Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
96 - Menyaksikan Acara Kelulusan.


__ADS_3

Saat mendengar berita fitnah tentang dirinya, Raisa tetap tenang berusaha mengontrol emosinya agar tak sampai marah atau termancing amarah. Ia tak ingin di hadapan teman-teman spesialnya yang sudah menyempatkan waktu untuk datang sampai melihat amarahnya dengan bertengkar dengan sesama murid lain sekolahnya. Ia juga tak mau jika sampai teman-temannya itu terikut emosi karena semua berita fitnah itu, karena jika sampai mereka marah akan gawat jadinya apa lagi jika sampai mereka mengeluarkan tenaga yang tak diinginkan.


Untunglah seseorang yang ada bersama berita fitnah dengan Raisa ikut mengklarifikasi berita nohong tersebut dengan menggunakan sedikit ancaman, Raisa jadi bisa terbebas dari bisik-bisik gosip miring itu setidaknya walau sebentar. Untungnya orang yang difitnah bersama Raisa adalah seorang guru. Itu membuat lebih mudah untuk ditangani karena yang memfitnah takut akan hukuman.


Yang tak disangka-sangka adalah saat Rumi dengan beraninya melangkah maju dan menyetarakan posisi dengan Raisa untuk membelanya. Bahkan Rumi sampai mendeklarasikan bahwa dirinya dan Raisa adalah sepasang kekasih! Itu sangat mengesankan! Sangat romantis dan manis sekali! Raisa tak menyangka lagi-lagi mendapat perlakuan spesial dan istimewa dari lelaki yang disukainya. Hatinya sampai berdebar kencang!


Raisa merasa bahagia mendapat perlakuan seperti itu sampai dirinya terlena, hingga ia lupa jika temannya yang lain belum mengetahui statusnya dengan Rumi yang sedang menjalin hubungan yang lebih dekat lagi. Raisa tak sanggup menebak reaksi semua temannya yang lain saat mendengar fakta baru itu...


"Raisa, kenapa kau hanya diam saat mendengar orang berbicara buruk tentangmu? Mereka tadi itu keterlaluan!" Ujar Amy


"Tidak apa. Aku hanya tidak ingin membuang tenaga untuk marah atau bertengkar dengan mereka. Hal seperti barusan tadi adalah hal yang biasa terjadi di sini." Ucap Raisa


"Tidak disangka lidah temanmu sangat tajam bahkan lebih tajam dariku." Kata Ian


"Hal seperti itu sudah sangat biasa yang sering terjadi hingga aku tak merasa heran lagi, makanya kubilang omongan mereka hanya angin lalu. Duniaku dan kalian berbeda termasuk hal-hal seperti tadi itu." Ujar Raisa


"Kata siapa di dunia kami tidak ada yang seperti itu? Ada juga, tapi tidak sampai parah seperti yang kau alami barusan." Ucap Morgan


"Ya, itulah maksudku. Kurasa orang-orang di duniaku ini lebih parah lagi. Kalian takkan pernah tahu seperti apa persaingan antar perempuan di sini. Itu sangat mengerikan! Jangan sampai kalian melihatnya, itu sangat buruk!" Ungkap Raisa


"Tak sangka ada juga orang-orang yang merepotkan di duniamu ini!" Kata Devan


"Untung saja tadi Rumi sempat membelamu!" Ucap Wanda


"Benar! Untuk itu, terima kasih sudah membelaku, Rumi!" Ujar Raisa


"Untuk apa kau berterima kasih? Saat aku membelamu temanmu masih bicara buruk tentangmu, masalahmu tadi terselesaikan karena gurumu yang datang membelamu bukan karenaku." Ucap Rumi


"Guruku ingin membersihkan nama baik dan reputasinya, makanya baru berbicara begitu bukan untuk membelaku tapi membela dirinya sendiri yang ikut digosipkan sama sepertiku. Kau berbeda, aku tidak menyangka kau akan berbicara demi diriku. Makanya aku berterima kasih padamu." Jelas Raisa


"Ya, tak sangka kau sampai pura-pura berpacaran dengan Raisa, Rumi. Kau hebat sekali sampai berani bicara begitu." Ucap Chilla


Rumi hanya merespon dengan tersenyum. Melihat Rumi tersenyum, Raisa juga ikut tersenyum.


