Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
102 - Tertangkap Basah Penjaga Vila.


__ADS_3

Sebelum pergi menuju vila, untuk memastikan rumah yang ditinggal tetap aman, Raisa memasang sihir pendeteksi pada tanah rumahnya. Sihir pendeteksi ini sama seperti yang Raisa berikan pada teman-teman dimensi dunia lainnya, sihir pendeteksi yang diletakkan di tanah rumahnya berfungsi untuk dapat mengetahui jika terdapat pergerakan di rumahnya.


Dengan hanya satu tangannya saja, Raisa menggunakan sihirnya memasang sihir pendeteksi pada tanah rumahnya karena satu tangannya yang lain digunakannya untuk menahan Farah dalam gendongannya. Lambang Bunga Teratai pun muncul dan mengeluarkan sinar berwarna putih menandakan sihir pendeteksi sudah selesai dipasangkan dan telah berhasil aktif.


Setelah memasangkan sihir pendeteksi pada lingkungan rumahnya, Bu Vani langsung mengabarkan Pak Danu sang penjaga vila bahwa mereka sekeluarga dan teman-teman Raisa ingin datang mengunjungi dan menginap di vila.


"Ibu, udah selesai ngabarin Pak Danu kalau kita semua mau datang." Tutur Bu Vani


"Sudah selesai? Semua sudah siap belum nih?" Tanya Raisa


"Siap, Kak. Ayolah, gaskeun! Kita terobos gerbang portal teleportasi sama-sama!" Kata Raihan


Semua yang lainnya pun hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Raisa...


"Kalau begitu, aku buka gerbang portal teleportasinya sekarang ya." Ujar Raisa


Raisa pun kembali mengulurkan sebelah tangannya dan menggunakan kemampuan sihirnya. Setelah itu, di hadapan mereka semua pun muncul seberkas lingkaran hitam kecil yang terus secara misterius terbuka menjadi besar. Itulah gerbang portal teleportasi!


"Langkah kaki kalian gak boleh ragu-ragu saat masuk ya, harus cepat dan jangan takut." Tutur Raisa


"Teman-teman, kalian masuk saja lebih dulu. Aku akan mengawal keluargaku di belakang mereka." Ucap Raisa pada semua temannya.


"Kalau begitu, kami semua duluan ya." Kata Morgan


Satu persatu teman Raisa pun memasuki gerbang portal teleportasi lebih dulu. Kecuali Rumi yang masih diam menunggu...


"Aku akan masuk bersamamu saja, Raisa." Ucap Rumi


"Terserah kau saja." Kata Raisa


Setelah teman-teman Raisa yang terlebih dulu masuk, aatu persatu keluarga Raisa pun terikut masuk dengan saling merangkul satu sama lain karena baru pertama kali melalui gerbamg portal teleportasi. Pertama, Pak Hilman dan Bu Vani. Setelah itu Arka dan Raina. Dan terakhir adalah Raisa, Farah, Rumi dan Raihan.


Rumi merangkul Raisa yang menggendong Farah di dalam pelukannya, dan salah satu tangan Raisa yang lain mengggenggam tangan Raihan saat mereka semua memasuki gerbang portal teleportasi dari sihir milik Raisa...


Dan di langkah selanjutnya, mereka telah mendarat di halaman depan vila dengan semua yang sudah memasuki gerbang portal teleportasi terlebih dahulu.


"Bagaaimana rasanya pertama kali masuk lewat gerbang portal teleportasi?" Tanya Raisa


"Tidak terlalu buruk." Jawab Raina


"Ibu kok agak pusing ya?" Heran Bu Vani


"Ibu pasti takut pas masuk tadi ya? Dan seharusnya sewaktu di dalam gerbang penyebrang antar dimensi tadi, Ibu gak usah perhatiin sekeliling, fokus aja ke depan. Ini emang reaksi umum orang yang pertama kali masuk gerbang portal teleportasi, Ibu seharusnya lebih berani lagi." Ujar Raisa


"Maklumlah, Kak. Mungkin karena Ibu udah berumur, jadi sering merasa cemas berlebihan termasuk pas tadi masuk gerbang telepotasi juga." Kata Raihan


"Kamu sama Ibu sendiri, gak boleh bicara begitu ah!" Tegur Raisa


"Sudah lengkap ada semua kan? Raisa mau tutup gerbang portal teleportasinya." Ujar Raisa


Semuanya hanya mengangguk...


