Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
51 - Dilema Rumi.


__ADS_3

"Lupakanlah saja. Sini, biar kubantu bawakan nampan yang lain." Ucap Rumi


Begitu banyak teman, minuman tak hanya satu gelas saja. Dan, itu tak cukup hanya satu nampan untuk membawanya. Rumi pun ikut membantu Raisa membawakan nampan lain bersamanya.


Rumi berjalan mendahului Raisa seraya membantu membawakan nampan di tangannya. Raisa pun mengiringi jalannya di belakang. Tanpa ada yang tau, hatinya sedang bersedih... Ia merasa bersalah telah berlaku kasar saat menolak perlakuan Rumi. Tak bisa ia pungkiri, ia adalah penyebab sakit hatinya sendiri. Tak seharusnya cinta, tak seharusnya memberanikan diri, tak seharusnya memberi harapan palsu. Maka, tak seharusnya akan jadi seperti ini...


Raisa menatap punggung lelaki yang berjalan mendahului di depannya. Sosok yang terlihat mempesona dari segi mana pun melihatnya. Sosok yang membuat hatinya bergetar hebat dan berdebar tak karuan sekaligus merasa patah hati!


Ditambah lagi, hatinya serasa teriris saat mendengar pujaan hatinya mengatakan ucapan yang terakhir kali tadi...


...'Entah kenapa, aku merasa sedih saat Rumi bilang untuk lupakanlah saja. Apa yang harus dilupakan? Semua itu terlalu manis untuk dilupakan! Namun, terlalu pahit untuk dikenang. Apa yang harus dilakukan? Sebenarnya, apa yang kurasakan kini? Hanya keegoisan belaka! Aku mendambakan perasaan saling mencinta, tapi takut akan rasa sakit hati. Aku hanyalah p*ng*cut!' Batin Raisa...


Tanpa disadari, mereka berdua sudah sampai pada teman yang lain. Seolah terjadi begitu saja, Raisa memberikan minuman yang dibawanya pada teman yang lain, padahal pikirannya sedang tak menentu arah. Bahkan ia tak menyadari seseorang sedang berbicara dengannya.


"Raisa!~" Serunya


"Ah, iya! Rumi, kau memanggilku?" Sahut Raisa saat tersadar dari lamunannya.


"Bukan aku, tapi, Chilla. Aku hanya membantu menyadarkanmu." Kata Rumi


"Oh, itu, Chilla... Kau mengatakan apa tadi? Maaf, pikiranku teralihkan sesuatu." Ujar Raisa


"Apa yang mengalihkan pikiranmu, Raisa?" Tanya Chilla


"Entahlah, bahkan aku tidak mengingatnya lagi. Aku terlalu terhanyut dalam lamunan." Jawab Raisa berdusta.


"Kau terlihat tidak bersemangat, Raisa? Kau kenapa?" Tanya Morgan


"Aku sedikit merasa pusing. Mungkin karena kepalaku terbentur saat jatuh tadi, jadi pikiranku pun ikut melayang-layang. Biasanya aku berlatih sendiri, jadi baru mengalami terjatuh seperti tadi. Tapi, ini bukan masalah..." Jawab Raisa


"Apa rasanya sangat sakit? Aku benar-benar minta maaf..." Ujar Rumi


"Ah, bukan maksudku menyalahkanmu. Kau tidak bersalah... Tidak masalah merasa sakit saat latihan, jadi saat mengalami pertarungan sungguhan tidak akan terlalu kaget. Ini juga baik untuk meningkatkan kemampuan... Mengingat aku sangat jarang berlatih." Ucap Raisa


...'Lagi-lagi, aku membuat Rumi merasa bersalah... Tidak seharusnya begini. Akulah yang bersalah!' Batin Raisa...


Saat mengobrol dengan yang lain, tiba-tiba saja ponsel di saku celana Raisa berdering. Raisa pun mengambil dan melihat ponselnya. Panggilan video dari Sang Ibu. Tak mau yang lain merasa terganggu, Raisa pun memberitau semuanya...


"Ada telpon dari Ibuku. Aku akan menjawabnya. Tunggu sebentar ya..." Kata Raisa


Raisa pun menjauh untuk mengangkat telpon~


'Hallo...'


"Ya, hallo, Bu?" Jawab Raisa yang mengangkat panggilan video pada ponselnya.


Raisa mensejajarkan ponselnya dengan wajahnya dengan jarak yang tak jauh. Tertampanglah wajah teduh Sang Ibu yang menunjukkan raut kerinduan...


