Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 68 - Harus Selalu Bersama.


__ADS_3

Saat Raisa dan Rumi sedang berpelukan, teman yang lain datang menghampiri keduanya setelah mengikuti ular sihir milik Rumi yang mencari keberadaan pemiliknya.


"EKHEM!"


Suara dehaman keras itu telah menginterupsi Raisa dan Rumi untuk saling melepaskan pelukan mereka berdua.


Raisa tersipu malu karena dipergoki sedang berpelukan mesra dengan Rumi. Namun, Rumi masih saja merangkul tubuhnya.


"Target misi kita sudah ada di sini. Apa kalian berdua yang menangkapnya?" tanya Morgan


"Tidak. Saat aku datang dia sudah seperti itu. Raisa yang menangkapnya seorang diri," jelas Rumi


"Dia pingsan. Apa yang kau lakukan padanya, Raisa?" tanya Devan


"Aku hanya memberinya totokan hingga dia kehilangan kesadarannya supaya dia tidak lagi melarikan diri. Dia harus membayar perbuatannya dengan mendekam di penjara. Tenang saja, meski dia sadar kembali dia tidak akan melarikan diri lagi karena aku telah memberinya totokan lebih agar dia tidak dapat berkutik," ungkap Raisa


"Kerja bagus, Raisa. Kalau begini akan mudah bagi kita untuk membawanya kembali ke Desa Daun," kata Ian


"Kalau begitu, kita langsung kembali saja dan bawa dia ke Desa Daun," ujar Chilla


"Periksa dulu barang bawaannya. Apa benda yang kita cari juga ada di dalamnya?" tanya Raisa


Devan pun mengambil tas berukuran besar milik target buronan dan memeriksa isinya.


"Sepertinya benar tas ini miliknya. Benda yang kita cari juga ada di sini," ucap Devan sambil menunjukkan sebuah tropi yang merupakan benda yang dicuri dari Desa Daun.


"Itu hanya terlihat seperti tropi biasa. Apanya yang benda langka?" tanya Amon


"Itu bukan tropi biasa. Tropi itu adalah benda yang dibanggakan oleh Pemimpin Desa Daun yang pertama. Memang terlihat seperti tropi biasa, tapi sebenarnya di dalamnya ada tenaga sihir yang dikumpulkan oleh para Pemimpin Desa Daun dari Pemimpin Desa yang pertama. Itu untuk berjaga-jaga jika Desa Daun berada dalam kondisi yang paling gawat, bisa untuk menyelamatkan seisi desa," ungkap Raisa


"Akan berbahaya jika benda berharga seperti ini berada di tangan orang yang salah karena bisa disalah-gunakan," sambung Raisa


Mereka semua pun memutuskan untuk kembali ke Desa Daun dengan menaiki kereta listrik. Target buronan pun sudah kembali sadar. Namun, ia tidak bisa berkutik karena telah ditotok oleh Raisa dan juga kedua tangannya telah diborgol.


"Tidak kusangka misi kali ini berjalan dengan lancar dan mudah," kata Amon


"Ini tidak mudah karena Rumi sempat terluka cukup parah tadi meski kini sudah sembuh total," ucap Raisa sambil menatap tajam ke arah target buronan yang duduk diam.


Target buronan itu langsung mendunduk karena merasa takut dengan tatapan mata Raisa yang mengerikan.


"Sebenarnya bagaimana dia bisa membakar tubuh Rumi tanpa kontak fisik tadi?" tanya Chilla


"Aku tidak tahu dengan jelas bagaimana cara dia melakukannya, tapi ular sihir milik Rumi-lah yang menjadi medianya. Setelah menggigitnya, ular sihir itu sebenarnya meledak tidak lama kemudian dan itu jugalah yang membuat pemiliknya terbakar oleh api secara otomatis," ungkap Raisa


Target buronan itu langsung bergidik ngeri setelah mendengar penjelasan Raisa yang sangat tepat. Raisa yang mengetahui taktik sihirnya membuatnya sungguh merasa Raisa adalah sosok yang sangat menakutkan.


