Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 108 - Pesta Kembang Api.


__ADS_3

Setelah ikan selesai dibersihkan dan bara api sudah siap, bakar ikan pun dimulai.


Nona Rina dan Raihan pun ikut bergabung dengan Rumi, Logan, dan Tuan Rommy untuk membakar ikan.


"Apa masih tidak perlu bantuanku juga?" tanya Raisa


Rumi langsung berbalik dan mendekat ke arah Raisa yang sedang duduk tenang di atas tikar bersama yang lain.


"Tidak perlu, Sayangku. Kalau kau masih ingin membantu, lebih baik kau bantu memberi semangat padaku," ujar Rumi sambil menunjukkan jari telunjuk pada pipinya sendiri memberi isyarat dan meminta istri cantiknya memberi ciuman di pipi sebagai penyemangat untuk dirinya.


"Kalau itu aku tidak mau. Katanya kau kuat, masa seperti itu saja sudah merasa lelah sampai ingin aku memberi semangat untukmu?" tanya Raisa yang malah memalingkan wajahnya dari sang suami.


"Meski pun aku kuat, aku tetap butuh asupan semangat dari istriku yang cantik ini," kata Rumi


"Kalau kau tidak mau memberiku semangat, biar aku saja yang mencari dan meraih semangat itu sendiri dengan caraku," sambung Rumi yang langsung mengecup pipi Raisa yang menganggur karena sang pemilik sedang memalingkan wajah darinya.


Mwuahh~


Setelah berhasil mengecup singkat pipi Raisa, Rumi langsung bangkit dan kembali untuk membakar ikan dengan fokus sambil tersenyum senang sendiri.


"You are my booster, Baby!" seru Rumi


Raisa yang terkejut langsung menatap tajam ke arah punggung Rumi yang sudah kembali fokus kembali membakar ikan.


"Rumi, kau mengetahui dan belajar ucapan itu di duniaku. Kau pikir yang lain tidak ada yang mengerti ucapanmu itu? Membuatku malu saja," dumel Raisa


Rumi hanya terkekeh kecil.


"Jangan menatap tajam seperti itu, Sayang. Punggungku bisa berlubang nantinya," kata Rumi


"Tahu dari mana kau kalau aku sedang menatap tajam ke arah punggungmu? Lagi pula, punggungmu takkan berlubang. Kan, kau sangat kuat," ujar Raisa


"Punggungku memang tidak akan berlubang, tapi hatiku jadi berdebar tidak karuan," ungkap Rumi


"Karena tatap matamu bagai busur panah, yang kau lepaskan ke jantung hatiku," sambung Rumi sambil berdendang indah.


"Wah ... nyanyi, Kak? Keren juga, suaranya bagus," ujar Raihan seraya memuji.


"Sejak kapan kau bisa bernyanyi apa lagi lagu romantis seperti itu?" tanya Logan


"Karena Raisa suka bernyanyi, jadi aku ingin menyamai dirinya. Lagu tadi juga lagu pertama yang pernah kudengar Raisa nyanyikan," jelas Rumi


"Saat itu aku hanya sedang bernyanyi sendiri bukannya bernyanyi untukmu," kata Raisa


"Rasanya aku ingin kembali pulang saja," sambung Raisa yang telah membenamkan wajahnya di antara dua lututnya yang ditekuk karena tidak tahan dengan rasa malu yang dirasakannya saat ini.


"Jangan tinggalkan aku, Sayang," kata Rumi


"Rumi, kau menyebalkan!" kesal Raisa


Mereka yang mengetahui seperti apa potongan lirik lagu yang Rumi nyanyikan tadi langsung menatap ke arah Raisa karena Rumi bilang Raisa pernah menyanyikan lagu tersebut. Pasalnya lagu itu lumayan romantis, meski juga menyayat hati di akhir lagunya.


"Baguslah kalau saat itu kau bukan menyanyikan lagu itu untukku. Karena lagu itu hanya terdengar romantis pada bagian bait awalnya saja. Lagu itu lebih terkesan sedih bagiku," batin Rumi


Usai membersihkan ikan, bukannya ikut membakar ikan Pak Hilman dan Arka malah masih saja menunggu hasil pancingan di sungai.