Raisa pun menggerakkan satu tangannya dan lingkaran hitam misterius itu pun perlahan memudar dan menghilang begitu saja.


"Sini, Farah-nya kasih ke kakak, Raisa." Pinta Raina


"Gapapa, kak. Biar aku gendong sampai dalam vila nanti." Kata Raisa


"Udah, sini aja. Kamu pasti berat gendong Farah dari tadi. Pak Danu kan masih belum datang buat buka kunci pintu vilanya." Ujar Raina


Raina pun langsung mendekati Raisa untuk mengambil alih Farah yang berada di dalam gendongan Raisa.


"Makasih ya, udah gendong Farah." Ucap Raina


"Gapapa, kak. Sama-sama." Balas Raisa


"Wah, Neng Raisa sekeluarga dan teman-teman hebat ya bisa langsung cepat datang. Tadi itu sihir apa, Neng?" Tanya seorang wanita patuh baya yang baru saja muncul.


"Apa tadi itu sihir teleportasi? Keren banget!" Ujar pria paruh baya yang juga muncul bersamaan.


"Pak Danu! Bu Weni!"


Wanita dan pria paruh baya yang muncul adalah sepasang suami istri penjaga vila yang baru saja ke luar dari dalam vila. Semua pun terkejut karena ada orang yang menyaksikan kemampuan sihir Raisa dengan mata kepala mereka.

__ADS_1


"Pak Danu dan Bu Weni, tadi lihat yang barusan itu ya?" Tanya Raina


"Iya, Neng. Tadi pas Ibu Vani kasih kabar kalau mau pada datang, kami lagi bersih-bersih vila dan baru aja ke luar. Kami lihat tadi." Jawab Bu Weni


"Tenang aja, Neng, Bu Pak. Kami berdua emang tahu tentang sihir Neng Raisa. Kakek Neneknya si Eneng yang kasih tahu kami supaya kami gak kaget lagi pas lihat langsung kayak sekarang." Ucap Pak Danu


"Kakek dan Nenek? Kalau begitu keluarga besar juga tahu tentang sihir Raisa dong?" Tanya Raisa


"Kemungkinan sih pada tahu, tapi yang Kakek Nenek cuma bilang salah satu dari semua cucu mereka bakal mewarisi bakat sihir dari leluhur. Mereka gak kasih tahu langsung siapa cucunya, jadi mungkin yang lain masih belum tahu cuma udah tahu peramalannya aja." Jelas Pak Danu


"Selain Pak Danu Dan Bu Weni, apa ada keluarga Bapak dan Ibu yang tahu juga tentang ini?" Tanya Raisa


"Yang tahu di sini sih cuma Ibu dan Bapak aja, Neng. Anak-anak kami gak ada yang tahu." Jawab Bu Weni


"Kami cuma pesan supaya Neng Raisa lebih hati-hati lagi supaya rahasia ini gak terbongar. Ini, kunci vila dan semua kunci kamarnya ada semua di sini." Pesan Pak Danu seraya memberikan kunci vila pada Bu Vani.