'Katanya mau sering-sering ngasih kabar. Kok telpon enggak, kirim pesan enggak? Kamu di sana ngapain aja?'


"Maaf, Bu. Karena tamunya juga baru datang kemarin, jadi aku masih sibuk menjamu mereka. Tapi, semalam sebelum tidur dan pagi ini setelah bangun, aku kirim pesan ke Ibu kok. Ya, kan? Rencananya juga setelah ini, aku baru mau telpon Ibu, tapi, keburu Ibu yang telpon Raisa. Sekarang kami di sini lagi olahraga bersama, Bu."


'Kamu jadi sibuk gitu, Nak... Kamu di sana dibantu pengawas vila ga buat melayani mereka semua? Temanmu ada berapa banyak memang? Apa Ibu ke sana aja bantu kamu?'


"Raisa, di sini sendiri tanpa bantuan penjaga vila. Habis, identitas mereka kan istimewa seperti aku. Walau sudah diberitau dan diperingati, takutnya mereka lupa dan ga sengaja ngungkap identitas mereka yang spesial. Jadi, aku melayani mereka sendiri aja, jaga-jaga hal yang mengejutkan dilihat orang. Temanku banyak sih, ditambah denganku jumlah kami 14 orang menginap di sini. Tapi, gapapa kok. Aku masih bisa urus semua, mereka kan juga ga diam aja, mereka bantu aku juga kok. Ibu ga perlu samoai ke sini bantu aku, sebenarnya aku yang belum siap ngenalin mereka ke keluarga kita. Maaf ya, Bu. Bukan maksudku ga mau Ibu datang... Anggap aja aku lagi tour sekolah, jalan-jalan sama teman sekolah. Jadi, Ibu ga usah khawatir..."

__ADS_1


'Tapi, Ibu kan jadi kangen sama anak Ibu. Bapak juga pesan... Katanya, jaga diri baik-baik, jangan asik main aja sampe lupa makan. Baik-baik liburan sama teman kamu itu. Raihan ngambek tuh di runah. Kayaknya dia iri sama kamu yang bisa liburan jalan-jalan.'


"Haha, bilang ke Raihan... Jangan ngambek nanti cepat tua! Bilangin, nanti pas pulang aku beliin oleh-oleh. Tolong tanyain mau apa...? Ibu juga mau apa? Nanti Raisa beliin semua. Bapak mana, Bu? kok ga kelihatan?"


'Bapakmu ya sibuk kerja, Sayang. Nanti deh, Ibu tanyain Raihan, mau oleh-oleh apa. Nanti Ibu kasih tau lewat pesan ya. Kamu di sana baik-baik ya. Jangan lupa makan. Ibu cuma mau tau kabar kamu aja kok. Udah aja telponnya, kamu balik lagi sama temanmu.'


"Iya, Bu. Raisa tutup ya, telponnya..."


Tut!


Sambungan panggilan video terputus...


Raisa pun menaruh dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Lalu, ia kembali pada ke bersamaan teman-temannya.


"Bagaimana latihan kalian? Apa melelahkan? Apa ada yang mau menambah minuman?" Tanya Raisa yang kembali bergabung dengan yang lain.


"Latihan ini cukup membosankan! Karena tidak bisa mengeluarkan semua kemampuan (sihir) kami, juga tidak boleh menggunakan senjata." Jawab Ian


"Apakah begitu? Kurasa, jika kalian memakai belati yang kalian miliki, itu boleh saja. Tapi, hanya sebatas itu saja." Ucap Raisa


"Itu lebih baik!" Kata Marcel


"Bagiku tetap saja kurang! Aku tidak biasa memakai senjata lain selain pedang kesayanganku..." Ujar Sandra


"Kalau begitu, apa kau mau berlatih denganku, Sandra? Hitung-hitung, menguji dan melakukan percobaan bertarung sebelum duel kita di dunia kalian..." Tawar Raisa bertanya.


"Aku menolak! Tidak seru jika melakukan latihan dengan lawan sebelum pertarungan sesungguhnya. Walaupun kulakukan, akan sulit bagiku mengontrol diriku untuk melakukan pertarungan yang sesungguhnya denganmu di sini saat ini juga." Tolak Sandra


"Itu benar! Lagipula, bukankah lau masih merasa pusing pada kepalamu, Raisa? Sebaiknya kau istirahat saja dulu..." Ujar Sanari


"Kami bisa berusaha mencari sesuatu itu sendiri. Jika, ada yang ingin menambah minuman, aku dan Sanari bisa membuatkannya untuk yang lain. Semalam kan kau sudah memberitau letaknya pada kami di dapur. Atau, jika terdesak, kami bisa segera mencarimu di kamarmu." Ucap Aqila


"Ya. Yang penting, kau istirahat saja dulu." Kata Wanda


"Atau kau ingin ada dari kami yang mengantarmu ke dalam?" Tanya Dennis


Mendengar pertanyaan yang terlontar dengan bebas dari mulut Dennis, sontak Rumi langsung menoleh ke arah Raisa. Menatap dan menunggu jawabannya dengan penuh harap...