"Sepertinya masih ada yang berharap mendapat ikan hasil memancing," ujar Nona Rina


"Tak perlu terlalu hiraukan mereka berdua. Bapak dan Arka emang sangat suka memancing. Rasanya tidak akan puas jika belum berhasil mendapat ikan," jelas Raina


"Begitu, rupanya ... " kata Nona Rina


"Sepertinya semua ikan di sini udah ditangkap Veron, jadi gak ada ikan yang tersisa," ucap Arka


Setelah menunggu, akhirnya ikan pun selesai dibakar dan telah matang.


"Yang berdua di sana, mau makan ikan bakar gak? Udah matang, nih ... " ujar Bu Vani


"Mau dong!" seru Arka


"Tunggu sebentar," kata Pak Hilman


Pak Hilman dan Arka pun menyanggahi alat pancing di pinggir sungai agar masih tetap bisa menunggu hasil pancingan meski ditinggalkan. Lalu, keduanya pun beranjak untuk ikut makan ikan bakar bersama yang lain.


"Yeay ... ikan bakarnya udah matang!" seru Farah dengan girangnya.


Nona Rina, Logan, Rumi, dan Raihan pun membagikan ikan bakar pada yang lain untuk dinikmati bersama.


Lalu, tak lupa juga Rumi memberi satu tusuk ikan bakar pada Raisa.


"Ini ikan bakar untukmu, Raisa," kata Rumi yang lalu duduk tepat di samping Raisa.


"Terima kasih," ucap Raisa


Rumi hanya tersenyum menanggapi ucapan terima kasih dari sang istri.


"Sayang, jangan marah lagi, ya ... " bujuk Rumi


Raisa menatap sekilas ke arah Rumi yang tepat berada di sampingnya, lalu wanita itu kembali fokus pada ikan bakar yang ada dalam genggamannya. Rupanya, suaminya itu khawatir dirinya merajuk.


"Kalau tidak ingin aku marah, mendekatlah lagi ke sini. Aku ingin makan sambil bersandar padamu," pinta Raisa


"Tentu, dengan senang hati ... " patuh Rumi


Rumi pun menggeser tubuhnya untuk lebih merapat ke arah Raisa agar istrinya itu bisa bersandar padanya. Raisa pun makan ikan bakar yang ada di tangannya sambil bergelayut manja pada bahu Rumi. Raisa tersenyum karena merasa senang karena Rumi selalu mengikuti keinginannya.


"Raisa, apa kau ingin tambah makan ikan bakarnya lagi?" tanya Rumi

__ADS_1


"Tidak usah. Aku ingin makan camilan yang tadi dibawa saja," jawab Raisa


Rumi pun mengambilkan toples camilan yang ada di dekat sana untuk Raisa.


"Apa camilan yang ini?" tanya Rumi


"Iya," jawab Raisa dengan singkat.


Baru saja tangan Raisa ingin diulurkan untuk meraih isi toples camilan tersebut, tapi Rumi sudah lebih dulu mengambilnya untuk disuapi pada wanita itu.


"Ini, biar aku yang menyuapimu. Buka mulutmu ... " ujar Rumi


Tanpa penolakan, Raisa membuka mulutnya dan menerima suapan dari Rumi.


Setelah selesai makan ikan bersama, kini Rumi lebih leluasa merangkul tubuh Raisa yang berada di sampingnya dengan mesra. Satu tangannya merangkul tubuh sang istri dan satu tangan lainnya menyuapi sang istri untuk makan camilan. Rumi berusaha untuk menjadi sosok suami yang romantis untuk istri tercinta.


Usai makan ikan bakar bersama, Pak Hilman dan Arka kembali memeriksa alat pancing dengan harapan mendapat hasil. Namun, hasilnya tetap nihil. Tak ada satu pun ikan yang tersangkut pada alat pancing yang telah dipasang.


"Sepertinya ikan di sini udah pada kabur semua setelah ikan lainnya ditangkap Veron tadi," ujar Pak Hilman


"Terima aja kalau nyatanya mancingnya gatot. Alias gagal total," ucap Raina


"Kasihan ... " kata Bu Vani


Setelah terus menunggu, akhirnya Pak Hilman dan Arka menyerah dan merapikan alat pancing mereka berdua dengan baik.


