Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 162 - Ngidam Masak dan Makan Seblak.


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Raisa dan Rumi kini sedang berada di Jakarta dan tidak lagi berada di Desa Daun.


Pasangan suami istri itu kian bertambah lengket dan mesra. Rumi juga jadi lebih sering menemani sang istri di rumah karena jarang mendapat panggilan misi.


Saat ini Raisa dan Rumi sedang duduk bersama di sofa sambil menonton TV di ruang tengah. Posisi keduanya adalah Raisa bersandar pada dada sang suami dan Rumi yang merangkul pinggang sang istri. Tampak begitu mesra sambil menyemil makaroni seolah menonton film di bioskop sambil makan popcorn. Padahal yang disaksikan di televisi tampak membosankan, tapi keduanya tetap terlihat asik saat berdua. Karena poin pentingnya bukan ada pada tayangan televisi melainkan kebersamaan pasangan suami istri itu.


Saat sedang asik menonton, ada suara ponsel berbunyi. Tentu saja itu adalah milik Raisa. Wanita cantik itu pun meraih ponsel miliknya dan melihat penyebab benda komunikasi itu berbunyi.


"Ada telepon, ya, Sayang? Dari siapa?" tanya Rumi


"Ini, kak Raina ... panggilan video," jawab Raisa


"Ya sudah, tinggal kau angkat saja," ujar Rumi


Raisa mengangguk pelan. Wanita cantik itu pun menegakkan posisi duduknya dan langsung menjawab panggilan video dari sang kakak.


"Halo, Raisa. Lagi apa?"


"Halo, kak. Lagi nonton TV aja, nih, sama Rumi. Ada apa, kak? Kelihatannya lagi ada di dalam mobil, ya? Perjalanan mau ke mana?"


"Iya, nih. Sebentar lagi sampai. Mau kumpul."


"Maksudnya mau ke rumah ibu bapak, ya? Maaf, aku sama Rumi gak bisa ikut kumpul dulu."


"Siapa bilang mau ke rumah ibu bapak? Bukan, tapi mau ke rumah kalian berdua."


"Lagi di perjalanan mau ke sini? Kok mendadak, gak kasih tahu dulu?"


"Ya, ini makanya kakak telepon kamu. Tadinya mau tiba-tiba datang aja biar jadi kejutan, tapi takut malah ganggu pa-sut-ri bu-cin."


"Kami berdua ... bucin? Masa, sih?"


"Enggak kok, tapi emang lagi pengen nyeplos seperti itu aja. Lagi pula, kalau di depan orang lain emang enggak, tapi kalau lagi berdua ... siapa yang tahu, kan? Itu rahasia kalian berdua. Omong-omong, kamu dan suami ada di rumah, kan? Kakak, kakak iparmu, dan keponakanmu boleh datang, kan?"


"Boleh kok, kak. Aku dan Rumi ada di rumah. Silakan datang aja."


"Iya, sih ... kalian lagi nonton TV pasti ada di rumah dan kalau kalian bukan lagi ada di rumah yang di Jakarta, pasti telepon kakak ini gak terhubung ke nomor kamu."


"Halo, Onty. Kata Mami Papi, Farah udah mau sampai, nih. Sebentar lagi kita bakal ketemu." Keponakan perempuan Raisa ikut muncul pada layar panggilan video.


"Halo, Farah. Ya, ayo datang ke sini. Onty dan Uncle tunggu, ya."


"Hai, Farah ... sudah lama kita tidak bertemu, ya?" Rumi yang turut memunculkan diri.


"Iya, Uncle, Onty ... tapi, syukurlah kita sebentar lagi bakal ketemu."


"Ya sudah. Farah dan Mami Papi, hati-hati di jalan, ya."


"Iya, Onty, Uncle ... dah~"


"Dadah, Farah ...."


"Ya udah, kakak tutup video call-nya, ya, Raisa, Rumi. Sampai ketemu sebentar lagi."


"Iya, kak. Sampai jumpa."


Tut!


Panggilan video diakhiri.


