Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
140 - Penting Tapi Menyakitkan.


__ADS_3

Di suatu kediaman yang seperti rumah yang digabungkan dengan adanya fungsi laboratorium penelitian dan perawatan yang bagian luarnya memiliki penjagaan yang cukup ketat...


Di sana ada seseorang yang sedang dirawat dalam tabung inkubasi raksasa, di sekitarnya ada beberapa orang yang menunggunya pulih dan tersadar.


"Rumi, segeralah sadar! Ada yang ingin kukatakan padamu. Aku ingin minta maaf..." Gumamnya yang mengajak seseorang yang berada di dalam tabung besar itu untuk bicara, namun yang ada ia hanya bicara sendiri karena seseorang dalam tabung itu masih juga belum sadarkan diri.


"Kau sudah sering mengajaknya bicara dalam kondisinya yang seperti itu, hal yang kau bicarakan pun selalu sama." Kata seorang paruh baya yang selalu mengamati perkembangan perawatan medis yang dilakukan pada seseorang dalam tabung raksasa tersebut.


"Aku yang bersalah sampai menyebabkan kondisinya seperti sekarang. Aku juga minta maaf padamu, Tuan Rommy. Seharusnya kami saling menjaga dan melindungi satu sama lain, tapi selalu saja aku yang menyebabkan dia terluka parah sampai seperti ini." Ucapnya, yang tak lain adalah Morgan.


Morgan tak pernah beranjak dari tempatnya yang berada tepat di depan tabung raksasa yang sedang mengurung seseorang yang berada dalam perawatan medis. Di dalam tabung perawatan berukuran besar itu, tak lain dan tak bukan adakah Rumi, sahabatnya sendiri.


Setelah bergerak dalam misi penyelamatan dan pemindahan posisi Rumi secara rahasia dari Desa Daun ke kediaman Tuan Rommy yang selalu dalam penjagaan, Rumi langsung ditindak lanjuti oleh orang yang berstatus sebagai Ayahnya dan kini dalam perawatan medis di dalam kurungan tabung raksasa.


"Tidak ada yang bisa mencegah jika memang seharusnya terjadi seperti ini. Kau tidak bersalah. Lagi pula, dari dulu memanglah keinginannya untuk terus berada di sisimu untuk melindungimu. Itu sudah jadi pilihannya sejak dulu." Jujur Tuan Rommy


"Justru itu aku merasa sangat bersalah. Rumi selalu saja melindungiku dan terus mengorbankan dirinya, tapi aku tidak pernah bisa sekali pun melindunginya seperti yang dia lakukan untukku." Sesal Morgan


"Sudahlah, jangan terus menyalahkan dirimu sendiri. Kau pasti lelah terus bicara sendiri. Makanlah dulu. Aqila sudah membawakan sesuatu untukmu." Ucap Tuan Rommy


"Hei, Morgan! Ayo, makan ini dulu! Kau harus tetap sehat sampai Rumi tersadar." Ujar Aqila yang sudah menyiapkan makanan untuk Morgan.


"Uh, iya-iya... Aqila, semakin lama kau semakin cerewet saja!" Kata Morgan


"Apa boleh buat! Dalam tim, akulah ketuanya. Aku harus terus memerhatikan anggota timku. Rumi sedang tidak sadarkan diri saat ini, setidaknya kau juga tidak boleh jatuh sakit. Lagi pula, aku mengambil misi ini langsung dari Ayahmu, jadi mau tidak mau akulah yang bertanggung jawab atas keseharianmu di sini." Oceh Aqila


"Iya, aku mengerti! Selamat makan!" Kata Morgan yang akhirnya melahap makanan yang diberikan Aqila.


Di tengah aktivitasnya mengonsumsi makanan, Morgan menoleh pada tabung raksasa yang mengurung sahabat karibnya itu.


"Rumi, cepatlah sadar! Beberapa hati ini kau tidak makan dan hanya diasupi cairan vitamin, aku rindu makan bersama denganmu." Ucap Morgan


"Jangan bicara terus saat makan, nanti kau tersedak!" Tegur Aqila mengomeli Morgan.


"Cih, bawel!" Sebal Morgan menggerutu.