"Tidak, tidak perlu! Tidak usah repot-repot... Aku bisa masuk sendiri. Jangan sampai merepotkan kalian untuk bolak-balik masuk dan keluar. Jangan pedulikan aku, kalian berlatih lagi saja... Nikmati waktu kalian." Jawab Raisa menolak.


Mengerti, jika sebelumnya sampai membuat Rumi merasa cemburu. Raisa langsung menolak tawaran baik dari Dennis...


Bahkan, Raisa merasa tubuh bagian samping kirinya merasakan suhu panas dingin. Menyadari seseorang menatapinya. Itu pasti Rumi yang mengharapkan jawaban demikian darinya. Walaupun, Rumi tidak berpikiran sama pun, Raisa tetap tidak akan menerima tawaran itu. Ia tak mau lagi menciptakan suasana tak enak hati. Karena tidak semua niat baik akan berakir baik pula. Sekecil apapun niat tersebut...


Mendengar jawaban yang Raisa berikan, membuat perasaan hati Rumi merasa lega... Dirinya memang berharap demikian. Meskipun, Raisa berkata tidak memerlukan siapapun untuk mengantarnya beristirahat masuk ke dalam vila, yang artinya juga tidak memerlukan dirinya. Itu masih lebih baik daripada melihat gadis itu diantarkan dan ditemani oleh lelaki lain selain dirinya.


Rumi sebenarnya bingung... Kenapa dirinya memiliki perasaan pertarungan selektif dengan lelaki lain demi memperlakukan seorang gadis...? Ia tak pernah merasa seperti ini sebelumnya.


"Baik-baiklah beristirahat di dalam, Raisa." Kata Amy berpesan.


"Ya, aku tinggal dulu ya. Kalau ada perlu apapun, cari saja aku." Ujar Raisa


Raisa pun melanggang pergi beranjak memasuki kembali vila keluarga besarnya itu...


Meninggalkan semua temannya yang sedang berlatih di halaman vila yang luas~

__ADS_1


Kini, dengan sepengetahuan Raisa sebelumnya, mereka semua berlatih dengan menambahkan sebuah belati kecil sebagai sarana persenjataan. Agar latihan mereka tidak terlalu monoton.


...


Raisa pun merebahkan tubuhnya di ranjang kasur yang empuk di dalam kamarnya.


Kamar yang Raisa tempati adalah kamar single pribadi. Kamar khusus yang diperuntukkan bagi pengelola vila atau yang biasanya menjadi leader keluarga besar yang sedang menginap. Namun, karena kini dirinya sedang membawa teman-temannya menginap di vila milik keluarga besarnya, maka Raisa memilih menempati kamar tersebut. Walaupun harus tidur berpisah dengan teman perempuannya yang lain, itu lebih baik. Raisa merasa takut jika sebenarnya dirinya belum diterima sepenuhnya dalam pertemanan antar dunia yang berbeda yang belum lama mereka semua jalani. Ia juga merasa tak enak jika harus mencampuri pribadi teman gadisnya yang lain...


Sekarang, Raisa benar-benar merasa harus beristirahat. Karena, selain merasa pusing di kepalanya akibat benturan dengan tanah saat berlatih duel dengan Rumi tadi... Raisa sebenarnya juga merasa terus berperang dengan hatinya yang memiliki banyak tekanan. Tentang perasaannya dengan Rumi, namun harus menghadapi kenyataan jika mereka takkan pernah bisa bersatu. Dirinya juga harus terus bertolak belakang dengan perasaannya sendiri, karena ia tak ingin merasakan sakit hati yang melebihi apa yang dirasakannya saat ini jika nanti harus dihadapi dengan kenyataan akan perpisahan.


Raisa pun menutup matanya. Mengistirahatkan sejenak perasaan dan segala bebannya dari hal-hal berat yang memusingkan. Dirinya pun benar-benar terlelap dalam dunia mimpi~


---


Membiarkan teman-temannya yang lain dengan kesibukan berlatih mereka, Rumi memisahkan diri dari yang lain dan menyelinap masuk ke dalam vila...


