Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
70 - Teman Harus Saling Melindungi.


__ADS_3

Setelah pemeriksaan terakhir dan memberikan penawar racun pada tubuhnya serta memastikan penawar racun bekerja efektif pada tubuhnya, Rumi pun kembali berkumpul dengan teman-temannya.


"Teman-teman, aku kembali!" Seru Rumi yang baru kembali pada teman-temannya.


Rumi pun kembali duduk di antara semua temannya...


"Bagaimana, Rumi? Sudah selesai?" Tanya Morgan


"Sudah. Penawar racunnya sudah bekerja sangat efektif di dalam tubuhku, aku akan pulih." Jawab Rumi


"Ini berkat Raisa. Dia menyelamatkanku dan sebelumnya pun dia yang menetralisir dan menekan efek racun pada tubuhku hingga racunnya hampir semuanya lenyap, hanya tersisa sedikit saja yang dalam proses menguap ke luar dari dalam tubuhku. Saat Ayahku kebingungan membuat penawar racunnya pun Raisa juga yang memberikan sampel racun yang menyerangku pada Ayah sampai akhirnya Ayahku berhasil mengenali racun tersebut dan membuatkan penawarnya." Imbuh Rumi mengungkapkan.


"Kau terlalu berlebihan, Rumi. Aku bahkan tidak bisa menghapus semua racun yang ada di dalam tubuhmu, aku tak seahli itu masih hampir membahayakan nyawamu dengan meninggalkan sedikit racun di dalam tubuhmu. Kau bisa pulih dan baik-baik saja semua berkat Ayahmu yang membuat penawar racun untukmu. Aku masih belum bisa diandalkan, masih belum pantas." Ucap Raisa


"Sebelumnya pasti karena kau hampir menghabiskan seluruh tenagamu hanya demi menyelamatkanku makanya racun itu masih sedikit tertinggal. Tapi, kalau bukan karena pertolongan awal darimu, aku bisa saja tidak terselamatkan. Semua berkat bantuan darimu, Raisa." Ujar Rumi


"Jangan berkata seperti itu, Rumi! Kau tidak boleh! Kau pasti selamat walau bukan aku yang menolongmu. Walau bagaimana pun aku hanyalah orang yang lewat. Walau aku tidak ada dan hadir di kehidupan kalian pun pasti ada yang menolongmu, karena kehidupanmu masih panjang." Kata Raisa


"Biar bagaimana pun aku beruntung kau yang datang padaku dan bersyukur bahwa kau ditakdirkan untuk bertemu dan hadir dalam kehidupan kami." Ungkap Rumi


DEG... DEG!


DEG~


Jantung Raisa kini berpacu cepat karena ucapan Rumi. Kata-kata yang ke luar dari mulut Rumi membuat hatinya lagi-lagi tersentuh. Ia bahkan sebisa mungkin menahan semburat rona merah yang akan muncul pada kedua pipinya.


"Rumi, benar! Kaulah bintang keberuntungan kami, Raisa!" Sanjung Amy


"Ahahaha... Kalian berlebihan! Akulah yang beruntung telah diberi takdir seperti ini. Bertemu dan hadir dalam kehidupan kalian memanglah keberuntunganku. Tapi, kalianlah yang membuatku jadi beruntung!" Ucap Raisa


..."Kalian semualah bintang-bintang keberuntunganku! Dan, kau adalah bintangku yang paling terang, Rumi!" Batin Raisa...


Raisa menyeka titik air matanya yang hampir jatuh karena merasa tersentuh. Ia pun mengembangkan senyuman manis membahagiakan...


"Menurutku, kau sudah hebat bisa menetralisir dan menekan efek racun yang berada di dalam tubuh Rumi. Racun utu kan sangat ganas! Kau yang berbuat sampai begini pun sudah pencapaian yang besar, Raisa! Kau kan hanya mampu berlatih sendiri dan kemampuanmu ada banyak... Melatih semua kemampuanmu sampai ke tahap ini dengan perjuanganmu sendiri pun sudah sangat luar biasa!" Ungkap Aqila


"Benar! Kau memang hebat, Raisa!" Puji Wanda


"Ya, aku hanya bisa bersyukur atas semua yang ada pada diriku ini." Kata Raisa


"Lagi pula, kau kehabisan tenagamu pasti karena kau menyelimuti-" Ucapan Rumi lagi-lagi terpotong. Kali ini karena Raisa menyela ucapannya.