"Tidurlah dulu, Raisa. Masih ada waktu sebelum sampai ke Desa Daun," ucap Rumi


"Baiklah, tapi aku hanya akan memejamkan mata," kata Raisa


Raisa langsung bersandar pada tempat duduk di belakangnya dan perlahan memejamkan kedua matanya. Namun, Rumi menarik lembut kepala Raisa agar bisa bersandar pada bahunya dengan nyaman.


Karena menempuh perjalanan yang tidak jauh, tak lama kereta listrik yang mereka naiki tiba di Desa Daun.


Rumi pun menepuk pelan pipi mulus Raisa untuk membangunkannya. Raisa yang pada dasarnya tidak tertidur pulas dan hanya memejamkan kedua matanya pun akhirnya membuka sepasang mata indahnya.


"Raisa, bangun. Kita sudah sampai," kata Rumi


"Ya. Aku sudah bangun," sahut Raisa


Mereka pun turun dari kereta listrik sambil membawa tawanan seorang buronan.


"Kalian langsung pulang saja. Biar aku, Ian, dan Chilla saja yang membawa orang ini ke penjara," ucap Devan


"Raisa, tolong kau lepas saja totokmu padanya," sambung Devan meminta.

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu, kalian harus berhati-hati menjaga dan membawanya," ujar Raisa


"Dan, kau ... jangan macam-macam atau melarikan diri. Aku sudah memasang sihir pelacak pada tubuhmu. Aku akan langsung tahu jika kau kabur," sambung Raisa bicara pada buronan yang sedang ditawan oleh teman-temannya.


Raisa pun kembali menotok bagian tubuh sang buronan. Namun, kali ini untuk melepas pengaruh totokan sebelumnya.


"Apa tidak masalah jika hanya kalian bertiga yang membawa orang ini ke penjara?" tanya Amon


"Tidak masalah. Tidak perlu beramai-ramai hanya untuk ke penjara, kita ke sana juga bukan untuk berpesta," jawab Ian


"Kalau begitu, aku tidak sungkan lagi, ya. Aku akan langsung pulang," ujar Morgan


"Morgan pasti ingin segera bertemu dengan Aqila," kata Chilla


"Aku dan Raisa juga akan pulang. Kalian berhati-hatilah," pesan Rumi


Raisa dan Rumi beranjak pergi untuk pulang bersama. Sama halnya seperti Morgan dan Amon. Namun, kedua lelaki ini tidak sama seperti Raisa dan Rumi yang berjalan sambil bergandeng tangan dengan mesra.


Dalam perjalanan pulang menuju rumah, Raisa dan Rumi terus mengobrol untuk mengusir keheningan jalan malam.


"Raisa, apa benar kau memasang sihir pelacak pada tubuh buronan itu?" tanya Rumi


"Tidak. Aku hanya ingin menakut-nakutinya saja karena sepertinya dia merasa seperti itu padaku, terlihat dari sorot matanya. Meski begitu, aku akan tetap menyadari jika dia melarikan diri," jelas Raisa


"Kau sangat hebat karena bisa menangkapnya seorang diri. Apa yang kau lakukan untuk menangkapnya? Kalau diingat lagi, saat aku melihat kau dan dia terakhir kali, kau menyamar jadi sosok gadis lain. Kau tidak memakai cara yang berbahaya, kan?" tanya Rumi lagi.


"Tentu saja, tidak. Itu hanya trik dan akting biasa. Aku berpura-pura lemah dan butuh bantuan, lalu memberinnya totokan," jawab Raisa


Raisa sengaja tidak memberi tahu Rumi dengan lebih rinci. Karena Raisa tahu dengan jelas lelali tampan itu akan marah jika mengetahui ada trik merayu saat Raisa menangkap buronan itu. Sebisa mungkin Raisa mencegah hal itu terjadi.