Walaupun membiarkan Raisa masuk ke dalam vila sendirian sebelumnya, ternyata niatnya adalah mencuri-curi kesempatan untuk ikut masuk ke dalam vila untuk melihat Raisa~


Tidak tau alasan apalagi yang ia sampaikan untuk pergi dari temannya yang lain.


Kini, Rumi sudah berada dalam suatu kamar yang sedang di tempati seseorang.


Dilihatnya, seorang gadis yang sedang bergemul di atas ranjang kasur yang empuk. Matanya yang terpejam rapat serta wajah ayu yang tetap menenangkan walau sedang dalam tidur yang lelap...


Terus menatapnya dalam-dalam membuat Rumi merasakan tarikan magnet dalam dirinya. Membuat satu tangannya terulur menyentuh kepala sang gadis. Membelai rambut-rambut halusnya dengan lembut secara perlahan...


'Sebelumnya, awalnya, aku tidak merasa penasaran denganmu. Tidak sedikit pun aku merasa kau memiliki keanehan atau sesuatu yang tidak beres. Namun, akhir-akhir ini aku merasa sebaliknya... Seperti ada magnet yang menarikku untuk terus menatapmu dan ingin selalu berada di dekatmu. Banyak pertanyaan yang muncul di benakku... Kenapa aku jadi seperti ini? Apa yang aneh dengan diriku? Apa yang berubah dariku? Aku jadi mulai merasa penasaran denganmu. Sebenarnya, yang aneh itu aku atau dirimu? Siapa sebenarnya kau? Sampai bisa membuatku seperti ini. Bahkan sampai membuatku seperti kehilangan akal di saat tertentu seperti saat kau dekat dengan lelaki lain... Aku bahkan merasa sedikit sedih dan kecewa saat kau menolakku mendekatimu. Apa sebenarnya semua perasaan ini? Perasaan yang membuatku tersiksa saat sedang tidak bersamamu atau berjauhan denganmu. Saat itu, aku dilanda kerinduan yang amat besar! Apa ini rasa suka? Apa aku menyukaimu? Tapi, suka dalam arti apa? Apa artimu untukku? Tidak! Aku lebih penasaran... Sebenarnya, apa artiku untukmu?' Batin Rumi


Kembali dilihatnya, wajah Raisa. Wajah itu kini berkerut dahi... Apa yang membuatnya memunculkan ekspresi itu?


'Raisa, kenapa raut wajahmu seperti ini? Padahal kau sedang dalam tidur. Apa kau merasa sakit? Atau kau sedang bermimpi buruk?' Batin Rumi lagi.


"Raisa, tenanglah... Kau tidak sendiri. Aku di sini... Semua teman ada di lingkup sekitarmu. Jalanilah hidup dengan bahagia. Jangan merasa terbebani apapun, karena bukan hanya kau yang mengalami kesulitan. Aku menyukai senyumanmu. Kau terlihat lebih cantik saat tersenyum! Maka, tersenyumlah untuk dunia dan juga untukku." Ucap Rumi dengan suara pelan agar tidak membangunkan Raisa.


Rumi berucap sambil mengusap kening Raisa. Perlahan, sampai kerutan itu hilang.


Rumi tersenyum... Melihat raut wajah Raisa yang kembali tenang~


Rumi pun memberanikan diri mendekatkan wajahnya pada sisi wajah Raisa...


"Raisa, maafkan aku yang membuatmu terjatuh dan merasakan sakit sebelumnya. Biarkan aku melakukan ini saat kau tenang dalam tidurmu. Jangan menolakku, kumohon." Gumam Rumi berbisik di telinga Raisa yang tertidur.


Rumi mengecup pelan pipi Raisa.


"Aku tidak bisa berlama-lama. Maaf, harus meninggalkanmu. Aku pergi, Raisa..." Pamit Rumi berbisik.


Rumi pun bangkit dan berlalu pergi keluar dari kamar yang Raisa tempati.


'Lalu, tentang ciuman terbagi menjadi 3. Jika itu di kening atau dahi atau kepala berarti menyayangi, jika di pipi artinya menyukai, dan jika itu di... Bibir berarti mencintai. Terkadang beda orang beda juga mengartikan ciuman di dahi dan di pipi, terkadang arti ciuman mereka berbanding terbalik denganku. Namun, bagiku inilah arti sebuah ciuman.'


-Itulah kata-kata dari Raisa yang Rumi ingat...


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2