"Kak Raina, kak Arka, dan Farah mau datang. Kenapa harus mendadak, sih? Aku harus bersih-bersih dan harus kasih kesan yang baik. Mereka baru pertama kali mau datang," ujar Raisa yang mengoceh dan jadi heboh sendiri.


"Tenanglah, Sayang. Tidak perlu panik. Setidaknya mereka adalah kakak dan keponakanmu, bukan ibu dan bapakmu. Mereka pasti lebih santai. Lagi pula, hanya ada kita berdua di rumah dan rumah pun sudah bersih," ucap Rumi


"Aku jadi merasa agak gugup karena baru kali ini kita kedatangan tamu di rumah ini," kata Raisa


"Kau tidak perlu merasa gugup. Sebelum menikah, aku dan paman Elvano juga menginap di sini. Meski kau belum tinggal di sini karena rumah ini masih baru, kau melayani kami ... para tamu dengan baik. Kau juga sudah sering melayani kami yang berlibur di vila keluargamu di Puncak dengan baik. Tidak peduli di mana pun kau berada, kau selalu melakukan semuanya dengan sangat baik," ujar Rumi


"Memang benar, sih ... " sahut Raisa


"Sekarang kita hanya perlu menunggu kak Raina, kak Arka, dan Farah sampai di sini," kata Rumi


Raisa pun hanya mengangguk pelan. Setelah menunggu beberapa saat, suara mobil pun datang dan berhenti di depan rumah.


Raisa pun segera bangkit untuk beranjak membuka pintu sambil memastikan siapa yang datang diikuti oleh Rumi yang berjalan tepat di belakangnya bagai ekor.


Rupanya, benar saja. Keponakan perempuannya baru saja turun dari mobil. Setelah memastikan siapa yang datang dengan cara mengintip lewat jendela, Raisa pun membukakan pintu rumahnya.


Gadis kecil berlarian begitu melihat dirinya membuka pintu. Kakak perempuannya berjalan secara perlahan dan kakak iparnya tertinggal karena masih harus memarkirkan mobil dengan baik dan benar.


"Onty Icha, Uncle Rumi!" seru Farah

__ADS_1


"Selamat datang," ucap Rumi


"Di perjalanan tadi sempat nyasar gak? Kak Arka mana?" tanya Raisa


"Di jalan tadi lancar kok. Untung aja kamu udah pernah kasih tahu alamat rumah dan Arka juga hafal jalan daerah sini, jadi gak nyasar. Habis parkir mobil, Arka mau ambil barang dulu di mobil. Biarin aja dia," jelas Raina


"Emang bawa apaan ke sini? Padahal bisa beli pas udah di sini. Emangnya gak repot?" tanya Raisa


"Enggak kok. Cuma bawa bahan makanan, mau tumpang rasain masak di rumah pengantin baru," jawab Raina


"Ayo, masuk dulu. Silakan," kata Rumi


Mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah.


"Wah, Farah udah mau punya adik, ya? Udah berapa bulan kandungannya, Kak?" tanya Raisa yang melihat perut buncit sang kakak.


"Kelihatan jelas banget, ya? Sekarang udah 4 bulan, nih," ujar Raina


"Pantas aja. Usia kandungan emang udah mulai kelihatan, apa lagi ini kehamilan kedua," kata Raisa


"Iya, nih ... sampai ngidam mau main masak-masakan di rumah kamu," sahut Arka yang menyusul masuk le dalam rumah sambil membawa kantong berisi belanjaan dari dalam mobil.


"Ya ampun, bisa aja, nih, si dedek pengennya. Masih ada di dalam perut udah mau main masak-masakan sama Onty-nya," ujar Raisa


"Kalau Onty, kapan punya dedek bayinya?" tanya Farah dengan polosnya.


"Masih belum tahu, nih, Farah. Doakan saja supaya Onty Icha bisa hamil juga seperti Mami," jawab Rumi


"Oke. Aku doakan Onty Icha juga cepat punya dedek bayi supaya aku makin banyak temannya," ucap Farah


Raisa hanya bisa tersenyum mendengar percakapan sang suami dan keponakan perempuannya. Raisa mengulurkan kedua tangannya untuk menyentuh perut buncit sang kakak yang sedang hamil anak kedua.


