
Keesokan harinya.
Seperti yang Raisa bilang sebelumnya, hari ini ia akan mengatakan hal yang masih harus dilakukan di Desa Bambu. Untuk itu mereka berkumpul saat ini...
Devan, Ian, Chilla, Aqila, Morgan, Rumi, dan Raisa.
"Jadi, hal apa lagi yang harus kita lakukan?" tanya Morgan
"Aku terpikirkan hal ini dan butuh pendapat kalian. Dilakukan atau tidak, kita semua sama-sama memutuskannya," ucap Raisa
"Apa itu?" tanya Devan
"Pengaturan Desa Bambu. Kita perlu membantu dalam hal ini. Tentang siapa yang akan memimpin desa dan jadi pemimpin desa, mengatur keamanan desa, mengatur kegiatan berpenghasilan, dan lain-lain. Bagaimana menurut kalian?" ujar Raisa bertanya.
"Ini pendapatku. Menurutku, setidaknya kita harus menyampaikan pendapat tentang pengaturan ini supaya kehidupan Desa Bambu tetap berjalan sebagaimana mestinya dan tetap aman. Jika kita sudah menyampaikan tentang hal ini, terserah pada para warga desa bagaimana memutuskannya atau kita juga bisa sekalian membantu mengatur semuanya. Atau kita sampaikan pendapat pada mereka bahwa mereka harus menyatukan desa sebagai bagian dari salah satu negara terdekat, yaitu Negara Api atau Negara Angin. Jika mereka memutuskan menyatukan desa pada salah satu negara, kita bisa menyuruh mereka meminta pertolongan negara yang mereka pilih untuk mengaturkan pengaturan desa ini. Supaya kehidupan desa bisa makmur," lanjut Raisa
"Apa hal seperti ini juga kita yang harus melakukannya?" tanya Ian
"Ini hanya pendapatku saja, tapi terus terang aku sangat kepikiran. Aku berpikir setidaknya kita harus menyadarkan para warga akan kehidupan sesama mereka di desa, ini juga penting," jawab Raisa
"Kalau sudah seperti ini, kau pasti sangat berharap pendapatmu disetujui dan dilakukan secara nyata, kan, Raisa? Kenapa tidak langsung diwujudkan saja?" ujar Devan bertanya.
"Benar juga. Ini sangat diperlukan," kata Aqila
"Kalau begitu, kita harus tahu apa saja yang perlu diatur, kan? Semacam daftar," ujar Chilla
"Jika kalian sudah setuju, aku sudah tuliskan beberapa hal yang perlu diatur. Kalau kalian merasa ada yang kurang, boleh beri tambahan atau usul. Pertama dan yang paling penting adalah pemilihan pemimpin desa. Ini harus dipilih dengan baik dan cermat! Yang akan jadi pemimpin, kelak harus mampu menanggung semua yang terjadi di desa dan mampu bertanggung jawab akan beban yang sangat besar. Lalu, mengatur keamanan desa! Seperti memilih beberapa petugas keamanan dan mendiskusikan sistem keamanan yang akan dijalankan setiap hari, seperti patroli setiap malam. Dan tetapkan beberapa titik terpenting yang harus ditempatkan orang yang berjaga di sana," tutur Raisa
Raisa menunjukkan catatannya mengenai perencanaan pengaturan Desa Bambu. Mulai dari pemilihan pemimpin desa, pengaturan sistem keamanan, dan lain-lain. Beberapa dari mereka menambahkan usul tentang pengaturan lainnya. Mereka pun berdiskusi bersama.
"Yang terakhir ... adalah kegiatan berpenghasilan untuk seluruh warga desa," ucap Raisa
"Mengatur kegiatan berpenghasilan? Itu terdengar sulit dan rumit! Untuk hal ini, haruskah kita juga yang mengaturnya?" ujar Ian bertanya.
"Desa Bambu adalah desa yang berdiri sendiri, dengan maksud yang tidak termasuk dari bagian negara terdekat mana pun. Hal ini membuat penghasilan warga di sini jadi tidak menentu dan cenderung kecil. Salah satu alasan kita harus membantu mengatur kegiatan berpenghasilan adalah agar mencegah warga berburu ke dalam hutan secara besar-besaran lagi untuk menjual hasil buruan hutan hanya karena butuh uang atau untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ini juga penting untuk mencegah tragedi yang sebelumnya terulang kembali," jelas Raisa
"Lalu, bagaimana cara kita mengaturnya? Kegiatan apa yang cocok untuk dilakukan secara besar-besaran oleh seluruh warga desa?" tanya Morgan
"Itu ... kalian diskusikanlah dengan warga desa. Minta mereka yang menentukan ingin melakukan apa untuk kegiatan berpenghasilan ini. Kalau memang masih tidak tahu apa yang ingin dilakukan atau menentukannya, tunda dulu perencanaan ini. Lalu, besok baru didiskusikan lagi dan aku akan membantu," jawab Raisa
"Kenapa harus ditunda jadi besok?" tanya Chilla
Raisa terlebih dulu terkekeh kecil sebelum menjawab pertanyaan Chilla.