Raisa tak menyangka Rumi tidak memberi penjelasan lebih tentang hubungan mereka berdua dan mengatakan bahwa hal yang diucapkannya tadi bukanlah berpura-pura. Entah apa maksud Rumi, apakah dia memang ingin menutupi hubungannya dengan Raisa dari yang lain atau memang ingin hubungan mereka berdua mengalir begitu saja. Raisa tak tahu, ia hanya merasa lega. Raisa pun menganggap lebih baik begini, tak ada yang tahu tentang hubungan yang lebih antara dirinya dan Rumi.


"Keberanian Rumi yang maju membela Raisa sampai berpura-pura pacaran itulah yang hebat!" Ucap Billy


"Itu benar!" Sahut Dennis


"Kami semua tidak menyangka." Kata Marcel


"Aku hampir saja memberi temanmu itu tadi pelajaran yang tak akan mereka lupakan." Ujar Sandra


"Akan sangat gawat jika ada di antara kalian yang mengamuk hanya karena persoalan tadi, makanya aku pun tidak mempermasalahkan lebih lanjut lagi." Ucap Raisa


"Yang penting itu sudah berlalu." Kata Aqila


Saat mereka semua sibuk berbincang-bincang, Maura dan Nilam kembali dari kantin dan menghampiri Raisa.


"Raisa, kita udah bawa makanannya nih!" Ujar Nilam


"Yang ini buat kamu!" Kata Maura


Maura pun memberikan makanan yang dibelikan untuk Raisa. Baik Maura dan Nilam belum ada yang menyadari adanya banyak teman Raisa yang hadir di sana karena sibuk membawakan makanan di kedua tangan mereka.


"Wah, makanan! Untukku ada tidak, Raisa?" Tanya Chilla yang kegirangan melihat makanan dan seketika matanya berbinar.


"Punyaku untukmu saja, Chilla. Aku belum terlalu lapar." Kata Raisa


"Enak aja, itu untuk Raisa!" Ketus Maura


"Dasar, gendut! Apa kau tidak malu mengingkinkan makanan milik orang lain?!" Cibir Ian


"Raisa bukan orang lain, dia sahabatku!" Kata Chilla


"Tunggu! Mereka semua ini teman kamu kan, Raisa?" Tanya Nilam

__ADS_1


"Iya, alu belum beri tahu kalian. Teman-temanku datang berkunjung mencariku dan mereka semua diperbolehkan masuk oleh penjaga sekolah." Ungkap Raisa


"Wah, aku ga sadar mereka semua teman kamu yang waktu itu!" Kata Maura


"Mereka semua datang saat kalian berdua pergi ke kantin." Ujar Raisa


Maura dan Nilam pun langsung menghimpit tubuh Raisa di sisi kanan dan kirinya, berbicara bisik-bisik...


"Kamu seneng dong ada yang nyemangatin kamu di acara ini? Apa lagi ada cowok yang kamu suka juga datang kan?" Ujar Nilam


"Hush! Jangan bicara apa-apa di depan mereka tentang ini, aku dan Rumi seperti sedang backstreet di depan mereka. Mereka tak ada yang tahu tentang ini..." Ucap Raisa


"Bahasa kamu jadi aneh kalau ada mereka ya, Raisa." Kata Maura


"Mereka bukan dari sini, meski bisa bahasa sini bicara mereka kaku dan baku. Maklumilah." Ujar Raisa


"Ciee, Raisa... Mereka semua datang kamu langsung kelihatan lebih semangat lagi. Pasti karena ada gebetan kamu kan?" Ucap Nilam


"Siapa namanya? Rumi, kan ya?" Ledek Maura


"Sudah, jangan meledekku terus!" Kata Raisa


Maura, Nilam, dan Raisa membenarkan posisi mereka dan tersenyum setelah melakukan bisik-bisik tetangga tadi...


"Selamat datang di acara kelulusan kami!" Seru Maura


"Senang bisa bertemu dengan kalian semua! Teman Raisa, teman kami juga." Ucap Nilam


"Senang juga bisa bertemu kalian, teman-teman Raisa. Terima kasih sudah menerima kedatangan kami." Ucap Aqila


"Raisa, aku juga ingin makanan dong!" Rengek Chilla


"Hampir saja lupa! Kalian ingin makan ya? Ayo, aku antar kalian ke kantin." Ujar Raisa


"Tapi, kantin lagi penuh orang lho, Raisa." Kata Maura


"Gapapalah, aku antar mereka semua beli makanan dulu ya." Pamit Raisa dengan Maura san Nilam


...