"Apa kau bilang!? Kalau kau masih saja tidak berterima kasih dan terus menggerutu, akan kubuat kau benar-benar tersedak!" Ujar Aqila mengancam.


Mendengar ancaman sekaligus tatapan tajam dari sahabat perempuannya, Morgan langsung terdiam dan hanya fokus pada makanannya.


Setelah makan, Morgan beralih ke toilet...


Saat itu digunakan Aqila untuk mendekati tabung inkubasi raksasa yang sedang merawat Rumi di dalamnya. Aqila juga menyentuh kaca tebal tabung tersebut.


"Aku tahu selama ini kau selalu saja melindungi kami dan kau bisa tenang dan lihat sekarang... Aku selalu menjaga Morgan saat kau tidak bisa berdiri di samping kami, kau tak perlu khawatir. Tapi, cepatlah sadar, Rumi, supaya kita bisa bersama lagi seperti biasanya. Jika terlalu lama aku tidak bisa menangani bocah menyebalkan itu sendiri, aku masih butuh bantuanmu. Kami semua butuh kau di sini, jadi cepatlah buka matamu itu..." Oceh Aqila mengajak Rumi yang tak sadarkan diri itu berbicara.


"Ternyata kau pun sama saja ya, Aqila." Kata Morgan yang baru saja kembali dari toilet dan mengejutkan Aqila.


"Memangnya hanya kau saja yang ingin bicara dengan Rumi? Tapi, yang terpenting aku hanya mengatakan hal yang perlu, tidak seperti kau yang mengoceh tidak karuan sampai mungkin dalam keadaan tak sadar pun Rumi bisa saja sakit telinga karenamu!" Ujar Aqila


"Enak saja kau kalau bicara ya!" Kesal Morgan


"Lihatlah, Rumi! Kami masih saja seperti biasa bertengkar setiap hari, tapi semuanya terasa sepi saat kau tak menemani kami. Jadi, kau harus cepat bangun ya..." Ucap Aqila


"Aqila, benar! Kau harus cepat bangun!" Kata Morgan


---


Setelah menemukan barang asing yang terasa berharga baginya, Raisa selalu saja memandangi barang itu. Setiap hari Raisa hanya ke luar dari kamar seperlunya saja ketika harus makan atau aktivitas penting lainnya, sisanya ia habiskan di dalam kamar merenungkan barang berharga itu...


Memang bukan barang berharga seperti umumnya, hanya selembar foto dan sebuah gelang yang terus ia pandangi setiap waktu tanpa lelah, tapi tak menemukan arti dari barang berharga itu untuknya.


"Ah, udah lama, tapi gak ada pencerahan sama sekali! Sedikit petunjuk pun gak ada! Coba, beralih ke HP! Mungkin ada sesuatu di dalamnya..." Gumam Raisa yang langsung menyambar ponselnya di atas kasur.


..."HP-nya emang beda dari yang terakhir kuingat, waktu itu HP yang dulu emang udah rusak sih... Untung, aku gak suka pakai kode untuk kunci HP. Kalau ada yang rahasia, aku pasti kunci folder atau aplikasinya aja. Coba lihat, apa ada suatu petunjuk di sini?" Batin Raisa...


Raisa terus mengutak-atik ponselnya, berharap menemukan sesuatu yang penting atau petunjuk tentang ingatannya yang telah hilang. Namun, selain bertambah kontak nomor dan beberapa foto dengan gadis sebaya dengannya, tak ada lagi yang spesial.

__ADS_1


"Aku udah lulus SMA, mungkin kontak yang baru kulihat dan foto-foto ini adalah teman SMA-ku. Ini penting sih, tapi masih ada yang kurang! Eh, ini terkunci!" Gumam Raisa saat menemukan sebuah folder gambar yang terkunci.


Bukannya menemukan petunjuk, Raisa malah menemukan satu teka-teki lagi! Folder yang ditemukan terkunci bukan lagi memakai tipe kunci PIN angka yang mungkin Raisa bisa tebak secara asal atau mencoba satu persatu angka yang ada, melainkan dengan kunci password kata yang memiliki keamanan tinggi. Raisa sama sekali tidak bisa menebak apa kata kuncinya, berapa huruf yang harus diketik.


