
"Sepertinya benar di sini tempatnya," gumam Lina
Saat ini Lina telah berada di seberang tempat pelatihan berkuda di mana Raisa dan teman-temannya berada.
Setelah melihat-lihat media sosial instagram, Lina menemukan dan mengetahui keberadaan Raisa dan teman-temannya melalui postingan terbaru Nilam yang dibagikan pada laman instastory.
Saat mengetahui lokasi tempat itu berada, Lina langsung bergegas menuju ke sana dan di sanalah kini ia berada.
"Aku lihat di instastory tadi, Rumi juga ada di sini sama mereka semua. Kali ini aku harus bisa dekatin Rumi dan buat dia pisah jauh dari Kak Raisa. Aku gak suka lihat dia terus-terusan ada di dekat Kak Raisa," ucap Lina bermonolog ria.
"Terlebih lagi, Boss Daffa udah ubah jadwal pemotretanku di hari yang berbeda dengan jadwal pemotretan Kak Raisa. Itu artinya aku bakal susah ketemu sama Rumi mulai sekarang. Ini pasti karena permintaan dari Kak Raisa. Gak bisa dibiarin! Karena aku udah ada di sini, aku bakal pisahin Rumi dari Kak Raisa. Akan aku buat Rumi ilfeel dan putus pertemanannya sama Kak Raisa ... sekalian bakal aku dapetin Rumi juga," batin Lina dengan rencana busuknya.
Saat sibuk dengan rencana busuknya, Lina melihat Raisa dan teman-temannya ke luar dari tempat pelatihan berkuda. Lina pun langsung bersembunyi di balik pohon besar di sana. Saat itu, Lina melihat Rumi yang berjalan dan berada tepat bersebelahan dengan Raisa. Melihat itu, Lina langsung menatap Raisa dengan tatapan penuh ketidak-sukaan.
"Setelah ini cuma aku yang boleh ada di samping Rumi. Setelah aku pisahin mereka berdua, akan aku buat mereka berdua gak akan bisa jadi dekat lagi. Cuma aku yang pantas milikin Rumi," batin Lina dengan niat jahatnya.
Lina pun terus memerhatikan rombongan Raisa itu dari jauh secara diam-diam.
"Raisa, tadi itu kamu hebat keren banget. Keren," puji Maura
"Aku gak tahu kalau kamu punya banyak keahlian, Raisa," kata Nilam
Raisa terus tersenyum lebar.
"Sepertinya kau sangat senang, Kak Raisa. Sedari tadi kau terus saja tersenyum," ujar Monica
"Ya, aku merasa sangat senang. Dari dulu aku ingin sekali mencoba memanah dan sekarang aku bahkan memiliki satu set busur dan anak panahnya," ucap Raisa
Raisa memang mendapat satu set busur beserta anak panahnya yang menjadi hadiah untuknya yang berhasil melakukan semua pelatihan dengan baik dan mendapat poin yang nyaris sempurna.
Saat ini pun Raisa sedang membawa satu set busur beserta anak panahnya yang telah dimasukkan ke dalam tas khusus.
"Apa ini pertama kali kau memanah?" tanya Sanari
Raisa mengangguk.
"Kau baru pertama kali mencobanya, tapi kau langsung mahir melakukannya? Mengesankan sekali," kata Amon
"Setelah dipikir-pikir ... sepertinya Raisa memang selalu seperti itu. Sering kali, kau mengatakan baru pertama kali mencoba melakukan sesuatu, tapi kau selalu saja langsung mahir melakukannya setelah percobaan pertama atau hanya dengan dua kali percobaan. Semua orang sempat merasa bingung, tapi kami sudah tidak merasa heran lagi sekarang. Karena sudah terbiasa melihatmu yang seperti itu," ujar Ian
"Mungkin itu semua memang bakat terpendam sejak lahir yang dimiliki Raisa. Makanya, hanya dengan pertama atau dua kali mencoba, ia langsung pandai melakukannya," ucap Chilla
"Biasanya orang yang seperti itu sering dikatakan aneh karena kemampuannya yang tak terduga-duga dan banyak membuat orang lain merasa iri padanya," kata Devan
"Orang yang mudah merasa iri pada orang lain itu adalah tipe orang yang paling merepotkan," sahut Morgan
"Kalau begitu, kau harus lebih sering berhati-hati, Raisa. Jaga dirimu. Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi padamu," ujar Rumi berpesan.
