
"Raisa, kau tidak pernah memberi tahu padaku tentang ini. Lina pernah bermain peran dalam sebuah drama yang sama denganmu?" tanya Rumi
Raisa yang menunggu reaksi dari Rumi dengan perasaan cemas merasa tidak menyangka, ternyata hal yang dipertanyakan oleh lelaki yang berstatus calon suaminya itu malah soal Lina.
"Apa aku belum pernah menceritakannya padamu? Aku pernah bermain peran dalam sebuah drama kolosal dan aku bertemu Lina sebagai aktris baru di sana. Drama itu sudah diselesaikan sebelum pernikahan Aqila dan Morgan. Sebenarnya aku ingin bercerita tentang hal ini saat aku datang di pernikahan Aqila dan Morgan, tapi sepertinya aku lupa," ungkap Raisa
"Seperti apa sikap dia padamu? Apa dia pernah menyusahkanmu?" tanya Rumi
"Dia baik. Dia sudah sepenuhnya berubah, Rumi. Dia bahkan tidak pernah mengungkit hal buruk yang telah lalu. Aku percaya padanya bahwa dia tidak akan mengungkap soal identitas rahasia milikku. Dia juga tidak pernah menyulitkan aku," jelas Raisa
"Syukurlah, kalau begitu ... " lega Rumi sambil tersenyum.
"Kenapa kau malah bertanya tentang Lina? Ada apa ini? Kau rindu dengannya?" tanya Raisa
"Tentu saja, tidak. Kenapa kau malah berpikir seperti itu?" tanya balik Rumi dengan cepat usai menjawab pertanyaan dari Raisa yang bahkan belum menyelesaikan semua kalimatnya.
"Ya ... kan, tidak ada yang tahu. Mungkin saja diam-diam kau memikirkannya setelah mengetahui dia menyukaimu. Atau bahkan mungkin kau jadi menyukainya juga. Mungkin saja perasaanmu telah berubah. Banyak orang yang bertanya tentang seseorang yang dia suka pada orang lain. Mungkin kau juga seperti itu," ujar Raisa
"Kau berkata seolah mengatakan banyak kemungkinan, tapi bagiku itu adalah hal yang paling tidak mungkin. Perasaanku tidak pernah berubah sedikit pun sama sekali. Aku hanya mencintaimu," ucap Rumi
"Atau mungkin kau sedang cemburu?" tanya Rumi bagaikan serangan bagi Raisa.
Raisa pun tertegun. Ia terdiam beberapa saat, sibuk terlarut dalam lamunannya, memikirkan sesuatu.
..."Awalnya aku bertanya karena ingin tahu jawaban dari Rumi dan mengetesnya, tapi setelah dia bertanya seperti itu ... kok aku jadi merasa kesal, ya? Masa, sih ... apa mungkin sunghuh sedang merasa cemburu?" batin Raisa...
Usai bergumam singkat di dalam hati, Raisa langsung tersadar kembali dari lamunannya.
"Tidak, aku hanya ingin bertanya. Aku hanya ingin tahu dan mendengar jawabanmu," jawab Raisa yang berusaha menyangkal.
Rumi tersenyum tipis.
"Kau tenang saja, Raisa. Hanya kaulah satu-satunya perempuan yang ada di dalam hatiku, apa lagi aku tidak punya seorang ibu. Kau yang paling istimewa bagiku," ungkap Rumi
"Ya. Aku percaya padamu," kata Raisa sambil tersenyum kecil.
Paman Elvano yang menyaksikan dan mendengar secara langsung pembicaraan dengan perdebatan kecil antara sepasang insan yang saling mencintai itu merasa heran. Bagaimana tidak? Tidak hanya Rumi yang tidak merasa cemburu dengan adanya gosip tentang gadis yang dicintainya dikabarkan dekat dengan lelaki lain, malah Raisa-lah yang merasa cemburu saat Rumi bertanya tentang perempuan lain padanya meski itu adalah bentuk perhatian dan rasa peduli dari lelaki yang dicintainya itu.
"Rumi, apa kau tidak merasa cemburu setelah mendengar kabar bahwa Raisa sedang dekat dengan lelaki lain?" tanya Paman Elvano
"Tidak. Aku percaya ... seperti aku yang tidak akan berpaling dariku, begitu juga dengan Raisa," jawab Rumi
"Aneh. Bukannya Rumi yang merasa cemburu, tapi malah Raisa yang cemburu," kata Paman Elvano
Wajah Raisa jadi merona merah saat rasa cemburunya yang berusaha ia tutupi, ternyata terbaca jelas oleh Paman Elvano.
