
Setelah setuju untuk melepas penyamarannya, Raisa pun menanggalkan wujud transformasi sihirnya dan terpampanglah sosoknya yang sebenarnya~
Sayap burungnya menghilang sama halnya topeng yang menutupi area mata pada wajahnya, pakaiannya berubah. Penampilannya pun berganti...
Raisa yang menggunakan seragam sekolah SMA, Putih Abu-Abu... Dan juga tas hijau yang ia gendong di punggungnya.
"Sebenarnya ini bukanlah penyamaran asli, aku hanya menggunakan wujud transformasi sihirku." Ungkap Raisa
"Kau membawa tas, Raisa? Kau habis pergi?" Tanya Amy
"Tidak. Aku membawa beberapa buku pelajaran karena tadi aku baru saja pulang sekolah. Ah, sekolah di duniaku seperti halnya akademi di dunia kalian. Kegiatan belajar mengajar, seperti itulah..." Jawab Raisa
*Di dunia dimensi tempat teman-teman Raisa tinggal hanyalah terdapat tempat pendidikan yang mengajarkan ilmu sihir dan ilmu pertahanan bela diri yang disebut akademi. Tempat satu-satunya yang melakukan kegiatan belajar-mengajar.
"Kau memakai pakaian apa, Raisa? Sejak kami datang banyak sekali yang memakai pakaian serupa. Apa itu seperti seragam?" Tanya Sanari
"Benar sekali! Di sini kami yang masih sekolah pasti memakai seragam. Seragam pun ada banyak rupanya, tapi inilah seragam sekolah di tingkatan sekolahku." Jelas Raisa
*Berbeda dengan dunia tempat teman-teman Raisa tinggal yang membebaskan murid akademi(sekolah)nya dalam berpakaian, di dunia ini (tempat tinggal Raisa) mengharuskan murid sekolahnya memakai seragam sekolah.
...'Melihat Raisa berpakaian seperti ini, kenapa aku merasa seperti dia sangat imut dan sedikit lebih manis? Ah, jantungku kembali berdetak lebih kencang! Oh, ada apa dengan diriku belakangan ini!?! Aku seperti memiliki keinginan untuk memeluknya...!' Batin Rumi...
"Sepertinya cukup sampai di sini saja... Paman Elvano meminta kalian untuk segera kembali, kan? Kalian kembalilah dengan membawanya. Aku akan membantu kalian pulang." Ucap Raisa
"Hah, hanya begini saja!? Bukankah masih banyak yang harus kau katakan pada kami? Kau ingat, kau berhutang cerita tentang kehidupanmu padaku!? Kau berjanji menceritakannya pada kami semua!" Ujar Morgan menolak perpisahan yang cepat ini.
"Bukan aku tidak mau menceritakannya dan melanggar janji. Tapi, kalian masih harus membawa si pelaku untuk menghukumnya* sekaligus mempertemukannya dengan para kawannya. Dengan ini, aku menyerahkannya pada kalian. Aku mohon bantuan kalian..." Kata Raisa
*memasukkannya ke dalam penjara bersama para kawannya.
"Dan, bukankan aku sudah menceritakan sedikit tentangku perihal lambang inti kekuatan sihirku? Aku pun juga sudah menjelaskan teori tebakanku tentang si pelaku. Kurasa, itu cukup untuk kali ini. Kita kan masih punya waktu untuk bertemu lagi di lain waktu. Kasihan dia, sudah sangat merindukan kawannya, sepertinya selama ini dia cukup menderita sendirian sampai akhirnya berpikir untuk balas dendam. Ya, walaupun setelah aku membantu kalian kembali pulang setelah ini, aku juga akan sangat merindukan kalian... Tapi, kita kan masih punya banyak waktu untuk bertemu nanti." Tambah Raisa
"Tapi, Raisa, waktu yang kita habiskan bersama kali ini sebentar sekali. Aku masih merindukanmu, masa aku harus menahan rinduku lagi?" Ujar Amy yang sudah mulai terisak lagi menahan tangisnya.
"Tenangkanlah dulu dirimu, Amy. Aku yakin kok, kita semua akan bertemu lagi dalam waktu dekat ini. Itu pasti, aku sangat yakin!" Kata Raisa
"Kenapa bisa kau sangat yakin tentang itu?" Tanya Devan
"Tentu saja, aku sangat yakin! Firasatku yang mengatakannya. Aku tebak, kita akan bertemu lagi dalam waktu dekat. Entah itu, aku yang pergi menemui kalian ke sana atau kalian yang datang lagi mengunjungiku di sini. Ingatlah, kata-kataku ini!" Jawab Raisa dengan sangat yakin.