..."Apa password-nya ya? Susah banget sih!" Batin Raisa menyerah begitu saja....


Mata dan tangan Raisa pun kembali tertuju pada selembar foto yang dianggapnya penting.


"Selembar foto dan folder gambar yang terkunci! Apa isi folder itu ada kaitannya sama foto ini ya? Apa gak ada petunjuk sama sekali?" Oceh Raisa kebingungan.


Saat mulai kesal dengan jalan buntu yang ditemuinya, Raisa malah menemukan sesuatu yang tertulis di balik lembaran foto yang dipegangnya.


"Ada satu kata! Coba ah, ketik untuk buka kunci password-nya! Mana tahu, iseng-iseng akhirnya beruntung!" Kata Raisa


Akhirnya, Raisa mengetik kata satu persatu huruf yang tertulis di balik lembaran foto tersebut. Jumlah hurufnya ada delapan...


perasaan


Klik!


Folder yang terkunci akhirnya terbuka!


Tak mau senang berlebihan, Raisa pun menggeser ke arah bawah untuk melihat isi folder gambar yang sempat terkunci tersebut...


Semua gambar yang ada adalah foto dirinya bersama orang-orang yang ada di lembaran foto yang ia temukan di dalam dompet di balik KTP miliknya.


..."Kenapa harus perasaan kata kuncinya? Apa semua orang-orang yang ada di semua foto ini terlibat dengan perasaanku?" Batin Raisa kebingungan....


Raisa terus melihat satu persatu foto dirinya bersama orang-orang yang tak dikenalnya. Semakin lama dilihat, memang ada suatu perasaan yang timbul, yaitu kerinduan! Semakin dilihat semakin rindu, tapi tak ingin berhenti melihat. Sampai ada beberapa foto yang membuatnya terkejut!


DEG!


Bluussh~~


Dari sekian banyak foto yang ada di dalam folder tersebut, ada foto yang jumlahnya dapat terhitung jari. Yang berada dalam beberapa foto itu adalah dirinya sendiri bersama seorang lelaki yang menampilkan kemesraan! Berpelukan, saling merangkul, bahkan ada sebuah foto ketika Raisa mencium mesra pipi lelaki tersebut, dan juga lelaku tersebut yang seolah sedang mencuri cium bibir milik Raisa... Tak salah lagi, lelaki itu adalah salah seorang dari beberapa yang terdapat dalam foto yang saat ini tidak dapat Raisa ingat!


Dari semua foto yang ada di folder tersebut, Raisa memang merasakan kerinduan, tapi begitu melihat fotonya bersama lelaki itu...


Tes!


Tak terasa air mata Raisa mengalir begitu saja. Tetes demi tetes sampai membentuk sungai kecil di pipi putihnya...


"Kenapa aku sampai begini? Kenapa aku menangis? Hanya karena melihat foto lelaki ini?!" Heran Raisa


Raisa berusaha menghabus jejak air matanya, namun nyatanya air itu semakin deras ke luar dari pelupuk matanya. Ada perasaan lain yang muncul setelah lama melihat fotonya bersama lelaki tersebut... Perasaan rindu yang semakin besar sampai menyesakkan dada bahkan juga sampai terasa kian menyakitkan.


Perasaan menyakitkan kian menusuk relung hatinya, sampai rasa sakit itu menjalar ke kepalanya... Raisa memegangi kepalanya yang menegang kesakitan! Mata Raisa terpejam, meringis kesakitan... Dalam proses rasa sakit itu, sekelebat ingatan muncul dalam benaknya.


Pemandangan dengan langit malam dipenuhi bintang... Bermain wahana di pasar malam sambil asik mengambil potret bersama seorang lelaki dengan begitu mesra... Itu dia! Lelaki yang ada bersama Raisa dalam foto itu! Lelaki itu benar-benar ada di dalam ingatannya... Ingatan Raisa yang kini sedang hilang.