"Mungkin ada sedikit rasa cemburu. Tapi, mau bagaimana lagi? Sudah menjadi salah satu resiko pekerjaan Raisa hingga membuatnya bisa disalah-pahami seperti itu. Namun, karena Raisa memilih sendiri dan menikmati pekerjaannya, aku pun hanya bisa mendukungnya," ungkap Rumi
"Lagi pula, gosip itu hanya opini tidak mendasar yang dilebih-lebihkan saja," sambung Rumi
Raisa tersenyum. Ia merasa senang dan hatinya menghangat setelah mendengar perkataan yang diucapkan oleh Rumi. Ternyata selain perhatian dan peduli, Rumi juga sangat pengertian padanya.
"Ini tidak sebanding dengan apa yang Raisa rasakan saat dia telah mengetahui pekerjaanku. Seringnya menjalani misi yang sulit dan memiliki resiko yang berbahaya pasti sering membuat Raisa sangat cemas denganku. Meski pun mengetahui itu, Raisa bahkan tetap mengizinkanku untuk terus bekerja dalam menjalankan misi seperti biasanya. Perasaan cemburuku tidak sebanding dengan Raisa yang mencemaskan aku. Aku pun harus mendukung pekerjaannya. Sama seperti Raisa yang juga mengizinkan dan mendukungku untuk terus bekerja dalam menjalankan misi," batin Rumi
"Sudah ... menontonnya dilanjutkan nanti saja. Bagaimana kalau kita makan dulu? Seingatku, saat di rumah orangtuaku tadi, kalian hanya munum dan makan camilan, kan?" tanya Raisa
"Paman Elvano, kau mau makam apa?" tanya Raisa lagi.
"Terserah kau saja. Aku tidak pilih-pilih," jawab Paman Elvano
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan pesan makanan berkuah saja," ujar Raisa
"Karena perabotan di rumah ini belum lengkap terutama di bagian dapur, jadi makanannya kita pesan saja lewat online lagi," sambung Raisa
"Rumi, kali ini aku akan mengajarkan padamu lagi caranya memesan makanan lewat ponsel secara online. Keluarkanlah lagi ponselmu," tambah Raisa
Rumi pun mengeluarkan ponselnya lagi dan menunjukkannya pada Raisa. Ia siap menerima pembelajaran dari gadis cantik pujaan hatinya itu lagi.
Raisa pun mulai mengajarkan cara memesan makanan secara online lewat ponsel pada Rumi. Dan keduanya memilih menu makanan bersama-sama.
Karena ponsel milik Rumi adalah yang pernah Raisa gunakan dulu, akun dalam aplikasi pemesanan online di dalam ponselnya itu masih merupakan akun milik Raisa yang masih terus ia gunakan hingga kini. Karena akun itu masih terus aktif, jadi tidak sulit untuk menggunakan aplikasi pemesanan dan melakukan pembayaran via transfer pada aplikasi tersebut.
"Kau sudah mengerti caranya, kan, Rumi?" tanya Raisa
"Ya, sudah. Karena kau gurunya," jawab Rumi
__ADS_1
Raisa terkekeh pelan.
"Pengantaran pesanan butuh waktu. Semoga tidak lama," kata Raisa
Setelah menunggu sekitar 30 menit, pesanan makanan diantar sampai depan rumah.
Raisa pun beranjak mengambil pesanan makanan tersebut ke depan rumah.
"Pesanan sudah diantar. Pembayarannya juga sudah lunas." Karena memang pembayaran via transfer pada aplikasi. *seperti gopay.
"Iya, tapi ini ada tambahannya sedikit." Raisa pun memberikan sejumlah tip senilai Rp.20.000 pada pengantar.
"Terima kasih."
"Terima kasih kembali."
Setelah pengantar pesanan makanan pergi, Raisa pun beranjak kembali masuk ke dalam rumah.
"Makanan sudah sampai! Ayo, kita makan bersama!" seru Raisa
"Ayo, kita ke meja makan. Itu ada di dekat dapur," sambung Raisa
Raisa, Rumi, dan Paman Elvano pun beranjak menuju ke meja makan yang lokasinya tepat berdekatan dengan dapur.
Raisa memesan makanan berupa sup daging dan sup iga sapi dengan tambahan ekstra tomat dan nasi.
"Selamat makan!"
Mereka bertiga pun makan bersama dengan tenang.
