Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
80 - Berbelanja Ria Para Gadis!


__ADS_3

Hari pun mulai menjelang sore...


Rumah baru Raisa telah siap dan selesai dirapikan sejak beberapa saat lalu. Dan kini saatnya memulai rencana para gadis untuk berbelanja ria!


Setelah selesai merapikan rumah baru Raisa, mereka semua ke luar dari rumahnya. Para lelaki lagi-lagi kembali memiliki rencana lain mereka sendiri. Sedangkan para gadis langsung menuju pusat perbelanjaan untuk menemani Raisa berbelanja.


"Syukurlah, kita selesai sebelum malam. Jadi, kita bisa berbelanja saat masih sore." Ucap Wanda


"Tak banyak juga yang kita lakukan. Pekerjaan besar sudah Raisa lakukan sendiri, makanya kita bisa cepat ke luar untuk belanja." Kata Sandra


"Memangnya, kau mau belanja apa saja, Raisa?" Tanya Amy


"Tidak banyak, hanya peralatan mandi dan bahan makanan. Aku tidak tau apa masih membutuhkan yang lain, tapi sementara yang terpikirkan hanya itu. Tidak tau juga, apa uang yang kupunya cukup atau tidak." Jawab Raisa


Raisa bersama Amy, Aqila, Chilla, Sandra, dan Wanda pun langsung mencari dan memasuki toko swalayan setelah sampai pusat perbelanjaan.


Saat di dalam toko swalayan, Raisa langsung mengambil keranjang troli untuk mengumpulkan belanjaannya nanti.


"Ngomong-ngomong, bicara tentang uang. Raisa, sebelum Sanari kembali aktif pada penelitiannya, dia memberikan ini padaku." Ujar Aqila yang memberikan sesuatu pada Raisa.


Raisa menerima sebuah amplop dari tangan Aqila...


"Apa ini?" Tanya Raisa yang belum mengetahui isi dari amplop pemberian Aqila.


"Itu uangmu yang kau sisihkan dan kau berikan pada Sanari." Jawab Aqila


"Ini?! Bagaimana bisa menyebutnya milikku jika aku sendiri sudah memberikannya pada Sanari? Kenapa dia berniat mengembalikan ini padaku dan menitipkannya padamu?" Heran Raisa


"Katanya, dia tidak bisa menerima dan memakainya. Dia hanya menganggap kau menitipkan uang itu padanya sementara waktu. Dia berniat ingin mengembalikannya sendiri padamu, tapi dia sudah terlebih dulu harus kembali pada pekerjaannya, jadi dia menitipkannya padaku." Jelas Aqila


"Dia terlalu sungkan padaku. Padahal aku memberi uang itu sebagai balasan untuknya yang sudah memperbolehkanku menginap di rumahnya. Saat itu aku tidak bisa memikirkan hal lain yang dapat kuberikan padanya selain uang, karena aku tidak memiliki apa pun saat itu dan tidak bisa membelikannya sesuatu karena harus segera kembali ke duniaku." Ungkap Raisa


Raisa dibantu yang lain mulai berbelanja dan memasukkan belanjaannya ke dalam keranjang troli. Mereka terus mengitari toko tersebut untuk memilih barang yang akan Raisa beli.


"Baiklah! Sebagai gantinya aku akan memberikan sesuatu padanya nanti. Entah kapan kami bisa bertemu lagi, karena pasti dia sudah mulai sibuk lagi dengan penelitiannya. Kau pernah ke tempat penelitiannya kan, Aqila? Seperti apa tempatnya? Apa aku bisa berkunjung ke sana suatu saat nanti?" Ujar Raisa


"Aku memang pernah ke sana. Tapi, tidak tau kau bisa berkunjung ke sana atau tidak. Karena kau pasti butuh seseorang untuk menunjukkan di mana tempatnya." Ucap Aqila


"Kau benar. Kalian semua sudah kembali sangat sibuk sekarang. Hanya bisa menunggu waktu dan kesempatan lain." Kata Raisa


Raisa mulai pada peralatan mandinya. Namun, dia mulai merasa kebingungan.


"Bisakah kalian memberi rekomendasi padaku? Aku tidak tau mana barang yang bagus. Kalau bisa, pilihkan juga yang murah ya." Pinta Raisa


"Baik, akan kupilihkan untukmu." Kata Amy


"Tenang saja. Ini keahlian kami untuk berbelanja!" Ujar Wanda


"Oh ya, Raisa, kau masih belum bisa paham menggunakan uang di dunia ini ya? Makanya kau kebingungan memilih barangnya?" Tanya Sandra


"Iya, aku tidak tau nilai besar kecilnya mata uang di sini." Jawab Raisa


"Kalau begitu, nanti akan kami beritahu kau secara perlahan." Kata Aqila


"Kalau soal makanan, aku ahlinya! Kau juga mau membeli bahan makanan kan, Raisa? Kau mau beli yang seperti apa?" Ujar Chilla bertanya.