"Firasat lagi! Kau sangat percaya diri sekali dengan tebakanmu itu, Raisa..." Timpal Ian
"Jadi orang memang harus memiliki kepercayaan diri, tentu percaya diri secukupnya saja dan jangan berlebihan! Oh iya, Ian... Aku pinjam sebelah tanganmu dong, kemarikan!" Ucap Raisa
Ian memincingkan sebelah matanya...
"Hah, untuk apa kau pinjam tanganku?!" Walaupun berkata seperti itu, Ian langsung mengulurkan sebelah tangannya pada Raisa.
Raisa pun meraih tangan Ian dan menggenggamnya.
Raisa memejamkan matanya perlahan dengan tenang...
Ia pun menyalurkan serta mentransfer tenaga sihirnya pada Ian melalui genggaman tangan mereka~
__ADS_1
"Hah, Raisa...!? Kau mentransfer tenaga sihirmu dan memulihkan tenaga sihirku. Kenapa?" Bingung Ian dengan maksud dan tujuan Raisa.
"Apanya yang kenapa? Kau sudah membuang tenaga sihirmu untuk membantuku memulihkan lima orang tadi dari sihir pengendali pikiran. Karenaku, kau malah menguras tenaga sihirmu. Aku minta maaf karena telah membebanimu... Kalau saja, tadi aku tidak berbelit-belit dalam bertindak dan langsung mrmulihkan kelima orang tadi sendiri, kau pasti tidak harus membuang tenaga sihirmu sia-sia. Terimalah tanda permintaan maafku ini. Aku sungguh minta maaf..." Jelas Raisa
"Eh, Padahal tak perlu kau pulihkan, tenagaku pun akan pulih dengan sendirinya nanti." Kata Ian
"Eh, aku tak bermaksud meremehkanmu loh, ya... Aku sungguh hanya merasa tak enak padamu, makanya kupulihkan kembali tenagamu. Maafkan aku." Ujar Raisa
"Sudah cukup minta maafnya. Aku juga tidak menyebutmu telah meremehkanmu. Kau tidak perlu merasa tidak enak seperti itu. Lagi pula, aku bersama yang lain datang ke sini memang ingin membantumu, tenaga sedikit terkuras pun tidak akan jadi masalah besar. Sudahlah, kuterima niat baikmu. Terima kasih juga susah memulihkan tenagaku. Pemikiran para gadis memang memusingkan! Untuk hal sepele seperti ini saja dibuat menjadi seolah-olah ini masalah besar... Dasar, merepotkan saja!" Ucap Ian. Raisa tersenyum manis setelah tau Ian tak marah dengannya.
Melepas tangan Ian dari genggamannya, Raisa beralih pada Sandra...
"Hai, Sandra... Ini pertemuan pertama kita ya? Maaf, sebelumnya sempat tidak menyadari kehadiranmu di antara kalian semua. Kalian begitu banyak orang, sampai aku tidak menyadari kau ada di antara yang lain." Ujar Raisa
"Oh ya, Raisa... Sandra ini sangat menantikan bertemu denganmu loh!" Kata Aqila
"Benarkah, begitu? Aku juga menantikan pertemuan pertama ini dan juga sangat senang setelah bertemu. Karena saat aku berada di Desa Daun, Sandra, tidak ada di sana karena sedang mengunjungi kampung halaman, katanya." Ucap Raisa
*Desa Daun adalah desa tempat tinggal teman-teman Raisa yang berasal dari dimensi lain di dunia yang berbeda. (Hanya mengingatkan kembali para pembaca.)
