
Raisa dan Rumi pun beranjak kembali masuk ke dalam vila...
Saat masuk, di dalam vila... Rumi meminta Raisa untuk duduk diam saja di sofa ruang berkumpul. Rumi pun menemani Raisa duduk diam di sana untuk memastikan Raisa tidak menghampiri atau bahkan hanya sekadar mengintip menuju ke dapur sekali pun!
Namun, Raisa pun hanya menuruti permintaan Rumi untuk tetap duduk diam di sana. Karena hanya diam saja, Raisa pun hanya memainkan ponselnya, hanya mengutak-atiknya tidak jelas karena tidak tahu harus apa menggenggunakan ponselnya itu. Raisa hanya bosan...
Karena ada di sampingnya, akhirnya Raisa menunjukkan beberapa cara penggunaan ponsel pada Rumi. Sudah pernah menjelaskan tentang cara mengirim pesan, kali ini Raisa menjelaskan banyak tentang cara menelpon, mencari informasi lewat aplikasi internet dari 'Google', mengunduh aplikasi tertentu dan cara menggunakannya, dan banyak yang lainnya lagi.
Mulai kembali merasa suntuk setelah menunjukkan banyak cara penggunaan ponsel pada Rumi, Raisa sudah tidak tahu lagi cara pengusir bosan saat menunggu seperti ini...
"Apa aku benar-benar tidak boleh melihat mereka di dapur? Harus terus menunggu di sini, begitu?" Akhirnya Raisa kembali angkat bicara dan menanyakan hal serupa karena bosan menunggu.
"Ya, kau harus tetap di sini. Diam dan menunggu saja." Jawab Rumi
"Sebenarnya, apa yang sedang mereka semua rencanakan? Membuat sesuatu untuk memberi kejutan padaku?" Tanya Raisa
"Mungkin..." Singkat Rumi
"Apa kau tahu apa yang sedang mereka rencanakan?" Tanya Raisa
"Entahlah, aku tidak tahu. Saat mereka pergi ke dapur, aku langsung diminta untuk menghampirimu di luar dan mencegahmu melihat mereka. Lagi pula, jika mereka ingin memberi kejutan bukankah memang harus dirahasiakan?" Ujar Rumi
"Baik, baik... Tapi, aku bosan terus diam dan menunggu di sini!" Ucap Raisa
"Menurutku, kau sudah sangat bersabar. Kenapa tidak coba bersabar sebentar lagi? Kalau kau terus penasaran, kenapa tidak dari tadi kau menerobos ke dapur saja, malah memilih diam menunggu di sini?" Ujar Rumj
"Sepertinya, bersabar memang salah satu sifat yang kupunya. Lalu aku tahu, jika aku memaksa menerobos ke dapur kau pasti melakukan segala cara untuk mencegahku. Kupikir itu hanya membuang tenaga, jadi kupilih untuk diam dan menunggu. Lagi pula, aku juga ingin menghormati keinginan teman-temanku yang melakukan sesuatu untukku." Jelas Raisa
"Ya, seperti itulah dirimu kan, Raisa?" Tanya Rumi
"Haha, kau juga pernah berkata seperti itu saat sudah memahami sifat Morgan. Apa artinya kau sudah memahami diriku juga?" Ujar Raisa
"Sepertinya karena semakin mengenalmu, aku jadi bisa sedikit lebih memahami tentang dirimu." Kata Rumi
"Ah, kalau begitu aku ingin ke toilet saja." Ucap Raisa yang beranjak bangkit dari posisi duduknya.
"Aku ikut!" Cepat Rumi yang ikut bangkit dan berdiri.
"Tunggu, APA!? Kau tetap mau menjagaku seketat ini? Aku tidak akan ke dapur, aku akan menggunakan toilet di dalam kamarku. Kau tidak perlu mengawasiku sampai berlebihan seperti ini!" Cegah Raisa
"Ini bukan keinginanku, tapi aku tetap harus mengawasi di dekatmu." Ucap Rumi
"Ah, kalau begitu tidak jadi saja! Aku akan tetap di sini." Kata Raisa yang kembali duduk di sofa seperti semula.
"Kenapa tidak jadi? Kalau kau ada perlu ke toilet, pergi saja. Aku hanya akan mengikuti dan berjaga di luar pintu kamarmu, aku tidak akan melakukan hal aneh apa pun!" Ujar Rumi yang kembali ikut duduk di samping Raisa.
