Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
43 - Di Kala Jenuh.


__ADS_3

Hanya lewat beberapa hari setelah peristiwa penyelamatan yang Raisa lakukan, setelah itu keadaan telah kembali normal dan jauh lebih baik...


Namun, setelah Raisa membantu revovasi gedung sekolah yang hancur saat ini dengan memulihkan dinding seperti semula dengan bantuan sihir elemen tanahnya yang ia gunakan di balik kedok Putri Burung Teratai Putih, sekolah masih saja diliburkan. Entah kapan sekolah akan berlangsung seperti biasa, kini Raisa sudah bosan terus berada di rumah. Di rumah pun ia hanya bisa belajar tanpa tau mau apa lagi hal yang dilakukannya. Jika, terus seperti ini mending ia bersekolah karena bisa sekaligus menjumpai banyak teman di sana. Karena Raisa bukan pribadi yang suka ke luar rumah kalau bukan karena hal penting.


Raisa terus merasa jenuh terus berdiam diri di rumah alias selalu mendekam di kamarnya. Belajar, tanpa tau hal lain yang harus dilakukan.


Padahal saat ia memulihkan dinding gedung kantor sekolahnya, ia berharap sekolah akan segera dibuka kembali. Karena pikirnya, dinding gedung yang runtuh itulah poin utama kerusakan yang penting dan harus segera dipulihkan. Dan setelah terpulihkan hanya tinggal tersisa hal kecil yang perlu dibetulkan kembali. Ia kira sambil menunggu gedung itu selesai renovasi seutuhnya, sekolah akan tetap diberlangsungkan


walau dengan tingkat kehati-hatian tinggi saat adanya perbaikan. Mengingat pentingnya belajar saat sebentar lagi menghadapi ujian kelulusan... Namun, entah apa yang jadi pertimbangan pihak sekolah dengan tetap meliburkan sekolahnya. Kini Raisa hanya mampu belajar sendiri di rumah tanpa bimbingan guru-gurunya.


Raisa sangat berbeda. Ia bertekad harus mengejar ketertinggalannya selama setahun vacum sekolah dengan belajar sungguh-sungguh demi mendapat nilai yang baik. Di saat orang lain sangat menginginkan liburan, tapi tidak dengan dirinya. Toh, ia juga tidak akan melakukan hal lain yang berarti...


Tapi, situasi saat ini berbeda!


Raisa telah benar-benar berada di titik jenuhnya! Tak bisa terus srperti ini... Ia harus melakukan hal lain! Ia harus memfokuskan diri mencari kegiatan lain yang bisa membawa kembali mood-nya yang pergi entah ke mana itu.


"Ga bisa begini terus! Aku harus cari hal baru! Kegiatan yang membangkitkan semangat! Aku mau pergi ke luar, jalan-jalan..." Gumam Raisa


Berawal dengan mencari tau!


Raisa memutuskan untuk pergi ke luar rumah untuk refreshing... Menjernihkan pikiran dari hal-hal yang runyam lagi membosankan.


Raisa membuka media sosial pada ponselnya...


Mencari reservasi tempat yang sering dikunjungi di sekitar kediamannya. Lokasi yang bagus yang mampu membangkitkan mood setiap kaum manusia.


Ya, ia sudah menemukan beberapa tempat yang cukup menarik!


Saat kembali dari laman media sosialnya, Raisa kembali menemujan berkas gambarnya saat itu... Foto-fotonya bersama teman-temannya dari dunia lain alias saat dia berada di dunia lainn teman-temannya itu.


Tatapan Raisa menghangat bersama pikirannya yang menelisik memori membahagiakan itu. Kenangan yang membuatnya selalu bahagia walau merindukan sosok mereka yang tak bersamanya sekarang.


Raisa menatapi orang-orang dalam foto di layar ponselnya satu persatu. Lengkap, hanya tanpa seorang Sandra.


Raisa tersenyum...


"Ga ada Sandra di foto ini. Coba aja, hari itu aku minta mereka foto bareng lagi, sama Sandra juga. Jadi, aku punya foto lengkap mereka... Tapi, Devan, pasti bilang, 'Ah, merepotkan saja!'. Morgan dan Ian juga sama. Mereka sepertinya kesal karena aku selalu meminta mereka berfoto lagi dan lagi." Gumam Raisa disertai kekehan kecilnya.