"Paman Elvano, aku tahu kau sangat suka dengan tomat. Makanya, aku pesan dengan tambahan ekstra tomat, tapi kau jangan hanya makan banyak tomatnya saja. Makan juga dagingnya yang banyak," ujar Raisa
"Aku memang orang yang tipe makan banyak makanan favoritku. Tidak usah dipermasalahkan, yang penting aku juga makan dagingnya," ucap Paman Elvano
"Yang harus banyak makan daging itu kau, Raisa. Karena kau pasti lelah setelah pulang kerja," kata Rumi
Rumi pun langsung menyendokkan daging untuk menambahkannya ke dalam piring milik Raisa.
"Aku yang harusnya menjamu kalian dengan baik. Juga, harusnya aku yang berkata seperi itu dan menambahkan daging ke dalam piringmu dan Paman Elvano," ucap Raisa
"Tak apa. Aku akan sangat senang jika melihatmu makan banyak. Jadi, makanlah yang banyak," ujar Rumi
Setelah selesai makan, Raisa membersihkan meja makan dibantu oleh Rumi.
"Raisa, setelah ini kau masih harus kembali ke rumah orangtuamu, ya?" tanya Rumi
"Tentu saja. Di sini hanya ada kau dan Paman Elvano, dua laki-laki yang masih dibilang asing untukku. Kita juga belum resmi menikah. Aku harus pulang ke rumah orangtuaku," jawab Raisa
Rumi tidak ingin berpisah dengan Raisa walau hanya sebentar. Meski begitu, ia tidak bisa melarang gadis yang dicintainya kembali ke rumah orangtuanya. Karena memang benar bahwa keduanya nelum resmi menikah dan Raisa sangat menentang hal seperti tinggal bersama bagi dua lawan jenis yang tidak memiliki status keluarga.
Mau tak mau, Rumi harus merelakan Raisa pergi agar gadis cantik itu tidak marah jika saja ia mengajukan protes. Lagi-lagi, ia harus menahan rasa rindu pada sang pujaan hati walau keduanya telah berada di dunia yang sama.
"Kapan kau akan pergi dari sini?" tanya Rumi berharap masih ada sisa waktu untuk bersama gadis cantik pujaan hatinya itu.
"Segera. Setelah ini selesai," jawab Raisa
Rumi menghela nafas pelan. Ternyata, memang ia harus segera berpisah dengan Raisa lagi.
Raisa tersenyum saat tahu apa yang dikhawatirkan oleh Rumi.
"Kan, aku sudah bilang akan menemani saat mengurus surat-surat besok. Dan karena aku besok libur syuting, kita bisa bertemu dari pagi," ujar Raisa
"Lalu, kalau ada apa-apa kau bisa menghubungiku lewat ponsel atau ular sihir milikmu. Kau bahkan bisa melakukan panggilan video lewat ponsel seperti yang sudah pernah kuajarkan sebelumnya padamu," sambung Raisa
"Baiklah," kata Rumi
Setelah selesai membersihkan bekas makan bersama tadi dengan Rumi, Raisa pun langsung pamit untuk kembali ke rumah orangtuanya.
"Aku tidak bisa terus berlama-lama ada di sini dan harus kembali ke rumah orangtuaku," ucap Raisa
"Ini kuberikan kunci rumah ini dan kupercayakan pada Paman Elvano. Itu kunci cadangan dan yang aslinya tetap aku yang menyimpannya. Aku pergi, ya. Kalian berdua istirahatlah," sambung Raisa yang juga memberikan kunci cadangan rumah minimalis tersebut pada Paman Elvano.
"Hati-hati, Raisa ... " pesan Rumi
Raisa mengangguk sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
Raisa pun pergi dengan menaiki mobil yang sudah ia pesan lewat online sebelumnya.
Begitu sampai di rumah orangtuanya, Raisa langsung diajak main oleh Farah. Keponakannya itu sudah lama menunggu dan ingin mengajaknya main bersama.
Raisa pun menerima ajakan main bersama keponakan perempuannya yang berusia 7 tahun itu. Farah pun bersorak kegirangan dan mengajaknya bermain berbagai macam permainan.
•••
2 hari kemudian.
Setelah kemarin Raisa menemaninya mengurus surat data diri untuk di dunia tersebut, hari ini giliran Rumi yang akan menemui Raisa di lokasi syutingnya.
Padahal hari ini lelaki tampan itu sudah terus menghubungi Raisa melalui ponsel via pesan chat bahkan video call. Namun, rasa rindu dan ingin bertemu tak bisa lagi menahannya. Rumi pun menanyakan alamat lokasi syuting tempat gadis cantik yang kini sudah berstatus sebagai calon istrinya itu bekerja melalui pesan chat.
Setelah Raisa membalas pesan chat-nya dan memberi tahu alamat jelas lokasi syuting padanya, Rumi pun langsung memesan mobil lewat ponsel dengan menggunakan aplikasi pemesanan. Ia melakukan pemesanan sesuai yang pernah Raisa ajarkan padanya sebelumnya.
