
Saat Rumi datang memecah suasana obrolan antara Tuan Rommy dan Raisa, Tuan Rommy langsung memintanya untuk melakukan pemeriksaan. Tuan Rommy ingin Rumi melakukan pemeriksaan secara menyeluruh seperti biasa setiap kali kembali ke kediaman tersebut.
"Lakukanlah pemeriksaan seperti biasa di sini. Aku ingin mengetahui dan memastikan kondisimu," kata Tuan Rommy
"Aku sudah tidak perlu memeriksakan kondisiku lagi sekarang. Aku sangat sehat," tolak Rumi
Tuan Rommy langsung menatap ke arah Raisa berharap gadis cantik itu membantunya membujuk Rumi. Karena hanya dengan ucapan Raisa-lah Rumi akan jadi penurut.
Raisa yang mengerti maksud dari tatapan Tuan Rommy padanya pun langsung tersenyum dan mengangguk kecil.
"Kenapa kau tidak mau? Kan, itu bagus untukmu. Lakukanlah pemeriksaan seperti kata Ayahmu. Selain aku juga ingin tahu hasil pemeriksaannya, aku sangat ingin lihat cara kerja mesin pemeriksaan di sini. Cara kerja mesin pemeriksaan di sini sangat jauh berbeda dengan yang ada di duniaku, jadi aku penasaran dan ingin melihatnya secara langsung. Kau mau, ya? Kumohon ... " bujuk Raisa sambil mengeluarkan kata dan nada memohon pada Rumi.
Raisa bahkan mengeluarkan tatapan memohonnya dengan mata yang berbinar-binar.
"Kau tidak perlu sampai memohon seperti ini padaku, Raisa. Baiklah. Aku akan lakukan pemeriksaannya," ucap Rumi
"Yeay ... kau memang yang terbaik," kata Raisa sambil mengeluarkan kata pujian.
Mendapat pujian dari Raisa, Rumi pun merasa senang. Tuan Rommy pun ikut merasa senang karena akhirnya Rumi ingin melakukan pemeriksaan berkat bujukan dari Raisa.
"Kalau begitu, berbaringlah di atas pembaringannya seperti biasa," ujar Tuan Rommy
"Baiklah," patuh Rumi
Raisa pun membantu Rumi untuk berbaring dengan baik juga membantu Tuan Rommy memasangkan alat pemeriksaan pada tubuh Rumi.
Raisa membantu Tuan Rommy memasangkan kabel di beberapa titik tubuh Rumi seperti di kedua sisi pelipis dan kedua lengannya tepat pada pembuluh darah dan nadi. Sedangkan Tuan Rommy memasang kabel di titik lainnya seperti pada dada Rumi dan lain-lainnya.
"Melakukan pemeriksaan bagus untuk mengetahui kondisimu. Lain kali jangan menolak melakukan pemeriksaan lagi. Menurutlah dengan kata Ayahmu selama itu adalah hal yang baik," ucap Raisa
"Baiklah, Sayang," patuh Rumi
"Jaga perkataanmu. Jangat buat aku merasa malu lagi," tegur Raisa sambil mencubit kecil lengan Rumi.
Rumi hanya tersenyum sambil mengangguk kecil.
"Aku akan mulai pemeriksaannya," kata Tuan Rommy yang sudah berada di depan monitor.
"Aku tidak bisa berada di dekatmu selama pemeriksaan berlangsung. Aku akan menjauh dulu." Raisa pun langsung menghampiri Tuan Rommy dan ikut melihat monitor meski tidak mengerti dengan yang ditampilkan di layar itu.
Alat dan mesin mulai bekerja dengan baik. Pada layar monitor mulai terlihat hasil dari pemeriksaan tubuh Rumi.
"Apa hasil pemeriksaannya sudah mulai terlihat? Bagaimana dengan hasilnya?" tanya Raisa
Tuan Rommy mengangguk untuk pertanyaan pertama Raisa bahwa hasil pemeriksaan sudah mulai muncul di layar monitor. Namun, Tuan Rommy masih sedang berusaha membaca dan memahami hasil pemeriksaannya dengan seksama.
"Hasil pemeriksaannya cukup bagus. Tidak ada luka, baik di bagian luar tersembunyi tubuh atau di bagian dalam tubuh," ungkap Tuan Rommy
"Sudah kubilang, aku sangat sehat," kata Rumi
"Tapi, masih ada yang harus dilihat dari hasil pemeriksaan yang lain, kan?" tanya Raisa
Yang Raisa pernah tahu, pemeriksaan yang dilakukan Tuan Rommy bisa sekaligus melihat apa yang akhir-akhir ini sedang dirasakan dan dipikirkan oleh seseorang yang melalukan pemeriksaan. Hal itu sangat berguna untuk mengetahui kondisi mental, bukan hanya fisik saja.