"Iya, Pak Danu. Terima kasih ya." Ucap Bu Vani


"Vila dan seisinya kan udah selesai dibersihkan. Terus, kapan mau makan siangnya, Bu? Biar nanti saya sama suami saya bantu siapin." Ujar Bu Weni


"Karena sekarang yang menginap bukan cuma Neng Raisa sama teman-temannya, biar saya dan istri saya ikut bantu-bantu masak, bersih-bersih, dan lain-lainnya. Jadi, kapan kira-kira mau kami siapkan makanan?" Ucap Pak Danu


"Kalau untuk makan siang mungkin nanti aja pas waktunya emang tiba, tapi mungkin kita semua butuh camilan kecilnya, Bu, Pak. Di dalam sudah ada kan?" Ujar Raisa


"Ada, Neng. Semua makanan ringan sudah tersedia, kulkas juga sudah terisi penuh." Ucap Bu Weni


"Kalau memang makannya nanti, kami pamit dulu. Silakan nikmati waktunya di vila. Kami permisi..." Kata Pak Danu berpamitan.


"Ya, mari, Bu, Pak. Silakan." Kata Pak Hilman


Setelah berpamitan, Bu Weni dan Pak Danu pun berlalu pergi dari tempat tersebut...


"Karena sudah dapat kunci vilanya, yuk kita semua masuk dan istirahat dulu." Ujar Bu Vani


Dengan kunci yang dipegang Bu Vani, vila pun dapat dimasuki dan semuanya dapat beristirahat sejenak...


Setelah masuk ke dalam vila, semuanya memilih dan membagi-bagi kamar untuk ditempati. Raisa dan semua temannya menempati kamar yang sudah pernah mereka tempati saat liburan waktu lalu. Sedangkan Bu Vani - Pak Hilman, Raina - Arka - Farah, dan Raihan memilih kamar pribadi dengan single bad di dalamnya.


"Bu, Pak, gapapa nih kalau aku yang nempatin kamar utamanya? Waktu lalu aku nempatin kamar itu kan karena yang menginap cuma aku dan teman-teman. Kali ini Ibu dan Bapak aja deh yang nempatin kamar utama itu. Kalau enggak, aku juga nempatin kamar lain aja deh jangan di kamar utama." Ucap Raisa


"Ih, gak enak sama Ibu dan Bapak lah. Masa anaknya yang nempatin kamar utama sih..." Ujar Raisa


"Iya, gapapa. Lagi pula, teman-teman kamu juga tahunya kamu nempatin kamar itu. Pasti nanti mereka kalau mau cari kamu perginya ke kamar itu." Ucap Bu Vani


"Huh, ya sudahlah. Oh ya, Bu, Pak, tentang yang tadi dibilang Pak Danu... Soal ramalan Kakek dan Nenek, Ibu juga tahu tentang ini? Terus selama kemampuan sihir Raisa udah muncul apa keluarga besar juga sudah tahu kalau Raisa orang yang diramalkan itu?" Tanya Raisa


"Bapak gak tahu banyak. Ibu yang lebih tahu karena Ibu adalah anak Kakekmu yang punya kemampuan itu, penghubung dengan leluhur itu." Ujar Pak Hilman


"Ibu gak nyangka kalau Pak Danu dan istrinya juga diberi tahu tentang ini sama Kakekmu. Sebelum sepeninggalannya, Kakek emang bilang akan ada salah satu dari cucunya yang akan mewarisi bakat sihir yang hebat dari leluhur, hal itu diberi tahu Kakek ke seluruh anaknya. Karena selama kemampuan sihir kamu ini muncul, kita belum pernah beri tahu langsung pada keluarga besar kayaknya mereka semua belum tahu deh, kecuali mungkin kalau dari mereka ada yang menyadari kalau kamu adalah gadis bersayap yang pernah viral waktu lalu, mungkin ada yang bisa menyadari dari situ." Ungkap Bu Vani


"Di antara semua keluarga besar ada gak sih yang sangat ingin punya kemampuan ini? Kalau ternyata ada yang ingin, tapi malah aku yang mewarisinya, apa mereka akan cemburu atau jadi benci sama aku?" Tanya Raisa


"Saat Kakek menyampaikan hal besar ini, semua emang kaget waktu mendengarnya, tapi selain keterketerkejutan mereka terlihat biasa aja. Ibu juga gak tahu, tapi semoga aja gak ada yang sampai sebegitunya." Jawab Bu Vani