"Wah ... bayinya sehat, nih," gumam Raisa


"Yang benar? Kamu bisa tahu karena kemampuan sihir medis kamu itu, ya? Apa kamu bisa tahu jenis kelaminnya juga?" tanya Raina


"Kalau itu, aku gak berani cari tahunya, Kak. Karena baru pertama kali juga pegang orang hamil dan takut salah tebak juga karena aku cuma manusia biasa. Aku cuma bisa merasakan ada roh kecil yang hidup dengan baik di dalam sini," jawab Raisa


"Oh, seperti itu ... benar juga," kata Raina


"Emang Kakak belum periksa untuk lihat jenis kelaminnya? Bukannya usia kandungan 4 bulan sudah mulai terlihat jenis kelaminnya kalau periksa USG?" tanya Raisa


"Belum jadwalnya cek lagi, jadi belum periksa," jawab Raina


Raisa pun beralih menuju ke dapur dan diikuti sang suami yang berjalan di belakangnya.


"Sayang, harusnya kau temani kak Raina saja. Biar aku yang ambil camilannya," ujar Rumi


"Tidak apa-apa. Kan, ini sudah jadi tugas wanita," kata Raisa


"Kalau yang seperti ini, pria juga bisa melakukannya," sahut Rumi


"Kak Raina pasti sedang merasa senang menanti anak kedua, sedangkan aku hamil anak pertama saja belum. Maaf, ya, Sayang, karena aku masih belum bisa memberimu anak," ujar Raisa


"Jangan sedih, Sayang, kita saja baru memulai menjalin hubungan berumah tangga. Masih panjang dan banyak waktu untuk kita bisa punya anak. Aku tidak menpermasalahkan hal ini asal bisa terus bersama denganmu," ucap Rumi


Raisa pun tersenyum kecil. Setelah mendapat camilan dan membuat minuman di dapur, pasangan suami istri itu pun kembali menemui tamu yang menunggu di ruang tengah.


"Silakan menikmati camilan dan minumannya," ujar Rumi


"Terima kasih," ucap Arka


"Raisa, Kakak mau numpang ke kamar mandi. Di mana, ya?" tanya Raina


"Ya ampun, kenapa gak bilang dari tadi. Ayo, sini aku antar ke kamar mandi," ujar Raisa


"Ini juga baru berasa pengennya," kata Raina


"Aku juga mau ikut ke kamar mandi," sahut Farah


"Kamar mandi di sini ada di dekat dapur. Jalan aja terus ke belakang," kata Raisa


Para perempuan pun beralih menuju ke kamar mandi hingga tersisa Rumi dan Arka yang tetap berada di ruang tengah.


"Ibu hamil emang sering bolak-balik ke kamar mandi," kata Arka yang membuka pembicaraan agar tidak merasa canggung.


"Memangnya kenapa, Kak? Karena merasa mual dan mau muntah, ya?" tanya Rumi


"Umumnya emang seperti itu, tapi Raina itu tipe yang hanya merasa mual namun tidak bisa muntah. Kakak Raisa itu lebih sering buang air kecil saat hamil, makanya selalu bolak-balik ke kamar mandi," jelas Arka


"Begitu, rupanya ... " kata Rumi


"Tingkah ibu hamil emang bermacam-macam dan tidak semuanya selalu sama," ujar Arka

__ADS_1


Setelah beberapa saat Raisa kembali bersama kakak dan keponakan perempuannya.


"Omong-omong, Kakak mau datang kenapa gak bilang dulu dari kemarin-kemarin? Bagaimana kalau pas sampai sini, aku malah gak ada dan rumah ini kosong?" tanya Raisa


"Tadinya juga mau asal datang, tapi aku terpikir seperti itu, makanya aku suruh telepon kamu dulu pas lagi di jalan," jawab Arka


"Kamu lagi sering bolak-balik Desa Daun karena teman-teman kamu di sana pada menyusul menikah, ya?" tanya Raina


"Benar. Di sana sedang berlangsung musim menikah," jawab Rumi


"Omong-omong, aku udah mulai merasa lapar, nih. Kita makan, yuk," ajak Raina


"Minumannya aja belum habis, Mih," kata Arka


"Kalau harus langsung habisin minumannya, aku pasti mau ke kamar mandi lagi, tapi sekarang aku merasa lapar bukan haus," ujar Raina


