
"Aku tidak suka dengan Lina. Terlihat jelas dia hanya mencari muka denganmu dan mencari perhatian Rumi. Sepertinya dia suka pada Rumi," ungkap Chilla
"Oho ... kau terang-terangan sekali, Chilla. Tapi, aku pun tidak suka dengannya. Sepertinya bukan aku saja yang merasa begitu," ujar Ian
"Dari awal ketemu dia, aku juga udah kurang suka. Dia malah semakin jadi," kata Nilam
Maura mengangguk setuju.
"Ya. Sekarang dia malah semakin menjadi dengan menimbrung seenaknya dengan tidak tahu malunya dan seolah beralasan kebetulan seperti tadi," sahut Maura
"Ambisinya terlihat tidak baik dan jangan sampai rasa sukanya pada Rumi berubah menjadi obsesi," ucap Morgan
"Jangan seperti itu. Mungkin dia hanya kesulitan bergaul. Dari yang kulihat, sepertinya dia orang yang suka menyendiri. Makanya, sekalinya ingin bergaul dengan banyak orang, dia sulit menempatkan dirinya dengan baik," ujar Raisa
"Raisa, kau terlalu baik pada orang lain. Terlihat jelas dia berusaha menjatuhkanmu saat melawanmu sewaktu pemotretan tadi," ungkap Sandra
"Kami semua juga tidak suka dan berusaha menahan diri untuk tidak mencercanya tadi karena dia temanmu sekaligus adik kelasmu," kata Billy
"Mungkin sifatnya memang seperti itu," elak Raisa
"Jadi, kau membelanya, Raisa? Kau memihaknya? Meski pun itu adalah sifat bawaannya, tapi itu tidak bisa dibenarkan atau dibiarkan saja. Dia bisa melunjak," ujar Marcel
"Aku tidak memihaknya, aku hanya tidak ingin ada perselisihan. Sepertinya dia tidak punya teman," kata Raisa
"Pantas saja kalau dia tidak punya teman dengan sifatnya yang seperti itu. Orang seperti dia itu tipe orang yang sangat merepotkan," ucap Devan
"Apa kau hanya akan membiarkannya saja, Raisa?" tanya Amy
Raisa terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena sesungguhnya pun ia merasa kurang suka dengan sifat Lina.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu," jawab Raisa
"Meski pun sikapnya jadi semena-mena dan berniat merebut Rumi darimu?" tanya Sandra
Raisa tertegun. Ia melihat ke arah Rumi yang ternyata sudah menatapnya dengan serius seolah menunggu jawaban darinya yang bersungguh-sungguh memikirkan lelaki itu atau tidak.
"Aku hanya tidak ingin punya musuh, siapa pun itu. Tapi, kalau dia bersikap seenaknya dan berniat menyakiti orang yang kusayang ... maka aku akan bersikap tegas padanya," ungkap Raisa
Rumi tampak tidak puas dengan jawaban Raisa. Ia merasa Raisa tidak memprioritaskannya. Meski pertanyaan itu tentang dirinya, tapi Raisa menjawab seolah ia akan bertindak bukan demi dirinya. Orang yang Raisa sayangi bukan hanya Rumi. Rumi jadi merasa Raisa tidak terlalu peduli dengannya.
"Sudah, jangan dibahas lagi kalau itu malah akan jadi beban pikiranmu," ucap Rumi sambil menyembunyikan perasaan sedih dan kecewanya.
"Aku sepertinya mengerti jika ada di posisi Raisa. Mungkin Raisa juga merasa gak suka sama Lina, tapi bagaimana pun juga sekarang Raisa adalah artis dan senior Lina. Raisa cuma gak mau ada permusuhan karena itu tidak baik untuk kehidupan dan juga karirnya sekarang atau pun nanti," ucap Nilam
Raisa tersenyum senang karena Nilam masih bisa mengerti posisinya.
"Ya. Kita bicarakan hal lain saja yang lebih menyenangkan," kata Aqila
"Setelah melihat pemotretan dua hari ini ... kau terlihat keren sekali, Raisa." Wanda mengalihkan topik pembicaraan dan beralih memuji Raisa.
