Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 9 - Melambaikan Tangan.


__ADS_3

Raisa yang tidak ingin ambil pusing pun segera melupakan pembicaraannya dengan kedua orangtuanya tadi dan fokus menyiapkan barang untuk pergi berlibur bersama Rumi. Karena Raisa sudah menyimpan sebagian barangnya di rumah di dunia asing sana, ia pun tidak perlu lagi menyiapkan banyak barang dan hanya akan membawa barang penting saja.


..."Aku harus mengabari Rumi dulu kalau aku diizinkan pergi bersamanya," batin Raisa...


Raisa pun sepenuhnya mengabaikan dan melupakan pembicaraan sebelumnya dan teralihkan dengan perasaan senang karena akan segera pergi berlibur.


Raisa pun mengabari Rumi melalui pesan menggunakan ponsel.


^^^To: Rumi.^^^


^^^Rumi, aku sudah mendapat izin untuk pergi bersamamu.^^^


From: Rumi


Syukurlah, kalau kau diizinkan pergi. Kalau sudah mendapat izin, bagaimana kalau besok kita langsung pergi saja?


^^^To: Rumi.^^^


^^^Terserah kau saja. Tapi, bagaimana kita akan pergi besok?^^^


From: Rumi


Aku menggunakan cara yang sama untuk berkomunikasi denganmu. Aku meninggalkan ular sihirku di sana, jadi aku akan menghubungi Aqila dan memintanya membukakan portal dari sana.


^^^To: Rumi.^^^


^^^Begitu, rupanya. Baiklah. Sampai jumpa besok.^^^


From: Rumi.


Besok aku akan datang ke rumahmu. Sampai jumpa besok.


Raisa pun mulai sangat menanti-nantikan datangnya hari esok.


...


Keesokan harinya.


Di pagi hari, setelah bersiap-siap, Rumi pun membawa koper ke luar dari rumah Daffa.


"Loh, kok bawa-bawa koper? Kamu udah mau pergi dari sini?" tanya Daffa


"Iya, aku akan kembali pulang. Sekarang aku hendak ke rumah Raisa," jawab Rumi


"Oh, mau pamitan, ya. Gak mau sarapan dulu?" tanya Daffa lagi.


"Tidak perlu. Terima kasih sudah memperbolehkan aku menginap di sini," ujar Rumi


"Sama-sama. Santai aja. Kalau kamu datang ke sini lagi dan mau menginap di rumahku lagi, gak apa kok," kata Daffa


Rumi mengangguk.


"Kalau begitu, aku pergi dulu ... " pamit Rumi


"Ya. Hati-hati," pesan Daffa


Rumi pun menunggu taksi online yang sudah lebih dulu dipesan Raisa untuknya. Pembayaran telah dilunasi via transfer.


 


Melalui aplikasi, Raisa bisa mengetahui jika Rumi sudah hampir sampai. Raisa pun menunggu Rumi di luar rumah.


Taksi online yang dipesan sudah terlihat dan berhenti di depan rumahnya. Rumi pun turun dari mobil.


"Rumi, kau sudah sampai ... " sapa Raisa


"Ya. Apa kau sudah siap untuk pergi, Raisa?" tanya Rumi


Raisa mengangguk sambil tersenyum.


"Ayo masuk dulu, Rumi," kata Raisa yang mempersilakan Rumi untuk masuk ke dalam rumah.


Rumi pun ikut masuk bersama Raisa ke dalam rumahnya.


"Raisa, aku ingin mengembalikan koper dan ponsel padamu," ucap Rumi

__ADS_1


"Kopernya sudah ingin dikembalikan, lalu bagaimana dengan barang bawaanmu?" tanya Raisa


"Semalam aku sudah menyimpan semua barang bawaanku ke dalam gulungan kertas sihir lagi tanpa diketahui oleh Daffa dan sudah kumasukkan ke dalam tas. Kopermu sudah kosong," jawab Rumi


"Begitu, rupanya. Ponselnya kau simpan saja. Itu kuberikan padamu bukan meminjamkannya," ujar Raisa


"Aku tidak bisa menggunakan ponsel di duniaku. Untuk apa kau memberikannya padaku?" tanya Rumi


"Setidaknya jika kau datang ke duniaku, kau bisa langsung menghubungiku dengan ponsel, jadi kau tidak perlu lagi menggunakan ular sihirmu yang bisa menimbulkan resiko. Simpan saja ponsel itu milikmu sekarang," jelas Raisa


"Tapi, ponsel itu pasti bukan barang yang murah, kan?" tanya Rumi yang tak enak menerima ponsel pemberian Raisa begitu saja.


"Tidak apa. Toh, sudah tidak kugunakan lagi. Dari pada tidak terpakai atau kujual lebih baik untukmu saja," kata Raisa


"Baiklah, akan kusimpan dan kupakai dengan baik. Terima kasih," ucap Rumi


Raisa mengangguk sambil tersenyum.


"Udah siap mau pergi, ya?" tanya Bu Vani yang baru saja muncul.


"Iya, Bu," jawab Raisa


"Bibi, saya izin mengajak Raisa berlibur ke dunia kami di sana," ucap Rumi


"Ya. Titip Raisa, ya," pesan Bu Vani


"Baik. Saya akan memastikan Raisa aman di sana," kata Rumi


"Ibu, aku bukan anak kecil. Gak perlu titipkan aku sama orang lain," protes Raisa


Bu Vani hanya tersenyum kecil.


"Rumi, ayo kita langsung ke halaman belakang rumahku," ujar Raisa


"Baiklah," patuh Rumi


Raisa dan Rumi beranjak menuju halaman belakang rumah. Bu Vani mengikuti keduanya untuk melihat keduanya pergi.