"Mau makan apa, Kak?" tanya Rumi


"Kita masak bahan-bahan yang udah dibawa tadi aja," jawab Raina


"Emangnya itu bahan masakan apa?" tanya Raisa


"Itu bahan mentahan seblak," jawab Arka


"Kamu gak tahu aja gimana ribetnya Kakak kamu semalam. Habis beli bahan mentahan seblak, katanya gak jadi masak sendiri karena mau masak bareng kamu di rumah pengantin baru. Terus, masih beli seblak lagi yang sudah matangnya sampai harus antri untuk langsung dimakan semalam," sambung Arka bercerita.


"Kak Raina emang penggemar berat makan seblak. Dari hamil Farah juga seperti itu, sampai akhirnya sekarang Farah juga suka seblak. Tapi, kalau hari ini ternyata aku gak ada ... ngidamnya Kak Raina batal dong?" tanya Raisa


"Gak batal, tapi tertunda. Aku tinggal masak di rumah ibu aja. Tapi, tetap harus sampai bisa ngerasain masak di sini saat kamu ada nantinya. Syukurlah sekarang bisa langsung terwujud," jawab Raina


"Ya sudah, biar aku aja yang masak. Biar Kak Raina tunggu di sini," kata Raisa


"Gak bisa seperti itu, aku tetap harus ikut masak. Karena niatnya emang mau bikin kacau dapur di rumah pengantin baru," ujar Raina


"Ayo ajalah demi dedek bayi. Bahan seblak mentahnya bawa yang banyak, kan? Kebetulan Rumi belum pernah coba makan seblak," ujar Raisa


"Itu ada banyak kok. Tenang aja," kata Arka


"Hore, masak dan makan seblak!" seru Farah


Kedua wanita itu pun mulai memasak seblak di dapur. Terkadang dua pria dan seorang gadis kecil ikut membantu memasak di dapur, namun nyatanya mereka bertiga malah mengacau dan hanya membuat kedua wanita itu marah.


"Gawat, Mami dan Onty marah," gumam Farah


"Udah, kita jangan ganggu para wanita yang lagi asik masak di dapur," ujar Arka


"Lebih baik kita kembali dan menunggu di ruang tengah lagi saja," kata Rumi


Setelah seblak matang dan siap dihidangkan, kedua wanita kakak beradik itu memanggil para suami untuk membantu.


"Ada apa panggil-panggil padahal tadi marah-marah?" tanya Arka


"Seblaknya udah matang, nih. Tolong bantu bawain ke meja makan. Kalau gak mau, ya udah ... kita berdua aja yang makan seblaknya," jawab Raina


"Aku juga mau makan seblaknya!" seru Farah


"Sini, biar aku yang bawakan seblaknya ke meja makan supaya kita bisa makan bersama," ujar Rumi


"Emang adik ipar lebih pengertian dari pada suami sendiri yang malah sewot dan gak peduli," sindir Raina


"Aku lagi aja yang salah," kata Arka


"Yang sabar, Kakak ipar ... " sahut Raisa


Alhirnya, Arka ikut membantu Rumi membawa mangkuk besar berisi seblak yang sudah matang ke meja makan untuk dimakan bersama.


"Baru pertama kali ini aku coba makan seblak, rasanya unik. Enak dan bumbu rempahnya terasa," ulas Rumi


"Tentu saja. Kalau tidak enak, tidak mungkin banyak yang suka," ujar Raisa


"Akhirnya bisa ngerasain juga masak dan makan seblak di rumah pengantin baru," gumam Raina sambil mengusap perut buncitnya dengan lembut.


"Misi sukses ... " sahut Arka


"Omong-omong, kami bertiga boleh menginap di sini gak?" tanya Raina


"Tentu, boleh dong. Di sini juga cuma aku berdua sama Rumi. Lebih ramai maka lebih menyenangkan," jawab Raisa


Malam ini, Raina, Arka, dan Farah pun menginap di rumah Raisa dan Rumi.


.


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2