"Ya. Apa kau tidak pernah merasa gugup saat sedang pemotretan, Raisa?" tanya Sanari
"Awal-awal aku ikut pemotretan dulu memang sering merasa gugup dan kikuk di depan kamera, tapi sekarang sudah tidak lagi. Aku benar-benar ingin menjalani dan menikmati semuanya sekarang, makanya aku sudah terbiasa," jelas Raisa
"Masih ada beberapa dari kita yang masih belum ikut pemotretan seperti Raisa. Aku ingin tahu apa akan ada pasangan yang terungkap lagi ... " ujar Amon
"Tak kusangka, kau tertarik dengan hal seperti ini, Amon," kata Dennis
"Oh, iya ... Chilla, apa kau sudah mempertimbangkan ingin jadi model bersamaku saat berada di sini?" tanya Raisa
"Baru selang sehari dari pertama kali membicarakan hal ini. Aku masih butuh waktu untuk memikirkannya," jawab Chilla
"Benar juga. Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Ambillah waktu yang lebih banyak untuk mempertimbangkannya," ucap Raisa
"Raisa, apa di sini banyak artis atau model lelaki yang tampan?" tanya Chilla
"Kalau artis atau model, mereka pasti tampan. Kebanyakan artis atau model lelaki memang begitu, makanya mereka bisa jadi artis atau model ... karena tampang wajah mereka yang tampan," sahut Ian
"Kenapa jadi bertanya tentang itu, Chilla?" tanya balik Raisa atas pertanyaan Chilla.
"Jika banyak lelaki tampan yang jadi artis atau model, mungkin itu akan jadi pertimbanganku yang ingin jadi model saat berada di sini. Aku jadi bisa dekat dengan mereka bahkan memilih salah satu dari mereka untuk menjadi pacarku," jelas Chilla
"Kak Chilla, ingin punya pacar yang tinggal di sini? Bukankah itu berarti akan berjauhan dengan pacarmu nantinya?" tanya Monica
"Jodoh itu datangnya bisa dari mana saja. Mungkin jodohku memang ada di sini, makanya selama ini aku masih belum bertemu dengan jodohku. Raisa dan Rumi saja bisa terus bertahan ... pasti aku juga bisa," jawab Chilla
Raisa langsung melirik ke arah Rumi. Pasti saat ini lelaki itu sesang merasa sedih lagi setelah mendengar perkataan Chilla. Pasalnya kedua pasangan itu sudah putus sejak lama.
"Aku tidak tahu karena tidak pernah memperhatikan dan belum pernah sejadwal dengan model lelaki lain saat pemotretan. Aku hanya tahu sedikit tentang beberapa artis lelaki idolaku, tapi yang kutahu ... mereka semua sudah punya pacar," ungkap Raisa atas pertanyaan pertama Chilla tentang model atau artis yang tampan.
"Sayang sekali. Tapi, pasti banyak lelaki tampan lainnya," kata Chilla
"Sudah ... jangan bahas lelaki lain lagi. Raisa, apa kau tidak sadar kalau Rumi sudah merasa cemburu hanya dengan kau bicara seperti itu?" tanya Morgan
Raisa langsung menoleh ke arah Rumi dan menatapnya dengan cukup serius.
__ADS_1
"Masa, sih? Memangnya iya, Rumi?" tanya Raisa setengah menggoda lelaki di sampingnya itu.
Ralat, Raisa tidak lagi menatap Rumi dengan serius karena ia lebih ingin menggoda dan meledek lelaki itu sekarang.
"Entahlah ... mungkin," jawab Rumi
"Hei! Jangan bermain trik menggoda pasangan di depan banyak orang, dong!" protes Devan
"Kau terlihat senang saat menggoda Rumi, ya, Raisa?" tanya Dennis
"Orang tidak akan menggoda kalau bukan karena senang melakukannya. Aku suka karena Rumi terlihat menggemaskan," jawab Raisa
"Kau terang-terangan sekali, Raisa. Hubungan kalian berdua sepertinya sangat harmonis, tapi pantang mengatakan kata menggemaskan pada lelaki, tahu ... " ujar Marcel
"Oh, ya? Tapi, aku suka mengatakannya," jujur Raisa
"Kurasa, Rumi sedang merasa malu-malu sekarang karena Raisa menggodanya," kata Amon
Rumi memang terlihat biasa saja saat ini, tapi orang yang mengerti dirinya pasti bisa menyadari bahwa lelaki itu sedan merasa malu-malu.
Raisa hanya bisa terkekeh kecil. Rumi pun langsung menggenggam tangan Raisa.
"Sekarang kalian berdua malah terang-terangan bermesraan di depan orang lain," kata Billy
..."Raisa dan Rumi memang terlihat harmonis dan mesra seperti pasangan pada umumnya. Apa benar kalau mereka berdua udah putus? Tapi, yang terlihat tidak seperti itu dan justru terlihat sebaliknya," batin Maura merasa bingung melihat hubungan yang terjalin antara Raisa dan Rumi....
Setelah selesai makan, semua pun beranjak ke luar dari restoran.