"Ah, iya, itu! Aku harus melakukannya untuk menyelamatkanmu!" Cepat Raisa memotong ucapan Rumi.


"Memang apa yang kau lakukan saat itu?" Tanya Ian


"Aku membungkus tanganku dengan sihir es untuk mengompres Rumi! Aku memang lemah terhadap rasa dingin, tapi aku harus menyelamatkan Rumi. Jadi, aku terpaksa melakukannya karena tidak terpikir cara lain, saat itu Rumi mengalami demam tinggi yang sangat hebat!" Ungkap Raisa dengan sedikit dusta.


Yang Raisa bungkus dengan sihir es bukanlah hanya tangannya, namun seluruh tubuhnya. Bukan hanya mengompres tapi bahkan memeluk tubuh Rumi. Dengan begini baru dapat cepat menurunkan demam tinggi pada tubuh Rumi. Namun, Raisa tak mungkin berkata dengan sejujurnya dengan sangat lengkap seperti itu!


Kali ini Raisa hanya menyela ucapan Rumi bukan menutup mulut Rumi dengan menggunakan tangannya. Raisa berbuat demikian supaya tidak disalah-pahami teman-temannya yang lain.


"Pantas saja tenagamu banyak terkuras! Karena tubuhmu lemah dengan rasa dingin yang kau buat sendiri jadi tenagamu dengan cepat terkuras." Ucap Sandra


"Tidak masalah. Jangankan hanya tenagaku, kehilangan nyawa pun aku sanggup demi menyelamatkan Rumi. Dengan begini baru bisa membuat Rumi terus melindungi kalian semua. Karena Rumi mampu berkorban untuk melindungi semua temannya. Aku yang hanya orang lewat dan bukan berasal dari sini tidak bisa terus melindungi kalian semua, tapi Rumi pasti bisa." Tutur Raisa


"Raisa, sebelumnya kau melarangku tapi kau sendiri bicara sembarangan seperti ini. Kau jangan bicara begitu! Kau harus tetap hidup! Kau harus hidup dengan caramu dan melindungi kami semua dengan caramu juga. Aku pun akan terus hidup dan melindungi semua temanku dengan caraku. Kita semua harus bisa terus bertahan hidup supaya bisa saling melindungi." Balas Rumi


"Kau benar, Rumi! Memang harus begitu!" Sahut Morgan


"Baiklah." Kata Raisa


Mereka semua pun mengobrol banyak. Membahas semua hal yang ingin diungkapkan. Mereka terlihat asik dan terbawa suasana saat mengobrol.


"Rumi, kapan dan apa bisa bertemu Ayahmu? Aku harus bertanya tentang kami yang ingin membawamu kembali bersama ke Desa Daun." Ujar Devan


"Entahlah. Ayahku memang orang yang selalu sibuk dengan urusannya." Kata Rumi

__ADS_1


"Kalian tunggu saja. Tuan Rommy sedang sibuk mengurus urusannya, mungkin dia juga sedang berpikir untuk memutuskannya." Ucap Bibi Rina yang tiba-tiba datang.


Bibi Rina kembali menghampiri Rumi dan teman-temannya...


"Aqila dan Raisa, ikutlah denganku. Bantu aku menyiapkan makan untuk kalian semua." Ujar Bibi Rina


"Ah, baik, Bibi." Serempak Raisa dan Aqila


"Makan, bagus sekali!" Girang Chilla


"Kalian semua tunggulah. Kami akan kembali." Kata Raisa


"Aku akan menunggu. Kalian cepatlah kembali!" Seru Chilla


"Jagalah sikapmu di tempat orang. Dasar, gendut!" Cibir Ian


Raisa dan Aqila pun ikut dengan Bibi Rina ubtuk menyiapkan makan untuk semuanya.


Saat membantu Bibi Rina memasak dan menyiapkan makanan, Raisa dan Aqila terlarut dalam obrolan ringan dengan Bibi Rina. Sepertinya Bibi Rina ingin menjalin hubungan dan menambah kedekatan dengan dengan kedua gadis tersebut. Salah satunya memang adalah gadis yang ia sukai. Satunya lagi adalah gadis yang dekat dengan Rumi, kerabatnya. Sepertinya ia senang bisa menjadi dekat dengan kedua gadis tersebut.


