
Dari kejauhan sudah terlihat pintu gerbang masuk ke Desa Daun. Suasana berbeda dari yang biasa terjadi. Kalau biasanya banyak orang yang lalu lalang ke luar masuk desa dan ada beberapa penjaga gerbang, sekarang tidak sama sekali!
Semuanya sepi dan sunyi. Desa Daun kini seperti desa yang terisolasi dan sangat tertutup.
Melihat keadaan yang tak biasa, semua mulai waspada. Terutama Raisa yang sedari tadi sibuk menahan perasaan yang berkecamuk karena khawatir tentang apa yang akan terjadi karena firasat buruknya.
Devan, Ian, Chilla, Aqila, Morgan, Rumi, dan Raisa.
Mereka saling melihat satu sama lain dan mengangguk bersamaan demi memantapkan diri untuk melangkah masuk ke dalam tanah wilayah Desa Daun yang sesungguhnya.
Begitu masuk, suasana sepi menyambut kedatangan ketujuh muda-mudi ini. Sunyi dan legang...
Semakin berjalan masuk, tanda-tanda bekas pertarungan mulai terlihat.
Mereka pun mencari keberadaan orang-orang di sana. Terus melanjutkan perjalanan, di suatu tempat, mereka menemukan letak pertarungan yang sedang terjadi. Beberapa teman sedang menghadang seseorang yang mengaku dirinya sebagai Dewa agar tidak semakin masuk ke dalam desa.
Melihat itu, mereka tidak lagi terkejut melainkan langsung bertindak. Mereka melakukan pengalihan agar Sang Dewa teralihkan sementara mereka mendekati teman lainnya.
Kertas sihir peledak serta bubuk mesiu dilayangkan untuk mengaburkan pandangan Sang Dewa. Mereka langsung berlarian mendekati teman lainnya.
"Bertahanlah, teman-teman! Kami datang!" seru Chilla berteriak.
"Bagaimana kalian bisa kembali? Jalur masuk Desa Daun semuanya telah ditutup?" heran Marcel bertanya.
"Kami menyadari sesuatu saat semua jalur itu ditutup. Kami tidak bisa diam saja saat sadar desa dalam bahaya, makanya kami segera kembali," ungkap Morgan
"Di mana yang lainnya? Kenapa hanya kalian di sini?" tanya Aqila
"Semua petugas dan petinggi sibuk mengamankan dan mengevakuasi warga. Kami semua kewalahan karena Dewa s**l*n itu datang sangat tiba-tiba," jawab Sandra
"Wanda dan Billy sedang membantu para guru yang sudah lebih dulu tumbang karena melawan Sang Dewa," sambung Amy
Di suatu sudut, terlihat Wanda dan Billy selaku pengguna sihir medis berusaha memberi penanganan dan menyadarkan Guru Arvan, Guru Megan, dan Guru Kevin. Namun, Amy, Sandra, Marcel, dan Dennis pun terlihat sudah kelelahan karena terus berusaha menghadang dan menahan Sang Dewa di sana.
Tanpa bersentuhan, Raisa membagikan tenaga sihirnya untuk memulihkan kondisi Amy, Sandra, Marcel, dan Dennis agar kembali seperti semula.
"Kalian berempat, bantulah Wanda dan Billy memindahkan para guru ke tempat aman untuk diobati. Biar kami yang menggantikan kalian menghadangnya di sini," ucap Raisa
Keempatnya pun mengangguk mengerti.
"Kalau begitu, kalian semua harap berhati-hati!" pesan Dennis
Seperti kata Raisa, mereka berempat pun menghampiri Wanda dan Billy untuk membawa para guru ke tempat aman terlebih dulu.
"Tetap waspada, semuanya!" kata Devan
Efek sihir peledak telah hilang. Sosok Dewa pun mulai muncul dan terlihat kembali. Sang Dewa menyeringai kejam dan perlahan tertawa angkuh. Semua pun mulai memasang posisi siaga, siap bertarung kapan pun.
"Kalian para bocah ingin menghentikanku? Bocah-bocah tadi bersama para gurunya saja tidak mampu menghalangiku! Kalian hanya menggantikan orang-orang tadi untuk kehilangan nyawa!!"
