
Setelah makan bersama, semua orang bersantai di rumah Raisa.
Alih-alih menemani teman-temannya, Raisa malah membantu Ibu di dapur untuk mencuci piring.
"Kamu gak nemenin teman -teman kamu, Raisa? Biar Ibu yang cuci piring." Ujar Bu Vani
"Gapapa, Bu. Teman-teman Raisa juga pasti maklum. Raisa mau bantu Ibu, biar Ibu istirahat aja." Kata Raisa
"Benar gapapa, Sa? Kalau mereka pada bosan gimana?" Tanya Raina
"Gapapa, kak. Kan ada Raihan sama Kak Arka yang nemenin mereka ngobrol. Atau kakak juga temanin mereka dulu aja aama Farah, gantiin aku." Ujar Raisa
"Teman mereka kan kamu, mereka datang juga mau ketemu kamu. Kenapa jadi kakak sih?" Kata Raina
"Onty, sulapnya mana lagi? Aku masih mau lihat!" Ujar Farah yang berada di atas pangkuan Raina.
"Kamu sih pake janjiin yang aneh-aneh sama Farah, jadi ditagih terus kan!" Ucap Raina
"Ya, mau gimana lagi, kak. Dari pada Farah nanya terus, Raisa bilang aja itu sulap. Kan emang hampir sama. Dan namanya anak kecil, rasa penasarannya masih tinggi." Tutur Raisa
"Farah, udah gak sabar mau lihat sulapnya lagi ya?" Tanya Raisa
"Iya, Onty. Aku mau cepat-cepat lihat sulap lagi." Jawab Farah
"Boleh, kok. Tapi, habis ini Aunty gak bisa kasih lihat sulap lagi ya. Karena sulap itu bisa kehabisan tenaga." Ucap Raisa yang terpaksa harus berbohong agar Farah tidak terus menginginkan untuk melihat aksi sulap alias sihirnya.
"Iya, gapapa, Onty. Aku cuma mau lihat sekali lagi aja. Abis itu gak lihat lagi juga gapapa." Patuh Farah
"Oke, lihat ini ya!" Kata Raisa
Raisa yang sedang mencuci piring pun sedikit menggeser posisinya agar Farah dapat meluhat aksi sihirnya dengan semua piring cucian itu...
Semua piring yang sudah diberi sabun cuci itu pun, Raisa biarkan begitu saja. Dengan kemampuan sihirnya, Raisa membilas semua cucian piring itu dengan sihir air yang dimilikinya. Diperlihatkannya dengan ajaib air menggenang di udara dan mulai mencuci piring yang telah diberi sabun itu satu persatu sampai bersih. Dan setelah semua piring dibilas sampai bersih, satu persatu piring diapungkan dengan sihir angin. Semua piring terapung satu persatu sambil terus dikeringkan dengan sihir angin dan lalu dimasukkan kembali ke dalam rak piring dengan rapi dan teratur.
"Taraa, selesai! Sulap cuci piring sampai bersih!" Kata Raisa
Farah yang melihatnya dari kejauhan langsung terbelalak karena terperangah melihat aksi sihir yang dipertunjukkan oleh Raisa. Matanya berbinar-binar karena kagum melihat semua aksi ajaib itu...
"Woah, hebat!" Kagum Farah
"Iya, hebat! Onty Raisa, keren ya, sayang?" Ujar Raina
"Iya, Onty hebat banget!" Kata Farah
..."Mencuci piring seperti ini jadi ingat saat aku cuci piring bersama Rumi di rumahnya waktu liburan di dunia mereka waktu lalu. Seru juga! Hehehe." Batin Raisa...
Setelah selesai mencuci piring dengan menggunakan kemampuan sihirnya, Raisa pun menghampiri Farah yang ada di sana bersama Mami-nya.
"Gimana udah puas belum lihat sulapnya?" Tanya Raisa
"Puas! Onty, hebat!" Jawab Farah
"Karena udah selesai lihat sulapnya, ikut Aunty ngumpul bareng teman-teman Aunty yuk. Kak Raina, ikut juga yuk." Ajak Raisa
"Kamu sama Farah aja deh. Kakak mau ngobrol sama Ibu dulu." Tolak Raina
"Aku ikut sama Onty ya, Mih." Kata Farah yang turun dari pangkuan Raina
"Iya, sayang. Titip Farah ya, Sa." Ujar Raina
"Siap, kak." Kata Raisa
Farah pun berjalan mendekati Raisa.
