Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 31 - Cari Masalah Sendiri.


__ADS_3

"Hari ini Raisa pemotretan sendiri dulu, ya. Yang lain tunggu aja di sini. Raisa mau ganti pakaian dulu," ujar Daffa


"Tunggu sebentar, ya." Raisa pun beranjak menuju ruang ganti.


Setelah siap dan kembali dari ruang ganti, Raisa langsung melakukan pemotretan seorang diri. Hingga pemotretannya selesai.


Baru saja menyelesaikan pemotretan, Maura dan Nilam pun datang.


"Pemotretan Raisa udah selesai?" tanya Maura begitu datang.


"Udah. Baru aja selesai," jawab Daffa


"Kalian berdua datang juga? Katanya ada urusan?" tanya Raisa


"Pagi-pagi tadi emang ada urusan, tapi udah diselesaikan. Kami berdua ini kerja sama kamu, Raisa. Rasanya gak enak kalau gak datang," jelas Nilam


Maura mengangguk membenarkan penjelasan Nilam.


"Kalian berdua ini kayak sama siapa aja ... santai aja kali, lagi pula ini cuma pemotretan yang udah sering aku lakukan. Tapi, terima kasih udah mau datang," ucap Raisa


"Kamu ini yang kayak sama siapa aja, pakai bilang terima kasih segala," kata Maura


"Kali ini siapa teman Raisa yang mau ikut pemotretan juga?" tanya Daffa


"Hari ini saja Raisa melakukan pemotretan sendiri. Memangnya dari kami juga boleh ikut pemotretannya juga?" tanya balik Chilla


"Pemotretan Raisa gak selalu harus dilakukan secara berpasangan. Beda cerita kalau ada model baru," jawab Daffa


"Kalau begitu, kali ini aku menunjuk Amon dan Sanari saja," ujar Chilla langsung mendoron pasangan Amon dan Sanari untuk maju.


"Hei! Jangan mendorongku," kata Amon


"Kenapa jadi harus kami berdua?" tanya Sanari merasa kebingungan.


"Gak apa, coba aja dulu. Kalian berdua ganti pakaian dulu di ruang ganti," kata Daffa


Amon dan Sanari pun akhirnya menurut untuk berganti pakaian dan melalukan pemotretan bersama.


"Jangan hanya Amon dan Sanari saja ... Morgan dan Aqila juga ikut saja," ucap Chilla yang juga meneorong Morgan dan Aqila ke depan.


"Sip! Langsung ganti pakaian di ruang ganti, ya," kata Daffa


Awalnya Morgan dan Aqila sama-sama menolak dengan keras. Namun, karena bujukan seorang profesional perekrut model baru seperti Daffa, akhirnya Morgan dan Aqila pasrah untuk ikut pemotretan bersama Amon dan Sanari dengan tema yang sama, yaitu kencan.


Meski awalnya dipaksa, pada akhirnya mereka melakukannya dengan sukarela. Karena telah melihat sesi pemotretan yang terlihat menyenangkan sebelumnya.


Setelah pemotretan antara dua pasangan itu selesai, Lina pun datang.


"Lina, kamu udah datang? Bukannya jadwal pemotretan kamu hari ini harusnya sore?" tanya Daffa


"Emang iya, sih. Tapi, aku mau lihat pemotretannya Kak Raisa sebagai senior aku. Kalau bisa jadwal akku disamain aja kayak jadwalnya Kak Raisa dong," jawab Lina sekaligus dengan permintaannya.


"Untuk jadwal gak bisa asal mau langsung dibuat gitu aja, harus ada pertimbangan dulu," tolak Daffa


"Ih, Boss Daffa gak asik!" batin Lina menggerutu.


"Omong-omong, pemotretannya Kak Raisa udah selesai, ya? Aku terlambat datang dong?" tanya Lina

__ADS_1


"Iya, udah selesai semua. Teman-temannya Raisa yang ikut pemotretan hari ini juga udah selesai," jawab Daffa


"Kalau begitu, aku bisa aja langsung pemotretan sekarang juga, kan? Aku mau dipotret bareng temannya Kak Raisa juga dong," pinta Lina


"Oh, emangnya kamu mau pemotretan bareng siapa?" tanya Daffa


"Kalau boleh, aku mau pemotretan bareng Kak Rumi," ujar Lina meminta.