"Kalau bisa, hari ini untuk mengatur perencanaan ini, aku tidak ikut dengan kalian dulu. Aku akan tetap di panti bersama anak-anak, sebenarnya aku ingin istirahat sehari saja. Sepertinya kalian bisa mengaturnya meski tanpa aku. Jika memang masih butuh bantuanku, aku akan melalukannya besok. Jadi, hal yang belum bisa ditentukan tuda saja sampai besok karena aku pasti akan membantu," ungkap Raisa
"Pada akhirnya, kau hanya akan melimpahkan perencanaan yang kau buat sendiri pada kami, ya, Raisa ... " sindir Devan
"Itu juga kalau kalian izinkan aku tetap di panti. Kalau tidak, aku akan ikut kalian," kata Raisa
"Menurutku, Raisa memang memerlukan istirahat setidaknya sehari ini saja. Kita semua juga tahu, Raisa telah memforsir tenaganya beberapa hari ini. Biarkan saja dia di panti hari ini," ucap Rumi
"Baiklah-baiklah. Kau benar! Raisa, kau istirahat saja di sini. Rencanamu, biar kami yang lakukan," ujar Devan
"Benarkah? Terima kasih!" girang Raisa
"Kalau boleh, aku juga ingin tetap berada di sini bersama Raisa menjaga anak-anak," pinta Rumi
"Menjaga anak-anak atau menjaga Raisa? Sudahlah, terserah kau saja, Rumi ... " pasrah Devan menuruti permintaan Rumi.
"Kalau begitu, terima kasih," kata Rumi
"Pada akhirnya, kau hanya ingin berada bersama Raisa, ya, Rumi. Sepertinya kau sangat mencintainya! Kalau begitu, jagalah dia dengan baik. Jangan sampai dia terlepas darimu atau kau melepasnya," pelan Aqila berbisik pada Rumi.
Rumi hanya tersenyum.
"Aku tidak pernah melepasnya, tapi dia sudah terlepas dariku. Dia tidak bisa dikekang, tapi dia memang milik dirinya sendiri. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa berada di dekatnya dan melihatnya saja pun sudah cukup," batin Rumi
"Kalau begitu, Rumi, Raisa ... kalian tetap di sini, kami pergi dulu," ujar Morgan
"Ya, berhati-hatilah! Semangat dan semoga lancar, ya!" Slseru Raisa
Aqila, Morgan, Devan, Ian, dan Chilla pun bersiap untuk pergi. Setelah mereka pergi, tersisa hanya Raisa dan Rumi di ruangan tersebut.
Saat keduanya menjadi canggung, beberapa anak menghampiri mereka di ruangan tersebut.
Memang, jika saat Raisa dan teman-teman berdiskusi di ruangan yang dikhususkan untuk mereka, tidak ada yang mengganggu mereka atau memasuki ruangan tersebut secara sembarangan. Namun, melihat yang lain pergi, anak-anak langsung menghampiri Raisa dan Rumi yang ada di ruangan tersebut.
"Kak Raisa dan Kak Rumi, masih di sini? Tidak ikut pergi dengan teman-teman kakak yang lain?"
"Ya. Kami kira kakak-kakak semua akan pergi. Ternyata Kak Raisa dan Kak Rumi tidak?"
"Aku akan tetap di sini bersama kalian semua, Rumi juga!m," kata Raisa
"Asik!"
"Kalau begitu, ayo! Kita main, Kak!"
Beberapa anak mulai menarik-narik tangan Raisa dan juga Rumi untuk diajak bermain bersama.
"Sabar dulu, ya. Memangnya kalian mau main apa?" ujar Raisa bertanya.
"Hmm ... apa, ya?"
"Ada yang punya ide, Kak Raisa, Kak Rumi?"
Rumi hanya tersenyum sambil bergeleng pelan.
