Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 148 - Tak Peduli Dengan Apa Pun Lagi.


__ADS_3

Senyum di bibir dan wajah Sang Dewa pudar dan bergantikan dengan raut masam penuh rasa tidak suka dan amarah.


Sepertinya Sang Dewa merasa marah saat Raisa membantah dan tidak patuh lagi dengannya. Tidak seperti yang dijanjikan wanita itu semalam. Apa lagi saat Raisa meninggikan suara dan menghina dirinya.


Sang Dewa mungkin memang marah, tapi Raisa lebih marah lagi dengannya. Rasanya wanita cantik itu ingin sekali meledakkan tempat itu bersama dengan sang pemilik yang sedang ada di hadapannya saat ini. Namun, inginnya itu hanya sebuah khayalan karena khawatir jika Raisa meledakkan tempat itu, maka Sang Dewa akan meledakkan bumi beserta segala isinya. Keduanya mungkin bisa melakukan kedua hal itu, tapi keduanya lebih memilih untuk menahan amarah masing-masing.


Jika bertindak gegabah, Sang Dewa khawatir tidak bisa lagi menjadikan Raisa sebagai istri untuk memperbanyak keturunannya. Padahal hal itu memang sedari awal tidak akan pernah bisa untuk terwujud karena Raisa tidak akan pernah sudi.


"Sekarang biarkan aku bertanya padamu dan kau jawablah. Apa tujuanmu membawaku pergi bersamamu?" tanya Raisa


"Bukankah kau sudah tahu jawaban dari pertanyaanmu itu? Kau pasti sudah tahu apa yang terjadi di masa lalu dulu," ujar Sang Dewa


"Berada pada situasiku sekarang aku tidak ingin mengakui masa lalu itu dan lebih tidak ingin membahasnya dengan mulutku sendiri. Maka harus kau sendiri yang mengatakannya," kata Raisa


"Baiklah, akan kukatakan sesuai keinginanmu, Dewi-ku. Dulu aku juga pernah membawa Putri Suci bernama Hani karena ingin menikahinya, tapi manusia rendah bernama Nathan mengganggu dan mengacaukan semuanya. Kali ini kaulah yang lebih pantas menjadi istriku dari pada ketiga Putri Suci yang ada, maka aku akan menikahimu. Kita berdua akan menjadi pasangan suami istri yang paling sempurna," ungkap Sang Dewa


Sepertinya Sang Dewa kembali merasa senang saat Raisa tidak lagi meninggikan suara dan bersedia bertanya dengan suara lembut dengannya. Namun, pria dewa tidak sepenuhnya melupakan amarahnya mengingat sebelumnya Raisa telah menghinanya.


Raisa sudah menduga tujuan Sang Dewa itu. Namun, wanita itu masih tidak menyangka dan lebih tidak bersedia. Sampai kapan pun suaminya hanyalah Rumi seorang. Pernikahan dengan pria lain tidak akan mungkin pernah bisa terjadi.


Raisa ingin kembali meluapkan amarahnya, tapi berusaha sebisa mungkin untuk menahan. Ia ingin mencoba bicara baik-baik dengan Sang Dewa.


"Jika itu tujuanmu, lalu apa alasanmu memilihku? Seperti yang kau tahu. Aku hanya manusia biasa, sudah memiliki suami dan telah menikah, juga bukan merupakan keturunan keluarga bangsawan Dewa-Dewi. Apa yang membuatmu memilihku? Bukankah masih banyak gadis hebat di luar sana?" tanya Raisa


"Karena kau manusia istimewa, kau memiliki jiwa Sang Dewi yang berenkarnasi di dalam tubuhmu, dan aku tidak peduli meski kau sudah memiliki suami. Saat menikah denganku nanti, maka pernikahanmu yang sebelumnya akan langsung tidak dianggap dan sia-sia saja. Yang pantas menjadi suamimu hanya aku," jelas Sang Dewa


"Tidak mungkin bisa terjadi. Pernikahan adalah suatu yang sakral dan pernikahan yang sudah sah tidak bisa jadi tidak dianggap begitu saja. Aku pun tidak akan menikah lagi dan suamiku sampai kapan pun hanya satu," ucap Raisa


"Seperti itulah jika kau menikah dengan seorang Dewa sepertiku. Karena status dan kemampuanku adalah yang tertinggi maka yang akan dianggap sah adalah pernikahan denganku. Itulah peraturan di dunia Dewa-Dewi," ujar Sang Dewa


Sangat tidak masuk akal. Rasanya Raisa ingin langsung memaki sambil memekik, "dasar, pria gila!" Namun, Raisa hanya bisa mengepalkan tangannya untuk menahan amarah yang semakin menjadi-jadi di dalam dadanya itu.