Tiba-tiba saja Raisa mengubah posisi rebahnya menjadi duduk dengan sangat tegak.


"Oh, iya! Aku lupa kasih mereka foto yang udah kucetak sebelumnya... Ah, padahal aku udah janji bakal kasih foto itu sebelumnya." Sontak Raisa saat mengingat hal yang dilupakannya.


"Hah, kapan lagi sih bisa ketemu mereka? Kangen... Padahal saat-saat ga ada kerjaan begini bagusnya mereka ada bersamaku. Pasti aku ga bakal bosan kayak gini. Tapi, ga mungkin juga aku pergi ke dunia mereka di waktu ini. Hubungan jarak jauh itu emang rumit juga sulit!" Oceh Raisa


Mengatakan hubungan jarak jauh, Raisa jadi teringat sosok Rumi. Seseorang yang jika di dekatnya membuat perasaan jadi tak karuan, jantung berdebar lebih cepat, merasa gugup, dan saat jauh jadi terus terbayang dan memikirkannya.


Orang yang sangat ingin ia terus bersamanya...


Mengingat Rumi, Raisa jadi teringat saat akan mengirimnya beserta yang lain ke dunianya saat beberapa waktu lalu. Ingat saat lelaki itu memeluknya dengan erat seakan ia juga sama dengannya yang tak mau berpisah, tak mau berjauhan, dan membuatnya memiliki harapan lebih, sekaligus merasa takut.


Namun, Raisa segera menepis itu semua. Saat ini, ia lebih memilih kembali pada kenyataan. Bahwa dirinya tidak boleh memiliki perasaan lebih terhadap teman dunia lainnya itu selain rasa pertemanan. Bahwa mereka takkan mungkin dapat bersama. Karena bagaimana pun juga dunianya dan lelaki tersebut berbeda. Karena keberadaan lelaki dambaannya adalah nihil di dunianya! Hubungan keduanya adalah mustahil untuk bersama.


Tak ingin merasa tersakiti oleh perpisahan, Raisa pun lebih memilih melupakan perasaannya. Meski sulit... Sebelum perasaannya itu semakin bertumbuh besar dan lebih sulit untuk dikendalikan~


Raisa tersenyum miris meratapi rasa di hatinya...


Tak ingin larut dalam kesedihan, Raisa pun kembali bersemangat pada rencana awalnya untuk pergi mencari suasana baru. Sekedar berjalan-jalan...


Raisa pun bangkit dari duduknya dan segera bersiap-siap~


•••


Kini, Raisa memulai perjalanannya dengan santai. Sebelum itu, ia sudah meminta izin dan berpamitan dengan orang-orang rumahnya, terutama Sang Ibu.


Saat ini, Raisa hanya memakai pakaian santai explornya yang biasa ia pakai saat hang out. Dengan jeans hitam, kaos merah jambu dengan cardigan hijau yang melapisinya. Ia cukup nyaman dengan setelannya saat ini. Tak lupa ia juga membawa ransel berukuran sedang yang menyertai di punggungnya. Ransel dengan isi buku pelajarannya. Ia memang berencana jalan-jalan dan saat singgah untuk beristirahat, ia akan kembali membuka buku untuk belajar. Sekedar mencari suasana belajar yang baru...


Raisa ke luar rumah di pagi hari dan belum sarapan. Jadi, hal pertama yang dilakukannya adalah mencari tempat untuk mengisi perut.

__ADS_1


Kini, Raisa sudah berada di dalam sebuah caffe. Sedang duduk manis, memanggil pelayan...


"Mau pesan apa, Kak?" Tanya pelayan dengan sopan.


"Saya pesan vanila latte sama cheese cake, masing-masing 1 aja." Ujar Raisa seraya membaca buku menu saat memesannya.


"Baik. Akan segera disiapkan, mohon tunggu sebentar." Katanya. Pelayan itu pun melenggang pergi meninggalkan Raisa yang menunggu pesanannya.


Saat itu juga, Raisa kembali membuka bukunya yang diambilnya dari dalam tas. Terus belajar adalah kegiatan Raisa saat ini.