"Ya, semoga itu gak terjadi. Ngomong-ngomong, mana semua temanmu, Raisa? Kenapa gak diajak ngumpul bareng lagi aja?" Ujar Pak Hilman


"Mereka semua masih ada di masing-masing kamarnya, mungkin masih istirahat, mungkin mereka masih canggung sama kita buat ngumpul bareng lagi. Ini aku baru mau ambilkan camilan buat mereka dulu." Ucap Raisa


"Ya udah, kamu bawakan mereka camilan dulu aja. Bilang ke teman-temanmu, jangan sampai rasa canggung mereka sama kami semua jadi buat mereka kelaparan saat terus diam di kamar. Ke luar dan berkumpullah lagi kalau mau." Ujar Bu Vani


"Iya, Bu, nanti aku sampaikan. Kalau begitu aku permisi dulu, mau ke dapur ambil camilan." Kata Raisa


Bu Vani dan Pak Hilman pun mengangguk...


Saat di dapur, Raisa bertemu Arka yang juga sedang mencari camilan untuk dirinya dan Raina di dalam kamar sambil menunggu Farah yang sedang tidur. Ternyata Farah benar-benar tertidur nyenyak dan tidak terbangun walau tempat keberadaannya sudah berbeda, Farah benar-benar tidak tahu jika dirinya sudah berpindah tempat bersama semua yang lainnya juga.


Setelah mengambil camilan, Arka langsung berpamitan dan beranjak pergi meninggalkan Raisa yang kerepotan sendirian.


Setelah menumpuk semua camilan di atas nampan, Raisa merasa sedikit kesulitan menjaga keseimbangan saat membawanya. Dengan berjalan perlahan, Raisa membawakan camilan bertumpuk pada tangannya menuju kamar teman-temannya.


"Permisi, layanan kamar datang!" Raisa datang langsung minta dibukakan pintu kamar oleh teman-temannya dari dalam kamar.


"Raisa, kukira siapa!? Kau terlihat sangat kerepotan, masuklah." Ujar Aqila saat membukakan pintu kamarnya.

__ADS_1


"Terima kasih, Aqila." Kata Raisa yang melangkah masuk ke dalam kamar berisi dua gadis tersebut.


"Raisa, kau membawa camilan? Terima kasih!" Ujar Chilla


Satu kamar ini diisi oleh Aqila dan Chilla saja. Jika ada Sanari yang ikut berkunjung ke dunia sini, mungkin saja kamar tersebut diisi oleh tiga orang seoerti liburan pertama mereka di sana.


"Ya, aku membawakan ini karena tahu kau pasti menginginkannya. Tapi, maaf tidak semua untuk di kamar ini saja. Pilihlah beberapa yang mungkin kalian suka, aku akan membawakan sisanya ke kanar yang lain juga." Ucap Raisa


"Baiklah, aku mengerti." Kata Chilla yang langsung memilih camilan yang dibawakan oleh Raisa.


"Kalau ingin, ke luarlah saja. Tidak perlu sungkan atau merasa canggung untuk berkumpul dengan keluargaku, jangan sampai diamnya kalian di kamar malah membuat kalian jenuh atau sampai kelaparan. Aku disuruh menyampaikan ini, tapi jika memang lelah istirahatlah." Ungkap Raisa


"Baik, terima kasih. Tapi, kau membawakan semua camilan ini sendirian, Raisa?" Ujar Aqila


"Iya, yang lain masih beristirahat di kamarnya masing-masing. Tapi, aku bisa menanganinya. Kau istirahat saja bersama Chilla, tidak perlu membantuku. Tapi, bisakah kau membukakan pintu untukku ke luar lagi?" Ucap Raisa yang tahu Aqila ingin membantunya.