Entah siapa yang membuat peraturan seperti itu, yang Raisa tahu dengan jelas adalah itu hanya akal-akalan saja. Yang diketahui tentang pernikahan di dunia Dewa-Dewi adalah setidaknya jika dua orang tidak saling mencintai, cukup dengan saling setuju maka pernikahan dua orang itu menjadi sah.


Sama halnya di dunia manusia yang seperti itu. Sedangkan aturan pernikahan yang dikatakan Sang Dewa tadi tidak pernah ada atau justru pengesahan aturan itulah yang tidak sah secara wajar atau itu adalah aturan yang dipaksakan untuk diciptakan.


Meski tidak percaya dan tidak mengakui dengan adanya status yang disebut dengan Dewa dan Dewi, yang Raisa tahu adalah leluhur Dewa di dunia itu adalah seorang yang benar-benar bijak dan rasional. Leluhur Dewa itu tidak pernah membuat aturan yang terdengar tidak masuk akal seperti yang dikatakan Sang Dewa tadi, sedangkan peraturan yang dibuat oleh Leluhur Dewa adalah sesuatu yang mutlak yang tidak bisa diubah atau pun ditambah sampai kapan pun. Karena itulah aturan pernikahan yang dikatakan Sang Dewa tadi hanyalah akal-akalan dan merupakan aturan tidak jelas yang tidak sah dan tidak dianggap.


"Kau salah. Dengarkan aku. Jika kau mencari suatu yang sempurna, maka aku bukan pilihan yang tepat. Aku bukan seorang Dewi dan hanya manusia biasa. Lagi pula, suamiku hanya satu dan aku tidak akan menikah dengan siapa pun lagi. Kau tak akan bisa memaksaku sampai kapan pun itu," ucap Raisa yang bersikeras.


"Kau sangat keras kepala dan bicaramu hanya terus berputar-putar. Pada akhirnya kau tetap harus menikah denganku. Kau hanya perlu camkan itu!" seru Sang Dewa


"Kaulah yang tidak mau mengerti. Kepalamu-lah yang keras seperti batu. Harusnya kau mengakui kenyataan bahwa aku bukanlah pilihan yang tepat itu!-" perkataan Raisa terhenti saat Sang Dewa memotong dengan semaunya.


"Kaulah yang tidak mengerti bahwa hanya aku kandidat yang tepat untuk menjadi suamimu. Kurasa akan sulit bicara denganmu sekarang. Aku pergi saja. Aku juga sudah tidak nafsu makan. Kau makan sendiri saja. Kau harus tetap makan meski kau tidak suka dan karena kau sudah ada di sini maka kau harus ikut patuh dengan semua keputusanku. Kau harus introspeksi dan menenangkan diri. Aku ingatkan padamu bahwa kita adalah calon suami istri." Sang Dewa bicara dengan nada penuh ketegasan.


Sang Dewa pun bangkit berdiri dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan Raisa yang terduduk di kursi meja makan.


"Hei, aku nasih belum selesai bicara! Mau ke mana kau? Jangan pergi!" teriak Raisa dengan kencang.


Sang Dewa hanya mengabaikan dan tidak memedulikannya. Raisa hendak mengejarnya. Namun, para pelayan yang menunggu dan senantiasa berjaga di sana menahan Raisa agar tidak pergi dari ruang makan tersebut.


"Maaf, Nona Dewi, silakan kembali duduk. Anda tidak boleh pergi dari sini sebelum makan. Selamat menikmati hidangan yang tersedia." Pelayan di sana bicara dengan nada suara rendah dan sangat sopan.

__ADS_1


"Hei, Arion!" teriak Raisa


Namun, percuma saja. Meski menyerukan nama pria dewa itu, Sang Dewa sudah lebih dulu menghilang di balik pintu besar dan tinggi di sana.


Secara perlahan dan hati-hati, pelayan di sana menekan tubuh Raisa yang sedang berdiri untuk kembali duduk di kursi. Perlakuannya memang secara halus, tapi tetap saja itu adalah sebuah pemaksaan.


Raisa pun menggeram pelan. Wanita itu terpaksa tidak bisa melakukan apa-apa setidaknya untuk saat ini.


Saat ini Raisa bahkan tidak memiliki nafsu makan sama sekali meski di hadapannya kini telah dihidangkan makanan yang mewah sekali pun.


Raisa bahkan tidak bisa memastikan apakah semua makanan itu aman atau telah diberi racun atau sihir ilusi atau semacamnya. Yang jelas wanita cantik itu tidak ingin jadi patuh begitu saja.