Rasa sakit itu terus berlanjut, rasa sakit akibat mengingat tentang lelaki itu menyebabkan ingatan lain muncul bersamaan... Adalah ketika langit terang di siang hari, Raisa sedang membawa bingkisan berisi kue. Rasa sakit yang kini dirasakan bertambah kuat ketika Raisa di dalam ingatan itu juga merasakan rasa sakit yang sama karena merasakan firasat buruk. Dalam ingatan yang muncul itu, Raisa langsung bergegas lari dan menjatuhkan bingkisan kue di tangannya begitu saja. Perasaan yang dirasakannya seolah, ia harus pergi ke suatu tempat dengan secepat mungkin! Saking terburu-buru saat berlari, ia menyebrang dengan tak hati-hati sampai tidak melihat ada sebuah mobil truk yang hendak melintas di dekatnya. Saat tersadar ia malah merentangkan satu tangannya dan benturan pun terjadi antara dirinya dan mobil truk tersebut, kecelakaan pun tak dapat terhindarkan...


Rasa sakit terus menyerang dirinya... Raisa pun hampir tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya dan mulai mengatur nafasnya agar kembali menjadi tenang.


"Ughh! Hh~ Huhh... Huffttt~ Aaarrgghhh... Tenang, Raisa... Harus jadi tenang~" Gumam Raisa yang mencoba menenangkan dirinya sendiri.


"Ahh... Haahh~ Hhh~" Nafas Raisa pun mulai kembali teratur menjadi lebih tenang.


Ingatan yang muncul kembali itu pun berhenti dan kondisi Raisa kembali baik-baik saja seperti sebelum mengingat ingatan yang hilang itu...


"Uh, jadi seperti itu kecelakaan itu terjadi? Tapi, sebenarnya siapa lelaki ini? Kenapa aku merasa dia ada sangkut pautnya dengan penyebab aku mengalami kecelakaan itu? Seolah aku sedang mengkhawatirkan dia saat itu dan terburu-buru sampai akhirnya kecelakaan itu terjadi." Oceh Raisa yang meracau karena telah mengingat sesuatu setelah kehilangan ingatannya.


"Seberapa pentingnya lelaki itu sampai aku terburu-buru dan gak hati-hati sampai akhirnya kecelakaan karena khawatir sama dia? Apa alasan aku berbuat sampai seperti itu? Kenapa rasanya sesakit ini setelah aku ingat dia?" Batin Raisa


"Aku gak sanggup untuk ingat-ingat lagi!" Kata Raisa yang tak bisa menahan rasa sakit saat ingatan yang sempat hilang itu muncul kembali.


..."Penting, sakit yang begitu menyakitkan... Apa lelaki ini adalah alasan aku sampai bisa hilang ingatan seperti sekarang ini? Karena dia adalah bagian dari diriku yang sangat penting, tapi juga menyakitkan di saat yang bersamaan? Kalau begitu, lelaki itu adalah kuncinya! Kunci supaya ingatan aku bisa pulih lagi. Walau menyakitkan, aku harus ingat semuanya lagi. Tapi, selain foto-foto dia, aku gak temuin apa pun lagi tentang dia! Namanya aja aku gak tahu! Ini seperti sia-sia..." Batin Raisa...

__ADS_1


•••


Keesokan harinya...


Maura dan Nilam sengaja mengajak Andien dan Hasna untuk pergi bersama menjenguk Raisa di rumahnya. Setelah tidak bisa menghubungi Raisa selama beberapa hari yang lalu, Maura dan Nilam baru tahu setelah menghubungi Raihan, adik Raisa bahwa Raisa sakit karena mengalami kecelakaan sampai dirawat di rumah sakit. Raisa pernah berpesan jika tidak bisa menghubunginya saat ia pergi, Maura dan Nilam bisa menghubungi Raihan sebagai gantinya. Setelah menghubungi Raihan, mereka berdua malah mengetahui fakta yang mencengangkan.


Hari ini Maura dan Nilam pun datang ke rumah Raisa setelah nembuat janji dengan Andien dan Hasna untuk pergi bersama. Saat ini, mereka berrempat pun sudah berada di rumah Raisa...


"Oh, teman-teman Raisa ya? Raihan udah bilang kalian mau datang. Ayo, silakan masuk dan duduk di dalam." Ujar Bu Vani


Bu Vani pun mempersilakan keempat teman cantik Raisa ubtuk masuk ke dalam rumah. Andien, Hasna, Maura, dan Nilam pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


"Sekarang, gimana kondisi Raisa, Bu?" Tanya Nilam memberanikan diri angkat bicara.


