
Raisa bergerak mengulurkan kedua tangannya yang terbalut oleh sarung tangan untuk menyentuh lapisan dinding es tebal yang berada tepat di hadapannya. Matanya terpejam secara perlahan untuk memfokuskan dirinya. Saat itu tiba-tiba muncul lambang bunga teratai putih di area tengah dahinya yang mengeluarkan cahaya yang menyilaukan.
Lapisan pertama dinding es tebal itu pecah dan lapisan dalamnya meleleh hingga cair sampai orang-orang yang terkurung di dalamnya terbebas begitu saja meski masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Jumlah orang yang terkurung di dalam lapisan dinding es tebal ada sekitar kurang lebih 20 orang dalam kurun waktu sekitar kurang lebih 2 minggu.
"Sungguh berhasil! Nona Raisa, apa kau bisa sekalian membuat mereka semua sadar?" tanya Yasha
"Akan kucoba lagi," jawab Raisa
Raisa kembali mengulurkan kedua tangannya yang terbalut oleh sarung tangan. Dengan kemampuan sihir miliknya, Raisa mengeluarkan sihir elemen cahaya yang diarahkan pada para warga desa yang tidak sadarkan diri itu. Namun, hingga cahaya sihir Raisa padam, para warga desa itu tidak kunjung sadarkan diri juga.
"Sepertinya aku tidak bisa mematahkan aturan hukum alam sepenuhnya karena bagaimana pun juga aku hanya manusia biasa, tapi kupastikan mereka semua akan segera sadar di hari esok," ujar Raisa
"Ya, ini sudah sangat baik. Terima kasih, Nona Raisa," ucap Yasha
"Kalian semua, bawa satu per satu orang ini ke desa dan tempatkan di balai pengobatan. Tunggu hingga besok mereka sadar, baru kita bicarakan hukuman lanjutan untuk mereka semua. Lalu, minta bantuan warga desa yang dapat dipercaya untuk membantu membawa mereka pergi dari sini. Usahakan jangan sampai terlalu banyak orang yang tahu masalah ini karena bagaimana pun juga tempat suci ini harus tetap terjaga kerahasiaan dan kelestariannya," sambung Yasha yang kembali memberi perintah pada anggota pasukan yang dipimpin olehnya.
"Baik, Ketua!"
Para anggota Pasukan Burung Hantu pun mematuhi perintah Yasha untuk memindahkan orang-orang yang hilang sebelumnya itu ke desa satu per satu.
"Veron, mohon pengertian darimu ... kami akan merawat mereka setidaknya hingga mereka sadar besok baru kami akan memberikan hukuman lanjutan pada mereka semua. Tapi, akan kupastikan mereka semua menerima hukuman yang setimpal," ucap Raisa
"Baik ... terserah kau saja, Raisa. Akan kupercayakan dan kuserahkan mereka padamu," kata Veron
"Baiklah. Sepertinya masalah di sini sudah selesai. Sekarang lebih baik kita pergi dari tempat ini," ujar Rumi
"Sebelum pergi, aku ingin melakukan sesuatu lebih dulu," kata Raisa
Raisa pun berjongkok. Wanita itu mengulurkan satu tangannya yang terbalut sarung tangan untuk menyentuh tanah bersalju di bawah, setelah itu lingkaran sihir dengan lambang bunga teratai putih pun muncul menghiasi tanah bersalju putih itu dan menghilang begitu saja setelah sepersekian detik.
"Lingkaran sihir apa yang kau buat barusan, Raisa?" tanya Ian
"Itu adalah lingkaran sihir pelindung. Meski tanpa dinding pelindung, wilayah sungai suci ini akan terlindungi. Orang dengan niat hati yang tidak baik tidak akan bisa memasuki atau bahkan menemukan tempat ini hingga kelestarian tempat ini tetap terjaga," ungkap Raisa
"Sudah selesai. Ayo, kita pergi dari sini," sambung Raisa
Usai meletakkan lingkaran sihir pelindung di wilayah sungai suvi tersebut, Raisa dan yang lainnya pun bersiap pergi dari sana.
"Tunggu dulu!" Veron menghentikan mereka yang ingin pergi meninggalkan wilayah sungai suci itu.
"Ada apa lagi, Veron? Apa kau ada masalah lain yang memerlukan bantuan kami?" tanya Raisa
"Aku memerlukanmu, Raisa. Izinkan aku bersatu dan merasuk ke dalam dirimu seperti Helio," pinta Veron
Raisa langsung menoleh untuk menatap ke arah Rumi seolah meminta pendapat dari suaminya itu.