Namun, karena harus sarapan karena dipaksa. Maka Raisa mengambil gelas berisi air mineral dan langsung meneguknya hingga tandas tak bersisa. Yang tersisa hanya sebuag gelas yang kosong, lalu Raisa mencekal gelas tersebut dengan sangat amat erat hingga akhirnya pecah di dalam genggamannya.


Bahkan Raisa pun menggebrak meja makan dengan sangat kuat hingga telapak dan jari-jemari tangannya yang terluka karena terkena pecahan gelas kaca semakin mengeluarkan lebih banyak darah yang terus mengalir deras dan serpihan kaca dari gelas tersebut semakin menancap ke dalam daging tangannya.


Pelayan yang berjaga di sana langsung merasa syok dan panik karena khawatir terjadi sesuatu pada Raisa yang berstatus sebagai calon istri dari Tuan Dewa-nya. Pelayan itu merasa takut Tuan Dewa-nya akan memberinya hukuman karena telah lalai membiarkan Raisa terluka meski itu ulah Raisa sendiri.


Raisa tak memedulikan tangannya yang terluka. Emosi dan amarahnya sudah memuncak hingga ia merasa tidak peduli pada apa pun lagi.


"Aku sudah selesai sarapan," kata Raisa


Raisa pun bangkit hendak pergi dari sana.


"Nona Dewi, Anda masih belum menyentuh satu pun makanannya. Itu tidak penting, sekarang Anda terluka. Biar saya obati luka Anda."


"Sudah kubilang, aku sudah selesai sarapan. Sekarang aku ingin kembali ke kamar. Kau tidak perlu mengikuti," ujar Raisa


Saat diharuskan untuk sarapan, Raisa memilih untuk hanya meminum air putih mineral. Karena setidaknya jika terdeteksi racun di dalamnya, Raisa masih bisa menawar racun yang ada di dalam air hanya dengan kemampuan sihir medisnya. Namun, jika ia memakan makanan bercampur dengan racun, ia masih tetap membutuhkan obat penawar. Meski punya kemampuan sihir medis, kemampuan sihir medis milik Raisa hanya bisa meringankan gejala racun saat makan makanan yang terkontaminasi dengan racun.


Karena zat cair pada air dan zat padat pada makanan jelas berbeda. Racun akan mudah dihilangkan pada zat cair dalam air dan akan sulit dihilangkan pada zat padat dalam makanan.


Lagi pula, Raisa memang sengaja melakukan mogok makan sebagai aksi protes dan ancaman terhadap Sang Dewa yang semena-mena dengannya.


Raisa pun melangkah masuk ke dalam kamar yang telah ditempati olehnya sejak semalam dibawa paksa ke sana.


"Nona Dewi, izinkan saya untuk mengobati luka Anda. Tuan Dewa akan marah jika melihat Anda terluka." Pelayan tadi masih saja mengikuti Raisa hingga ke kamar.


"Tidak perlu. Abaikan saja lukaku," kata Raisa


"Apa di sini hanya Tuan Dewa-mu saja yang berhak memiliki aturan? Aku pun punya aturan! Katakan pada Tuan Dewa-mu, jika dia tidak ingin bicara dan mengerti dengan ucapanku, maka aku tidak akan pernah mau makan! Bukankah kata Tuan Dewa-mu, aku tidak boleh ke luar dari kamar tanpa izin darinya? Maka, jangan pernah ganggu aku yang ada di dalam kamar ini!" seru Raisa menambahkan.


Raisa pun megusir pelayan itu ke luar dan mengurung dirinya di dalam kamar tersebut.


Raisa pun merenung dalam sunyi dan akhirnya air menetes ke luar dari kedua matanya.


..."Rumi, maafkan aku!" batin Raisa...


Raisa pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang tanpa peduli dengan darah yang terus mengalir deras ke luar dari telapak dan jari-jemari tangannya.


Raisa ingin menenangkan emosi dalam dirinya, mungkin dengan cara menangis selama seharian atau secara terus menerus.


 

__ADS_1


Saat Rumi dan anggota tim lainnya sudah sampai di gerbang Desa Daun, salah satu penjaga gerbang di sana langsung menyampaikan pesan dari Tuan Pemimpin Desa Daun pada mereka yang telah ditunggu kepulangannya.


"Tunggu. Ada pesan dari Tuan Pemimpin Desa untuk kedua tim kalian. Dikatakan bahwa setelah kalian tiba di desa, harap kalian semua langsung menemui Tuan Pemimpin Desa di kantornya. Semua alias tanpa terkecuali," ucap salah satu penjaga gerbang Desa Daun.