"Mau Aunty gendong lagi gak?" Tanya Raisa
"Aku jalan aja deh, Onty." Jawab Farah
"Sini, jalannya sambil pegang tangan Aunty." Kata Raisa
"Oke!" Patuh Farah
Raisa pun mengulurkan tangannya agar jalan bergandengan dengan keponakan kecilnya. Tangan Farah pun terulur untuk menggenggam tangan Raisa. Keduanya pun bersama-sama jalan menuju halaman belakang rumah untuk berkumpul dengan yang lain.
"Halo, semua! Kami datang kembali!" Seru Raisa
"Kau sudah kembali, Raisa? Sini, duduk dekat denganku." Sambut Rumi melihat kedatangan Raisa kembali.
Raisa tersenyum manis menanggapi sambutan dari Rumi.
"Kau sudah selesai? Padahal kami pun mau ikut membantu, tapi kau tidak memperbolehkannya." Ujar Aqila
"Kalian kan tamu dan tamu itu adalah raja! Tidak perlu repot-repot membantu." Ucap Raisa
"Justru karena kami bertamu, kami jadi merepotkan." Kata Amy
"Siapa yang bilang begitu? Kalian tidak merepotkan kok. Kalian datang kan dengan maksud baik, justru aku berterima kasih karena kedatangan kalian." Ujar Raisa
Raisa pun duduk di antara mereka di sana, tepat di samping Rumi.
"Sini, Farah. Duduk dekat dengan Paman dan Onty." Ucap Rumi yang mengulurkan tangannya untuk mengajak Farah duduk di dekatnya.
Farah pun menurut mendekati Rumi dan duduk di sisinya. Farah duduk di antara posisi duduk Rumi dan Raisa.
__ADS_1
"Farah duduk di dekat kalian berdua, udah kayak anak kalian sendiri aja. Padahal dia kan anak kakak." Ucap Arka
"Farah, mau duduk di sini atau di dekat Papi di sana?" Tanya Raisa
"Aku di sini aja ah." Jawab Farah
"Tuh, kak. Farah sendiri yang mau duduk di sini." Kata Raisa
"Kamu kayak gini kayak usah cocok jadi orangtua aja. Ada rencana mau langsung nikah gak? Kan udah lulus sekolah ini..." Ujar Arka
"Emangnya aku kayak Kak Arka yang ngebet mau buru-buru nikah sama Kak Raina!? Lagi pula kenapa jadi bahas itu sih!? Masih jauh, tahu!" Tukas Raisa
"Emang cocok sih..." Kata Raihan
"Jangan bahas ini lagi, gak baik didengar anak kecil!" Tegur Raisa
"Apanya yang gak baik? Menikah kan untuk kebaikan! Kalau kamu cepat nikah dan cepat punya anak juga kan bagus, Farah bisa punya teman main." Ujar Arka
Terus mendengar topik yang kurang menyenangkan itu, Raisa langsung menoleh memberikan tatapan tajam seolah setajam silet! Mulut Arka pun langsung terbungkam melihat tatapan mengerikan dari sang adik ipar.
..."Kak Arka, ini ngomong apa sih?! Kenapa topiknya jadi ke situ terus? Bikin orang gak nyaman aja! Untung, Farah gak tanya yang enggak-enggak. Untung aja, selain Farah pun gak ada yang respon topik ini. Kalau gak, bisa repot aku kasih penjelasan...!" Batin Raisa...
"Selama aku tidak ada tadi, kalian bicara tentang apa? Kak Arka dan Raihan tidak bicara yang aneh-aneh kan?" Tanya Raisa
"Enggak kok. Aku sama Kak Arka cuma ngajarin teman-teman kakak bahasa yang umum dipakai di sini, biar lain kali mereka bicaranya gak terlalu kaku dan baku." Jawab Raihan
"Mengajarkan seperti apa? Kalian berdua tidak mengajarkan hal atau bahasa yang buruk kan?" Interogasi Raisa
"Kamu tuh yang buruk sangka! Maksud kita kan baik..." Kata Arka
"Kita juga ngajarin bahasa Inggris dikit-dikit yang umum diucapin di sini juga." Ungkap Raihan
"Heh, sebenarnya apa yang kalian ajarkan sih? Ilmu bahasa kalian tidak terlalu bagus juga, apa lagi bahasa Inggris!" Cibir Raisa
"Jangan sombong juga kamu, Raisa! Kamu juga kan cuma pintar di bahasa nasional, makanya bisa seimbangin bicaranya mereka yang kaku dan baku itu. Soal bahasa Inggris kan kamu juga gak terlalu bagus kayak kita berdua ini!" Ucap Arka
*Bahasa nasional: Bahasa Indonesia.
"Setidaknya, ada hal yang aku kuasai dan aku gak seburuk kalian berdua!" Kata Raisa
SKAKMATT!