Sungguh berbeda dan canggih.
"Banyak juga hal-hal yang kau rasakan dan pikirkan belakangan ini, Rumi. Pasti sangat berat bagimu merasakan beban seperti ini," ucap Tuan Rommy
"Tidak perlu dijelaskan, Ayah. Aku sudah mengerti. Itu semua telah berhasil kulewati," kata Rumi
"Belum. Kutahu semuanya masih menjadi proses dalam hidupmu," kata Tuan Rommy
Raisa langsung merasa bersalah. Karena pasti sedikit banyaknya beban perasaan dan pikiran Rumi karena pengaruh dari dirinya.
Tuan Rommy masih sedang melihat pemeriksaan pada bagian jantung Rumi. Cukup lama.
"Kenapa Anda terus memerhatikan bagian jantung, Paman? Apa ada masalah pada jantung Rumi?" tanya Raisa yang langsung merasa cemas.
__ADS_1
"Jantung ini sangat sehat. Hanya saja ... Rumi kau harus lebih mengontrol hasratmu. Hasrat yang berlebih akan memengaruhi kesehatan tubuhmu. Terutama detak jantungmu yang sering meningkat akhir-akhir ini," jelas Tuan Rommy
"Aku mengerti, Ayah. Masih akan terus kuusahakan," kata Rumi
Mendengar hasil pemeriksaan yang dijelaskan Tuan Rommy, Raisa langsung menunduk karena merasa malu. Hasrat Rumi yang meningkat juga pasti karena adanya pengaruh dari dirinya. Mungkin juga Tuan Rommy menjelaskannya untuk menyindir Raisa secara tidak langsung. Dalam tunduknya, wajah Raisa merona merah karena merasa malu.
Setelah pemeriksaan berakhir, Raisa kembali membantu melepaskan alat kabel pemeriksaan yang ada pada tubuh Rumi. Lalu, juga membantu Rumi bangkit dan turun dari pembaringan.
"Raisa, selagi kau ada di sini ... apa kau juga mau melakukan pemeriksaan?" tanya Tuan Rommy
"Apa artinya harus memasang alat kabel itu di tubuh Raisa? Tidak boleh. Kau dilarang menyentuh tubuh Raisa, meski kau Ayahku sekali pun," ujar Rumi melarang dengan tegas.
Rumi langsung mendekap tubuh Raisa dari belakang seolah menjaga tubuh Raisa dari tatapan mata Tuan Rommy.
"Aku ini berbeda. Dalam melakukan pemeriksaan, aku adalah seorang dokter. Adanya kontak antara dokter dan pasien itu adalah hal yang wajar," jelas Tuan Rommy
"Tetap tidak boleh," larang Rumi
"Tenangkan dirimu, Rumi. Jangan menjadi orang yang keras," kata Raisa sambil membelai lembut tangan Rumi yang memeluknya dari belakang.
"Tidak apa, Paman. Aku tidak memerlukan pemeriksaan. Aku paling tahu seperti apa kondisi tubuhku," sambung Raisa
"Baiklah. Aku juga tidak akan memaksamu," kata Tuan Rommy
Raisa pun melepaskan pelukan Rumi dari tubuhnya.
"Lihatlah, kau bisa bicara baik-baik. Ayahmu pasti akan mengerti," kata Raisa yang berusaha memberi pengertian pada Rumi.
Rumi mengangguk tanda mengerti.
"Sepertinya Raisa sudah lelah setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh ke sini. Rumi, antarkanlah Raisa untuk istirahat ke kamar tamu. Lalu, maaf, ya, Raisa, jika aku menahanmu terlalu lama," ujar Tuan Rommy
"Tidak apa, Paman," kata Raisa
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan pergi mengantar Raisa untuk istirahat," ujar Rumi
"Ya. Kau juga istirahatlah di kamarmu," kata Tuan Rommy
Keduanya pun beranjak pergi meninggalkan Tuan Rommy.
Suasana menjadi hening.
Raisa melihat ke sekeliling saat Rumi mengantarnya untuk beristirahat.
Meski sudah pernah sekali ke sana dan beberapa kali melihat kediaman Tuan Rommy di dalam mimpi ajaibnya, Raisa masih saja merasa asing dengan tempat itu.
Kediaman besar di dalam sebuah goa yang direnovasi sedemikian rupa. Memang cukup terasa nyaman karena sudah sering ditinggali orang-orang di sana. Namun, cenderung terasa asing bagi Raisa. Mungkin karena Raisa baru dua kali datang ke sana.