"Semuanya, lihat deh ... ada banyak bintang di langit," kata Farah sambil menunjuk ke arah langit malam yang dipenuhi oleh bintang yang bertaburan.


"Iya, bintangnya banyak banget," sahut Raihan


Semua pun ikut menatap ke arah langit malam yang indah di atas sana.


"Semua bintang yang paling terang itu punya aku!" seru Farah


"Cahaya bulannya juga terang. Bagus banget," kata Raina


"Iya, tapi bulannya cuma ada satu. Beda sama bintang yang ada banyak," ujar Farah


"Kalau Onty Icha, lebih suka bintang atau bulan?" tanya Farah menambahkan.


"Semua bintang dan bulannya untuk Farah aja," jawab Raisa seolah tidak nyambung dengan pertanyaan dari Farah.


"Hore! Berarti langitnya juga punya aku!" seru Farah dengan girangnya.


Raisa pun menyentuh tangan Rumi yang merangkul tubuhnya dengan lembut dan hangat. Pasangan suami istri itu saling menatap satu sama lain dengan penuh cinta sambil sama-sama tersenyum.


..."Aku tidak peduli dengan banyaknya bintang atau bulan di langit itu. Karena bagiku bintang yang paling kusuka sudah ada di sini, di sisiku dan selalu menemaniku. Dia adalah Bintang Hatiku. Lebih dari bintang dan bulan, dia adalah udara yang membuatku hidup. Rumi adalah duniaku," batin Raisa...


"Aku juga sama, Sayang. Aku tidak peduli dengan langit dan yang menghiasinya. Aku pun tidak peduli jika langit itu runtuh atau dunia ini hancur. Karena biar pun semua itu terjadi, cintaku selalu hidup untukmu. Yang terpenting adalah cintamu yang telah pernah menghiasi duniaku selama aku hidup," batin Rumi


"Seumur-umur baru kali ini aku lihat Rumi jadi sering tersenyum. Bahkan dia juga belajar bernyanyi dan bisa bergurau dengan sangat bebas dan lepas seperti tadi. Dia sangat menikmati hidupnya setelah menemukan cinta sejatinya. Raisa juga terlihat sangat mencintai dirinya. Semoga hidup mereka berdua selalu bahagia sampai akhir," batin Tuan Rommy


"Pasti jadi lebih bagus lagi kalau ada pesta kembang api," celetuk Farah


..."Pesta kembang api ...."...


Raisa langsung berhenti bersandar pada bahu Rumi dan membenarkan posisi duduknya dengan tegak setelah mendapat ide yang terlintas begitu saja.


"Farah, mau lihat pesta kembang api, ya?" tanya Raisa


"Iya, Onty Icha. Kalau aja emang ada," jawab Farah


"Jangan bilang kalau kau bisa mewujudkan pesta kembang api itu, Raisa ... " tebak Logan


"Apa Onty Icha betulan bisa bikin pesta kembang api?" tanya Farah


"Mungkin bisa. Aku akan coba," jawab Raisa


Raisa menarik dan menghembuskan nafas secara perlahan. Kedua tangannya dikatupkan dengan erat dan begitu kedua tangannya dibuka, ada sesuatu yang seolah diluncurkan ke atas langit. Bersamaan dengan suara letupan, sesuatu itu merekah dengan indah menghiasi langit malam dan menemani bintang dan bulan meski keberadaannya mudah menghilang dalam sekejap mata.


Raisa benar-benar muwujudkan pesta kembang api seperti yang diinginkan oleh Farah.


Duar ... duar!


DUAR~


Perpaduan warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, dan ungu.