"Baik. Kami mengerti," kata Devan


"Kami semua akan langsung pergi untuk menemui Tuan Pemimpin Desa di kantornya," sahut Aqila


Devan, Ian, Chilla, Aqila, Morgan, dan Rumi langsung berjalan memasuki Desa Daun dan langsung menuju ke kantor Pemimpin Desa.


"Padahal yang terlihat kondisi desa baik-baik saja. Sebenarnya ada hal penting apa yang ingin ayah katakan? Apa akan ada misi darurat baru saat kita baru saja sampai di desa?" gumam Morgan bertanya-tanya.


Yang lainnya pun hanya bisa menaikkan kedua bahu masing-masih pertanda tidak tahu.


"Semoga urusan dengan Tuan Pemimpin Desa bisa cepat selesai dan tidak rumit. Aku ingin segera menghubungi Raisa dengan ular sihirku. Kuharap ... semoga Raisa baik-baik saja. Entah kenapa aku terus merasa khawatir dengan istriku," batin Rumi


Begitu sampai di depan pintu ruang kerja kantor Pemimpin Desa, mereka berenam langsung membuka pintu tersebut setelah mengetuk dan beranjak masuk ke dalamnya.


Di dalam ruangan tersebut, Monica yang terus menunggu langsung bangkit berdiri saat melihat kehadiran mereka berenam. Gadis itu langsung berdiri di samping meja kerja sang ayah.


"Monica, juga ada di sini ... " gumam Morgan saat melihat sang adik perempuan yang juga ada di sana.


"Selamat datang kembali di Desa Daun untuk kalian berenam. Maaf karena telah menyuruh kalian kembali secepatnya," ucap Tuan Nathan, Ayah Morgan dan Monica selaku Pemimpin Desa Daun.


"Ayah, sebenarnya ada hal penting apa hingga kami semua diminta untuk segera kembali ke desa?" tanya Morgan


"Ya, karena ini adalah hal penting yang sudah mendesak maka aku akan langsung memberi tahukannya pada kalian," kata Tuan Nathan


Saat itu Monica langsung menunduk lesu karena terus merasa bersalah.


"Ada kabar buruk. Rumi, kemarin Raisa telah datang ke Desa Daun. Namun, istrimu telah diculik oleh Sang Dewa dan pasukannya saat malam hari," ungkap Tuan Nathan


"Apa?!" pekik Rumi dengan kedua mata yang langsung terbelakak karena merasa terkejut saat mendengar kabar buruk yang disampaikan oleh Tuan Nathan.


Yang lain pun ikut terkejut begitu mendengar kabar buruk tersebut. Seketika saja, Monica langsung menangis deras. Air matanya bertumpahan karena telah ditahan sejak tadi bahkan sejak semalam.


"Tolong jelaskan dengan lengkap. Apa yang sebenarnya telah terjadi, Ayah? Lalu, kenapa Monica jadi menangis?" tanya Morgan


"Maafkan aku. Ini salahku. Kak Raisa diculik karena aku yang mengajaknya pergi untuk jalan-jalan. Kak Raisa dibawa pergi karena Sang Dewa mengancam akan membawaku pergi jika kak Raisa tidak bersedia ikut pergi dengannya. Kak Raisa berusaha melindungiku. Jika saja aku tidak pergi bersama kak Raisa, tidak ... jika saja aku tidak mengajak kak Raisa pergi mungkin kak Raisa tidak akan diculik dan masih ada di sini untuk memberi kejutan pada Kak Rumi saat kembali dari perjalanan misi. Aku hanya jadi beban bagi kak Raisa. Aku sungguh menyesal dan minta maaf," ungkap Monica sambil menangis sesegukan.


"Tenangkan dirimu, Monica. Ini hanya musibah dan bukan salahmu. Ini terjadi memang karena Sang Dewa sangat licik. Dia bahkan mengancam akan membawamu pergi. Jangan kau merasa bersalah karena ini," ucap Aqila berusaha menenangkan sang adik ipar.


"Aku harus pergi mencari dan menyelamatkan Raisa!" seru Rumi yang langsung ditahan oleh Devan saat dirinya hendak langsung pergi begitu saja.


"Kau juga harus menenangkan dirimu, Rumi. Jangan bertindak gegabah hanya karena merasa cemas dan panik. Setidaknya kita harus punya rencana jika ingin pergi mencari dan menyelamatkan Raisa," ujar Devan


Rumi pun berusaha keras untuk tenang meski sangat sulit. Saat ini sepertinya pria itu tidak bisa peduli dengan apa pun lagi karena pikirannya hanya tertuju pada sang istri yang masih tidak diketahui keberadaan dan keadaannya.


.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2