"Akhirnya ... kenyang juga," gumam Chilla
"Dua hari ini, udah ikut ke tempat pemotretan ... melihat prosesnya, bahkan merasakan langsung jadi model. Aku jadi ingin lihat saat Kak Raisa bermain akting peran juga," ujar Monica
"Kalau saat Raisa berakting, kami juga belum pernah dan ingin melihatnya. Kami hanya pernah melihat dan mendengarkan saat Raisa bernyanyi, itu pun hanya dalam bentuk rekaman video," kata Amy
"Mendengar dan lihat Kak Raisa bernyanyi ... aku belum pernah. Ingin lihat juga," ucap Monica
"Aku juga sama," sahut Sanari
"Kalau ingin menyaksikan saat Raisa berakting sekaligus mendengarnya saat bernyayi ... kalian semua sepertinya masih punya kesempatan itu," ujar Nilam
"Bagaimana maksudnya?" tanya Aqila
"Benar juga," kata Raisa
"Ada apa? Beritahu kami," pinta Morgan, kepo.
"Sebenarnya, besok aku ada jadwal untuk tampil di acara amal tahunan. Akan ada pertunjukan drama musikal saat itu dan aku akan bermain peran jadi tokoh utama," ungkap Raisa
"Drama musikal? Itu artinya kau harus tampil berakting sekaligus bernyanyi dalam suatu pertunjukan?" tanya Wanda
Raisa mengangguk.
"Tak hanya itu. Saat akting aku juga harus menampilkan adegan aksi dan sedikit menari. Makanya, beberapa hari ini jadwalku dikurangi untuk berlatih untuk tampil besok," jelas Raisa
"Ada adegan aksi juga tarian? Itu pasti sangat seru! Apa kami semua bisa ikut menyaksikan pertunjukanmu?" tanya Sandra
"Nilam bilang kalian masih punya kesempatan, mungkin bisa. Aku memang mendengar artis yang diundang di acara tersebut boleh membawa teman atau kenalan untuk ikut memeriahkan," jawab Raisa
"Kami ada banyak ... memangnya tidak akan jadi masalah atau merepotkan?" tanya Devan
"Gak usah terlalu dipikirin. Kalian teman Raisa ... teman Raisa, teman kami juga. Kami juga akan datang di acara amal itu, kami bisa membantu kalian untuk masuk dan menyaksikan acaranya," jawab Nilam
"Ya. Serahkan aja sama kami," kata Maura
"Tapi, itu acara amal ... pasti yang datang ke sana diharapkan bahkan mungkin harus ikut beramal, kan?" tanya Dennis
"Kan, kalian masih punya sisa uang dari upah pemotretan. Aku bisa ambil uang itu dari rekeningku untuk kalian gunakan untuk ikut menyumbang besok," jawab Raisa
"Bagus! Kami bisa ikut besok untuk melihat pertunjukan drama Raisa," kata Ian
"Acaranya hanya tinggal besok. Apa kau benar-benar sudah siap, Raisa?" tanya Marcel
Raisa mengangguk sambil tersenyum.
"Tiga hari ini, aku memang lebih santai ... tapi, beberapa bulan ini sebenarnya aku sudah sering latihan dan melakukan gladiresik juga. Jadi, aku akan siap tampil besok," jawab Raisa
"Aku jadi tidak sabar dan sangat menantikannya," kata Billy
"Kuharap penampilanmu besok bisa memuaskan penilaianku padamu," ujar Amon
"Tunggu saja. Aku pasti akan membuat mata dan mulutmu itu terbuka lebar karena terpukau dengan penampilanku," ucap Raisa
"Aku juga sangat menantikan penampilanmu, Raisa. Pasti kau akan sangat memukau dan mempesona besok," kata Rumi yang bergerak merangkul pundak dan memeluk Raisa dari samping.
"Jangan sampai kalian semua menangis saat melihatku besok." Raisa berkata sambil tersenyum.
__ADS_1
"Karena setelah ini kamu gak ada jadwal lain, kami berdua pamit, ya," kata Nilam
"Kalau begitu, kami berdua pergi dulu. Sampai ketemu di acara amal besok," ujar Maura
"Kalian berdua hati-hati, ya," pesan Raisa
Maura dan Nilam mengangguk. Keduanya pun beranjak pergi meninggalkan Raisa dan teman-temannya di sana.
"Sekarang kita mau ke mana lagi, nih? Kalian masih mau pergi ke suatu tempat atau langsung pulang ke vila?" tanya Raisa
"Kau saja yang memutuskan," jawab Morgan
"Kau besok akan ada penampilan penting, kita pulang saja untuk istirahat," kata Aqila
"Omong-omong soal besok ... sebelum pulang kita belanja dulu untuk pergi ke acara amal besok," ujar Raisa
Raisa dan teman-temannya langsung pergi menuju pusat perbelanjaan, yaitu mall terdekat.