"Aku nerasa bingung. Sebenarnya, apa yang membuat pria itu takut padaku?" tanya Raisa yang mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Benar juga. Kan, kau tidaklah menakutkan. Justru kau terlihat sangat cantik hingga membuat orang jatuh cinta," ujar Rumi


"Itu, sih, menurut pandanganmu saja," kata Raisa


"Itu bukanlah apa-apa karena aku pun sangat yakin bisa mengatasinya seorang diri. Aku tidak akan melakukan hal yang aku sendiri merasa ragu untuk melakukannya," ucap Raisa


"Justru aku merasa sangat syok saat melihatmu terbakar oleh api, tapi kau malah mendorongku menjauh. Lain kali, tolong jangan seperti itu. Apa pun yang terjadi, meski pun harus berdarah-darah dan terluka, kita harus tetap bersama melakukan semua hal," sambung Raisa


"Aku mana mungkin tega menyeretmu ke dalam rasa sakit," kata Rumi


"Kau harus ... sejujurnya, aku merasa sangat marah karena kau malah mendorongku ke dalam pelukan Morgan saat itu. Aku tahu niatmu ingin melindungiku, tapi aku tidak ingin mengerti itu. Aku sangat ingin marah jika saja bukan aku harus menyelamatkanmu bagaimana pun caranya saat itu," ujar Raisa


"Apa pun yang terjadi, kita berdua harus selalu bersama-sama, itu juga termasuk saat kita berdua harus saling menahan rasa sakit. Aku tidak ingin kau merasakannya dan menanggung beban seorang diri. Aku ingin kita saling berbagi satu sama lain, meski untuk hal terberat sekali pun," sambung Raisa


"Tapi-"


"Aku tidak ingin dengar apa pun alasanmu dan tidak ada tapi-tapian! Kalau saja aku tidak mencintaimu, jujur saja aku merasa sangat nyaman berada di dalam pelukan Morgan saat kau mendorongku tadi. Kalau kau melakukannya lagi, tidak peduli dalam hal apa pun, akan kuanggap kau telah menyerahkanku untuk bersama orang lain dan aku bersedia menerima keputusanmu yang seperti itu. Aku tidak main-main dan akan pergi dari hidupmu selamanya. Maka dari itu, jangan lagi mendorongku meski kau mengalami hal yang teramat sulit sekali pun. Biarkan aku merasakannya bersama denganmu juga," tutur Raisa


Nafas Raisa menjadi sangat sesak saat mengingat kejadian tubuh Rumi yang terbakar oleh api. Nafasnya jadi begutu memburu seiring dengan dadanya yang terlihat naik turun karena emosi.


Raisa mengatakan hal yang jujur saat bilang merasa nyaman berada di dalam pelukan Morgan. Namun, ia tidak berbohong saat bilang akan pergi meninggalkan Rumi apa pun yang terjadi. Itu tidak akan pernah atau mungkin terjadi. Raisa hanya bicara untuk menggertak agar lelaki tampan itu tidak lagi bertindak sembrono atau menanggung beban seorang diri.


"Biarkan kita menanggung beban bersama-sama," lirih Raisa yang tidak sanggup membayangkan jika ia akan kehilangan Rumi saat lelaki itu dilahap oleh si jago merah pada kejadian sebelumnya.


Percakapan ini membuat jalan Raisa dan Rumi berhenti.


GREP!


HUGS~


Rumi pun menarik Raisa ke dalam pelukannya dan langsung mendekap gadis cantik itu dengan sangat erat.


"Aku mengerti sekarang. Maaf karena sudah tidak memikirkan perasaanmu saat melihatku yang terbakar api tadi. Jadi, kumohon jangan pernah katakan kau akan pergi meninggalkanku," ujar Rumi

__ADS_1


"Apa kau sungguh tidak tahu perasaanku saat melihatmu terbakar tadi?" tanya Raisa yang berusaha keras menahan diri agar tidak menangis.


"Maaf jika aku tidak tahu. Aku baru sadar. Kalau diingat-ingat, jika saja harus berganti posisi, aku juga pasti tidak tahan melihatmu kesakitan dan terluka," kata Rumi


"Aku memang bodoh, Raisa. Maafkan aku. Aku tidak berpikir jauh dan hanya ingin melindungimu," sambung Rumi


"Jangan melindungiku, aku tidak butuh itu! Yang kita butuhkan adalah saling melindungi satu sama lain. Itu saja," ucap Raisa dengan nada memnentak, lalu suaranya menjadi pelan di akhir kalimatnya.