"Selain luka di badannya yang sudah mulai sembuh, gips di tangannya belum boleh dilepas. Katanya, Raihan sudah cerita ya? Ya, begitulah kondisi Raisa sekarang. Dia cuma ingat sampai masa lulus SMP, untuk sekarang dia gak bisa ingat sama Maura dan Nilam. Mohon dimaklum dan tolong jangan dipaksa untuk ingat ya, Nak." Ungkap Bu Vani


"Iya, Bu. Kami datang juga cuma mau tahu keadaan Raisa kok. Kami gak mengganggu kan ya, Bu?" Ujar Maura


"Enggak kok. Ibu malah berterima kasih, kalian sudah mau datang. Oh iya, Ibu panggilkan dulu Raisa-nya ya." Kata Bu Vani


Bu Vani pun beralih menuju ke kamar Raisa untuk memanggil putrinya itu ke luar. Setelah itu, Bu Vani kembali menuju ruang tamu bersama Raisa untuk menemui keempat teman Raisa yang datang.


"Nah, kalian ngobrol dulu... Ibu mau bikin minum dulu di dapur." Kata Bu Vani


"Maaf nih jadi merepotkan." Sungkan Hasna


Bu Vani pun beranjak menuju ke dapur, Raisa pun duduk di sofa menemani keempat temannya yang datang menjenguknya.


"Maaf ya, aku sempat hilang tanpa kabar. Habis, aku bingung kau bagajmana kasih kabar ke kalian..." Ucap Raisa


"Gak apa kok. Sekarang kita kan udah ketemu lagi nih, gimana kabar kamu?" Tanya Andien


"Ya, beginilah adanya. Lumayan baik." Jawab Raisa


"Kamu ingat kami berdua, Raisa?" Tanya Maura


"Maaf, aku gak ingat. Tapi, aku tahu di antara kalian berdua paati salah satunya Maura dan satunya lagi Nilam. Aku baru tahu lagi setelah buka-buka HP." Jawab Raisa


"Gak apa, gak oerlu maksa buat ingat. Kamu tahu aja udah cukup, lama-lama juga ingat lagi." Kata Nilam


"Iya, aku Maura. Nah, yang ini baru Nilam. Sekarang, kamu ingat aja nama dan wajah kita lagi." Ujar Maura


"Kalau kami berdua masih aman kamu ingat kan? Berarti buat kamu tentang kami gak ada masalah. Jadi, sebenarnya kenapa kanu bisa sampai kecelakaan sampai parah beguni, Raisa?" Tanya Andien


Raisa terdiam karena bingung bagaimana mau menceritakannya. Masalahnya tentang kecelakaan itu, Raisa baru saja mengingatnya semalam dan rasa sakit karena mengingatnya pun masih membekas sampai sekarang.


"Ah, kalau gak ingat gak usah dipaksa ingat. Gak apa, maaf aku yang lupa main asal tanya aja." Kata Andien


"Sebenarnya, aku udah ingat kalau masalah kecelakaannya. Tapi, rasanya..." Ucapan Raisa terpotong.


Tes!


Lagi-lagi Raisa menangis hanya karena mengingat kembali kecelakaan itu, perasaan saat sebelum kecelakaan itu terjadi masih saja terasa sampai saat mengingatnya kembali sekarang.


..."Rasanya masih begitu nenyakitkan untuk diingat." Batin Raisa...


"Aduh... Udah, gak usah diingat lagi. Kamu kenapa? Kepala kanu sakit ya?" Cemas Hasna


"Enggak kok. Cuma,rasanya sulit untuk cerita tentang itu srkarang, aku juga bingung mau ceritanya bagaimana." Ucap Raisa


"Ya udah, gak usah dipaksa, Raisa. Mungkin kecelakaan itu emang terlalu menyakitkan buat kamu ingat." Ujar Nilam


"Iya. Maaf ya. Terima kasih juga udah bisa maklumi kondisi aku." Kata Raisa sambil menghapus air matanya.


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2