"Wah ... benar-benar ada pesta kembang api. Bagus banget," kata Farah


"Hebat sekali, Raisa ... kau mengagumkan," puji Nona Rina


"Kok bisa? Gimana caranya, Kak Raisa?" tanya Raihan


"Itu adalah perubahan wujud dari sihir nenjadi letusan kembang api. Yang warna merah adalah sihir elemen api, warna kuning dari elemen petir, dan warna biru dari elemen es. Kalau warna lainnya adalah penggabungan dari dua warna sihir tadi. Jingga dari warna merah dan kuning, hijau dari warna kuning dan biru, dan ungu dari warna merah dan biru," ungkap Raisa


Rumi tersenyum tipis di samping Raisa.


"Raisa memang paling bisa menghidupkan suasana menjadi lebih ceria, riang, dan gembira," batin Rumi


"Onty Icha, sulapnya hebat banget!" seru Farah


"Terima kasih, Sayang," ucap Raisa


Farah hanya asik melihat pesta kembang api yang sedang berlangsung sebelum kemeriahan itu padam dan lenyap begitu saja.


"Raisa, kau bisa saja melakukan hal yang tak terduga seperti pesta kembang api kali ini. Lain kali ajari aku juga untuk melakukannya," ucap Rumi

__ADS_1


"Ini mudah saja. Namun, kau tidak bisa melakukannya dengan merapal sihir seperti biasanya, tapi kau bisa melakukannya dengan menggunakan sihir dari Naga Suci yang membebaskanmu dari rapalan mantra. Kau hanya perlu membayangkan sihir itu berkumpul di dalam gemggaman kedua tanganmu, lalu kau lepaskan sihir itu ke atas langit," jelas Raisa yang dengan senang hati membagikan ilmu dari teori penggunaan sihir miliknya.


Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya pesta kembang api itu telah berakhir sepenuhnya.


"Kembang apinya udah habis. Kita pulang, yuk ... maksudnya balik ke rumah Kakek Rommy. Udah malam, Farah harus bobok," ucap Bu Vani


"Ya. Ayo, pulang, Farah ... " ajak Raina


Semua pun bangkit berdiri dan merapikan bekas piknik malam di sana.


"Mari, kita semua pulang," kata Tuan Rommy


Tuan Rommy merasa senang di dalam hatinya karena kediamannya yang banyak ditakuti oleh banyak orang karena ditinggali oleh dirinya yang berstatus sebagai penjahat, kini disebut sebagai rumah untuk pulang.


Saat itu, Farah berlarian kecil ke arah Raisa dan bergerak memeluk pinggang Onty kesayangannya itu. Entah kenapa gadis kecil itu begitu mengidolakan Onty-nya, mungkin karena Raisa bisa menggunakan kemampuan sihir atau wanita itu adalah seorang artis. Hanya Farah-lah yang tahu.


"Aku mau pulang sama Onty Icha aja ... digendong," pinta Farah


"Farah, jangan manja gitu sama Onty Icha. Sini biar sama Papi aja gendongnya," ucap Arka


"Gak mau," enggan Farah yang menolak.


"Gak apa, Kak. Biar aku aja yang gendong Farah, aku juga kuat kok," kata Raisa yang bergerak mengangkat tubuh keponakannya untuk menggendongnya ke dalam pelukannya.


Di dalam gendongan Raisa, Farah memeluk leher Onty-nya dengan kedua tangan.


"Sini, biar aku saja yang gendong Farah," ujar Rumi


Saat Rumi ingin mengambil alih Farah dari gendongan Raisa, wanita itu menepis pelan tangan pria itu.


"Tidak usah, biar aku saja ... " kata Rumi


"Gak apa, kan, Mih, Pih, Onty, Uncle? Boleh, ya?" tanya Farah


"Boleh dong, Sayang," jawab Raisa


"Tolong, ya, Raisa ... " kata Raina


"Aduh ... kayak sama siapa aja, sih, Kak. Tenang aja," ujar Raisa


Rumi hanya tersenyum tipis. Namun, pria itu merasa sikap menolak Raisa agak aneh. Padahal tadi keduanya baik-baik saja dan Raisa mengaku sudah tidak lagi marah. Apa memang Rumi yang salah paham? Salah paham di bagian mana?


Semua pun kembali menuju ke kediaman Tuan Rommy.


Bahkan hingga tiba di kediaman sang ayah, Rumi merasa Raisa terus menghindar darinya. Apa itu hanya perasaannya saja?