"Semua makanan sudah siap dan lengkap. Ayo, kita bawa ke meja makan. Tolong bantu Bibi." Ujar Bibi Rina


"Baik, Bi." Serempak Raisa dan Aqila


Bersama membantu Bibi Rina, Raisa dan Aqila pun ikut membawakan makanan ke meja makan di sana. Makanan yang siap bukan hanya satu, membuat mereka harus bolak-balik mengambil dan membawa makanan dari dapur ke meja makan. Raisa dan Aqila kembali ke dapur untuk membawa makanan di piring terakhir.


"Tinggal tersisa satu lagi. Aku saja yang bawa!" Ujar Aqila


"Oh, baiklah." Kata Raisa


Aqila yang membawa piring makanan terakhir berjalan lebih dulu di depan Raisa. Raisa mengiringinya berjalan di belakang. Namun, langkah Raisa terhenti karena ada seseorang yang mencekal tangannya. Raisa menoleh, memastikan siapa yang menghentikannya. Ternyata itu adalah Rumi yang menahan tangannya.


"Rumi!" Seru Raisa


"Aku ingin bicara sebentar. Berdua saja." Pinta Rumi


"Aqila, kau duluan saja. Ada sesuatu yang tertinggal, aku juga ingin ke toilet dulu sebentar." Ujar Raisa beralasan.


"Baiklah, aku duluan ya." Kata Aqila


Aqila yang memang berjalan lebih dulu di depan hanya meng-iyakan perkataan Raisa tanpa tau ada Rumi bersama Raisa di belakangnya.


"Ada apa, Rumi? Hal apa yang mau kau bicarakan denganku?" Tanya Raisa


Kini hanya ada mereka berdua di dapur. Rumi dan Raisa tinggal di sana untuk bicara berdua.


"Tentang panggilanmu pada Ayahku. Kenapa harus kau memikirkannya lebih dulu? Kenapa kau tidak langsung memanggilnya dengan sebutan Paman atau Ayah? Bukankah dia yang memintamu sendiri memanggilnya seperti itu? Aku tidak mengerti, apa alasanmu masih harus memikirkannya?" Cecar Rumi mengajukan banyak pertanyaannya untuk Raisa.


Raisa pikir Rumi sudah sepenuhnya melupakan pembahasan tentang hal ini. Ternyata, Rumi masih ingin membahasnya. Padahal Raisa tak ingin membahasnya lagi.


..."Ternyata ini yang mau Rumi bahas dan bicarakan denganku. Kenapa dia masih mengungkitnya? Kukira dia sudah melupakannya. Padahal aku tak ingin membahasnya lagi. Tak pahamkah dia hal ini membuatku salah paham yang tidak-tidak? Harusnya hal ini tidak diungkit lagi. Tapi, kenapa rasanya Rumi sedang mencecarku dengan pertanyaannya? Seolah malah berharap seperti Ayahnya yang ingin aku mengubah panggilanku pada Ayahnya itu." Batin Raisa...


Dengan Rumi yang sampai mencarinya untuk mencecar dan menanyakan tentang hal ini, mau tak mau membuat Raisa harus menjawab rentetan pertanyaannya itu.


"Kau bahkan memanggil Ayah dari teman yang lain dengan sebutan Paman, tapi kenapa kau tidak mau memanggil Ayahku dengan sebutan yang sama?" Tanya Rumi lagi.


"Bukannya tidak mau, aku tidak bisa. Aku bukan berasal dari dunia ini, aku terlalu segan jika memanggil Ayahmu dengan sebutan seperti itu. Apa lagi Tuan Rommy itu adalah sosok ahli sihir yang legendaris, aku merasa tidak pantas, dan harus lebih menghormatinya." Jelas Raisa


"Jadi, seperti ini alasanmu. Tapi, tetap saja dipikirkan bagaimana pun, bukankah-" Ucapan Rumi lagi-lagi terpotong karena Raisa yang menyela ucapannya.


"Katakan padaku dengan jujur! Sebelumnya kau sudah mengetahui tentang ini kan? Makanya kau terus menanyakanku apa ada hal lain yang aku dan Ayahmu bicarakan selain tentang penawar racun yang akan dibuatkan untukmu. Kau menguping pembicaraanku dengan Tuan Romi?" Ujar Raisa menyelidiki.