"Mau apa kau kembali ke sini?! Lebih baik kau pergi!" kecam Ian
"Kalian, para manusia lemah! Dari mana asal nyali kalian sampai berani menentang Dewa! Jangan pernah berani memerintah dan menghalangiku! Siapa yang masih berani berarti cari mati!"
Genderang perang telah ditabuh, pertarungan pun dimulai. Bersamaan, Devan, Ian, Chilla, Aqila, dan Morgan pun maju melakukan penyerangan.
Hanya Raisa dan Rumi yang terdiam di tempat. Raisa membeku di tempat dengan mengepalkan tangannya dengan erat. Rumi ingin ikut maju untuk menyerang, namun Raisa menahannya.
"Kumohon ... tetaplah bersamaku " pinta Raisa
Tangan Raisa bergetar saat mencekal tangan Rumi agar tidak pergi dari sisinya.
"Jangan takut, Raisa. Aku ada untukmu," kata Rumi
..."Aku tidak takut, tapi aku mengkhawatirkanmu yang menjadi incaran Dewa itu! Kumohon jangan pergi dari sisiku agar aku dapat memastikan kau tetap aman darinya," batin Raisa...
Sementara keduanya terdiam, kelima yang lainnya terus menerus menyerang secara bergantian tanpa henti.
Serangan berhasil menghentikan pergerakan Sang Dewa.
Mengingat apa yang pernah dialami Rumi karena Sang Dewa, Raisa tak bisa menahan amarahnya dan membuatnya bicara dengan berani...
"Dasar, Dewa yang suka omong kosong! Kau berkata kami lemah, tapi ternyata kaulah yang lebih lemah dari kami!" Emosi Raisa meluap begitu saja.
Sang Dewa tersenyum miring. Ia memegangi perutnya sambil berkata,
"Kau pikir aku yang seperti ini lemah?! Pikirkanlah, aku seorang diri masih tetap bertahan, tapi lihat semua temanmu! Mereka terlihat sudah hampir mati!!"
Ucapannya memang tidak salah. Kelima teman Raisa mulai kehabisan tenaga.
Demi melindungi satu orang, bukan berarti Raisa ingin mengorbankan yang lainnya.
Merasa harus bertindak, Raisa pun mulai menyerang. Serangan dilakukan dari jarak jauh. Dengan satu tangan Raisa mengeluarkan banyak jurus dengan sihirnya. Walau dari kejauhan, serangannya selalu tepat mengenai sasaran sampai Sang Dewa mulai berkucuran darah di banyak bagian tubuhnya. Selama menyerang, satu tangan Raisa yang lain digunakan untuk tetap menggenggam tangan Rumi.
"Kau! Gadis yang bersama orang terpilih milikku! Takkan kubiarkan kau menghentikanku untuk memilikinya! Serahkan dia padaku sekarang juga!!"
"TIDAK AKAN!!" tegas Raisa
Raisa melanjutkan serangannya dan Sang Dewa membalasnya. Saling membalas serangan pun terjadi.
Di akhir serangan, Sang Dewa sengaja membuat Raisa terkecoh. Serangannya bukan tertuju pada Raisa, melainkan tertuju pada kelima teman yang sedang berusaha mengatur nafas dan memulihkan tenaga mereka secara perlahan. Dengan satu serangan Sang Dewa, mereka berlima pun berjatuhan tersungkur di atas tanah.
"TIDAK!!!" pekik Raisa dan Rumi secara bersamaan.
Raisa benar-benar teralihkan. Raisa mencoba memulihkan tenaga kelima temannya dari jauh, namun Sang Dewa menyadari usahanya dan melancarkan serangan sekali lagi untuk menggagalkan usaha Raisa memulihkan kondisi kelima temannya.
Raisa pun terkejut dengan serangan tak terduga itu dan tangannya yang menggenggam tangan Rumi terlepas begitu saja. Saat matanya menatap tajam ke arah Sang Dewa, Rumi telah pergi berlarian ke arah kelima temannya yang terkulai lemah di atas tanah. Tujuan Rumi terarah pada Morgan, sahabat terdekatnya dari sekian banyak teman.