"Entahlah, aku juga tidak tau. Aku masih belum terlalu memutuskannya. Sesuatu untuk dimakan, tapi tidak terlalu berat untuk dicerna. Mungkin juga beberapa camilan ringan tapi mengenyangkan!" Ungkap Raisa


"Baiklah. Akan kupilihkan untuk kau beli." Kata Chilla


"Tidak perlu terlalu banyak juga, secukupnya saja. Kalau kalian suka camilan seperti apa? Aku juga mau beli untuk mencobanya! Mungkin aku akan suka." Ujar Raisa


Keenam gadis itu pun mulai asik pada kegiatan pilih memilih dan merekendasikan barang yang bagus untuk dibeli Raisa. Mereka juga terlarut dalam obrolan ringan saat asik berbelanja.


"Saat di rumah, kalian akan memakan apa saat sarapan atau waktu makan lainnya?" Tanya Raisa


"Saat sarapan lebih baik makan makanan yang tidak terlalu berat, tapi mengenyangkan lagi menyehatkan. Itu bagus untuk memulai hari dengan semangat, tapi tidak terlalu membuat gerak badan menjadi berat dan mudah lelah." Jelas Wanda


"Aku juga setuju itu!" Kata Raisa


"Kalau aku, lebih memilih makanan berkalori kapan pun waktu makannya. Baru tubuh akan punya banyak tenaga!" Ungkap Chilla


"Sebelum memulai hari ke luar dari rumah, kalian pasti sarapan lebih dulu, kan?" Tanya Raisa


"Pasti! Tapi, kalau terlambat bangun pagi dan waktu semakin tipis karena panggilan tugas, aku hanya bisa sarapan sedikit atau malah tidak makan sama sekali." Jawab Amy

__ADS_1


"Kalau soal itu, menurutku tergantung kepribadian masing-masing orang." Kata Sandra


"Memangnya kenapa, Raisa? Kau seperti memikirkan sesuatu saja?" Tanya Aqila


"Aku mengkhawatirkan pola makan seseorang." Jawab Raisa


"Kau mengkhawatirkan Rumi, kah, Raisa?" Tanya Chilla to the point.


"Eh, benar. Tepat sekali kau menebaknya. Apa terlalu nampak seperti itu?" Ujar Raisa


"Ya, kenapa lagi!? Kau kan habis menginap di rumahnya semalam." Celetuk Chilla


"Memangnya ada apa dengan Rumi?" Tanya Aqila


"Aku kan menginap di sana karena dipesankan untuk menjaga kondisinya, toh aku juga akan menginap semalam itu saja. Malam ini aku akan tidur di rumah baruku. Soal Rumi, dia di rumahnya tidak memiliki banyak bahan makanan dan malah cenderung hanya punya sedikit bahan makanan di dapurnya. Aku sampai berpikir, apa dia makan dengan baik selama ini? Aku jadi mengkhawatirkan pola makannya. Aku bahkan mengira dia hanya makan saat berkumpul di luar saja, tapi dia tidak terlalu sering makan di rumah." Jelas Raisa


"Kami juga tidak tau tentang kegiatannya di rumah." Ucap Aqila


"Aku berniat memberikan padanya beberapa bahan makanan yang kubeli saat ini, berharap dia bisa menjaga makannya lebih baik." Ungkap Raisa


"Aku tidak tahu kalau dia jarang makan di rumahnya sendiri. Kalau begitu, aku akan lebih sering mengingatkannya untuk makan saat di rumah." Ujar Aqila


"Ya, benar. Sering-seringlah mengingatkannya. Akan percuma aku memberikan bahan makanan padanya jika dia sendiri tidak memakannya. Itu tidak akan baik untuk tubuhnya walau dia punya daya tahan tubuh yang sangat kuat sekali pun." Ucap Raisa


Setelah banyak perbincangan dan berbelanja pun selesai, mereka semua menuju meja kasir untuk membayar. Raisa membayar semua belanjaannya sendiri. Dan untuk mereka yang membeli sesuatu sendiri pun membayar belanjaannya masing-masing.


Setelah membayar, mereka semua ke luar dari toko swalayan karena tidak lagi berkebutuhan di sana. Mereka semua hendak pulang...


"Terima kasih ya untuk hari ini. Kalian bahkan menemaniku berbelanja untuk memberiku rekomendasi terbaik. Terima kasih banyak!" Ucap Raisa


"Sama-sama, Raisa." Balas Amy dan Wanda secara serempak.


"Tidak usah sungkan pada kami." Kata Aqila dan Sandra secara serempak.