"Tidak usah! Tadinya aku hanya ingin membasuh wajah supaya jadi sedikit lebih segar, tapi aku tetap tidak akan nyaman jika kau sampai mengikutiku. Jadi, aku tetap diam menunggu di sini saja, tidak perlu basuh wajah lagi." Ucap Raisa yang menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa yang empuk.
"Jangan marah ya, Raisa. Aku benar-benar hanya diminta melakukan ini." Kata Rumi
"Tidak, aku tidak marah padamu kok. Bagus jika kau memegang amanah yang dipesankan padamu. Sudahlah, aku akan memejamkan mata dulu saja sebentar. Jika sampai aku tertidur, bangunkan aku jika teman-teman sudah selesai dari dapur ya, Rumi." Ujar Raisa
"Baiklah. Buatlah dirimu senyaman mungkin." Kata Rumi
Terus merasa bosan karena tidak bisa melakukan apa-apa, akhirnya Raisa memilih untuk memejamkan matanya sejenak. Rumi pun hanya terus diam menemani Raisa di sampingnya seperti itu saja... Karena memang tidak ada gangguan, Raisa mulai terlelap ke dalam buaian alam bawah sadarnya dan tertidur dengan pulas.
"Sepertinya, Raisa benar-benar tertidur..." Gumam pelan Rumi sambil memperhatikan wajah lelap Raisa dari samping.
Rumi terus menatapi wajah Raisa dari dekat di sampingnya. Memerhatikannya dengan seksama dan sangat teliti sampai merasa kagum pada pemandangan indah yang tersaji dekat dengannya. Raisa yang tertidur terlihat tenang dan damai juga tetap terlihat cantik di matanya. Dilihatnya baik-baik garis wajah Raisa yang membuatnya terus tersenyum tanpa pudar.
Tangan Rumi mulai menyentuh wajah indah Raisa itu... Mulai dari keningnya, terus turun ke hidungnya yang kecil menggemaskan, pipinya, dan berakhir pada dagu menawan itu. Namun, tatapan mata Rumi malah terhenti pada bibir merah dan lembut yang juga hangat milik Raisa. Rumi pernah merasakan bibir itu berulang kali dan masih mengingat jelas perasaan itu di dalam memori terindahnya. Tabgan Rumi pun mulai berpindah menyentuh bibir miliknya sendiri. Memori indahnya mulai mengulas kembali saat-saat mesra bibirnya dan milik Raisa yang pernah bersatu padu dan menjadi kesatuan yang lebih dalam lagi. Hanya dengan mengingatnya saja sudah membuatnya merasa adanya sengatan-sengatan cinta yang mendebbarkan. Perasaan lembut, manis, hangat, bahkan panas mulai muncul dan dirasakan kembali olehnya.
Tak ingin terbuai oleh lamunannya sendiri, Rumi mencoba menyadarkan dirinya dengan menggelengkan kepalanya agar dapat kembali waras dan menghilangkan pikiran-pikiran memabukkannya itu. Rumi pun kembali tersenyum saat tersadar dan kembali menatap wajah kekasih tercintanya. Tak mungkin Rumi akan mengulang kesalahan lama yang akan membuat Raisa marah karena mencuri cium saat gadisnya itu sedang tertidur dalam lelap.
Rumi pun memindahkan kepala Raisa agar dapat bersandar pada bahunya. Saat melakukan itu, Raisa bahkan menggeliat untuk mencari posisi tidur ternyamannya sambil bersandar pada bahu Rumi, walau Raisa tak sadar akan kelakuannya saat tertidur itu. Bukannya merasa tidak nyaman dengan pergerakan yang dibuat Raisa, Rumi malah menyusupkan satu tangannya ke belakang tubuh Raisa dan berakhir merangkul pinggang ramping gadis kesayangannya itu. Membiarkan Raisa terus tertidur dalam posisi nyamannya itu walau sebagai gantinya Rumi akan merasakan tidak nyaman pada sebelah tangannya.