Semua tercengang dengan permintaan Lina. Semua orqng di sana juga tahu Raisa dan Rumi sangat dekat hingga tidak bisa ada orang lain yang masuk di tengah-tengah antara keduanya.


"Gak bisa. Rumi gak ada jadwal pemotretan hari ini karena udah pemotretan kemarin, apa lagi pemotretan berpasangan. Dia bukan model resmi di sini, jadi gak boleh selalu ikut pemotretan," tolak Daffa mentah-mentah dengan alasan yang cukup masuk akal.


"Yah ... sayang banget. Tapi, kan-"


"Kalau kamu masih mau pemotretan berdua, kamu bisa jadi pendamping Raisa. Hari ini Raisa cuma pemotretan sendiri dan bukan pemotretan berpasangan, tapi kalau pemotretan berpendamping ... bisalah," ujar Daffa


"Sama Kak Raisa ... oke deh. Suatu kehormatan bisa berdampingan sama Kak Raisa di sesi pemotretan," kata Lina


"Sekalian aku buktikan kalau aku juga bisa jadi model yang lebih baik dari Kak Raisa," batin Lina


"Kalau aku ikut kata Boss aja," patuh Raisa


"Menurut kalian, tema apa yang cocok buat Raisa dan Lina?" tanya Daffa


"Kok tanya sama kita ... kan, kamu bossnya. Terserah kamu aja," kata Raisa


"Kalau begitu, sesuaikan sama kemampuan Lina aja sebagai juniornya Raisa dalam permodelan," ujar Daffa


Raisa mengangguk menerima apa pun keputusan Daffa.


"Kalau dari sisi segi keanggunan atau feminin aku kurang menonjol karena aku tomboy ... oh, itu aja!" batin Lina memikirkan sesuatu dan mengambil keputusan.


"Bela diri! Aku cukup ahli bela diri karena pernah ikut berlatih taekwondo," ungkap Lina


"Oke. Aku setuju," kata Raisa


Lina tersenyum. Ia kira Raisa telah masuk ke dalam perangkapnya.


Raisa dan Lina pun beranjak berganti pakaian ke ruang ganti. Meski bukan seragam khusus taekwondo atau bela diri tertentu, busana yang dipakai saat itu adalah pakaian yang menunjukkan sisi ketangguhan perempuan. Tema yang akan diambil untuk pemotretan antara Raisa dan Lina kali ini adalah perempuan tangguh.


"Apa Lina gak tahu kalau Raisa udah pernah syuting banyak adegan aksi dan bela diri bahkan melawan penjahat secara langsung? Kalau untuk bela diri, Raisa juga bisa!" Maura dan Nilam sama-sama memikirkan hal yang serupa.


"Penantang yang tidak tahu kemampuan lawan! Dia tidak tahu, kalau Raisa itu gadis tangguh terhebat! Ini, sih, namanya cari masalah sendiri!" Semua teman Raisa di sana memikirkan hal yang sama.


"Coba kita lihat seberapa mampu Kak Raisa menandingi aku!? Meski cuma pemotretan, aku juga akan melakukannya dengan serius. Mohon maaf, deh, Kak Raisa ... " batin Lina


Pemotretan pun siap dimulai. Matras pun telah disiapkan untuk mencegah resiko yang besar.


"Siap, ya!? Oke ... shoot!" pekik Daffa memulai aba-aba pemotretan.


Awalnya, Raisa dan Lina memulai dengan sikap sempurna, lalu saling memberi hormat satu sama lain ... kemudian, tiba-tiba saja Lina menyerang Raisa. Namun, Raisa berhasil menahan serangannya. Lina terus bergerak menyerang dan Raisa terus menahan dan menangkis serangannya.