"Kalau tidak tahu ingin main apa. Bagaimana kalau kita buat kue bersama-sama? Buat kue yang banyak untuk kakak-kakak yang lain juga! Sambil menunggu kakak-kakak yang lain pulang, kita bisa makan sebagian kuenya sambil bermain dan bercerita," saran Raisa
"Seperti itu juga seru!"
"Kalau begitu, ayo! Kita semua buat kuenya bersama-sama!"
"Raisa, apa seperti ini tidak apa? Bukankah kau ingin istirahat?" tanya Rumi
"Tidak apa, Rumi. Melepas stress dan rasa lelah dengan bermain bersama anak-anak juga termasuk istirahat. Jadi, tidak masalah," jawab Raisa
Merasa tak sabar melihat Raisa dan Rumi yang masih terdiam di tempat awal, beberapa anak pun menarik lengan mereka berdua supaya ikut berjalan menuju dapur.
__ADS_1
"Kakak berdua ini, ayo! Cepat, dong!"
"Iya, ayo ... " kata Raisa
Setelah ditarik, Raisa dan Rumi pun beranjak menuju ke dapur. Dan memulai memasak kue bersama anak-anak.
Anak-anak pun sangat antusias dengan mulai menyiapkan alat dan bahan untuk membuat kue.
"Pertama, kita buat adonannya dulu! Kalian sudah pernah buat kue belum sebelumnya?" ujar Raisa bertanya.
"Pernah!"
"Terkadang kami membuat kue untuk perayaan kecil-kecilan."
Mereka pun saling membantu membuat adonan kue.
Saat sedang mengaduk adonan, ada anak yang jahil mencolek wajah Raisa dengan tepung atau bahkan langsung dengan adonan itu sendiri.
"Hei, anak-anak! Wajah kakak jadi kotor!" tegur Raisa
Anak-anak tertawa melihat wajah Raisa yang terkena noda tepung dan adonan.
"Inilah yang asik saat membuat kue!"
"Kita bisa bermain dengan tepung dan adonan!"
"Wajah Kak Raisa lucu sekali!"
"Sini, biar aku bersihkan wajahmu, Raisa," kata Rumi
Rumi pun membantu membersihkan wajah Raisa dengan tangannya. Namun, Rumi tidak sadar bahwa tangannya juga dipenuhi adonan dan tepung karena ikut membantu memnuat kue.
"Kau memang berniat membantuku membersihkan wajah, tapi apa kau tidak sadar kalau tanganmu juga penuh dengan tepung dan adonan? Rumi, kau malah membuat wajahku tambah kotor, bukan membersihkannya," ujar Raisa
Rumi pun melihat pada tangannya sendiri.
"Ya ampun, aku lupa kalau tanganku juga kotor ... " sesal Rumi
"Sebagai hukumannya, kau juga harus merasakannya, Rumi," kata Raisa
Raisa pun membalas mengoleskan tepung pada wajah Rumi.
"Sekarang kita impas!" seru Raisa
Anak-anak tertawa begitu melihat wajah Rumi yang juga terkena noda tepung. Saat itu juga, Raisa ikut tertawa begitu melihat hasil karyanya pada wajah Rumi. Melihat Raisa yang tertawa lepas, Rumi pun merasa senang walau wajahnya harus kotor sekali pun. Rumi menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Kak Raisa dan Kak Rumi, lucu sekali!"
"Ya, kalian cocok! Seperti pasangan serasi!"
Begitu mendengar kalimat pasangan serasi, Raisa langsung terdiam. Ia menjadi canggung berada di dekat Rumi.
"Kok malah diam? Ayo, kita perang tepung lagi!"
Saat suasana menjadi canggung, beberapa anak menghidupkan kembali suasana dengan bermain tepung. Melempar dan menyebar tepung.
"Sudah, hentikan bermain tepungnya! Bagaimana kalau tepung untuk bahan kuenya habis? Kita masih harus melanjutkan membuat kue," ujar Raisa
"Benar juga!"
"Ayo, kita lanjutkan membuat kue lagi!"
"Ya, kali ini harus serius!"
Mereka pun mulai serius dan kembali fokus membuat kue. Mengaduk adonan, membentuk kue dengan adonan yang ada. Berbagai bentuk telah dibuat, seperti bentuk lingkaran, persegi, dan bentuk lainnya, juga bentuk bunga. Usai menyelesaikan bentuk kue, adonan kue yang sudah dibentuk pun dimasukkan ke dalam oven.
"Sekarang tinggal tunggu kuenya matang!"