"Baiklah. Aku tahu itu," kata Raisa
"Kita semua juga sangat tahu, kalau Raisa paling pandai menjaga diri sendiri," ucap Aqila
Raisa dan semua temannya berjalan kembali menuju ke vila. Hingga mereka semua masuk ke dalam vila, Lina terus mengikuti mereka secara diam-diam dari kejauhan.
"Ternyata itu adalah vila tempat mereka semua menginap," batin Lina
"Aku harus mencari tahu tentang semua kegiatan yang mereka lakukan selama di sini. Berarti aku harus menyewa vila atau menginap di dekat sini juga. Aku harus terus memantau Rumi agar lebih mudah saat aku mendapatkaannya," gumam Lina
Kini Lina telah siap untuk menjadi mata-mata alias penguntit.
Raisa dan teman-temannya yang masuk ke dalam vila langsung beristirahat.
"Kalian semua pasti lelah, kan? Istirahatlah dan aku akan menyiapkan makanan untuk kita semua," ujar Raisa
__ADS_1
"Kamu bilang, biasanya kamu langsung istirahat?" tanya Maura
"Itu kalau sehabis pulang kerja. Kali ini bisa dibilang hanya habis bermain di luar. Aku masih bisa masak kok," jawab Raisa
"Tapi, kau sudah banyak beraktivitas tadi. Kau bermain dengan sungguh-sungguh, kau pasti lelah. Kau saja yang istirahat biar kami yang akan memasak," ucap Chilla
"Iya. Kamu istirahat aja, Raisa. Kami akan memasak untuk kita nanti," kata Nilam
"Benar, nih?" tanya Raisa
"Ya, Raisa. Silakan kau istirahat," jawab Aqila
"Kau bisa memasak, Chilla? Kukira kau hanya bisa makan," ujar Ian meledek.
"Tentu saja. Raisa pernah makan masakanku kok," kata Chilla
"Itu benar," sahut Raisa
"Kalau begitu, aku ingin ke luar dulu sebentar untuk mencari angin," sambung Raisa
Raisa yang sedari tadi memang berniat ingin ke luar dari vila pun beranjak pergi seorang diri.
Raisa ke luar menuju halaman vila yang berukuran tidak terlalu besar. Di luar sana, Raisa menoleh ke sana ke mari seolah sedang mencari sesuatu.
Saat itu, Rumi datang menghampiri Raisa.
"Raisa, kau sedang mencari sesuatu?" tanya Rumi
"Rumi ... tidak. Aku hanya menikmati udara dan pemandangan di sekitar sini," jawab Raisa
"Apa kau tidak merasa lelah? Kenapa tidak istirahat dan malah ke sini?" tanya Rumi
"Menikmati udara dan pemandangan sekitar juga termasuk istirahat," kata Raisa
"Itu hanya ungkapan sementara yang kurasakan. Itu seperti ... aku sudah cukup pada suatu aktivitas dan tidak ingin terlalu memaksakan diri. Tapi, selama aku menyukai aktivitas itu, aku akan melakukannya dengan sungguh-sungguh sampai aku merasa puas. Bukan berarti aku merasa lelah sungguhan," jelas Raisa
Rumi pun mendekati Raisa.
"Semakin aku mengenalmu, semakin aku dibuat kagum oleh dirimu yang begitu memesona. Hingga aku tidak bisa berkata-kata selain hanya bisa mengatakan ... aku mencintaimu," ucap Rumi
"Kau mungkin memang tidak bisa berkata-kata, tapi kau semakin pandai merangkai kata dan jadi lebih banyak bicara dari pada dirimu yang dulu. Tapi, aku juga mencintaimu yang seperti itu," ujar Raisa
"Kau juga pernah bicara hal yang serupa dengan kali ini. Kau pernah berkata, kau menyukaiku yang agak pendiam dan terkesan dingin. Apa kau lebih menyukaiku yang seperti dulu? Apa kau sudah mulai merasa jenuh karena perubahanku seperti sekarang ini?" tanya Rumi
"Aduh ... kenapa, sih, kau jadi sering bertanya seperti ini? Kau seolah sensitif seperti perempuan saja. Kau bahkan merasa tidak percaya diri seperti diriku yang dulu saja," ujar Raisa
Raisa pun menatap Rumi dengan begitu teduh sambil tersenyum lembut.