Arka dan Raihan kalah telak berbicara melawan Raisa...
"Galak banget sih! Hati-hati, nanti teman-teman kakak gak mau berteman lagi sama Kak Raisa." Ujar Raihan
"Galak itu hal yang wajar bagi perempuan untuk menanggapi orang-orang yang kadang suka gak tahu situasi dan kondisi kayak kalian berdua. Dan, jangan salah! Teman perempuan kakak bisa aja sama galaknya kalau lagi marah, tahu!" Ucap Raisa
"Kakakmu benar, Raihan! Semua perempuan itu kalau marah, sama saja galaknya. Lebih baik jangan buat kakakmu lebih marah lagi dari pada sekarang ini." Sambar Ian
"Ya, perempuan memang seperti itu. Merepotkan!" Kata Devan
"Ehem, Devan! Aku bisa mendengarmu, lho!" Tegur Chilla
Semua lelaki pun terdiam saat suasana hati para perempuan yang terlihat kurang baik.
"Farah, anak Papi. Kalau udah besar jangan galak-galak kayak Onty ya." Ucap Arka
"Farah kan pintar pasti cepat belajar. Kalau diajarin yang gak baik sama Papi jangan diikutin ya, sayang. Yang penting harus selalu ikut kata Mami, oke?" Ujar Raisa
"Oke, Onty." Patuh Farah
"Farah kan anak Papi, kenapa malah lebih nurut sama Onty sih?!" Sebal Arka
Raisa pun tersenyum penuh kemenangan...
"Raisa, bahasa Inggris itu bahasa apa?" Tanya Dennis mengalihkan topik pembicaraan.
"Bahasa Inggris itu adalah bahasa internasional yang umum dan sering juga digunakan di sini. Nama Inggris itu sendiri adalah nama suatu negara lain yang terdapat di dunia ini." Jelas Raisa
"Kalau begitu, sering-seringlah ajarkan kami tentang hal yang umum yang tidak kami ketahui tentang duniamu ini, Raisa. Supaya kami tidak dibilang aneh lagi lain kali." Pinta Morgan
"Kan orang lain tahunya kalian datang dari negara lain yang jauh dari sini, bahasa yang kalian gunakan juga sudah sangat baik kok. Bersikap senyamannya kalian saja saat di sini, tanggapan seperti itu tidak usah dihiraukan." Ujar Raisa
Saat asik mengobrol, diam-diam rasa kantuk mulai menyerang Farah. Tubuh Farah mulai terlihat oleng saaat duduk dan akhirnya jatuh pada pangkuan Rumi...
"Eh, Farah, mengantuk ya? Duduknya sampai jatuh begitu..." Tanya Raisa
"Hoam~ Iya, Onty. Aku ngantuk!" Jawab Farah disertai dengan menguap kecil.
"Sini, bobok di pangkuan Aunty aja." Kata Raisa
"Tidak apa, Raisa. Biar Farah denganku saja." Ujar Rumi
"Maaf ya, Rumi. Kalau berat, biar aku saja yang memangkunya." Ucap Raisa
"Tidak berat kok. Farah ringan karena masih anak kecil." Kata Rumi
"Dari pada ini, aku jadi ingat seseorang yang pernah meminta tidur sambil bersandar denganku di suatu kamar rumah sakit." Bisik Rumi
"Jadi, saat itu aku berat ya? Aku telah merepotkau tanpa sadar, maafkan aku." Bisik Raisa
"Aku tidak bilang begitu! Aku akan sangat senang bila kau menginginkannya lagi lain kali." Bisik Rumi
__ADS_1
Bluush!~
Pipi Raisa langsung merona merah saat mendengar ucapan Rumi...
..."Apa yang Rumi katakan? Kenapa dia bilang begitu seolah dia yang menginginkan aku meminta seperti itu lagi dan sangat menantikanya. Tidak akan ada lain kali lagi, akan aku ingat hal ini!" Batin Raisa...
Perlahan, Farah mulai tertidur di pangkuan Rumi.
Saat itu, kebetulan Raina datang dan melihat pemandangan itu.
Melihat kedekatan anaknya dengan Raisa dan teman lelakinya, Rumi, Raina pun seperti melihat kemesraan sebuah keluarga kecil di sana...
"Farah tidur ya? Jam segini emang waktunya dia tidur siang sih... Sini, biar kakak bawa Farah tidur ke kamar." Ujar Raina
"Sini, biar aku gendong dan bawa ke Ibunya." Ucap Raisa
"Biar kubantu juga, Raisa." Kata Rumi
"Tidak apa, biar aku saja. Kakimu pasti pegal karena memangkunya tadi." Ujar Raisa
Raisa pun menggendong tubuh mungil Farah dengan sangat hati-hati agar tidak sampai membangunkannya dan lalu mengalihkan gendongan itu pada kakak perempuannya sekaligus Ibu dari anak kecil itu...