"Memang benar, aku mengetahuinya. Aku mengirim ular sihirku ke pintu ruang laboratorium untuk mendengarkan pembicaraan kalian melalui ularku itu. Aku tidak menyangka, aku malah mendengar hal yang tidak kuduga." Batin Rumi


"Saat kau menemui Ayahku, aku mengirim ular sihirku untuk mendengarkan pembicaraan kalian di ruang laboratorium. Aku tidak bermaksud untuk menguping, aku hanya tak mau jika Ayahku melakukan hal yang tidak-tidak padamu. Awalnya aku hanya ingin mengawasi kalian." Jujur Rumi


Ular sihir milik Rumi bisa berfungsi sebagai mata-mata yang mengawasi atau mengamati dan bahkan mendengarkan pembicaraan target dari pemiliknya. Dan itu dilakukan Rumi pada Raisa dan Auahnya, Tuan Rommy.

__ADS_1


"Kau terlalu bersikap was-was dan khawatir, Rumi. Sudah kubilang, aku tau tentang Ayah atau bahkan kerabatmu, aku mengetahuinya dari mimpi. Aku tau orang seperti apa mereka dulu, tapi itu kan dulu dan sudah berlalu. Dan kini aku percaya, baik itu Ayahmu atau kerabatmu tidak akan menyakiti atau melukaiku. Apa lagi mereka tau aku yang menyelamatkanmu yang merupakan harta berharga bagi mereka, jadi mereka tidak akan melakukan hal buruk yang tidak-tidak padaku." Ucap Raisa


Raisa tau, tentang masa lalu Ayah dan kerabat Rumi melalui mimpinya. Mereka pernah mempunyai sejarah kelam dalam hidupnya di masa lalu. Ayah Rumi dan para kerabatnya yang juga merupakan anak buahnya adalah penjahat bahkan menjadi buronan yang dicari oleh pemerintahan desa. Tapi, yang namanya sejarah adalah hal yang telah lama berlalu. Itu adalah kejadian yang telah berlalu. Dan kini mereka telah berubah menjadi orang yang lebih baik. Bahkan kadang kala mereka membantu dan bekerja sama dengan pemerintahan desa di bawah pemimpin desa yang baru. Walau sebenarnya mereka masih termasuk tahanan desa. Dan orang-orang yang menjaga di kawasan tempat tinggal mereka sebelumnya adalah penjaga dari desa yang bertugas menjaga ketat tempat tinggal mereka serta mengawasi pergerakan mereka. Tanpa izin dari pemimpin desa, mereka tidak diperbolehkan ke luar dari kediaman itu dengan sesuka hati.


"Aku memang terlalu khawatir. Tapi aku ingin lebih memastikan dengan caraku sendiri bahwa kau baik-baik saja supaya perasaanku pun bisa tenang. Kau kan tau, kau berarti untukku, kau telah menyelamatkanku, kau orang baik, kau temanku. Bahkan di dalam hatiku, aku menganggapmu lebih dari itu. Kau tau kan, Raisa... Aku menyukaimu!" Tutur Rumi mengungkapkan.


Perlahan tangan Rumi terulur untuk meraih tangan Raisa dan menggenggamnya dengan sangat erat. Mata Rumi pun menatap wajah Raisa tepat pada matanya. Mata Rumi pun mengunci pandangan mata Raisa.


Raisa yang sudah bersitatap dengan mata Rumi pun tak bisa lagi mengalihkan pandangan matanya dari mata Rumi. Tatapan mata mereka kini saling terkunci pada mata masing-masing! Namun, Raisa jadi merasa gugup. Tubuhnya menegang akibat mendapat tetapan intens dari kedua mata Rumi. Jantungnya kembali berdebar cepat dan kencang, mungkin Rumi pun mengalami hal yang sama dengannya. Lidah Raisa terasa kelu, tenggorokannya tercekat tidak bisa membalas atau pun menjawab perkataan Rumi. Otak Raisa seakan beku tak bisa memikirkan hal apa pun. Tubuhnya mematung tak bisa bergerak bebas di saat seperti ini.


Suasana kini berubah kian mencekam saking gugup yang Raisa rasakan. Namun, di sekelilingnya saat ini seolah banyak simbol hati (love-love) yang berterbangan di udara menambah suasana menjadi romantis.


Baru saja, Rumi hendak mengatakan sesuatu. Namun, sebelum kata-kata ke luar meloloskan diri dari mulut dan sela-sela bibirnya. Seseorang sudah mendahuluinya untuk berkata-kata.


