti perempuan dan lelaki dipisah, ya. Supaya gak terjadi hal yang gak diinginkan lagi," ujar Daffa sambil melirik ke arah Raisa.
__ADS_1
"Aku bilang ... waktu itu kamu salah paham," kata Raisa merespon dengan cepat.
"Waktu itu mungkin emang salah paham, tapi gak tahu kalau selanjutnya," ucap Daffa
"Kalau begitu, kamu tinggal gak usah pakai dia lagi buat jadi model kamu," ujar Raisa
"Jangan gitu dong. Lagi pula, aku sih yakin dia mau ikut jadi model dadakan lagi," kata Daffa
"Emang waktu itu ada apa? Kenapa?" tanya Maura
"Gak ada apa-apa," jawab Raisa dengan kecepatan kilat.
"Udah, ah. Aku mau ganti baju dulu," sambung Raisa bergegas pergi dari ruangan Daffa dan langsung menuju ruang ganti seperti sedang melarikan diri.
"Pasti ada apa-apa waktu Raisa pemotretan bareng Rumi sewaktu kita gak ada," bisik Nilam pada Maura
Tatapan kedua gadis itu pun seketika berubah menjadi tatapan penuh gosip. Maura dan Nilam pun beranjak menyusul Raisa menuju ke ruang ganti.
"Dasar, tukang rumpi." Daffa menggeleng-gelengkan kepalanya merasa heran dengan sifat para gadis.
"Kak Raisa, udah selesai pemotretannya?" tanya Lina begitu melihat Raisa masuk ke dalam ruang ganti.
"Udah. Mungkin kamu udah bisa langsung temui Daffa untuk sesi pemotretan kalau udah ganti pakai busana pemotretannya," jelas Raisa
"Maaf, ya. Jadi, buat kamu harus menunggu," sambung Raisa
"Gak apa kok, kak. Aku mah santai," kata Lina
"Oh, ya, Kak Raisa ... kakak yang waktu itu gak ikut ke sini lagi? Dia itu model juga bukan, kak? Aku lupa ... siapa, ya, namanya?" tanya Lina melanjutkan.
"Oh, itu ... Rumi. Dia bukan model, tapi waktu itu dia ikut pemotretan juga jadi model dadakan," ungkap Raisa
"Apa kak Rumi gak ikut ditawarin jadi model tetap aja, Kak? Sayang deh, kayaknya bakal sukses," ujar Lina
"Aku gak tahu, ya, dia mau atau enggak. Lagi pula, dia bukan orang sini. Dia datang dari jauh," ucap Raisa
"Maaf, aku ganti baju dulu, ya, Lina." Raisa pun langsung beranjak menuju bilik ganti yang ada di sana.
"Apa kak Rumi orang dari luar negeri? Kalau begitu, gak bakal ketemu lagi dong. Padahal aku suka sama dia," batin Lina
•••
Beberapa bulan kemudian.
Sejak kembali dari liburan, kesibukan Raisa semakin menjadi-jadi.
Kali ini, Raisa sedang mempersiapkan diri untuk penampilan di acara amal tahunan yang tahun ini mengundangnya secara khusus. Di acara tersebut, mengadakan tampilan drama musikal yang akan Raisa bintangi. Raisa bahkan diminta untuk menjadi peran utama dalam drama tersebut.
Beberapa waktu ini, Raisa jadi sibuk latihan gladiresik untuk drama musikal acara amal.
Banyak waktu yang tersita untuk latihan gladiresik drama musikal untuk acara amal tahunan. Meski begitu, Raisa tetap menjalani jadwal pekerjaan lainnya.
.
__ADS_1
•
Bersambung ...