"Terserah kau saja, Raisa. Kau bisa bersatu dengan Veron jika kau memang bersedia. Helio pernah mengatakan, tidak masalah jika kau menambah hewan sihir suci yang merasuk ke dalam dirimu asalkan jenis elemen sihirnya berbeda dari miliknya yang merupakan elemen api," ucap Rumi
"Jenis elemen sihirku adalah air dan es dan itu berbeda dengan milik Helio. Kalau begitu, artinya aku boleh bersatu ke dalam dirimu, kan, Raisa?" tanya Veron
"Kalau kau bersatu ke dalam diriku, lalu bagaimana dengan wilayah sungai suci yang telah kau lindungi selama ini? Apa kau akan membiarkannya begitu saja?" tanya balik Raisa
"Bukankah kau sudah menaruh lingkaran sihir pelindung di sini? Kalau begitu, aku tidak perlu lagi merasa khawatir dengan wilayah sungai suci ini lagi. Apa lagi kau sendirilah yang menaruh lingkaran sihir pelindung di sini, maka aku akan merasa aman jika bisa terus bersamamu meski aku tidak langsung berada di wilayah sungai suci ini," ujar Veron
"Baiklah, kalau kau sudah memutuskan seperti itu, tapi aku punya satu syarat ... kau tidak boleh bertengkar dengan Helio di dalam diriku ini," ucap Raisa
"Aku punya karakteristik yang sangat tenang. Aku tidak akan menghiraukan Helio jika dia mencari keributan denganku dan aku akan berusaha untuk tidak lebih dulu memulai pertengkaran dengan Helio," kata Veron
"Kau sangat tenang, tapi kau mampu menyerang sebuah desa," sindir Devan
"Aku tidak akan mengganggu kalau tidak diganggu lebih dulu," tegas Veron
__ADS_1
Raisa terkekeh kecil dan ia mendekat ke arah Rumi.
"Rumi, aku akan ikut saat Veron merasuk ke dalam diriku. Kuharap kau menjaga tubuhku selagi aku tidak sadarkan diri," bisik Raisa
"Baik. Aku akan menjaga tubuhmu dengan baik," kata Rumi
Bagaimana bisa Raisa merasuk ke dalam dirinya sendiri? Maksudnya adalah roh dalam dirinya akan menemui Veron yang merasuki dirinya secara langsung dan itu akan membuatnya tak sadarkan diri sementara waktu. Rumi pun mengerti apa yang dimaksud oleh istrinya itu.
"Baiklah, Veron. Aku siap jika kau memang ingin bersatu ke dalam diriku," kata Raisa
"Terima kasih sudah mau menerimaku, Raisa," ucap Veron
Raisa hanya tersenyum lembut menanggapi ucapan Veron.
Tubuh Serigala raksasa Sang Penguasa Sungai Suci itu pun mulai berubah menjadi wujud roh yang transparan, lalu roh tersebut menghinggapi tubuh Raisa dan masuk begitu saja ke dalam diri wanita reinkarnasi Sang Dewi untuk bersatu dengannya. Saat itulah, kesadaran diri Raisa menghilang dan Rumi dengan sigap menangkap tubuh Raisa yang terjatuh tak sadarkan diri ke dalam pelukannya.
"Hei, ada apa dengan Raisa? Kenapa dia malah tidak sadarkan diri saat Veron merasuk ke dalam dirinya? Apa saat Helio merasuk ke dalam dirinya juga seperti ini? Bukankah Raisa sangat kuat? Kenapa dia malah pingsan?" tanya Chilla
"Tidak. Raisa hanya ingin rohnya menemui Veron yang merasuk ke dalam dirinya secara langsung," jawab Rumi
"Ada apa dengan Nona Raisa? Kenapa dia bisa pingsan? Bukankah tadi dia masih baik-baik saja?" tanya Yasha yang kembali menghampiri rombongan pasukan misi sari Desa Daun.