"Aku akan menghubungi Aqila dulu," kata Rumi


Raisa mengangguk.


 


"Enak sekali, Rumi, bisa bertemu dengan Raisa," kata Chilla


"Kenapa Rumi tidak mengajak kita pergi bersama untuk menemui Raisa di sana, ya? Aku sudah rindu sekali dengan Raisa," ujar Amy


"Mereka berdua sedang apa, ya?" Aqila bertanya-tanya.


"Rumi melakukan apa saja bersama Raisa di sana, ya?" Wanda ikut bertanya-tanya.


"Pasti mereka berdua bersenang-senang di sana," kata Sandra


"Rumi, juga jarang menghubungiku melalui ular sihirnya sejak pergi ke sana. Kira-kira kapan dia kembali?" gumam Aqila bertanya-tanya.


Ular sihir milik Rumi yang di simpan Aqila di dalan tas pinggangnya merayap ke luar. Itu tandanya, Rumi menghubunginya.


"Rumi menghubungiku," pekik Aqila


"Aqila, kau ada di sana?"


"Ya, aku di sini. Ada apa kau menghubungiku, Rumi?"


"Aku ingin kembali. Tolong bukakan portal teleportasinya."


"Sekarang ada di mana posisimu?"


Aqila menanyakan posisi keberadaan Rumi di dunia Raisa untuk mencocokkan koordinasi sebelum membuka portal telepotasi dengan menggunakan sihirnya agar pembukaan portal tepat sasaran.


"Aku berada di halaman belakang rumah Raisa."


"Apa saat ini Raisa ada bersamamu di sana? Apa dia akan ikut denganmu ke sini?"


"Dia ada bersamaku dan hendak melambaikan tangannya."

__ADS_1


"Baiklah, aku mengerti. Akan kubuka portal teleportasinya sesuai koordinat lokasimu."


Komunikasi lewat ular sihir pun terputus. Aqila pun bersiap menggunakan sihirnya untuk membuka portal teleportasi.


"Sepertinya Raisa tidak akan ikut datang bersama Rumi," kata Chilla


"Sayang sekali," sesal Amy


Portal teleportasi pun telah dibuka. Mereka pun menunggu kedatangan Rumi kembali.


 


"Portalnya sudah terbuka," ujar Raisa


"Ayo kita pergi," kata Rumi


"Ibu, kami pergi dulu, ya," pamit Raisa


"Kami pergi dulu, Bibi ... " pamit Rumi


"Ya. Hati-hati," pesan Bu Vani


Raisa dan Rumi pun memasuki portal teleportasi yang telah terbuka.


"Kenapa Raisa gak pakai sihirnya sendiri untuk membuka portal teleportasi dan malah harus menghubungi Aqila untuk memintanya membukakan portal dari dunia sana?" batin Bu Vani bertanya-tanya.


 


Rumi pun tiba di dunia asalnya yang berbeda dengan dunia Raisa sebelumnya.


"Rumi, kau sudah datang ... " sapa Aqila


"Kau tidak datang bersama Raisa, ya, Rumi?" tanya Amy


"Kenapa kau tidak mengajak Raisa untuk datang?" tanya Chilla


"Siapa yang bilang aku tidak datang?" Suara seseorang terdengar ke luar dari portal teleportasi.


Mendengar suara tersebut, semua mata tertuju pada portal teleportasi. Dari sana Raisa muncul dengan senyum manisnya. Untung saja portal teleportasi tidak langsung ditutup oleh Aqila.


"Raisa!" pekik Wanda dan Sandra secara serempak dengan kompak.


"Lama tidak bertemu. Halo, semuanya ... " sapa Raisa sambil tersenyum.


"Raisa, aku rindu ... " Amy langsung berhambur memeluk tubuh Raisa yang baru saja datang.


"Aku juga merindukanmu. Aku rindu kalian semua," balas Raisa sambil membalas pelukan Amy.


"Kau bilang, Raisa di sana hendak melambaikan tangan saat kau ingin pergi?" tanya Chilla pada Rumi.


"Memang. Tapi maksudku, Raisa hendak melambaikan tangan secara langsung pada kalian saat dia ikut datang ke sini bersamaku," jelas Rumi


"Sekarang aku sudah datang," kata Raisa seraya melambaikan tangannya seperti yang Rumi katakan.


"Ternyata, seperti itu. Kau sengaja memotong kalimatmu untuk memberi kami kejutan, ya, Rumi. Untung saja portal teleportasinya tidak langsung kututup setelah kau tiba di sini," ujar Aqila


Setelah itu, Aqila pun baru benar-benar menutup portal teleportasinya. Portal teleportasi yang terhubung dan berada di dunia Raisa pun ikut tertutup.


"Dasar! Kami kira ucapanmu itu sungguhan dan Raisa tidak ikut datang ke sini," kata Wanda


"Atau kau yang sengaja meminta Rumi berkata seperti itu untuk mengerjai kami, ya, Raisa?" tanya Sandra


"Tidak kok. Rumi sendiri yang berinisiatif berkata seperti itu tanpa kuminta," jawab Raisa


"Benar. Itu hanya inisiatifku sendiri. Aku tahu kalian sudah sangat rindu pada Raisa. Makanya, aku ingin memberi kejutan saat Raisa datang bersamaku dengan tidak mengatakan sebelumnya bahwa Raisa akan ikut datang ke sini," ungkap Rumi


Amy pun melepaskan pelukannya pada Raisa.


"Bagaimana kabarmu selama 4 tahun ini, Raisa?" tanya Amy


"Kabarku sangat baik. Bagaimana dengan kabar kalian semua di sini?" tanya balik Raisa setelah menjawab.


"Kabar kami semua juga baik," Amy mewakili semuanya untuk menjawab.


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2