"Aku juga senang berbelanja bersama denganmu, Raisa." Ujar Chilla


"Kalau begitu, sebagai ucapan terima kasihku kali ini, aku memberi kalian ini. Masing-masing camilan kesukaan kalian." Ucap Raisa


Raisa memberikan masing-masing dua bungkus camilan kesukaan para teman gadisnya. Sebelumnya, tujuan Raisa menanyakan camilan kesukaan temannya adalah membeli sebungkus untuknya sendiri dan dua bungkus untuk diberikan pada masing-masing pada teman yang menyukainya.


"Tapi, kami tidak menginginkannya." Tolak Wanda


"Ya, itukan milikmu." Kata Amy


"Kalau ini untuk kami, kau bagaimana?" Tanya Aqila


"Aku masih memiliki satu bungkus masing-masing camilan kesukaan kalian untuk kucoba. Ini cukup. Yang dua itu memang ingin kuberi untuk kalian sebagai ucapan terima kasih." Jawab Raisa


"Kalau begitu, aku terima pemberian darimu, Raisa. Kau baik sekali!" Ujar Chilla


"Ya. Terimalah seperti Chilla menerimanya, maka aku akan senang." Ucap Raisa


"Baiklah, kami terima." Kata Aqila dan Sandra secara serempak.


"Terima kasih, Raisa!" Ucap Amy dan Wanda secara serempak.


"Akulah yang berterima kasih pada kalian. Baiklah, ayo! Kita pulang." Ujar Raisa


Mereka semua pun berjalan beriringan untuk pulang bersama...


Setelah berjalan bersama, Amy dan Wanda akhirnya memisahkan diri mereka berdua karena arah pulang yang berbeda. Setelah beberapa langkah lagi, Chilla dan Sandra pun begitu. Tersisa Raisa dan Aqila, berdua. Namun, akhirnya Aqila pun harus berpisah dengan Raisa karena rumahnya yang berbeda arah. Hanya sampai persimpangan di dekat rumah Raisa, Aqila harus menempuh jalan yang berbeda.


"Hanya sampai sini saja, kita harus berpisah. Kau hafal arah jalan pulangmu kan, Raisa?" Ujar Aqila


"Ya, rumahku tidak jauh lagi kok. Aku bisa jalan sendiri dari sini. Terima kasih sudah menemaniku ya, Aqila." Ucap Raisa


"Sudah bilang berapa kali, tak usah sungkan. Sampai jumpa besok, Raisa!" Kata Aqila


"Sampai jumpa lagi, Aqila. Selamat malam!" Balas Raisa


Aqila pun beranjak pergi san berpisah dengan Raisa...


Hari sudah memasuki waktu malam. Begitulah jika para gadis berbelanja, bisa menghabiskan waktu lama. Raisa dan para teman gadisnya pun begitu, hampir saja mereka lupa waktu.


Raisa pun mulai melangkahkan kembali kakinya untuk pulang. Sendirian... Suasana malam yang tidak terlalu menakutkan karena di sepanjang jalan memiliki penerangan. Namun, ditambahnya kabut di malam hari menambah kesan sunyi. Untunglah, Raisa bukan pribadi yang penakut.

__ADS_1


Raisa pun terus berjalan lurus. Memerhatikan jalan menuju rumah barunya. Di ujung pandangannya, ia melihat seseorang berdiri tegap seperti sedang menunggu sesuatu. Entah siapa itu, ia tak peduli. Ia hanya fokus pada arah jalan pulangnya dan tak memedulikan hal lain. Suasana jalan yang berkabut membuatnya tak bisa melihat siapa orang di ujung pandangannya. Dan saat ia mulai mendekat ke posisi orang tersebut, orang tersebut nenghampirinya. Orang itu menyapanya dengan lembut.


"Raisa, kau baru pulang? Sudah selasai berbelanjanya?" Tegurnya menyapa.


Saat seorang itu berada di depannya dan menghalang jalan untuk bertemu dengan Raisa, ia baru menyadari dan melihat jelas sosok itu. Siapa lagi orang yang rumahnya berdekatan dengannya di jalan yang sama...??


"Rumi, kau di sini? Kenapa tidak di rumah?" Heran Raisa bertanya.


"Aku menunggu untuk melihatmu lagi." Ungkapnya, Rumi.