Rumi terus menjaga Raisa yang tertidur dengan nyaman agar tidak sampai terusik... Namun, ternyata Raisa telah dibiarkan tertidur cukup lama sampai teman-teman yang lain pun muncul dan datang dari dapur untuk menemui mereka berdua. Raisa dan Rumi... Mereka melihat, Raisa sedang terlelap dengan nyenyaknya dengan Rumi yang terus menjaga di sampingnya dalam diam dan ketenangan yang sempurna~
"Raisa, sampai tertidur, rupanya..." Ujar Morgan
Rumi pun meletakkan jari telunjuknya di hadapan bibir miliknya sendiri...
__ADS_1
"Stt~ Biarkan Raisa tidur lebih lama dulu. Mungkin dia lelah menunggu sampai akhirnya tertidur seperti ini." Pelan Rumi
"Ternyata, kau pandai juga menjaganya di sini sampai dia pun menurut dan tertidur ya, Rumi." Ujar Amy
"Sepertinya bagus juga jika Rausa tertidur untuk sekarang. Kita jadi bisa mengatur kejutan yang lebih dari ini untuknya. Aku juga ingin bersiap dan mandi dulu lagi. Rasanya kurang nyaman setelah lama berkutat di dapur, tubuhku berkeringat!" Ucap Chilla
"Kalau begitu, kita akan mandi lagi secara bergilir. Yang menunggu giliran mandi, bantu siapkan kejutan yang lainnya dulu bersamaku." Kata Aqila
"Baiklah." Serempak yang lain tetap dengan suara kecil.
Sementara yang lain bergilir untuk mandi dan menyiapkan kejutan yang lain, Raisa terus tertidur dengan bahu Rumi sebagai sandaran ternyamannya. Mengabaikan yang lain, Rumi tetap menjaga tidur Raisa agar berlangsung lebih lama dengan menyediakan sandaran ternyaman untuk gadisnya itu.
Sementara yang lain sibuk menyiapkan kejutan, Rumi malah asik membelai wajah dan rambut milik Raisa secara bergantian untuk membuat tidur gadisnya lebih nyaman dan nyenyak.
"Hati-hati, Rumi! Jika kau mengusapnya seperti itu, takutnya Raisa malah akan terbangun dari tidurnya dan rencana kejutan kita untuknya akan gagal!" Ucap Wanda
"Tidak akan. Dia akan tidur lebih lelap jika seperti ini, tenang saja." Kata Rumi
"Kau sangat memahami Raisa, rupanya. Sampai Raisa dibuat nyaman dengan sentuhan lembut darimu." Ujar Sandra
Setelah semua kejutan telah siap, semuanya pun berkumpul di ruang berkumpul tersebut menunggu Raisa terbangun dari tidurnya. Saat mulai terusik dengan semua suara temannya yang berkumpul di sekelilingnya, Raisa pun mulai terbangun dari tidurnya. Raisa mulai mengerjapkan mata secara perlahan dan kesadarannya pun mulai kembali pulih.
Nggh~
"Hmm... Berapa lama aku tertidur? Kenapa kau tidak membangunkanku, Rumi?" Tanya Raisa
"Kau terlihat sangat lelap, jadi aku membiarkanmu tidur sedikit lebih lama." Jawab Rumi
"Kalau kau cepat bangun, kami semua akan kesulitan menyiapkan ini semua untukmu." Ujar Dennis
"Menyiapkan apa?" Tanya Raisa yang masih belum sadar apa yang ada di hadapannya.
"KEJUTAN!!~~" Sorak semuanya membuat Raisa langsung sadar sepenuhnya.
Sungguh sebuah kejutan! Ada beberapa makanan yang tersaji di atas meja ruang kumpul di hadapan Raisa. Ada beberapa jenis kue panggang, pudding, minuman sirup. Dan yang paling mengejutkan adalah makanan inti yang telah dibuat, yaitu nasi tumpeng dengan ukuran yang cukup besar dengan beberapa topping lauk pendamping!
"Kalian menyiapkan ini semua untukku? Mengejutkan sekali! Terutama nasi tumpeng itu! Bagaimana bisa kalian membuat ini semua?" Ucap Raisa yang terkejut dan bertanya-tanya.