Setelah Chilla memilih camilan untuk di kamarnya dengan Aqila, Raisa pun kembali menpuk camilan yang tersisa untuk dibawakan ke kamar temannya yang lain. Aqila membantunya membukakan pintu untuk ke luar...


"Kau bisa beristirahat lagi. Terima kasih, Aqila." Kata Raisa


"Terima kasih kembali. Hati-hatilah membawa semua camilan itu." Balas Aqila


Raisa mengangguk dan langsung beranjak ke kamar temannya yang lain. Menuju kamar Amy-Wanda-Sandra, lalu ke kamar Marcel-Billy-Dennis, dan terakhir kamar Morgan-Rumi- Ian-Devan.


"Permisi, ini aku! Bisa buka pintunya?" Ujar Raisa yang mengetuk pintu dari luar kamar.


Karena kamar tersebut adalah kamar terakhir kunjungannya, Raisa telah bisa menggunakan kedua tangannya sedikit lebih leluasa karena camilan yang dibawanya hanya tinggal untuk kamar itu saja dan tidak lagi banyak camilan yang tersisa yang harus dibawanya.


Kriiettt~


Pintu kamar pun terbuka dari dalam.


"Ternyata, benar! Itu kau, Raisa!" Kata Rumi yang membukakan pintu.


Raisa tersenyum manis...


"Aku membawakan kalian yang di dalam kamar ini camilan. Boleh aku masuk ke dalam sebentar?" Ujar Raisa


"Tentu, boleh. Silakan, masuk." Kata Rumi mempersilakan Raisa untuk masuk ke dalam kamar.


"Terima kasih, Rumi." Ucap Raisa yang melenggang masuk ke dalam kamar tersebut.


"Halo, semua. Aku datang!" Sapa Raisa saat masuk ke dalam kamar beranggotakan 4 lelaki itu.


"Raisa, kau membawakan kami camilan, rupanya." Kata Ian


"Ya, aku membawa camilan ini untuk kalian. Ke luarlah jika ingin yang lain. Tidak perlu sungkan atau merasa canggung dengan keluargaku, kalian tadi sudah sempat saling berkenalan dan mengobrol kan?" Ucap Raisa


"Ya, kami tahu." Kata Devan


"Hei, Raisa! Aku tadi sangat terkejut saat ada orang yang melihatmu menggunakan kemampuan sihir, tapi ternyata mereka memang sudah tahu tentang rahasiamu ya..." Ujar Morgan


"Awalnya aku juga terkejut, tapi saat aku bertanya pada orangtuaku... Ibuku bilang, sebelum sepeninggalannya Kakekku pernah beri tahu tentang ramalan salah satu cucunya yang akan mewarisi sihir leluhur dan ternyata sampai penjaga vila ini juga diberi tahu, mungkin memang untuk jaga-jaga supaya mereka tidak terlalu terkejut jika melihat orang yang menginap di sini bisa menggunakan sihir, itu sebabnya mereka juga diberi tahu." Jelas Raisa


"Untunglah mereka sudah tahu dan bisa menjaga rahasia. Lain kali kau benar-benar harus berhati-hati saat menggunakan sihirmu di duniamu sendiri." Ucap Devan


"Aku juga sudah mengerti." Kata Raisa


"Kau harus lebih berhati-hati. Dan kapan kita bisa bertemu lagi, Raisa?" Ujar Rumi


"Sebentar lagi waktu makan siang, kita semua bisa bertemu lagi saat itu." Ucap Raisa


..."Apa di saat seperti ini Rumi mengkhawatirkan tentang pertemuan kami berdua? Ada-ada saja lelaki ini..." Batin Raisa...


"Kalian istirahatlah lebih lama di kamar ini. Nanti saat makan siang aku akan memanggil kalian. Aku pergi dulu." Ujar Raisa


"Sampai bertemu lagi, Raisa." Bisik Rumi


Raisa tersenyum saat mendengar bisikan dari Rumi, lalu ia berlalu pergi dari kamar tersebut.


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2