Kediaman Tuan Rommy memanglah bukan rumah seperti pada umumnya. Awal berdirinya tempat itu adalah goa yang direnovasi untuk dijadikan laboratorium rahasia. Seiring waktu, tempat itu juga dijadikan tempat tinggal untuknya bersama para anak buah atau bawahannya yang sekarang telah menjadi kerabat seperjuangannya. Dan kini, tempat itu menjadi kediaman penahanan bagi Tuan Rommy dan para kerabatnya yang berbuat jahat di masa lalu.
Tempat itu di kelilingi banyak penjaga karena Tuan Rommy dan para kerabatnya adalah tahanan wajib lapor seumur hidup. Kecuali Logan dan Rumi. Karena dua orang ini adalah orang baru yang diciptakan oleh Tuan Rommy setelah masa kejahatannya di masa lalu. Mereka berdua dianggap sebagai anak yang tidak bersalah dari penjahat besar di masa lalu.
Yang ditetapkan sebagai penjahat sampai kini hingga selamanya adalah Tuan Rommy, Nona Rina, Tuan Garry, dan Tuan Johon. Tidak termasuk Logan dan Rumi yang merupakan manusia buatan yang hadir setelah kejahatan 4 orang tersebut di masa lalu.
Karena banyak kejahatan besar yang dilakukan oleh keempat orang itu di masa lalu, mereka menjadi tahanan. Namun, karena telah sadar dari kesalahan dan berjanji tidak akan mengulangi lagi serta pernah berkontribusi besar dalam perdamaian antar 4 negara, keempat orang tersebut mendapat keringanan menjadi tahanan wajib lapor seumur hidup. Ke luar dari kediaman penahanan pun masih diperbolehkan asalkan melapor dan mendapat izin terlebih dulu dari dan pada Pemimpin Desa.
Di tempat tersebut, dulu Tuan Rommy sering melakukan banyak eksperimen sebagai hobinya. Mulai dari yang aneh, berbahaya, sampai yang terlarang. Termasuk juga penciptaan manusia buatan Logan dan Rumi.
Tempat tersebut masih berdinding dan beratapkan langsung dengan bebatuan goa dan berlantaikan langsung dengan tanah. Seperti ruang bawah tanah, hanya saja itu adalah goa yang dijadikan tempat tinggal seperti rumah.
Raisa berjalan sambil melamun memikirkan sejarah tempatnya berada saat ini. Namun, lamunannya dibuyarkan oleh suara Rumi.
"Di sepanjang lorong ini adalah kamar-kamar. Di sebelah kanan nanti hanya ada satu kamar perempuan yang dipakai Rina dan beberapa kamar tamu. Kau bisa memakai salah satu kamar tamu di samping kamar Rina. Dan di sebelah kiri lorong ini akan ada banyak kamar untuk lelaki, seperti aku, Kak Logan, Garry, dan Johan. Saat pertama ke sini kau juga sudah pernah menginap di salah satu kamar tamu di sini," ujar Rumi memberi penjelasan.
Raisa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya karena baru tersadar dari lamunannya. Namun, Raisa telah mendengar semua ucapan Rumi.
Tiba-tiba saja Rumi menghentikan langkahnya di lorong panjang tersebut. Raisa pun ikut berhenti berjalan. Baru saja, Raisa ingin bertanya alasan Rumi menghentikan langkahnya, kesempatannya untuk bertanya direbut oleh Rumi yang lebih dulu bertanya padanya.
__ADS_1
"Sebelumnya kau sudah pernah menginap di kamar tamu. Kali ini apa kau tidak bisa tinggal dan menginap di kamarku saja, Raisa?" tanya Rumi
Lagi-lagi pertanyaan seperti ini.
Raisa menatap Rumi dengan tatapan heran.
"Rumi, ada apa denganmu sebenarnya? Kenapa kau terus mengajukan pertanyaan yang hampir sama akhir-akhir ini? Sebenarnya apa yang kau pikirkan hingga kau terus bertanya seperti itu?" tanya Raisa
"Ternyata, tidak bisa, ya ... " lirih Rumi yang langsung berubah menjadi murung.
Raisa benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan aneh Rumi baru-baru ini.
"Kau ini ... padahal aku tidak ingin berkata seperti ini, tapi benar kata Kak Logan. Kau kekanak-kanakan," ucap Raisa
"Kalau memang tidak bisa, ya katakan saja tidak bisa. Kenapa kau harus membawa-bawa perkataan Kak Logan? Tidak bisakah kau menerimaku yang seperti ini?" tanya Rumi
Ekspresi murung Rumi langsung berganti menjadi kecewa. Sederet pertanyaan dan raut wajah kecewa yang jelas Rumi tunjukkan membuat Raisa menjadi merasa bersalah.