Tak butuh waktu lama, pelayan kembali dengan membawakan pesanan Raisa. Raisa pun menerima pesanannya dengan senyuman ramahnya. Tak lupa, ia juga mengucap terima kasih pada pelayan yang membawakan pesanannya.


Setelah pesanan datang, Raisa mengambil dan membuka ponselnya. Ia berencana mengunggah kegiatan bekajarnya di luar rumah ke laman sosmednya.


Raisa pun memotret kedua pesanannya yang terhidangkan besarta lembaran buku pelajarannya yang telah terbuka, sebatang pulpen yang diletakkan di tengah buku pun tak luput dari jepretannya.


...'Mau ikutan orang, ah. Unggah ini ke sosmed! Aku jarang upload foto macam ini, apa tanggapannya ya?' Batin Raisa...


Cari suasana baru untuk belajar.


-(caption)


Untungnya caffe itu dilengkapi pemasangan Wi-Fi yang memudahkannya dalam pemakaian internet apapun. Sungguh sangat memadai...


"Padahal belum juga lama upload, udah banyak yang like aja. Eh?-"


Setelah mengunggah fotonya, Raisa men-scrool laman sosmednya. Dan, dari sana Raisa tau. Bahwa masih banyak yang membicarakannya dalam sosok Putri Burung Teratai Putih. Raisa pun mengembangkan senyum hangat pada bibirnya. Hatinya merasa tentram saat membaca banyak respon positif masyarakat yang dituangkan ke dalam komentar.


...'Syukurlah, sekarang semua baik-baik aja.' Batin Raisa...


Raisa pun kembali pada kegiatan makan sambil belajarnya...


Setelah hidangan pertamanya habis, Raisa kembali memesan hidangan penutup berupa pudding. Usai menghabiskan makanan berupa dessert itu, Raisa pun beranjak pergi dari caffe tersebut dengan tak melupakan membayar semua biaya makannya.


•••


Saat sampai di persimpangan suatu jalan, Raisa melihat sosok yang familiar untuknya. Dua orang yang terus bersama yang tak bisa ia jumpai jika libur sekolah. Itulah, Maura dan Nilam!


Mereka tak hanya berdua saja. Nampaknya, mereka sedang berbincang pada sekelompok orang. Namun, Raisa tak terlalu memperhatikannya.


"Maura, Nilam...!?" Panggil Raisa


Keduanya menoleh~


Raisa pun melangkah mendekat.


"Raisa, kamu di sini?" Tanyanya, Nilam.


"Ternyata emang kalian. Ya, aku lagi jalan-jalan cari suasana baru. Kalian lagi apa?" Ujar Raisa


"Kita juga lagi hang out bareng. Tapi, ini... Mereka lagi nyari orang, katanya." Jelas Maura


"Siapa? Mungkin aku bisa bantu." Kata Raisa


"Ciri-ciri yang mereka sebut terlalu umum, tapi juga ga punya foto orang yang dicarinya." Ungkap Nilam


"Bagaimana mau punya? Foto yang ada dibawa semua..."


"Sudah kami temukan orangnya."


Raisa merasa tidak asing dengan suara yang didengarnya. Sekelompok orang yang berbicara dengan Maura dan Nilam yang katanya sedang mencari seseorang, semuanya menutupi dirinya dengan tudung berjubah. Hingga Raisa tak menyadari mereka semua. Sampai akhirnya, salah satu orang menyingkapi tudungnya. Menunjukkan wajahnya... Dan satu persatu dari mereka terus membuka tudung jubah yang mereka pakai. Barulah, Raisa menyadari sosok mereka...


"Raisa!~" Serunya


"Ini kami, datang lagi..." Katanya


Raisa membekap mulutnya tak menyangka. Detik kemudian, ia tersenyum gembira disertai kekehan kecilnya...

__ADS_1


"Oh! Kalian!?" Kaget Raisa saat baru sadar.


Raisa benar-benar tak menyadari sebelumnya kehadiran mereka. Seperti orang tak dikenal dilengkapi jubah bertudung...


Mereka adalah teman dunia lainnya.