"Tapi, selain menantikan untuk bertemu denganmu, Sandra, juga sangat ingin mengajakmu duel dalam bertarung. Dia sangat menantikan untuk itu..." Imbuh Wanda
"Dia begitu, karena merasa penasaran dengan kehebatanmu karena sering mendengarnya dari kami. Makanya, dia sangat menantikan pertarungan denganmu. Dia tidak tau seperti apa saja keahlianmu yang menakjubkan itu." Ungkap Chilla
"Ah, mungkin itu karena kalian saja yang melebih-lebihkan saat berbicara tentangku. Aku tidak sehebat itu, masih banyak sihir yang harus kulatih. Jadi, kurasa pertarungan itu tidaklah penting lagi... Bukan begitu, Sandra?" Ujar Raisa
"Memang benar, aku menantikan pertemuan pertama denganmu, Raisa, dan aku pun senang sudah bisa bertemu denganmu. Tapi, tentang pertarungan itu aku serius! Aku sangat menantikannya dan itu harus dilaksanakan! Tidak boleh dibatalkan! Aku menantangmu, Raisa!" Jujur Sandra
"Meskipun begitu, aku tetap ingin menantangmu! Kau seperti berusaha lari dari permintaan tantanganku, kenapa? Kau takut?" Ucap Sandra
"Takut? Tidak begitu... Aku hanya khawatir jika sampai ada yang terluka karena rasa penasaranmu padaku itu." Ujar Raisa
"Lagi pula, bukankan sedari tadi kau sudah melihat bagaimana Raisa bertarung dan berusaha menyelesaikan masalahnya, Sandra? Kau tadi bahkan sampai mengikutinya saat banyak dari kita yang menjaga dan menahan lima orang yang terpengaruh sihir pengendali pikiran tadi... Tidakkah itu cukup untukmu menilai sebesar apa kemampuan Raisa? Kenapa kau masih saja keukeuh meminta Raisa untuk harus menerima tantangan darimu? Tidakkah kau berlebihan!?" Ucap Billy
"Menurutku, tidak berlebihan, tuh! Aku tetap teguh untuk menantangmu, Raisa! Bertarunglah denganku!" Keukeuh Sandra
"Kalau aku menolakmu lagi, pasti kau masih akan tetap memaksaku untuk menerima tantanganmu itu, kan? Bahkan mungkin kau akan terus mendesakku... Bukankah begitu, Sandra?" Tanya Raisa memastikan.
"Benar, aku akan terus mencecarmu untuk menerima tantanganku untuk bertarung! Kau dan aku! Hanya kita berdua...!" Jawab Sandra
"Baiklah... Aku terima tantanganmu! Aku takkan takut atau pun gentar sekali pun! Tapi, aku punya syarat...!" Kata Raisa
"Apa itu!? Akan kupenuhi asal masuk akal." Tanya Sandra
"Pertama, itu tidak dilangsungkan sekarang atau pun di sini. Aku ingin kita bertarung di dunia kalian... Kedua, pilihlah lokasi yang tepat untuk area pertarungan itu nanti! Aku tak mau sampai ada orang yang menjadi korban dan terluka karena pertarungan kita nantinya. Untuk itu, kau harus bersabar dan baik-baik mempersiapkan pertarungan kita nantinya di dunia kalian... Bagaimana, kau setuju?" Ujar Raisa menyampaikan syaratnya.
...'Karena akan sangat tidak mungkin jika pertarungan itu dilakukan di sini. Bisa gawat dan bahaya jika orang-orang melihatnya! Terjadinya kerusuhan saat ini saja sudah sangat menggemparkan, apa lagi jika harus ada pertarungan sihir antara kami. Bahkan aku pun tak bisa membayangkannya...' Batin Raisa...
"Hanya itu!? Hmm, baiklah... Kalau hanya itu akan sangat mudah bagiku untuk menyanggupi dan memenuhinya. Aku tau kau pasti takkan mempersulitku jika kau memang tidak takut... Ya kan, Raisa?" Ujar Sandra
"Tentu saja, aku tidak seperti itu!" Kata Raisa
"Akhirnya kau menerima tantangan darinya juga, Raisa." Ucap Marcel
__ADS_1
"Iya, kukira takkan ada pertarungan antara kalian sampai kapan pun itu..." Kata Dennis
"Mau bagaimana lagi? Pasti, Raisa, tak mau direpotkan dengan Sandra yang terus memaksanya untuk menerima tantangannya itu." Ucap Devan
Raisa pun hanya bisa tersenyum ramah untuk menanggapinya.
"Nah, aku kan sudah menerima tantanganmu... Sekarang bolehkah aku meminta sesuatu darimu? Bisakah kupinjam satu tanganmu, Sandra?" Ujar Raisa
"Cuma satu tangan... Boleh saja! Tapi, untuk apa? Kau takkan mentransferkan tenaga sihir padamu, kan? Toh, aku tidak melakukan apapun tadi untuk membantumu. Aku hanya berdiam diri saja memperhatikanmu tadi..." Kata Sandra sembari mengulurkan satu tangannya pada Raisa.