"Sebenarnya, tadi pagi saat Bu Weni dan Pak Danu membuat sarapan... Beberapa dari kami bertanya cara membuat hidangan kejutan untuk perayaan kecil-kecilan, jadi kami membuat hidangan ala dunia sini karena bisa dibilang inilah hidangan paling praktis dibuat dengan bahan-bahan yang ada di sini." Jelas Aqila
"Kami bekerja sama sebisa mungkin membuatkanmu kejutan. Hasilnya hanya bisa membuatkan semua hidangan sederhana ini. Kami juga baru pertama kali membuaat yang seperti ini, semoga saja rasanya tetap memuaskan! Karena cukup merepotkan juga saat kami membuatnya!" Ujar Devan
"Tapi, semua ini kejutan dalam rangka merayakan apa? Hari lahir atau ulang tahunku masih lama loh..." Bingung Raisa
"Tentu saja, untuk merayakan kelulusanmu, Raisa!" Kata Billy
"Ya ampun, kukira apa...! Terima kasih loh sampai membuat kalian repot begini. Kok bisa kalian sampai kepikiran untuk merayakan kelulusanku seperti ini sih? Aku bahkan tidak terpikir sampai ke sana karena bagiku kalian sudah datang ke sini saja sudah cukup untukku dan membuatku sangat senang!" Ujar Raisa
"Tentu saja, harus dong! Kami datang ke sini memang untuk tujuan ini. Sebelumnya saja, saat di rumahmu, keluargamu menyiapkan banyak hidangan untuk kami. Kali ini juga kami harus menyiapkan hidangan untuk merayakan kelulusanmu." Ucap Ian
"Ahahaha... Padahal kalian tidak perlu repot-repot sampai seperti ini. Terima kasih banyak! Aku jadi tidak sabar ingin mencobanya. Pasti kalian juga sama sepertiku, ini kan hasil buatan pertama kalian!" Kata Raisa
"Tentu saja! Katanya, puncak pertama nasi tumpeng harus diberikan pada tokoh utama dalam perayaan, yaitu Raisa! Biar aku yang mengambilkannya untukmu... Lalu, setelah Raisa, tentu saja untukku!" Ujar Chilla yang setelah memberikan bagian untuk Raisa langsung mengambil bagian untuk dirinya sendiri.
"Baiklah, terima kasih! Yang lain, makanlah juga... Hidangan ini kan kalian yang buat. Ini juga perayaanku, jadi semuanya harus sama-sama menikmati. Terima kasih untuk semuanya!" Ucap Raisa
Raisa pun mencoba menyuap satu sendok nasi ke dalam mulutnya...
"Hmm... Rasanya enak! Sama dengan buatan asli orang sini! Kalian mahir membuatnya, aku suka!" Puji Raisa
"Rasanya memang sederhana, tapi tetap enak!" Kata Chilla yang sudah menghabiskan setengah porsi piringnya.
"Karena ini memang hidangan sederhana di sini. Sejak jaman dulu, saat adanya perayaan tradisional kami selalu membuat hidangan ini karena di zaman dulu belum ada yang bisa membuat kue bolu atau semacamnya. Dahulu, hidangan ini adalah andalan bagi kami." Jelas Raisa
Semua teman yang lain pun bersama-sama menikmati nasi tumpeng hasil buatan mereka itu, terutama Chilla yang sudah dua kali menambah porsi makannya. Kecuali, Rumi...
Rumi hanya terus memerhatikan yang lainnya yang sedang makan.
"Kenapa kau hanya diam? Makanlah juga, Rumi!" Ujar Morgan
Rumi sedikit menyayangkan... Ia tidak ikut memasak untuk membuat nasi tumpeng bersama yang lain, ia juga ingin dipuji telah membuat yang terbaik dengan hasil masakan yang terasa enak bagi Raisa. Walau sebagai gantinya, ia bisa terus menemani Raisa dan hanya berdua saja dengan gadisnya. Namun, tetap saja Rumi pun ingin mendapat dan mendengar pujian Raisa untuknya juga.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak makan juga, Rumi? Semuanya makan kecuali kau. Rasanya enak kok! Atau kau mau mencobanya dulu untuk memastikan?" Ujar Raisa
"Bolehkah? Aku mau! Aaaa..." Rumi langsung membuka mulutnya, meminta Raisa menyuapinya.
Rumi mengira dengan ucapan Raisa, Raisa hendak menyuapinya agar ia dapat coba mencicipi sedikit rasa masakan tersebut. Berbeda dengan yang Raisa maksud... Yang dimaksud ucapan Raisa adalah mempersilahkan Rumi untuk mencicipi sendiri, tapi Rumi malah salah mengartikan maksud dari ucapannya.