"Tidak apa. Ini adalah reaksi yang wajar saat Veron merasuk dan bersatu ke dalam diri istriku," jawab Rumi
"Jadi, Veron juga telah mengakui Nona Raisa sebagai tuannya? Kukira Nona Raisa akan sanggup menahan saat Veron merasuk ke dalam dirinya," ujar Yasha
"Raisa memang sanggup menahannya, tapi dia ingin rohnya menemui Veron yang merasuk ke dalam dirinya karena dia berhati baik," ucap Sanari
"Begitu, rupanya ... " kata Yasha
"Yasha, kau tidak keberatan meski Veron mengakui Raisa sebagai tuannya, kan?" tanya Rumi
"Tentu saja, tidak masalah. Merupakan hak Veron yang ingin memilih siapa pun sebagai tuannya. Kalau kau berpikir karena dia berada di wilayah kami maka harus mengakui salah satu dari kami sebagai tuannya maka kau salah, lagi pula sepertinya di wilayah kami tidak akan ada yang mampu menahan kekuatan sebesar milik hewan sihir suci yang merasuk ke dalam dirinya sepertimu dan Nona Raisa. Tenang saja, aku dan warga desa kami bisa merahasiakan tentang ini jika memang ini demi keselamatan diri Nona Raisa," jawab Yasha
"Kalau begitu, lebih baik kita segera cari penginapan untuk bermalam dari pada terus menunggu dan berada di sini," ujar Amon
"Benar. Aku yang akan membawa kalian semua ke penginapan di wilayah kami," ucap Yasha
Mereka pun beralih dari sana dan meninggalkan wilayah sungai suci di balik gunung es utara itu untuk segera beranjak menuju ke penginapan.
Rumi pun menggendong tubuh Raisa di dalam pelukannya ala bridal style saat pergi dari sana.
Saat Veron merasuk ke dalam dirinya, roh Raisa mendampinginya secara langsung di sampingnya. Roh keduanya masuk ke dalam ruang inti sihir milik Raisa yang berada di alam bawah sadar wanita cantik itu.
Di sana adalah wilayah inti sihir seperti padang rumput hijau yang subur. Ada sebuah kastel megah yang indah berdiri di sana sebagai ruang penyimpanan sihir milik Raisa yang juga bisa digunakan untuk pemulihan roh. Tak hanya itu, ada kolam air suci yang di permukaannya terdapat Bunga Teratai Putih Suci berukuran raksasa yang merupakan inti sihir milik Raisa yang takkan bisa pergi meninggalkan tempat itu. Di daratannya ada Helio, Sang Phoenix yang melindungi Kolam air suci dan Bunga Teratai Putih Suci tersebut di sana.
"Selamat datang, Veron. Di sini ada teman yang akan menemaimu." Roh Raisa berbicara.
"Rupanya, kau juga bersatu dengan Raisa dan merasuk ke dalam dirinya sama sepertiku. Selamat bergabung, Veron," sambut Helio
"Kuharap kalian berdua bisa senantiasa akur," ujar Raisa
"Tenang saja, Raisa. Kami akan terus berhunungan baik dan tidak akan mengusik ketenanganmu," ucap Veron
"Aku senang mendengarnya," kata Raisa
"Kalau begitu, karena aku adalah roh air ... aku akan tinggal di dalam kolam air suci milikmu di sini," ujar Veron
"Terserah kau ingin menempatkan dirimu di mana pun di dalam sini. Yang jelas aku akan melindungi kalian yang hidup di dalam diriku," ucap Raisa
"Kamilah yang harus melindungi dirimu dari dalam sini, Tuanku ... Raisa," kata Helio dan Veron di saat yang bersamaan.
__ADS_1
"Kalau begitu, mari kita saling melindungi," ujar Raisa sambil tersenyum lembut.
"Karena kalian sudah saling bertemu, aku akan kembali pada kesadaranku. Kuharap kalian bisa hidup damai, aman, serta nyaman di dalam sini dan jangan saling bertengkar," sambung Raisa
"Kami akan mengingat pesan darimu, Raisa," patuh Helio dan Veron secara bersamaan.
Roh milik Raisa pun mulai menjauh dari sana untuk kembali menuju kesadaran dirinya sambil tersenyum hangat dan melambaikan tangan secara perlahan. Saat itu Veron pun melompat masuk ke dalam kolam air suci untuk bersemayam di sana mulai saat ini.
Begitu Raisa kembali sadar, ia sudah berada di dalam kamar penginapan bersama Rumi yang baru saja merebahkan tubuhnya yang tadi tidak sadarkan diri di atas ranjang. Rumi pun ikut duduk di tepi ranjang dekat dengan istrinya itu.
"Rumi, kita sedang berada di mana?" tanya Raisa begitu membuka kedua matanya.
"Raisa, kau sudah sadar, Sayang ... " kata Rumi yang dibalas dengan anggukan kecil oleh Raisa.
"Kita berada di dalam kamar suatu penginapan di Desa Es, Negara Salju," sambung Rumi mengungkapkan.