"Ah, ya. Aku memang baru pulang belanja. Sudah kubilang sebelumnya, proses apa pun yang para perempuan lakukan, itu butuh waktu lama. Apa lagi waktu berbelanja bersama teman perempuan lainnya. Mereka akan saling mengobrol, terlarut dalam waktu yang lama. Bagaimana jika aku masih belum pulang setelah kau lama menunggu di sini? Yang ada kau hanya akan kelelahan. Lain kali, jangan menunggu hal yang tidak pasti." Ujar Raisa


"Tidak apa. Sebelumnya aku juga sudah pernah bilang, aku akan setia padamu dan menunggumu. Lagi pula, aku juga baru kembali setelah berkumpul dengan teman-teman." Kata Rumi


"Sudahlah, memang tidak ada yang bisa berdebat denganmu. Oh ya, aku ingin memberikan sesuatu padamu. Ayo, kita sekalian ke rumahmu saja. Sudah sangat dekat dari sini..." Ucap Raisa


"Memangnya apa yang mau kau berikan padaku?" Tanya Rumi


"Kita kembali ke rumahmu dulu." Kata Raisa


Raisa mendahului Rumi untuk menuju rumahnya. Raisa ingin memberikan sesuatu padanya, akan lebih mudah jika di rumahnya. Jadi, Rumi bisa langsung meletakkannya di dalam rumahnya.


Keduanya pun sampai di depan rumah Rumi...


"Sebenarnya apa saja barang yang kau beli, Raisa? Kenapa yang kau bawa di tanganmu hanya sedikit?" Tanya Rumi


"Sebagian besar yang lain kusimpan ke dalam sihirku. Lebih mudah membawanya. Di sini pun tidak ada yang akan memergoki atau mengkritikku karena di sini dunia bebas sihir tidak seperti di duniaku sendiri yang membuatku kesulitan menggunakan sihirku." Jawab Raisa


"Bukalah pintumu dan masuklah." Pinta Raisa


Rumi pun menuruti perkataan Raisa untuk membuka pintunya yang terkunci. Rumi pun melangkah memasuki rumahnya.


"Ayo, masuk." Kata Rumi


"Tidak, aku di sini saja. Dan yang ingin kuberikan padamu... Ini!" Ujar Raisa


Raisa pun memperlihatkan telapak tangannya dan mengeluarkan sesuatu dari sana yang merupakan letak inti sihir keluarnya. Raisa memberikan sebagian barang belanjaannya pada Rumi, yaitu bahan makanan.


"Aku ke sini hanya untuk memberimu semua ini. Ini bahan makanan untuk kau makan di rumah. Kau harus menjaga pola makanmu! Saat pagi sebelum ke luar rumah, sarapanlah lebih dulu." Ucap Raisa


"Padahal kau yang sudah menjagaku semalam, tapi malah kau yang memberikan sesuatu padaku bukannya aku yang memberimu sesuatu sebagai tanda terima kasih." Ujar Rumi


"Aku menjagamu karena memang aku yang ingin dan itu juga pesan dari orangtuamu. Aku justru berterima kasih padamu. Kalau bukan karena menjagamu, semalam aku masih kebingungan memikirkan harus tidur di mana. Anggap saja yang kuberikan ini adalah sebagai tanda terima kasihku karena kau memberikanku tempat untuk tidur semalam." Jelas Raisa


"Sepertinya tidak seharusnya begini." Enggan Rumi


"Terima saja... Kau kan sudah bilang mau menurutiku. Aku pernah memintamu untuk hidup dengan baik. Sehat-sehatlah... Supaya aku selalu bahagia dengan hanya melihatmu. Jadi, kau harus menerima ini dan harus menjaga pola makan dengan baik." Keukeuh Raisa


"Baiklah, kuterima. Terima kasih, Raisa." Ucap Rumi


Raisa pun tersenyum senang saat Rumi mau menerima pemberian darinya...


"Bagus! Kalau begitu, aku pamit pulang ya." Ujar Raisa


"Tidak mau masuk ke dalam dulu?" Tanya Rumi


"Maaf, aku tidak mau mengganggu istirahatmu di malam hari ini." Tolak halus Raisa


"Ah, iya. Kau juga harus beristirahat. Apa mau kuantar?" Ujar Rumi


"Tidak perlu, rumahku sangat dekat. Kau langsung masuk dan istirahat saja." Ujar Raisa


"Baiklah. Aku harap kita bisa mengobrol lagi di lain waktu, hanya kita berdua saja. Jalanlah dengan hati-hati. Sampai jumpa besok." Ucap Rumi


"Sampai jumpa lagi. Selamat malam, Rumi. Aku pulang..." Pamit Raisa


Raisa pun berbalik pergi untuk pulang menuju ke rumah barunya. Rumi memerhatikan kepergian Raisa dengan sedikit kecewa, ia kira Raisa akan tinggal untuk mengobrol dengannya sebentar saja karena untuk itulah ia menunggu Raisa di jalan arah pulang di dekat rumahnya.


Rumah Raisa sangat dekat dengan rumah Rumi, hanya berjarak tiga rumah lain saja. Hanya butuh waktu sebentar untuk sampai ke rumahnya sendiri...


Setelah sampai dan masuk ke dalam rumah, Raisa akan membereskan barang setelah berbelanja dan segera istirahat. Menantikan esok hari yang gembira...


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2