Setelah menenani dan menraktir semua temannya membeli makanan, Raisa mengajak semua temannya untuk duduk di tempat khusus keluarga kerabat murid. Mereka juga ditemani Maura dan Nilam yang ikut bergabung bersama.


"Terima kasih sudah menraktir kami makanan ya, Raisa." Ucap Chilla


"Sama-sama. Nikmatilah makanan kalian." Kata Raisa


"Aku nasih kesal saat membeli makanan tadi masih saja ada yang berbicara buruk tentangmu, Raisa!" Keluh Amy


"Apa telingamu tidak terasa panas dibicarakan seperti itu oleh teman sekolahmu, Raisa? Sudah kuduga, mereka masih saja bicara buruk di belakangmu. Hanya di depanmu saja mereka diam." Ujar Sandra


"Biarkan saja! Jadi, orang yang dibicarakan seperti itu hanya perlu berhati lapang dan sabar. Kalau tidak hanya membuang-buang tenaga yang tidak diperlukan." Ucap Raisa


"Emangnya ada yang bicara seperti apa tentang Raisa?" Tanya Maura


"Wah, kau tidak tahu ya? Ada orang-orang yang berkata buruk tentang Raisa. Mereka sangat jahat dan berlidah tajam!" Sambar Ian


"Ada yang berkata Raisa perempuan tidak benar yang sukanya menggoda guru lelaki tampan yang usianya lebih darinya. Tapi, Raisa hanya diam saja saat mendengarnya." Ungkap Wanda


"APA!?! Yang benar aja sih!? Siapa yang bilang begitu ke kamu, Raisa? Ayo, bilang sama aku biar aku hajar mereka! Enak aja sebar fitnah tentang sahabat baikku ini!" Marah Nilam


"Keterlaluan banget!" Kesal Maura


"Sudah, kalian berdua tenang. Aku gapapa kok, aku juga ga terlalu merhatiin mereka, ga terlalu kenalin wajah mereka juga. Biarin aja, tadi mereka juga udah ditegur sama Pak Guru." Ucap Raisa


"Sudah kubilang, pertengkaran perempuan itu mengerikan! Jadi, jangan bahas itu lagi dan tidak perlu ada yang marah. Mengerti?" Ujar Raisa


"Huh, oke! Untuk kali ini aja, tapi kalau aku dengar langsung ada yang bicara buruk tentang kamu, Raisa... Aku cabik-cabik mereka itu!" Ucap Nilam

__ADS_1


"Oh ya, untuk dua teman perempuanku ini... Kalian semua sudah kenal kan? Saat kalian berlibur di sini, aku sudah mengenalkan nama mereka berdua. Maura dan Nilam. Ingat? Mereka cantik kan?" Ujar Raisa mengalihkan topik pembicaraannya.


"Semua perempuan itu cantik dengan segi penilaian yang berbeda-beda." Kata Chilla


"Chilla, benar!" Setuju Dennis


"Halo, Maura, Nilam." Sapa Marcel sambil melambaikan tangan.


"Tapi, menurutku Raisa yang paling cantik!" Celetuk Rumi


"Tentu dong! Raisa kan...-"


"Ekhem!" Intrupsi Raisa dengan suara dehaman.


"Raisa, kenapa? Kenapa bicaranya terhenti?" Tanya Billy


"Maksud Maura, Raisa itu dikenal sebagai Primadona di sekolah ini. Jadi, tentunya Raisa yang paling cantik, selain itu dia juga pintar." Jelas Nilam


"Primadona itu sebutan untuk orang populer ya?" Tanya Morgan


"Ya, tapi khusus untuk perempuan!" Jawab Maura


"Orang-orang menyebutnya begitu? Tapi, kenapa masih ada yang beranggapan buruk tentang Raisa? Dasar, orang-orang munafik yang merepotkan!" Ujar Devan


"Itu benar! Julukan itu hanya dari sebagian orang yang mengada-ngada untuk sesaat saja. Tidaklah penting!" Ucap Raisa


"Apa pun anggapan orang, bagi kami berdua Raisa adalah sahabat terbaik!" Kata Maura


"Benar, sahabat terbaik!" Sahut Nilam


"Benar sekali! Tapi, bagi kami semua Raisa adalah bintang keberuntungan! Dia selalu membawa keberuntungan bagi kami." Ucap Amy