Setelah masuk ke dalam kediaman, Raisa pun mengembalikan Farah pada Arka untuk masuk ke dalam kamar masing-masing.


Semua sudah memasuki kamar masing-masing. Raina, Arka, dan Farah pun masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Raisa dan Rumi masuk ke dalam kamar mereka berdua.


Hingga keduanya bersiap sebelum tidur, Raisa masih terus saja diam dan itu membuat Rumi hanya diam juga karena merasa bingung.


"Apa Raisa masih marah padaku? Bukannya tadi kita sudah baik-baik saja? Di mana letak kesalahannya? Apa aku sudah melewatkan suatu hal tanpa kusadari?" batin Rumi yang bertanya-tanya di dalam hati.


Raisa beranjak duduk di tepi ranjang. Rumi pun ikut duduk di sebelahnya. Namun, Raisa menghindarinya dengan bergeser cukup jauh dari pria itu. Lalu, wanita cantik itu dengan cepat merebahkan tubuhnya ke atas kasur tanpa memedulikan sang suami.


"Raisa, apa kau masih marah padaku? Apa aku kembali melakukan kesalahan?" tanya Rumi yang sedari tadi bingung dengan sikap istrinya yang mengabaikan dirinya.


"Tidak tahu. Pokoknya malam ini kita hanya tidur biasa saja dan kau ... jangan ganggu aku," jawab Raisa yang membuat Rumi semakin merasa bingung.


Jelas sekali Raisa tampak marah, tapi karena apa? Apa alasannya?


Raisa memejamkan matanya begitu saja. Rumi pun ikut merebahkan diri di sampingnya. Begitu Rumi berbaring di atas kasur, Raisa langsung berbalik hingga membelakangi posisi tidur Rumi.


"Sayang, sebenarnya aku salah apa? Katakanlah ... supaya aku bisa memperbaikinya dan tidak mengulangi kesalahan yang sama di lain waktu," ujar Rumi


Sunyi, Raisa hanya terdiam.


Rumi pun bergerak memeluk tubuh Raisa dari belakang. Satu tangannya dilingkarkan pada pinggang istrinya itu.


"Sayang, bicaralah ... jangan hanya diam saja. Maafkan aku kalau memang aku salah," mohon Rumi


Raisa terus hanya diam. Terdengar suara deru nafasnya yang halus secara teratur. Menandakan wanita itu telah terlelap dan meninggalkan Rumi yang masih sepenuhnya sadar.


"Apa Raisa sudah tidur? Cepat sekali dia meninggalkan aku yang merasa bingung ini. Istriku marah, aku harus apa?" batin Rumi


Rumi pun mengeratkan pelukannya pada pinggang Raisa.


"Raisa, Sayangku ... kuharap besok amarahmu telah reda dan kau bisa memaafkan aku. Atau kita bisa bicara baik-baik supaya aku tidak merasa bingung lagi dan tidak ada kesalah-pahaman di antara kita berdua." Rumi bermonolog ria karena yang diajak bicara terus diam dalam tidurnya.


"Aku selalu sangat mencintaimu," ungkap Rumi


Rumi mengecup lembut punggung nan putih mulus milik Raisa. Lalu, pria itu membenamkan wajahnya di antara helaian rambut milik istri tercinta dan terlelap begitu saja dalam posisi itu.


Namun, Raisa malah membuka kedua matanya setelah merasa Rumi benar-benar telah tertidur dan bergerak menyentuh tangan Rumi yang memeluk pinggangnya. Wanita itu tersenyum hangat dan detik selanjutnya terkekeh tanpa suara.


..."Sesekali mengerjai suami tidak apa, kan? Sudah lama aku tidak mengerjai Rumi sejak sebelum menikah. Maaf, ya, Suamiku Sayang ... kau harus tahan dengan diamku hingga besok. Aku juga sangat amat mencintaimu," batin Raisa...


Entah mendapat ide dari mana, Raisa ingin mengerjai suaminya dengan mendiami pria yang dicintainya itu.


Raisa pun kembali memejamkan matanya sambil terus memegangi tangan Rumi yang melingkar di pinggangnya.


.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2