"Itu karena kau yang jadi tidak seperti biasanya. Aku tentu menerimamu apa adanya. Namun, aku merasa aneh karena biasanya kau cukup lugas dan ... ya, mungkin karena kaulah yang selalu menerimaku apa adanya. Ini memang salahku yang terlalu egois yang secara tidak langsung telah memaksamu menerimaku apa adanya. Lalu, apa kau mulai bosan dengan keadaan kita yang seperti ini? Memang akulah yang membuat keadaan kita menjadi terus tidak pasti seperti ini. Lalu, apa kau bosan denganku yang seperti ini?" tanya balik Raisa.
"Tidak, bukan seperti itu, Raisa. Kau salah paham," jawab Rumi
"Keraguanku pada hubungan kita sudah hilang, tapi apa keraguan itu telah berpindah padamu? Aku ingin menjalani hubungan kita apa adanya. Apa itu terasa sangat sulit untukmu? Apa aku sudah terlalu memaksamu?" tanya Raisa lagi.
"Tidak. Maksudku bukan seperti itu," jawab Rumi
Melihat Raisa yang seperti sedang menahan tangis membuat Rumi jadi sulit berkata-kata. Rumi tidak tahan melihat Raisa yang bersedih seperti itu.
"Kalau memang benar ada, katakan saja, Rumi. Aku bisa menerima semua sifat dan sikapmu, termasuk kau yang kekanak-kanakan. Tapi, kalau untuk keinginanmu yang satu tadi, aku benar-benar tidak bisa. Itu adalah larangan keras yang ingin aku pertahankan agar sebisa mungkin tidak kulanggar. Aku hanya bisa mengatakan ini padamu. Terserah keputusan apa yang kau ambil setelah ini. Aku akan menerimanya," ujar Raisa
Rumi langsung menarik tubuh Raisa ke dalam pelukannya.
"Aku mengerti, Raisa. Jangan katakan lagi hal-hal atau kemungkinan yang membuatku jadi merasa takut," kata Rumi
Raisa membalas pelukan Rumi dengan sangat erat.
"Entah keraguan apa yang kubuat kau merasakannya di dalam hatimu, akulah yang bersalah karena telah membuatmu merasakan hal-hal yang menyakitkan. Maafkan aku," ucap Raisa
"Tidak. Perasaan yang terjadi dan kita rasakan bukan salahmu. Kita sama-sama menanggung perasaan kita berdua bersama-sama. Setelah berulang kali kau menolak, harusnya aku bisa langsung mengerti. Akulah yang salah karena telah memaksamu. Maafkan aku," ujar Rumi
Rumi pun melepaskan pelukannya dengan Raisa. Lalu, karena berada di lorong, Rumi memojokkan Raisa ke dinding.
"Namun, karena kau bilang menerima sifat dan sikapku yang lain ... bolehkah-"
Rumi menggantungkan kalimatnya dan langsung menyambar bibir manis Raisa.
Rumi mencium Raisa dengan sedikit menuntut. Rumi seolah ingin Raisa membalas perasaan cinta dan menghilangkan keraguannya melalui ciuman tersebut.
Raisa terus berusaha membuat jarak dan menyudahi ciuman tersebut karena sadar masih berada di tempat yang tidak memungkinkan mereka berdua bermesraan. Namun, Rumi terus memotong jarak itu dan menghimpit tubuh Raisa ke dinding. Rumi juga menahan kedua tangan Raisa ke dinding agar gadis itu tidak bisa melakukan penolakan. Bahkan Rumi sedikit menggila pada ciumannya. Mendapat perlakuan tiba-tiba dari Rumi membuat Raisa hanya bisa menerimanya.
Raisa benar-benar berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar oleh orang lain di sana.
"Hh~ Rumi, hentikan. Nanti ada orang yang melihat. Hhh ... " lirih Raisa di sela-sela saat keduanya saling membagi nafas pada permainan yang dilakukan Rumi.
Melihat Raisa mulai kehabisan nafas, Rumi langsung menghentikan aksinya. Rumi pun menatap Raisa.
"Gawat! Ayah sudah memperingatkan aku untuk mengontrol hasratku. Kalau tidak, pasti aku tidak ingat untuk menahannya," celetuk Rumi sambil mengelap bibir Raisa yang basah karena ulahnya.
Raisa pun memukul ringan dada Rumi.
"Makanya, kau jangan macam-macam. Setidaknya kau harus tahu tempat. Tidak seperti ini," tegur Raisa
"Ekhem!"
Mendengar ada suara, Raisa dan Rumi saling membenarkan posisi dan berdiri tegak dengan sedikit jarak.
.
__ADS_1
•
Bersambung ...