..."Aku gak pernah belajar bela diri khusus atau dari cabang tertentu, tapi aku bisa bertarung. Jadi, aku pasti bisa mengimbangi Lina," batin Raisa...


"Coba kita lihat, sampai kapan Kak Raisa bisa terus menahan dan menangkis serangan aku. Dari tadi cuma menghindar, gak berani melawan. Pasti Kak Raisa gak punya pengalaman bela diri," batin Lina


Kerena bosan Raisa hanya terus menahan dan menangkis serangannya, Lina pun mulai menyerangnya dengan serius. Tak ada lagi jeda dalam duel yang memperuntukkan aksi untuk pemotretan.

__ADS_1


"Ingat, ini cuma pemotretan. Jangan terlalu serius," ucap Daffa


Namun, tak ada yang menanggapi ucapan Daffa baik dari Raisa atau pun Lina.


"Apa gak masalah kalau seperti ini? Sepertinya Lina terus berusaha memojokkan Raisa. Ini aksi sungguhan, bukan lagi dengan embel-embel pemotretan. Mereka berdua juga kayaknya gak bisa disuruh berhenti," ujar Daffa


"Kami juga gak tahu. Raisa emang bisa bela diri, tapi kalau terus digempur seperti itu ... gak tahu jadinya bakal kayak apa," kata Nilam


"Jangan khawatir. Saat ini Raisa hanya terus mengalah, tapi dia juga punya kemampuan," ucap Rumi


"Ya. Bahkan bisa dibilang Raisa itu hebat ... tidak ada yang bisa menandingi kemampuannya."


Teman-teman Raisa yang tahu dengan pasti kemampuannya tidak meragukannya lagi dan tetap berpikir positif.


"Semua pada puji kemampuan Kak Raisa, bahkan Kak Rumi pun percaya. Gak bisa dibiarin," batin Lina


"Kalau terus begini, bakal sulit memotret pertarungan mereka berdua. Bagusnya dialihkan ke perekam video aja. Nanti tinggal diedit untuk diambil satu per satu gerakan duel mereka berdua," gumam Daffa


Karena Lina terus menyerang dengan serius, Raisa pun mulai menanggapinya sama. Yaitu, dengan serius. Karena Lina terus berusaha memprovokasi gerakan Raisa, Raisa pun bergerak membalas serangan Lina dengan sungguh-sungguh.


Pukulan, tendangan ...


Raisa tidak lagi mundur, melainkan terus maju.


Sekarang situasi pun berbalik.


Raisa ikut menyerang dan tidak mau kalah. Lina terus dipaksa mundur oleh Raisa. Lina mulai kewalahan hingga akhirnya tersudutkan.


"Lihat ... sekarang Raisa sudah lebih menguasai pertarungannya."


"Benar."


Dengan sekali gerakan mengecoh, Raisa bisa langsung mematikan gerakan serangan Lina hingga adik kelasnya itu jatuh terduduk. Untunglah matras sudah disediakan sejak awal.


Lina yang merasa telah dikalahkan pun tertunduk malu. Padahal awalnya Lina-lah yang terus menyerang Raisa secara bertubi-tubi. Namun, Lina sendiri yang terjatuh pada akhirnya.


Merasa duel telah berakhir, Raisa pun maju ke hadapan Lina dan mengulurkan tangannya untuk membantu adik kelasnya itu untuk bangkit berdiri.


"Ayo ... kubantu kamu berdiri," kata Raisa


Ingin berusaha berbesar hati dan menerima kekalahan di depan Rumi, lelali yang disukainya, Lina pun menerima uluran tangan Raisa untuk kembali bangkit berdiri.


"Apa kamu merasa ada yang sakit?" tanya Raisa


Lina menggeleng pelan.


"Bagus. Semua gambarnya sudah dapat. Gak ada yang terluka, kan?" tanya Daffa


"Aku gak apa ... gak tahu kalau Lina," jawab Raisa


"Aku juga baik-baik aja kok. Gak ada luka," jawab Lina


.



Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2