"Tidak. Tapi, tenang saja... Aku tak melakukan hal buruk pada satu tanganmu ini kok, aku hanya mau memberimu hadiah pertemuan pertama untukmu. Itu pun juga jika kau menganggapnya demikian..." Ucap Raisa seraya tersenyum ramah.
Raisa pun meraih satu tangan Sandra itu dan menindihnya dengan satu tangan lain milik(Raisa)nya. Raisa memang menyalurkan tenaga sihirnya pada satu tangan Sandra itu, tapi bukan untuk mentransfer tenaganya untuk Sandra.
Setelah dirasa cukup, Raisa menarik kembali tangannya yang menindih satu tangan Sandra itu. Lalu, muncullah tanda itu pada telapak tangan Sandra...
Sriiingg~
Lambang Bunga Teratai Putih!
Lambang dari inti kekuatan sihir Raisa, seperti yang pernah Raisa berikan dan terapkan pada semua telapak tangan temannya yang lain. Dan, kegunaannya pun sama~
"Ini?" Heran Sandra
"Itu, lambang dari inti kekuatan sihirku... Bunga Teratai Putih! Fungsinya sebagai alat pendeteksi! Dengan adanya tanda itu, aku bisa dengan mudah mendeteksi keberadaanmu di mana pun kau berada. Dan, orang yang mempunyai tanda yang sama akan bisa mendeteksi perubahan kondisimu. Jadi, jika ada yang terluka atau mengalami kesulitan, tanda itu akan muncul dengan sendirinya dengan sebuah warna yang menandakan seberapa parah kondisi masing-masing kalian yang mempunyai masalah. Kalian semua memiliki tanda itu dariku dan tanda itu terhubung padaku yang adalah inti dari kekuatan sihirku sendiri. Kau mengerti kan, Sandra, mengapa aku memberimu itu? Kuharap itu akan mempermudah kalian untuk saling menjaga satu sama lain... Seperti halnya yang kalian lakukan datang ke sini untuk membantuku yang sedang dalam kesulitan. Itu contohnya! Karena kita semua saling terhubung." Ungkap Raisa menjelaskan.
"Baiklah... Kuterima ini darimu sebagai hadiah pertemuan kita ini dengan senang hati. Terima kasih!" Ucap Sandra
"Itu bukan hal besar... Aku hanya berharap kalian semua akan selalu baik-baik saja. Sekarang, waktunya kita berpisah... Kalian semua, bersiaplah untuk kembali pulang." Kata Raisa
Devan dan Morgan dibantu Rausa, membantu si pelaku untuk bersiap untuk pergi ke dimensi lain di dunia yang berbrda tempat mereka berasal. Awalnya mereka enggan berpisah secepat ini, namun mengingat perkataan Raisa yang mengatakan Paman Elvano sudah menunggu, mereka pun setuju untuk kembali pulang ke dunia mereka...
"Huuu~ HUHUHUHUHUHU... Raisa, aku akan merindukanmu lagi! Sampai juma lagi nanti... Aku menantikan pertemuan kita lagi dalam waktu dekat seperti katamu, loh." Ucap Amy yang sudah berkucuran air mata...
"Tentu, Amy! Kita sama-sama menanti waktu itu akan datang. Kau tidak perlu sedih lagi, kita kan akan segera ketemu lagi." Kata Raisa
"Tahan emosimu itu, Amy. Jangan menangis lagi... Jika, kau terus seperti ini akan berat dan sulit bagi Raisa untuk membantu mengirim kita kembali pulang. Kau harus tegar!" Ucap Sanari
"Aku sudah sangat keras mencoba menahannya, tapi itu sangat sulit! HUWWAAAAAA~" Jerit Amy yang pecah seketika.
Dengan sangat kuat, Raisa mencoba menahan kesedihannya agar tidak pecah seperti Amy.
Dengan berat hati, ia harus berpisah lagi dengan teman-teman yang selalu ia rindukan. Terlebih lagi, dia sendiri yang akan mengirim mereka semua pergi unyuk kembali ke dunia mereka yang berbeda dengan dunia tempatnya tinggal! Ini sungguh sulit lagi menyakitkan bagi perasaannya! Tapi, ia harus menerima kenyataan bahwa dunia mereka berbeda~
Ia harus rela, ikhlas, dan ekstra sabar menghadapi kenyataan pahit ini...
.
•
Bersambung...
¤: ["Semoga kali ini sudah cukup panjang~ Salam: Author (Dilawrsmr)."]
__ADS_1