"Itu juga salah satu fakta!" Sambar Nilam


"Beruntung apanya jika masih dinilai buruk oleh orang lain?" Ujar Raisa


"Yang menilai kamu buruk hanya orang yang iri sama kamu dan dengan apa yang kamu mampu atau miliki. Jangan hiraukan mereka!" Ucap Maura


"Tepat sekali!" Kata Sandra


"Kenapa hanya aku yang jadi topik di sini? Sudahlah, bagiku kalian semua termasuk yang paling berharga dan sangat berarti. Karena kalian semua melengkapi hidupku!" Ujar Raisa


Semua pun berbincang-bincang dengan hangat.


Acara kelulusan masih saja belum dimulai...


"Mungkin sebentar lagi acara kelulusan akan dimulai. Nanti juga akan ada orangtuaku yang datang ke sini. Setelah acara ini selesai, aku akan mengenalkan kalian pada mereka." Ucap Raisa


"Jadi, teman-teman kamu belum pernah ketemu atau dikenalin ke orangtua kamu, Raisa?" Tanya Maura


"Sebelumnya, Raisa bahkan tidak berencana memperkenalkan kami dalam waktu dekat ini. Kenapa kau tiba-tiba mengubah rencanamu itu, Raisa?" Ujar Rumi


"Aku sudah sering bercerita tentang kalian pada keluargaku, alasanku tidak langsung memperkenalkan kalian adalah sepertinya akan terasa canggung saat melakukannya karena kalian datang dari jauh dan aku pun mengenal kalian saat aku berlibur sendiri tanpa keluargaku. Tapi, setelah dipikir-pikir kalian pasti akan segera bertemu dengan orangtuaku cepat atau lambat, terlebih lagi hari ini kalian juga menghadiri acara besar bagiku. Jadi, rasanya aku memang harus saling memperkenalkan kalian. Tapi, bisakah kalian tidak bicara lebih dulu dengan mereka sebelum aku yang memperkenalkan kalian pada mereka nanti?" Tutur Raisa


"Kami datang bukan ingin mengacaukan hari besarmu pada acara ini, tentu kami akan menunggu kau yang langsung memperkenalkan kami pada orangtuamu. Itu pilihan yang lebih baik!" Ucap Aqila


Setelah menunggu sekian lama, acara kelulusan pun dimulai. Keluarga kerabat murid pun telah hadir dengan lengkap termasuk orangtua Raisa. Mereka semua pun bersama-sama menyaksikan acara kelulusan yang dilangsungkan di sekolah menengah akhir tersebut.


Raisa telah berusaha semampunya untuk mempersiapkan diri pada ujian kelulusan sebelumnya. Setelah ujian dilangsungkan dan telah mendapat hasil, ternyata Raisa mendapat hasil yang memuaskan dengan meraih peringkat pertama di kelasnya. Dan acara kelulusan pun dilangsungkan... Setelah memulai acara, murid berprestasi yang meraih peringkat sekolah teratas pun dipanggil untuk menaiki panggung kecil yang telah disediakan. Raisa menjadi salah satu murid yang dipanggil ke atas panggung. Dan tak tanggung-tanggung, setelah diumumkan ternyata Raisa adalah peraih peringkat umum pertama di sekolahnya pada kelulusan saat itu!


Raisa tak menyangka namanya yang dipanggil ke atas panggung diumumkan sebagai peraih peringkat umum pertama di sekolahnya pada angkatan akhirnya itu. Baginya meraih peringkat pertama di kelas sudahlah hal yang sangat memuaskan, ternyata hal yang diraih ditambah dengan peringkat umum pertama dengan hasil terbaik dari yang terbaik pada angkatan akhir sekolahnya.


Dengan perasaan gembira, bahagia, bersyukur, Raisa mengucapkan sepatah dua kata untuk hasil yang diraihnya kini. Raisa mengeluarkan semua yang ingin dibicarakannya dengan hanya berbicara sopan seperlunya ditambah sedikit klarifikasi untuk gosip miring yang menerpa dirinya agar tak ada lagi fitnah dan salah paham dengan siapa pun itu...


Di dalam hatinya, Raisa sangat senang. Dengan apa yang diraihnya dan semua orang tersayangnya yang hadir untuk ikut menyaksikan dan merasakan kebahagiaannya itu...


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2