"Benar! Kalian pasti lelah, kan? Setelah membuat kue dan bermain... Kalian semua istirahatlah. Bersihkan wajah dan badan kalian yang terkena tepung dan adonan, lalu ganti juga pakaian kalian yang kotor," ujar Raisa
"Baiklah."
"Lalu, Kak Raisa dan Kak Rumi, bagaimana?"
"Aku akan menunggu sampai kuenya matang di sini sambil mencuci semua peralatan yang kotor," jawab Raisa
"Aku juga akan membantu Raisa mencuci peralatan kotor," kata Rumi
Anak-anak pun bubar untuk membersihkan diri. Meninggalkan Raisa dan Rumi yang sedang mencuci di dapur.
"Raisa, apa kau ingat? Kita juga pernah mencuci seperti ini di rumahku, hanya berdua," ujar Rumi bertanya.
"Ya, aku ingat," jawab Raisa sambil tersenyum. Namun, hanya itu jawaban Raisa, ia bahkan tidak melihat ke arah Rumi saat mengatakannya.
Tangan Rumi berhenti mencuci, lalu berganti terulur untuk membersihkan noda tepung dan adonan di wajah Raisa.
"Sini, aku bersihkan wajahmu," kata Rumi
"Rumi, kau membersihkan wajahku atau membasahkan dan memenuhi wajahku dengan busa sabun? Apa kau tidak sadar kalau tanganmu basah dan penuh dengan busa sabun?" sindir Raisa bertanya.
"Oh, ya ampun! Maaf, Raisa. Aku tidak bermaksud membuatmu jadi merasa kesal," ujar Rumi dengan wajah murung karena rasa bersalah.
Melihat wajah Rumi, Raisa malah terkekeh pelan. Dan itu membuat Rumi merasa heran.
"Tidak apa, Rumi. Yang tadi itu malah menyenangkan. Saat bermain dengan tepung atau busa sabun. Seperti dulu, cukup menyenangkan," ucap Raisa sambil tersenyum kecil.
Seperti dulu yang dimaksud Raisa adalah saat ia dan Rumi mencuci bersama, lalu bermain perang busa sabun. Sayangnya momen itu hanya tinggal kenangan.
"Sudah, lanjutkan lagi mencucinya ... " kata Raisa
Rumi mengangguk.
Keduanya pun melanjutkan mencuci.
"Kau suka dengan anak kecil, ya, Raisa? Kau lebih suka anak lelaki atau perempuan?" tanya Rumi
"Kenapa kau bertanya?" tanya balik Raisa.
"Anak kita nanti, kau ingin lelaki atau perempuan?" tanya Rumi lagi.
__ADS_1
Pertanyaan spontan itu ke luar begitu saja dan membuat suasana menjadi canggung. Begitu pertanyaan terlontar, Rumi langsung terdiam, begitu juga dengan Raisa. Tak tahu harus bagaimana untuk mencairkan suasana.
"Maaf, aku tidak bermaksud--" ucapan Rumi terhenti begitu saja.
"Soal anak ... mau itu lelaki atau perempuan dan berapa pun jumlahnya, terserah apa pun yang diberi Tuhan, aku akan menerimanya dengan senang hati. Asalkan bersama orang yang dicintai, tidak ada masalahnya. Anak juga sama-sama harus dicintai. Dulu, kau juga pernah bertanya hal yang serupa, kan ... " ucap Raisa
Raisa mengatakan semua itu dengan mudah dengan tanpa ekspresi. Padahal Rumi hanya tidak tepat bertanya, kini ia dibuat bingung dengan jawaban Raisa.
"Aku bodoh malah bertanya seperti itu! Kau menjawabnya dengan mudah, tapi apakah kita bisa punya kesempatan untuk membangun sebuah keluarga dan memiliki anak bersama? Hubungan kita saja sudah berakhir," batin Rumi
"Aku akan mengeluarkan kue dari oven dulu dan memasukkan adonan kue yang lain," kata Raisa mengalihkan topik pembicaraan.
Raisa pun mencuci tangannya sampai bersih dan mengeringkannya. Lalu, mengeluarkan kue dari oven menggunakan sarung tangan pelindung dan memasukkan adonan kue selanjutnya karena ingin membuat kue dalam jumlah banyak.
Usai mengeluarkan kue dan memasukkan adonan kue lainnya, Raisa meneruskan mencuci. Saat kue matang, Raisa mengeluarkannya lagi dan memasukkan adonan kue lainnya, lalu kembali mencuci. Terus menerus seperti itu sampai semuanya selesai. Baik mencuci atau memanggang kue dalam oven sampai semua kue matang.