"Rumi, Raisa, sedang apa kalian berdua di sana?" Tanya Morgan yang tiba-tiba muncul di sana.


Morgan datang memergoki Rumi dan Raisa sedang hanya berdua di sana. Di dapur dengan tangan Rumi yang menggenggam erat tangan Raisa. Morgan memicingkan matanya seolah bertanya-tanya dengan apa yang dilihatnya.


Merasa seperti sedang dipergoki, lantas membuat Raisa menarik kembali tangannya. Membebaskan tangannya dari genggaman erat tangan Rumi. Dengan sedikit gelagapan, Raisa menjelaskan situasi di sana pada Morgan.


"Ah, aku habis dari toilet dan bertemu dengan Rumi di sini lalu kami mengobrol sebentar." Jawab Raisa dengan dustanya.


Raisa tidak ingin Morgan sampai salah paham dan berpikir yang bukan-bukan tentangnya dan Rumi. Ia pun terpaksa berbohong untuk menutupi kebenaran yang sedang dilakukannya bersama Rumi. Raisa tak mungkin berkata jujur bahwa Rumi sedang menyatakan perasaan suka padanya lagi.


"Apa kau tersasar, Morgan? Kau mau ke mana?" Tanya Rumi


"Ah, aku juga mau ke toilet. Harus ke arah mana ya?" Ujar Morgan kebingungan.


"Dari sini, kau lurus lagi lalu belok ke kanan." Jawab Rumi


"Ya, kalau begitu, kau ke toilet lah lebih dulu. Aku dan Rumi akan ke meja makan. Kami duluan ya, Morgan." Ucap Raisa


"Ya, silakan saja." Kata Morgan


Morgan pun berlari ke arah toilet yang ditunjukkan oleh Rumi, sepertinya dia sudah tak bisa lagi menahan sesuatu.


Raisa pun menarik tangan Rumi untuk pergi dari sana agar Rumi tak lagi melanjutkan pembicaraan mereka yang masih belum selesai. Raisa tak ingin lagi terjebak dengan suasana canggung bersama dengan Rumi dan hanya berdua dengannya.


"Ayo, Rumi! Kita pergi dan menuju ruang makan." Ujar Raisa


Rumi merasa sedikit kesal karena hal yang ingin ia ucapkan gagal disampaikan. Lagi-lagi kebersamaannya dengan Raisa diganggu oleh seseorang. Namun, mendapati Raisa menggenggam tangannya dan mengajaknya pergi bersama membuat hatinya senang. Ia pun tersenyum bahagia.


Raisa baru menyadari apa yang dilalukannya. Saat ia hendak melepas genggamannya dari tangan Rumi, ia tak bisa lagi. Itu sudah terlambat karena Rumi sudah terlebih dulu membalas genggaman tangannya dengan sangat erat dan tak lagi bisa dilepaskan. Rumi memanfaatkan kesempatan yang ada ini untuk tidak lagi membiarkan Raisa lepas dari genggaman tangannya. Raisa pun menoleh padanya...


"Ya, ayo! Kita ke ruang makan, Raisa." Kata Rumi


Kini berbalik, Rumi yang menarik tangan Raisa untuk berjalan bersama menuju ruang makan. Raisa pun hanya bisa diam mengikuti Rumi dan berjalan di belakangnya.


---


Saat tiba di ruang makan, ternyata suasana di sana sangat terasa tegang. Mungkin di sana selain teman-teman Rumi yang datang juga ada Bibi Rina, Paman Garry, dan juga bahkan ada Tuan Rommy. Semua teman Rumi terdiam takut berada di satu ruangan yang sama dengan orang yang berwajah seram. Apa lagi mereka semua duduk di kursi di hadapan meja yang sama. Suasana di sana pun hening, legang, dan sunyi. Tak ada yang mampu berkata-kata...


"Rumi, Raisa, kalian berdua datang juga!" Seru Bibi Rina


"Iya, Bibi. Semuanya, kami datang." Balas Raisa


Rumi pun akhirnya melepaskan genggamannya pada Raisa. Raisa dan Rumi pun duduk di masing-masing kursi yang telah tersedia di sana.


"Kami menunggu semua lengkap, baru akan mulai makan." Ujar Tuan Rommy


"Berarti hanya tinggal menunggu Morgan kembali dari toilet." Kata Rumi


Setelah Morgan datang, makan bersama pun dimulai...


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2