Raisa yang mengetahui prioritas seorang Rumi adalah teman bagai mataharinya, yaitu Morgan, pun tidak merasa aneh lagi saat dirinya ditinggalkan. Namun, Raisa cemas saat Rumi lepas dari penjagaannya.
"BAGUS!" gumam Sang Dewa
Belum sempat mendatangi Morgan, Rumi mendapat serangan dari Sang Dewa.
__ADS_1
"S**l!" umpat Rumi
Rumi pun beralih melawan Sang Dewa.
Melihat itu, Raisa tidak tinggal diam. Ia langsung ikut menyerang Sang Dewa bahkan dari dekat. Raisa berlarian ke arah Sang Dewa dengan sengaja agar serangan Sang Dewa lebih tertuju pada dirinya bukan pada Rumi.
Raisa menghampiri Sang Dewa sampai benar-benar berhadapan langsung satu lawan satu dengannya.
"RAISA!!" seru Rumi
"Kau bantu yang lain saja. Biar aku yang menghadapi Dewa gadungan ini!" pekik Raisa
"Tapi ... " Rumi ragu-ragu dan bingung ingin membantu yang mana lebih dulu.
"Cepat, Rumi! Mereka membutuhkan pertolonganmu!" kata Raisa
"Menarik!" gumam Sang Dewa
Raisa terus berhadapan dengan Sang Dewa. Melarang Rumi mendekatinya. Bingung apa yang harus dilakukan, Rumi kembali bergegas menghampiri Morgan. Ia hendak membagikan tenaga sihirnya agar dapat cepat membantu Raisa bersama-sama.
"Aku tahu kau! Tak sangka, aku baru menyadarinya! Ternyata, kau adalah orang yang sama dengan orang yang mengacaukan banyak rencanaku dan mengalahkan banyak anak buahku!"
"Ternyata, benar! Semua terror itu adalah ulahmu! Lalu, apa pentingnya kau sadar atau tidak bahwa itu adalah aku?! Kau tetap tidak akan menang!!" ujar Raisa
"Kau salah!"
Pertarungan seimbang terlihat saat Raisa melawan Sang Dewa. Kondisi Sang Dewa yang sedang tidak baik dan tenaga Raisa yang belum sepenuhnya pulih setelah melakukan misi di Desa Bambu sebelumnya membuat pertarungan antar keduanya tidak dapat diprediksi siapa yang akan menang dan siapa yang akan lebih dulu tumbang. Namun, keduanya terlihat tidak mau kalah!
Sang Dewa tersenyum meremehkan!
"Ternyata, orang yang selalu menghalangi rencanaku hanya seorang gadis kecil! Meski begitu, kau pasti dianggap penting bagi teman-temanmu, begitu pun sebaliknya. Teman-temanmu pasti berharga bagimu. Lalu, kau pasti tahu orang yang menjadi incaranku adalah lelaki yang terus berada di sampingmu tadi."
"Apa yang coba kau katakan? Apa maksud ocehanmu itu!?" tanya Raisa
"Tak usah bingung. Kau pasti mengerti."
"Dasar, Dewa s*nt*ng!" umpat Raisa
"Kau pasti sangat peduli dengan lelaki itu, tapi dia malah lebih peduli pada temannya dari pada kau. Tapi, tenang saja! Akan kubuat dia menyesal karena sudah tidak peduli lagi padamu. Akan kubuat dia melihat dengan matanya sendiri saat aku menghancurkanmu! Akan kubuat semua temanmu menyesal karena tidak bisa berbuat apa pun saat kau hancur di tanganku!"
"Itu tidak akan pernah terjadi!" kata Raisa
"Kau salah besar! Akan kuperlihatkan dan kubuktikan! Bahwa akulah yang akan menang!!"
Sang Dewa berusaha mengalahkan Raisa dengan permainan kata-katanya yang dapat membuat Raisa terguncang. Itu memang bekerja! Raisa merasa kesal setelah mendengar ucapannya dan sangat ingin memukul wajah angkuh Sang Dewa.