"Alhirnya semuanya selesai!" seru Raisa
Rumi membantu Raisa menaruh kue ke dalam wadah dan juga ke atas piring.
"Sudah selesai semua," kata Rumi
"Kalau begitu, sini coba kulihat wajahmu," ujar Raisa
Raisa pun membersihkan noda tepung dan adonan di wajah Rumi dengan kain bersih yang sedikit dibasahkan. Saat melakukannya, wajah keduanya saling berdekatan. Hati keduanya berdebar, namun keduanya hanya bisa menahan rasa berdebar di dada itu. Setelah sudah bersih dan selesai, Raisa tersenyum.
"Sekarang sudah bersih," kata Raisa
"Terima kasih, Raisa!" ucap Rumi
"Ya, sama-sama," balas Raisa
Usai membersihkan noda di wajah Rumi, Raisa menjauh. Raisa sudah lebih dulu membersihkan wajahnya sendiri, jadi Rumi tidak bisa bergantian membalas membersihkan wajah Raisa. Sedikit disayangkan, memang. Rumi tidak bisa melihat wajah Raisa dari dekat dalam waktu yang lebih lama.
Saat itu, beberapa anak menghampiri dapur.
"Kak Raisa, Kak Rumi, kuenya sudah ada yang matang belum?"
"Sudah, dong. Untuk kita makan bersama, ambil yang diletakkan di atas piring saja. Yang ada di toples, biar disisakan untuk kakak-kakak yang sedang pergi ke luar," jawab Raisa
"Baik!"
"Kalau begitu, kami bawa kue yang di piring, ya."
"Ya, hati-hati saat membawanya, ya."
Usai menyelesaikan aktivitas di dapur, Raisa dan Rumi terlebih dulu mengganti pakaian yang sudah kotor. Setelah berganti pakaian, keduanya berkumpul bersama semua anak.
"Ayo, Kak. Sini, makan kuenya bersama-sama."
"Baiklah," kata Rumi
"Kalian sudah coba kuenya belum? Rasanya enak atau tidak?" tanya Raisa
"Enak, dong! Kan, kita semua yang buat!"
"Benar. Rasa kuenya enak!" seru Rumi setelah mencicipi kue.
Raisa tersenyum saat makan kue bersama anak-anak dan juga Rumi.
"Saat makan kue, enaknya sambil mendengar cerita."
"Kak Raisa, ceritakan sesuatu pada kami, dong!"
"Atau, Kak Rumi saja yang sesekali bercerita dengan kami!"
"Maaf, tapi aku tidak bisa bercerita." Ucap Rumi
"Yah ... ya sudah, Kak Raisa saja yang bercerita."
"Cerita apa? Aku tidak tahu banyak cerita karena aku berasal dari dunia lain," bingung Raisa
"Kalau begitu, ceritakan kisah dongeng dari dunia asal Kak Raisa saja. Atau apa pun juga boleh."
"Apa saja, ya. Kalau begitu, dengarkan, ya ... " ujar Raisa yang mulai bercerita tentang asal usul pelangi dan 7 bidadari.
Setelah bercerita sekali, lalu Raisa menceritakan berbagai macam versi dari kisah 7 bidadari.
"Ceritanya ada yang berakhir bahagia juga sedih dan mengharukan, ya."
Raisa mengangguk.
"Apa semua cerita itu benar-benar pernah terjadi di duniamu, Raisa?" tanya Rumi
"Entahlah. Yang kutahu cerita tentang 7 bidadari adalah dongeng yang melegenda. Banyak sekali versi cerita dan ada juga yang dibuat menjadi film," jawab Raisa
Saat cerita berakhir bersamaan habisnya kue yang dimakan bersama, teman-teman Raisa akhirnya kembali.
"Kami kembali!"
"Selamat datang kembali!" sambut Raisa
"Kalian sedang apa dan habis makan apa?" tanya Chilla
"Kakak-kakak, lama sekali kembalinya. Kami sampai sudah menghabiskan kue yang sudah dibuat."
"Kalian makan kue dan tidak menyisakan untukku? Aku juga mau makan kue," ujar Chilla
"Anak-anak hanya bergurau. Tenang saja, Chilla. Untukmu dan yang lain sudah pisahkan, ada di dalam toples yang ada di dapur," ucap Raisa
Mendengar itu, Chilla langsung bergegas menuju ke dapur untuk mencari dan mengambil kue.
"Mendengar soal makanan pasti langsung bergegas. Dasar, gendut!" cibir Ian
.
•
Bersambung...
__ADS_1