"Kalau ingin cepat pulang dan istirahat ... pilihlah dengan cepat yang ingin kalian beli untuk pergi ke acara amal besok," ujar Raisa
Saat ini, mereka semua sedang berada di dalam toko pakaian.
"Kita hanya akan datang ke acara amal, kenapa harus pergi berbelanja dulu?" tanya Devan
"Meski hanya acara amal, tapi besok adalah acara tahunan yang diadakan secara besar-besaran. Jadi, setidaknya harus berpakaian formal," jawab Raisa
"Tapi, bukankah hanya akan menghabis-habiskan uang?" tanya Chilla
"Toko ini sedang nengadakan potongan harga besar-besaran. Tidak apa ... pilih saja yang kalian suka," jawab Raisa
Karena Raisa berkata seperti itu, mereka pun hanya bisa mengikuti kata Raisa.
"Raisa, kurasa aku tidak perlu ikut beli. Aku masih bisa memakai pakaian yang kau berikan padaku sebagai hadiah sebelumnya. Itu pakaian formal dan aku membawanya, jadi aku bisa memakainya untuk datang ke acara besok," ucap Rumi
"Baiklah, kalau kau maunya seperti itu. Kalau begitu, setelah selesai acara besok ... aku juga akan memakai pakaian yang kubeli yang berwarna sama dengan pakaianmu itu. Supaya kita jadi terlihat serasi besok," ujar Raisa sambil tersenyum.
Rumi pun ikut tersenyum. Ia merasa senang karena Raisa berkata ingin jadi serasi dengannya besok.
Usai dari toko pakaian, mereka beralih ke toko sepatu, lalu toko tas dan aksesori.
"Rumi, sepertinya hanya kau saja yang tidak ikut belanja seperti kami ... " Marcel merasa heran karena Rumi tidak ikut berbelanja seperti yang lain.
"Aku sudah punya pakaian yang akan kupakai besok. Sebelumnya Raisa pernah memberiku hadiah pakaian, sepatu, dan aksesorinya. Aku akan memakai itu saja," jelas Rumi
"Begitu, rupanya ... " Billy mengangguk-angguk tanda mengerti.
Usai puas berbelanja untuk kebutuhan saat pergi ke acara amal besok, mereka semua kembali ke vila dengan menggunakan portal sihir teleportasi di tempat yang sepi.
Di vila, semuanya langsung beristirahat supaya besok bisa datang tepat waktu ke acara amal bersama Raisa.
•••
Keesokan harinya ...
Usai bersiap setelah sarapan, Raisa dan teman-temannya langsung menuju lokasi acara dengan menggunakan portal sihir teleportasi.
Setelah kemampuan sihirnya pernah menghilang karena trauma dan akhirnya kembali, kini kemampuan sihir Raisa telah bertambah hebat. Ia seperti lebih bebas menggunakan kemampuan sihirnya di dunianya tanpa harus takut diketahui orang karena ia pun bisa menyiasati situasi di dunianya agar kemampuan sihirnya tidak terungkap.
Maura dan Nilam yang sudah lebih dulu tiba di lokasi acara mulai merasa cemas karena Raisa masih belum juga terlihat. Namun, tiba-tiba saja Raisa menghampiri keduanya bersama teman-temannya.
"Raisa, kami kira kamu bakal tekat datang," ucap Nilam
"Iya, kami udah panik menunggu kamu di sini," kata Maura
"Kan, sekarang aku udah datang, tenang, ya. Aku mau siap-siap sebelum harus tampil di dalam. Kita semua masuk, yuk," ujar Raisa
Raisa, Maura, dan Nilam segera masuk bersama teman lainnya. Melewati sekumpulan para reporter, berjalan di atas red carpet yang diperuntukkan tamu undangan acara amal tersebut dan rekan yang dibawanya. Semuanya langsung memasuki gedung konser acara amal tersebut.
Raisa terus berjalan sambil sesekali melambaikan tangan ke arah para reporter yang sibuk memotret dan mengambil gambarnya.
"Aku langsung ke belakang panggung, ya. Kalian semua langsung cari tempat duduk yang ada aja," ucap Raisa
"Maura, Nilam, aku minta bantuan kalian berdua soal teman-temanku, ya," sambung Raisa berpesan.
"Ya. Serahkan aja sama kami berdua," sahut Maura
"Kamu langsung siap-siap ke belakang panggung aja," kata Nilam
"Jumpa lagi nanti." Raisa pun beranjak pergi untuk bersiap-siap.
.
•
Bersambung ...
__ADS_1