Raisa beralih dari posisi rebahnya menjadi duduk di atas ranjang.
"Aku dapat satu kamar yang sama denganmu? Kukira aku akan berada di dalam kamar yang sama dengan Chilla dan Sanari karena kita sedang dalam suatu misi untuk menghemat pengeluaran. Siapa yang mengatur kamarnya?" tanya Raisa
"Awalnya kukira juga akan sedih karena berada di kamar yang terpisah denganmu, tapi untunglah kita dapat kamar yang sama. Yasha yang mengantar kita ke penginapan dan mengatur kamar untuk pasukan misi dari Desa Daun, bahkan dia juga telah membayar tagihan untuk semalaman ini. Katanya sebagai rasa terima kasih karena telah membantu pekerjaan pasukan burung hantu miliknya," jelas Rumi
"Padahal kita pun datang karena panggilan misi dari sini," kata Raisa
"Ya, tak kusangka dia orangnya lumayan baik," ujar Rumi
"Siapa, Yasha? Memang awalnya kau pikir dia orang yang seperti apa?" tanya Raisa
"Dia bukan orang baik. Apa lagi saat dia berusaha menggodamu dengan mengatakan kau cantik. Meski kau memang cantik sungguhan, tapi dia bahkan tidak mengubah panggilannya padamu setelah tahu bahwa kau adalah seorang Nyonya dan kau adalah istriku. Aku tidak menyukainya," ungkap Rumi dengan ekspresi wajah tak suka.
Raisa terkekeh pelan saat menyadari Rumi merasa cemburu karena hal sepele bahkan sampai mengungkit pembicaraan yang telah berlalu.
"Di sini dingin, rupanya ... " kata Raisa
"Helio, maaf ... padahal kita baru saja bertemu tadi, tapi aku sudah membutuhkan bantuanmu lagi." Raisa mencoba berkomunikasi dengan Helio, Sang Phoenix yang berada di dalam dirinya.
"Tidak masalah, Raisa. Apa yang perlu kubantu lagi?" tanya Helio dari dalam diri Raisa
"Bisakah kau menghangatkan suhu di sekitar sini?"
"Kalau begitu, kau hanya perlu mengeluarkan dan menempatkan api abadi suci di persekitaranmu, Raisa."
"Lalu, apa kau juga bisa membantu menghangatkan suhu hingga ke seluruh isi penginapan ini?"
"Itu ... kuyakin kau sendiri tahu caranya. Kupercayakan hal itu padamu, Raisa."
Sebelum Raisa mengeluarkan sihir api abadi suci, Rumi sudah mengeluarkannya lebih dulu dengan menggunakan api abadi suci milik Niran Sang Naga Suci yang berada di dalam dirinya untuk setidaknya menghangatkan suhu di dalam kamar penginapan tersebut.
"Aku sudah mengeluarkan api abadi suci untuk menghangatkan suhu di dalam kamar ini. Kata Niran, dia juga ingin ikut membantu. Terlebih dari itu, aku juga ingin bisa berguna untukmu. Sekarang kau hanya perlu menyebarkan suhu hangat ini ke seluruh isi penginapan seperti yang kau inginkan," ujar Rumi
"Padahal terlepas dari ini, kau sangatlah berharga untukku, Rumi. Dan kau pasti juga bisa menyebarkan suhu hangat ini ke seluruh isi penginapan ini karena kau adalah reinkarnasi dari Kaisar Dewa," kata Raisa
"Aku tidak bisa dan tidak tahu caranya. Memang dikatakan aku adalah reinkarnasi dari Kaisar Dewa, tapi sama sepertimu aku juga tidak percaya dengan hal semacam reinkarnasi itu. Terlebih lagi kemampuan yang diturunkan Kaisar Dewa padaku pasti punya batasan yang jelas. Aku hanya mewarisi jumlah tenaga sihirnya yang banyak jika itu ternasuk dengan tenaga sihir cadanganku," ucap Rumi
"Ya. Mungkin memang begitu," kata Raisa
Raisa pun mengulurkan satu tangannya ke tanah kamar penginapan tersebut dan muncullah sebuah lingkaran sihir di sana yang membuat suhu hangat di dalam kamar tersebut menyebar ke seluruh isi penginapan itu. Hanya semudah itu caranya. Sebelumnya Raisa hanya tidak percaya diri dan butuh dorongan untuk melakukannya. Malam itu pun menjadi malam paling hangat pada penginapan tersebut.
.
•
Bersambung.
__ADS_1