Sebelum mobil yang dipesan datang menjemputnya, Rumi pun berpamitan pada Paman Elvano. Saat ia bertanya, apa Paman Elvano ingin ikut dengannya menemui Raisa di tempatnya bekerja, Paman Elvano menolaknya dan memilih untuk tetap berdiam diri di rumah.
Begitu mobil yang dipesan datang untuk menjemputnya, Rumi pun meninggalkan Paman Elvano di rumah minimalis milik Raisa seorang diri. Sedangkan dirinya bergegas menaiki mobil pesanan online-nya untuk pergi dan segera menemui Raisa. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang pujaan hati meski baru kemarin mereka berdua saling bertemu.
Saat tiba di lokasi syuting yang Raisa beri tahukan padanya, Rumi langsung dikejutkan dengan begitu banyak orang yang berkerumun di sana. Rumi tahu siapa orang-orang sebanyak itu dan mengerti tujuan mereka semua berkerumun di sana. Mereka adalah para penggemar artis yang sedang syuting di sana. Yang rela menunggu hanya untuk melihat idola mereka atau mengirimkan hadiah untuk para idola. Rumi mengetahuinya karena dulu dirinya pernah menjalankan misi untuk mengawal aktris dan aktor di dunianya sana.
Melihat kerumunan penggemar sebanyak itu, sepertinya hampir tidak ada jalan untuknya masuk ke area dalam lokasi syuting. Namun, bukan berarti dirinya harus pasrah dan menyerah. Saat ia melihat ada celah, lelaki tampan itu pun berusaha menerobos masuk nelewati kerumunan para penggemar itu.
"Permisi, saya mau lewat. Saya harus lewat dan masuk ke dalam."
"Aduh! Siapa, sih? Jangan asal serobot barisan aja dong!"
"Gak semua orang bisa masuk, tahu! Belum waktunya untuk fans masuk juga!"
"Atau kamu peran pemain pengganti untuk syuting di sini, ya? Makanya kalau datang jangan telat! Salah sendiri!"
Rumi hanya menanggapi ocehan para penggemar dengan senyuman tipis khas dirinya. Saat ini, lelaki tampan itu sedang memakai kacamata hitam pemberian dari Raisa di hari ulang tahunnya. Maka dari itu, wajahnya sedikit tersamarkan dan tidak mudah dikenali oleh orang-orang yang memsng tidak kenal dengannya.
"Eh, apa cowok itu artis juga, ya? Ganteng soalnya! Apa dia artis baru?"
"Artis baru kok datang telat?!"
"Kayaknya bukan artis baru juga, deh. Kayaknya aku pernah lihat di mana gitu, tapi lupa siapa ...."
"Iya, ya. Kayak pernah lihat. Coba aja dia gak lagi pakai kacamata hitam. Pasti mukanya lebih gampang dikenal."
Rumi pun berhasil masuk ke area dalam lokasi syuting. Saat itu ada beberapa penjaga yang mencegahnya masuk.
"Maaf, tapi Anda siapa? Tidak sembarang orang boleh masuk ke dalam sini."
Saat itu juga ada kru yang menghampiri.
"Oh, ya ... kamu, Rumi, kan? Temannya Raisa?"
Rumi pun langsung mengangguk.
"Biarin dia masuk. Ayo, ikut saya. Tadi Raisa udah bilang temannya ada yang mau datang dan minta saya antar langsung untuk ketemu sama Raisa di dalam."
Para penjaga pun membiarkan Rumi masuk ke dalam.
"Baiklah. Terima kasih," ucap Rumi
Rumi pun mengikuti langkah kru tersebut untuk segera bertemu dengan Raisa.
"Iya, itu ... Rumi! Ternyata, itu Rumi! Teman yang katanya gebetannya Raisa! HTS-annya Raisa! Kenapa bisa lupa, sih?!"
"Rumi!"
Para penggemar di sana pun ikut menyerukan namanya seperti sedang menyerukan nama sang idola. Mereka semua juga bahkan mulai sibuk mengambil foto dirinya dengan menggunakan ponsel. Karena bagaimana pun juga, Rumi ikut terkenal karena mengenal Raisa. Seolah dirinya juga seorang artis. Apa lagi dirinya adalah orang yang memiliki gosip dengan Raisa.
"Rumi datang ke lokasi syuting untuk ketemu Raisa!"
"Gila! Ini, sih, gosip besar!"
Para penggemar di sana pun langsung memiliki antusias yang kuat untuk menyebarkan gosip untuk yang pertama kalinya.
.
__ADS_1
•
Bersambung ...