Rumi terus berusaha memulihkan kondisi teman-temannya dengan membagikan tenaga sihir cadangan miliknya. Saat teman-temannya mulai sadar karena bantuannya, lagi-lagi Sang Dewa melempar serangan ke arah mereka membuat mereka yang kondisinya mulai pulih jadi melemah kembali.
Raisa berhasil memukul wajah Sang Dewa yang memancarkan keangkuhan, namun Sang Dewa malah berhasil menyerang ke arah teman-temannya sampai semuanya lagi-lagi terkulai bahkan Rumi pun ikut tersungkur.
Melihat itu, Raisa menjadi marah! Membuatnya menyerang Sang Dewa secara bertubi-tubi!
"P*c*nd*ng! Kalau berani, serang saja lawan yang ada di hadapanmu! Jangan beraninya pada yang lemah! Kau ... memang benar! Dasar, Dewa lemah!!" marah Raisa
"Dewa tidak pernah lemah! Justru kalian para manusia memiliki hati yang sangat mudah rapuh, itulah yang disebut lemah! Contohnya, SEPERTI KAU!!"
Sang Dewa yang hanya diam menerima serangan dari Raisa kini bergerak. Tangannya terulur meraih leher Raisa dan mencekiknya!
UGH!
Raisa meringis~
"RAISA!!" seru Rumi memekik.
Uhuk!
Sang Dewa bukan hanya sekadar mencekik Raisa, tapi melalui cekikannya, ia juga menyerap tenaga sihir yang Raisa miliki. Tenaga sihir terus tersedot ke luar dari dalam tubuh Raisa. Raisa terus mencoba melonggarkan cekikan di lehernya atau bahkan melepasnya, namun tenaga yang terus mengalir ke luar dari tubuhnya menyebabkan ia tak mampu melepaskan diri.
"Bukankah kau yang memintaku untuk menyerang dirimu saja? Sekarang, kukabulkan permintaanmu! Dan aku pun akan menghancurkanmu di depan teman-temanmu, tepat seperti yang kubilang tadi!"
Rumi yang melihat Raisa berada dalam cengkraman Sang Dewa berusaha bangkit dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Begitu pun juga dengan teman-teman lainnya.
Raisa yang tahu bahwa teman-temannya ingin menyelamatkannya pun menggunakan sihir pengendali darah dengan sisa tenaganya untuk menahan pergerakan semua temannya agar tidak mendekat ke arahnya.
"Tidak, Rumi! Tetaplah di sana! Kalian semua juga, jangan ada yang mendekat ke sini!" ucap Raisa
Saat yang lain berusaha menggerakkan tubuh mereka, anehnya itu tidak berhasil. Seperti ada yang menahan pergerakan mereka dan tubuh mereka justru terasa sakit saat berusaha digerakkan.
"Tubuhku sakit sekali ... " rintih Chilla
"Tubuhku tidak bisa digerakkan," ungkap Ian
"Ini ulah Raisa," kata Devan
"Raisa, apa yang kau lakukan pada tubuh kami?!" tanya Morgan
"Raisa, lepaskan pengaruh sihir pengendali darahmu pada kami! Biarkan kami juga menolongmu," pinta Rumi
"Tidak ... jangan! Biar aku saja yang menghadapinya sampai akhir," ucap Raisa
Raisa yang pasrah serta putus asa mulai meneteskan air mata.
"Kau menangis? Padahal dari tadi kau hanya menatap tajam ke arahku! Rupanya, kau sangat peduli pada teman-temanmu sampai menggunakan sihir pengendali darah pada mereka dengan sisa tenagamu karena tidak ingin mereka terluka di tanganku. Sungguh mengharukan!"
"Berhentilah bicara! Berisik!" kesal Raisa
"Nyalimu sungguh besar sampai masih berani melawan dan membentakku padahal nyawqmu sudah berada di tanganku!"
Raisa yang tidak ingin membuat teman-temannya dalam bahaya sudah tidak peduli lagi dengan keselamatan dirinya sendiri bahkan berpikir untuk mengorbankan dirinya sendiri demi keselamatan teman-temannya yang berharga.