"Ini, Farah, Kak." Kata Raisa saat menyerahkan Farah dari gendongannya pada tangan Raina
"Terima kasih udah jaga Farah ya, sampai ketiduran gini. Tumben dia anteng lama jauh dari Mami-nya. Bilang, terima kasih juga sama teman kamu itu ya." Ucap Raina
"Iya, kak. Mungkin Farah anteng karena serasa main sama banyak teman baru." Ujar Raisa
"Teman kamu itu, yang mangku Farah tadi, pacar kamu bukan, Raisa?" Tanya Raisa seraya berbisik
"Kakak ngomong apa sih?!" Malu Raisa
"Ya, mana tahu. Kamu gak pernah pacaran di sini malah pacaran di dimensi dunia lain sana itu. Lagi pula, kalian berdua kelihatan cocok kok, serasi!" Ucap Raina
"Kakak sama suaminya sama aja!" Batin Raisa
"Ya udah deh, kakak bawa Farah tidur di kamar ya. Padahal tadi rencananya mau ngobrol bareng, gak tahunya si kecil udah tidur aja." Ujar Raina
Raisa mengangguk.
Raina pun membawa Farah perhi di dalam gendongannya...
"Pih, kamu lihat anaknya tidur kok bukannya bawa pindah ke kamar malah asik duduk di situ? Berasa masih muda ya, padahal udah punya anak? Sampai yang pangku anak sendiri tidur malah orang lain!" Ujar Raina menegur sang suami.
"Aku juga mau ikut kamu, tapi kakiku kesemutan nih!" Kata Arka
"Sini, kak, biar aku bantu sembuhin kesemutannya." Ujar Raisa dengan senyum seringai di wajahnya.
Raisa pun mendekati Arka, kakak ipar lelakinya.
"Eh, jangan dipukul! Sakit!" Takut Arka saat Raisa datang mendekatinya.
Raisa pun duduk di hadapan Arka yang kakinya sudah terjulur ke depan...
"Kalau gak dipukul kapan sembuhnya? Tahan, jangan teriak! Nanti Farah bisa dengar terus bangun, Kak Arka gak mau kena marah sama Kak Raina kan?" Ujar Raisa
Melihat tak ada jalan atau pun pilihan lain, Arka pun memilih menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar jika berteriak tidak sampai mengganggu dan membangunkan anaknya yang sedang tidur. Arka membekap mulutnya srndiri dengan sangat erat!
Raisa pun melakukan ancang-ancang. Dengan satu gerakaan jitu, Raisa pun memukul kedua kaki kakak iparnya yang sedang kesemutan.
ARRKHHH!!~~
Arka berteriak sekencangnya...
"Aww, sakit tahu, Raisa! Kamu pukul gini belum tentu juga langsung sembuh. Sakit mah iya!" Kesal Arka
"Kata siapa? Coba, gerakin kakinya! Pasti udah gak kesemutan lagi!" Ujar Raisa seraya tersenyum penuh arti.
Arka pun mencoba menggerakkan kedua kakinya~
"Eh, benar! Kok bisa!?" Kata Arka yang merasa kedua kakinya sudah baik-baik saja.
"Iya lah, tadi itu bukan cuma pukulan biasa! Aku juga sambil pakai sihir prredaran darah yang langsung melancarkan aliran darah Kak Arka, jadi kesemutannya langsung sembuh!" Ungkap Raisa
"Wah, keren! Hebat!" Kagum Arka
"Tentu saja! Kalau aku mau membekukan seluruh aliran darah Kak Arka juga bisa kok!" Ucap Raisa sambil tersenyum jahil.
Arka pun langsung bangkit berdiri dan berlarian pergi menjauh dari sana.
"Kabur... Raina, adikmu sadis banget!" Racau Arka
Raisa terkikik pelan.
Mrlihat itu, semua temannya berusaha keras menahan tawa nereka, sedangkan Raihan terlihat waspada dengan kakak perempuannya yang mengerikan!
.
•
Bersambung...
Kutipan Author:
__ADS_1
"Tak terasa sudah sampai pada episode 100! Yeay! Selamat bagi kita semua! Author harap cerita ini selalu jadi minat bagi pembaca dan juga semakin banyak pembaca. Walau mungkin ini hanya sekadar harapan dilihat dari viewers akhir-akhir ini. Jadi, Author mohon untuk terus ramaikan cerita novel ini yaa."