Morgan, Aqila, Rumi. Devan, Chilla, Ian. Marcel, Billy, Dennis. Sanari, Amy, Wanda, dan Sandra...


Mereka semua memenuhi apa yang Raisa minta dengan memakai jubah berwana putih. Namun, Raisa benar-benar lengah dengan tak menyadari kehadiran mereka semua.


"Kalian datang?" Tanya Raisa masih tak menyangka.


"Seperti yang kau lihat. Tapi, kami tidak tau keberadaanmu. Jadi, kami hanya bisa menanyakan pada orang sekitar. Mereka temanmu, Raisa?" Ujarnya, Morgan.


"Ah, iya. Mereka berdua sahabatku... Maura dan Nilam." Kata Raisa memperkenalkankan kedua sahabatnya pada teman dunia lainnya itu.


"Salam kenal, Maura, Nilam..." Sapa Aqila


Maura dan Nilam, keduanya tersenyum...


"Salam kenal juga..." Serempak Maura dan Nilam.


Maura dan Nilam mendekati Raisa, mengapitnya di sisi kanan dan kiri Raisa. Dan berbisik padanya...


"Sa, mereka semua teman kamu? Kok mereka mencurigakan ya? Segala pake jubah gitu, sok misterius..." Ucap Nilam


"Iya, mereka temanku. Mereka datang dari tempat jauh. Aku yang minta mereka berpakaian seperti itu, hehe." Jelas Raisa dengan suara pelan.


"Maksudnya gimana? Dari tempat jauh, mereka dari luar negeri gitu? Makanya mukanya asing gitu? Tapi, kok bahasa. Indonesianya fasih banget?" Tanya Maura


"Ya, pokoknya gitu deh! Mereka itu tergabung dalam suatu organisasi, kebetulan dulu ketemu... Panjang deh, ceritanya!" Ucap Raisa


"Kamu ceritanya ga lengkap gitu, ih! Organisasi apa, emangnya? Bukan *******, kan?" Ujar Nilam


"Ya, bukanlah... Semua temanku tuh orang baik." Kata Raisa


"Yasudah... Kenalin dulu, mereka teman-temanku. Ada, Morgan, Aqila, Rumi. Terus, Devan, Chilla, Ian. Di sana, Marcel, Billy, Dennis. Lalu, Sanari, Amy, Wanda, dan Sandra." Sambung Raisa memperkenalkan semua teman dunia lainnya seraya menunjukinya satu persatu pada kedua sahabatnya.


"Raisa, di antara mereka, mana cowok yang ada di dalam foto sampe bikin muka kamu merah?" Tanya Nilam berbisik.


"Eh, mana ada! Waktu itu bukan begitu... Kamu jangan salah paham, ah!" Bisik Raisa


"Hehe, canda! Ya, mana tau aja aku bisa kenalan sama gebetan kamu." Kata Nilam


"Ga usah ngaco deh!" Timpal Raisa


"Yaudah, karena Raisa kedatengan banyak tamu dari jauh, kita berdua ga ganggu lagi deh. Dan karena orang yang kalian cari udah ketemu, kita pergi dulu. Semoga harimu menyenangkan~" Ujar Nilam


"Ayo, Ra. Kita pergi!" Kata Nilam menarik Maura menjauh dan pergi.


"Eh, kok kita pergi? Kenapa ga sekalian bareng mereka?" Heran Maura yang sudah beranjak menjauh.


"Jangan ganggu, Raisa. Tamunya banyak, ga enak kalo kita nimbrung gitu aja. Lagi pula, aku curiga kalo yang waktu itu muka dia merah sambil tatap HP terus tuh sebenernya ada foto cowok yang salah satu dari mereka." Ucap Nilam


"Eh, yang mana?" Keppo Maura


"Aku udah tanya, tapi, Raisa, ga mau ngaku. Gampang, lain waktu kita tanya lagi, yang penting jangan ganggu mereka dulu." Ujar Nilam


.



Bersambung...


¤: [Kutipan Author]


"Selamat Hari Raya Idul Fitri (bagi yang merayakan). Minal Aidin Wal Faizin, Mohon maaf lahir dan batin...

__ADS_1


Mohon maaf juga updatenya telat, karena hari ini sibuk banget..."


__ADS_2