"Tenaga sihirmu rasanya sangat menyegarkan! Tak kusangka, ternyata kau memiliki kekuatan seorang Dewi dalam dirimu."
"Kalau begitu, ambillah semuanya! Sebanyak yang kau mau!" ucap Raisa
__ADS_1
"Hee? Sekarang kau menyerah begitu saja? Sungguh, kau sudah tidak menarik lagi!"
"Sejak awal aku memang tidak menarik di matamu, tapi kau pasti tertarik pada kekuatan Dewi yang kumiliki, kan?" ujar Raisa bertanya.
"Jadi, kau rela seluruh kekuatanmu kuambil walau artinya kau akan kehilangan nyawa? Apa kau mempunyai permintaan terakhir? Katakanlah!"
"Silakan saja! Kau boleh mengambil seluruh kekuatan dari diriku, tapi lepaskanlah semua temanku! Pergilah dari sini dan jangan pernah kembali!" tutur Raisa menuntut.
"Hanya itu?! Tapi, permintaanmu itu terlalu mengaturku!"
"Jangan, Raisa! Kalau seluruh kekuatanmu diambil, maka kau akan kehilangan nyawamu!" larang Aqila berteriak.
"Hentikan semua ini, Raisa! Lepaskan pengaruh sihirmu pada kami!" pinta Rumi
..."Aku tahu apa yang kulakukan serta akibatnya. Ini demi kebaikan semuanya, biarkan aku berkorban," batin Raisa...
Walau tenaga sihir Raisa terus dihisap ke luar, pengaruh sihir pengendali yang menahan pergerakan teman-temannya masih berlangsung. Itu membuktikan bahwa pengaruh sihirnya sangat kuat dan jumlah tenaga sihirnya sangat banyak walau sudah terus menerus dihisap ke luar sekali pun.
"Bukankah menguntungkan jika kau memiliki kekuatan Dewi milikku ini? Kau bisa menyembuhkan luka dalammu yang sudah begitu parah. Bukankah itu alasanmu terus mengincar Rumi karena dirinya istimewa? Dari pada butuh usaha keras untuk menakhlukannya dan terus terluka demi mengincar tubuhnya, lebih baik kau ambil langkah mudah. Mangsa segar sudah ada di tanganmu dan aku sudah pasrah, tidak lagi berontak! Bukankah kau yang lebih tahu, bahwa kekuatan Dewi yang ada dalam diriku ini lebih istimewa?" tutur Raisa bermain dengan kata-kata.
Sang Dewa tampak berpikir.
Ternyata, Raisa bisa mengetahui alasan Sang Dewa terus mengincar Rumi. Yaitu, ingin merampas tubuh istimewa lelaki itu karena bisa menggantikan tubuhnya yang telah terluka parah selama ini. Salah satu kemampuan 'Dewa' adalah hidup dalam tubuh rampasan milik orang lain setelah membunuh nyawa pemiliknya.
"Tunggu apa lagi!? Bukankah kau bilang ingin menghancurkanku dan buat mereka menyesal karena melihatku mati tanpa bisa berbuat apa pun? Maka, lakukanlah dengan cepat! Jangan jadi Dewa bodoh yang tidak bisa memilih mana yang lebih baik dan menguntungkanmu! Kau bisa langsung mengambil inti kekuatan sihirku!! Kau pasti sudah tahu di mana letak inti sihirku!" desak Raisa agar Sang Dewa melakukan seperti yang ia ucapkan.
"Diam! Berani sekali kau mengataiku bodoh?! Baiklah, akan kukabulkan permintaanmu! Akan kubuat mereka menyesal karena melihatmu mati dan aku akan menghancurkanmu dengan mengambil inti sihirmu!!"
"Setelah kau mendapat yang kau inginkan ... tinggalkan tempat ini secepatnya," kata Raisa
"Bersiaplah, kau akan kehilangan nyawamu!"
"Buat apa aku mengoceh panjang lebar jika aku tidak bersiap? Aku sudah siap dari tadi ... " pasrah Raisa
"Jangan lakukan hal bodoh, Raisa!" teriak Morgan
Satu tangan Sang Dewa digunakan untuk mencekik leher Raisa dan satu tangan lainnya bersiap untuk mengambil inti sihir milik Raisa.