"Rumi, percayalah ... sudah sejak lama aku menyukaimu, sampai sekarang pun aku masih dan terus menyukaimu, bahkan perasaanku telah tumbuh semakin besar. Alasanku menyukaimu memang terdengar seperti perasaan yang sangat remeh karena aku menyukaimu dari tampangmu. Tapi, karena tampangmu yang tampan ini aku jadi terus memikirkanmu tiada henti. Aku memang sering melihat wajah lelaki lain yang juga terlihat tampan, tapi saat aku melihat wajah yang tampan, pikiranku malah teralihkan dan langsung nembayangkan wajahmu seorang," ucap Raisa
"Apanya yang perasaan yang sangat remeh? Kalau begitu, aku justru sangat bersyukur dengan adanya perasaan remeh itu. Karena kau sudah mau menyukaiku," ujar Rumi
Kini, senyuman Raisa berubah menjadi lebih manis dan sangat menawan. Raisa pun mulai berjinjit untuk berbisik di telinga Rumi.
"Sebenarnya aku malu mengatakannya, tapi kau harus tahu ... kalau wajahmu ini yang membuatku tergila-gila dan tak bisa kulupakan. Sebesar itulah rasa suka dan cintaku padamu," ungkap Raisa sambil berbisik.
Raisa pun kembali pada posisi tegaknya menghadap ke arah Rumi. Rumi yang melihat sebyuman manis Raisa yang begitu menawan jadi sulit menahan diri, apa lagi setelah Raisa membisikkan kata-kata yang nembuatnya tersanjung hingga mampu terbang melayang.
Rumi pun menundukkan pandangannya untuk segera mengontrol dirinya. Setelah dibisikkan kata-kata manis dan melihat senyuman yang tak kalah manisnya, Rumi terus berpikir ingin mencium Raisa jika terus melihat wajah gadis cantik itu yang telah terfokus pada bibir yang mengukir senyuman manis itu.
"Raisa, lain kali berhati-hatilah. Kata-kata dan perilakumu membuatku jadi sulit menahan diri," ucap Rumi
Raisa terkekeh kecil melihat respon Rumi yang menurutnya terlihat menggemaskan. Raisa pun berhambur memeluk Rumi yang berada tepat di hadapannya. Mendapat pelukan dari Raisa cukup membuat Rumi merasa terkejut.
__ADS_1
"Jujur saja, aku pun sering sulit mengendalikan diri jika bersamamu. Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan hal lain, tapi setidaknya aku bisa memberimu pelukan seperti ini," bisik Raisa
Rumi tersenyum dan bergerak membalas pelukan Raisa dengan erat. Tak bisa berlama-lama terus seperti itu, keduanya pun saling melepaskan pelukan masing-masing dan saling melontarkan senyuman.
Rumi pun beralih menggenggam tangan Raisa. Rumi mengangkat tangan Raisa yang digenggamnya dan melihatnya secara seksama.
"Raisa, tanganmu terluka," kata Rumi
Raisa ikut melihat telapak tangannya sendiri.
"Aku tidak sadar sebelumnya karena tidak terasa apa pun, tapi sepertinya ini karena latihan memanah tadi. Tidak apa, ini hanya luka lecet kecil. Bukan luka serius," ucap Raisa
"Luka ini ada di seluruh permukaan telapak tanganmu. Kalau dibiarkan bisa memburuk. Aku akan cari dan ambilkan obat merah untukmu," ujar Rumi
Raisa menahan Rumi yang ingin pergi dengan mencekal tangannya.
"Tidak perlu ambil obat. Ini bukan hal besar sampai kau harus merasa panik seperti itu," kata Raisa
Raisa pun menyembuhkan luka lecet di telapak tangannya dengan menggunakan sihir medis yang dimilikinya.