"Eh, tentu saja! Bo.. Boleh!" Kata Raisa yang mau tak mau harus menyuapi Rumi sesendok nasi.
Raisa pun menyendok satu suap untuk diberikan pada Rumi. Karena Rumi sudah menantikan suapan darinya, Raisa tak mau membuat Rumi malu karena sudah membuka mulut di hadapannya.
HAP!
Yumm~~
Rumi pun menerima satu suapan dari tangan Raisa...
"Bagaimana? Rasanya enak, bukan?" Tanya Raisa
"Apa pun darimu untukku akan terasa spesial, Raisa!" Jawab Rumi yang malah terdengar ambigu bukannya menjawab tentang rasa nasi tumpeng tersebut.
"Kau ada-ada saja, Rumi! Di saat seperti ini, seharusnya kau yang menyuapi Raisa si tokoh utama perayaan ini. Harusnya kau yang memanjakannya bukan malah dimanjakan olehnya!" Kritik Ian
"Oh, begitukah? Maaf, aku tidak tahu. Kalau begitu, ke marikan! Biarkan aku menyuapimu juga, Raisa..." Ujar Rumi yang langsung mengambil alih sebdok yang digenggam Raisa dan menyendoki satu suap untuk diberikan pada Raisa.
"Buka mulutmu, terima ini..." Pinta Rumi yang sudah menyodorkan satu suapan di hadapan Raisa.
"Ah, tidak perlu. Aku bisa sendiri." Kata Raisa yang menolak dengan halus.
"Tidak apa, ayolah... Kalau tidak, nasinya akan kembali berjatuhan." Ucap Rumi
"Baiklah... Terima kasih!" Raisa pun mau tak mau menerima suapan dari Rumi.
"Hmm... Kalau di saat acara seperti ini biasanya yang saling memerhatikan, saling memanjakan, dan saling menyuapi itu hanya sepasang kekasih. Seperti kalian ini!" Tutur Chilla menginterupsi.
Uhuk!
Raisa langsung tersedak saat mendengar penuturan Chilla.
"Pelan-pelan, Raisa! Minumlah dulu..." Rumi langsung memberikan segelas sirup segar pada Raisa.
"Jika sedang tersedak, ada baiknya minumnair mineral saja." Saran Amy
"Oh, baiklah! Minumlah, Raisa..." Rumi langsung mengganti segelas sirup yang dipegangnya dengan segekas air putih mineral dan memberikannya pada Raisa.
Glug... Glug!
Glug~
Raisa pun menegak air mineral pemberian Rumi untuknya.
"Ah, sudah membaik. Terima kasih, Rumi." Ucap Raisa
"Jadi, bagaimana? Apa kalian berdua menjalin hubungan kasih, Raisa, Rumi?" Tanya Devan dengan maksud bergurau saja meledek Raisa dan Rumi.
"Ahahahaha!" Raisa hanya tertawa canggung menanggapi gurauan Devan.
Raisa pun langsung menaruh piringnya di atas meja dan beralih meraih piring lain. Mengisi piring baru dengan makanan, seperti nasi kuning tumpeng beserta lauk pendampingnya. Lalu, Raisa memberikan piring yang sudah dilengkapi makanan itu pada Rumi...
"Ini untukmu, Rumi! Makanlah juga srperti yang lain." Ucap Raisa
"Terima kasih, Raisa." Kata Rumi setelah menerima piring berisi makanan pemberian Raisa untuknya.
Sudah jelas maksud dari perbuatan Raisa! Raisa ingin Rumi makan sendiri terpisah dengannya agar tidak mendapat ledekan serupa dari tenan yang lain seperti halnya yang Devan katakan tadi.
"Perhatian sekali! Kalian berdua ini memang cocok jadi sepasang kekasih!" Ledek Morgan
Tapi, memang berada dalam ikatan hubungan pertemanan itu tak luput dari hal seperti lelucon atau gurauan. Seperti halnya juga yang bersifat ledekan terhadap dua insan...
Walau Raisa dan Rumi terus mengelak, tetap saja yang lainnya gencar meledek keduanya~
.
__ADS_1
•
Bersambung...