Mata Raisa terpejam pasrah~
Jleb!
Menggunakan Api Dewa berwarna biru, dengan ajaibnya tangan Sang Dewa masuk ke dalam dada kiri Raisa dan mengambil sesuatu dari dalam sana. Tangan Sang Dewa bergerak mengobrak-abrik dalam jantung Raisa!
Uhuk!
Raisa memuntahkan darah dari mulutnya dan darahnya terciprat tepat pada wajah Sang Dewa...
"Berani sekali kau memuntahkan darah ke wajahku?!"
"Bukankah kau harus berkorban demi mendapatkan sesuatu? Anggap saja darahku yang mengenai wajahmu itu sebagai tanda pengorbananmu," ujar Raisa
"Sudah mau mati pun kau masih sanggup mengoceh?!"
Dalam sekejap dengan hitungan detik, tangan Sang Dewa dikeluarkannya dari dada kiri Raisa. Raisa pun memuntahkan lebih banyak darah lagi!
"DAPAT!!!"
Di tangan Sang Dewa terdapat lingkaran bola cahaya yang berisi sesuatu berbentuk Bunga Teratai Putih yang didapat dari jantung Raisa. Itu adalah wujud dari inti sihir milik Raisa!
"Satu hal yang kutahu yang tidak kau sadari. Kau bukanlah seorang Dewa, tapi sifatmu sangat mirip dengan Iblis!" ungkap Raisa dengan tenaga dan nafas yang tersisa.
"Aku tidak akan berterima kasih walau sudah mengambil inti sihirmu!"
"Benar-benar seperti iblis!" gumam Raisa
"LANCANG!!!"
Sang Dewa pun melemparkan tubuh Raisa ke tanah~
Raisa jatuh tersungkur!
Dengan inti sihir yang sudah direnggut, pengaruh sihir pengendali darah pada teman-teman Raisa pun telah hilang, tapi bekas pengaruh sihirnya masih saja terasa. Pengaruh sihir itu benar-benar amat sangat kuat!
Rumi pun berusaha keras menggerakkan tubuhnya dengan tenaga yang dimilikinya. Raisa jatuh tersungkur di dekatnya, Rumi pun berusaha meraih tangan Raisa untuk digenggam. Saat satu tangan Rumi berhasil menggenggam tangan Raisa, satu tangan lainnya melemparkan serangan ke arah Sang Dewa. Namun, serangan itu berhasil ditepis oleh Sang Dewa.
"Karena sedang nerasa senang aku tidak akan meladeni kalian lagi. Bersenang-senanglah saat melakukan salam perpisahan dengan gadis yang sudah mati itu!"
Rumi pun mendekati tubuh Raisa yang sudah tidak bertenaga. Rumi memeluk erat tubuh gadis yang sangat dicintainya yang sudah sangat rapuh itu...
Setelah Rumi, Aqila pun berhasil lepas dari bekas pengaruh sihir pengendali darah dan mendekati Raisa dan Rumi. Melihat kondisi Raisa yang sangat parah, ada cahaya merah yang ke luar dari tubuhnya. Itu adalah pertanda jika sihir yang dimiliki Aqila telah menerobos tingkat lanjut!
Aqila yang merasa marah setelah melihat kondisi Raisa pun melempari Sang Dewa serangan. Namun, dengan begitu cepat sosok Sang Dewa menghilang dari sana.
Setelah kepergian Sang Dewa, Morgan, Devan, Ian, dan Chilla baru bisa mendekat ke arah Raisa yang sedang berada dalam pelukan Rumi.
Raisa yang masih berusaha bernafas untuk yang terakhir kakinya pun terus mengerjapkan matanya. Saat itu Aqila dan Ian langsung berusaha memberi penanganan dengan sihir medis.
"Terus buka matamu, Raisa. Bertahanlah," pinta Rumi
.
•
Bersambung...
Kutipan Author》
"Kondisi Author sedang tidak fit, maaf jika update tidak tepat waktu."
^^^Salam: Author^^^
^^^Dilawrsmr^^^
__ADS_1