"Aku tidak bisa dan tidak ingin kehilanganmu, Rumi ... " sambung Raisa dengan suara yang terdengar lirih sambil menahan isak tangis.


"Aku juga tidak bisa kehilangan dirimu, Raisa. Aku tidak ingin jika itu sampai terjadi. Aku tidak akan sanggup jika harus hidup tanpamu," kata Rumi


Rumi melepaskan pelukannya pada tubuh Raisa dan beralih menatap wajah gadis cantik yang sepasang matanya sudah berkaca-kaca karena menahan tangis.


Rumi pun mengecup singkat kedua kelopak mata Raisa satu per satu secara bergiliran. Setelah dikecup, air mata yang sedari tadi Raisa tahan meluncur bebas begitu saja menjatuhi kedua pipinya. Rumi pun menggunakan kedua ibu jarinya untuk menghapus jejak air mata pada pipi mulus milik Raisa dan juga mengecup keduanya dengan mesra.


"Apa pun yang terjadi kita harus selalu bersama." Rumi mengulang kata-kata yang telah diucapkan oleh Raisa.


Raisa mengangguk sambil tersenyum tipis. Rumi pun ikut tersenyum kecil.


"Aku ingin pulang," kata Raisa


"Ya. Kau pasti merasa lelah dan sudah mengantuk. Aku akan mengantarmu," ujar Rumi


"Tidak perlu. Karena rumahmu lebih dekat, kau pulang saja ke rumahmu sendiri. Kau tidak perlu mengantarkan aku sampai ke rumahku. Aku juga bisa pulang sendiri," ucap Raisa menolak.


"Sebagai gantinya, jemputlah aku pagi-pagi sekali karena aku ingin pergi berkunjung ke rumah Aqila besok," sambung Raisa sebelum Rumi keukeuh dan jadi keras kepala ingin mengantarnya sampai rumah.


"Baiklah," patuh Rumi


"Kalau begitu, sampai jumpa besok ... " ujar Raisa


Karena sudah sangat dekat dengan rumah Rumi, hanya berjalan beberapa langkah lagi saja lelaki tampan itu sudah sampai di rumahnya. Sedangkan Raisa terus berjalan ke depan dan setelah melewati tiga rumah lainnya, gadis cantik itu pun telah tiba di rumahnya sendiri.


Keduanya pun masuk ke dalam rumahnya masing-masing. Dan segera istirahat di malam dengan mimpi indah untuk segera menanti hari esok yang lebih baik.


Di tempat lain.


Devan, Ian, dan Chilla bertemu dengan Paman Aiden saat datang ke kantor polisi untuk menyerahkan dan nemasukkan buronan ke dalam penjara.


"Kalian sudah menangkap buronan itu. Kerja bagus," puji Paman Aiden


"Ini barang bawaan sekaligus benda curian buronan tadi. Kuserahkan pada Paman saja," ujar Chilla sambil menyerahkan sebuah tas berukuran besar pada Paman Aiden selaku Kepala Polisi.


"Baik. Terima kasih," ucap Paman Aiden


"Aku akan menyerahkan laporan misi kali ini pada Tuan Pemimpin Desa besok atau lusa saja," kata Devan


"Ayah, ini sudah malam dan kau juga harus pulang. Apa kau ingin pulang dari sini bersamaku ke rumah sekarang?" tanya Ian


"Tidak. Masih ada sedikit hal yang harus kuurus sebelum pulang. Kau pulang saja lebih dulu. Katakan pada ibumu untuk tidak perlu menunggu sampai aku pulang," jawab Paman Auden yang juga merupakan Ayah kandung dari Ian.


"Baiklah. Aku mengerti," patuh Ian


"Kalau begitu, kami pergi dulu dan tidak akan mengganggu pekerjaanmu lagi. Permisi," ujar Devan


Devan, Ian dan Chilla pun beranjak pergi dari sana.


"Aku sudah mengantuk. Jadi, aku pulang duluan, ya," kata Chilla


Chilla pun pergi ke arah yang berbeda dengan Devan dan Ian. Padahal kedua lelaki itu juga langsung pergi untuk segera pulang menuju ke rumah masing-masing.


.


__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2