Melihat Raisa dengan asal menggunakan kemampuan sihirnya di tempat terbuka, Rumi langsung menghimpit tubuh Raisa dengan maksud agar tidak ada orang yang melihat aksi sihir yang Raisa lakukan.
"Hati-hati, Raisa. Jangan sampai kau mengungkap kemampuanmu di sini," pesan Rumi
Tubuh keduanya sangat dekat bahkan dibilang saling menempel. Posisi ini tidak ada bedanya dengan berpelukan, tapi Raisa merasa gejolak aneh dan seolah tersengat sesuatu.
"Aku tahu, tapi kau terlalu dekat," kata Raisa
"Maafkan aku." Rumi langsung melangkah mundur karena tidak sadar sudah bertindak semaunya.
"Tidak apa dan kau tenang saja," kata Raisa
"Sudah kubilang, jangan lakukan hal yang membahayakan dirimu sendiri. Itu juga termasuk tentang keistimewaanmu," pesan Rumi
"Ya. Aku mengerti," kata Raisa
"Kau selalu membuatku merasa khawatir." Rumi menghela nafas pelan.
"Maaf ... tapi, Rumi, aku sudah memberitahu padamu alasanku menyukaimu. Kini giliran kau yang beritahu aku alasanmu menyukaiku. Hal apa yang membuat kau suka padaku?" tanya Raisa
"Karena itu adalah dirimu, Raisa. Aku menyukai semua hal tentangmu. Aku suka wajahmu, senyummu, suaramu yang indah ... aku jatuh cinta pada kebaikan hatimu yang berulang kali memikirkan dan melindungiku yang aku sendiri menganggap diriku ini tidak penting. Kau membuatku mengubah pandanganku pada hidup, dunia, dan diriku sendiri. Kau membuat diriku merasa pantas mendapat apa yang kuinginkan, yaitu dirimu. Itulah alasanku menyukaimu," ungkap Rumi
"Kalau alasanmu menyukaiku seperti itu, alasanku menyukaimu jadi terdengar sangat dangkal," ujar Raisa
"Aku percaya kalau kau juga merasakan hal yang sama denganku," kata Rumi
Rumi pun meraih tangan Raisa untuk ia kecup. Raisa pun tersenyum.
Timbul rasa tidak suka yang mendalam dalam diri Lina yang sedari tadi melihat interaksi mesra antara Raisa dan Rumi dari kejauhan. Kini ia bahkan menaruh perasaan benci pada Raisa yang telah menguasai lelaki yang disukainya.
"Apa-apaan itu!? Kak Raisa bilang, dia dan Rumi cuma berteman. Apa antara teman juga berinteraksi seperti sama pacar seperti itu? Ini pasti Kak Raisa yang menghasut dan memanfaatkan kepolosan hati Rumi untuk mengajaknya jadi teman tapi mesra. Kak Raisa itu artis, dia pasti gak bisa pacaran karena mementingkan citra dirinya yang tetap terjaga baik, tapi pasti teman mesranya gak cuma Rumi. Dasar, playgirl!" batin Lina
"Benar-benar gak bisa dibiarin! Aku harus cepat-cepat dapatin Rumi dan memisahkannya dari pengaruh buruk seperti kak Raisa," gumam Lina
"Tadi kayaknya aku lihat tangan kak Raisa terluka, tapi gak tahu apa yang terjadi ... aku lihat tiba-tiba lukanya hilang begitu aja. Apa aku salah lihat? Ah, di jarak ini buat aku gak bisa lihat dengan jelas ....aku bahkan gak bisa dengar mereka berdua bicara apa aja," batin Lina
Lina melihat Raisa dan Rumi kembakli masuk ke dalam vila.
"Untuk sementara waktu aku bisa biarin kak Raisa dekat dengan Rumi, tapi itu gak akan lama lagi. Aku harus cari tempat menginap dulu ... kalau enggak, bisa-bisa aku dikira mau maling kalau terus melihat ke arah vila itu. Pokoknya aku harus terus mengawasi Rumi dan Kak Raisa," gumam Lina
.
•
__ADS_1
Bersambung ...